Sastra Bandingan Reg. B

Kumpulkan hasil baca kelompok sebelum presentasi melalui kotak komentar di bawah ini. Format penulisan sebagai berikut:

Kelompok: _________________

Anggota: __________________

Topik: ____________________

Sumber: ___________________

Intisari:

1. …………… (nama akhir, tahun: halaman)

2. ………… (idem)

  1. NORISTA HELISAH
    23/05/2010 pukul 4:22 pm

    Kelompok 2
    1. Johan Arifin
    2. Lenny Karliana
    3. Norista Helisah
    4. Rahmi Agustina
    5. Misriani

    INTERTEKSTUALITAS FILM DAN NOVEL
    HANTU BANGKU KOSONG
    Oleh ARIEF RAHMAN HAKIM

    Kajian pustaka
    2.1 Intertekstualitas
    2.1.1 Hakikat Interteks
    Penelitian interteks merupakan bagian dari sastra bandingan. Interteks memang lebih sempit dibandingkan sastra perbandingan. Jika sebagian besar interteks merupakan gerakan peneliti filologi baik klasik maupun modern, yang selalu berhubungan dengan teks sastra. Sastra bandingan justru lebih luas lagi. Sastra bandingan dapat melebar ke arah bandingan antara satra dengan bidang lain yang mungkin (di luar sastra) (Endraswara, 2008:130).
    Studi interteks menurut frow (dalam Endraswara, 2008: 130) didasarkan beberapa asumsi kritis: (1) konsep interteks menuntut peneliti untuk memahami teks tak hanya sebagai isi, melainkan juga aspek perbedaan dan sejarah teks, (2) teks tak hanya struktur yang ada, tetapi satu sama lain juga saling memburu, sehingga terjadi perulangan atau transformasi teks, (3) ketidakhadiran struktur teks dalam rentang teks yang lain namun hadir juga pada teks tertentu merupakan proses waktu yang menentukan, (4) bentuk kehadiran struktur teks merupakan rentangan dari yang eksplisit sampai implisit. Teks boleh saja diciptakan kebentuk lain: di luar norma ideologi dan budaya, di luar genre, di luar gaya dan idiom, dan di luar hubungan teks-teks lain, (5) hubungan teks satu dengan teks yang lain boleh dalam rentang waktu lama, hubungan tersebut bisa secara abstrak, hubungan interteks juga sering terjadi penghilangan-penghilangan bagian tertentu, (6) pengaruh mediasi dalam interteks sering mempengaruhi juga pada penghilangan gaya maupun norma-norma sastra, (7) dalam melakukan identifikasi interteks diperlukan proses interpretasi, (8) analisis interteks berbeda dengan melakukan kritik melainkan lebih terfokus pada konsep pengaruh.
    2.1.2 Sastra Bandingan
    Sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek waktu, sastra bandingan dapat membandingkan dua atau lebih periode yang berberbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikat sastra bandingan menurut wilayah geografis sastra. Konsep ini merepresentasikan bahwa sastra bandingan tertuju pada bandingan sastra dengan bidang lain. Bandingan semacam ini, guna menurut keterkaitan antara aspek kehidupan (Endraswara, 2008: 128).
    Semantara, Benedecto Crose (Giffod dalam Endraswara, 2008: 128), berpendapat bahwa studi sastra bandingan adalah kajian yang berupa eksplorasi perubahan (vicissitude), alterna-tion (penggantian), pengembangan (devilopmen), dan perbedaan timbal balik di antara dua karya atau lebih. Sastra bandingan akn terkait dengan ihwal tema dan ideal sastra.
    2.1.3 Pokok Kajian Interteks
    Kajian sastra bandingan, pada akhirnya harus masuk ke dalam wilayah hipogram yang merupakan modal utama dalam sastra yang akan melahirkan karya berikutnya (Reffarterre dalam Endraswara, 2008: 132). Hipogram karya sastra meliputi (1) ekspansi yaitu perluasan atau pengembangan karya, (2) konversi yaitu pemutarbalikan hipogram atau matriknya, (3) modifikasi yaitu perubahan tataran linguistik, manipulasi urutan kata dan kalimat, (4) ekserp yaitu semacam intisari dari unsur atau episode dalam hipogram yang disadap pengarang (Endraswara, 2008: 132). Penelitian intertekstual tersebut, sebenarnya merupakan usaha pemahaman sastra sebagai sebuah “presupposition”. Yakni sebuah perkiraan bahwa suatu teks baru mengandung teks lain sebelumnya.

    2.2 Novel dan Sarana Penceritaan
    Novel sebagai salah satu jenis karya sastra memiliki unsur-unsur pembangun, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur yang berada di dalam karya sastra sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berada di luar karya sastra.
    Pada dasarnya, unsur-unsur intrinsik tersebut saling berpadu dan berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri. Novel sebagi suatu karya fiksi tertulis memerlukan unsur-unsur tersebut sebagai sarana penceritaan untuk menyampaikan inti cerita kepada pembaca. Adapun unsur-unsur yang merupakan sarana penceritaan dalam novel, yaitu:
    1. Alur/Plot
    Alur ialah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Abram, 1981: 137 dalam Siswanto, 2008: 159).
    Istilah alur atau plot menurut luxemburg (dalam Sulistiyanti, 1999: 21) merupakan kontruksi yang dibuat penulis mengenai sebuah deretan peristiwa yang berkaitan, yang diakibatkan atau dialami oleh para tokoh.
    2. Latar/setting
    Peristiwa-peristiwa dalam novel tentulah terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu. Pada hakikatnya, suatu cerita merupakan lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan oleh satu atau beberapa tokoh pada suatu waktu di suatu tempat (Aminuddin, 1995: 67).
    3. Sudut Pandang
    Sudut pandang atau sering disebut titik pandang (poin of view) oleh Aminuddin (1995:90) diartikan sebagai cara penulis menampilkan para tokoh dalam cerita yang dipaparkannya.

    4. Penokohan
    Tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991:16). Karena itulah tokoh-tokoh digambarkan ciri-ciri lahir dan sifat serta sikap batinya agar wataknya juga dikenal pembaca. Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh ini disebut sebagai penokohan (Sudjiman, 1986:58). Dalam penyajian dan menentukan karakter (watak)para tokoh, pada umumnya penulis menggunakan dua cara atau metode dalam karyanya. Yang pertama, penulis menggunakan metode langsung (telling), yang mengandalkan pemaparan watak tokok pada eksposisi dan komentar langsung dari penulis (Pickering dan Hoeper dalam Minderop, 2005: 6). Lalu yang kedua, penulis menggunakan metode tidak langsung (showing) yang menempatkan penulis di luar kisahan dengan memberikan kesempatan kepada para tokoh untuk menampilkan perwatakan mereka melalui dialog dan action (Pickering dan Hoeper dalam Minderop, 2005: 6).

    5. Gaya Bahasa
    Menuru Aminuddin (1995: 76) unsur-unsur gaya yang terdapat dalam suatu penciptaan sastra meliputi (1) unsur kebahasaan, (2) alat gaya yang meliputi kiasan dan majas, (3) ekspresi penulis. Unsur kebahasaan meliputi diksi dan variasi pola kalimat. Alat gaya meliputi kiasan (metafora, metonimia, simbolik) dan majas (majas kata, kalimat, pikiran, dan bunyi).
    Berdasarkan teori diatas, dapat disimpulkan jika sarana penceritaan novel terdapat pada kata-kata yang dibangun oleh susunan kalimat yang dapat menggugah imajinasi pembaca. Dengan kata lain, pembaca memvisualisasikan cerita yang terbentuk dari kalimat-kalimat itu sesuai dengan konsep yang ada dalam pikirannya.

    2.3 Film dan Sarana Penceritaan
    2.3.1 Hakikat Film
    Menurut Grafura (2006), film merupakan aktualisasi perkembangan kehidupan masyarakat pada masanya. Dari zaman ke zaman film mengalami perkembangan, baik dari teknologi yang digunakan maupun tema yang diangkat. Berbeda dengan pendapat Ghafura, Sahid (2006:19) memiliki pandangan lain tentang film.
    Film dan video adalah produk budaya massa yang menjadi media rekreasi bagi masyarakat modern. Dalam kasus terjadinya generalisasi dan standarisasi dalam iklim penciptaan film dan video di Indonesia sesuai dengan pola film dalam iklim dan video Barat seperti yang dinyatakan faruk, sebenarnya merupakan bukti telah terjadinya globalisasi dalam proses pasokan produk budaya dan media rekreasi.

    Film secara sederhana, sebetulnya hanyalah susunan gambar yang ada dalam seluloid, kemudian diputar dengan mempergunakan teknologi proyektor yang sebetulnya telah menawarkan napas demokrasi, bisa ditafsirkan dalam berbagai makna. Ia menawarkan berbagai pesan, bisa dimanfaatkan dalam berbagai kegunaan. Karena itu, film menjadi begitu menarik untuk ditelaah dari berbagai sisi (Prakosa, 1997:22). Film suatu bangsa mencerminkan mentalitas bangsa itu lebih dari yang tercermin lewat media artistik lainnya (Kracauer 1974:6, dalam Said, 1991:29) kracauer memiliki dua alasan untuk menopang teorinya tersebut, pertama, film merupakan karya bersama dimana sutradara memimpin sekelompok orang, dan kedua, film dibuat untuk orang banyak.
    Membuat film adalah kerja kolaboratif. Sebuah film dihasilkan oleh kerjasama berbagai macam variabel yang saling mendukung (Ajidarma, 2000:1). Produksi film yang normal membutuhkan kooperasi banyak ahli dan teknisi, yang bekerja sama sebagai satu tim, sebagai satu unit produksi (Lindgren, 1963:4 dalam Ajidarma, 2000:1).
    2.3.2 Sarana Penceritaan Film
    Berbeda dengan novel, film mempunyai cara tersendiri dalam hal penyampaian cerita. Penceritaan dalam film didukung oleh sarana-sarana penunjang yang dapat memvisualisasikan cerita sesuai arahan sutradara. Sarana-sarana tersebut anatara lain:
    1) Skenario/Naskah
    Skenario dianggap penting dalam pembuatan film karena merupakan rancangan untuk membuat film. Sebuah skenario yang baik telah menjadi sebuah film dalam bentuk tertulis (Biran dalam Ajidarma, 2000:2). Dalam sebuah skenario yang sempurna, visualisasi dari gagasan sebuah film sudah tergambar dengan jelas. Secara rinci, dalam sebuh skenario tertulis elemen-elemen sebuah film seperti dramaturgi, konsep visual, montase, karakterisasi, pengadegan, dialog, dan tata suara (Lewis Herman dalam Ajidarma, 2000:2). Skenario secara prosedural merupakan bagian dari tahap pembuatan sebuah film yang paling awal (Ajidarma, 2000:1). Lewis Herman (dalam Ajidarma, 2000:9) menyatakan pendapatnya tentang skenario:
    Skenario film adalah komposisi tertulis yang dirancang sebagai semacam diagram kerja sutradara film. Skenario ini yang menjadi dasar pemotretan sekwen-sekwen gambar. Ketika disambung-sambung, sekwen-sekwen ini akan menjadi sebuah film yang selesai, setelah efek suara dalam musik yang cocok dibubuhkan.
    Berdasarkan analisis bentuk-bentuk penulisannya, skenario digolongkan menjadi empat kategori, yaitu Struktur Tiga Babak, Mozaik, Garis Lurus dan Eliptis (Ajidarma, 2000:10-11).
    2. Sudut Pandang Kamera
    Dalam film, gambar tidak bisa diambil seenaknya sendiri tanpa konsep yang jelas, karena dapat membingungkan penonton (Naratama dalam Natadjaja, 2005: 153). Tiga faktor yang menentukan sudut pandang kamera yaitu: besar kecil subjek, sudut subjek, ketinggian kamera terhadap subjek. Besar kecil subjek hasil tangkapan kamera merupakan jenis-jenis shot yang mengambil sosok tubuh manusia sebagai referensi (natadjaja, 2005:153). Dalam pengambilan gambar, jarak antara subjek dengan kamera juga mempengaruhi dalam eksperesi dari objek yang diambil. Ada tiga posisi dasar dalam proses shot secara umum, yaitu long shot, medium shot, close up dan extreme close up (Natadjaja, 2005:153).
    3. Pencahayaan
    Dalam pembuatan film, cahaya memiliki fungsi tersendiri dalam mempengaruhi kualiatas gambar yang diambil. Supriyadi (2009) mengemukakan pendapatnya tentang konsep cahaya sebagai dasar dalam pembuatan film:
    Cahaya merupakan gelombang elektromagnestis diterima oleh indra penglihatan (mata) yang kemudian diteruskan ke otak yang akan merespons, menanggapi ransangan cahaya tersebut. Sederhananya, tanpa cahaya maka benda tidak akan kelihatan . atas dasar itulah, produksi fdilm dan video memerlukan cahaya agar subjek bisa terlihat.
    Menurutnya lagi, dalam produksi sebuah film, cahaya memiliki fungsi menyinari objek, menciptakan gambar yang artistik, menghilangkan bayangan yang tidak perlu dan membuat efek khusus. Yang dimaksud dari menyinari objek artinya memberikan pencahayaan agar objek atau subjek bisa terlihat jelas sesuai konsep film itu sendiri. Tidak semua bayangan itu diperlukan dan tidak semua bayangan tidak diperlukan. Dengan pencahayaan tertentu bayangan bisa dihilangkan, dikurangi atau bahkan ditambah. Perlu tidaknya bayangan sangat tergantung dari konsep film itu sendiri.
    4. Musik Latar
    Musik, baik berupa score (semacam ilustrasi intrumental) maupun yang dinyanyikan, secara tidak sadar membikin penonton larut dalam adegan demi adegan film. Musik di film selalu memperkuat emosi dan sprit film itu. Tanpa musik, film pun hambar. Menurut Darmawan (2009), dalam sebuah film, peranan musik sebagai sebuah latar merupakan penguat dari adegan-adegan yang berlangsung. Musik telah jadi bagian tak terpisahkan dari film (genre apapun). Bahkan musik-musik film tertentu tertanam dalam-dalam benak penontonnya. Menurutnya lagi, di era film bisu, musik jadi latar dengan berbagai alasan: sebagi warisan tradisi teater, sebagai peredam suara berisik dari proyektor, dan sebagai pemberi “kedalaman” pada gambar bisu dua deminsi di layar. Sementara di era film bersuara, musik film mulai menyusun bahasanya tersendiri. Pada awalnya musik film melanjutkan tradesi era film bisu, yaitu menggunakan khasanah musik Barat yang telah ada, terutama musik klasik Eropa abad 19. Pada era 1930-an, mulai umum untuk menuliskan komposisi khusus untuk sebuah film. Sebagian sineas- seperti para sineas di Rusia- menggunakan musik dalam rangka eksplorasi relasi antara musik (sebagian bagian dari suara) dan gambar. Tapi kebanyakan film menempatkan musik sebagai dekor atau alat bantu sajka dalam membangun suasana.
    2.3.3 Adegan
    Adegan diartikan sebagai satu penggrupan beat di dalam terdapat satu segmen utama dari keseluruhan aksi naskah (Sitorus, 2002: 190). Jadi setiap adegan adalah segmen utama dari “skenario” seluruh naskah, di mana setiap adegan memiliki satu pusat aksi adegan dan konflik adegan, serta mempunyai kritis adegan yang spesifik. Beat sendiri merupakan satu hubungan dari rantai sebab akibat yang menggerakkan plot, dengan kata lain beat adalah satu mata rantai aksi-reaksi dimana satu karakter melakukan sesuatu (aksi) yang menantang karakter lainnya untuk bereaksi. Reaksi ini selanjutnya berfungsi sebagai aksi yang menerima sebuah reaksi lain dan dengan itu plot maju melalui satu rantai aksi-reaksi yang bersambung dan komplit yang disebut satu beat.
    Berdasarkan teori di atas, dapat disimpulkan jika sarana penceritaan film tidak hanya sekeder kata-kata yang tertulis di dalam skenario atau naskah, tetapi juga harus dibahasakan dengan seperangkat alat dan kerja kolaboratif untuk memvisualisasikan bentuk naskah ke dalam bentuk nyata. Sehingga penonton tidak perlu berimajinasi untuk mencerna inti ceritanya, karena film sudah membahasakannya ke dalam bentuk gambar-gambar yang bergerak.

    5.1. Simpulan
    Film yang diadaftasi ke dalam bentuk novel ataupun sebaliknya tidak mutlak memiliki jalan cerita yang sama meskipun memiliki kesamaan dalam judul. Hal itu dikarenakan kebebasan penulis dalam berimprovisasi membangun unsur-unsur cerita sesuai kreativitasnya meski harus terfokus pada skenario film yang diadaptasi.
    Film Hantu Bangku Kosong (Helfi C.H. Kardit, 2006) dengan novel Hantu Bangku Kosong (Ruwi Meita, 2006) memiliki persamaan dan juga perbedaan dalam unsur-unsur ceritanya, teknik penyampaiannya ataupun peristiwa-peristiwa yang tampil dalam dua karya tersebut. Meskipun demikian, inti cerita yang terdapat dalam novel masih berhubungan dengan cerita yang terdapat pada film yang diadaptasinya. Hal ini sejalan dengan kajian interteks yang ingin melihat seberapa jauh tingkat kreativitas penulis dalam memodifikasi karya induk (hipogram) yang merupakan modal utama dalam melahirkan karya berikutnya. Dengan kata lain, hipogram merupakan sandaran bagi karya berikutnya.
    Beberapa bagian dalam film telah dihilangkan atau diubah oleh penulis ketika karya tersebut ditransformasikan ke dalm bentuk novel. Seperti penghilangan beberapa tokoh, setting cerita, atau pengubahan alur yang akhirnya berdampak pada tampilan ketika cerita film tersebut diadaptasi menjadi bentuk novel. Selain itu beberapa tokoh sengaja dikaburkan oleh penulis untuk memberikan kesan dramatis, hingga akhirnya diungkapkan dalm alur yang bergerak flashback.
    Selain itu beberapa unsur cerita dalam novel tampak agak lemah karena penulis kurang mendetail dalam menjabarkan visualisasi dalam film. Seperti halnya penokohan dan setting yang ditampilkan apa adanya karena fokus pada jalannya cerita yang terus berkembang.

    5.2 Saran
    Jika sebuah film diadaptasi ke dalam bentuk novel ataupun sebaliknya sebuah novel diadaptasi ke dalam bentuk film, tidak ada salahnya untuk menikmati karya adaptasi tersebut meskipun sudah mengetahui alur cerita yang ditampilkan dalam karya sebelumnya. Karena karya adaptasi tidak diharuskan menampilkan unsur-unsur cerita yang sama dengan karya sebelumnya secara keseluruhan sehingga karya adaptasi seolah memiliki caranya tersendiri dalam menyampaikan cerita kepada para pembaca.

    Daftar pustaka

    Ajidarma, Seno Gumira. 2000. Layar Kata – Menengok 20 Skenario Pemenang Citra Festival Film Indonesia 1973-1992. Yogyakarta: yayasan bentang budaya.
    Arismunandar, Satrio. 2007. Film ayat-ayat cinta ( update), (online), (http://hasanjunaidi. WordPress.com/2007/03/07/film ayat-ayat-cinta/ diakses 15 maret 2009).
    D. Sitorus, Eka. 2002. The Art of Acting: Seni Peran Untuk Teater, Film dan Tv. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
    Darmawan, Hakmat. 2008. Mengapa Film Horor(2), (onlne), (http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_horor_2.htm-30k-diakses 5 januari 2009).
    Endraswara, Suwardi. 2008. Metodelogi Penelitian Sastra- Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi (Edisi Revisi). Yogyakarta: FBS Universitas Negeri Yogyakarta.
    Grafura, Lubis. 2006. Pemakaian Bahasa Gaul dalam Film Remaja Indonesia, (online), http://lubisgrafura.wordpress.com/2006/09/12/pemakaian bahasa-gaul-dalam-film-remaja-indonesia/ diakses 15 februari 2009).
    Mandah. 2006. Gak Begitu Suka Film Laskar Pelangi, (online), (http://manda.getux.com/2008/09/26/gak-begitu-suka-film-laskar-pelangi/ diakses 17 maret 2009).
    Musa. Film Hantu Bangku Kosong-cerita nyata di sekolah, (online), (http://www.reliks.com/ragam/15112006115601-film-bangku -kosong-cerita-nyata-di-sekolah.html diakses 20 maret 2009).
    Natadjaja, Listia dkk. 2006. Analisis Sudut Pandang Kamera-Studi Kasus Film Jelangkung dan Film The Ring 1, (online), (http://www.pdf-search-engine.com/belajar-membuat-film-pdf.html diakses 1 maret 2009).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: