Remedial Sanding Reg A dan B

Bacalah abstrak atau resensi penelitian tentang sastra perbandingan di luar Indonesia. Sajikan pokok-pokok bahasan yang penting. Sertakan infor sumber rujukan anda. Setiap yang remedial mengumpulkan tiga temuan dari salah satu dari pilihan tersebut.

Kirim melalui halaman ini, paling lambat saat pelaksanaan UAS MK ini.

Berikan hasil yang baik karena hasil tugas Anda akan menjadi bahan untuk UAS.

  1. M. Reza Rinjani
    15/06/2010 pukul 5:35 am

    M. Reza Rinjani
    A1B107030
    PBSI Reguler A
    Sastra Bandingan (Remedial)

    Perbandingan Film dan Novel Twilight Saga
    Sumber:

    http://twilightsaga.wikia.com/wiki/Twilight_book_to_movie_differences

    Pada resensi ini, dua karya yang dibandingkan adalah novel dan film Twilight Saga. Novel Twilight Saga lebih dulu diterbitkan. Film Twilight Saga dibuat dengan menyesuaikan ceritanya pada novel itu. Dalam resensi ini terdapat perbedaan antara novel dan film Twilight Saga. Berikut ini adalah beberapa perbedaan tersebut.

    Pertama, di novel tidak ada tokoh Waylon Forge, sedangkan di film tokoh ini ditampilkan dibunuh oleh Victoria dan James (para vampir jahat) ketika Waylon memperbaiki perahunya.

    Kedua, di novel tokoh Emmet dan Rosalie tidak dihadirkan di rumah keluarga Cullens ketika Bella berkunjung ke situ, sedangkan di film, kedua tokoh itu ditampilkan sedang menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan Bella.

    Ketiga, di novel disebutkan bahwa Bella mengetahui bahwa si Edward adalah vampir ketika mereka berada di mobil dalam perjalanan ke daerah Forks, sedangkan di film, Bella mengetahui bahwa Edward adalah vampir ketika mereka berada di padang rumput.

    Perbandingan Film dan Novel Harry Potter and Half Blood Prince
    Sumber:

    http://www.articlesbase.com/movies-articles/differences-between-harry-potter-and-the-half-blood-prince-book-and-movie-1011675.html

    Resensi ini membahas dua karya, yaitu novel dan film Harry Potter seri kelima, Harry Potter and Half Blood Prince. Di dalam kedua karya tersebut terdapat beberapa perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu menyebabkan penonton tidak akan bisa memahami jalan cerita film jika mereka tidak membaca novelnya terlebih dulu. Salah satu perbedaan tersebut adalah mengenai penggambaran tokoh Profesor SlugHorn. Dia digambarkan sebagai tokoh yang benar-benar mengetahui tentang sosok Voldemort (tokoh jahat musuh Harry potter), sedangkan di film, tokoh Professor SlugHorn memang ditampilkan, tetapi perwatakannya tidak dijelaskan secara detil.

    Perbandingan Film dan Novel Romeo and Juliet
    Sumber:

    http://wiki.answers.com/Q/Difference_between_romeo_and_juliet_the_book_and_the_movie

    Dalam resensi berikut ini, dua karya yang dibandingkan adalah film dan novel Romeo and Juliet. Novel Romeo and Juliet lebih dulu diterbitkan. Film Romeo and Juliet dibuat dengan menyesuaikan jalan ceritanya terhadap jalan cerita novel itu. Dalam resensi tersebut terdapat perbedaan antara keduanya dari segi jalan cerita. Berikut ini adalah beberapa perbedaan tersebut.

    Pertama, di novel, disebutkan bahwa Romeo membunuh tokoh Paris di kuburan dalam perjalanan menemui Juliet, sedangkan di film, tokoh Paris tidak dihadirkan di kuburan itu.

    Kedua, di novel disebutkan bahwa Nyonya Montague meninggal dunia akibat terlalu larut dalam kesedihan atas kematian puteranya, sedangkan di film, Nyonya Montague ditampilkan hanya berada di kuburan sedang menyaksikan proses pemakaman puteranya, Romeo.

    Ketiga, di novel disebutkan bahwa Romeo singgah di sebuah toko obat untuk membeli racun sebagai media bunuh diri, sedangkan di film, Romeo bunuh diri dengan meminum racun yang sudah diminum oleh Juliet.

  2. INDAH PURNAMASARI RADIYANTI
    16/06/2010 pukul 12:07 am

    NAMA : INDAH PURNAMASARI RADIYANTI
    NIM : A1B107010

    REMEDIAL SASTRA PERBANDINGAN
    Comparative literature (sometimes abbreviated “Comp. lit.”) is critical scholarship dealing with the literature of two or more different linguistic, cultural or national groups. While most frequently practiced with works of different languages, it may also be performed on works of the same language if the works originate from different nations or cultures among which that language is spoken. Also included in the range of inquiry are comparisons of different types of art; for example, a comparatist might investigate the relationship of film to literature.
    Overview
    Students and instructors in the field, usually called “comparatists,” have traditionally been proficient in several languages and acquainted with the literary traditions and major literary texts of those languages. Some of the newer sub-fields, however, stress theoretical acumen and the ability to consider different types of art concurrently, over high linguistic competence.
    The interdisciplinary nature of the field means that comparatists typically exhibit some acquaintance with translation studies, sociology, critical theory, cultural studies, religious studies, and history. As a result, comparative literature programs within universities may be designed by scholars drawn from several such departments. This eclecticism has led critics (from within and without) to charge that Comparative Literature is insufficiently well-defined, or that comparatists too easily fall into dilettantism, because the scope of their work is, of necessity, broad. Some question whether this breadth affects the ability of Ph.D.s to find employment in the highly specialized environment of academia and the career market at large, although such concerns do not seem to be borne out by placement data that shows comparative literature graduates to be hired at similar or higher rates than their compeers in English.
    The terms “Comparative Literature” and “World Literature” are often used to designate a similar course of study and scholarship. Comparative Literature is the more widely used term in the United States, with many universities having Comparative Literature departments or Comparative Literature programs.
    Comparative literature is an interdisciplinary field whose practitioners study literature across national borders, across time periods, across languages, across genres, across boundaries between literature and the other arts (music, painting, dance, film, etc.), across disciplines (literature and psychology, philosophy, science, history, architecture, sociology, politics, etc.). Defined most broadly, comparative literature is the study of “literature without borders.” Scholarship in Comparative Literature include, for example, studying literacy and social status in the Americas, studying medieval epic and romance, studying the links of literature to folklore and mythology, studying colonial and postcolonial writings in different parts of the world, asking fundamental questions about definitions of literature itself. What scholars in Comparative Literature share is a desire to study literature beyond national boundaries and an interest in languages so that they can read foreign texts in their original form. Many comparatists also share the desire to integrate literary experience with other cultural phenomena such as historical change, philosophical concepts, and social movements.

    Terjemahan :

    Perbandingan sastra adalah beasiswa kritis berurusan dengan sastra dari dua atau lebih yang berbeda bahasa , budaya atau nasional kelompok. Sementara yang paling sering berlatih dengan karya bahasa yang berbeda, namun dapat juga dilakukan pada karya-karya bahasa yang sama jika karya berasal dari negara yang berbeda atau budaya antara mana bahasa yang diucapkan. Juga termasuk dalam rentang penyelidikan adalah perbandingan antara berbagai jenis seni, misalnya, sebuah comparatist mungkin menyelidiki hubungan film untuk sastra .
    Ikhtisar
    Siswa dan instruktur di lapangan, biasanya disebut “comparatists,” secara tradisional telah mahir dalam beberapa bahasa dan berkenalan dengan tradisi sastra dan teks-teks sastra utama bahasa-bahasa. Beberapa sub-bidang baru, bagaimanapun, stres ketajaman teoritis dan kemampuan untuk mempertimbangkan berbagai jenis seni secara bersamaan, selama kompetensi linguistik tinggi.
    Interdisipliner sifat lapangan berarti bahwa comparatists biasanya menunjukkan beberapa kenalan dengan studi terjemahan , sosiologi , teori kritis , kajian budaya, kajian agama , dan sejarah. Akibatnya, program sastra komparatif dalam universitas dapat dirancang oleh para sarjana yang diambil dari beberapa departemen tersebut.. Elektisitas telah menyebabkan kritikus (dari dalam dan tanpa) untuk biaya yang Perbandingan Sastra tidak cukup didefinisikan dengan baik, atau bahwa comparatists terlalu mudah jatuh ke dalam dilettantism, karena lingkup pekerjaan mereka, kebutuhan, luas. Beberapa pertanyaan apakah lebar ini mempengaruhi kemampuan. untuk mencari pekerjaan di lingkungan yang sangat khusus akademis dan karir di pasar besar, meskipun kekhawatiran tersebut tampaknya tidak ditanggung oleh data penempatan yang menunjukkan perbandingan sastra lulusan untuk dipekerjakan pada tingkat yang sama atau lebih tinggi dari compeers mereka dalam bahasa Inggris.
    Istilah “Perbandingan Sastra” dan “Dunia Sastra” sering digunakan untuk menentukan program serupa studi dan beasiswa. Perbandingan Sastra adalah lebih banyak digunakan istilah di Amerika Serikat, dengan banyak universitas yang memiliki departemen atau program Sastra Perbandingan Perbandingan Sastra.
    Perbandingan sastra adalah bidang interdisipliner yang praktisi studi literatur lintas batas negara, lintas periode waktu, lintas bahasa, lintas genre, melintasi batas-batas antara sastra dan seni lain (musik, lukisan, tari, film, dll), melintasi disiplin (sastra dan psikologi, filsafat, ilmu pengetahuan, sejarah, arsitektur, sosiologi, politik, dll). Ditetapkan paling luas, sastra komparatif adalah studi tentang “sastra tanpa batas. Beasiswa di Perbandingan Sastra meliputi, misalnya, belajar keaksaraan dan status sosial di Amerika, mempelajari epik abad pertengahan dan asmara, mempelajari link sastra cerita rakyat dan mitologi, mempelajari tulisan-tulisan kolonial dan postkolonial di berbagai belahan dunia, mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang definisi sastra itu sendiri. Apa sarjana dalam Sastra Perbandingan saham adalah keinginan untuk studi literatur di luar batas-batas nasional dan minat dalam bahasa sehingga mereka dapat membaca teks asing dalam bentuk aslinya. Banyak comparatists juga berbagi keinginan untuk mengintegrasikan pengalaman sastra dengan fenomena budaya lainnya seperti perubahan historis, konsep filsafat, dan gerakan sosial.
    Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Comparative_literature
    Why study Comparative Literature?
    Studying literature traditionally meant picking an academic department that reflects the nation state on a basically European model.  English, French, and German programs each focus on the canons of their respective national traditions. But literature and readers have both always ranged outside the boundaries of one national language. German literature is brimming with the influences of English and French and Italian and Greek and Roman literature and so on. And even writers who knew nothing of one another may show fascinating similarities and differences; a poem by Stéphane Mallarmé and a poem by Emily Dickinson throw each other into startling relief. A fundamental project of Comparative Literature is to cultivate reading across linguistic boundaries in order to highlight everything that the exclusive focus on a national literature tends to obscure.
    Traditionally, too, Asian, African, and Near Eastern literatures (when they were studied at all) were long relegated to the rubric of Area Studies. The European literatures were understood as both aesthetically autonomous and expressive of the “national genius,” while texts from the non-West were read more from an ethnographic, historical, or anthropological perspective than as works of literature in their own right. The field of Comparative Literature also endeavors, then, to overcome this division between “the West” and “the Rest” by combining the formal rigor of European literary studies with the interdisciplinary reach of area studies.
    The concentration in Comparative Literature at BU – a new program – is designed for students whose interest in literature embraces works in multiple languages. Students of Comparative Literature trace the transformations and travels of literary genres and texts across time and space. They explore the connections of literature with history, philosophy, politics, and literary theory. And they study the intersections of literature with other cultural forms such as film, drama, the visual arts, music, and new media. In our increasingly globalized age, translation studies are also an important part of the comparative approach to literature. It’s surprisingly tricky to say that even a single sentence in one language is truly “equivalent” to its translation in another language; in what sense, then, can we really translate the complexity and nuance of novels, poems or plays? And yet we all depend on translations sooner or later. Literary translations also have their own kind of history and even politics. Why do some texts get translated and others not, for example? And how have the practice and theory of translation changed over time?
    At the core of the concentration in Comparative Literature are courses introducing Western, East Asian, and Middle Eastern literary traditions in comparative perspective. These courses introduce students to the global diversity of literary forms and genres while acquainting them with the methods of comparative literary study. After or in tandem with the introductory courses, students meet with their advisors to put together a program of study that best suits their interests and goals. This will include advanced work in at least one foreign language and its literature and a series of interrelated courses of your choice. One attractive aspect of the Comparative Literature major is its flexibility. In close consultation with your advisor you might decide to focus on anything from the modernist novel to Romantic poetry, postcolonial literature, or Greek and Japanese epics.  At the same time you will have the opportunity to take courses listed or cross-listed under the XL rubric (until Fall 2009 this rubric appeared in course listings as “LL,” but for degree purposes LL and XL are identical) that further hone your skills as a comparatist, such as “Gender and Literature,” “Literary Translation,” “Theory of the Novel,” or “Literature and Empire.”
    A concentration in Comparative Literature is an excellent foundation for further work at the graduate level. It also prepares students to work in any field where critical thinking, strong writing skills and foreign-language competence and a sophisticated understanding of cultural difference and diversity are called for.
    Terjemahan :
    Mengapa studi Perbandingan Sastra?
    Mempelajari sastra tradisional berarti memilih departemen akademis yang mencerminkan negara bangsa pada dasarnya model Eropa. Inggris, Perancis, dan Jerman masing-masing program berfokus pada aturan dari tradisi nasional masing-masing. Tapi sastra dan pembaca memiliki keduanya selalu berkisar di luar batas satu bahasa nasional. sastra Jerman yang penuh dengan pengaruh bahasa Inggris dan Prancis dan Italia dan Yunani dan Romawi sastra dan sebagainya. Dan bahkan penulis yang tahu apa-apa satu sama lain dapat menunjukkan persamaan dan perbedaan yang menarik, sebuah puisi oleh Stéphane Mallarmé dan sebuah puisi oleh Emily Dickinson saling melempar ke bantuan mengejutkan. Sebuah proyek dasar Perbandingan Sastra adalah untuk menumbuhkan membaca melintasi batas-batas linguistik untuk menyorot semua yang fokus eksklusif pada sastra nasional cenderung mengaburkan.
    Secara tradisional, juga, literatur Asia Timur, Afrika, dan Dekat (ketika mereka belajar sama sekali) sudah lama diturunkan ke rubrik Studi Wilayah. Para literatur Eropa dipahami sebagai baik estetis otonom dan ekspresif dari jenius “nasional,” sementara teks dari non-Barat membaca lebih dari perspektif etnografi, sejarah, atau antropologi daripada sebagai karya sastra di kanan mereka sendiri. Bidang Sastra Perbandingan juga usaha, kemudian, untuk mengatasi hal ini pembagian antara “Barat” dan “Istirahat” dengan menggabungkan kekakuan formal studi sastra Eropa dengan jangkauan area studi interdisipliner.
    Konsentrasi dalam Sastra Perbandingan di BU – sebuah program baru – dirancang untuk siswa yang tertarik pada karya sastra mencakup dalam berbagai bahasa. Mahasiswa Perbandingan Sastra melacak transformasi dan perjalanan genre sastra dan teks di seluruh ruang dan waktu. Mereka mengeksplorasi hubungan sastra dengan sejarah, filosofi, politik, dan teori sastra. Dan mereka mempelajari persimpangan sastra dengan bentuk-bentuk budaya lainnya seperti film, drama, seni visual, musik, dan media baru. Di zaman kita yang semakin global, studi terjemahan juga merupakan bagian penting dari pendekatan perbandingan terhadap sastra. Ini mengejutkan sulit untuk mengatakan bahwa bahkan satu kalimat dalam satu bahasa benar-benar “setara” untuk terjemahan dalam bahasa lain, dalam arti apa, kemudian, dapat kita benar-benar menerjemahkan kompleksitas dan nuansa novel, puisi atau drama? Namun kita semua tergantung pada terjemahan cepat atau lambat. Terjemahan Sastra juga memiliki jenis mereka sendiri dan bahkan sejarah politik. Dan bagaimana memiliki praktek dan teori terjemahan berubah dari waktu ke waktu?
    Pada inti dari konsentrasi dalam Sastra Perbandingan kursus memperkenalkan Barat, Asia Timur, Timur Tengah dan tradisi sastra dalam perspektif komparatif.. Kursus-kursus ini memperkenalkan mahasiswa pada beragam global bentuk sastra dan genre sementara acquainting mereka dengan metode studi sastra komparatif. Setelah atau bersamaan dengan program perkenalan, siswa bertemu dengan penasehat mereka untuk menyusun program studi yang paling sesuai dengan kepentingan dan tujuan mereka. Hal ini mencakup bekerja maju dalam paling tidak satu bahasa asing dan sastra dan serangkaian program yang saling berkaitan dalam pilihan Anda. Salah satu aspek menarik dari Sastra Perbandingan utama adalah fleksibilitas. Dalam konsultasi dengan penasihat Anda, Anda dapat memutuskan untuk fokus pada apa pun dari novel modernis untuk puisi Romantis, sastra postkolonial, atau epos Yunani dan Jepang Pada saat yang sama Anda akan memiliki kesempatan untuk mengambil kursus yang terdaftar atau lintas-terdaftar di bawah rubrik XL (sampai Fall 2009 rubrik ini muncul di daftar kursus sebagai “LL,” tapi untuk tujuan gelar LL dan XL adalah identik) yang lebih lanjut mengasah Anda keterampilan sebagai comparatist, seperti “Jender dan Sastra,” “Literary Translation,” “Teori dari Novel,” atau “Sastra dan Empire.”
    Sebuah konsentrasi dalam Sastra Perbandingan merupakan fondasi yang sangat baik untuk bekerja lebih lanjut di tingkat pascasarjana. Ini juga menyiapkan siswa untuk bekerja dalam bidang-bidang di mana pemikiran kritis, kemampuan menulis yang kuat dan kompetensi bahasa asing dan pemahaman yang canggih perbedaan budaya dan keragaman disebut untuk.

    Sumber : http://www.bu.edu/mlcl/about/why-study/comp-lit.html

    World Literature or Comparative Literature?

    Harry Levin, a famous professor of comparative literature, once had a dream in which two workmen knocked on his door and announced that they “had come to compare the literature.” Many explanations of what comparative literature is, begin with this anecdote, which raises the central issue: just how does one compare literature?

    The terms “Comparative Literature” and “World Literature” are often used to designate a similar course of study. Comparative Literature is the more widely used term in the United States, with many universities having Comparative Literature Departments or Comparative Literature Programs. There are also scholarly associations such as the International Comparative Literature Association (ICLA), the American Comparative Literature Association (ACLA), whose secretariat has been housed at the University of Alabama since August 1998, and the Southern Comparative Literature Association (SCLA). The latter two organizations sponsor annual conferences and publish journals, Comparative Literature and The Comparatist respectively. Other well-known comparative literature journals published in the United States are: Comparative Literature Studies (Penn State University), World Literature Today (University of Oklahoma), and Yearbook of Comparative and General Literature (Indiana University).

    At the University of Alabama the Comparative Literature Program underwent a name change and has been known as World Literature for a number of years. The World Literature Program is directed by Dr. Elaine Martin (Modern Languages and Classics) and offers the minor in world literature as well as courses that can be taken for graduate credit. The World Literature faculty is drawn from various disciplines such as Italian, English, German, French, Women’s Studies, and Religious Studies. In addition to the core courses of the World Literature Survey I and II and Major World Authors I and II, the program also offers a wide variety of special topics courses, which may treat a movement (ex. Romanticism), an individual author (ex. Boccaccio; Goethe); issues of influence (ex. Petrarch and Petrarchism); a genre (ex. the novel; lyric poetry; drama), or a specific subject or theme (ex. Representations of Food in Literature and Film).

    What is Comparative Literature?
    Comparative literature is the discipline of studying literature internationally:
     across national borders
     across time periods
     across languages
     across genres
     across boundaries between literature and the other arts (music, painting, dance, film, etc.)
     across disciplines: literature and psychology, philosophy, science, history, architecture, politics, etc.
    Defined most broadly, comparative literature is the study of “literature without walls.”
    Comparatists include, for example, people who are:
     studying literacy and social status in the Americas
     studying medieval epic and romance
     studying the links of literature to folklore and mythology
     studying colonial and postcolonial writings in different parts of the world
     asking fundamental questions about definitions of literature itself
    What they share in common is a desire to study literature beyond national boundaries and an interest in languages so that they can read foreign texts in their original form. Many comparatists also share the desire to integrate literary experience with other cultural phenomena such as historical change, philosophical concepts, and social movements.
    Why Study Comparative Literature/World Literature?
    Diversity: No single definition of comparative literature would easily satisfy any two scholars associated with the discipline. Not surprisingly then, students taking courses or working on a minor in this discipline often have diverse conceptions of the kind of study they are embarking upon. Indeed, comparative literature is a complex discipline in large part because of the diversity of interests of the people engaged in it. As a student in the program, you will be asked to do a number of different things, which reflect the complexities behind the concept of comparative literature.
    1.1You will be encouraged to familiarize yourself with literature from at least two different national traditions, studied in their original languages. In its most obvious sense, comparative literature might be seen to start here. By studying different literary traditions, you will begin to be able to imagine what might constitute differences or similarities between those literatures.
    2.You will be asked to think about literature not only from differing national traditions, but from widely separated historical periods as well. Thus comparative literature might also involve imagining what historical differences in the conception of literature teach us about its own nature or its function.
    3.You will be asked to think about what the verb “compare” means when applied to a specific group of authors or texts from different literatures. What do you compare when you compare authors, or literature, or specific works of literature? What theoretical problems do various acts of comparison raise? When might comparisons be unjust or even misleading?
    4.You will be asked to think theoretically about the idea of literature itself, about, for example some of the following questions. How and why is literature divided into different genres or different periods? How is literature situated within a given society? How is literature different from other domains such as philosophy or psychoanalysis or politics? Students interested in literary theory will find much in the study of comparative literature to interest them for example the challenge of confronting Western literary theory (and the Western canon) with previously unexplored non-Western literatures.
    Terjemahan :
    Dunia Sastra atau Sastra Perbandingan?
    Harry Levin, seorang profesor perbandingan sastra terkenal, pernah punya mimpi di mana dua pekerja mengetuk pintu dan mengumumkan bahwa mereka “telah datang untuk membandingkan literatur. Banyak” penjelasan dari perbandingan apa sastra, mulailah dengan anekdot, yang meningkatkan isu sentral: hanya bagaimana cara membandingkan sastra?

    Perbandingan Sastra adalah lebih banyak digunakan istilah di Amerika Serikat, dengan banyak universitas yang memiliki Departemen Sastra Perbandingan atau Perbandingan Program Sastra. Ada juga asosiasi ilmiah seperti Asosiasi Internasional Sastra Perbandingan (ICLA), American Association Sastra Perbandingan (ACLA), sekretariat yang telah disimpan di University of Alabama sejak Agustus 1998, dan Perbandingan Sastra Selatan Asosiasi (SCLA). Dua yang terakhir organisasi sponsor konferensi tahunan dan menerbitkan jurnal, Perbandingan Sastra dan Comparatist itu masing-masing. Komparatif sastra lain yang dikenal-baik jurnal diterbitkan di Amerika Serikat adalah: Perbandingan Studi Sastra (Penn State University), Dunia Sastra Hari Ini (University of Oklahoma), dan Yearbook of Perbandingan dan Sastra Umum (Indiana University).

    Di Universitas Alabama di Sastra Perbandingan Program mengalami perubahan nama dan telah dikenal sebagai Sastra Dunia untuk beberapa tahun. Program Sastra Dunia diarahkan oleh Dr Elaine Martin (Bahasa Modern dan Klasik) dan menawarkan minor dalam dunia sastra serta program-program yang dapat diambil untuk kredit pascasarjana. Dunia Sastra fakultas yang diambil dari berbagai disiplin ilmu seperti Bahasa Italia, Inggris, Jerman, Perancis, Studi Perempuan, dan Studi Keagamaan. Selain mata kuliah inti dari Sastra Dunia Survey I dan II dan Mayor Penulis Dunia I dan II, program ini juga menawarkan berbagai macam kursus topik khusus, yang dapat mengobati gerakan (ex. Romantisisme), seorang penulis individu (mantan Boccaccio;. Goethe), masalah pengaruh (ex. Petrarch dan Petrarchism); sebuah genre (ex. novel itu, puisi liris, drama), atau topik tertentu atau tema ex. (Representasi Pangan dalam Sastra dan Film).

    Apa itu Sastra Perbandingan?
    Perbandingan sastra adalah disiplin belajar sastra internasional:
    lintas batas negara
    seluruh periode waktu
    lintas bahasa
    di genre
    melintasi batas-batas antara sastra dan seni lain (musik, lukisan, tari, film, dll)
    di disiplin: sastra dan psikologi, filsafat, ilmu pengetahuan, sejarah, arsitektur, politik, dll
    Comparatists meliputi, misalnya, orang-orang yang:
    belajar membaca dan status sosial di Amerika
    belajar epik abad pertengahan dan asmara
    link mempelajari sastra cerita rakyat dan mitologi
    studying belajar kolonial dan tulisan-tulisan postkolonial di berbagai belahan dunia
    mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang definisi sastra itu sendiri
    Apa yang mereka berbagi dalam umum adalah keinginan untuk studi literatur di luar batas-batas nasional dan minat dalam bahasa sehingga mereka dapat membaca teks asing dalam bentuk aslinya. Many Banyak comparatists juga berbagi keinginan untuk mengintegrasikan pengalaman sastra dengan fenomena budaya lainnya seperti perubahan historis, konsep filsafat, dan gerakan sosial.
    Mengapa Studi Sastra Perbandingan / Sastra Dunia?
    Perbedaan: Tidak ada definisi yang tunggal sastra komparatif dengan mudah akan memuaskan setiap dua sarjana yang terkait dengan disiplin. Tidak mengherankan kemudian, mahasiswa yang mengambil kursus atau bekerja pada minor dalam disiplin ini sering memiliki konsep-konsep yang beragam jenis memulai studi mereka di atas. Memang, sastra komparatif adalah disiplin yang kompleks sebagian besar karena keragaman kepentingan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Anda akan diminta untuk melakukan beberapa hal yang berbeda, yang mencerminkan kompleksitas di balik konsep sastra komparatif.
    1.Kamu akan didorong untuk membiasakan diri dengan literatur dari setidaknya dua tradisi nasional yang berbeda, belajar dalam bahasa aslinya. Dengan mempelajari tradisi sastra yang berbeda, Anda akan mulai bisa membayangkan apa yang mungkin merupakan perbedaan atau kesamaan antara literatur.
    2.Anda akan diminta untuk berpikir tentang sastra tidak hanya dari berbagai tradisi nasional, tapi dari periode sejarah yang terpisah juga. Jadi perbandingan sastra mungkin juga melibatkan membayangkan apa perbedaan historis dalam konsepsi sastra mengajarkan kita tentang alam sendiri atau fungsinya.
    3.Anda akan diminta untuk berpikir tentang apa kata “membandingkan” berarti ketika diterapkan pada kelompok tertentu dari penulis atau teks dari literatur yang berbedaApa yang Anda membandingkan ketika Anda membandingkan penulis, atau sastra, atau karya sastra tertentu? Apa masalah teoritis lakukan berbagai tindak meningkatkan perbandingan? Ketika mungkin perbandingan tidak adil atau bahkan menyesatkan?
    4.Anda akan diminta untuk berpikir secara teoritis tentang gagasan sastra itu sendiri, tentang, misalnya beberapa pertanyaan berikut. Bagaimana dan mengapa dibagi ke dalam genre literatur yang berbeda atau periode yang berbeda? Bagaimana sastra terletak dalam suatu masyarakat tertentu? Bagaimana sastra berbeda dari domain lain seperti filsafat atau psikoanalisis atau Mahasiswa yang tertarik pada teori sastra akan menemukan banyak dalam studi sastra komparatif untuk kepentingan mereka misalnya tantangan yang dihadapi teori sastra Barat (dan kanon Barat) dengan literatur non-Barat yang sebelumnya belum diselidiki.
    Sumber : http://bama.ua.edu/~wlp/clvswl.htm

  3. AULIA
    16/06/2010 pukul 12:11 am

    NAMA : AULIA
    NIM : A1B1O7O54

    Apa itu Sastra Perbandingan?
    Program Akademik Itu Menghasilkan Comp Lit Master atau PhD Degree
    Berbagi Artikel |
    Dec 7, 2009 Luke Arnott 7 Desember 2009 Lukas Arnott
    Perbandingan Sastra studi literatur di waktu yang berbeda dan budaya. Comp Lit program interdisipliner, tapi kemampuan bahasa stres dan teori kritis.

    Disiplin akademik praktek Perbandingan Sastra kritik sastra pada karya-karya yang ditulis dalam berbagai bahasa dan / atau berasal dari budaya yang berbeda. jenis seni lainnya mungkin juga dibandingkan, terutama jika mereka, seperti opera atau film, memiliki aspek tertulis.
    Misalnya, sebuah comparatist mungkin menggunakan teori kritis untuk melihat genre epik melalui sejarah, atau dia akan melacak adaptasi satu cerita tertentu di media kontemporer yang berbeda.
    A Sejarah Singkat Sastra Perbandingan
    Salah satu yang pertama untuk mengantisipasi studi Perbandingan Sastra adalah Johann Wolfgang von Goethe. Pada awal abad ke-19, Goethe mengajarkan gagasan Weltliteratur, atau Sastra Dunia, meskipun ia tidak menindaklanjuti dengan kerja kritis yang komprehensif pada subjek.
    Beberapa dekade kemudian, Perbandingan Sastra studi mulai berkembang di universitas. comparatists abad ke-19 berfokus pada literatur Eropa, tetapi pada abad kedua puluh, ruang lingkup studi banding tumbuh di samping beasiswa meningkat Barat tentang bahasa non-Indo-Eropa.
    Demikian pula, tren dalam metode Perbandingan Sastra telah bergeser selama beberapa dekade, mulai dari historis dengan pendekatan teoretis. Beberapa berpendapat bahwa telah terjadi penurunan dalam Sastra Perbandingan tradisional. Namun interdisipliner bidang terkait, seperti kajian budaya, berutang ke pendekatan comparatist, dan masih tumpang tindih dengan Perbandingan Sastra.

    Ads by Google

    Share your Knowledge
    Now share your docs via Outlook Get the software – Totally Free!
    harmony.mainsoft.com
    Research Network
    A job site dedicated exclusively to researchers.
    ResearchNetwork.com

    Sastra Perbandingan Master dan PhD Program
    mahasiswa yang tertarik untuk mengeksplorasi Perbandingan Sastra – atau Comp Lit pendek – harus mengambil kursus mengakrabkan diri dengan karya-karya besar sastra duniaSebuah beberapa perguruan tinggi memiliki program sarjana Comp Lit, meskipun ini sendiri tidak selalu cukup persiapan untuk studi pascasarjana di disiplin.
    kompetensi linguistik merupakan inti dari setiap program lanjutan Perbandingan Sastra. Siswa yang mendaftar untuk program gelar Master di Comp Lit umumnya perlu mengetahui bahasa lain selain bahasa Inggris (atau bahasa asli mereka, jika berbeda), sementara mereka yang memasuki program doktor membutuhkan setidaknya dua.
    Sejak Perbandingan Sastra adalah interdisipliner, Comp Lit mahasiswa sering mengambil program dari berbagai departemen universitas. Mereka berencana untuk mendapatkan gelar Sastra Perbandingan karenanya harus penelitian kekuatan dari departemen terkait di perguruan tinggi yang mereka terapkan.
    Apa gelar Sarjana Sastra Perbandingan adalah Bagus Untuk
    Seperti derajat lanjutan yang paling, sebuah Perbandingan Sastra PhD adalah kualifikasi untuk mengajar di tingkat universitas. Banyak Comp Lit fakultas tidak berkembang, Namun, mengajar membuat pekerjaan di lapangan sulit ditemukan. Kandidat Doktor menerima dari program yang paling bergengsi Sastra Perbandingan memiliki keuntungan.
    Banyak Perbandingan Sastra PhD menemukan akademis bekerja di departemen sastra nasional. Misalnya, disertasi comparatist yang berfokus pada bahasa-bahasa Romance dapat menemukan pekerjaan mengajar dalam bahasa Spanyol departemen universitas, Prancis, atau Italia. Gelar Comp Lit juga bisa persiapan untuk bekerja sama di luar universitas, dari terjemahan ke instruksi bahasa asing.
    Sementara Perbandingan Sastra telah berkembang selama beberapa dekade, Comp Lit program terus menekankan kompetensi linguistik dan penghargaan terhadap kata-kata tertulis. Hal ini membuat Perbandingan Sastra baik lebih fleksibel dan lebih menantang untuk belajar dari literatur nasional, dan memberikan lulusan Comp Lit ditambahkan keterampilan.

    Read more at Suite101: Apa itu Sastra Perbandingan: Program Akademik Itu Menghasilkan Comp sebuah? Master Lit atau PhD Degree http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&sl=en&u=http://universities.suite101.com/article.cfm/what_is_comparative_literature&prev=/search%3Fq%3Dwhat%2Bis%2Bcomparative%2Bliterature%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26sa%3DG%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official&rurl=translate.google.co.id&usg=ALkJrhiC5ycrPUkQQqe7eZzIULbIVSQj3A#ixzz0pfeFZr53

    What is Comparative Literature?
    Academic Program That Leads to a Comp Lit Master’s or PhD Degree
    Share Article |
    Dec 7, 2009 Luke Arnott
    Comparative Literature studies literature across different times and cultures. Comp Lit programs are interdisciplinary, but stress language skills and critical theory.

    The academic discipline of Comparative Literature practices literary criticism on works written in different languages and/or coming from different cultures. Other types of art may also be compared, especially if they, like opera or film, have a written aspect.
    For instance, a comparatist might use critical theory to look at the epic genre through history, or he might trace the adaptation of one particular narrative across different contemporary media.
    A Short History of Comparative Literature
    One of the first to anticipate the study of Comparative Literature was Johann Wolfgang von Goethe. In the early 19th century, Goethe promulgated the idea of Weltliteratur, or World Literature, though he didn’t follow up with any comprehensive critical work on the subject.
    A few decades later, Comparative Literature studies began to develop in universities. 19th-century comparatists focused on European literature, but in the twentieth century, the scope of comparative studies grew alongside increased Western scholarship about non-Indo-European languages.
    Likewise, trends in the methods of Comparative Literature have shifted over the decades, ranging from historicist to theoretical approaches. Some have argued that there has been a decline in traditional Comparative Literature. Yet related interdisciplinary fields, such as cultural studies, owe a debt to the comparatist approach, and still overlap with Comparative Literature.
    Ads by Google

    Online Business Degrees
    MBA and MSc Online Degrees In 12 Months, Top Tutors, Apply Online
    http://www.StudyInterActive.org
    Master Project Management
    Executive Program in Monaco. Universities of Monaco & California
    monaco.edu/Master_ProjectManagement

    Comparative Literature Master’s and PhD Programs
    University students interested in exploring Comparative Literature – or Comp Lit for short – should take courses familiarizing themselves with great works of world literature. A few colleges have Comp Lit undergraduate programs, although these by themselves are not always adequate preparation for graduate studies in the discipline.
    Linguistic competence is at the core of any advanced Comparative Literature program. Students applying to a Master’s degree program in Comp Lit generally need to know another language in addition to English (or their native language, if different), while those entering doctoral programs require at least two.
    Since Comparative Literature is interdisciplinary, Comp Lit students often take courses from a wide range of university departments. Those planning to get a Comparative Literature degree should therefore research the strengths of related departments at universities to which they apply.
    What a Comparative Literature Graduate Degree is Good For
    Like most advanced degrees, a Comparative Literature PhD is a qualification for teaching at the university level. Many Comp Lit faculties are not expanding, however, making teaching jobs in the field hard to find. Candidates receiving doctorates from the most prestigious Comparative Literature programs have an advantage.
    Many Comparative Literature PhDs find academic work in national literature departments. For instance, a comparatist whose dissertation focuses on Romance languages may find a job teaching in a university’s Spanish, French, or Italian department. A Comp Lit degree can also be preparatory to similar work outside of universities, from translation to foreign language instruction.
    While Comparative Literature has evolved over the decades, Comp Lit programs continue to stress linguistic competency and an appreciation for the written word. This makes Comparative Literature both more flexible and more challenging to study than national literatures, and gives Comp Lit grads added skills.

    http://universities.suite101.com/article.cfm/what_is_comparative_literature

    What Was Comparative Literature?
    Comparative literature as an intellectual field arose in the nineteenth century, a counterpart of the equally new fields of comparative anatomy, comparative law, and comparative philology. These fields sought to locate what they postulated as the larger whole that united the various differences of specific languages, laws, species, and (national) literatures. Comparative literature presumably acquired its name as such from a series of French anthologies for the teaching of literature; published in 1816, they were entitled Cours de littérature comparée.
    The intellectual field and later the academic discipline of comparative literature, then, circulated and developed in nineteenth century Europe as a gentlemanly and evaluative inquiry into what constituted the worthy contemporary literatures of Europe, the exchanges between those literatures, and their links to shared traditions of the past. It is noteworthy that this development was concomitant with the emergence and consolidation of nation states in Europe and their legitimation through cultural claims to national literary and popular traditions. It is as noteworthy that the circulation and institutionalization of the concept of comparative literature was also concomitant with the continuing colonial expansion of European states throughout the globe and with the intra-European contest over who would control which colonies. In 1886, one of the ‘map-makers’ in the now burgeoning field of comparative literature, Hutcheson Macaulay Posnett (in his Comparative Literature, published in London by K. Paul – Trench as part of their “International Scientific Series”) defined “the proper order of our studies in comparative literature” as the pursuit “of causes which can be specified and described.” Those studies were to reveal the socio-cultural development of “man” from clan to city, from city to nation, from both of these to cosmopolitan humanity (85-6).
    Posnett’s formulation was decisively modified by others in the years that followed. But the field and discipline of comparative literature continued to postulate and pursue the shared past and the boundaries of a unified yet distinct European community and its national cultures and literatures. If in the late nineteenth and first half of the twentieth century anti-colonial resistance from without and the rise of fascism from within redefined its parameters, Posnett’s “cosmopolitan humanity” remained one of its central concerns.
    If you’re interested in the history of Comparative Literature as a discipline, while there are many and diverse books on the subject, any of the following are a good starting point:
    Apa Apakah Sastra Perbandingan?
    Perbandingan sastra sebagai bidang intelektual muncul pada abad kesembilan belas, seorang rekan dari bidang-bidang baru yang sama anatomi perbandingan, perbandingan hukum, dan filologi komparatif. Bidang ini berusaha untuk mencari apa yang mereka mempostulatkan sebagai keseluruhan yang lebih besar yang menyatukan berbagai perbedaan bahasa tertentu, hukum, spesies, dan (nasional) sastra. Perbandingan sastra mungkin diakuisisi sebagai nama tersebut dari serangkaian antologi Perancis untuk pengajaran sastra ; diterbitkan tahun 1816, mereka berhak Cours de comparée littérature.
    Bidang intelektual dan kemudian disiplin sastra komparatif, kemudian, beredar dan dikembangkan di Eropa abad kesembilan belas sebagai pertanyaan sopan dan evaluatif ke dalam apa yang membentuk literatur kontemporer layak Eropa, bursa antara literatur, dan link mereka untuk tradisi bersama masa lalu. Perlu dicatat bahwa perkembangan ini seiring dengan kemunculan dan konsolidasi negara-bangsa di Eropa dan legitimasi mereka melalui klaim budaya untuk tradisi sastra dan populer nasional. Ini adalah sebagai dicatat bahwa sirkulasi dan institusionalisasi konsep perbandingan sastra juga seiring dengan ekspansi kolonial negara-negara Eropa terus di seluruh dunia dan dengan kontes intra-Eropa tentang siapa yang akan mengendalikan koloni yang. Pada tahun 1886, salah satu pembuat peta ‘dalam bidang yang sedang berkembang sekarang sastra komparatif, Hutcheson Macaulay Posnett (dalam bukunya Perbandingan Sastra, diterbitkan di London oleh K. Paul – Palung sebagai bagian dari mereka “Seri Ilmiah Internasional”) didefinisikan ” urutan yang tepat dari studi kami dalam sastra perbandingan “seperti mengejar” sebab-sebab yang dapat dirinci dan dijelaskan “Dari hasil penelitian ini. adalah untuk mengungkapkan perkembangan sosial-budaya dari” manusia “dari klan ke kota, dari kota ke negara, baik dari ini untuk manusia kosmopolitan (85-6).
    formulasi Posnett adalah meyakinkan diubah oleh orang lain dalam tahun-tahun berikutnya. Tapi bidang dan disiplin sastra komparatif terus mendalilkan dan mengejar masa lalu bersama dan batas-batas komunitas Eropa bersatu namun berbeda dan budaya nasional dan literatur. Jika pada akhir kesembilan belas dan setengah pertama abad kedua puluh perlawanan anti-kolonial dari tanpa dan kebangkitan fasisme dari dalam mendefinisikan ulang parameter, “kosmopolitan Posnett kemanusiaan” tetap salah satu perhatian utamanya.
    Jika Anda tertarik dengan sejarah Perbandingan Sastra sebagai disiplin, sementara ada banyak dan beragam buku tentang topik ini, salah satu dari berikut adalah titik awal yang baik:

    http://complit.lss.wisc.edu/about/what_was_complit.php

    e / About Comparative Literature
    About Comparative Literature
    Since its founding as a discipline in the nineteenth century, Comparative Literature has provided a geographically and chronologically broader perspective on the literary and cultural achievements of humankind than is possible from within the national or area literature department alone. Just as, historically speaking, Comparative Literature arose from the emergence of nationalism (borders can’t be crossed if none exist) the field today cannot prosper without strong national literature departments. But for both students and faculty, Comparative Literature appeals to the pervasive desire to transcend the merely national point of view, to engage with great imaginative works of literature from different places and times. Mandating an intense immersion in at least one foreign language and literature, and with courses on literature in translation that seriously engage non-western literature as well as western texts, Comparative Literature provides to its students a serious, sustained understanding of cultures beyond their own, and helps them become better global citizens. Comparative Literature is well situated to study, as no single national literature department can, relationships between literary cultures as they involve influence, encounter, exchange, and translation.
    Historically, Comparative Literature’s transnational orientation has made it the home for literary theory, which has transformed the study of literature since the 1960s. For the benefit of all literature majors at Washington University, Comparative Literature therefore offers courses on literary theory at both the undergraduate and graduate level. We also uniquely offer an interdisciplinary major in Comparative Arts, founded on an introductory core course, in which students explore relationships between literature and painting, sculpture, architecture, music, drama, and film.
    The Comparative Literature program at Washington University in St. Louis offers a major and minor to undergraduate students as well as a program that focuses on Literature and Ethics. For graduate students there is a Ph.D. program as well as combined Ph.D. programs and certificates.
    With two undergraduate majors and several Ph.D. programs, through study abroad opportunities, student conferences and distinguished invited lecturers, Comparative Literature provides a study of literature (and its relationships to other kinds of writing and forms of art) that is theoretically informed and internationally oriented.
    Home / About Comparative Literature Home Tentang Perbandingan Sastra /
    Tentang Perbandingan Sastra
    Sejak didirikan sebagai suatu disiplin pada abad kesembilan belas, Perbandingan Sastra telah memberikan perspektif geografis dan kronologis yang lebih luas pada prestasi sastra dan budaya manusia daripada yang mungkin dari dalam wilayah nasional atau departemen sastra sendiri. Sama seperti, sejarah, Perbandingan Sastra timbul dari munculnya nasionalisme (perbatasan tidak dapat menyeberangi jika tidak ada) medan saat ini tidak bisa makmur tanpa departemen sastra nasional yang kuat. Tapi bagi para mahasiswa dan fakultas, Perbandingan Sastra menarik keinginan luas untuk mengatasi titik pandang hanya nasional, untuk terlibat dengan karya-karya sastra imajinatif besar dari tempat yang berbeda dan waktu. Mandat sebuah pencelupan intens dalam setidaknya satu bahasa asing dan sastra, dan dengan kursus tentang sastra dalam terjemahan yang serius terlibat literatur non-Barat serta teks-teks barat, Perbandingan Sastra diberikan kepada mahasiswa sebuah pemahaman, serius berkelanjutan dari budaya luar mereka sendiri, dan membantu mereka menjadi warga global yang lebih baik. Perbandingan Sastra terletak baik untuk belajar, karena tidak ada departemen sastra tunggal nasional dapat, hubungan antara budaya sastra saat mereka melibatkan pengaruh, pertemuan, pertukaran, dan terjemahan.
    Secara historis, orientasi Perbandingan Sastra transnasional telah membuat rumah untuk teori sastra, yang telah mengubah kajian sastra sejak tahun 1960-an. Untuk kepentingan semua jurusan sastra di Washington University, Perbandingan Sastra karena itu kami menawarkan program pada teori sastra baik di tingkat sarjana dan pascasarjana. Kami juga unik menawarkan interdisipliner besar di Perbandingan Seni, didirikan pada kursus inti pengantar, di mana siswa mengeksplorasi hubungan antara sastra dan lukisan, patung, arsitektur, musik, drama, dan film.
    The program Sastra Perbandingan di Washington University di St Louis menawarkan besar dan kecil untuk mahasiswa serta program yang berfokus pada Sastra dan Etika . Untuk lulusan siswa ada Ph.D. program as well as combined Ph.D. program, serta gabungan Ph.D. program dan sertifikat .
    Dengan dua jurusan sarjana dan beberapa Ph.D. program, melalui kesempatan belajar di luar negeri, konferensi mahasiswa dan terhormat mengundang dosen, Perbandingan Sastra menyediakan studi sastra (dan hubungan ke jenis lain penulisan dan bentuk-bentuk seni) yang secara teoritis informasi dan berorientasi internasional.

    Contact Us Hubungi Kami
    Site Map Peta Situs
    Comparative Literature | Washington University in St. Louis | Campus Box 1107 | One Brookings Drive | St. Louis, MO 63130-4899 | 314-935-5170 | Fax: 314-935-5139 | complit@artsci.wustl.edu Perbandingan Sastra | Washington University di St Louis | Campus Box 1107 | Satu Brookings Drive | St Louis, MO 63130-4899 | 314-935-5170 | Fax: 314-935-5139 | complit@artsci.wustl.edu

    http://complit.artsci.wustl.edu/node/104

    Delicious Abyss: The Biblical Darkness in the Poetry of Saint-John Perse
    Judith Kopenhagen-Urian

    The sequence of allusions to the prayer of Jonah throughout the lengthy poem “Amers” ["Seamarks"] elaborates upon themes taken from the biblical sea-epic. 1 Inspired by semantic as well as prosodical values of the biblical sources (Jonah, chapter II, underlined by the poet), these allusions combine four functions observed in Perse’s use of the Bible: the contrasting perspective, the structured allusion (the form-logic), the repeated motif, and the “collage.” 2
    The first example of such intertextual treatment referring to the prayer of Jonah appears in the first part of “Seamarks”, section II (excerpt no. 1 hereafter):
    Plus que l’année appelée héliaque en ses milles
    De millénaires ouverte, la Mer totale m’environne.
    L’abîme infâme m’est délice et l’immersion divine
    Ils m’ont appelé l’Obscure et j’habitais l’éclat.
    (282)
    [More than the Year called heliacal in its thousands and millions
    Of milleniums, open, the total Sea encompasses me.
    The infamous abyss is delight to me, and immersion, divine . . . .
    They called me the Dark One and I dwelt in radiance.] 3
    While the ancient poet, in the name of Jonah, deplores his condition,”closed in the depth . . . round about . . . in the midst of the sea,” Perse uses the same topoi to express delight, thus reversing the biblical [End Page 195] perspective. However, the biblical reference has further ramifications in Perse’s poem.
    -The sea/abyss structure of the original parallelism is perfectly reflected in Perse’s discourse in all variations of the motif, appearing in other sections of “Seamarks.”
    -The allusion to the prayer of Jonah is furthermore constantly accompanied by most obvious allusions to Heraclitus, in a multi-dimensional collage combining East-West cultures.
    We may ask: how and to what purpose did the poet transform the very words of the Bible so as to create the oxymoron “delicious abyss,” expressing quite the opposite meaning of the sources? The answer is to be found in detailed considerations of the four functions mentioned above.
    The Contrasting Perspective
    Thematic Aspects: In the allusion to the prayer of Jonah (Seamarks” II, O.C. 282), there is an intersecting of two central themes relating to punishment in the Book of Jonah, both on narrative and theological levels.
    These two thematic levels reverse direction in Perse’s typical fashion: the moment of shock and punishment loses its negative aspect; the proximity of the sea symbolizes the removing of chains and the outburst of the life force embodied in man and nature.
    In order to demonstrate the inversion performed by Perse in his Biblical sources, let us trace both phases of punishment, underlined by the poet in his personal Bible. The first phase, which figures in the outline story, consists in itself of three counts of punishment (Book of Jonah, chapters 1,3,4).
    In chapter 1, Jonah escapes from God towards the sea, thus attempting to refrain from fulfilling his mission, which was to warn and to prophesy punishment upon the population of Nineveh–the “great city.” Then, Jonah himself is immediately punished for his rebellious reaction by the storm threatening his ship in a sort of “pre-punishment.” Jonah’s main punishment is brought about when he is thrown overboard by the sailors, finally being swallowed by “a great fish.” Jonah is now abandoned to the monstrous forces and implores God to save him from the threatening depths. In chapter 3, Jonah’s mission is at last perfectly accomplished: the people of Nineveh do repent from their evil, having been touched by God’s warning. However, in chapter 4, the theme of punishment reappears in yet another momentum: while the frustrated prophet retires outside the city, the gourd under which he has found shade dries up overnight. The universal perception of Divinity is imbedded in God’s words to Jonah; [End Page 196] the care of human beings, God’s creation,is placed in analogy to Jonah’s care for the plant which he “did not even labour at,” yet still regretting it drying up.
    Perse underlines in his Bible all the verses dealing with those phases of punishment, with the manifest intention of later twisting their meaning. The escape from Nineveh–similar to the escape from Sodom, hinted at later in “Seamarks” in the allusion to Lot’s wife (O.C. 374)–might symbolize, in Perse’s poem, a positive crisis due to the abandoning of the decadent values of the past. The journey to the sea is the right direction and the storm is an experience of delight and not of punishment.
    From Perse’s reserved attitude towards the divine authority, an ironic play of roles is created by the alternation between the strict God, extreme in his zeal, and his merciful and pardoning character. 4 In the Jonah Story (for example, in chapter 3, verses 10 and 11) the dichotomous aspects of the biblical God are in fact encountered in a most prominent manner.
    The second phase, the prayer of Jonah, in which the mythological background of the ancient sea-epic is entwined, revolves around the punishmentof the rebellious sea by the all powerful God. The mythological factor emerges in the words of the prayer uttered by Jonah from the belly of the great fish in the midst of the sea (Book of Jonah, chapter 2). Verses 3-4, preceding the borrowed segments quoted above (excerpt no. 1), obviously use the same spatial terms (concerning the depths of the ocean) relating to the ancient myths:
    Du ventre du schéol j’ai crié.
    Vous avez entendu ma voix,
    vous m’aviez jeté dans l’abîme,
    Au coeur des mers,
    Et l’onde m’environnait;
    tous vos flots et tous vos vagues
    ont passé sur moi.
    [Out of the belly of hell cried I . . . for thou hast cast me into the deep, in the midst of the seas; and the floods compassed me about; all thy billows and thy waves passed over me.]
    Jonah 2; 2-3 in King James authorised version.
    The narrative of the ancient sea epic, crystalized in structural constants (or fixed parallelisms), has its origins in a pre-Semitic culture. 5 Highly elaborated in the Bible, it traces the struggle between the abyss (or depths [End Page 197] of the ocean) and superior elements (God using thunder and lightning as heavenly weapons).
    Perse follows the axis of this narrative, reconstructing, by rather intentional underlinings, as many reminiscenses as possible of the ancient sea-epic, in several sections of the Bible. We find such underlinings in the Book of Psalms, in isolated chapters exclusively devoted to the theme in question. In fact, the poet’s choice is limited to four Psalms (77, 93, 104, 107) among the hundred and fifty psalms otherwise ignored in his reading of Crampon’s volume. Elsewhere, the poet’s underlinings mix with other themes, as in the Latter Prophets, such as Jonah, Nahum or Habakkuk.
    Perse traces the appropriate chapters in the Pentateuch as well. Moses’ Sea Song, events of the Deluge and the Creation story are, in this perspective, mere elaborations upon the same ancient theme, describing “Great Waters” tamed by the Almighty. Perse’s underlinings in the texts of the Orientalists’ school juxtapose common elements in Sumerian, Canaanite and biblical myths. Thus, if Isaiah mentions central names of sea deities–such as the arrogant “Rahab,” or the sea/abyss dragons (51: 9, 10)–it is in the study of René Berthelot that Perse underlines the reference to “Rahab” explicitly quoted from “Second Isaiah.” 6 Perse is also informed, in the above-mentioned study, of other biblical antagonists of God, such as Baal, the Canaanite deity of fertility. Underlined here as well, this last reference will later appear (according to the contrasting perspective) in significant refrains of “Seamarks”–glorifying the sea powers. All these deities, systematically suppressed in the Bible, attain a certain degree of rehabilitation in Perse’s discourse.
    Chapter 93 in the Book of Psalms and chapter 2 in Jonah (both extensively underlined in Crampon’s Bible) provide the most impressive example of such intertextual activity. Referring to the biblical sea-epic, Perse adopts the model but reverses the contents: if God’s victory over chaotic forces might be considered an offense to nature, Perse would establish another order (or hierarchy). In his discourse the sea regains its titanic forces, blocked by the intervention of the Demiurgus.
    Semantic Aspects: These observations concerning the pre-text raise further intertextual problems.
    Is there any semantic interaction between the lexical elements taken from the Bible and the modern context neighboring the biblical reference? and if so, how does the biblical stratum influence the semantisation of the poetical discourse?
    At this point, it would be of value to refer to Jurij Lotman’s perceptions relating to the structure of the artistic text. 7 According to Lotman, [End Page 198] who uses the example of Lermontov’s poem, “The Prayer,” the speciality of the poetical discourse is based upon the simultaneous existence of several codes taking part in the description, mutually modifying their original signification. Lermontov’s poem illustrates the interaction between two cultural codes. On the one hand, there is the religious or rather Christian code, pointing to conventional spatial oppositions (God/earth; light/dark; life/death; good/sin). Here, as Lotman specifies,
    the accompanying epithet “sepulchral” has a dual semantics. The code semantics entails the notion of earthly life as death, a counterpoise to “life eternal” beyond the grave. At the same time, the epithet incorporates the spatial semantics of “the grave,” a deep and closed space (the idea that the world is an abyss in contrast to paradise, and hell is an abyss in contrast to the world). (246)
    On the other hand, the poem develops an additional dichotomic chain stemming from the romantic code (juxtaposed to the former one). Here the darkness is situated in the depths of the soul where the “I” celebrates earthly passions which are preferable to the abstract “heavenly light.” Consequently, the same topoi (or spatial terms) once released from the traditional devaluations, indicate a vast inner world, opposed to the Christian “narrow path of salvation.” In Lotman’s words,
    the lines–“I love the sepulchral darkness of the earth/with all its passions”–change the picture. They still fit into the general system of the cultural code, . . . but they give the text an opposite orientation: instead of the “Almighty,” the sinful “I” is selected as the point of view. And from this point of view, “The sepulchral darkness of the earth . . .” can end up being an object of love. (247)
    Such “dual semantics,” where “sinful” ceases to be an epithet of censure “judged by the extraneous laws of religion and moral,” functions in a similar way in Perse’s discourse (excerpt no. 1 above) concluding with the line: “They called me the Dark One, and I dwelt in radiance.”
    We might even adopt Lotman’s further perceptions concerning Dantesque characteristics (equally reversed in Lermontov’s poem) as an additional code applicable to Perse’s poem: “for Dante one’s degree of sinfulness corresponds to the degree of depth and closure, while the degree of holiness corresponds to the degree of elevation and openness” (246). The verse quoted above, excerpt no. 1 (taken from “Seamarks,” O.C. 282), would be another version–or inversion–of Dante’s famous notion of depth (which corresponds to the Hell of Christian thought). [End Page 199]
    At this point in our analysis of Perse’s discourse, we must dismiss the possibility of an innocent, connotation-free reading (despite Perse’s own declaration denying biblical allusions in his poetry). 8 The biblical code in its pre-Christian form is indeed well incorporated into the discourse of “Seamarks.” The poet’s underlinings in the Book of Jonah, chapter II–on passages reflecting the pre-Semitic, Canaanite sea-epic–reveal the high degree of correlation between the two texts.
    The passage underlined in the poet’s personal Bible–“Les eaux m’avaient enserré jusqu’à l’âme./ L’abîme m’environnait”["The waters compassed me about, even to the soul; the depth closed me round about"]–is perfectly matched with the lines of “Seamarks”–“La mer totale m’environne/ L’abîme infâme m’est délice” ["the total Sea encompasses me/ -The infamous abyss is delight to me"]–exercising the same metaphors, the same imagery and the same lexemes, albeit for opposing purposes, constituting the main “semantic units” which are common to both texts:
    the total sea surrounding the speaker
    (closure in the Bible/openness in the poem);
    the emotional reaction
    (a feeling of guilt in the Bible/a strong excitement in the poem);
    the deep space, spreading to the dimensions of a mythological abyss (“outside the world,” in the Bible/ “the whole world,” in the poem)
    Finally, much like Jonah when coming in contact with the sea, the speaker of “Seamarks” confronts the exemplary theological questions concerning God’s ubiquity. Defining the “immersion” as “divine,” Perse materializes the hyperbolical use of the “God” component, whereas the “I” replaces God in questions of omnipresence.
    Actually, in Perse’s discourse, many theophorical genitive-structures (“L’Esprit de Dieu,” “Faveur de Dieu” or “Transgression divine”) refer to the literal sense of the genitive component–expressing something “extraordinarily great or strong,” the sense pointed to by Spinoza in his interpretation of biblical metaphors. 9 Therefore, Perse’s epic (apart from differences of length and genre) mainly differs from the romantic poem of Lermontov in its larger topotogical perspective: here (in “Seamarks”) the abysmal space expands to cosmic proportions, in the very image of the Chaos preluding the act of Creation.
    The importance of such intentional treatment of the biblical material by the modern poet lies in the fact that without the imposing code of the Holy pre-text, the effect of the challenge to traditional thinking would [End Page 200] not be as poignant. Supported by Jauss’ development of Lotman’s topological system (“so fertile [because] it renders imaginable the structure of delimited subuniverses”), 10 we may add that it is the final-mentioned spatial archetype, the primordial chaos, “thematized” in Perse’s artistic text, which “gives it the form of a model-like perfection” (277).
    The Structured Allusion
    Inspired by the biblical parallelism, the poet associates to it the biblical referent (as a typical feature). Perse’s verse is consequently organised, not only in the sense of Classical measures, as demonstrated thoroughly by Emilie Noulet and Henri Meschonnic, 11 but also by isochronic, measurable pulses of tonal parallelisms, thus imitating the biblical “verset.”
    Such is the case in the verse in “Seamarks” (282)–excerpt no. 1–containing three pulses on each side of the caesura. As in biblical poetry, governed by the principle of binary form, 12 Perse’s parallelism is symmetrically crafted with discernible equivalent components, divided into two parts or even hemistichs. The discourse referring to biblical sources is further organized by means of rhythmical, phonological and syntactical patterns, superimposed upon each other in interreflective binary relations. This deepens the comparison with traditional pairs (like sea/abyss, sea/rivers, or the void/darkness of the Genesis model). At all events, Perse’s somewhat veiled parallelism, cut or sliced out of a running verse, scarely interrupts the free-verse prosody visibly dominant in his modern discourse. 13 Still, the Poet’s use of biblical parallelism–highly structured, yet rather flexible verse (respecting, above all, the principle of the caesura)–introduces an adequate organizing system into his cummulative over-fragmentary discourse.
    Perse’s “long, flexible line, while clearly owing much to precedents in biblical poetry,” as estimated by Peter Baker, “needs to be seen as a response to the breaking of convention in the vers libre movement and a way of re-establishing recognizably modern metrical possibilities” (40). As shown by Baker, the basic structure of isochronic hemistichs also allows the “grafting” of other metrical systems onto the rhythmical line. At this level it becomes possible to count (on each side of the caesura) an equal though undetermined number of syllables rising to “four, six and eight syllables apiece.” To put it in Baker’s words: “As a gesture toward making peace with traditional French versification proponent, I will say that it is quite possible Perse saw his iambs along the model of what Hartman helpfully calls isochrony or a principal of “free verse” that equalizes the time between measures regardless of syllable count or accent” (44). In fact, this special property of Perse’s apparent free verse, controlled [End Page 201] by even pulses–or tonal accents–between separate clauses, produces an effect of equilibrium typical to ancient epic.
    The most prominent paradigme, illustrating the final mentioned prosodical values, appears in the final parts of “Seamarks” explicitly hinting to the same reminiscenses of the ancient sea-epic hitherto analysed.
    Mer de Baal, Mer de mammon . . .

    I

    Mer de Baal, Mer de Mammon–/Mer de tout âge et de tout nom, //
    O Mer sans âge ni raison, / ô Mer sans hâte ni saison, //
    Mer de Baal et de Dagon–/face première de nos songes, //
    O Mer promesse de toujours / et Celle qui passe toute promesse, //
    Mer antérieure à notre chant–/ Mer ignorance du futur, //
    O Mer mémoire du plus long jour / et comme douée d’insanité //
    (365)
    [Sea of Baal, Sea of Mammon . . .

    I

    Sea of Baal, Sea of Mammon--Sea of every age and every name,
    O Sea without age or reason, O Sea without haste or season,
    Sea of Baal and of Dagon--first face of our dreams,
    O Sea promise of forever and the One who exceeds every promise,
    Sea anterior to our song--Sea ignorance of the future,
    O Sea memory of the longest day, as though endowed with madness]
    Departing from the regularity based on two isochronic pulses in the verse-halves of the initial parallelism–

    –the rhythm soon spreads to the following sequences, retaining only its main stresses:

    Yet against the background of the same semantic parallelismes, the unity of form and sense is reinforced by a classical pattern based on regular tetrameters: [End Page 202]

    (The graphical marks indicate the symmetrical pulses of the tonal system –easily replaced by “iambs”, or “trochees” grouped in tetrameters, reflecting syllabic metrics).
    The Repeated Motif
    The Poet’s repeated underlining of the expressions concerning the sea, the abyss, the “great waters” or the rivers inside the sea–in four psalms and in several chapters of Latter Prophets–produce a similar motif in “Seamarks.” The refrain “la Mer totale m’environne” (282) ["the total Sea encompasses me"]–alternatively succeeded by “la mer égale m’environne” (342) ["The level sea surrounds me"] and further “Mer totale du délice!” (368) [total Sea of delight!]–unifies various sections in the poem. This unifying factor, inspired by the biblical redundancy, also takes part in the rhetorical devices for the creation of a certain ritual incantation characterizing Perse’s discourse. Though located in separate sections of “Seamarks,” these allusions refer to the same archetype of the sea/abyss constant first appearing in “Seamarks” 282 (excerpt no. 1, quoted above).
    Reappearing in “Seamarks” sixty pages later, the subsequent passage — excerpt no. 2 below–constitutes a mere variation of the initial parallelism (hence, an additional, though subdued, allusion to the prayer of Jonah).
    Excerpt no. 2
    La mer égale m’environne . . . .
    J’entends battre du sang la sève égale et nourricière–
    ô songe encore que j’allaite!
    (342)
    [The level sea surrounds me . . . .
    I hear beating in the blood the steady, nourishing sap--
    O dream again that I nurse!]
    In this new context, the parallel clauses–“La mer égale” / “la sève égale” ["the level sea" / "the steady sap"]–draw a concrete analogy between the outer world (nature; water cycle) and the inner world (human; blood cycle). Connected furthermore by metonymical relations (the blood in the vessels represents the fluid in nature), these motifs illustrate illustrate a central theme throughout the entire poem, devoted to both sea and love (“Amers” echoing “amour”). [End Page 203]
    Next appearing as a motif in “Seamarks” 347-48–excerpt no. 3 below–the sea/abyss structure is substituted by the fixed pair sea/river (again using the biblical terminology common to the sea-epic contexts).
    Excerpt no. 3
    M’es-tu le fleuve, m’es-tu la mer? ou bien le fleuve dans la mer?
    M’es tu la mer elle-même voyageuse, où nul, le même, se mêlant, ne s’est jamais deux fois mêlé?
    (347-48)
    [Are you to me the river, are you to me the sea? or indeed the river in the sea? Are you the voyaging sea itself, which no one entering twice has ever twice found the same? . . .]
    On the thematic level, the allusion to the ancient motif of “waters within waters” is used to symbolize the fusion between the lovers (the main figures in “Seamarks”), thus enriching the new semantic field with a broader perspective. The process of integration is furthermore strengthened by various figurative devices. Here, the initial phonemes /f/ /m/ /l/ of the sea/river constant–“le fleuve”/ “la mer”–are orchestrated by a multitude of alliterations, thus intensifying their phonological assimilation within the new context. Developing phonological relations within the soft feminine stereotype, these signifiers later fuse within the broader scope of liquid elements, representing the dynamic sea; thus–
    femme / faîblesse/ fleuve [woman/weakness/river] are replaced by
    la mer/le même/mêlant/mêlé [the sea/the same/melting/melted].
    Likewise, the fourth passage–excerpt no. 4 below (“Seamarks” 368)–develops a pseudo-etymological relation between the initial “délice” [delight] on page 282, and the later “délit” [transgression], redoubling their sounds by anaphores, inner rhymes, or simple repetitions.
    Excerpt no. 4
    En toi mouvante nous mouvant, nous épuisons l’offense et le délit. ô Mer de l’ineffable acceuil et Mer totale du délice.
    (368)
    [In you moving, we move, rejoicing in the offence and the transgression, O sea of the ineffable welcome and total Sea of delight!] [End Page 204]
    Retrospectively, it seems as if the segregated parts of the original context–excerpt no. 1–reappear in excerpts no. 2 and 4, complementing one another. Indeed, the distant clauses–“La Mer égale m’environne” / “(ô) Mer totale du délice” [The level sea surrounds me" / "(o) total Sea of delight!"]–reflect the initial parallelism. Appearing as far as sixty, then eight-six (!) pages later (p. 342 and p.368 in “Seamarks”), they “reconstruct” the matrix:
    “la Mer totale m’environne. / L’abîme infâme m’est délice”
    ["the total Sea encompasses me. / The infamous abyss is delight to me"]
    The Multidimensional Collage: Jonah / Heraclitus
    A dual allusion to Heraclitus accompanies the biblical code within the poem “Seamarks,” mainly within the context in question, including the allusion to Jonah (excerpt no. 1 above). The new allusions refer to prominent aspects in the personality and the writings of the pre-Socratic philosopher: evidently, the popular approach to Heraclitus is evoked in the rhythmic refrain–“Ils m’ont appelé l’Obscure et j’habitais l’éclat”[They called me the Dark One and I dwelt in radiance]–which appears immediately after the allusion to Jonah (O.C. 282) and in surrounding passages (O.C. 281, 283).
    Heraclitus’ well-known epithet, “the dark one,” was attributed to him for his enigmatic and aloof character, “a riddler” speaking in a vague oracular style. As such, he constitutes a natural object of identification for Perse who also, while expressing himself in an authoritative and polished tone, sounds (at first reading, at least) muffled and perhaps even “hermetic”, as some tended to claim regarding his poetry. A more subtle reference to the writings of Heraclitus is encoded at the beginning of the verse in question–“Plus que l’année appelée héliaque en ses milles et milliers de millénaires . . .” ["More than the Year called heliacal in its thousands and millions of milleniums . . ."].
    Heraclitus frequently discusses the element of fire and the quality of the ever renewing sun-fire in regard to the Great Year and to the cosmic conflagration, periodically bringing the universe to a catastrophic end: the sun cycle–“the Year called Heliacal,” evoked by Perse–endures for ten thousand years. (According to ancient astronomical speculations, once every 10,800 [360 x 30] years, there occurs a meeting between the sun cycle and five specific planets in the galaxy, indicating the maximal age of the existence of humanity.) 14 This background provided the above-quoted passage of the poem with the indication of time: the Heliacal [End Page 205] year (Helios meaning the sun), though subject to periodical regeneration, designates eternity.
    Perse gathers together in one unit the elements of water and fire, the elements of space and time, the cultures of the East and the West. The figurative implications of these curiously juxtaposed cultures (between the biblical and Hellenic worlds) result in a grand metaphor in which distant semantic units belonging to unrelated codes fructify one other in a blending of inter-textual strata. What seemed a simple stylistic use of the collage technique–“patching” an isolated setting of a borrowed syntagma in the poetic language–develops into a more complex effect, finally emerging as a system.
    Indeed, as the poem continues, a third allusion to Heraclitean elements arises, once again along with the obvious allusion to the biblical sea-epic. This is demonstrated in the passage numbered excerpt 3 above, dealing with “the river in the sea . . . which no one entering twice has ever twice found the same.” In the final occurrence, Heraclitus provides (upon the biblical code) the element of water (!) by way of his famous dictum: “One cannot step twice into the same river” (or, in a variation: “A man can be said both to step and not-step into the same river”) for “as he steps in, fresh waters ever flow upon him.” 15
    However, it seems that the collage combining the Greek/Jewish polarities contains further biblical (mainly Old Testament) elements. As a point of fact, the entire passage in “Seamarks” (282) beginning with the superlative structure–“Plus que” [More than"]–perfectly matches the syntactical structure of Psalm 93:4, using the same hyperbolical style, most preferable for expressing superiority relationships. A mere glance at the biblical source (underlined by the poet in his personal Bible) reveals the high correlation between the two texts: “Plus que la voix des grandes eaux, les vagues puissantes de la mer, Yahweh est admirable dans les hauteurs” ["The Lord on high is mightier than the noise of many waters . . . than the mighty waves of the sea"].
    Articulating further intertextual relations with his artistic text, the poet introduces pagan-worship elements into the borrowed biblical structure, in which the monotheistic archetype is replaced by Helios, God of Light and Sun in Greek mythology. Consequently, the “Heliacal Year” of “Seamarks”, referring to eternal time-measures in Heraclitus’ Fragments, bears–on the semiotical level–the additional, though implicit idea of “heavenly light,” soon relinquishing its superiority in favor of the “dark abyss,” “More delicious” in the eyes of the poet.
    At this stage of our close examination of the biblical influence on Perse’s discourse, we may realize that the biblical allusions are not meant [End Page 206] to express affinities to Jewish or Christian theology or morals. It would rather seem that they serve mainly for metapoetic purposes.
    In fact, the difficulties Perse encounters in introducing the biblical referent into his polyphonic discourse–desiring, at one and the same time, to moderate its imposing effect–become a fertile element for his poetry. Comparisons with Occidental cultures, phonological integration, desecration and parodying stylistics in the new context are, from this perspective (among the various solutions found to the formerly mentioned intertextual problem), mere control mechanisms in the use of biblical references. Yet remains the enigmatic dilemma of the poet’s conflicting–but nonetheless overly-mimetic–borrowings from the Bible.
    From a general point of view, we may affirm that by its deconstructive methods, Perse’s discourse reflects the modern poetics representing “the ever renewed attempt of self-definition by rejection of a past” (Jauss 260). However, in light of his specific choice of controversial biblical themes, such poetics take part–on the metapoetic level–in Perse’s broader confrontation with the idea of biblical authority. Supported by the vociferous model of the rebellious Sea (as clearly expressed in Psalm 93), the Poet develops a rival relationship in respect to the Demiurge, based upon the concept of Creation by voice. Perse creates a metatextual dialogue with the Holy Scriptures in their own language–attempting to vivify the verbal experience in a present, non-temporal, rather universal scope.
    Confronting the Demiurge, the poet doubts–up to the final verses of his poetical work–his autonomous condition. 16 Is he condemned to imitate God’s Creation or can poetry attain the original powers of abyss and waters, hinted at in the Genesis myths and remanipulated in the discourse of the prayer of Jonah.

    Delicious Abyss: The Darkness Alkitab dalam Puisi Saint-John Perse
    Judith Kopenhagen-Urian Judith Kopenhagen-Urian

    Urutan alusi doa Yunus seluruh puisi panjang “Amers” ["Seamarks"] menguraikan tema-tema yang diambil dari laut epik-alkitabiah. 1 Terinspirasi oleh semantik serta nilai-nilai prosodical sumber Alkitab (Yunus, bab II , digarisbawahi oleh penyair itu), sindiran ini menggabungkan empat fungsi diamati pada kita gunakan Perse Alkitab: perspektif kontras, yang kiasan terstruktur (bentuk-logika), motif berulang, dan kolase “”. 2
    Contoh pertama pengobatan intertekstual tersebut mengacu pada doa Yunus muncul di bagian pertama dari “Seamarks”, bagian II (kutipan no). 1 selanjutnya:
    Plus que l’année appelée héliaque en ses milles Plus l’année que en appelée héliaque sesi milles
    De millénaires ouverte, la Mer totale m’environne. De millénaires ouverte, La Mer m’environne totale.
    L’abîme infâme m’est délice et l’immersion divine L’abîme infâme m’est délice et l’perendaman ilahi
    Ils m’ont appelé l’Obscure et j’habitais l’éclat. ILS m’ont appelé l’et l’Abstrak j’habitais kemasyhuran.
    (282)
    [Lebih dari Tahun yang disebut matahari dalam ribuan dan jutaan
    Dari milleniums, buka, total Laut meliputi saya.
    Jurang terkenal adalah menyenangkan bagi saya, dan perendaman, ilahi. . . . . . .
    Mereka menelepon saya Satu Dark dan aku tinggal di cahaya.] 3
    Sementara penyair kuno, dalam nama Yunus, menyesalkan kondisinya, “tertutup di kedalaman… Bulat tentang… Di tengah-tengah laut,” menggunakan Perse yang topoi yang sama untuk mengekspresikan kesenangan, sehingga membalik [Alkitab Akhir Page 195] perspektif. Namun, referensi Alkitab memiliki konsekuensi lebih lanjut dalam Perse puisi.
    ” -Laut / struktur jurang dari paralelisme asli yang sempurna tercermin dalam wacana Perse dalam semua variasi motif, muncul di bagian lain dari “Seamarks.”
    -Rujukan kepada doa Yunus selanjutnya selalu disertai dengan sindiran yang paling jelas untuk Heraclitus, dalam kolase multi dimensi yang menggabungkan budaya Barat-Timur.
    Kita mungkin bertanya: bagaimana dan untuk tujuan apa itu penyair mengubah kata-kata dari Alkitab sehingga menciptakan oksimoron dengan “jurang lezat,” cukup mengekspresikan arti kebalikan dari sumber? Jawabannya dapat ditemukan dalam pertimbangan rinci dari empat fungsi yang disebutkan di atas.
    Perspektif Kontras
    Aspek Tematik: Dalam kiasan untuk doa Yunus (Seamarks “II, OC 282), ada dua tema berpotongan pusat berkaitan dengan hukuman dalam Kitab Yunus, baik pada narasi dan tingkat teologis.
    Kedua tingkat tematik arah sebaliknya dalam mode khas Perse: saat shock dan hukuman kehilangan aspek negatif; kedekatan laut melambangkan menghapus rantai dan ledakan dari gaya hidup yang terkandung dalam diri manusia dan alam.
    Dalam rangka untuk menunjukkan inversi dilakukan oleh Perse dalam sumber-sumber Alkitab nya, mari kita menelusuri kedua tahap hukuman, digarisbawahi oleh penyair dalam Alkitab pribadi. Tahap pertama, yang tokoh-tokoh dalam cerita garis besar, terdiri dalam dirinya sendiri dari tiga dakwaan hukuman (Kitab Yunus, bab 1,3,4).
    Dalam bab 1, keluar Yunus dari Allah ke arah laut, sehingga berusaha untuk menahan diri dari pemenuhan misi-Nya, yang memperingatkan dan untuk bernubuat hukuman atas penduduk Niniwe – agung “kota.” Kemudian, Yunus sendiri segera dihukum karena reaksi pemberontakan oleh badai mengancam kapalnya di semacam “pra-hukuman.” utama hukuman’s Yunus dibawa ketika ia dilemparkan ke laut oleh para pelaut, akhirnya ditelan oleh “seekor ikan besar.” Yunus sekarang ditinggalkan dengan kekuatan mengerikan dan implores Allah untuk menyelamatkannya dari kedalaman yang mengancam. Dalam bab 3, misi Yunus akhirnya sempurna dicapai: orang-orang Niniwe tidak bertobat dari mereka yang jahat, yang telah tersentuh oleh peringatan Allah. Namun, dalam bab 4, tema hukuman belum muncul kembali dalam momentum lain: sedangkan nabi frustasi pensiun luar kota, labu di mana ia telah menemukan keteduhan mengering semalam. Persepsi universal Ketuhanan yang tertanam di Kata-kata Tuhan kepada Yunus; [End Page 196] perawatan manusia, itu ciptaan Tuhan, akan dimasukkan dalam analogi yang peduli Yunus untuk pabrik yang “tidak bahkan kerja pada,” tapi masih menyesali itu mengering.
    Perse menggaris bawahi dalam Alkitab semua ayat menghadapi mereka tahap hukuman, dengan tujuan nyata dari kemudian memutarbalikkan artinya. Yang melarikan diri dari Niniwe – mirip dengan melarikan diri dari Sodom, mengisyaratkan di kemudian di “Seamarks” dalam acuan kepada istri Lot (OC 374) – mungkin melambangkan, dalam puisi Perse, krisis positif karena meninggalkan nilai-nilai dekaden masa lalu. Perjalanan ke laut adalah arah yang benar dan badai adalah pengalaman menyenangkan dan bukan hukuman.
    Dari reserved sikap yang Perse terhadap otoritas ilahi, sebuah drama ironis peran diciptakan oleh silih bergantinya antara Allah yang ketat, ekstrim dalam semangatnya, dan belas kasihan dan mengampuni karakternya. 4 Dalam Story Yunus (misalnya, dalam bab 3, ayat 10 dan 11) aspek dikotomis Allah Alkitab sebenarnya ditemui dalam sebuah cara yang paling terkemuka.
    Tahap kedua, Yunus doa, di mana latar belakang mitologis dari epik-laut kuno terjalin erat, seputar punishmentof laut memberontak oleh semua Allah yang kuat. Faktor mitologis muncul dalam kata-kata doa yang diucapkan oleh Yunus dari perut ikan besar di tengah-tengah laut (Kitab Yunus, bab 2) Ayat 3-4, mendahului segmen dipinjam dikutip di atas (kutipan no. 1), jelas menggunakan istilah ruang yang sama (tentang kedalaman laut) yang berkaitan dengan mitos kuno:
    ONT yg ketinggalan jaman sur moi.
    [Dari perut neraka seruku. . . . . Sekarang engkau membuang aku ke dalam, di tengah-tengah laut, dan banjir dikepung saya tentang; semua pemecah gelombang-Mu dan Mu melewati saya.]
    Yunus 2; 2-3 dalam versi King James yang berwenang.
    Cerita dari laut epik kuno, mengkristal dalam konstanta struktural (atau parallelisms tetap), memiliki asal-usulnya dalam budaya pra-Semit. 5 Sangat diuraikan dalam Alkitab, ini menelusuri perjuangan antara jurang (atau kedalaman [Akhir Halaman 197] laut) dan unsur-unsur superior (Allah dengan guntur dan kilat sebagai senjata surgawi).
    Perse mengikuti sumbu narasi ini, merekonstruksi, oleh disengaja underlinings bukan, sebagai reminiscenses sebanyak mungkin dari epik-laut kuno, dalam beberapa bagian Alkitab. Kami menemukan underlinings seperti dalam Kitab Mazmur, dalam bab-bab terisolasi secara eksklusif ditujukan untuk tema tersebut. Bahkan, penyair pilihan terbatas untuk empat Mazmur (77, 93, 104, 107) antara seratus lima puluh mazmur dinyatakan diabaikan dalam membaca tentang itu volume crampon. Di tempat lain, penyair underlinings campuran dengan tema lainnya, seperti pada Zaman Akhir nabi, seperti Yunus, Nahum atau Habakuk.
    Jejak Perse bab-bab yang sesuai dalam Pentateukh juga. Musa ‘Song Laut, peristiwa Air Bah dan cerita Penciptaan adalah, dalam perspektif ini, elaborasi hanya pada tema kuno yang sama, menggambarkan “Great Waters” dijinakkan oleh Yang Mahakuasa. Perse’s underlinings dalam teks orientalis ‘sekolah menyejajarkan unsur-unsur umum di Sumeria, Kanaan dan mitos Alkitab. Jadi, jika Yesaya menyebutkan nama pusat dewa laut – seperti “sombong Rahab,” atau laut / jurang naga (51: 9, 10) – itu adalah dalam studi René Berthelot menggarisbawahi bahwa Perse referensi untuk ” Rahab “tandasnya dikutip dari” Yesaya Kedua “. 6 Perse juga diinformasikan, dalam studi yang disebutkan di atas, dari antagonis alkitabiah lainnya Allah, seperti Baal, dewa kesuburan Kanaan. Digarisbawahi di sini juga, ini referensi terakhir kemudian akan muncul (menurut perspektif kontras) dalam menahan diri untuk tidak signifikan “Seamarks” – memuliakan kekuatan laut. Semua dewa, sistematis ditekan dalam Alkitab, mencapai tingkat tertentu rehabilitasi dalam wacana Perse’s.
    Bab 93 dalam Kitab Mazmur dan bab 2 dalam Yunus (baik secara ekstensif crampon digarisbawahi dalam Alkitab) memberikan contoh yang paling mengesankan aktivitas intertekstual tersebut. Mengacu pada epik-laut Alkitab, Perse mengadopsi model tapi membalikkan isi: jika Kemenangan Tuhan atas pasukan kacau bisa dianggap suatu pelanggaran untuk alam, Perse akan menetapkan perintah lain (atau hirarki). Dalam wacana laut mendapatkan kembali kekuatan titanic nya, dihalangi oleh intervensi dari Demiurgus.
    Aspek semantik: ini observasi tentang pra-teks intertekstual mengangkat masalah lebih lanjut.
    Apakah ada interaksi semantis antara unsur-unsur leksikal yang diambil dari Alkitab dan konteks modern tetangga referensi Alkitab? dan jika demikian, bagaimana pengaruh strata Alkitab yang semantisation wacana puitis?
    Pada titik ini, akan sangat bernilai untuk merujuk Lotman’s persepsi Jurij berkaitan dengan struktur teks artistik. 7 Menurut Lotman, [Akhir Halaman 198] yang menggunakan contoh puisi Lermontov, “Doa,” yang khas wacana puitis didasarkan pada keberadaan simultan dari beberapa kode mengambil bagian dalam deskripsi, saling mengubah makna aslinya. puisi Lermontov menggambarkan interaksi antara dua kode budaya. Di satu sisi, ada atau lebih tepatnya kode agama Kristen, menunjuk ke oposisi spasial konvensional (Tuhan / bumi, terang / gelap, hidup / mati; baik / dosa). Di sini, seperti Lotman menentukan,
    julukan atas “kuburan” memiliki semantik ganda. Memerlukan kode semantik pengertian tentang kehidupan duniawi sebagai kematian, imbangan untuk “hidup yang kekal” setelah kematian. Pada saat yang sama, julukan itu menggabungkan semantik spasial dari “kuburan,” dalam ruang tertutup (dan gagasan bahwa ini adalah dunia sebuah jurang berbeda dengan surga, dan neraka adalah sebuah jurang kontras dengan dunia). (246) (246)
    Di sisi lain, puisi mengembangkan rantai dikotomis tambahan yang berasal dari kode romantis (disandingkan dengan mantan satu). Berikut kegelapan terletak di kedalaman jiwa di mana “aku” merayakan hasrat duniawi yang lebih ke “abstrak cahaya surgawi.” Akibatnya, sama topoi (atau istilah spasial) setelah dibebaskan dari devaluasi tradisional, menunjukkan dunia dalam luas, menentang sempit “jalan keselamatan Kristen.” Dengan kata Lotman’s,
    baris – “Saya menyukai kegelapan kuburan bumi / dengan segala nafsu” – ganti gambar. Mereka masih sesuai dengan sistem umum kode budaya,. . . . . tetapi mereka memberikan teks orientasi berlawanan: bukannya “Mahakuasa,” yang berdosa “saya” dipilih sebagai titik pandang. Dan dari sudut pandang ini, “Kegelapan kuburan bumi…” can end up being an object of love. dapat berakhir menjadi objek cinta. (247) (247)
    Semacam “dual semantik,” di mana “dosa” tidak lagi menjadi julukan mengecam “dihakimi oleh hukum asing agama dan moral,” fungsi dalam cara yang sama dalam’s wacana Perse (kutipan no). 1 di atas menyimpulkan dengan kalimat: ” Mereka menyebut saya Satu Dark, dan aku tinggal di cahaya. ”
    Kita bahkan mungkin mengadopsi lebih lanjut persepsi’s Lotman tentang karakteristik Dantesque (sama-sama terbalik dalam puisi Lermontov) sebagai kode tambahan yang berlaku untuk puisi Perse: “untuk Dante gelar salah satu dosa sesuai dengan tingkat kedalaman dan penutupan, sedangkan tingkat kekudusan sesuai dengan tingkat ketinggian dan keterbukaan “(246). 1 (diambil dari “Seamarks,” OC 282), akan menjadi versi lain – atau inversi – terkenal gagasan’s Dante kedalaman (yang sesuai dengan pemikiran Kristen Neraka) Akhir. [Page 199]
    Pada titik ini dalam analisis kita tentang itu wacana Perse, kita harus mengabaikan kemungkinan suatu konotasi,-bebas membaca bersalah (meskipun sendiri deklarasi’s Perse menyangkal sindiran alkitabiah dalam puisi-puisinya). 8 Kode alkitabiah dalam pra-Kristen bentuknya memang baik digabungkan ke dalam wacana “Seamarks.” Penyair’s underlinings dalam Kitab Yunus, bab II – pada bagian yang mencerminkan pra-Semit, epik Kanaan-laut – mengungkapkan tingkat tinggi korelasi antara dua teks.
    Bagian ini digarisbawahi dalam Alkitab pribadi penyair – “Les Eaux m’avaient enserré jusqu’à l’ame. / L’abîme m’environnait” ["Air dikepung padaku, bahkan jiwa; kedalaman ditutup saya bundar tentang "] – sempurna cocok dengan baris” “Seamarks -” totale m’environne La mer / abîme infâme L’délice m’est “[" total Laut mencakup saya /-Jurang terkenal adalah menyenangkan bagi saya "] – latihan metafora yang sama, citra yang sama dan lexemes yang sama, walaupun untuk menentang tujuan, yang merupakan unit semantik utama” “yang umum untuk kedua teks:
    total laut sekitarnya pembicara
    (Penutupan dalam Alkitab / keterbukaan dalam puisi itu);
    reaksi emosional
    (Perasaan bersalah dalam kegembiraan Alkitab / yang kuat dalam puisi itu);
    ruang dalam, menyebar ke dimensi dari jurang mitologis (“di luar dunia,” dalam Alkitab / seluruh dunia “,” dalam puisi itu)
    Akhirnya, banyak seperti Yunus ketika masuk dalam kontak dengan laut, pembicara dari “Seamarks” menghadapi pertanyaan-pertanyaan teologis mengenai’s ubiquity teladan Allah. Mendefinisikan “perendaman” sebagai “ilahi,” terwujud Perse penggunaan yg berlebih-lebihan Allah komponen “”, sedangkan saya “” menggantikan Allah dalam pertanyaan-pertanyaan tentang kehadiran di mana-mana.
    Sebenarnya, di’s wacana Perse, banyak theophorical genitive-struktur (“L’Esprit de Dieu,” “Faveur de Dieu” atau “ilahi pelanggaran”) mengacu pada makna literal dari komponen genitif – menyatakan sesuatu yang “luar biasa besar atau kuat, “arti ditunjukkan oleh Spinoza dalam penafsirannya tentang metafora alkitabiah. 9 Oleh karena itu,’s epik Perse (terlepas dari perbedaan panjang dan genre) terutama berbeda dari puisi romantis Lermontov dalam perspektif topotogical lebih besar: di sini (dalam “Seamarks”) yang untuk memperluas ruang melampaui proporsi kosmis, menurut gambar sangat dari Chaos preluding tindakan Penciptaan.
    Pentingnya perawatan disengaja seperti bahan alkitabiah oleh penyair modern terletak pada kenyataan bahwa tanpa kode mengesankan dari pra-teks Kudus, pengaruh tantangan untuk berpikir tradisional akan [Akhir Halaman 200] tidak sebagai pedih. Didukung oleh ‘pembangunan Jauss dari topologi sistem Lotman (“subur [karena] mampu membuat dibayangkan struktur subuniverses delimited”), 10 kita dapat menambahkan bahwa hal tersebut akhir-pola dasar tata ruang, kekacauan primordial, “ditematisasikan” di Perse’s teks kesenian, yang “memberinya bentuk kesempurnaan seperti model” (277).
    The Allusion Terstruktur
    Terinspirasi oleh paralelisme Alkitab, rekan penyair itu dengan rujukan Alkitab (sebagai ciri khas). ayat Perse’s akibatnya terorganisir, tidak hanya dalam arti langkah-langkah klasik, seperti yang ditunjukkan dengan seksama oleh Emilie Noulet dan Henri Meschonnic, 11 tetapi juga oleh isochronic, pulsa terukur dari parallelisms tonal, sehingga meniru verset “Alkitab.”
    Seperti halnya dalam ayat di “Seamarks” (282) – kutipan no. 1 – berisi tiga pulsa di setiap sisi penggalan tersebutSeperti dalam puisi alkitabiah, diatur oleh prinsip-prinsip bentuk biner, 12 ‘s paralelisme Perse adalah simetris dibuat dengan dilihat komponen setara, dibagi menjadi dua bagian atau bahkan hemistichs. Wacana merujuk pada sumber-sumber alkitabiah adalah lebih lanjut diatur oleh alat ritmis, dan sintaksis pola fonologis, ditumpangkan pada satu sama lain dalam hubungan biner interreflective. Ini memperdalam perbandingan dengan pasangan tradisional (seperti laut / jurang, laut / sungai, atau void / kegelapan model Kejadian). Pada semua peristiwa, agak terselubung paralelisme Perse, dipotong atau diiris keluar dari sebuah ayat berjalan, scarely mengganggu-ayat prosodi bebas terlihat yang dominan dalam wacana modern nya. 13 Namun, Penyair menggunakan paralelisme Alkitab – sangat terstruktur, namun lebih fleksibel

  4. INDAH PURNAMASARI RADIYANTI
    16/06/2010 pukul 12:14 am

    NAMA : INDAH PURNAMASARI RADIYANTI
    NIM : A1B107010
    REMEDIAL SASTRA PERBANDINGAN
    Comparative literature (sometimes abbreviated “Comp. lit.”) is critical scholarship dealing with the literature of two or more different linguistic, cultural or national groups. While most frequently practiced with works of different languages, it may also be performed on works of the same language if the works originate from different nations or cultures among which that language is spoken. Also included in the range of inquiry are comparisons of different types of art; for example, a comparatist might investigate the relationship of film to literature.
    Overview
    Students and instructors in the field, usually called “comparatists,” have traditionally been proficient in several languages and acquainted with the literary traditions and major literary texts of those languages. Some of the newer sub-fields, however, stress theoretical acumen and the ability to consider different types of art concurrently, over high linguistic competence.
    The interdisciplinary nature of the field means that comparatists typically exhibit some acquaintance with translation studies, sociology, critical theory, cultural studies, religious studies, and history. As a result, comparative literature programs within universities may be designed by scholars drawn from several such departments. This eclecticism has led critics (from within and without) to charge that Comparative Literature is insufficiently well-defined, or that comparatists too easily fall into dilettantism, because the scope of their work is, of necessity, broad. Some question whether this breadth affects the ability of Ph.D.s to find employment in the highly specialized environment of academia and the career market at large, although such concerns do not seem to be borne out by placement data that shows comparative literature graduates to be hired at similar or higher rates than their compeers in English.
    The terms “Comparative Literature” and “World Literature” are often used to designate a similar course of study and scholarship. Comparative Literature is the more widely used term in the United States, with many universities having Comparative Literature departments or Comparative Literature programs.
    Comparative literature is an interdisciplinary field whose practitioners study literature across national borders, across time periods, across languages, across genres, across boundaries between literature and the other arts (music, painting, dance, film, etc.), across disciplines (literature and psychology, philosophy, science, history, architecture, sociology, politics, etc.). Defined most broadly, comparative literature is the study of “literature without borders.” Scholarship in Comparative Literature include, for example, studying literacy and social status in the Americas, studying medieval epic and romance, studying the links of literature to folklore and mythology, studying colonial and postcolonial writings in different parts of the world, asking fundamental questions about definitions of literature itself. What scholars in Comparative Literature share is a desire to study literature beyond national boundaries and an interest in languages so that they can read foreign texts in their original form. Many comparatists also share the desire to integrate literary experience with other cultural phenomena such as historical change, philosophical concepts, and social movements.

    Terjemahan :

    Perbandingan sastra adalah beasiswa kritis berurusan dengan sastra dari dua atau lebih yang berbeda bahasa , budaya atau nasional kelompok. Sementara yang paling sering berlatih dengan karya bahasa yang berbeda, namun dapat juga dilakukan pada karya-karya bahasa yang sama jika karya berasal dari negara yang berbeda atau budaya antara mana bahasa yang diucapkan. Juga termasuk dalam rentang penyelidikan adalah perbandingan antara berbagai jenis seni, misalnya, sebuah comparatist mungkin menyelidiki hubungan film untuk sastra .
    Ikhtisar
    Siswa dan instruktur di lapangan, biasanya disebut “comparatists,” secara tradisional telah mahir dalam beberapa bahasa dan berkenalan dengan tradisi sastra dan teks-teks sastra utama bahasa-bahasa. Beberapa sub-bidang baru, bagaimanapun, stres ketajaman teoritis dan kemampuan untuk mempertimbangkan berbagai jenis seni secara bersamaan, selama kompetensi linguistik tinggi.
    Interdisipliner sifat lapangan berarti bahwa comparatists biasanya menunjukkan beberapa kenalan dengan studi terjemahan , sosiologi , teori kritis , kajian budaya, kajian agama , dan sejarah. Akibatnya, program sastra komparatif dalam universitas dapat dirancang oleh para sarjana yang diambil dari beberapa departemen tersebut.. Elektisitas telah menyebabkan kritikus (dari dalam dan tanpa) untuk biaya yang Perbandingan Sastra tidak cukup didefinisikan dengan baik, atau bahwa comparatists terlalu mudah jatuh ke dalam dilettantism, karena lingkup pekerjaan mereka, kebutuhan, luas. Beberapa pertanyaan apakah lebar ini mempengaruhi kemampuan. untuk mencari pekerjaan di lingkungan yang sangat khusus akademis dan karir di pasar besar, meskipun kekhawatiran tersebut tampaknya tidak ditanggung oleh data penempatan yang menunjukkan perbandingan sastra lulusan untuk dipekerjakan pada tingkat yang sama atau lebih tinggi dari compeers mereka dalam bahasa Inggris.
    Istilah “Perbandingan Sastra” dan “Dunia Sastra” sering digunakan untuk menentukan program serupa studi dan beasiswa. Perbandingan Sastra adalah lebih banyak digunakan istilah di Amerika Serikat, dengan banyak universitas yang memiliki departemen atau program Sastra Perbandingan Perbandingan Sastra.
    Perbandingan sastra adalah bidang interdisipliner yang praktisi studi literatur lintas batas negara, lintas periode waktu, lintas bahasa, lintas genre, melintasi batas-batas antara sastra dan seni lain (musik, lukisan, tari, film, dll), melintasi disiplin (sastra dan psikologi, filsafat, ilmu pengetahuan, sejarah, arsitektur, sosiologi, politik, dll). Ditetapkan paling luas, sastra komparatif adalah studi tentang “sastra tanpa batas. Beasiswa di Perbandingan Sastra meliputi, misalnya, belajar keaksaraan dan status sosial di Amerika, mempelajari epik abad pertengahan dan asmara, mempelajari link sastra cerita rakyat dan mitologi, mempelajari tulisan-tulisan kolonial dan postkolonial di berbagai belahan dunia, mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang definisi sastra itu sendiri. Apa sarjana dalam Sastra Perbandingan saham adalah keinginan untuk studi literatur di luar batas-batas nasional dan minat dalam bahasa sehingga mereka dapat membaca teks asing dalam bentuk aslinya. Banyak comparatists juga berbagi keinginan untuk mengintegrasikan pengalaman sastra dengan fenomena budaya lainnya seperti perubahan historis, konsep filsafat, dan gerakan sosial.
    Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Comparative_literature
    Why study Comparative Literature?
    Studying literature traditionally meant picking an academic department that reflects the nation state on a basically European model.  English, French, and German programs each focus on the canons of their respective national traditions. But literature and readers have both always ranged outside the boundaries of one national language. German literature is brimming with the influences of English and French and Italian and Greek and Roman literature and so on. And even writers who knew nothing of one another may show fascinating similarities and differences; a poem by Stéphane Mallarmé and a poem by Emily Dickinson throw each other into startling relief. A fundamental project of Comparative Literature is to cultivate reading across linguistic boundaries in order to highlight everything that the exclusive focus on a national literature tends to obscure.
    Traditionally, too, Asian, African, and Near Eastern literatures (when they were studied at all) were long relegated to the rubric of Area Studies. The European literatures were understood as both aesthetically autonomous and expressive of the “national genius,” while texts from the non-West were read more from an ethnographic, historical, or anthropological perspective than as works of literature in their own right. The field of Comparative Literature also endeavors, then, to overcome this division between “the West” and “the Rest” by combining the formal rigor of European literary studies with the interdisciplinary reach of area studies.
    The concentration in Comparative Literature at BU – a new program – is designed for students whose interest in literature embraces works in multiple languages. Students of Comparative Literature trace the transformations and travels of literary genres and texts across time and space. They explore the connections of literature with history, philosophy, politics, and literary theory. And they study the intersections of literature with other cultural forms such as film, drama, the visual arts, music, and new media. In our increasingly globalized age, translation studies are also an important part of the comparative approach to literature. It’s surprisingly tricky to say that even a single sentence in one language is truly “equivalent” to its translation in another language; in what sense, then, can we really translate the complexity and nuance of novels, poems or plays? And yet we all depend on translations sooner or later. Literary translations also have their own kind of history and even politics. Why do some texts get translated and others not, for example? And how have the practice and theory of translation changed over time?
    At the core of the concentration in Comparative Literature are courses introducing Western, East Asian, and Middle Eastern literary traditions in comparative perspective. These courses introduce students to the global diversity of literary forms and genres while acquainting them with the methods of comparative literary study. After or in tandem with the introductory courses, students meet with their advisors to put together a program of study that best suits their interests and goals. This will include advanced work in at least one foreign language and its literature and a series of interrelated courses of your choice. One attractive aspect of the Comparative Literature major is its flexibility. In close consultation with your advisor you might decide to focus on anything from the modernist novel to Romantic poetry, postcolonial literature, or Greek and Japanese epics.  At the same time you will have the opportunity to take courses listed or cross-listed under the XL rubric (until Fall 2009 this rubric appeared in course listings as “LL,” but for degree purposes LL and XL are identical) that further hone your skills as a comparatist, such as “Gender and Literature,” “Literary Translation,” “Theory of the Novel,” or “Literature and Empire.”
    A concentration in Comparative Literature is an excellent foundation for further work at the graduate level. It also prepares students to work in any field where critical thinking, strong writing skills and foreign-language competence and a sophisticated understanding of cultural difference and diversity are called for.
    Terjemahan :
    Mengapa studi Perbandingan Sastra?
    Mempelajari sastra tradisional berarti memilih departemen akademis yang mencerminkan negara bangsa pada dasarnya model Eropa. Inggris, Perancis, dan Jerman masing-masing program berfokus pada aturan dari tradisi nasional masing-masing. Tapi sastra dan pembaca memiliki keduanya selalu berkisar di luar batas satu bahasa nasional. sastra Jerman yang penuh dengan pengaruh bahasa Inggris dan Prancis dan Italia dan Yunani dan Romawi sastra dan sebagainya. Dan bahkan penulis yang tahu apa-apa satu sama lain dapat menunjukkan persamaan dan perbedaan yang menarik, sebuah puisi oleh Stéphane Mallarmé dan sebuah puisi oleh Emily Dickinson saling melempar ke bantuan mengejutkan. Sebuah proyek dasar Perbandingan Sastra adalah untuk menumbuhkan membaca melintasi batas-batas linguistik untuk menyorot semua yang fokus eksklusif pada sastra nasional cenderung mengaburkan.
    Secara tradisional, juga, literatur Asia Timur, Afrika, dan Dekat (ketika mereka belajar sama sekali) sudah lama diturunkan ke rubrik Studi Wilayah. Para literatur Eropa dipahami sebagai baik estetis otonom dan ekspresif dari jenius “nasional,” sementara teks dari non-Barat membaca lebih dari perspektif etnografi, sejarah, atau antropologi daripada sebagai karya sastra di kanan mereka sendiri. Bidang Sastra Perbandingan juga usaha, kemudian, untuk mengatasi hal ini pembagian antara “Barat” dan “Istirahat” dengan menggabungkan kekakuan formal studi sastra Eropa dengan jangkauan area studi interdisipliner.
    Konsentrasi dalam Sastra Perbandingan di BU – sebuah program baru – dirancang untuk siswa yang tertarik pada karya sastra mencakup dalam berbagai bahasa. Mahasiswa Perbandingan Sastra melacak transformasi dan perjalanan genre sastra dan teks di seluruh ruang dan waktu. Mereka mengeksplorasi hubungan sastra dengan sejarah, filosofi, politik, dan teori sastra. Dan mereka mempelajari persimpangan sastra dengan bentuk-bentuk budaya lainnya seperti film, drama, seni visual, musik, dan media baru. Di zaman kita yang semakin global, studi terjemahan juga merupakan bagian penting dari pendekatan perbandingan terhadap sastra. Ini mengejutkan sulit untuk mengatakan bahwa bahkan satu kalimat dalam satu bahasa benar-benar “setara” untuk terjemahan dalam bahasa lain, dalam arti apa, kemudian, dapat kita benar-benar menerjemahkan kompleksitas dan nuansa novel, puisi atau drama? Namun kita semua tergantung pada terjemahan cepat atau lambat. Terjemahan Sastra juga memiliki jenis mereka sendiri dan bahkan sejarah politik. Dan bagaimana memiliki praktek dan teori terjemahan berubah dari waktu ke waktu?
    Pada inti dari konsentrasi dalam Sastra Perbandingan kursus memperkenalkan Barat, Asia Timur, Timur Tengah dan tradisi sastra dalam perspektif komparatif.. Kursus-kursus ini memperkenalkan mahasiswa pada beragam global bentuk sastra dan genre sementara acquainting mereka dengan metode studi sastra komparatif. Setelah atau bersamaan dengan program perkenalan, siswa bertemu dengan penasehat mereka untuk menyusun program studi yang paling sesuai dengan kepentingan dan tujuan mereka. Hal ini mencakup bekerja maju dalam paling tidak satu bahasa asing dan sastra dan serangkaian program yang saling berkaitan dalam pilihan Anda. Salah satu aspek menarik dari Sastra Perbandingan utama adalah fleksibilitas. Dalam konsultasi dengan penasihat Anda, Anda dapat memutuskan untuk fokus pada apa pun dari novel modernis untuk puisi Romantis, sastra postkolonial, atau epos Yunani dan Jepang Pada saat yang sama Anda akan memiliki kesempatan untuk mengambil kursus yang terdaftar atau lintas-terdaftar di bawah rubrik XL (sampai Fall 2009 rubrik ini muncul di daftar kursus sebagai “LL,” tapi untuk tujuan gelar LL dan XL adalah identik) yang lebih lanjut mengasah Anda keterampilan sebagai comparatist, seperti “Jender dan Sastra,” “Literary Translation,” “Teori dari Novel,” atau “Sastra dan Empire.”
    Sebuah konsentrasi dalam Sastra Perbandingan merupakan fondasi yang sangat baik untuk bekerja lebih lanjut di tingkat pascasarjana. Ini juga menyiapkan siswa untuk bekerja dalam bidang-bidang di mana pemikiran kritis, kemampuan menulis yang kuat dan kompetensi bahasa asing dan pemahaman yang canggih perbedaan budaya dan keragaman disebut untuk.

    Sumber : http://www.bu.edu/mlcl/about/why-study/comp-lit.html

    World Literature or Comparative Literature?

    Harry Levin, a famous professor of comparative literature, once had a dream in which two workmen knocked on his door and announced that they “had come to compare the literature.” Many explanations of what comparative literature is, begin with this anecdote, which raises the central issue: just how does one compare literature?

    The terms “Comparative Literature” and “World Literature” are often used to designate a similar course of study. Comparative Literature is the more widely used term in the United States, with many universities having Comparative Literature Departments or Comparative Literature Programs. There are also scholarly associations such as the International Comparative Literature Association (ICLA), the American Comparative Literature Association (ACLA), whose secretariat has been housed at the University of Alabama since August 1998, and the Southern Comparative Literature Association (SCLA). The latter two organizations sponsor annual conferences and publish journals, Comparative Literature and The Comparatist respectively. Other well-known comparative literature journals published in the United States are: Comparative Literature Studies (Penn State University), World Literature Today (University of Oklahoma), and Yearbook of Comparative and General Literature (Indiana University).

    At the University of Alabama the Comparative Literature Program underwent a name change and has been known as World Literature for a number of years. The World Literature Program is directed by Dr. Elaine Martin (Modern Languages and Classics) and offers the minor in world literature as well as courses that can be taken for graduate credit. The World Literature faculty is drawn from various disciplines such as Italian, English, German, French, Women’s Studies, and Religious Studies. In addition to the core courses of the World Literature Survey I and II and Major World Authors I and II, the program also offers a wide variety of special topics courses, which may treat a movement (ex. Romanticism), an individual author (ex. Boccaccio; Goethe); issues of influence (ex. Petrarch and Petrarchism); a genre (ex. the novel; lyric poetry; drama), or a specific subject or theme (ex. Representations of Food in Literature and Film).

    What is Comparative Literature?
    Comparative literature is the discipline of studying literature internationally:
     across national borders
     across time periods
     across languages
     across genres
     across boundaries between literature and the other arts (music, painting, dance, film, etc.)
     across disciplines: literature and psychology, philosophy, science, history, architecture, politics, etc.
    Defined most broadly, comparative literature is the study of “literature without walls.”
    Comparatists include, for example, people who are:
     studying literacy and social status in the Americas
     studying medieval epic and romance
     studying the links of literature to folklore and mythology
     studying colonial and postcolonial writings in different parts of the world
     asking fundamental questions about definitions of literature itself
    What they share in common is a desire to study literature beyond national boundaries and an interest in languages so that they can read foreign texts in their original form. Many comparatists also share the desire to integrate literary experience with other cultural phenomena such as historical change, philosophical concepts, and social movements.
    Why Study Comparative Literature/World Literature?
    Diversity: No single definition of comparative literature would easily satisfy any two scholars associated with the discipline. Not surprisingly then, students taking courses or working on a minor in this discipline often have diverse conceptions of the kind of study they are embarking upon. Indeed, comparative literature is a complex discipline in large part because of the diversity of interests of the people engaged in it. As a student in the program, you will be asked to do a number of different things, which reflect the complexities behind the concept of comparative literature.
    1.1You will be encouraged to familiarize yourself with literature from at least two different national traditions, studied in their original languages. In its most obvious sense, comparative literature might be seen to start here. By studying different literary traditions, you will begin to be able to imagine what might constitute differences or similarities between those literatures.
    2.You will be asked to think about literature not only from differing national traditions, but from widely separated historical periods as well. Thus comparative literature might also involve imagining what historical differences in the conception of literature teach us about its own nature or its function.
    3.You will be asked to think about what the verb “compare” means when applied to a specific group of authors or texts from different literatures. What do you compare when you compare authors, or literature, or specific works of literature? What theoretical problems do various acts of comparison raise? When might comparisons be unjust or even misleading?
    4.You will be asked to think theoretically about the idea of literature itself, about, for example some of the following questions. How and why is literature divided into different genres or different periods? How is literature situated within a given society? How is literature different from other domains such as philosophy or psychoanalysis or politics? Students interested in literary theory will find much in the study of comparative literature to interest them for example the challenge of confronting Western literary theory (and the Western canon) with previously unexplored non-Western literatures.
    Terjemahan :
    Dunia Sastra atau Sastra Perbandingan?
    Harry Levin, seorang profesor perbandingan sastra terkenal, pernah punya mimpi di mana dua pekerja mengetuk pintu dan mengumumkan bahwa mereka “telah datang untuk membandingkan literatur. Banyak” penjelasan dari perbandingan apa sastra, mulailah dengan anekdot, yang meningkatkan isu sentral: hanya bagaimana cara membandingkan sastra?

    Perbandingan Sastra adalah lebih banyak digunakan istilah di Amerika Serikat, dengan banyak universitas yang memiliki Departemen Sastra Perbandingan atau Perbandingan Program Sastra. Ada juga asosiasi ilmiah seperti Asosiasi Internasional Sastra Perbandingan (ICLA), American Association Sastra Perbandingan (ACLA), sekretariat yang telah disimpan di University of Alabama sejak Agustus 1998, dan Perbandingan Sastra Selatan Asosiasi (SCLA). Dua yang terakhir organisasi sponsor konferensi tahunan dan menerbitkan jurnal, Perbandingan Sastra dan Comparatist itu masing-masing. Komparatif sastra lain yang dikenal-baik jurnal diterbitkan di Amerika Serikat adalah: Perbandingan Studi Sastra (Penn State University), Dunia Sastra Hari Ini (University of Oklahoma), dan Yearbook of Perbandingan dan Sastra Umum (Indiana University).

    Di Universitas Alabama di Sastra Perbandingan Program mengalami perubahan nama dan telah dikenal sebagai Sastra Dunia untuk beberapa tahun. Program Sastra Dunia diarahkan oleh Dr Elaine Martin (Bahasa Modern dan Klasik) dan menawarkan minor dalam dunia sastra serta program-program yang dapat diambil untuk kredit pascasarjana. Dunia Sastra fakultas yang diambil dari berbagai disiplin ilmu seperti Bahasa Italia, Inggris, Jerman, Perancis, Studi Perempuan, dan Studi Keagamaan. Selain mata kuliah inti dari Sastra Dunia Survey I dan II dan Mayor Penulis Dunia I dan II, program ini juga menawarkan berbagai macam kursus topik khusus, yang dapat mengobati gerakan (ex. Romantisisme), seorang penulis individu (mantan Boccaccio;. Goethe), masalah pengaruh (ex. Petrarch dan Petrarchism); sebuah genre (ex. novel itu, puisi liris, drama), atau topik tertentu atau tema ex. (Representasi Pangan dalam Sastra dan Film).

    Apa itu Sastra Perbandingan?
    Perbandingan sastra adalah disiplin belajar sastra internasional:
    lintas batas negara
    seluruh periode waktu
    lintas bahasa
    di genre
    melintasi batas-batas antara sastra dan seni lain (musik, lukisan, tari, film, dll)
    di disiplin: sastra dan psikologi, filsafat, ilmu pengetahuan, sejarah, arsitektur, politik, dll
    Comparatists meliputi, misalnya, orang-orang yang:
    belajar membaca dan status sosial di Amerika
    belajar epik abad pertengahan dan asmara
    link mempelajari sastra cerita rakyat dan mitologi
    studying belajar kolonial dan tulisan-tulisan postkolonial di berbagai belahan dunia
    mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang definisi sastra itu sendiri
    Apa yang mereka berbagi dalam umum adalah keinginan untuk studi literatur di luar batas-batas nasional dan minat dalam bahasa sehingga mereka dapat membaca teks asing dalam bentuk aslinya. Many Banyak comparatists juga berbagi keinginan untuk mengintegrasikan pengalaman sastra dengan fenomena budaya lainnya seperti perubahan historis, konsep filsafat, dan gerakan sosial.
    Mengapa Studi Sastra Perbandingan / Sastra Dunia?
    Perbedaan: Tidak ada definisi yang tunggal sastra komparatif dengan mudah akan memuaskan setiap dua sarjana yang terkait dengan disiplin. Tidak mengherankan kemudian, mahasiswa yang mengambil kursus atau bekerja pada minor dalam disiplin ini sering memiliki konsep-konsep yang beragam jenis memulai studi mereka di atas. Memang, sastra komparatif adalah disiplin yang kompleks sebagian besar karena keragaman kepentingan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Anda akan diminta untuk melakukan beberapa hal yang berbeda, yang mencerminkan kompleksitas di balik konsep sastra komparatif.
    1.Kamu akan didorong untuk membiasakan diri dengan literatur dari setidaknya dua tradisi nasional yang berbeda, belajar dalam bahasa aslinya. Dengan mempelajari tradisi sastra yang berbeda, Anda akan mulai bisa membayangkan apa yang mungkin merupakan perbedaan atau kesamaan antara literatur.
    2.Anda akan diminta untuk berpikir tentang sastra tidak hanya dari berbagai tradisi nasional, tapi dari periode sejarah yang terpisah juga. Jadi perbandingan sastra mungkin juga melibatkan membayangkan apa perbedaan historis dalam konsepsi sastra mengajarkan kita tentang alam sendiri atau fungsinya.
    3.Anda akan diminta untuk berpikir tentang apa kata “membandingkan” berarti ketika diterapkan pada kelompok tertentu dari penulis atau teks dari literatur yang berbedaApa yang Anda membandingkan ketika Anda membandingkan penulis, atau sastra, atau karya sastra tertentu? Apa masalah teoritis lakukan berbagai tindak meningkatkan perbandingan? Ketika mungkin perbandingan tidak adil atau bahkan menyesatkan?
    4.Anda akan diminta untuk berpikir secara teoritis tentang gagasan sastra itu sendiri, tentang, misalnya beberapa pertanyaan berikut. Bagaimana dan mengapa dibagi ke dalam genre literatur yang berbeda atau periode yang berbeda? Bagaimana sastra terletak dalam suatu masyarakat tertentu? Bagaimana sastra berbeda dari domain lain seperti filsafat atau psikoanalisis atau Mahasiswa yang tertarik pada teori sastra akan menemukan banyak dalam studi sastra komparatif untuk kepentingan mereka misalnya tantangan yang dihadapi teori sastra Barat (dan kanon Barat) dengan literatur non-Barat yang sebelumnya belum diselidiki.
    Sumber : http://bama.ua.edu/~wlp/clvswl.htm

  5. INDAH PURNAMASARI RADIYANTI
    18/06/2010 pukul 10:19 am

    NAMA : INDAH PURNAMASARI RADIYANTI
    NIM : A1B107010
    REMEDIAL SASTRA PERBANDINGAN
    Comparative literature (sometimes abbreviated “Comp. lit.”) is critical scholarship dealing with the literature of two or more different linguistic, cultural or national groups. While most frequently practiced with works of different languages, it may also be performed on works of the same language if the works originate from different nations or cultures among which that language is spoken. Also included in the range of inquiry are comparisons of different types of art; for example, a comparatist might investigate the relationship of film to literature.
    Overview
    Students and instructors in the field, usually called “comparatists,” have traditionally been proficient in several languages and acquainted with the literary traditions and major literary texts of those languages. Some of the newer sub-fields, however, stress theoretical acumen and the ability to consider different types of art concurrently, over high linguistic competence.
    The interdisciplinary nature of the field means that comparatists typically exhibit some acquaintance with translation studies, sociology, critical theory, cultural studies, religious studies, and history. As a result, comparative literature programs within universities may be designed by scholars drawn from several such departments. This eclecticism has led critics (from within and without) to charge that Comparative Literature is insufficiently well-defined, or that comparatists too easily fall into dilettantism, because the scope of their work is, of necessity, broad. Some question whether this breadth affects the ability of Ph.D.s to find employment in the highly specialized environment of academia and the career market at large, although such concerns do not seem to be borne out by placement data that shows comparative literature graduates to be hired at similar or higher rates than their compeers in English.
    The terms “Comparative Literature” and “World Literature” are often used to designate a similar course of study and scholarship. Comparative Literature is the more widely used term in the United States, with many universities having Comparative Literature departments or Comparative Literature programs.
    Comparative literature is an interdisciplinary field whose practitioners study literature across national borders, across time periods, across languages, across genres, across boundaries between literature and the other arts (music, painting, dance, film, etc.), across disciplines (literature and psychology, philosophy, science, history, architecture, sociology, politics, etc.). Defined most broadly, comparative literature is the study of “literature without borders.” Scholarship in Comparative Literature include, for example, studying literacy and social status in the Americas, studying medieval epic and romance, studying the links of literature to folklore and mythology, studying colonial and postcolonial writings in different parts of the world, asking fundamental questions about definitions of literature itself. What scholars in Comparative Literature share is a desire to study literature beyond national boundaries and an interest in languages so that they can read foreign texts in their original form. Many comparatists also share the desire to integrate literary experience with other cultural phenomena such as historical change, philosophical concepts, and social movements.

    Terjemahan :

    Perbandingan sastra adalah beasiswa kritis berurusan dengan sastra dari dua atau lebih yang berbeda bahasa , budaya atau nasional kelompok. Sementara yang paling sering berlatih dengan karya bahasa yang berbeda, namun dapat juga dilakukan pada karya-karya bahasa yang sama jika karya berasal dari negara yang berbeda atau budaya antara mana bahasa yang diucapkan. Juga termasuk dalam rentang penyelidikan adalah perbandingan antara berbagai jenis seni, misalnya, sebuah comparatist mungkin menyelidiki hubungan film untuk sastra .
    Ikhtisar
    Siswa dan instruktur di lapangan, biasanya disebut “comparatists,” secara tradisional telah mahir dalam beberapa bahasa dan berkenalan dengan tradisi sastra dan teks-teks sastra utama bahasa-bahasa. Beberapa sub-bidang baru, bagaimanapun, stres ketajaman teoritis dan kemampuan untuk mempertimbangkan berbagai jenis seni secara bersamaan, selama kompetensi linguistik tinggi.
    Interdisipliner sifat lapangan berarti bahwa comparatists biasanya menunjukkan beberapa kenalan dengan studi terjemahan , sosiologi , teori kritis , kajian budaya, kajian agama , dan sejarah. Akibatnya, program sastra komparatif dalam universitas dapat dirancang oleh para sarjana yang diambil dari beberapa departemen tersebut.. Elektisitas telah menyebabkan kritikus (dari dalam dan tanpa) untuk biaya yang Perbandingan Sastra tidak cukup didefinisikan dengan baik, atau bahwa comparatists terlalu mudah jatuh ke dalam dilettantism, karena lingkup pekerjaan mereka, kebutuhan, luas. Beberapa pertanyaan apakah lebar ini mempengaruhi kemampuan. untuk mencari pekerjaan di lingkungan yang sangat khusus akademis dan karir di pasar besar, meskipun kekhawatiran tersebut tampaknya tidak ditanggung oleh data penempatan yang menunjukkan perbandingan sastra lulusan untuk dipekerjakan pada tingkat yang sama atau lebih tinggi dari compeers mereka dalam bahasa Inggris.
    Istilah “Perbandingan Sastra” dan “Dunia Sastra” sering digunakan untuk menentukan program serupa studi dan beasiswa. Perbandingan Sastra adalah lebih banyak digunakan istilah di Amerika Serikat, dengan banyak universitas yang memiliki departemen atau program Sastra Perbandingan Perbandingan Sastra.
    Perbandingan sastra adalah bidang interdisipliner yang praktisi studi literatur lintas batas negara, lintas periode waktu, lintas bahasa, lintas genre, melintasi batas-batas antara sastra dan seni lain (musik, lukisan, tari, film, dll), melintasi disiplin (sastra dan psikologi, filsafat, ilmu pengetahuan, sejarah, arsitektur, sosiologi, politik, dll). Ditetapkan paling luas, sastra komparatif adalah studi tentang “sastra tanpa batas. Beasiswa di Perbandingan Sastra meliputi, misalnya, belajar keaksaraan dan status sosial di Amerika, mempelajari epik abad pertengahan dan asmara, mempelajari link sastra cerita rakyat dan mitologi, mempelajari tulisan-tulisan kolonial dan postkolonial di berbagai belahan dunia, mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang definisi sastra itu sendiri. Apa sarjana dalam Sastra Perbandingan saham adalah keinginan untuk studi literatur di luar batas-batas nasional dan minat dalam bahasa sehingga mereka dapat membaca teks asing dalam bentuk aslinya. Banyak comparatists juga berbagi keinginan untuk mengintegrasikan pengalaman sastra dengan fenomena budaya lainnya seperti perubahan historis, konsep filsafat, dan gerakan sosial.
    Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Comparative_literature
    Why study Comparative Literature?
    Studying literature traditionally meant picking an academic department that reflects the nation state on a basically European model. English, French, and German programs each focus on the canons of their respective national traditions. But literature and readers have both always ranged outside the boundaries of one national language. German literature is brimming with the influences of English and French and Italian and Greek and Roman literature and so on. And even writers who knew nothing of one another may show fascinating similarities and differences; a poem by Stéphane Mallarmé and a poem by Emily Dickinson throw each other into startling relief. A fundamental project of Comparative Literature is to cultivate reading across linguistic boundaries in order to highlight everything that the exclusive focus on a national literature tends to obscure.
    Traditionally, too, Asian, African, and Near Eastern literatures (when they were studied at all) were long relegated to the rubric of Area Studies. The European literatures were understood as both aesthetically autonomous and expressive of the “national genius,” while texts from the non-West were read more from an ethnographic, historical, or anthropological perspective than as works of literature in their own right. The field of Comparative Literature also endeavors, then, to overcome this division between “the West” and “the Rest” by combining the formal rigor of European literary studies with the interdisciplinary reach of area studies.
    The concentration in Comparative Literature at BU – a new program – is designed for students whose interest in literature embraces works in multiple languages. Students of Comparative Literature trace the transformations and travels of literary genres and texts across time and space. They explore the connections of literature with history, philosophy, politics, and literary theory. And they study the intersections of literature with other cultural forms such as film, drama, the visual arts, music, and new media. In our increasingly globalized age, translation studies are also an important part of the comparative approach to literature. It’s surprisingly tricky to say that even a single sentence in one language is truly “equivalent” to its translation in another language; in what sense, then, can we really translate the complexity and nuance of novels, poems or plays? And yet we all depend on translations sooner or later. Literary translations also have their own kind of history and even politics. Why do some texts get translated and others not, for example? And how have the practice and theory of translation changed over time?
    At the core of the concentration in Comparative Literature are courses introducing Western, East Asian, and Middle Eastern literary traditions in comparative perspective. These courses introduce students to the global diversity of literary forms and genres while acquainting them with the methods of comparative literary study. After or in tandem with the introductory courses, students meet with their advisors to put together a program of study that best suits their interests and goals. This will include advanced work in at least one foreign language and its literature and a series of interrelated courses of your choice. One attractive aspect of the Comparative Literature major is its flexibility. In close consultation with your advisor you might decide to focus on anything from the modernist novel to Romantic poetry, postcolonial literature, or Greek and Japanese epics. At the same time you will have the opportunity to take courses listed or cross-listed under the XL rubric (until Fall 2009 this rubric appeared in course listings as “LL,” but for degree purposes LL and XL are identical) that further hone your skills as a comparatist, such as “Gender and Literature,” “Literary Translation,” “Theory of the Novel,” or “Literature and Empire.”
    A concentration in Comparative Literature is an excellent foundation for further work at the graduate level. It also prepares students to work in any field where critical thinking, strong writing skills and foreign-language competence and a sophisticated understanding of cultural difference and diversity are called for.
    Terjemahan :
    Mengapa studi Perbandingan Sastra?
    Mempelajari sastra tradisional berarti memilih departemen akademis yang mencerminkan negara bangsa pada dasarnya model Eropa. Inggris, Perancis, dan Jerman masing-masing program berfokus pada aturan dari tradisi nasional masing-masing. Tapi sastra dan pembaca memiliki keduanya selalu berkisar di luar batas satu bahasa nasional. sastra Jerman yang penuh dengan pengaruh bahasa Inggris dan Prancis dan Italia dan Yunani dan Romawi sastra dan sebagainya. Dan bahkan penulis yang tahu apa-apa satu sama lain dapat menunjukkan persamaan dan perbedaan yang menarik, sebuah puisi oleh Stéphane Mallarmé dan sebuah puisi oleh Emily Dickinson saling melempar ke bantuan mengejutkan. Sebuah proyek dasar Perbandingan Sastra adalah untuk menumbuhkan membaca melintasi batas-batas linguistik untuk menyorot semua yang fokus eksklusif pada sastra nasional cenderung mengaburkan.
    Secara tradisional, juga, literatur Asia Timur, Afrika, dan Dekat (ketika mereka belajar sama sekali) sudah lama diturunkan ke rubrik Studi Wilayah. Para literatur Eropa dipahami sebagai baik estetis otonom dan ekspresif dari jenius “nasional,” sementara teks dari non-Barat membaca lebih dari perspektif etnografi, sejarah, atau antropologi daripada sebagai karya sastra di kanan mereka sendiri. Bidang Sastra Perbandingan juga usaha, kemudian, untuk mengatasi hal ini pembagian antara “Barat” dan “Istirahat” dengan menggabungkan kekakuan formal studi sastra Eropa dengan jangkauan area studi interdisipliner.
    Konsentrasi dalam Sastra Perbandingan di BU – sebuah program baru – dirancang untuk siswa yang tertarik pada karya sastra mencakup dalam berbagai bahasa. Mahasiswa Perbandingan Sastra melacak transformasi dan perjalanan genre sastra dan teks di seluruh ruang dan waktu. Mereka mengeksplorasi hubungan sastra dengan sejarah, filosofi, politik, dan teori sastra. Dan mereka mempelajari persimpangan sastra dengan bentuk-bentuk budaya lainnya seperti film, drama, seni visual, musik, dan media baru. Di zaman kita yang semakin global, studi terjemahan juga merupakan bagian penting dari pendekatan perbandingan terhadap sastra. Ini mengejutkan sulit untuk mengatakan bahwa bahkan satu kalimat dalam satu bahasa benar-benar “setara” untuk terjemahan dalam bahasa lain, dalam arti apa, kemudian, dapat kita benar-benar menerjemahkan kompleksitas dan nuansa novel, puisi atau drama? Namun kita semua tergantung pada terjemahan cepat atau lambat. Terjemahan Sastra juga memiliki jenis mereka sendiri dan bahkan sejarah politik. Dan bagaimana memiliki praktek dan teori terjemahan berubah dari waktu ke waktu?
    Pada inti dari konsentrasi dalam Sastra Perbandingan kursus memperkenalkan Barat, Asia Timur, Timur Tengah dan tradisi sastra dalam perspektif komparatif.. Kursus-kursus ini memperkenalkan mahasiswa pada beragam global bentuk sastra dan genre sementara acquainting mereka dengan metode studi sastra komparatif. Setelah atau bersamaan dengan program perkenalan, siswa bertemu dengan penasehat mereka untuk menyusun program studi yang paling sesuai dengan kepentingan dan tujuan mereka. Hal ini mencakup bekerja maju dalam paling tidak satu bahasa asing dan sastra dan serangkaian program yang saling berkaitan dalam pilihan Anda. Salah satu aspek menarik dari Sastra Perbandingan utama adalah fleksibilitas. Dalam konsultasi dengan penasihat Anda, Anda dapat memutuskan untuk fokus pada apa pun dari novel modernis untuk puisi Romantis, sastra postkolonial, atau epos Yunani dan Jepang Pada saat yang sama Anda akan memiliki kesempatan untuk mengambil kursus yang terdaftar atau lintas-terdaftar di bawah rubrik XL (sampai Fall 2009 rubrik ini muncul di daftar kursus sebagai “LL,” tapi untuk tujuan gelar LL dan XL adalah identik) yang lebih lanjut mengasah Anda keterampilan sebagai comparatist, seperti “Jender dan Sastra,” “Literary Translation,” “Teori dari Novel,” atau “Sastra dan Empire.”
    Sebuah konsentrasi dalam Sastra Perbandingan merupakan fondasi yang sangat baik untuk bekerja lebih lanjut di tingkat pascasarjana. Ini juga menyiapkan siswa untuk bekerja dalam bidang-bidang di mana pemikiran kritis, kemampuan menulis yang kuat dan kompetensi bahasa asing dan pemahaman yang canggih perbedaan budaya dan keragaman disebut untuk.

    Sumber : http://www.bu.edu/mlcl/about/why-study/comp-lit.html

    World Literature or Comparative Literature?

    Harry Levin, a famous professor of comparative literature, once had a dream in which two workmen knocked on his door and announced that they “had come to compare the literature.” Many explanations of what comparative literature is, begin with this anecdote, which raises the central issue: just how does one compare literature?

    The terms “Comparative Literature” and “World Literature” are often used to designate a similar course of study. Comparative Literature is the more widely used term in the United States, with many universities having Comparative Literature Departments or Comparative Literature Programs. There are also scholarly associations such as the International Comparative Literature Association (ICLA), the American Comparative Literature Association (ACLA), whose secretariat has been housed at the University of Alabama since August 1998, and the Southern Comparative Literature Association (SCLA). The latter two organizations sponsor annual conferences and publish journals, Comparative Literature and The Comparatist respectively. Other well-known comparative literature journals published in the United States are: Comparative Literature Studies (Penn State University), World Literature Today (University of Oklahoma), and Yearbook of Comparative and General Literature (Indiana University).

    At the University of Alabama the Comparative Literature Program underwent a name change and has been known as World Literature for a number of years. The World Literature Program is directed by Dr. Elaine Martin (Modern Languages and Classics) and offers the minor in world literature as well as courses that can be taken for graduate credit. The World Literature faculty is drawn from various disciplines such as Italian, English, German, French, Women’s Studies, and Religious Studies. In addition to the core courses of the World Literature Survey I and II and Major World Authors I and II, the program also offers a wide variety of special topics courses, which may treat a movement (ex. Romanticism), an individual author (ex. Boccaccio; Goethe); issues of influence (ex. Petrarch and Petrarchism); a genre (ex. the novel; lyric poetry; drama), or a specific subject or theme (ex. Representations of Food in Literature and Film).

    What is Comparative Literature?
    Comparative literature is the discipline of studying literature internationally:
    across national borders
    across time periods
    across languages
    across genres
    across boundaries between literature and the other arts (music, painting, dance, film, etc.)
    across disciplines: literature and psychology, philosophy, science, history, architecture, politics, etc.
    Defined most broadly, comparative literature is the study of “literature without walls.”
    Comparatists include, for example, people who are:
    studying literacy and social status in the Americas
    studying medieval epic and romance
    studying the links of literature to folklore and mythology
    studying colonial and postcolonial writings in different parts of the world
    asking fundamental questions about definitions of literature itself
    What they share in common is a desire to study literature beyond national boundaries and an interest in languages so that they can read foreign texts in their original form. Many comparatists also share the desire to integrate literary experience with other cultural phenomena such as historical change, philosophical concepts, and social movements.
    Why Study Comparative Literature/World Literature?
    Diversity: No single definition of comparative literature would easily satisfy any two scholars associated with the discipline. Not surprisingly then, students taking courses or working on a minor in this discipline often have diverse conceptions of the kind of study they are embarking upon. Indeed, comparative literature is a complex discipline in large part because of the diversity of interests of the people engaged in it. As a student in the program, you will be asked to do a number of different things, which reflect the complexities behind the concept of comparative literature.
    1. 1You will be encouraged to familiarize yourself with literature from at least two different national traditions, studied in their original languages. In its most obvious sense, comparative literature might be seen to start here. By studying different literary traditions, you will begin to be able to imagine what might constitute differences or similarities between those literatures.
    2. You will be asked to think about literature not only from differing national traditions, but from widely separated historical periods as well. Thus comparative literature might also involve imagining what historical differences in the conception of literature teach us about its own nature or its function.
    3. You will be asked to think about what the verb “compare” means when applied to a specific group of authors or texts from different literatures. What do you compare when you compare authors, or literature, or specific works of literature? What theoretical problems do various acts of comparison raise? When might comparisons be unjust or even misleading?
    4. You will be asked to think theoretically about the idea of literature itself, about, for example some of the following questions. How and why is literature divided into different genres or different periods? How is literature situated within a given society? How is literature different from other domains such as philosophy or psychoanalysis or politics? Students interested in literary theory will find much in the study of comparative literature to interest them for example the challenge of confronting Western literary theory (and the Western canon) with previously unexplored non-Western literatures.
    Terjemahan :
    Dunia Sastra atau Sastra Perbandingan?
    Harry Levin, seorang profesor perbandingan sastra terkenal, pernah punya mimpi di mana dua pekerja mengetuk pintu dan mengumumkan bahwa mereka “telah datang untuk membandingkan literatur. Banyak” penjelasan dari perbandingan apa sastra, mulailah dengan anekdot, yang meningkatkan isu sentral: hanya bagaimana cara membandingkan sastra?

    Perbandingan Sastra adalah lebih banyak digunakan istilah di Amerika Serikat, dengan banyak universitas yang memiliki Departemen Sastra Perbandingan atau Perbandingan Program Sastra. Ada juga asosiasi ilmiah seperti Asosiasi Internasional Sastra Perbandingan (ICLA), American Association Sastra Perbandingan (ACLA), sekretariat yang telah disimpan di University of Alabama sejak Agustus 1998, dan Perbandingan Sastra Selatan Asosiasi (SCLA). Dua yang terakhir organisasi sponsor konferensi tahunan dan menerbitkan jurnal, Perbandingan Sastra dan Comparatist itu masing-masing. Komparatif sastra lain yang dikenal-baik jurnal diterbitkan di Amerika Serikat adalah: Perbandingan Studi Sastra (Penn State University), Dunia Sastra Hari Ini (University of Oklahoma), dan Yearbook of Perbandingan dan Sastra Umum (Indiana University).

    Di Universitas Alabama di Sastra Perbandingan Program mengalami perubahan nama dan telah dikenal sebagai Sastra Dunia untuk beberapa tahun. Program Sastra Dunia diarahkan oleh Dr Elaine Martin (Bahasa Modern dan Klasik) dan menawarkan minor dalam dunia sastra serta program-program yang dapat diambil untuk kredit pascasarjana. Dunia Sastra fakultas yang diambil dari berbagai disiplin ilmu seperti Bahasa Italia, Inggris, Jerman, Perancis, Studi Perempuan, dan Studi Keagamaan. Selain mata kuliah inti dari Sastra Dunia Survey I dan II dan Mayor Penulis Dunia I dan II, program ini juga menawarkan berbagai macam kursus topik khusus, yang dapat mengobati gerakan (ex. Romantisisme), seorang penulis individu (mantan Boccaccio;. Goethe), masalah pengaruh (ex. Petrarch dan Petrarchism); sebuah genre (ex. novel itu, puisi liris, drama), atau topik tertentu atau tema ex. (Representasi Pangan dalam Sastra dan Film).

    Apa itu Sastra Perbandingan?
    Perbandingan sastra adalah disiplin belajar sastra internasional:
    lintas batas negara
    seluruh periode waktu
    lintas bahasa
    di genre
    melintasi batas-batas antara sastra dan seni lain (musik, lukisan, tari, film, dll)
    di disiplin: sastra dan psikologi, filsafat, ilmu pengetahuan, sejarah, arsitektur, politik, dll
    Comparatists meliputi, misalnya, orang-orang yang:
    belajar membaca dan status sosial di Amerika
    belajar epik abad pertengahan dan asmara
    link mempelajari sastra cerita rakyat dan mitologi
    studying belajar kolonial dan tulisan-tulisan postkolonial di berbagai belahan dunia
    mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang definisi sastra itu sendiri
    Apa yang mereka berbagi dalam umum adalah keinginan untuk studi literatur di luar batas-batas nasional dan minat dalam bahasa sehingga mereka dapat membaca teks asing dalam bentuk aslinya. Many Banyak comparatists juga berbagi keinginan untuk mengintegrasikan pengalaman sastra dengan fenomena budaya lainnya seperti perubahan historis, konsep filsafat, dan gerakan sosial.
    Mengapa Studi Sastra Perbandingan / Sastra Dunia?
    Perbedaan: Tidak ada definisi yang tunggal sastra komparatif dengan mudah akan memuaskan setiap dua sarjana yang terkait dengan disiplin. Tidak mengherankan kemudian, mahasiswa yang mengambil kursus atau bekerja pada minor dalam disiplin ini sering memiliki konsep-konsep yang beragam jenis memulai studi mereka di atas. Memang, sastra komparatif adalah disiplin yang kompleks sebagian besar karena keragaman kepentingan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Anda akan diminta untuk melakukan beberapa hal yang berbeda, yang mencerminkan kompleksitas di balik konsep sastra komparatif.
    1. Kamu akan didorong untuk membiasakan diri dengan literatur dari setidaknya dua tradisi nasional yang berbeda, belajar dalam bahasa aslinya. Dengan mempelajari tradisi sastra yang berbeda, Anda akan mulai bisa membayangkan apa yang mungkin merupakan perbedaan atau kesamaan antara literatur.
    2. Anda akan diminta untuk berpikir tentang sastra tidak hanya dari berbagai tradisi nasional, tapi dari periode sejarah yang terpisah juga. Jadi perbandingan sastra mungkin juga melibatkan membayangkan apa perbedaan historis dalam konsepsi sastra mengajarkan kita tentang alam sendiri atau fungsinya.
    3. Anda akan diminta untuk berpikir tentang apa kata “membandingkan” berarti ketika diterapkan pada kelompok tertentu dari penulis atau teks dari literatur yang berbedaApa yang Anda membandingkan ketika Anda membandingkan penulis, atau sastra, atau karya sastra tertentu? Apa masalah teoritis lakukan berbagai tindak meningkatkan perbandingan? Ketika mungkin perbandingan tidak adil atau bahkan menyesatkan?
    4. Anda akan diminta untuk berpikir secara teoritis tentang gagasan sastra itu sendiri, tentang, misalnya beberapa pertanyaan berikut. Bagaimana dan mengapa dibagi ke dalam genre literatur yang berbeda atau periode yang berbeda? Bagaimana sastra terletak dalam suatu masyarakat tertentu? Bagaimana sastra berbeda dari domain lain seperti filsafat atau psikoanalisis atau Mahasiswa yang tertarik pada teori sastra akan menemukan banyak dalam studi sastra komparatif untuk kepentingan mereka misalnya tantangan yang dihadapi teori sastra Barat (dan kanon Barat) dengan literatur non-Barat yang sebelumnya belum diselidiki.
    Sumber : http://bama.ua.edu/~wlp/clvswl.htm

  6. AULIA
    20/06/2010 pukul 1:51 am

    NAMA : AULIA
    NIM : A1B1O7O54

    Apa itu Sastra Perbandingan?
    Program Akademik Itu Menghasilkan Comp Lit Master atau PhD Degree
    Berbagi Artikel |
    Dec 7, 2009 Luke Arnott 7 Desember 2009 Lukas Arnott
    Perbandingan Sastra studi literatur di waktu yang berbeda dan budaya. Comp Lit program interdisipliner, tapi kemampuan bahasa stres dan teori kritis.

    Disiplin akademik praktek Perbandingan Sastra kritik sastra pada karya-karya yang ditulis dalam berbagai bahasa dan / atau berasal dari budaya yang berbeda. jenis seni lainnya mungkin juga dibandingkan, terutama jika mereka, seperti opera atau film, memiliki aspek tertulis.
    Misalnya, sebuah comparatist mungkin menggunakan teori kritis untuk melihat genre epik melalui sejarah, atau dia akan melacak adaptasi satu cerita tertentu di media kontemporer yang berbeda.
    A Sejarah Singkat Sastra Perbandingan
    Salah satu yang pertama untuk mengantisipasi studi Perbandingan Sastra adalah Johann Wolfgang von Goethe. Pada awal abad ke-19, Goethe mengajarkan gagasan Weltliteratur, atau Sastra Dunia, meskipun ia tidak menindaklanjuti dengan kerja kritis yang komprehensif pada subjek.
    Beberapa dekade kemudian, Perbandingan Sastra studi mulai berkembang di universitas. comparatists abad ke-19 berfokus pada literatur Eropa, tetapi pada abad kedua puluh, ruang lingkup studi banding tumbuh di samping beasiswa meningkat Barat tentang bahasa non-Indo-Eropa.
    Demikian pula, tren dalam metode Perbandingan Sastra telah bergeser selama beberapa dekade, mulai dari historis dengan pendekatan teoretis. Beberapa berpendapat bahwa telah terjadi penurunan dalam Sastra Perbandingan tradisional. Namun interdisipliner bidang terkait, seperti kajian budaya, berutang ke pendekatan comparatist, dan masih tumpang tindih dengan Perbandingan Sastra.

    Ads by Google

    Share your Knowledge
    Now share your docs via Outlook Get the software – Totally Free!
    harmony.mainsoft.com
    Research Network
    A job site dedicated exclusively to researchers.
    ResearchNetwork.com

    Sastra Perbandingan Master dan PhD Program
    mahasiswa yang tertarik untuk mengeksplorasi Perbandingan Sastra – atau Comp Lit pendek – harus mengambil kursus mengakrabkan diri dengan karya-karya besar sastra duniaSebuah beberapa perguruan tinggi memiliki program sarjana Comp Lit, meskipun ini sendiri tidak selalu cukup persiapan untuk studi pascasarjana di disiplin.
    kompetensi linguistik merupakan inti dari setiap program lanjutan Perbandingan Sastra. Siswa yang mendaftar untuk program gelar Master di Comp Lit umumnya perlu mengetahui bahasa lain selain bahasa Inggris (atau bahasa asli mereka, jika berbeda), sementara mereka yang memasuki program doktor membutuhkan setidaknya dua.
    Sejak Perbandingan Sastra adalah interdisipliner, Comp Lit mahasiswa sering mengambil program dari berbagai departemen universitas. Mereka berencana untuk mendapatkan gelar Sastra Perbandingan karenanya harus penelitian kekuatan dari departemen terkait di perguruan tinggi yang mereka terapkan.
    Apa gelar Sarjana Sastra Perbandingan adalah Bagus Untuk
    Seperti derajat lanjutan yang paling, sebuah Perbandingan Sastra PhD adalah kualifikasi untuk mengajar di tingkat universitas. Banyak Comp Lit fakultas tidak berkembang, Namun, mengajar membuat pekerjaan di lapangan sulit ditemukan. Kandidat Doktor menerima dari program yang paling bergengsi Sastra Perbandingan memiliki keuntungan.
    Banyak Perbandingan Sastra PhD menemukan akademis bekerja di departemen sastra nasional. Misalnya, disertasi comparatist yang berfokus pada bahasa-bahasa Romance dapat menemukan pekerjaan mengajar dalam bahasa Spanyol departemen universitas, Prancis, atau Italia. Gelar Comp Lit juga bisa persiapan untuk bekerja sama di luar universitas, dari terjemahan ke instruksi bahasa asing.
    Sementara Perbandingan Sastra telah berkembang selama beberapa dekade, Comp Lit program terus menekankan kompetensi linguistik dan penghargaan terhadap kata-kata tertulis. Hal ini membuat Perbandingan Sastra baik lebih fleksibel dan lebih menantang untuk belajar dari literatur nasional, dan memberikan lulusan Comp Lit ditambahkan keterampilan.

    Read more at Suite101: Apa itu Sastra Perbandingan: Program Akademik Itu Menghasilkan Comp sebuah? Master Lit atau PhD Degree http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&sl=en&u=http://universities.suite101.com/article.cfm/what_is_comparative_literature&prev=/search%3Fq%3Dwhat%2Bis%2Bcomparative%2Bliterature%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26sa%3DG%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official&rurl=translate.google.co.id&usg=ALkJrhiC5ycrPUkQQqe7eZzIULbIVSQj3A#ixzz0pfeFZr53

    What is Comparative Literature?
    Academic Program That Leads to a Comp Lit Master’s or PhD Degree
    Share Article |
    Dec 7, 2009 Luke Arnott
    Comparative Literature studies literature across different times and cultures. Comp Lit programs are interdisciplinary, but stress language skills and critical theory.

    The academic discipline of Comparative Literature practices literary criticism on works written in different languages and/or coming from different cultures. Other types of art may also be compared, especially if they, like opera or film, have a written aspect.
    For instance, a comparatist might use critical theory to look at the epic genre through history, or he might trace the adaptation of one particular narrative across different contemporary media.
    A Short History of Comparative Literature
    One of the first to anticipate the study of Comparative Literature was Johann Wolfgang von Goethe. In the early 19th century, Goethe promulgated the idea of Weltliteratur, or World Literature, though he didn’t follow up with any comprehensive critical work on the subject.
    A few decades later, Comparative Literature studies began to develop in universities. 19th-century comparatists focused on European literature, but in the twentieth century, the scope of comparative studies grew alongside increased Western scholarship about non-Indo-European languages.
    Likewise, trends in the methods of Comparative Literature have shifted over the decades, ranging from historicist to theoretical approaches. Some have argued that there has been a decline in traditional Comparative Literature. Yet related interdisciplinary fields, such as cultural studies, owe a debt to the comparatist approach, and still overlap with Comparative Literature.
    Ads by Google

    Online Business Degrees
    MBA and MSc Online Degrees In 12 Months, Top Tutors, Apply Online
    http://www.StudyInterActive.org
    Master Project Management
    Executive Program in Monaco. Universities of Monaco & California
    monaco.edu/Master_ProjectManagement

    Comparative Literature Master’s and PhD Programs
    University students interested in exploring Comparative Literature – or Comp Lit for short – should take courses familiarizing themselves with great works of world literature. A few colleges have Comp Lit undergraduate programs, although these by themselves are not always adequate preparation for graduate studies in the discipline.
    Linguistic competence is at the core of any advanced Comparative Literature program. Students applying to a Master’s degree program in Comp Lit generally need to know another language in addition to English (or their native language, if different), while those entering doctoral programs require at least two.
    Since Comparative Literature is interdisciplinary, Comp Lit students often take courses from a wide range of university departments. Those planning to get a Comparative Literature degree should therefore research the strengths of related departments at universities to which they apply.
    What a Comparative Literature Graduate Degree is Good For
    Like most advanced degrees, a Comparative Literature PhD is a qualification for teaching at the university level. Many Comp Lit faculties are not expanding, however, making teaching jobs in the field hard to find. Candidates receiving doctorates from the most prestigious Comparative Literature programs have an advantage.
    Many Comparative Literature PhDs find academic work in national literature departments. For instance, a comparatist whose dissertation focuses on Romance languages may find a job teaching in a university’s Spanish, French, or Italian department. A Comp Lit degree can also be preparatory to similar work outside of universities, from translation to foreign language instruction.
    While Comparative Literature has evolved over the decades, Comp Lit programs continue to stress linguistic competency and an appreciation for the written word. This makes Comparative Literature both more flexible and more challenging to study than national literatures, and gives Comp Lit grads added skills.

    http://universities.suite101.com/article.cfm/what_is_comparative_literature

    What Was Comparative Literature?
    Comparative literature as an intellectual field arose in the nineteenth century, a counterpart of the equally new fields of comparative anatomy, comparative law, and comparative philology. These fields sought to locate what they postulated as the larger whole that united the various differences of specific languages, laws, species, and (national) literatures. Comparative literature presumably acquired its name as such from a series of French anthologies for the teaching of literature; published in 1816, they were entitled Cours de littérature comparée.
    The intellectual field and later the academic discipline of comparative literature, then, circulated and developed in nineteenth century Europe as a gentlemanly and evaluative inquiry into what constituted the worthy contemporary literatures of Europe, the exchanges between those literatures, and their links to shared traditions of the past. It is noteworthy that this development was concomitant with the emergence and consolidation of nation states in Europe and their legitimation through cultural claims to national literary and popular traditions. It is as noteworthy that the circulation and institutionalization of the concept of comparative literature was also concomitant with the continuing colonial expansion of European states throughout the globe and with the intra-European contest over who would control which colonies. In 1886, one of the ‘map-makers’ in the now burgeoning field of comparative literature, Hutcheson Macaulay Posnett (in his Comparative Literature, published in London by K. Paul – Trench as part of their “International Scientific Series”) defined “the proper order of our studies in comparative literature” as the pursuit “of causes which can be specified and described.” Those studies were to reveal the socio-cultural development of “man” from clan to city, from city to nation, from both of these to cosmopolitan humanity (85-6).
    Posnett’s formulation was decisively modified by others in the years that followed. But the field and discipline of comparative literature continued to postulate and pursue the shared past and the boundaries of a unified yet distinct European community and its national cultures and literatures. If in the late nineteenth and first half of the twentieth century anti-colonial resistance from without and the rise of fascism from within redefined its parameters, Posnett’s “cosmopolitan humanity” remained one of its central concerns.
    If you’re interested in the history of Comparative Literature as a discipline, while there are many and diverse books on the subject, any of the following are a good starting point:
    Apa Apakah Sastra Perbandingan?
    Perbandingan sastra sebagai bidang intelektual muncul pada abad kesembilan belas, seorang rekan dari bidang-bidang baru yang sama anatomi perbandingan, perbandingan hukum, dan filologi komparatif. Bidang ini berusaha untuk mencari apa yang mereka mempostulatkan sebagai keseluruhan yang lebih besar yang menyatukan berbagai perbedaan bahasa tertentu, hukum, spesies, dan (nasional) sastra. Perbandingan sastra mungkin diakuisisi sebagai nama tersebut dari serangkaian antologi Perancis untuk pengajaran sastra ; diterbitkan tahun 1816, mereka berhak Cours de comparée littérature.
    Bidang intelektual dan kemudian disiplin sastra komparatif, kemudian, beredar dan dikembangkan di Eropa abad kesembilan belas sebagai pertanyaan sopan dan evaluatif ke dalam apa yang membentuk literatur kontemporer layak Eropa, bursa antara literatur, dan link mereka untuk tradisi bersama masa lalu. Perlu dicatat bahwa perkembangan ini seiring dengan kemunculan dan konsolidasi negara-bangsa di Eropa dan legitimasi mereka melalui klaim budaya untuk tradisi sastra dan populer nasional. Ini adalah sebagai dicatat bahwa sirkulasi dan institusionalisasi konsep perbandingan sastra juga seiring dengan ekspansi kolonial negara-negara Eropa terus di seluruh dunia dan dengan kontes intra-Eropa tentang siapa yang akan mengendalikan koloni yang. Pada tahun 1886, salah satu pembuat peta ‘dalam bidang yang sedang berkembang sekarang sastra komparatif, Hutcheson Macaulay Posnett (dalam bukunya Perbandingan Sastra, diterbitkan di London oleh K. Paul – Palung sebagai bagian dari mereka “Seri Ilmiah Internasional”) didefinisikan ” urutan yang tepat dari studi kami dalam sastra perbandingan “seperti mengejar” sebab-sebab yang dapat dirinci dan dijelaskan “Dari hasil penelitian ini. adalah untuk mengungkapkan perkembangan sosial-budaya dari” manusia “dari klan ke kota, dari kota ke negara, baik dari ini untuk manusia kosmopolitan (85-6).
    formulasi Posnett adalah meyakinkan diubah oleh orang lain dalam tahun-tahun berikutnya. Tapi bidang dan disiplin sastra komparatif terus mendalilkan dan mengejar masa lalu bersama dan batas-batas komunitas Eropa bersatu namun berbeda dan budaya nasional dan literatur. Jika pada akhir kesembilan belas dan setengah pertama abad kedua puluh perlawanan anti-kolonial dari tanpa dan kebangkitan fasisme dari dalam mendefinisikan ulang parameter, “kosmopolitan Posnett kemanusiaan” tetap salah satu perhatian utamanya.
    Jika Anda tertarik dengan sejarah Perbandingan Sastra sebagai disiplin, sementara ada banyak dan beragam buku tentang topik ini, salah satu dari berikut adalah titik awal yang baik:

    http://complit.lss.wisc.edu/about/what_was_complit.php

    e / About Comparative Literature
    About Comparative Literature
    Since its founding as a discipline in the nineteenth century, Comparative Literature has provided a geographically and chronologically broader perspective on the literary and cultural achievements of humankind than is possible from within the national or area literature department alone. Just as, historically speaking, Comparative Literature arose from the emergence of nationalism (borders can’t be crossed if none exist) the field today cannot prosper without strong national literature departments. But for both students and faculty, Comparative Literature appeals to the pervasive desire to transcend the merely national point of view, to engage with great imaginative works of literature from different places and times. Mandating an intense immersion in at least one foreign language and literature, and with courses on literature in translation that seriously engage non-western literature as well as western texts, Comparative Literature provides to its students a serious, sustained understanding of cultures beyond their own, and helps them become better global citizens. Comparative Literature is well situated to study, as no single national literature department can, relationships between literary cultures as they involve influence, encounter, exchange, and translation.
    Historically, Comparative Literature’s transnational orientation has made it the home for literary theory, which has transformed the study of literature since the 1960s. For the benefit of all literature majors at Washington University, Comparative Literature therefore offers courses on literary theory at both the undergraduate and graduate level. We also uniquely offer an interdisciplinary major in Comparative Arts, founded on an introductory core course, in which students explore relationships between literature and painting, sculpture, architecture, music, drama, and film.
    The Comparative Literature program at Washington University in St. Louis offers a major and minor to undergraduate students as well as a program that focuses on Literature and Ethics. For graduate students there is a Ph.D. program as well as combined Ph.D. programs and certificates.
    With two undergraduate majors and several Ph.D. programs, through study abroad opportunities, student conferences and distinguished invited lecturers, Comparative Literature provides a study of literature (and its relationships to other kinds of writing and forms of art) that is theoretically informed and internationally oriented.
    Home / About Comparative Literature Home Tentang Perbandingan Sastra /
    Tentang Perbandingan Sastra
    Sejak didirikan sebagai suatu disiplin pada abad kesembilan belas, Perbandingan Sastra telah memberikan perspektif geografis dan kronologis yang lebih luas pada prestasi sastra dan budaya manusia daripada yang mungkin dari dalam wilayah nasional atau departemen sastra sendiri. Sama seperti, sejarah, Perbandingan Sastra timbul dari munculnya nasionalisme (perbatasan tidak dapat menyeberangi jika tidak ada) medan saat ini tidak bisa makmur tanpa departemen sastra nasional yang kuat. Tapi bagi para mahasiswa dan fakultas, Perbandingan Sastra menarik keinginan luas untuk mengatasi titik pandang hanya nasional, untuk terlibat dengan karya-karya sastra imajinatif besar dari tempat yang berbeda dan waktu. Mandat sebuah pencelupan intens dalam setidaknya satu bahasa asing dan sastra, dan dengan kursus tentang sastra dalam terjemahan yang serius terlibat literatur non-Barat serta teks-teks barat, Perbandingan Sastra diberikan kepada mahasiswa sebuah pemahaman, serius berkelanjutan dari budaya luar mereka sendiri, dan membantu mereka menjadi warga global yang lebih baik. Perbandingan Sastra terletak baik untuk belajar, karena tidak ada departemen sastra tunggal nasional dapat, hubungan antara budaya sastra saat mereka melibatkan pengaruh, pertemuan, pertukaran, dan terjemahan.
    Secara historis, orientasi Perbandingan Sastra transnasional telah membuat rumah untuk teori sastra, yang telah mengubah kajian sastra sejak tahun 1960-an. Untuk kepentingan semua jurusan sastra di Washington University, Perbandingan Sastra karena itu kami menawarkan program pada teori sastra baik di tingkat sarjana dan pascasarjana. Kami juga unik menawarkan interdisipliner besar di Perbandingan Seni, didirikan pada kursus inti pengantar, di mana siswa mengeksplorasi hubungan antara sastra dan lukisan, patung, arsitektur, musik, drama, dan film.
    The program Sastra Perbandingan di Washington University di St Louis menawarkan besar dan kecil untuk mahasiswa serta program yang berfokus pada Sastra dan Etika . Untuk lulusan siswa ada Ph.D. program as well as combined Ph.D. program, serta gabungan Ph.D. program dan sertifikat .
    Dengan dua jurusan sarjana dan beberapa Ph.D. program, melalui kesempatan belajar di luar negeri, konferensi mahasiswa dan terhormat mengundang dosen, Perbandingan Sastra menyediakan studi sastra (dan hubungan ke jenis lain penulisan dan bentuk-bentuk seni) yang secara teoritis informasi dan berorientasi internasional.

    • Contact Us Hubungi Kami
    • Site Map Peta Situs
    Comparative Literature | Washington University in St. Louis | Campus Box 1107 | One Brookings Drive | St. Louis, MO 63130-4899 | 314-935-5170 | Fax: 314-935-5139 | complit@artsci.wustl.edu Perbandingan Sastra | Washington University di St Louis | Campus Box 1107 | Satu Brookings Drive | St Louis, MO 63130-4899 | 314-935-5170 | Fax: 314-935-5139 | complit@artsci.wustl.edu

    http://complit.artsci.wustl.edu/node/104

    Delicious Abyss: The Biblical Darkness in the Poetry of Saint-John Perse
    Judith Kopenhagen-Urian

    The sequence of allusions to the prayer of Jonah throughout the lengthy poem “Amers” ["Seamarks"] elaborates upon themes taken from the biblical sea-epic. 1 Inspired by semantic as well as prosodical values of the biblical sources (Jonah, chapter II, underlined by the poet), these allusions combine four functions observed in Perse’s use of the Bible: the contrasting perspective, the structured allusion (the form-logic), the repeated motif, and the “collage.” 2
    The first example of such intertextual treatment referring to the prayer of Jonah appears in the first part of “Seamarks”, section II (excerpt no. 1 hereafter):
    Plus que l’année appelée héliaque en ses milles
    De millénaires ouverte, la Mer totale m’environne.
    L’abîme infâme m’est délice et l’immersion divine
    Ils m’ont appelé l’Obscure et j’habitais l’éclat.
    (282)
    [More than the Year called heliacal in its thousands and millions
    Of milleniums, open, the total Sea encompasses me.
    The infamous abyss is delight to me, and immersion, divine . . . .
    They called me the Dark One and I dwelt in radiance.] 3
    While the ancient poet, in the name of Jonah, deplores his condition,”closed in the depth . . . round about . . . in the midst of the sea,” Perse uses the same topoi to express delight, thus reversing the biblical [End Page 195] perspective. However, the biblical reference has further ramifications in Perse’s poem.
    -The sea/abyss structure of the original parallelism is perfectly reflected in Perse’s discourse in all variations of the motif, appearing in other sections of “Seamarks.”
    -The allusion to the prayer of Jonah is furthermore constantly accompanied by most obvious allusions to Heraclitus, in a multi-dimensional collage combining East-West cultures.
    We may ask: how and to what purpose did the poet transform the very words of the Bible so as to create the oxymoron “delicious abyss,” expressing quite the opposite meaning of the sources? The answer is to be found in detailed considerations of the four functions mentioned above.
    The Contrasting Perspective
    Thematic Aspects: In the allusion to the prayer of Jonah (Seamarks” II, O.C. 282), there is an intersecting of two central themes relating to punishment in the Book of Jonah, both on narrative and theological levels.
    These two thematic levels reverse direction in Perse’s typical fashion: the moment of shock and punishment loses its negative aspect; the proximity of the sea symbolizes the removing of chains and the outburst of the life force embodied in man and nature.
    In order to demonstrate the inversion performed by Perse in his Biblical sources, let us trace both phases of punishment, underlined by the poet in his personal Bible. The first phase, which figures in the outline story, consists in itself of three counts of punishment (Book of Jonah, chapters 1,3,4).
    In chapter 1, Jonah escapes from God towards the sea, thus attempting to refrain from fulfilling his mission, which was to warn and to prophesy punishment upon the population of Nineveh–the “great city.” Then, Jonah himself is immediately punished for his rebellious reaction by the storm threatening his ship in a sort of “pre-punishment.” Jonah’s main punishment is brought about when he is thrown overboard by the sailors, finally being swallowed by “a great fish.” Jonah is now abandoned to the monstrous forces and implores God to save him from the threatening depths. In chapter 3, Jonah’s mission is at last perfectly accomplished: the people of Nineveh do repent from their evil, having been touched by God’s warning. However, in chapter 4, the theme of punishment reappears in yet another momentum: while the frustrated prophet retires outside the city, the gourd under which he has found shade dries up overnight. The universal perception of Divinity is imbedded in God’s words to Jonah; [End Page 196] the care of human beings, God’s creation,is placed in analogy to Jonah’s care for the plant which he “did not even labour at,” yet still regretting it drying up.
    Perse underlines in his Bible all the verses dealing with those phases of punishment, with the manifest intention of later twisting their meaning. The escape from Nineveh–similar to the escape from Sodom, hinted at later in “Seamarks” in the allusion to Lot’s wife (O.C. 374)–might symbolize, in Perse’s poem, a positive crisis due to the abandoning of the decadent values of the past. The journey to the sea is the right direction and the storm is an experience of delight and not of punishment.
    From Perse’s reserved attitude towards the divine authority, an ironic play of roles is created by the alternation between the strict God, extreme in his zeal, and his merciful and pardoning character. 4 In the Jonah Story (for example, in chapter 3, verses 10 and 11) the dichotomous aspects of the biblical God are in fact encountered in a most prominent manner.
    The second phase, the prayer of Jonah, in which the mythological background of the ancient sea-epic is entwined, revolves around the punishmentof the rebellious sea by the all powerful God. The mythological factor emerges in the words of the prayer uttered by Jonah from the belly of the great fish in the midst of the sea (Book of Jonah, chapter 2). Verses 3-4, preceding the borrowed segments quoted above (excerpt no. 1), obviously use the same spatial terms (concerning the depths of the ocean) relating to the ancient myths:
    Du ventre du schéol j’ai crié.
    Vous avez entendu ma voix,
    vous m’aviez jeté dans l’abîme,
    Au coeur des mers,
    Et l’onde m’environnait;
    tous vos flots et tous vos vagues
    ont passé sur moi.
    [Out of the belly of hell cried I . . . for thou hast cast me into the deep, in the midst of the seas; and the floods compassed me about; all thy billows and thy waves passed over me.]
    Jonah 2; 2-3 in King James authorised version.
    The narrative of the ancient sea epic, crystalized in structural constants (or fixed parallelisms), has its origins in a pre-Semitic culture. 5 Highly elaborated in the Bible, it traces the struggle between the abyss (or depths [End Page 197] of the ocean) and superior elements (God using thunder and lightning as heavenly weapons).
    Perse follows the axis of this narrative, reconstructing, by rather intentional underlinings, as many reminiscenses as possible of the ancient sea-epic, in several sections of the Bible. We find such underlinings in the Book of Psalms, in isolated chapters exclusively devoted to the theme in question. In fact, the poet’s choice is limited to four Psalms (77, 93, 104, 107) among the hundred and fifty psalms otherwise ignored in his reading of Crampon’s volume. Elsewhere, the poet’s underlinings mix with other themes, as in the Latter Prophets, such as Jonah, Nahum or Habakkuk.
    Perse traces the appropriate chapters in the Pentateuch as well. Moses’ Sea Song, events of the Deluge and the Creation story are, in this perspective, mere elaborations upon the same ancient theme, describing “Great Waters” tamed by the Almighty. Perse’s underlinings in the texts of the Orientalists’ school juxtapose common elements in Sumerian, Canaanite and biblical myths. Thus, if Isaiah mentions central names of sea deities–such as the arrogant “Rahab,” or the sea/abyss dragons (51: 9, 10)–it is in the study of René Berthelot that Perse underlines the reference to “Rahab” explicitly quoted from “Second Isaiah.” 6 Perse is also informed, in the above-mentioned study, of other biblical antagonists of God, such as Baal, the Canaanite deity of fertility. Underlined here as well, this last reference will later appear (according to the contrasting perspective) in significant refrains of “Seamarks”–glorifying the sea powers. All these deities, systematically suppressed in the Bible, attain a certain degree of rehabilitation in Perse’s discourse.
    Chapter 93 in the Book of Psalms and chapter 2 in Jonah (both extensively underlined in Crampon’s Bible) provide the most impressive example of such intertextual activity. Referring to the biblical sea-epic, Perse adopts the model but reverses the contents: if God’s victory over chaotic forces might be considered an offense to nature, Perse would establish another order (or hierarchy). In his discourse the sea regains its titanic forces, blocked by the intervention of the Demiurgus.
    Semantic Aspects: These observations concerning the pre-text raise further intertextual problems.
    Is there any semantic interaction between the lexical elements taken from the Bible and the modern context neighboring the biblical reference? and if so, how does the biblical stratum influence the semantisation of the poetical discourse?
    At this point, it would be of value to refer to Jurij Lotman’s perceptions relating to the structure of the artistic text. 7 According to Lotman, [End Page 198] who uses the example of Lermontov’s poem, “The Prayer,” the speciality of the poetical discourse is based upon the simultaneous existence of several codes taking part in the description, mutually modifying their original signification. Lermontov’s poem illustrates the interaction between two cultural codes. On the one hand, there is the religious or rather Christian code, pointing to conventional spatial oppositions (God/earth; light/dark; life/death; good/sin). Here, as Lotman specifies,
    the accompanying epithet “sepulchral” has a dual semantics. The code semantics entails the notion of earthly life as death, a counterpoise to “life eternal” beyond the grave. At the same time, the epithet incorporates the spatial semantics of “the grave,” a deep and closed space (the idea that the world is an abyss in contrast to paradise, and hell is an abyss in contrast to the world). (246)
    On the other hand, the poem develops an additional dichotomic chain stemming from the romantic code (juxtaposed to the former one). Here the darkness is situated in the depths of the soul where the “I” celebrates earthly passions which are preferable to the abstract “heavenly light.” Consequently, the same topoi (or spatial terms) once released from the traditional devaluations, indicate a vast inner world, opposed to the Christian “narrow path of salvation.” In Lotman’s words,
    the lines–“I love the sepulchral darkness of the earth/with all its passions”–change the picture. They still fit into the general system of the cultural code, . . . but they give the text an opposite orientation: instead of the “Almighty,” the sinful “I” is selected as the point of view. And from this point of view, “The sepulchral darkness of the earth . . .” can end up being an object of love. (247)
    Such “dual semantics,” where “sinful” ceases to be an epithet of censure “judged by the extraneous laws of religion and moral,” functions in a similar way in Perse’s discourse (excerpt no. 1 above) concluding with the line: “They called me the Dark One, and I dwelt in radiance.”
    We might even adopt Lotman’s further perceptions concerning Dantesque characteristics (equally reversed in Lermontov’s poem) as an additional code applicable to Perse’s poem: “for Dante one’s degree of sinfulness corresponds to the degree of depth and closure, while the degree of holiness corresponds to the degree of elevation and openness” (246). The verse quoted above, excerpt no. 1 (taken from “Seamarks,” O.C. 282), would be another version–or inversion–of Dante’s famous notion of depth (which corresponds to the Hell of Christian thought). [End Page 199]
    At this point in our analysis of Perse’s discourse, we must dismiss the possibility of an innocent, connotation-free reading (despite Perse’s own declaration denying biblical allusions in his poetry). 8 The biblical code in its pre-Christian form is indeed well incorporated into the discourse of “Seamarks.” The poet’s underlinings in the Book of Jonah, chapter II–on passages reflecting the pre-Semitic, Canaanite sea-epic–reveal the high degree of correlation between the two texts.
    The passage underlined in the poet’s personal Bible–“Les eaux m’avaient enserré jusqu’à l’âme./ L’abîme m’environnait”["The waters compassed me about, even to the soul; the depth closed me round about"]–is perfectly matched with the lines of “Seamarks”–“La mer totale m’environne/ L’abîme infâme m’est délice” ["the total Sea encompasses me/ -The infamous abyss is delight to me"]–exercising the same metaphors, the same imagery and the same lexemes, albeit for opposing purposes, constituting the main “semantic units” which are common to both texts:
    the total sea surrounding the speaker
    (closure in the Bible/openness in the poem);
    the emotional reaction
    (a feeling of guilt in the Bible/a strong excitement in the poem);
    the deep space, spreading to the dimensions of a mythological abyss (“outside the world,” in the Bible/ “the whole world,” in the poem)
    Finally, much like Jonah when coming in contact with the sea, the speaker of “Seamarks” confronts the exemplary theological questions concerning God’s ubiquity. Defining the “immersion” as “divine,” Perse materializes the hyperbolical use of the “God” component, whereas the “I” replaces God in questions of omnipresence.
    Actually, in Perse’s discourse, many theophorical genitive-structures (“L’Esprit de Dieu,” “Faveur de Dieu” or “Transgression divine”) refer to the literal sense of the genitive component–expressing something “extraordinarily great or strong,” the sense pointed to by Spinoza in his interpretation of biblical metaphors. 9 Therefore, Perse’s epic (apart from differences of length and genre) mainly differs from the romantic poem of Lermontov in its larger topotogical perspective: here (in “Seamarks”) the abysmal space expands to cosmic proportions, in the very image of the Chaos preluding the act of Creation.
    The importance of such intentional treatment of the biblical material by the modern poet lies in the fact that without the imposing code of the Holy pre-text, the effect of the challenge to traditional thinking would [End Page 200] not be as poignant. Supported by Jauss’ development of Lotman’s topological system (“so fertile [because] it renders imaginable the structure of delimited subuniverses”), 10 we may add that it is the final-mentioned spatial archetype, the primordial chaos, “thematized” in Perse’s artistic text, which “gives it the form of a model-like perfection” (277).
    The Structured Allusion
    Inspired by the biblical parallelism, the poet associates to it the biblical referent (as a typical feature). Perse’s verse is consequently organised, not only in the sense of Classical measures, as demonstrated thoroughly by Emilie Noulet and Henri Meschonnic, 11 but also by isochronic, measurable pulses of tonal parallelisms, thus imitating the biblical “verset.”
    Such is the case in the verse in “Seamarks” (282)–excerpt no. 1–containing three pulses on each side of the caesura. As in biblical poetry, governed by the principle of binary form, 12 Perse’s parallelism is symmetrically crafted with discernible equivalent components, divided into two parts or even hemistichs. The discourse referring to biblical sources is further organized by means of rhythmical, phonological and syntactical patterns, superimposed upon each other in interreflective binary relations. This deepens the comparison with traditional pairs (like sea/abyss, sea/rivers, or the void/darkness of the Genesis model). At all events, Perse’s somewhat veiled parallelism, cut or sliced out of a running verse, scarely interrupts the free-verse prosody visibly dominant in his modern discourse. 13 Still, the Poet’s use of biblical parallelism–highly structured, yet rather flexible verse (respecting, above all, the principle of the caesura)–introduces an adequate organizing system into his cummulative over-fragmentary discourse.
    Perse’s “long, flexible line, while clearly owing much to precedents in biblical poetry,” as estimated by Peter Baker, “needs to be seen as a response to the breaking of convention in the vers libre movement and a way of re-establishing recognizably modern metrical possibilities” (40). As shown by Baker, the basic structure of isochronic hemistichs also allows the “grafting” of other metrical systems onto the rhythmical line. At this level it becomes possible to count (on each side of the caesura) an equal though undetermined number of syllables rising to “four, six and eight syllables apiece.” To put it in Baker’s words: “As a gesture toward making peace with traditional French versification proponent, I will say that it is quite possible Perse saw his iambs along the model of what Hartman helpfully calls isochrony or a principal of “free verse” that equalizes the time between measures regardless of syllable count or accent” (44). In fact, this special property of Perse’s apparent free verse, controlled [End Page 201] by even pulses–or tonal accents–between separate clauses, produces an effect of equilibrium typical to ancient epic.
    The most prominent paradigme, illustrating the final mentioned prosodical values, appears in the final parts of “Seamarks” explicitly hinting to the same reminiscenses of the ancient sea-epic hitherto analysed.
    Mer de Baal, Mer de mammon . . .

    I

    Mer de Baal, Mer de Mammon–/Mer de tout âge et de tout nom, //
    O Mer sans âge ni raison, / ô Mer sans hâte ni saison, //
    Mer de Baal et de Dagon–/face première de nos songes, //
    O Mer promesse de toujours / et Celle qui passe toute promesse, //
    Mer antérieure à notre chant–/ Mer ignorance du futur, //
    O Mer mémoire du plus long jour / et comme douée d’insanité //
    (365)
    [Sea of Baal, Sea of Mammon . . .

    I

    Sea of Baal, Sea of Mammon--Sea of every age and every name,
    O Sea without age or reason, O Sea without haste or season,
    Sea of Baal and of Dagon--first face of our dreams,
    O Sea promise of forever and the One who exceeds every promise,
    Sea anterior to our song--Sea ignorance of the future,
    O Sea memory of the longest day, as though endowed with madness]
    Departing from the regularity based on two isochronic pulses in the verse-halves of the initial parallelism–

    –the rhythm soon spreads to the following sequences, retaining only its main stresses:

    Yet against the background of the same semantic parallelismes, the unity of form and sense is reinforced by a classical pattern based on regular tetrameters: [End Page 202]

    (The graphical marks indicate the symmetrical pulses of the tonal system –easily replaced by “iambs”, or “trochees” grouped in tetrameters, reflecting syllabic metrics).
    The Repeated Motif
    The Poet’s repeated underlining of the expressions concerning the sea, the abyss, the “great waters” or the rivers inside the sea–in four psalms and in several chapters of Latter Prophets–produce a similar motif in “Seamarks.” The refrain “la Mer totale m’environne” (282) ["the total Sea encompasses me"]–alternatively succeeded by “la mer égale m’environne” (342) ["The level sea surrounds me"] and further “Mer totale du délice!” (368) [total Sea of delight!]–unifies various sections in the poem. This unifying factor, inspired by the biblical redundancy, also takes part in the rhetorical devices for the creation of a certain ritual incantation characterizing Perse’s discourse. Though located in separate sections of “Seamarks,” these allusions refer to the same archetype of the sea/abyss constant first appearing in “Seamarks” 282 (excerpt no. 1, quoted above).
    Reappearing in “Seamarks” sixty pages later, the subsequent passage — excerpt no. 2 below–constitutes a mere variation of the initial parallelism (hence, an additional, though subdued, allusion to the prayer of Jonah).
    Excerpt no. 2
    La mer égale m’environne . . . .
    J’entends battre du sang la sève égale et nourricière–
    ô songe encore que j’allaite!
    (342)
    [The level sea surrounds me . . . .
    I hear beating in the blood the steady, nourishing sap--
    O dream again that I nurse!]
    In this new context, the parallel clauses–“La mer égale” / “la sève égale” ["the level sea" / "the steady sap"]–draw a concrete analogy between the outer world (nature; water cycle) and the inner world (human; blood cycle). Connected furthermore by metonymical relations (the blood in the vessels represents the fluid in nature), these motifs illustrate illustrate a central theme throughout the entire poem, devoted to both sea and love (“Amers” echoing “amour”). [End Page 203]
    Next appearing as a motif in “Seamarks” 347-48–excerpt no. 3 below–the sea/abyss structure is substituted by the fixed pair sea/river (again using the biblical terminology common to the sea-epic contexts).
    Excerpt no. 3
    M’es-tu le fleuve, m’es-tu la mer? ou bien le fleuve dans la mer?
    M’es tu la mer elle-même voyageuse, où nul, le même, se mêlant, ne s’est jamais deux fois mêlé?
    (347-48)
    [Are you to me the river, are you to me the sea? or indeed the river in the sea? Are you the voyaging sea itself, which no one entering twice has ever twice found the same? . . .]
    On the thematic level, the allusion to the ancient motif of “waters within waters” is used to symbolize the fusion between the lovers (the main figures in “Seamarks”), thus enriching the new semantic field with a broader perspective. The process of integration is furthermore strengthened by various figurative devices. Here, the initial phonemes /f/ /m/ /l/ of the sea/river constant–“le fleuve”/ “la mer”–are orchestrated by a multitude of alliterations, thus intensifying their phonological assimilation within the new context. Developing phonological relations within the soft feminine stereotype, these signifiers later fuse within the broader scope of liquid elements, representing the dynamic sea; thus–
    femme / faîblesse/ fleuve [woman/weakness/river] are replaced by
    la mer/le même/mêlant/mêlé [the sea/the same/melting/melted].
    Likewise, the fourth passage–excerpt no. 4 below (“Seamarks” 368)–develops a pseudo-etymological relation between the initial “délice” [delight] on page 282, and the later “délit” [transgression], redoubling their sounds by anaphores, inner rhymes, or simple repetitions.
    Excerpt no. 4
    En toi mouvante nous mouvant, nous épuisons l’offense et le délit. ô Mer de l’ineffable acceuil et Mer totale du délice.
    (368)
    [In you moving, we move, rejoicing in the offence and the transgression, O sea of the ineffable welcome and total Sea of delight!] [End Page 204]
    Retrospectively, it seems as if the segregated parts of the original context–excerpt no. 1–reappear in excerpts no. 2 and 4, complementing one another. Indeed, the distant clauses–“La Mer égale m’environne” / “(ô) Mer totale du délice” [The level sea surrounds me" / "(o) total Sea of delight!"]–reflect the initial parallelism. Appearing as far as sixty, then eight-six (!) pages later (p. 342 and p.368 in “Seamarks”), they “reconstruct” the matrix:
    “la Mer totale m’environne. / L’abîme infâme m’est délice”
    ["the total Sea encompasses me. / The infamous abyss is delight to me"]
    The Multidimensional Collage: Jonah / Heraclitus
    A dual allusion to Heraclitus accompanies the biblical code within the poem “Seamarks,” mainly within the context in question, including the allusion to Jonah (excerpt no. 1 above). The new allusions refer to prominent aspects in the personality and the writings of the pre-Socratic philosopher: evidently, the popular approach to Heraclitus is evoked in the rhythmic refrain–“Ils m’ont appelé l’Obscure et j’habitais l’éclat”[They called me the Dark One and I dwelt in radiance]–which appears immediately after the allusion to Jonah (O.C. 282) and in surrounding passages (O.C. 281, 283).
    Heraclitus’ well-known epithet, “the dark one,” was attributed to him for his enigmatic and aloof character, “a riddler” speaking in a vague oracular style. As such, he constitutes a natural object of identification for Perse who also, while expressing himself in an authoritative and polished tone, sounds (at first reading, at least) muffled and perhaps even “hermetic”, as some tended to claim regarding his poetry. A more subtle reference to the writings of Heraclitus is encoded at the beginning of the verse in question–“Plus que l’année appelée héliaque en ses milles et milliers de millénaires . . .” ["More than the Year called heliacal in its thousands and millions of milleniums . . ."].
    Heraclitus frequently discusses the element of fire and the quality of the ever renewing sun-fire in regard to the Great Year and to the cosmic conflagration, periodically bringing the universe to a catastrophic end: the sun cycle–“the Year called Heliacal,” evoked by Perse–endures for ten thousand years. (According to ancient astronomical speculations, once every 10,800 [360 x 30] years, there occurs a meeting between the sun cycle and five specific planets in the galaxy, indicating the maximal age of the existence of humanity.) 14 This background provided the above-quoted passage of the poem with the indication of time: the Heliacal [End Page 205] year (Helios meaning the sun), though subject to periodical regeneration, designates eternity.
    Perse gathers together in one unit the elements of water and fire, the elements of space and time, the cultures of the East and the West. The figurative implications of these curiously juxtaposed cultures (between the biblical and Hellenic worlds) result in a grand metaphor in which distant semantic units belonging to unrelated codes fructify one other in a blending of inter-textual strata. What seemed a simple stylistic use of the collage technique–“patching” an isolated setting of a borrowed syntagma in the poetic language–develops into a more complex effect, finally emerging as a system.
    Indeed, as the poem continues, a third allusion to Heraclitean elements arises, once again along with the obvious allusion to the biblical sea-epic. This is demonstrated in the passage numbered excerpt 3 above, dealing with “the river in the sea . . . which no one entering twice has ever twice found the same.” In the final occurrence, Heraclitus provides (upon the biblical code) the element of water (!) by way of his famous dictum: “One cannot step twice into the same river” (or, in a variation: “A man can be said both to step and not-step into the same river”) for “as he steps in, fresh waters ever flow upon him.” 15
    However, it seems that the collage combining the Greek/Jewish polarities contains further biblical (mainly Old Testament) elements. As a point of fact, the entire passage in “Seamarks” (282) beginning with the superlative structure–“Plus que” [More than"]–perfectly matches the syntactical structure of Psalm 93:4, using the same hyperbolical style, most preferable for expressing superiority relationships. A mere glance at the biblical source (underlined by the poet in his personal Bible) reveals the high correlation between the two texts: “Plus que la voix des grandes eaux, les vagues puissantes de la mer, Yahweh est admirable dans les hauteurs” ["The Lord on high is mightier than the noise of many waters . . . than the mighty waves of the sea"].
    Articulating further intertextual relations with his artistic text, the poet introduces pagan-worship elements into the borrowed biblical structure, in which the monotheistic archetype is replaced by Helios, God of Light and Sun in Greek mythology. Consequently, the “Heliacal Year” of “Seamarks”, referring to eternal time-measures in Heraclitus’ Fragments, bears–on the semiotical level–the additional, though implicit idea of “heavenly light,” soon relinquishing its superiority in favor of the “dark abyss,” “More delicious” in the eyes of the poet.
    At this stage of our close examination of the biblical influence on Perse’s discourse, we may realize that the biblical allusions are not meant [End Page 206] to express affinities to Jewish or Christian theology or morals. It would rather seem that they serve mainly for metapoetic purposes.
    In fact, the difficulties Perse encounters in introducing the biblical referent into his polyphonic discourse–desiring, at one and the same time, to moderate its imposing effect–become a fertile element for his poetry. Comparisons with Occidental cultures, phonological integration, desecration and parodying stylistics in the new context are, from this perspective (among the various solutions found to the formerly mentioned intertextual problem), mere control mechanisms in the use of biblical references. Yet remains the enigmatic dilemma of the poet’s conflicting–but nonetheless overly-mimetic–borrowings from the Bible.
    From a general point of view, we may affirm that by its deconstructive methods, Perse’s discourse reflects the modern poetics representing “the ever renewed attempt of self-definition by rejection of a past” (Jauss 260). However, in light of his specific choice of controversial biblical themes, such poetics take part–on the metapoetic level–in Perse’s broader confrontation with the idea of biblical authority. Supported by the vociferous model of the rebellious Sea (as clearly expressed in Psalm 93), the Poet develops a rival relationship in respect to the Demiurge, based upon the concept of Creation by voice. Perse creates a metatextual dialogue with the Holy Scriptures in their own language–attempting to vivify the verbal experience in a present, non-temporal, rather universal scope.
    Confronting the Demiurge, the poet doubts–up to the final verses of his poetical work–his autonomous condition. 16 Is he condemned to imitate God’s Creation or can poetry attain the original powers of abyss and waters, hinted at in the Genesis myths and remanipulated in the discourse of the prayer of Jonah.

    Delicious Abyss: The Darkness Alkitab dalam Puisi Saint-John Perse
    Judith Kopenhagen-Urian Judith Kopenhagen-Urian

    Urutan alusi doa Yunus seluruh puisi panjang “Amers” ["Seamarks"] menguraikan tema-tema yang diambil dari laut epik-alkitabiah. 1 Terinspirasi oleh semantik serta nilai-nilai prosodical sumber Alkitab (Yunus, bab II , digarisbawahi oleh penyair itu), sindiran ini menggabungkan empat fungsi diamati pada kita gunakan Perse Alkitab: perspektif kontras, yang kiasan terstruktur (bentuk-logika), motif berulang, dan kolase “”. 2
    Contoh pertama pengobatan intertekstual tersebut mengacu pada doa Yunus muncul di bagian pertama dari “Seamarks”, bagian II (kutipan no). 1 selanjutnya:
    Plus que l’année appelée héliaque en ses milles Plus l’année que en appelée héliaque sesi milles
    De millénaires ouverte, la Mer totale m’environne. De millénaires ouverte, La Mer m’environne totale.
    L’abîme infâme m’est délice et l’immersion divine L’abîme infâme m’est délice et l’perendaman ilahi
    Ils m’ont appelé l’Obscure et j’habitais l’éclat. ILS m’ont appelé l’et l’Abstrak j’habitais kemasyhuran.
    (282)
    [Lebih dari Tahun yang disebut matahari dalam ribuan dan jutaan
    Dari milleniums, buka, total Laut meliputi saya.
    Jurang terkenal adalah menyenangkan bagi saya, dan perendaman, ilahi. . . . . . .
    Mereka menelepon saya Satu Dark dan aku tinggal di cahaya.] 3
    Sementara penyair kuno, dalam nama Yunus, menyesalkan kondisinya, “tertutup di kedalaman… Bulat tentang… Di tengah-tengah laut,” menggunakan Perse yang topoi yang sama untuk mengekspresikan kesenangan, sehingga membalik [Alkitab Akhir Page 195] perspektif. Namun, referensi Alkitab memiliki konsekuensi lebih lanjut dalam Perse puisi.
    ” -Laut / struktur jurang dari paralelisme asli yang sempurna tercermin dalam wacana Perse dalam semua variasi motif, muncul di bagian lain dari “Seamarks.”
    -Rujukan kepada doa Yunus selanjutnya selalu disertai dengan sindiran yang paling jelas untuk Heraclitus, dalam kolase multi dimensi yang menggabungkan budaya Barat-Timur.
    Kita mungkin bertanya: bagaimana dan untuk tujuan apa itu penyair mengubah kata-kata dari Alkitab sehingga menciptakan oksimoron dengan “jurang lezat,” cukup mengekspresikan arti kebalikan dari sumber? Jawabannya dapat ditemukan dalam pertimbangan rinci dari empat fungsi yang disebutkan di atas.
    Perspektif Kontras
    Aspek Tematik: Dalam kiasan untuk doa Yunus (Seamarks “II, OC 282), ada dua tema berpotongan pusat berkaitan dengan hukuman dalam Kitab Yunus, baik pada narasi dan tingkat teologis.
    Kedua tingkat tematik arah sebaliknya dalam mode khas Perse: saat shock dan hukuman kehilangan aspek negatif; kedekatan laut melambangkan menghapus rantai dan ledakan dari gaya hidup yang terkandung dalam diri manusia dan alam.
    Dalam rangka untuk menunjukkan inversi dilakukan oleh Perse dalam sumber-sumber Alkitab nya, mari kita menelusuri kedua tahap hukuman, digarisbawahi oleh penyair dalam Alkitab pribadi. Tahap pertama, yang tokoh-tokoh dalam cerita garis besar, terdiri dalam dirinya sendiri dari tiga dakwaan hukuman (Kitab Yunus, bab 1,3,4).
    Dalam bab 1, keluar Yunus dari Allah ke arah laut, sehingga berusaha untuk menahan diri dari pemenuhan misi-Nya, yang memperingatkan dan untuk bernubuat hukuman atas penduduk Niniwe – agung “kota.” Kemudian, Yunus sendiri segera dihukum karena reaksi pemberontakan oleh badai mengancam kapalnya di semacam “pra-hukuman.” utama hukuman’s Yunus dibawa ketika ia dilemparkan ke laut oleh para pelaut, akhirnya ditelan oleh “seekor ikan besar.” Yunus sekarang ditinggalkan dengan kekuatan mengerikan dan implores Allah untuk menyelamatkannya dari kedalaman yang mengancam. Dalam bab 3, misi Yunus akhirnya sempurna dicapai: orang-orang Niniwe tidak bertobat dari mereka yang jahat, yang telah tersentuh oleh peringatan Allah. Namun, dalam bab 4, tema hukuman belum muncul kembali dalam momentum lain: sedangkan nabi frustasi pensiun luar kota, labu di mana ia telah menemukan keteduhan mengering semalam. Persepsi universal Ketuhanan yang tertanam di Kata-kata Tuhan kepada Yunus; [End Page 196] perawatan manusia, itu ciptaan Tuhan, akan dimasukkan dalam analogi yang peduli Yunus untuk pabrik yang “tidak bahkan kerja pada,” tapi masih menyesali itu mengering.
    Perse menggaris bawahi dalam Alkitab semua ayat menghadapi mereka tahap hukuman, dengan tujuan nyata dari kemudian memutarbalikkan artinya. Yang melarikan diri dari Niniwe – mirip dengan melarikan diri dari Sodom, mengisyaratkan di kemudian di “Seamarks” dalam acuan kepada istri Lot (OC 374) – mungkin melambangkan, dalam puisi Perse, krisis positif karena meninggalkan nilai-nilai dekaden masa lalu. Perjalanan ke laut adalah arah yang benar dan badai adalah pengalaman menyenangkan dan bukan hukuman.
    Dari reserved sikap yang Perse terhadap otoritas ilahi, sebuah drama ironis peran diciptakan oleh silih bergantinya antara Allah yang ketat, ekstrim dalam semangatnya, dan belas kasihan dan mengampuni karakternya. 4 Dalam Story Yunus (misalnya, dalam bab 3, ayat 10 dan 11) aspek dikotomis Allah Alkitab sebenarnya ditemui dalam sebuah cara yang paling terkemuka.
    Tahap kedua, Yunus doa, di mana latar belakang mitologis dari epik-laut kuno terjalin erat, seputar punishmentof laut memberontak oleh semua Allah yang kuat. Faktor mitologis muncul dalam kata-kata doa yang diucapkan oleh Yunus dari perut ikan besar di tengah-tengah laut (Kitab Yunus, bab 2) Ayat 3-4, mendahului segmen dipinjam dikutip di atas (kutipan no. 1), jelas menggunakan istilah ruang yang sama (tentang kedalaman laut) yang berkaitan dengan mitos kuno:
    ONT yg ketinggalan jaman sur moi.
    [Dari perut neraka seruku. . . . . Sekarang engkau membuang aku ke dalam, di tengah-tengah laut, dan banjir dikepung saya tentang; semua pemecah gelombang-Mu dan Mu melewati saya.]
    Yunus 2; 2-3 dalam versi King James yang berwenang.
    Cerita dari laut epik kuno, mengkristal dalam konstanta struktural (atau parallelisms tetap), memiliki asal-usulnya dalam budaya pra-Semit. 5 Sangat diuraikan dalam Alkitab, ini menelusuri perjuangan antara jurang (atau kedalaman [Akhir Halaman 197] laut) dan unsur-unsur superior (Allah dengan guntur dan kilat sebagai senjata surgawi).
    Perse mengikuti sumbu narasi ini, merekonstruksi, oleh disengaja underlinings bukan, sebagai reminiscenses sebanyak mungkin dari epik-laut kuno, dalam beberapa bagian Alkitab. Kami menemukan underlinings seperti dalam Kitab Mazmur, dalam bab-bab terisolasi secara eksklusif ditujukan untuk tema tersebut. Bahkan, penyair pilihan terbatas untuk empat Mazmur (77, 93, 104, 107) antara seratus lima puluh mazmur dinyatakan diabaikan dalam membaca tentang itu volume crampon. Di tempat lain, penyair underlinings campuran dengan tema lainnya, seperti pada Zaman Akhir nabi, seperti Yunus, Nahum atau Habakuk.
    Jejak Perse bab-bab yang sesuai dalam Pentateukh juga. Musa ‘Song Laut, peristiwa Air Bah dan cerita Penciptaan adalah, dalam perspektif ini, elaborasi hanya pada tema kuno yang sama, menggambarkan “Great Waters” dijinakkan oleh Yang Mahakuasa. Perse’s underlinings dalam teks orientalis ‘sekolah menyejajarkan unsur-unsur umum di Sumeria, Kanaan dan mitos Alkitab. Jadi, jika Yesaya menyebutkan nama pusat dewa laut – seperti “sombong Rahab,” atau laut / jurang naga (51: 9, 10) – itu adalah dalam studi René Berthelot menggarisbawahi bahwa Perse referensi untuk ” Rahab “tandasnya dikutip dari” Yesaya Kedua “. 6 Perse juga diinformasikan, dalam studi yang disebutkan di atas, dari antagonis alkitabiah lainnya Allah, seperti Baal, dewa kesuburan Kanaan. Digarisbawahi di sini juga, ini referensi terakhir kemudian akan muncul (menurut perspektif kontras) dalam menahan diri untuk tidak signifikan “Seamarks” – memuliakan kekuatan laut. Semua dewa, sistematis ditekan dalam Alkitab, mencapai tingkat tertentu rehabilitasi dalam wacana Perse’s.
    Bab 93 dalam Kitab Mazmur dan bab 2 dalam Yunus (baik secara ekstensif crampon digarisbawahi dalam Alkitab) memberikan contoh yang paling mengesankan aktivitas intertekstual tersebut. Mengacu pada epik-laut Alkitab, Perse mengadopsi model tapi membalikkan isi: jika Kemenangan Tuhan atas pasukan kacau bisa dianggap suatu pelanggaran untuk alam, Perse akan menetapkan perintah lain (atau hirarki). Dalam wacana laut mendapatkan kembali kekuatan titanic nya, dihalangi oleh intervensi dari Demiurgus.
    Aspek semantik: ini observasi tentang pra-teks intertekstual mengangkat masalah lebih lanjut.
    Apakah ada interaksi semantis antara unsur-unsur leksikal yang diambil dari Alkitab dan konteks modern tetangga referensi Alkitab? dan jika demikian, bagaimana pengaruh strata Alkitab yang semantisation wacana puitis?
    Pada titik ini, akan sangat bernilai untuk merujuk Lotman’s persepsi Jurij berkaitan dengan struktur teks artistik. 7 Menurut Lotman, [Akhir Halaman 198] yang menggunakan contoh puisi Lermontov, “Doa,” yang khas wacana puitis didasarkan pada keberadaan simultan dari beberapa kode mengambil bagian dalam deskripsi, saling mengubah makna aslinya. puisi Lermontov menggambarkan interaksi antara dua kode budaya. Di satu sisi, ada atau lebih tepatnya kode agama Kristen, menunjuk ke oposisi spasial konvensional (Tuhan / bumi, terang / gelap, hidup / mati; baik / dosa). Di sini, seperti Lotman menentukan,
    julukan atas “kuburan” memiliki semantik ganda. Memerlukan kode semantik pengertian tentang kehidupan duniawi sebagai kematian, imbangan untuk “hidup yang kekal” setelah kematian. Pada saat yang sama, julukan itu menggabungkan semantik spasial dari “kuburan,” dalam ruang tertutup (dan gagasan bahwa ini adalah dunia sebuah jurang berbeda dengan surga, dan neraka adalah sebuah jurang kontras dengan dunia). (246) (246)
    Di sisi lain, puisi mengembangkan rantai dikotomis tambahan yang berasal dari kode romantis (disandingkan dengan mantan satu). Berikut kegelapan terletak di kedalaman jiwa di mana “aku” merayakan hasrat duniawi yang lebih ke “abstrak cahaya surgawi.” Akibatnya, sama topoi (atau istilah spasial) setelah dibebaskan dari devaluasi tradisional, menunjukkan dunia dalam luas, menentang sempit “jalan keselamatan Kristen.” Dengan kata Lotman’s,
    baris – “Saya menyukai kegelapan kuburan bumi / dengan segala nafsu” – ganti gambar. Mereka masih sesuai dengan sistem umum kode budaya,. . . . . tetapi mereka memberikan teks orientasi berlawanan: bukannya “Mahakuasa,” yang berdosa “saya” dipilih sebagai titik pandang. Dan dari sudut pandang ini, “Kegelapan kuburan bumi…” can end up being an object of love. dapat berakhir menjadi objek cinta. (247) (247)
    Semacam “dual semantik,” di mana “dosa” tidak lagi menjadi julukan mengecam “dihakimi oleh hukum asing agama dan moral,” fungsi dalam cara yang sama dalam’s wacana Perse (kutipan no). 1 di atas menyimpulkan dengan kalimat: ” Mereka menyebut saya Satu Dark, dan aku tinggal di cahaya. ”
    Kita bahkan mungkin mengadopsi lebih lanjut persepsi’s Lotman tentang karakteristik Dantesque (sama-sama terbalik dalam puisi Lermontov) sebagai kode tambahan yang berlaku untuk puisi Perse: “untuk Dante gelar salah satu dosa sesuai dengan tingkat kedalaman dan penutupan, sedangkan tingkat kekudusan sesuai dengan tingkat ketinggian dan keterbukaan “(246). 1 (diambil dari “Seamarks,” OC 282), akan menjadi versi lain – atau inversi – terkenal gagasan’s Dante kedalaman (yang sesuai dengan pemikiran Kristen Neraka) Akhir. [Page 199]
    Pada titik ini dalam analisis kita tentang itu wacana Perse, kita harus mengabaikan kemungkinan suatu konotasi,-bebas membaca bersalah (meskipun sendiri deklarasi’s Perse menyangkal sindiran alkitabiah dalam puisi-puisinya). 8 Kode alkitabiah dalam pra-Kristen bentuknya memang baik digabungkan ke dalam wacana “Seamarks.” Penyair’s underlinings dalam Kitab Yunus, bab II – pada bagian yang mencerminkan pra-Semit, epik Kanaan-laut – mengungkapkan tingkat tinggi korelasi antara dua teks.
    Bagian ini digarisbawahi dalam Alkitab pribadi penyair – “Les Eaux m’avaient enserré jusqu’à l’ame. / L’abîme m’environnait” ["Air dikepung padaku, bahkan jiwa; kedalaman ditutup saya bundar tentang "] – sempurna cocok dengan baris” “Seamarks -” totale m’environne La mer / abîme infâme L’délice m’est “[" total Laut mencakup saya /-Jurang terkenal adalah menyenangkan bagi saya "] – latihan metafora yang sama, citra yang sama dan lexemes yang sama, walaupun untuk menentang tujuan, yang merupakan unit semantik utama” “yang umum untuk kedua teks:
    total laut sekitarnya pembicara
    (Penutupan dalam Alkitab / keterbukaan dalam puisi itu);
    reaksi emosional
    (Perasaan bersalah dalam kegembiraan Alkitab / yang kuat dalam puisi itu);
    ruang dalam, menyebar ke dimensi dari jurang mitologis (“di luar dunia,” dalam Alkitab / seluruh dunia “,” dalam puisi itu)
    Akhirnya, banyak seperti Yunus ketika masuk dalam kontak dengan laut, pembicara dari “Seamarks” menghadapi pertanyaan-pertanyaan teologis mengenai’s ubiquity teladan Allah. Mendefinisikan “perendaman” sebagai “ilahi,” terwujud Perse penggunaan yg berlebih-lebihan Allah komponen “”, sedangkan saya “” menggantikan Allah dalam pertanyaan-pertanyaan tentang kehadiran di mana-mana.
    Sebenarnya, di’s wacana Perse, banyak theophorical genitive-struktur (“L’Esprit de Dieu,” “Faveur de Dieu” atau “ilahi pelanggaran”) mengacu pada makna literal dari komponen genitif – menyatakan sesuatu yang “luar biasa besar atau kuat, “arti ditunjukkan oleh Spinoza dalam penafsirannya tentang metafora alkitabiah. 9 Oleh karena itu,’s epik Perse (terlepas dari perbedaan panjang dan genre) terutama berbeda dari puisi romantis Lermontov dalam perspektif topotogical lebih besar: di sini (dalam “Seamarks”) yang untuk memperluas ruang melampaui proporsi kosmis, menurut gambar sangat dari Chaos preluding tindakan Penciptaan.
    Pentingnya perawatan disengaja seperti bahan alkitabiah oleh penyair modern terletak pada kenyataan bahwa tanpa kode mengesankan dari pra-teks Kudus, pengaruh tantangan untuk berpikir tradisional akan [Akhir Halaman 200] tidak sebagai pedih. Didukung oleh ‘pembangunan Jauss dari topologi sistem Lotman (“subur [karena] mampu membuat dibayangkan struktur subuniverses delimited”), 10 kita dapat menambahkan bahwa hal tersebut akhir-pola dasar tata ruang, kekacauan primordial, “ditematisasikan” di Perse’s teks kesenian, yang “memberinya bentuk kesempurnaan seperti model” (277).
    The Allusion Terstruktur
    Terinspirasi oleh paralelisme Alkitab, rekan penyair itu dengan rujukan Alkitab (sebagai ciri khas). ayat Perse’s akibatnya terorganisir, tidak hanya dalam arti langkah-langkah klasik, seperti yang ditunjukkan dengan seksama oleh Emilie Noulet dan Henri Meschonnic, 11 tetapi juga oleh isochronic, pulsa terukur dari parallelisms tonal, sehingga meniru verset “Alkitab.”
    Seperti halnya dalam ayat di “Seamarks” (282) – kutipan no. 1 – berisi tiga pulsa di setiap sisi penggalan tersebutSeperti dalam puisi alkitabiah, diatur oleh prinsip-prinsip bentuk biner, 12 ‘s paralelisme Perse adalah simetris dibuat dengan dilihat komponen setara, dibagi menjadi dua bagian atau bahkan hemistichs. Wacana merujuk pada sumber-sumber alkitabiah adalah lebih lanjut diatur oleh alat ritmis, dan sintaksis pola fonologis, ditumpangkan pada satu sama lain dalam hubungan biner interreflective. Ini memperdalam perbandingan dengan pasangan tradisional (seperti laut / jurang, laut / sungai, atau void / kegelapan model Kejadian). Pada semua peristiwa, agak terselubung paralelisme Perse, dipotong atau diiris keluar dari sebuah ayat berjalan, scarely mengganggu-ayat prosodi bebas terlihat yang dominan dalam wacana modern nya. 13 Namun, Penyair menggunakan paralelisme Alkitab –

  7. Rahmi Agustina
    20/06/2010 pukul 2:53 pm

    Nama : Rahmi Agustina
    NIM : A1B107235
    Program Studi : PBSI
    Mata Kuliah : Sastra Perbandingan (Reg. B)
    Tugas : Remedial UTS-(Mencari tiga buah abstak yang berkenaan mata kuliah sastra perbandingan)

    1). http://docs.lib.purdue.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1280&context=clcweb
    CLCWeb: Sastra Perbandingan dan Budaya
    Abstrak: Dalam makalahnya, “Estetika dan Audiovisual Metafora dalam Media Persepsi,” Kathrin
    Fahlenbrach presents a model of audiovisual analysis where focus is on audiovisual aesthetics Fahlenbrach menyajikan model analisis audiovisual di mana fokus adalah pada estetika audiovisual
    perceived physically and affectively. dirasakan secara fisik dan afektif. Fahlenbrach starts out from the assumption that image and Fahlenbrach bertolak dari asumsi bahwa gambar dan
    sound are inseparable in audiovisual media and must be treated as a unit, a “synchresis” (Chion). suara yang tak terpisahkan dalam media audiovisual dan harus diperlakukan sebagai sebuah unit, sebuah synchresis “” (Chion).
    Fahlenbrach proposes that only this premise is able to cover the pre-consciously perceived Fahlenbrach mengusulkan bahwa hanya premis ini mampu menutupi pra-sadar dirasakan
    elements sufficiently, namely the sensorial and affective structures of audiovisual aesthetics. cukup unsur, yaitu pancaindra dan afektif struktur estetika audiovisual.
    Fahlenbrach articulates some aspects for an audiovisual aesthetics that concentrate on the Fahlenbrach mengartikulasikan beberapa aspek untuk estetika audiovisual yang berkonsentrasi pada
    interfaces between audiovisual perception and audiovisual design and employs to this end the antarmuka antara persepsi audiovisual dan desain audiovisual dan mempekerjakan akhir ini
    Aristotelian concept of aisthesis. Konsep Aristotelian aisthesis. Following the theory of cognitive metaphors (Lakoff and Johnson), Setelah teori metafora kognitif (Lakoff dan Johnson),
    Fahlenbrach assumes that audiovisual codes and signs always rely fundamentally on schemata of Fahlenbrach mengasumsikan bahwa kode audiovisual dan tanda-tanda selalu bergantung pada skema yang mendasar
    physical and affective experience. fisik dan afektif pengalaman. Following George Lakoff and Mark Johnson, Fahlenbrach regards Setelah George Lakoff dan Mark Johnson, Fahlenbrach salam
    the mapping of physical schemata onto acoustic, visual, and, respectively, audiovisual elements in pemetaan dari skema fisik ke akustik, visual, dan masing-masing, unsur audiovisual dalam
    the media as a metaphorical process. media sebagai proses metafora. Drawing on an example of film sound, she explains how Menggambar pada contoh suara film, ia menjelaskan bagaimana
    filmmakers project acoustic qualities onto visual Gestalt patterns and thereby construct audiovisual proyek film kualitas akustik ke pola Gestalt visual dan dengan demikian membangun audiovisual
    metaphors that we recognize immediately and long before we reflect on them, that is, they metafora bahwa kita mengakui segera dan jauh sebelum kita merenungkan mereka, yaitu, mereka
    activate meanings that rely on basic experiences of our body. mengaktifkan makna yang mengandalkan pengalaman dasar dari tubuh kita.
    Kathrin FAHLENBRACH
    Estetika dan Metafora dalam Media Audiovisual Persepsi
    Translated from the German by Benjamin Kraft Diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Benjamin Kraft
    Ketika membalik-balik saluran televisi dengan remote kita, kita baik tertarik atau ditolak oleh
    the tiny fragments of sounds and images. fragmen yang kecil suara dan gambar. The complex set of acoustic and visual information Set kompleks dan informasi visual akustik
    lasting only seconds triggers sensory sensations, affects, associations, and particles of knowledge detik hanya berlangsung memicu sensasi sensorik, mempengaruhi, asosiasi, dan partikel pengetahuan
    that already influence our decision to stay either on one channel or to continue the flipping yang telah mempengaruhi keputusan kita untuk tetap baik pada satu saluran atau untuk melanjutkan membalik
    through the channels. melalui saluran. It is not only the highly conventionalized and socio-cultural codes we have Hal ini tidak hanya sangat conventionalized dan kode sosial-budaya kita
    that allow such a quick classification. yang memungkinkan seperti klasifikasi cepat. On a deeper level, it is the audio-visual direction of primary Pada tingkat yang lebih dalam, itu adalah arah audio visual primer
    sensory features that, within fragments of seconds, can be analyzed in their succinctness by our indra fitur itu, dalam fragmen detik, dapat dianalisis dalam kekompakan mereka dengan kami
    system of perception in a psycho-sensory and affective manner. sistem persepsi dalam sensorik dan afektif secara psiko. Cutting rhythm, color intensity, Pemotongan irama, intensitas warna,
    visual and acoustic tone color, visual and acoustic surface textures, that is, primary sensory visual dan nada warna akustik, akustik permukaan tekstur dan visual, yaitu, primer indra
    stimuli, which control perception in a first step and which are experienced especially intensely in rangsangan, yang mengendalikan persepsi pada langkah pertama dan yang sangat berpengalaman terutama di
    their audio-visual heightening. audio-visual mereka menegang. In this study, I present criteria with which an aesthetics of Dalam studi ini, saya mempresentasikan kriteria dengan mana sebuah estetika
    audiovisual media can be described; described as an aesthetics of perception that occurs along our media audiovisual dapat dijelaskan; digambarkan sebagai estetika persepsi yang terjadi sepanjang kami
    sensory and affective experience. pengalaman sensori dan afektif. I propose that such a model of aesthetics could be understood Saya mengusulkan agar seperti model estetika bisa dipahami
    as located prior to the workings of cultural codes, schemas, and plots which in fact orient viewers sebagai terletak sebelum kode budaya kerja, skema, dan plot yang berorientasi fakta pemirsa
    cognitively to look at the television or movie screen. kognitif untuk melihat televisi atau film layar. I also attempt to show how structural Saya juga berusaha menunjukkan bagaimana struktur
    interfaces between the primary psycho-sensory process and the technical and aesthetical (artistic) antarmuka antara proses psiko-sensorik primer dan teknis dan estetika (seni)
    forms of audiovisual media occur. bentuk media audiovisual terjadi. In order to ground my understanding of interfaces between Dalam rangka ke tanah pemahaman saya tentang antarmuka antara
    aesthetic perception and aesthetic experience, I introduce the concept of aisthesis, a notion that persepsi estetis dan pengalaman estetis, saya memperkenalkan konsep aisthesis, gagasan yang
    has received, more recently, new significance and relevance in the study of media aesthetics. telah menerima, akhir-akhir ini, makna baru dan relevansi dalam studi media estetika.
    Further, I develop in my paper the concept of audiovisual metaphors based on the theory of Selanjutnya, saya mengembangkan di koran saya konsep metafora audiovisual berdasarkan teori
    cognitive metaphors by George Lakoff and Mark Johnson. metafora kognitif oleh George Lakoff dan Mark Johnson. Following a brief discussion of some Setelah diskusi singkat dari beberapa
    recent approaches in cognitive film psychology, in the last part of my paper I illustrate the pendekatan baru dalam film psikologi kognitif, di bagian terakhir kertas saya mengilustrasikan
    proposed model of audiovisual metaphors with regard to film. model yang diusulkan metafora audiovisual berkaitan dengan film.

    2). http://etd.lsu.edu/docs/available/etd-0408103-104408/unrestricted/Boldor_thesis.pdf.
    SASTRA ON PERSPEKTIF PERBANDINGAN
    Sebuah Tesis
    Submitted to the Graduate Faculty of the Diserahkan kepada Fakultas Pascasarjana dari
    Louisiana State University Louisiana State University
    and Agricultural and Mechanical College dan Pertanian dan Mekanik College
    in partial fulfillment of untuk memenuhi sebagian
    the requirements for the degree of persyaratan untuk tingkat
    Master of Arts Sarjana sastra
    in di
    The Interdepartmental Program Program Antar
    in Comparative Literature dalam Sastra Perbandingan
    oleh
    Alexandru Boldor Alexandru Boldor
    BA, Babes-Bolyai University, Cluj BA, Babes-Bolyai University, Cluj
    May 2003 Mei 2003

    Abstrak
    The main objective of this dissertation was to provide Tujuan utama dari disertasi ini adalah untuk memberikan
    researchers interested in the history and evolution of peneliti tertarik pada sejarah dan evolusi
    “comparative literature” with a collection of references “Sastra perbandingan” dengan koleksi referensi
    delineating melukiskan
    the itu
    evolution evolusi
    of dari
    the itu
    concept konsep
    and dan
    the itu
    development of academic departments dedicated to its study. pengembangan departemen akademis yang didedikasikan untuk penelitian itu.
    The paper includes a first section describing the main Makalah ini mencakup bagian pertama menggambarkan utama
    issues contributing to the “identity crisis” with which masalah kontribusi terhadap krisis identitas “” dengan yang
    studies studi
    and dan
    departments departemen
    defining mendefinisikan
    themselves diri
    as sebagai
    “comparative” were consistently confronted ever since the “Perbandingan” secara konsisten dihadapkan sejak
    term was coined. istilah diciptakan.
    The “preliminary concepts” section offers an overview The “konsep awal” bagian menawarkan gambaran
    of the elements that usually confer a “comparative” quality unsur-unsur yang biasanya memberi suatu “perbandingan” kualitas
    to a literary study, such as interdisciplinarity and sebuah studi sastra, seperti interdisciplinarity dan
    multiculturalism, together with a few relevant definitions multikulturalisme, bersama-sama dengan beberapa definisi yang relevan
    (in chronological order) describing the commonly accepted (Dalam urutan kronologis) yang menggambarkan umum diterima
    meaning of the term at a particular point in time. arti istilah tersebut pada titik tertentu dalam waktu.
    The next chapter, “chronological overview”, continues Bab selanjutnya, “kronologis”, terus
    the itu
    analysis analisa
    with dengan
    additional tambahan
    details, rincian,
    references referensi
    and dan
    comments also in chronological order, dividing the matter komentar juga dalam urutan kronologis, membagi masalah
    in sub-chapters dedicated to as many historical periods, di sub-bab didedikasikan sebagai periode sejarah yang banyak,
    from the Antiquity until the mid-20 dari Kuno sampai pertengahan 20
    th th
    century. abad. A separate Sebuah terpisah
    section, offers a review of the most important institutions bagian, menawarkan review dari institusi yang paling penting.

    3). http://www.blogs.uni-osnabrueck.de/dondelillo/participants/cvs-abstracts/

    Silvia Caporale Bizzini
    Silvia Caporale Bizzini received her PhD from the University of Alicante with the thesis “On power and ideology: Foucault, Barthes and the construction of gender in contemporary novel in English”. Silvia Caporale Bizzini menerima gelar PhD dari University of Alicante dengan tesis “Pada kekuatan dan ideologi: Foucault, Barthes dan pembangunan gender dalam novel kontemporer di” bahasa Inggris. Silvia has carried on her research at the Universities of Oxford, Ulster at Colleraine, and Sheffield, and has been visiting professor at the Universities of Pittsburgh and York (Toronto, Canada). Silvia telah dibawa penelitiannya di Universitas Oxford, Ulster di Colleraine, dan Sheffield, dan telah mengunjungi profesor di Universitas Pittsburgh dan York (Toronto, Kanada). Since 1997, she has been Associate Professor at the University of Alicante, where she teaches English Literature and Cultural Theory. Sejak 1997, ia telah Associate Professor di University of Alicante, di mana dia mengajar Sastra Inggris dan Teori Budaya. From 2002 till 2006, she was the Director of the Women’s Studies Centre there. Sejak tahun 2002 hingga 2006, dia adalah Direktur Pusat Studi Perempuan di sana. Her most recent publications include We, the “Other Victorians”. paling publikasi terbaru nya meliputi Kami, “Victoria Lain”. Considering the Heritage of 19th-Century Thought (2003), Discursos teóricos en torno a la(s) maternidad(es) (2005) and Narrating Motherhoods, Breaking the Silence: Other Mothers, Other Voices (2006). Mengingat Warisan Pemikiran Abad ke-19 (2003) Discursos teóricos, en torno a la (s) maternidad (es) (2005) dan menceritakan Motherhoods, Breaking the Silence: Ibu Lainnya, Suara lain (2006). She has also published a number of articles in national and international academic journals and is currently editing with Andrea O’Really, From the Personal to the Political: Towards a New Reading of Maternal Autobiographies . Dia juga telah menerbitkan sejumlah artikel dalam jurnal akademik internasional dan nasional dan saat mengedit dengan Andrea O’Really, Dari pribadi ke Politik: Menuju Baru Membaca dari Ibu otobiografi.
    ABSTRACT: ABSTRAK:
    Grieving and Memory in Don DeLillo’s Falling Man Berduka dan Memori Don DeLillo Falling Man
    In his critical work on Don DeLillo, Joseph Dewey (2006) points out that “[t]he problem, as Delillo has articulated now across five decades of fiction, is the loss of the authentic self after a half-century assault of images from film, television, tabloids, and advertising that have produced a shallow culture too enamored of simulations, unable to respond to authentic emotional moments without recourse to media models” (6). Dalam karya kritis pada Don DeLillo, Joseph Dewey (2006) menunjukkan bahwa “[] t dia masalahnya, sebagai Delillo telah diartikulasikan sekarang di lima dekade fiksi, adalah hilangnya diri-sejati setelah serangan setengah abad gambar dari film, televisi, tabloid, dan iklan yang telah menghasilkan budaya dangkal terlalu terpikat simulasi, tak mampu menanggapi saat-saat emosional otentik tanpa bantuan model media “(6). Yet in Falling Man , with the tragedy of the Twin Towers in the landscape, such preoccupations seems to fade in order to bring in a group of characters that, instead of trying to locate themselves as individuals within the society of the spectacle, struggle to carry out an introspective process to recover their traumatized self. Namun dalam Falling Man, dengan tragedi Menara Kembar di lanskap, keasyikan tersebut tampaknya memudar dalam rangka membawa sekelompok karakter yang, bukannya berusaha untuk menempatkan dirinya sebagai individu dalam masyarakat tontonan itu, perjuangan untuk membawa dari proses mawas diri untuk memulihkan diri mereka trauma. After September 11, the(ir) old identitary points of reference are shaken; as a result, in Hanna Arendt’s terms, there arises the need of revising, analysing and recuperating one’s history and traditions to escape ontological chaos. Setelah 11 September itu ir () poin identitary lama referensi terguncang; sebagai akibatnya, dalam hal Hanna Arendt, muncul kebutuhan merevisi, menganalisis dan memulihkan sejarah seseorang dan tradisi untuk menghindari kekacauan ontologis. Each of the characters struggles to come to terms with the meaning of what has happened. Masing-masing karakter perjuangan untuk berdamai dengan makna dari apa yang telah terjadi. My point is that Falling Man , in spite of retaining most of DeLillo’s fictional themes and theoretical nodal points, does not aim at being a narrative centred on the spectacle of terrorism and terror. Maksud saya adalah bahwa Falling Man, meskipun sebagian besar mempertahankan tema fiksi’s DeLillo dan titik nodal teoritis, tidak bertujuan menjadi sebuah narasi yang berpusat pada tontonan terorisme dan teror. This novel epitomizes a reflection on how we react to terror and how we seek to come to terms with a reality that is physically, and not only metaphorically, falling into pieces. Novel ini melambangkan sebuah refleksi tentang bagaimana kita bereaksi terhadap teror dan bagaimana kita berusaha untuk berdamai dengan kenyataan bahwa secara fisik, dan bukan hanya kiasan, jatuh menjadi potongan-potongan. Writing becomes, once more, the means of reconstructing tradition and the Real as well as the point of contact between characters that inhabit different existential spheres. Menulis menjadi, sekali lagi, cara merekonstruksi tradisi dan Real serta titik kontak antara karakter yang menghuni lingkungan eksistensial yang berbeda. In Falling Man , the essential elements that define DeLillo’s narrative are not used to represent a collective paranoia but to understand the events that took place on September 11, transform them into collective memory and start the process of healing. Dalam Falling Man, unsur-unsur penting yang mendefinisikan’s naratif DeLillo tidak digunakan untuk mewakili sebuah paranoia kolektif tetapi untuk memahami peristiwa yang terjadi pada tanggal 11 September, mengubah mereka ke dalam memori kolektif dan memulai proses penyembuhan.

  8. Eva Faurina Hayati
    22/06/2010 pukul 5:47 am

    Nama: Eva Faurina Hayati
    NIM: A1B107004 Reg A

    Sir Thomas Wyatt and Henry Howard, the earl of Surrey

    Genre: All of these are technically “lyric verse,” except Wyatt’s verse satire (“Mine Own John Poins”) and Surrey’s translation from Virgil’s Aeneid II. The term comes from Greek poetry where it defined poems made to be sung to the strumming of a lyre or small harp. The English favored the lute, a cousin of the guitar, so many of these poems might better be called “lute songs.” If they actually had music, it has been lost, however, so they exist only as shadows of their original composition. The lute song, Wyatt’s most common genre, may be in varying rhyme schemes and meters but generally tends toward short, trimeter or tetrameter lines with refrains. The sonnet (from French, “little song”), which both Wyatt and Surrey adapted from Petrarch, is a lyric probably not meant for instrumental accompaniment and reliably composed of fourteen lines of iambic pentameter. For a guide to the growth of `1the sonnet, including comparisons between Petrarch’s sonnets in Italian, a Modern English translation, and Wyatt’s and Surrey’s adaptation in Early Modern English.

    Characters: The “character” of the lyric’s speaker is a curious thing. T.S. Eliot, in “The Three Voices of Poetry,” argued that the first or lyric voice was like that of the poet, him or herself, but overheard in the act of speaking to some other hearer, to an allegorized idea, or to some inanimate part of the world. Wyatt, for instance, appears to talk to his lute (“My Lute, Awake”) and Surrey utters a strikingly familiar warrior’s “boast” of loyalty in the presence of “Love,” whom he calls “my lord.” Sometimes the lyric’s speaker declares madness, rejection, hatred, as well as passionate love, but in all instances the author’s position must be treated as something necessarily separate from the speaker’s. The division may be tissue thin (see “Who list his ease and wealth maintain” p. 534) but these are not testimonies under oath.

    Plot Summary: All the poems imply or express dramatic circumstances, but many require interpretation to make them intelligible. For instance, in “Whoso list tohunt,” the chilling inscription on the “hind”‘s collar mentioned above would be far less emotionally impressive for a reader who did not realize that it was expressing the perfectly lethal will of Henry VIII. Thus, the poem mimics the whispered, metaphorical advice given by an experienced courtier to a newcomer who first had caught sight of the most beautiful and free-thinking woman at court.
    Sumber: http://faculty.goucher.edu/eng211/thomas_wyatt_and_henry_howard.htm

    Terjemah:
    Tuan Thomas Wyatt dan Henry Howard, pangeran Surrey
    Aliran: Semua teknis “lirik syair” kecuali karangan Wyatt (Mine Own John Ponit) dan terjemahan Surrey darri Virgil’s Aeneid II. Masa itu datang dari puisi Yunani yang mendefinisikan bahwa puisi dibuat untuk menjadi lagu dengan memetik sebagian lirik atau nada (kecapi) kecil. Nada (kecapi) favorit di inggris adalah suara gitar, banyak syair yang disebut dengan “nyanyian kecapi”. Jika pada kenyataannya mereka mempunyai musik, walaupun mereka sudah kehilangan, kehadiran mereka tetap seperti gubahan (musik) asli. Lagu kecapi milik Wyatt hanya merupakan aliran paling biasa dalam ragam bagan rima dan ukuran, tetapi secara umum cenderung pendek, ukuran garis dengan ulangan. Sneta (dari prancis, little song), Wyatt dan Surrey keduanya mengadaptasi dari Petrach, mungkin lirik tidak berarti untuk membangun iringan (bunyi-bunyian) dan dipercaya berisi 40 garis nada atau berimakan (deretan pertentangan bunyi lemah dan keras). Untuk perjalanan perkemangan sonata, memasukkan bandingan antara sonata milik Petrarch di Italia, terjemahan Inggris modern dan adaptasi dalam Wyatt dan Surrey.

    Tokoh: Tokoh dari pembicaraan lirik merupakan rasa keingintahuan. T.S, dalam The Three Voices Of Poetry, mendebatkan yang pertama atau terbentuknya suara lirik seperti puisi, dia atau kehidupannya, tetapi eksploitasi dalam tingkah laku berbicara untuk beberapa orang pendengar, untuk ide kiasan atau untuk beberapa bagian (benda) yang mati di dunia. Instansi Wyatt terlihat berbicara dalam nadanya (My Lute Awake) dan Surrey sama sekali terbiasa menggunakan alat-alat musik dengan membanggakan kesetiaan pada kehadiran “cinta” yang mereka sebut “duniaku”. Beberapa pembicaraan lirik mengungkapakan kegilaan, penolakan, kebencian, sama baiknya dengan penuh gairah cinta, tetapi semua instansi memposisikan pengarang harus pada pijakan (tempat awal) seperti beberapa kebutuhan salinan dari pembicaraan. Divisi boleh jadi jaringan tipis (lihat “ Who List His and Walth Mintain” hlm. 534) tetapi disini bukan kesaksian di bawah sumpah.

    Ringkasan alur: Semua puisi menyatakan secara tidak langsung atau mengekspresikan keadaan dramatik, tetapi banyak menuntut penafsiran untuk membuat pemahaman mereka. Untuk instansi dalam “Whoso List Tohunt”, menggoreskan diatas “leher rusa betina” mengatakan di atas dapat jauh lebih kecil secara emosional mengesankan untuk pembaca siapa yang tidak menyadari yang telah mengemukakan dengan lancar mematikan Henry VIII. Dengan demikian, mimik puisi berbisik, nasehat menggunakan metafora memberikan pengalaman pegawai istana untuk pendatang baru siapa yang pertama mempunyai penglihatan lebih indah dan bebas berpikir wanita di pengadailan.

    Pejelasan:
    Sir Thomas Wyatt and Henry Howard, the earl of Surrey di atas menjelaskan mengenai awal terbentuknya lirik lagu. Mereka beranggapan lirik lagu terbentuk dari syair puisi. Lagu milik Wyatt hanya merupakan aliran paling biasa dalam ragam bagan rima dan ukuran, tetapi secara umum cenderung pendek, ukuran garis dengan ulangan. Sneta (dari prancis, little song), Wyatt dan Surrey keduanya mengadaptasi dari Petrach. Semua lirik puisi menyatakan secara tidak langsung atau mengekspresikan keadaan dramatik, tetapi banyak menuntut penafsiran untuk membuat pemahaman mereka. Mereka menggunakan lirik untuk mengutarakan perasaannya seperti: mengungkapakan kegilaan, penolakan, kebencian, penuh gairah cinta dan sebagainya.

    Comparative Canadian Literature and Italian-Canadian Writing by Joseph J. Pivato

    While at Athabasca University I have been able to publish three books and many articles in literary journals. In addition to brief descriptions about these books, I include here some of the latest information on publications in ethnic minority writing in Canada.

    In 1985 I edited Contrasts: Comparative Essays on Italian-Canadian Writing. This was the first book of critical studies on the literature of Canadians of Italian background, and was republished in 1991. The topics explored in this book are: ethnic identity, writing in French and in Italian, the short story, ethnic poetry, exile and the role of the writer. In addition to the introduction I contributed two essays to this book which includes articles by novelists: Frank Paci, Dino Minni and Alexandre Amprimoz. Some Italian-Canadian writers who live in Quebec publish in French and three of them contributed essays in English translation: Antonio D’Alfonso, Fulvio Caccia and Filippo Salvatore. In addition to English and French some of these writers work in Italian. And you may be surprised to learn that there are more than 90 works of literature in Italian published in Canada.

    Dr. Steven Totosy de Zepetnek initially established a CLC Web journal for Comparative Literature and Culture, which is now maintained by Purdue University. In addition to the web journal, Purdue University maintains an extensive on-line library including directories, cumulative bibliographies, research tools, submission guidelines, publication objectives, listserves and other information for use when studying, researching, and publishing Comparative Literature.
    Sumber: http://www2.athabascau.ca/cll/english/faculty/jpivato/ethnic.php

    Terjemah:
    Perbandingan Sastra Canada dan Menulis Italian-Canada oleh Joseph J. Pivato
    Ketika di Universitas Athabasca saya telah mampu membuat tiga buku dan banyak artikel dalam jurnal sastra. Dalam deskripsi singkat tentang buku ini. Beberapa informasi terakhir dalam menulis etnik kecil di Canada.

    Tahun 1985 saya mengedit perbandingan: Perbandingan Menulis Esaay di Italia-Canada. Ini merupakan buku pertama dari mempelajari kritik sastra Canada dari latar belakang bangsa Italia dan telah dipublikasikan tahun 1991. Topik yang diangkat adalah: identitas etnik, menulis Prancis dan Italia, cerita pendek, puisi etnik pengasingan dan peranan menulis. Dalam tambahan untuk memperkenalkan menyumbangkan dua esay untuk buku ini yang mana mencakup artikel oleh novelis: Frank Paci, Dinno Minni, Alexander Amprimoz. Beberapa penulis Italia-Canada hidup dalam menerbitkan Quebec di Prancis dan tiga diantaranya menyumbangkan esay dalam terjemahan Inggris. Tambahan lagi untuk Inggris dan Prancis ada beberapa penulisbekerja di Italia. Dan kamu boleh terkejut untuk mempelajari lebih dari 90 pekerja sastra di Italia diterbitkan di Canada.

    Dr. Steven Totosy de Zepetnek pada awalnya memantapkan Web jurnal CLC untuk Sastra Bandingan dan Budaya, yang mana sekarang diteruskan Universitas Purdue. Tambahan lagi untuk web jurnal, universitas Purdue meneruskan dengan luas perpustakaan online termasuk direktori, daftar buku yang semakin menumpuk, alat penelitian, pengarahan, penerbitan yang objektif, daftar pelayanan dan informasi lainnya untuk menggunakan pelajaran, penelitian, dan penerbitan sastra bandingan.

    Penjelasan:
    Perbandingan Sastra Canada dan Menulis Italian-Canada oleh Joseph J. Pivato di atas menjelasakan mengenai esay-esay dan buku-buku yang pernah dihasilkan oleh Joseph. Topik yang pernah diangkatnya seperti: identitas etnik, menulis Prancis dan Italia, cerita pendek, puisi etnik pengasingan dan peranan menulis, meninjau masalah terjemahan, tradisi lisan dari cerita rakyat dan musik, suara wanita, gambar dari keluarga, kebencian diri, menulis dalam Quebec dan Sastra Bandingan. Joseph juga memantapkan Web jurnal CLC untuk Sastra Bandingan dan Budaya yang sekarang diteruskan Universitas Purdue.

    The Princeton Sourcebook in Comparative Literature:
    From the European Enlightenment to the Global Present
    Edited by David Damrosch, Natalie Melas & Mbongiseni Buthelezi

    As comparative literature reshapes it self in today’s globalizing age, it is essential for students and teachers to look deeply into the discipline’s history and its present possibilities. The Princeton Sourcebook in Comparative Literature is a wide-ranging anthology of classic essays and important recent statements on the mission and methods of comparative literary studies. This pioneering collection brings together thirty-two pieces, from foundational statements by Herder, Madame de Staël, and Nietzsche to work by a range of the most influential comparatists writing today, including Lawrence Venuti, Gayatri Chakravorty Spivak, and Franco Moretti. Gathered here are manifestos and counterarguments, essays in definition, and debates on method by scholars and critics from the United States, Europe, Asia, Africa, and Latin America, giving a unique overview of comparative study in the words of some of its most important practitioners. With selections extending from the beginning of comparative study through the years of intensive theoretical inquiry and on to contemporary discussions of the world’s literatures, The Princeton Sourcebook in Comparative Literature helps readers navigate a rapidly evolving discipline in a dramatically changing world.
    Sumber: http://press.princeton.edu/titles/9031.html

    Terjemah:
    The Princeton Sourcebook in Comparative Literature:
    From the European Enlightenment to the Global Present
    Edited by David Damrosch, Natalie Melas & Mbongiseni Buthelezi

    Sastra Bandingan dibahas secara global hari ini, kebutuhan penting untuk siswa dan guru untuk melihat sangat ke dalam sejarah disiplin dan menghadirkan berbagai kemungkinan. The Princeton Sourcebook in Comparative Literature merupakan antologi luas dari esay klasik dan pernyataan penting yang mutakhir dengan misi dan metode dari pelajaran Sastra Bandingan. Pelopor ini membawa koleksi bersama 32 buah. Pendirian pernyataan oleh Herder, Madame de Staël, and Nietzsche untuk bekerja oleh jangkauaan yang sangat mempengaruhi perbandingan menulis hari ini, mencakup Lawrence Venuti, Gayatri Chakravorty Spivak, and Franco Moretti. Gathered disini adalah manifestor dan pusat pendapat, definisi esay, debat dan metode oleh cendikiawan dan kritik dati Unuted Stated, Eropa, Asia, afrika dan amerika Latin, memberi keunikan dalam mempelajari bandingan di dunia dari beberapa yang terpenting dari penelitian. Dengan memilih memperluas dengan memulai mempelajari perbandingan dengan cermat dari tahun ke tahun secara intensif menurut teori penyelidikan dan untuk yang sejaman dari dunia sastra, The Princeton Sourcebook in Comparative Literature membantu pembaca dengan cepat berkembang disiplin secara dramatis mengganti dunia.

    Penjelasan:
    Princeton Sourcebook in Comparative Literature merupakan antologi dari esay klasik dan pernyataan penting yang mutakhir dengan misi dan metode dari pelajaran Sastra Bandingan. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa sastra bandingan memilik keunikan penelitian yang dilakukan di dunia. Dengan mempelajari sastra bandingan dengan cermat, maka akan membantu pembaca berkembang disiplin secara dramatis untuk perubahan dunia.

  9. NORHAPIKA
    22/06/2010 pukul 6:09 am

    NORHAPIKA (A1B107006) Reg A

    Sumber: http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/5%2520sartini%2520baru.pdf

    Abstract
    The aim of this research, first is to recognize some linguistic features that has a role as a code marker of the language spoken by Chinese society. Secondly, to understand what language is spoken by Chinese family, among Chinese people or between Chinese and other ethnic groups.
    In theory, this research obtained some linguistic features at phonology level such as some changing sounds of /r/ becomes /l/, /t/ becomes /k/. Certainly not all sounds have such alternation. This can be identified from the age and the level generation of that Chinese society. At morphology level, the communication always been enriched by some Chinese greeting words. In the word formation, there are some word combinations between Indonesian for instance the attachment of suffix –e which similar to the suffix in Indonesia. Moreover, another special characteristic is the use of the prepotition dek / ndI? / ‘at/ in’. The pronunciation alteration of a word can be seen in this example, the word pergi changes into pigi. In their daily communication with local societ, the Chinese society in Surabaya apply language cmbination of Javanese and Indonesian. Among Chinese people in Surabaya, they speak some languages, namely Indoensian, Hokkian, Mandarin, Javanese, and the combination of those languages. A full- blooded Chinese always speak a language that consist of.
    SK Akreditasi Nomor: 39/Dikti/Kep. 2004.

    Terjemah:
    Abstrak
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui varietas bahasa masyarakat Cina dan bahasa yang digunakan bila berkomunikasi dengan etnik setempat dan sesama suku.
    Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan mencari ciri-ciri linguistik yang khas pada masyarakat ini.
    Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat Cina memiliki varietas bahasa yang unik seperti pencampuran antara bahasa Indonesia seperti sufiks –e, mengubah kata-kata tertentu sesuai dengan dialek mereka seperti kata pergi menjadi pigi, menggunakan preposisi /dek/ atau /ndeq/ ‘di’, tetap menggunakan sapaan-sapaan dalam bahasa Mandarin seperti tacik, koko, meme dan sebagainya. Masyarakat Cina bila berkomunikasi antarsuku cenderung menggunakan bahasa campuran antara bahasa Indonesia, Mandarin, Hokkian. Namun bila berkomunikasi dengan masyarakat setempat atau antaretnik lebih memilih bahasa masyarakat setempat seperti bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

    Sumber: Chttp://www.gradschool.umd.edu/catalog/programs/cmlt.htmomparative Literature (CMLT) printable version

    Abstract
    A separate degree program in the English Department, the Comparative Literature Program is committed to the comparative and transnational study of literature and other media. Combining its own dynamic resources with the particular strengths of the English Department and other units in the College of Arts and Humanities, the Program focuses especially on Western Hemispheric and Transatlantic Studies and on Diasporic and Postcolonial Studies. Students in the Program work in at least two languages and national literatures, one of them Anglophone. The Comparative Literature PhD Program complements the current PhD Program in English, giving students a place to pursue true comparative studies. Students seeking admission to the PhD Program in Comparative Literature must demonstrate advanced language proficiency before entry into the Program, and commit themselves to achieving a high degree of intellectual expertise in two or more languages and national literatures. Graduates are as likely to find academic positions in departments of foreign languages as they are to find them in English. A doctoral degree in Comparative Literature can uniquely prepare them for a profession that more and more studies literatures and cultures within a globalized, transnational context. Students entering this small, elite PhD program will already hold an MA degree either in English or in another language/literature; students seeking admission with the BA will be directed to the appropriate MA language/literature program at Maryland, and, upon admission and completion of the MA program, could then apply for the PhD in Comparative Literature. People interested in the Program should apply directly to Comparative Literature, not English.

    Terjemah:
    Abstrak
    Suatu memisahkan program derajat tingkat pemerintahan orang-orang Inggris, Program sastra bandingan melakukan ilmu bahasa perbandingan dan bidang internasional dari kesusastraan media lain. Menyatukan sumber daya yang dinamis sendiri dengan pemerintahan orang-orang inggris dan unit lain di College atau Perguruan Tinggi College(Perguruan Tinggi Art/Seni dan Humanas), Program ini terutama memusat pada belahan bumi Barat Dan Melintasi samodera atlantik Studies dan pada Diasporic Dan Postcolonial Studies. Para Siswa di Program memasukkan sedikitnya dua bahasa dan kesusastraan nasional, salah satu dari Anglophone. Dokter ilmu filsafat program sastra bandingan untuk melengkapi dokter filsafat Program arus dalam Bahasa Inggris, memberikan para siswa suatu tempat untuk mengejar studi perbandingan yang benar. Para Siswa yang mencari-cari kesempatan untuk masuk di kedokteran filasafat ilmu sastra bandingan yang harus menampilkan kepandaian berbahasa tingkat lanjut sebelum masukan ke dalam bidang ini dan mengapdikan diri mereka agar menuju keberhasilan atau keahlian intelektual di dalam menggunakan dua atau lebih bahasa dan kesusastraan nasional. Lulusan seperti ini dapat memungkinkan posisi yang akademis di dalam bidang pemerintahan bahasa asing sebagaimana adanya ditemukan di dalam Bahasa Inggris.
    Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa siswa yang ingin memasuki perguraaan tinggi ilmu filsafat sastra bandingan di inggris ini harus mempunyai bakat menggunakan dua atau lebih bahasa dan mempunyai pengetahuan kesusastraan. Nantinya lulusan dibidang ini akan pempunya posisi yang akademis dibidang pemerintahan bahasa asing.

    Sumber: http://docs.lib.purdue.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1086&context=clcweb
    CLCWeb Volume 2 Issue 4 (December 2000) Article 3
    Karl S.Y. Kao,
    “Comparative Literature and the Ideology of Metaphor, East and West”

    Contents of CLCWeb: Comparative Literature and Culture 2.4 (2000)
    Thematic Issue Histories and Concepts of Comparative Literature Edited by Steven Tötösy de Zepetnek <>

    Abstract:
    In his article, “Comparative Literature and the Ideology of Metaphor, East and West,” Karl S.Y. Kao offers a comparative reading of the ideological function of metaphor within Eastern and Western thinking. Nietzsche is recognized as the earliest serious challenger to the concepts of meaning and truth within the West, whilst Derrida and de Man are discussed with respect to their
    conception that figurality is inherent within — and integral to — Western philosophical and literary discourse. Parallel to this conception of conceptuality is the Eastern view of language and literature. Kao notes that the Western opposition between logic and rhetoric is not inherent within or integral to Eastern thought. He examines various rhetorical figures within Eastern philosophy and literature and a contrasting between affective (expressive; East) and mimetic (representational; West) is urged and interrogated. Eastern thought may be distinguished by an awareness of the problematical status of the conceptuality of thought. Despite this awareness, parallel problems threaten to emerge — whilst the West has tried to inaugurate a distinction between metaphor and concept, the East has tended to subsume them. On the one hand, we encounter a problematical distinction between meaning and truth; on the other hand, we encounter a problematic equivocation. Karl S.Y. Kao, “Comparative Literature and the Ideology of Metaphor, East and West” page 2 of 9 CLCWeb: Comparative Literature and Culture 2.4 (2000):

    Terjemah:
    Abstrak:
    Di dalam artikel ini,” Bacaan Sastra Bandingan dan Ideologi dari Gaya Bahasa, Timur dan Barat,” Karl S.Y. Kao menawarkan suatu perbandingan bacaan dari fungsi ideologis tentang bahasa kiasan yang didalam bahasa Ketimuran dan Pemikiran bahasa orang barat. Nietzsche dikenali sebagai penantang serius paling awal ia mempunyai konsep dari arti suatua bahasa dan kebenaran di dalam bahasa Barat, sedangkan menurut Derrida dan menurut orang yang membahas bahasa mengenai konsepsi mereka yang figuralas adalah tidak bisa dipisahkan di dalam suatu permaslahan dan integral untuk bahasa dalam berceramah yang berkaitan dengan kesusasteraan dan filosofis barat. Parallel Pada konsepsi ini dari conceptualas adalah Ketimuran pandangan dari bahasa dan kesustraan. Kao mencatat bahwa Oposisi yang barat secara logika dan retorik tidaklah bisa dipisahkan di dalam atau integral bahasa ke Ketimuran yang dipikirkan. Ia menguji berbagai figur yang retoris di dalam filosofis Ketimurannya dan bacaan suatu membandingkan antara bahasa secara cenderung (ekspersif; bahasa Tmur) dan meniru (representional; bahasa Barat) untuk dapat dibahasa dan ditanyakan. Bahasa Ketimuran yang digunakan mungkin dibedakan oleh suatu kesadaran dari status ketidak pastian suatu pemikiran. Di samping kesadaran ini, permasalahan yang paralel mengancam untuk selalu ada. Bangsa Barat telah mencoba untuk memulai suatu pembedaan antara kiasan dan konsep, bangsa Timur telah cenderung untuk menggolongkan pada suatu pihak, kita menghadapi suatu pembedaan yang meragukan setiap arti dan kebenaran; pada sisi lain, kita menghadapi suatu pemutaran lidah yang meragukan. Karl S.Y. Kao, Comparative Literature and the Ideology of Metaphor,ketimuran and barat ” page 2 of 9 CLCWeb: Comparative Literature and Culture 2.4 (2000):

  10. norhapika
    22/06/2010 pukul 9:33 am

    Nama : NORHAPIKA
    NIM : A1B107006 Reg A

    Sumber: http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/5%2520sartini%2520baru.pdf

    Abstract
    The aim of this research, first is to recognize some linguistic features that has a role as a code marker of the language spoken by Chinese society. Secondly, to understand what language is spoken by Chinese family, among Chinese people or between Chinese and other ethnic groups.
    In theory, this research obtained some linguistic features at phonology level such as some changing sounds of /r/ becomes /l/, /t/ becomes /k/. Certainly not all sounds have such alternation. This can be identified from the age and the level generation of that Chinese society. At morphology level, the communication always been enriched by some Chinese greeting words. In the word formation, there are some word combinations between Indonesian for instance the attachment of suffix –e which similar to the suffix in Indonesia. Moreover, another special characteristic is the use of the prepotition dek / ndI? / ‘at/ in’. The pronunciation alteration of a word can be seen in this example, the word pergi changes into pigi. In their daily communication with local societ, the Chinese society in Surabaya apply language cmbination of Javanese and Indonesian. Among Chinese people in Surabaya, they speak some languages, namely Indoensian, Hokkian, Mandarin, Javanese, and the combination of those languages. A full- blooded Chinese always speak a language that consist of.
    SK Akreditasi Nomor: 39/Dikti/Kep. 2004.

    Terjemah:
    Abstrak
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui varietas bahasa masyarakat Cina dan bahasa yang digunakan bila berkomunikasi dengan etnik setempat dan sesama suku.
    Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan mencari ciri-ciri linguistik yang khas pada masyarakat ini.
    Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat Cina memiliki varietas bahasa yang unik seperti pencampuran antara bahasa Indonesia seperti sufiks –e, mengubah kata-kata tertentu sesuai dengan dialek mereka seperti kata pergi menjadi pigi, menggunakan preposisi /dek/ atau /ndeq/ ‘di’, tetap menggunakan sapaan-sapaan dalam bahasa Mandarin seperti tacik, koko, meme dan sebagainya. Masyarakat Cina bila berkomunikasi antarsuku cenderung menggunakan bahasa campuran antara bahasa Indonesia, Mandarin, Hokkian. Namun bila berkomunikasi dengan masyarakat setempat atau antaretnik lebih memilih bahasa masyarakat setempat seperti bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

    Sumber: Chttp://www.gradschool.umd.edu/catalog/programs/cmlt.htmomparative Literature (CMLT) printable version

    Abstract
    A separate degree program in the English Department, the Comparative Literature Program is committed to the comparative and transnational study of literature and other media. Combining its own dynamic resources with the particular strengths of the English Department and other units in the College of Arts and Humanities, the Program focuses especially on Western Hemispheric and Transatlantic Studies and on Diasporic and Postcolonial Studies. Students in the Program work in at least two languages and national literatures, one of them Anglophone. The Comparative Literature PhD Program complements the current PhD Program in English, giving students a place to pursue true comparative studies. Students seeking admission to the PhD Program in Comparative Literature must demonstrate advanced language proficiency before entry into the Program, and commit themselves to achieving a high degree of intellectual expertise in two or more languages and national literatures. Graduates are as likely to find academic positions in departments of foreign languages as they are to find them in English. A doctoral degree in Comparative Literature can uniquely prepare them for a profession that more and more studies literatures and cultures within a globalized, transnational context. Students entering this small, elite PhD program will already hold an MA degree either in English or in another language/literature; students seeking admission with the BA will be directed to the appropriate MA language/literature program at Maryland, and, upon admission and completion of the MA program, could then apply for the PhD in Comparative Literature. People interested in the Program should apply directly to Comparative Literature, not English.

    Terjemah:
    Abstrak
    Suatu memisahkan program derajat tingkat pemerintahan orang-orang Inggris, Program sastra bandingan melakukan ilmu bahasa perbandingan dan bidang internasional dari kesusastraan media lain. Menyatukan sumber daya yang dinamis sendiri dengan pemerintahan orang-orang inggris dan unit lain di College atau Perguruan Tinggi College(Perguruan Tinggi Art/Seni dan Humanas), Program ini terutama memusat pada belahan bumi Barat Dan Melintasi samodera atlantik Studies dan pada Diasporic Dan Postcolonial Studies. Para Siswa di Program memasukkan sedikitnya dua bahasa dan kesusastraan nasional, salah satu dari Anglophone. Dokter ilmu filsafat program sastra bandingan untuk melengkapi dokter filsafat Program arus dalam Bahasa Inggris, memberikan para siswa suatu tempat untuk mengejar studi perbandingan yang benar. Para Siswa yang mencari-cari kesempatan untuk masuk di kedokteran filasafat ilmu sastra bandingan yang harus menampilkan kepandaian berbahasa tingkat lanjut sebelum masukan ke dalam bidang ini dan mengapdikan diri mereka agar menuju keberhasilan atau keahlian intelektual di dalam menggunakan dua atau lebih bahasa dan kesusastraan nasional. Lulusan seperti ini dapat memungkinkan posisi yang akademis di dalam bidang pemerintahan bahasa asing sebagaimana adanya ditemukan di dalam Bahasa Inggris.
    Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa siswa yang ingin memasuki perguraaan tinggi ilmu filsafat sastra bandingan di inggris ini harus mempunyai bakat menggunakan dua atau lebih bahasa dan mempunyai pengetahuan kesusastraan. Nantinya lulusan dibidang ini akan pempunya posisi yang akademis dibidang pemerintahan bahasa asing.

    Sumber: http://docs.lib.purdue.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1086&context=clcweb
    CLCWeb Volume 2 Issue 4 (December 2000) Article 3
    Karl S.Y. Kao,
    “Comparative Literature and the Ideology of Metaphor, East and West”

    Contents of CLCWeb: Comparative Literature and Culture 2.4 (2000)
    Thematic Issue Histories and Concepts of Comparative Literature Edited by Steven Tötösy de Zepetnek <>

    Abstract:
    In his article, “Comparative Literature and the Ideology of Metaphor, East and West,” Karl S.Y. Kao offers a comparative reading of the ideological function of metaphor within Eastern and Western thinking. Nietzsche is recognized as the earliest serious challenger to the concepts of meaning and truth within the West, whilst Derrida and de Man are discussed with respect to their
    conception that figurality is inherent within — and integral to — Western philosophical and literary discourse. Parallel to this conception of conceptuality is the Eastern view of language and literature. Kao notes that the Western opposition between logic and rhetoric is not inherent within or integral to Eastern thought. He examines various rhetorical figures within Eastern philosophy and literature and a contrasting between affective (expressive; East) and mimetic (representational; West) is urged and interrogated. Eastern thought may be distinguished by an awareness of the problematical status of the conceptuality of thought. Despite this awareness, parallel problems threaten to emerge — whilst the West has tried to inaugurate a distinction between metaphor and concept, the East has tended to subsume them. On the one hand, we encounter a problematical distinction between meaning and truth; on the other hand, we encounter a problematic equivocation. Karl S.Y. Kao, “Comparative Literature and the Ideology of Metaphor, East and West” page 2 of 9 CLCWeb: Comparative Literature and Culture 2.4 (2000):

    Terjemah:
    Abstrak:
    Di dalam artikel ini,” Bacaan Sastra Bandingan dan Ideologi dari Gaya Bahasa, Timur dan Barat,” Karl S.Y. Kao menawarkan suatu perbandingan bacaan dari fungsi ideologis tentang bahasa kiasan yang didalam bahasa Ketimuran dan Pemikiran bahasa orang barat. Nietzsche dikenali sebagai penantang serius paling awal ia mempunyai konsep dari arti suatua bahasa dan kebenaran di dalam bahasa Barat, sedangkan menurut Derrida dan menurut orang yang membahas bahasa mengenai konsepsi mereka yang figuralas adalah tidak bisa dipisahkan di dalam suatu permaslahan dan integral untuk bahasa dalam berceramah yang berkaitan dengan kesusasteraan dan filosofis barat. Parallel Pada konsepsi ini dari conceptualas adalah Ketimuran pandangan dari bahasa dan kesustraan. Kao mencatat bahwa Oposisi yang barat secara logika dan retorik tidaklah bisa dipisahkan di dalam atau integral bahasa ke Ketimuran yang dipikirkan. Ia menguji berbagai figur yang retoris di dalam filosofis Ketimurannya dan bacaan suatu membandingkan antara bahasa secara cenderung (ekspersif; bahasa Tmur) dan meniru (representional; bahasa Barat) untuk dapat dibahasa dan ditanyakan. Bahasa Ketimuran yang digunakan mungkin dibedakan oleh suatu kesadaran dari status ketidak pastian suatu pemikiran. Di samping kesadaran ini, permasalahan yang paralel mengancam untuk selalu ada. Bangsa Barat telah mencoba untuk memulai suatu pembedaan antara kiasan dan konsep, bangsa Timur telah cenderung untuk menggolongkan pada suatu pihak, kita menghadapi suatu pembedaan yang meragukan setiap arti dan kebenaran; pada sisi lain, kita menghadapi suatu pemutaran lidah yang meragukan. Karl S.Y. Kao, Comparative Literature and the Ideology of Metaphor,ketimuran and barat ” page 2 of 9 CLCWeb: Comparative Literature and Culture 2.4 (2000):

  11. Nani Wardani
    22/06/2010 pukul 10:22 am

    Nama : Nani Wardani
    NIM : A1B107011
    Tugas Mata Kuliah : Resensi Buku Sastra Bandingan

    1.Judul Buku : Comperative Literature : theory, method, application

    a. Sumber :

    http://books.google.co.id/books?id=PYV87r9cB0QC&source=gbs_navlinks_s

    b.Resensi :
    This book serves several purposes, all very much needed in today’s embattled situation of the humanities and the study of literature. First, in Chapter One, the author proposes that the discipline of Comparative Literature is a most advantageous approach for the study of literature and culture as it is a priori a discipline of cross-disciplinarity and of international dimensions. After a “Manifesto” for a New Comparative Literature, he proceeds to offer several related theoretical frameworks as a composite method for the study of literature and culture he designates and explicates as the “systemic and empirical approach.” Following the introduction of the proposed New Comparative Literature, the author applies his method to a wide variety of literary and cultural areas of inquiry such as “Literature and Cultural Participation” where he discusses several aspects of reading and readership (Chapter Two), “Comparative Literature as/and Interdisciplinarity” (Chapter Three) where he deals with theory and application for film and literature and medicine and literature, “Cultures, Peripheralities, and Comparative Literature” (Chapter Four) where he proposes a theoretical designation he terms “inbetween peripherality” for the study of East Central European literatures and cultures as well as ethnic minority writing, “Women’s Literature and Men Writing about Women”(Chapter Five) where he analyses texts written by women and texts about women written by men in the theoretical context of Ethical Constructivism, “The Study of Translation and Comparative Literature” (Chapter Six) where after a theoretical introduction he presents a new version of Anton Popovic’s dictionary for literary translation as a taxonomy for the study of translation, and “The Study of Literature and the Electronic Age” (Chapter Seven), where he discusses the impact of new technologies on the study of literature and culture. The analyses in their various applications of the proposed New Comparative Literature involve modern and contemporary authors and their works such as Dorothy Richardson, Margit Kaffka, Mircea Cartarescu, Robert Musil, Alfred Döblin, Hermann Hesse, Péter Esterházy, Dezsö Kosztolányi, Michael Ondaatje, Endre Kukorelly, Else Seel, and others.

    c. Terjemahan :
    Buku ini menyediakan beberapa tujuan, yang semuanya sangat banyak diperlukan dalam situasi masa kini yang berhubungan dengan memerangi ras manusia dan sebagai pembelajaran sastra. Pertama, di dalam Bab satu, pengarang mengusulkan bahwa ilmu disiplian sastra bandingan adalah suatu pendekatan yang paling menguntungkan untuk literatur studi tentang kebudayaan dan karena itu adanya berdasar pada prasangka pelajaran campuran dan dimensi pelajaran internasional. Setelah “Manifesto” untuk sesuatu yang baru tentang sastra bandingan, penulis mulai menawarkan beberapa kerangka teoritis berkaitan dengan metode gabungan untuk studi kultur dan literatur yang mengangkatnya dan menjelaskan secara lengkap sebagai ” pendekatan empiris dan sistemik.”
    Berikutnya pengenalan hal baru yang diusulkan dari sastra bandingan,pengarang menerapkan metodenya untuk area pemeriksaan budaya dan berkaitan dengan kesusasteraan yang luas seperti ” Partisipasi budaya dan sastra” di mana ia mendiskusikan beberapa aspek jumlah pembacanya dan bacaan Bab Dua, “sastra bandingan adalah antara pelajaran” ( Bab Tiga) di mana ia berhubungan dengan aplikasi dan teori untuk literatur dan obat/kedokteran dan literatur dan film, “Kultur, Diskusi, dan Sastra Bandingan”, Bab Empat dimana ia mengusulkan tujuan teoritis menyangkut terminologi “ditengahnya diskusi” untuk studi timur pusat pada kultur dan literatur Mengenai Eropa seperti halnya menulis kesukuan minoritas, “Seorang (laki-laki) dan Literatur tentang Wanita yang menulis tentang Wanita” Bab Lima ia meneliti dimana teks yang ditulisnya dan wanita tentang wanita-wanita yang tertulis oleh seorang laki-laki berkaitan dengan teoritis tentang Etis Konstruktivisme, “Studi Terjemahan dan Sastra Bandingan” Bab Enam di mana setelah pengenalan teoritis ia menghadiahi suatu kamus baru versi Anton Popovic’s untuk menerjemahkan yang berkaitan dengan kesusasteraan sebagai taksonomi untuk studi terjemahan, dan “Studi sastra dan Zaman elektronik”, Bab tujuh di mana ia mendiskusikan dampak dari teknologi baru pada studi kultur dan literatur. Analisa di dalam aplikasi mereka berhubungan dengan hal baru diusulkan dengan sastra bandingan yang melibatkan pengarang zaman ini, zaman modern dan pekerjaan mereka seperti Dorothy Richardson, Margit Kaffka, Mircea Cartarescu, Robert Musil, Döblin Alfred, Hermann Hesse, Péter Esterházy, Dezsö Kosztolányi, Michael Ondaatje, Endre Kukorelly, Else Seel, dan lain-lain.

    d. Kesimpulan :

    Di dalam Bab I, pengarang pada buku ini mengusulkan bahwa ilmu disiplin sastra bandingan adalah suatu pendekatan yang paling menguntungkan untuk mempelajari sastra tentang kebudayaan dan itu karena adanya berdasarkan prasangka pelajaran campuran dan dimensi pelajaran internasional. Dalam buku ini juga menawarkan beberapa kerangka teoritis berkaitan dengan metode gabungan. Metode ini diterapkan untuk area pemeriksaan budaya dan berkaitan dengan kesusasteraan yang luas seperti ” partisipasi budaya dan sastra”.

    2. Comparative Literature in an Age of Globalization (Paperback)

    Judul Buku : Comparative Literature in an Age of Globalization (Paperback)

    a. Sumber :

    b.Resensi :
    As an academic discipline built upon Enlightenment thought and a cosmopolitan worldview — not grounded in the literary tradition of any single language or nation — comparative literature has benefited from regular reexamination of its basic principles and practices. The American Comparative Literature Association 1993 report on the state of the discipline, prepared under the leadership of Charles Bernheimer, focused on the influence of multiculturalism as a concept transforming literary and cultural studies. That report and the vigorous responses it generated, published together as Comparative Literature in the Age of Multiculturalism, offered a comprehensive survey of comparative criticism in the 1990s.
    In the first decade of the twenty-first century, globalization has emerged as a defining paradigm in nearly every area of human activity. This latest report from the ACLA demonstrates that comparative critical strategies today can provide unique insights into the world’s changing — and, increasingly, colliding — cultures. Incorporating an even wider range of voices than had its predecessor, the report examines how the condition (or myth) of globalization in all its modes and moods, affirms or undercuts the intuitions of comparative literature; how world literatures whether seen as utopian project or as classroom practice, intersect with the canons and interpretive styles of national literatures, and how material conditions of practice such as language, media, history, gender, and culture appear under the conditions of the present moment.
    Responding to the frequent attacks against contemporary literary studies, Comparative Literature in an Age of Globalization establishes the continuing vitality of the discipline and its rigorous intellectual engagement with the issues facing today’s global society.

    c. Terjemahan
    Sebagai suatu disiplin ilmu akademis yang dibangun atas pikiran dari penerangan dan sebagai warganegara dunia yang tidak mendasarkan pada tradisi yang berkaitan kesusasteraan tentang segala bangsa atau bahasa tunggal – sastra bandingan telah menguntungkan pemeriksaan kembali secara teratur. Prinsip dasar dan Asosiasi praktek sastra bandingan di Amerika 1993 melaporkan atas status dari disiplin, yang disiapkan di bawah kepemimpinan Charles Bernheimer, terpusat pada pengaruh multikulturalisme sebagai konsep yang menjelmakan menjadi studi budaya dan berkaitan dengan kesusasteraan. Laporan itu dan tanggapan yang menghasilkan, menerbitkan bersama-sama sebagai sastra bandingan di zaman Multikulturalisme, menawarkan survei yang menyeluruh tentang kritik perbandingan di tahun 1990an.
    Dalam dekade pertama abad duapuluhsatu, globalisasi telah memunculkan penjelasan paradigma di hampir tiap-tiap area aktivitas manusia. Laporan terakhir dari ACLA menunjukkan hal strategi perbandingan kritis hari ini dapat menyediakan pengertian yang unik dalam mengubah dunia dan, terus meningkat, menabrak kultur. Menemani bahkan menjangkau suara yang lebih luas dibandingkan pendahulu yang dimengerti, seperti laporan uji bagaimana kondisi tentang globalisasi dalam semua suasana hati dan gayanya, menyatakan atau mengobral intuisi sastra bandingan; bagaimana literatur dunia apakah dilihat sama dengan proyek yang berupa kayalan atau seperti kelas praktek, tumpang tindih dengan aturan dan interpretasi gaya literatur nasional, dan bagaimana praktek kondisi material seperti bahasa, media, sejarah, jenis kelamin, dan kultur yang nampak di bawah kondisi-kondisi pada saat sekarang.
    Menjawab serangan yang sering melawan studi yang berkaitan dengan kesusasteraan zaman ini, Umur sastra bandingan di era Globalisasi menetapkan vitalitas disiplin yang berlanjut dan perikatan intelektual yang kaku dengan isu menghadapi masyarakat global dimasa kini.

    d. Kesimpulan :
    Sebagai suatu disiplin ilmu akademis yang dibangun atas pikiran dari penerangan dan sebagai warganegara dunia yang tidak mendasarkan pada tradisi yang berkaitan kesusasteraan tentang segala bangsa atau bahasa tunggal – sastra bandingan telah menguntungkan pemeriksaan kembali secara teratur. Dalam buku ini juga membahas bagaimana literatur dunia apakah dilihat sama dengan proyek yang berupa kayalan atau seperti kelas praktek, tumpang tindih dengan aturan dan interpretasi gaya literatur nasional, dan bagaimana praktek kondisi material seperti bahasa, media, sejarah, jenis kelamin, dan kultur yang nampak di bawah kondisi-kondisi pada saat sekarang.

    3.Judul Buku : The Princeton Sourcebook in Comparative Literature:
    From the European Enlightenment to the Global Present

    a. Sumber :

    http://press.princeton.edu/titles/9031.html

    b.Resensi :
    .As comparative literature reshapes itself in today’s globalizing age, it is essential for students and teachers to look deeply into the discipline’s history and its present possibilities. The Princeton Sourcebook in Comparative Literature is a wide-ranging anthology of classic essays and important recent statements on the mission and methods of comparative literary studies. This pioneering collection brings together thirty-two pieces, from foundational statements by Herder, Madame de Staël, and Nietzsche to work by a range of the most influential comparatists writing today, including Lawrence Venuti, Gayatri Chakravorty Spivak, and Franco Moretti. Gathered here are manifestos and counterarguments, essays in definition, and debates on method by scholars and critics from the United States, Europe, Asia, Africa, and Latin America, giving a unique overview of comparative study in the words of some of its most important practitioners. With selections extending from the beginning of comparative study through the years of intensive theoretical inquiry and on to contemporary discussions of the world’s literatures, The Princeton Sourcebook in Comparative Literature helps readers navigate a rapidly evolving discipline in a dramatically changing world.

    c. Terjemahan
    Ketika sastra bandingan membentuk dirinya sendiri di dalam zaman globalisasi masa kini, sangat penting bagi siswa dan guru untuk melihat ke dalam disiplin sejarah dan berbagai kemungkinan yang hadir. Princeton Sourcebook di dalam sastra bandingan suatu kumpulan puisi yang meliputi banyak hal dari esai klasik dan pernyataan terbaru terpenting pada metode dan misi studi bandingan yang berkaitan dengan kesusasteraan.
    Hal ini mempelopori bersama-sama membawa tigapuluh dua potongan koleksi, dari pernyataan dasar dari Herder, Nyonya Madame de Staël, dan Nietzsche untuk bekerja dengan bidang pedoman yang paling berpengaruh membandingkan tulisan hari ini, termasuk Lawrence Venuti, Gayatri Chakravorty Spivak, dan Franco Moretti. yang dikumpulkan di sini adalah manifesto dan membandingkan argumen, esai dalam hal definisinya, dan berdebat atas metode dengan kritikus dan sarjana dari Amerika Serikat, Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Latin, memberi suatu ikhtisar studi perbandingan yang unik dalam kata-kata sebagian dari praktisi paling utama. Dengan pemilihan memperpanjang dari awal studi dengan membandingkan melalui pemeriksaan teoritis intensif dan diskusi di zaman sastra dunia, Sumber buku Princeton di dalam perbandingan Pembaca membantu sesuatu literatur dengan cepat melalui pengembangan disiplin secara dramatis untuk mengubah dunia.

    d. kesimpulan
    Ketika sastra bandingan membentuk dirinya sendiri di dalam zaman globalisasi masa kini, sangat penting bagi siswa dan guru untuk melihat ke dalam disiplin sejarah dan berbagai kemungkinan yang hadir. Dengan pemilihan memperpanjang dari awal studi dengan membandingkan melalui pemeriksaan teoritis intensif dan diskusi di zaman sastra dunia, Sumber buku Princeton di dalam perbandingan Pembaca membantu sesuatu literatur dengan cepat melalui pengembangan disiplin secara dramatis untuk mengubah dunia.

  12. evafaurina
    23/06/2010 pukul 11:10 am

    Nama: Eva Faurina Hayati
    NIM: A1B107004 Reg A

    Sir Thomas Wyatt and Henry Howard, the earl of Surrey

    Genre: All of these are technically “lyric verse,” except Wyatt’s verse satire (“Mine Own John Poins”) and Surrey’s translation from Virgil’s Aeneid II. The term comes from Greek poetry where it defined poems made to be sung to the strumming of a lyre or small harp. The English favored the lute, a cousin of the guitar, so many of these poems might better be called “lute songs.” If they actually had music, it has been lost, however, so they exist only as shadows of their original composition. The lute song, Wyatt’s most common genre, may be in varying rhyme schemes and meters but generally tends toward short, trimeter or tetrameter lines with refrains. The sonnet (from French, “little song”), which both Wyatt and Surrey adapted from Petrarch, is a lyric probably not meant for instrumental accompaniment and reliably composed of fourteen lines of iambic pentameter. For a guide to the growth of `1the sonnet, including comparisons between Petrarch’s sonnets in Italian, a Modern English translation, and Wyatt’s and Surrey’s adaptation in Early Modern English.

    Characters: The “character” of the lyric’s speaker is a curious thing. T.S. Eliot, in “The Three Voices of Poetry,” argued that the first or lyric voice was like that of the poet, him or herself, but overheard in the act of speaking to some other hearer, to an allegorized idea, or to some inanimate part of the world. Wyatt, for instance, appears to talk to his lute (“My Lute, Awake”) and Surrey utters a strikingly familiar warrior’s “boast” of loyalty in the presence of “Love,” whom he calls “my lord.” Sometimes the lyric’s speaker declares madness, rejection, hatred, as well as passionate love, but in all instances the author’s position must be treated as something necessarily separate from the speaker’s. The division may be tissue thin (see “Who list his ease and wealth maintain” p. 534) but these are not testimonies under oath.

    Plot Summary: All the poems imply or express dramatic circumstances, but many require interpretation to make them intelligible. For instance, in “Whoso list tohunt,” the chilling inscription on the “hind”‘s collar mentioned above would be far less emotionally impressive for a reader who did not realize that it was expressing the perfectly lethal will of Henry VIII. Thus, the poem mimics the whispered, metaphorical advice given by an experienced courtier to a newcomer who first had caught sight of the most beautiful and free-thinking woman at court.
    Sumber: http://faculty.goucher.edu/eng211/thomas_wyatt_and_henry_howard.htm

    Terjemah:
    Tuan Thomas Wyatt dan Henry Howard, pangeran Surrey
    Aliran: Semua teknis “lirik syair” kecuali karangan Wyatt (Mine Own John Ponit) dan terjemahan Surrey darri Virgil’s Aeneid II. Masa itu datang dari puisi Yunani yang mendefinisikan bahwa puisi dibuat untuk menjadi lagu dengan memetik sebagian lirik atau nada (kecapi) kecil. Nada (kecapi) favorit di inggris adalah suara gitar, banyak syair yang disebut dengan “nyanyian kecapi”. Jika pada kenyataannya mereka mempunyai musik, walaupun mereka sudah kehilangan, kehadiran mereka tetap seperti gubahan (musik) asli. Lagu kecapi milik Wyatt hanya merupakan aliran paling biasa dalam ragam bagan rima dan ukuran, tetapi secara umum cenderung pendek, ukuran garis dengan ulangan. Sneta (dari prancis, little song), Wyatt dan Surrey keduanya mengadaptasi dari Petrach, mungkin lirik tidak berarti untuk membangun iringan (bunyi-bunyian) dan dipercaya berisi 40 garis nada atau berimakan (deretan pertentangan bunyi lemah dan keras). Untuk perjalanan perkemangan sonata, memasukkan bandingan antara sonata milik Petrarch di Italia, terjemahan Inggris modern dan adaptasi dalam Wyatt dan Surrey.

    Tokoh: Tokoh dari pembicaraan lirik merupakan rasa keingintahuan. T.S, dalam The Three Voices Of Poetry, mendebatkan yang pertama atau terbentuknya suara lirik seperti puisi, dia atau kehidupannya, tetapi eksploitasi dalam tingkah laku berbicara untuk beberapa orang pendengar, untuk ide kiasan atau untuk beberapa bagian (benda) yang mati di dunia. Instansi Wyatt terlihat berbicara dalam nadanya (My Lute Awake) dan Surrey sama sekali terbiasa menggunakan alat-alat musik dengan membanggakan kesetiaan pada kehadiran “cinta” yang mereka sebut “duniaku”. Beberapa pembicaraan lirik mengungkapakan kegilaan, penolakan, kebencian, sama baiknya dengan penuh gairah cinta, tetapi semua instansi memposisikan pengarang harus pada pijakan (tempat awal) seperti beberapa kebutuhan salinan dari pembicaraan. Divisi boleh jadi jaringan tipis (lihat “ Who List His and Walth Mintain” hlm. 534) tetapi disini bukan kesaksian di bawah sumpah.

    Ringkasan alur: Semua puisi menyatakan secara tidak langsung atau mengekspresikan keadaan dramatik, tetapi banyak menuntut penafsiran untuk membuat pemahaman mereka. Untuk instansi dalam “Whoso List Tohunt”, menggoreskan diatas “leher rusa betina” mengatakan di atas dapat jauh lebih kecil secara emosional mengesankan untuk pembaca siapa yang tidak menyadari yang telah mengemukakan dengan lancar mematikan Henry VIII. Dengan demikian, mimik puisi berbisik, nasehat menggunakan metafora memberikan pengalaman pegawai istana untuk pendatang baru siapa yang pertama mempunyai penglihatan lebih indah dan bebas berpikir wanita di pengadailan.

    Pejelasan:
    Sir Thomas Wyatt and Henry Howard, the earl of Surrey di atas menjelaskan mengenai awal terbentuknya lirik lagu. Mereka beranggapan lirik lagu terbentuk dari syair puisi. Lagu milik Wyatt hanya merupakan aliran paling biasa dalam ragam bagan rima dan ukuran, tetapi secara umum cenderung pendek, ukuran garis dengan ulangan. Sneta (dari prancis, little song), Wyatt dan Surrey keduanya mengadaptasi dari Petrach. Semua lirik puisi menyatakan secara tidak langsung atau mengekspresikan keadaan dramatik, tetapi banyak menuntut penafsiran untuk membuat pemahaman mereka. Mereka menggunakan lirik untuk mengutarakan perasaannya seperti: mengungkapakan kegilaan, penolakan, kebencian, penuh gairah cinta dan sebagainya.

    Comparative Canadian Literature and Italian-Canadian Writing by Joseph J. Pivato

    While at Athabasca University I have been able to publish three books and many articles in literary journals. In addition to brief descriptions about these books, I include here some of the latest information on publications in ethnic minority writing in Canada.

    In 1985 I edited Contrasts: Comparative Essays on Italian-Canadian Writing. This was the first book of critical studies on the literature of Canadians of Italian background, and was republished in 1991. The topics explored in this book are: ethnic identity, writing in French and in Italian, the short story, ethnic poetry, exile and the role of the writer. In addition to the introduction I contributed two essays to this book which includes articles by novelists: Frank Paci, Dino Minni and Alexandre Amprimoz. Some Italian-Canadian writers who live in Quebec publish in French and three of them contributed essays in English translation: Antonio D’Alfonso, Fulvio Caccia and Filippo Salvatore. In addition to English and French some of these writers work in Italian. And you may be surprised to learn that there are more than 90 works of literature in Italian published in Canada.

    Dr. Steven Totosy de Zepetnek initially established a CLC Web journal for Comparative Literature and Culture, which is now maintained by Purdue University. In addition to the web journal, Purdue University maintains an extensive on-line library including directories, cumulative bibliographies, research tools, submission guidelines, publication objectives, listserves and other information for use when studying, researching, and publishing Comparative Literature.
    Sumber: http://www2.athabascau.ca/cll/english/faculty/jpivato/ethnic.php

    Terjemah:
    Perbandingan Sastra Canada dan Menulis Italian-Canada oleh Joseph J. Pivato
    Ketika di Universitas Athabasca saya telah mampu membuat tiga buku dan banyak artikel dalam jurnal sastra. Dalam deskripsi singkat tentang buku ini. Beberapa informasi terakhir dalam menulis etnik kecil di Canada.

    Tahun 1985 saya mengedit perbandingan: Perbandingan Menulis Esaay di Italia-Canada. Ini merupakan buku pertama dari mempelajari kritik sastra Canada dari latar belakang bangsa Italia dan telah dipublikasikan tahun 1991. Topik yang diangkat adalah: identitas etnik, menulis Prancis dan Italia, cerita pendek, puisi etnik pengasingan dan peranan menulis. Dalam tambahan untuk memperkenalkan menyumbangkan dua esay untuk buku ini yang mana mencakup artikel oleh novelis: Frank Paci, Dinno Minni, Alexander Amprimoz. Beberapa penulis Italia-Canada hidup dalam menerbitkan Quebec di Prancis dan tiga diantaranya menyumbangkan esay dalam terjemahan Inggris. Tambahan lagi untuk Inggris dan Prancis ada beberapa penulisbekerja di Italia. Dan kamu boleh terkejut untuk mempelajari lebih dari 90 pekerja sastra di Italia diterbitkan di Canada.

    Dr. Steven Totosy de Zepetnek pada awalnya memantapkan Web jurnal CLC untuk Sastra Bandingan dan Budaya, yang mana sekarang diteruskan Universitas Purdue. Tambahan lagi untuk web jurnal, universitas Purdue meneruskan dengan luas perpustakaan online termasuk direktori, daftar buku yang semakin menumpuk, alat penelitian, pengarahan, penerbitan yang objektif, daftar pelayanan dan informasi lainnya untuk menggunakan pelajaran, penelitian, dan penerbitan sastra bandingan.

    Penjelasan:
    Perbandingan Sastra Canada dan Menulis Italian-Canada oleh Joseph J. Pivato di atas menjelasakan mengenai esay-esay dan buku-buku yang pernah dihasilkan oleh Joseph. Topik yang pernah diangkatnya seperti: identitas etnik, menulis Prancis dan Italia, cerita pendek, puisi etnik pengasingan dan peranan menulis, meninjau masalah terjemahan, tradisi lisan dari cerita rakyat dan musik, suara wanita, gambar dari keluarga, kebencian diri, menulis dalam Quebec dan Sastra Bandingan. Joseph juga memantapkan Web jurnal CLC untuk Sastra Bandingan dan Budaya yang sekarang diteruskan Universitas Purdue.

    The Princeton Sourcebook in Comparative Literature:
    From the European Enlightenment to the Global Present
    Edited by David Damrosch, Natalie Melas & Mbongiseni Buthelezi

    As comparative literature reshapes it self in today’s globalizing age, it is essential for students and teachers to look deeply into the discipline’s history and its present possibilities. The Princeton Sourcebook in Comparative Literature is a wide-ranging anthology of classic essays and important recent statements on the mission and methods of comparative literary studies. This pioneering collection brings together thirty-two pieces, from foundational statements by Herder, Madame de Staël, and Nietzsche to work by a range of the most influential comparatists writing today, including Lawrence Venuti, Gayatri Chakravorty Spivak, and Franco Moretti. Gathered here are manifestos and counterarguments, essays in definition, and debates on method by scholars and critics from the United States, Europe, Asia, Africa, and Latin America, giving a unique overview of comparative study in the words of some of its most important practitioners. With selections extending from the beginning of comparative study through the years of intensive theoretical inquiry and on to contemporary discussions of the world’s literatures, The Princeton Sourcebook in Comparative Literature helps readers navigate a rapidly evolving discipline in a dramatically changing world.
    Sumber: http://press.princeton.edu/titles/9031.html

    Terjemah:
    The Princeton Sourcebook in Comparative Literature:
    From the European Enlightenment to the Global Present
    Edited by David Damrosch, Natalie Melas & Mbongiseni Buthelezi

    Sastra Bandingan dibahas secara global hari ini, kebutuhan penting untuk siswa dan guru untuk melihat sangat ke dalam sejarah disiplin dan menghadirkan berbagai kemungkinan. The Princeton Sourcebook in Comparative Literature merupakan antologi luas dari esay klasik dan pernyataan penting yang mutakhir dengan misi dan metode dari pelajaran Sastra Bandingan. Pelopor ini membawa koleksi bersama 32 buah. Pendirian pernyataan oleh Herder, Madame de Staël, and Nietzsche untuk bekerja oleh jangkauaan yang sangat mempengaruhi perbandingan menulis hari ini, mencakup Lawrence Venuti, Gayatri Chakravorty Spivak, and Franco Moretti. Gathered disini adalah manifestor dan pusat pendapat, definisi esay, debat dan metode oleh cendikiawan dan kritik dati Unuted Stated, Eropa, Asia, afrika dan amerika Latin, memberi keunikan dalam mempelajari bandingan di dunia dari beberapa yang terpenting dari penelitian. Dengan memilih memperluas dengan memulai mempelajari perbandingan dengan cermat dari tahun ke tahun secara intensif menurut teori penyelidikan dan untuk yang sejaman dari dunia sastra, The Princeton Sourcebook in Comparative Literature membantu pembaca dengan cepat berkembang disiplin secara dramatis mengganti dunia.

    Penjelasan:
    Princeton Sourcebook in Comparative Literature merupakan antologi dari esay klasik dan pernyataan penting yang mutakhir dengan misi dan metode dari pelajaran Sastra Bandingan. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa sastra bandingan memilik keunikan penelitian yang dilakukan di dunia. Dengan mempelajari sastra bandingan dengan cermat, maka akan membantu pembaca berkembang disiplin secara dramatis untuk perubahan dunia.

  13. Eva Faurina Hayati
    23/06/2010 pukul 11:33 am

    Nama: Eva Faurina Hayati
    NIM: A1B107004 Reg A

    Sir Thomas Wyatt and Henry Howard, the earl of Surrey

    Genre: All of these are technically “lyric verse,” except Wyatt’s verse satire (“Mine Own John Poins”) and Surrey’s translation from Virgil’s Aeneid II. The term comes from Greek poetry where it defined poems made to be sung to the strumming of a lyre or small harp. The English favored the lute, a cousin of the guitar, so many of these poems might better be called “lute songs.” If they actually had music, it has been lost, however, so they exist only as shadows of their original composition. The lute song, Wyatt’s most common genre, may be in varying rhyme schemes and meters but generally tends toward short, trimeter or tetrameter lines with refrains. The sonnet (from French, “little song”), which both Wyatt and Surrey adapted from Petrarch, is a lyric probably not meant for instrumental accompaniment and reliably composed of fourteen lines of iambic pentameter. For a guide to the growth of `1the sonnet, including comparisons between Petrarch’s sonnets in Italian, a Modern English translation, and Wyatt’s and Surrey’s adaptation in Early Modern English.

    Characters: The “character” of the lyric’s speaker is a curious thing. T.S. Eliot, in “The Three Voices of Poetry,” argued that the first or lyric voice was like that of the poet, him or herself, but overheard in the act of speaking to some other hearer, to an allegorized idea, or to some inanimate part of the world. Wyatt, for instance, appears to talk to his lute (“My Lute, Awake”) and Surrey utters a strikingly familiar warrior’s “boast” of loyalty in the presence of “Love,” whom he calls “my lord.” Sometimes the lyric’s speaker declares madness, rejection, hatred, as well as passionate love, but in all instances the author’s position must be treated as something necessarily separate from the speaker’s. The division may be tissue thin (see “Who list his ease and wealth maintain” p. 534) but these are not testimonies under oath.

    Plot Summary: All the poems imply or express dramatic circumstances, but many require interpretation to make them intelligible. For instance, in “Whoso list tohunt,” the chilling inscription on the “hind”‘s collar mentioned above would be far less emotionally impressive for a reader who did not realize that it was expressing the perfectly lethal will of Henry VIII. Thus, the poem mimics the whispered, metaphorical advice given by an experienced courtier to a newcomer who first had caught sight of the most beautiful and free-thinking woman at court.
    Sumber: http://faculty.goucher.edu/eng211/thomas_wyatt_and_henry_howard.htm

    Terjemah:
    Tuan Thomas Wyatt dan Henry Howard, pangeran Surrey

    Aliran: Semua teknis “lirik syair” kecuali karangan Wyatt (Mine Own John Ponit) dan terjemahan Surrey darri Virgil’s Aeneid II. Masa itu datang dari puisi Yunani yang mendefinisikan bahwa puisi dibuat untuk menjadi lagu dengan memetik sebagian lirik atau nada (kecapi) kecil. Nada (kecapi) favorit di inggris adalah suara gitar, banyak syair yang disebut dengan “nyanyian kecapi”. Jika pada kenyataannya mereka mempunyai musik, walaupun mereka sudah kehilangan, kehadiran mereka tetap seperti gubahan (musik) asli. Lagu kecapi milik Wyatt hanya merupakan aliran paling biasa dalam ragam bagan rima dan ukuran, tetapi secara umum cenderung pendek, ukuran garis dengan ulangan. Sneta (dari prancis, little song), Wyatt dan Surrey keduanya mengadaptasi dari Petrach, mungkin lirik tidak berarti untuk membangun iringan (bunyi-bunyian) dan dipercaya berisi 40 garis nada atau berimakan (deretan pertentangan bunyi lemah dan keras). Untuk perjalanan perkemangan sonata, memasukkan bandingan antara sonata milik Petrarch di Italia, terjemahan Inggris modern dan adaptasi dalam Wyatt dan Surrey.

    Tokoh: Tokoh dari pembicaraan lirik merupakan rasa keingintahuan. T.S, dalam The Three Voices Of Poetry, mendebatkan yang pertama atau terbentuknya suara lirik seperti puisi, dia atau kehidupannya, tetapi eksploitasi dalam tingkah laku berbicara untuk beberapa orang pendengar, untuk ide kiasan atau untuk beberapa bagian (benda) yang mati di dunia. Instansi Wyatt terlihat berbicara dalam nadanya (My Lute Awake) dan Surrey sama sekali terbiasa menggunakan alat-alat musik dengan membanggakan kesetiaan pada kehadiran “cinta” yang mereka sebut “duniaku”. Beberapa pembicaraan lirik mengungkapakan kegilaan, penolakan, kebencian, sama baiknya dengan penuh gairah cinta, tetapi semua instansi memposisikan pengarang harus pada pijakan (tempat awal) seperti beberapa kebutuhan salinan dari pembicaraan. Divisi boleh jadi jaringan tipis (lihat “ Who List His and Walth Mintain” hlm. 534) tetapi disini bukan kesaksian di bawah sumpah.

    Ringkasan alur: Semua puisi menyatakan secara tidak langsung atau mengekspresikan keadaan dramatik, tetapi banyak menuntut penafsiran untuk membuat pemahaman mereka. Untuk instansi dalam “Whoso List Tohunt”, menggoreskan diatas “leher rusa betina” mengatakan di atas dapat jauh lebih kecil secara emosional mengesankan untuk pembaca siapa yang tidak menyadari yang telah mengemukakan dengan lancar mematikan Henry VIII. Dengan demikian, mimik puisi berbisik, nasehat menggunakan metafora memberikan pengalaman pegawai istana untuk pendatang baru siapa yang pertama mempunyai penglihatan lebih indah dan bebas berpikir wanita di pengadailan.

    Pejelasan:
    Sir Thomas Wyatt and Henry Howard, the earl of Surrey di atas menjelaskan mengenai awal terbentuknya lirik lagu. Mereka beranggapan lirik lagu terbentuk dari syair puisi. Lagu milik Wyatt hanya merupakan aliran paling biasa dalam ragam bagan rima dan ukuran, tetapi secara umum cenderung pendek, ukuran garis dengan ulangan. Sneta (dari prancis, little song), Wyatt dan Surrey keduanya mengadaptasi dari Petrach. Semua lirik puisi menyatakan secara tidak langsung atau mengekspresikan keadaan dramatik, tetapi banyak menuntut penafsiran untuk membuat pemahaman mereka. Mereka menggunakan lirik untuk mengutarakan perasaannya seperti: mengungkapakan kegilaan, penolakan, kebencian, penuh gairah cinta dan sebagainya.

    Comparative Canadian Literature and Italian-Canadian Writing by Joseph J. Pivato

    While at Athabasca University I have been able to publish three books and many articles in literary journals. In addition to brief descriptions about these books, I include here some of the latest information on publications in ethnic minority writing in Canada.

    In 1985 I edited Contrasts: Comparative Essays on Italian-Canadian Writing. This was the first book of critical studies on the literature of Canadians of Italian background, and was republished in 1991. The topics explored in this book are: ethnic identity, writing in French and in Italian, the short story, ethnic poetry, exile and the role of the writer. In addition to the introduction I contributed two essays to this book which includes articles by novelists: Frank Paci, Dino Minni and Alexandre Amprimoz. Some Italian-Canadian writers who live in Quebec publish in French and three of them contributed essays in English translation: Antonio D’Alfonso, Fulvio Caccia and Filippo Salvatore. In addition to English and French some of these writers work in Italian. And you may be surprised to learn that there are more than 90 works of literature in Italian published in Canada.

    Dr. Steven Totosy de Zepetnek initially established a CLC Web journal for Comparative Literature and Culture, which is now maintained by Purdue University. In addition to the web journal, Purdue University maintains an extensive on-line library including directories, cumulative bibliographies, research tools, submission guidelines, publication objectives, listserves and other information for use when studying, researching, and publishing Comparative Literature.
    Sumber: http://www2.athabascau.ca/cll/english/faculty/jpivato/ethnic.php

    Terjemah:
    Perbandingan Sastra Canada dan Menulis Italian-Canada oleh Joseph J. Pivato

    Ketika di Universitas Athabasca saya telah mampu membuat tiga buku dan banyak artikel dalam jurnal sastra. Dalam deskripsi singkat tentang buku ini. Beberapa informasi terakhir dalam menulis etnik kecil di Canada.

    Tahun 1985 saya mengedit perbandingan: Perbandingan Menulis Esaay di Italia-Canada. Ini merupakan buku pertama dari mempelajari kritik sastra Canada dari latar belakang bangsa Italia dan telah dipublikasikan tahun 1991. Topik yang diangkat adalah: identitas etnik, menulis Prancis dan Italia, cerita pendek, puisi etnik pengasingan dan peranan menulis. Dalam tambahan untuk memperkenalkan menyumbangkan dua esay untuk buku ini yang mana mencakup artikel oleh novelis: Frank Paci, Dinno Minni, Alexander Amprimoz. Beberapa penulis Italia-Canada hidup dalam menerbitkan Quebec di Prancis dan tiga diantaranya menyumbangkan esay dalam terjemahan Inggris. Tambahan lagi untuk Inggris dan Prancis ada beberapa penulisbekerja di Italia. Dan kamu boleh terkejut untuk mempelajari lebih dari 90 pekerja sastra di Italia diterbitkan di Canada.

    Dr. Steven Totosy de Zepetnek pada awalnya memantapkan Web jurnal CLC untuk Sastra Bandingan dan Budaya, yang mana sekarang diteruskan Universitas Purdue. Tambahan lagi untuk web jurnal, universitas Purdue meneruskan dengan luas perpustakaan online termasuk direktori, daftar buku yang semakin menumpuk, alat penelitian, pengarahan, penerbitan yang objektif, daftar pelayanan dan informasi lainnya untuk menggunakan pelajaran, penelitian, dan penerbitan sastra bandingan.

    Penjelasan:
    Perbandingan Sastra Canada dan Menulis Italian-Canada oleh Joseph J. Pivato di atas menjelasakan mengenai esay-esay dan buku-buku yang pernah dihasilkan oleh Joseph. Topik yang pernah diangkatnya seperti: identitas etnik, menulis Prancis dan Italia, cerita pendek, puisi etnik pengasingan dan peranan menulis, meninjau masalah terjemahan, tradisi lisan dari cerita rakyat dan musik, suara wanita, gambar dari keluarga, kebencian diri, menulis dalam Quebec dan Sastra Bandingan. Joseph juga memantapkan Web jurnal CLC untuk Sastra Bandingan dan Budaya yang sekarang diteruskan Universitas Purdue.

    The Princeton Sourcebook in Comparative Literature:
    From the European Enlightenment to the Global Present
    Edited by David Damrosch, Natalie Melas & Mbongiseni Buthelezi

    As comparative literature reshapes it self in today’s globalizing age, it is essential for students and teachers to look deeply into the discipline’s history and its present possibilities. The Princeton Sourcebook in Comparative Literature is a wide-ranging anthology of classic essays and important recent statements on the mission and methods of comparative literary studies. This pioneering collection brings together thirty-two pieces, from foundational statements by Herder, Madame de Staël, and Nietzsche to work by a range of the most influential comparatists writing today, including Lawrence Venuti, Gayatri Chakravorty Spivak, and Franco Moretti. Gathered here are manifestos and counterarguments, essays in definition, and debates on method by scholars and critics from the United States, Europe, Asia, Africa, and Latin America, giving a unique overview of comparative study in the words of some of its most important practitioners. With selections extending from the beginning of comparative study through the years of intensive theoretical inquiry and on to contemporary discussions of the world’s literatures, The Princeton Sourcebook in Comparative Literature helps readers navigate a rapidly evolving discipline in a dramatically changing world.
    Sumber: http://press.princeton.edu/titles/9031.html

    Terjemah:
    The Princeton Sourcebook in Comparative Literature:
    From the European Enlightenment to the Global Present
    Edited by David Damrosch, Natalie Melas & Mbongiseni Buthelezi

    Sastra Bandingan dibahas secara global hari ini, kebutuhan penting untuk siswa dan guru untuk melihat sangat ke dalam sejarah disiplin dan menghadirkan berbagai kemungkinan. The Princeton Sourcebook in Comparative Literature merupakan antologi luas dari esay klasik dan pernyataan penting yang mutakhir dengan misi dan metode dari pelajaran Sastra Bandingan. Pelopor ini membawa koleksi bersama 32 buah. Pendirian pernyataan oleh Herder, Madame de Staël, and Nietzsche untuk bekerja oleh jangkauaan yang sangat mempengaruhi perbandingan menulis hari ini, mencakup Lawrence Venuti, Gayatri Chakravorty Spivak, and Franco Moretti. Gathered disini adalah manifestor dan pusat pendapat, definisi esay, debat dan metode oleh cendikiawan dan kritik dati Unuted Stated, Eropa, Asia, afrika dan amerika Latin, memberi keunikan dalam mempelajari bandingan di dunia dari beberapa yang terpenting dari penelitian. Dengan memilih memperluas dengan memulai mempelajari perbandingan dengan cermat dari tahun ke tahun secara intensif menurut teori penyelidikan dan untuk yang sejaman dari dunia sastra, The Princeton Sourcebook in Comparative Literature membantu pembaca dengan cepat berkembang disiplin secara dramatis mengganti dunia.

    Penjelasan:
    Princeton Sourcebook in Comparative Literature merupakan antologi dari esay klasik dan pernyataan penting yang mutakhir dengan misi dan metode dari pelajaran Sastra Bandingan. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa sastra bandingan memilik keunikan penelitian yang dilakukan di dunia. Dengan mempelajari sastra bandingan dengan cermat, maka akan membantu pembaca berkembang disiplin secara dramatis untuk perubahan dunia.

  14. Juhrani
    23/06/2010 pukul 12:54 pm

    Nama: Juhrani
    NIM (A1B107047)

    1.) Comparative Literature

    The Department of Comparative Literature at Yale is proud of a long tradition of excellence. We have long been a leading graduate program for the study of literature across the boundaries of national literatures and of other disciplines: law, history, the visual arts, and film. The Literature Major extends the department’s interdisciplinary study to Yale College students. The department encourages students to develop their skills of textual analysis while it challenges them to reflect theoretically on the acts of writing and reading, on the connections between literature and other realms of human experience. The guidelines of our programs allow students great flexibility in shaping their course of study and to pursue their individual intellectual interests.

    Comparative Literature enjoys the cooperation of other stellar literature-teaching departments at Yale, and, in addition to our strong faculty, our students can work with professors in English, French, Spanish, Germanic Languages and Literatures, Italian, Slavic Languages and Literatures, Classics, East Asian Languages and Literature, Near Eastern Languages and Civilizations, African American Studies, Film Studies, and with Renaissance Studies. Yale’s superb libraries offer inexhaustible resources for research.

    The Department of Comparative Literature and Yale as a larger whole provide a welcoming environment and social community for graduate study. Graduate students in the department organize the annual Baldwin-Dahl lecture which brings noted critics and thinkers to campus. Students and faculty share their work-in-progress in the ongoing Open Forum series. Our Ph.Ds have enjoyed excellent success in finding academic positions. Since 2005, our graduates have found tenure-track positions in Comparative Literature, English, French, German, Romance Languages, Russian, Classics, Film Studies, Humanities, and other fields at New York University, Penn State, University of Oregon, Claremont College, Notre Dame University, University of Rochester, University of Mary Washington, SUNY-Purchase College, University of Arizona, Texas A & M University, Dartmouth College, University of Chicago, and Bilkent University.

    http://www.yale.edu/complit/index.html

    Terjemahan:

    Departemen Sastra Perbandingan di Yale memiliki tradisi panjang yang diunggulkan. Departemen Sastra Perbandingan di Yale telah lama menjadi program pascasarjana terkemuka untuk kajian sastra bandingan. Departemen ini mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan mereka menganalisis teks selain itu menantang mereka untuk merefleksikan secara teoritis tentang tindakan menulis dan membaca, hubungan antara sastra dan pengalaman yang dialami manusia. Pedoman program kami memungkinkan siswa lebih fleksibilitas dalam membentuk program studi mereka dan untuk membantu mencapai cita-cita mereka. Perbandingan Sastra senang bekerjasama dengan departemen lain untuk mengajar sastra bandingan di Yale, di samping fakultas kami diunggulkan, siswa dapat bekerja sama dengan profesor dalam pelajaran bahasa dan sastra Inggris, Perancis, Spanyol, Jerman, Italia, Slavia, Asia Timur, Dekat Bahasa dan Peradaban Timur, Studi Afrika Amerika, Studi Film, dan Studi Renaisans. Perpustakaan Yale yang luar biasa menawarkan sumber daya untuk penelitian.

    Departemen Sastra Perbandingan di Yale secara keseluruhan menyediakan lingkungan yang ramah dan komunitas sosial untuk studi pascasarjana. Mahasiswa Pascasarjana di departemen mengorganisir kuliah Baldwin-Dahl tahunan yang berisi kritikkan dan pemikiran untuk kampus. Mahasiswa dan fakultas berbagi pekerjaan untuk kemajuan kampus. Kami telah menikmati kesuksesan yang sangat baik dalam menemukan posisi akademik. Sejak tahun 2005, lulusan kami telah menemukan jalur posisi jabatan di Perbandingan Sastra, Inggris, Perancis, Jerman, Bahasa Roma, Rusia, Klasik, Film Studies, Humaniora, dan bidang lainnya di New York University, Penn State, University of Oregon, Claremont College, Universitas Notre Dame, University of Rochester, University of Washington Maria,-Pembelian SUNY College, University of Arizona, Texas A & M University, Dartmouth College, University of Chicago, dan Universitas Bilkent.

    2.) Comparative Literature

    Comparative literature is the study of literature and other cultural expressions across linguistic and cultural boundaries. At Brown, the Department of Comparative Literature is distinct in its conviction that literary research and instruction must be international in character, and its undergraduate and graduate programs are considered among the finest in the country. Undergraduate students study a generous range of literary works – from Western cultures, both ancient and modern, to Chinese, Japanese, and Arabic – to develop a focused critical understanding of how cultures differ from one another.

    The graduate program is a vigorous and comprehensive study of literature and culture, utilizing a range of materials from several literatures to foster an understanding of individual authors, influences, literary movements, forms, and genres in a comparative critical context. The program is flexible enough to accommodate a wide range of individual emphases in literature and culture, periods, genres, history, criticism, and theory.

    http://www.brown.edu/Departments/Comparative_Literature/

    Terjamahan:

    Perbandingan sastra adalah studi sastra dan ekspresi budaya lain di seluruh batas-batas linguistik dan budaya. Pada Brown, Departemen Perbandingan Sastra berbeda dalam keyakinannya, bahwa penelitian sastra dan instruksi harus internasional dalam karakter, dan sarjana dan program pascasarjana dianggap salah satu yang terbaik di negara ini. Siswa mempelajari berbagai karya sastra murah – dari budaya Barat, baik kuno dan modern, untuk Cina, Jepang, dan Arab – untuk mengembangkan pemahaman kritis terfokus bagaimana budaya berbeda satu sama lain.

    Program pascasarjana merupakan studi kuat dan komprehensif sastra dan budaya, memanfaatkan berbagai bahan dari beberapa literatur untuk mengembangkan pemahaman tentang penulis individu, pengaruh, gerakan sastra, bentuk, dan genre dalam konteks komparatif kritis. Program ini cukup fleksibel untuk mengakomodasi berbagai penekanan individu dalam sastra dan budaya, periode, genre, sejarah, kritik, dan teori.

    3.) American Comparative Literature Association

    The American Comparative Literature Association (ACLA) was founded in 1960 and is dedicated to facilitating scholarship within the fields of comparative literature and culture, including work which aims to reflect on the very practice of cross-cultural literary study. The Association’s well-organised website is divided into sections on: the Annual Meeting; Resources; Prizes; information for Graduate Students; and Membership Details. The Annual Meeting aims to bring together an international community of comparative literature scholars to discuss such topics as: Global Ethnic Networks; translation issues; and Caribbean literature. Calls for papers and other information on the Annual Meetings are provided on the site. The Association also awards annual prizes for work already published in comparative literature and for the work of graduate students; information on how to apply for these prizes and/or how to nominate the work of others is posted on the site.

    The Resources section includes a useful gateway to free online journals such as Limen, the journal for the theory and practice of liminal phenomena, while the section for Graduate Students provides access to an electronic discussion forum for students of comparative literature as well as information on how to apply for the Association’s travel funds. This is a useful and well-maintained resource for students and faculty with an interest in comparative literature.

    http://www.intute.ac.uk/cgi-bin/fullrecord.pl?handle=humbul10451

    Terjemahan:

    Sastra Perbandingan di Amerika didirikan pada tahun 1960 dan didedikasikan untuk memfasilitasi beasiswa dalam bidang sastra komparatif dan budaya, termasuk pekerjaan yang bertujuan untuk merefleksikan praktek sangat studi sastra lintas budaya. Website Asosiasi terorganisir dengan baik dibagi menjadi beberapa bagian pada: Rapat Tahunan; Sumber; Hadiah; informasi untuk Mahasiswa Pascasarjana; dan Rincian Keanggotaan. Pertemuan Tahunan ini bertujuan untuk membawa bersama-sama sebuah komunitas internasional sarjana sastra komparatif untuk membahas topik-topik seperti: Global Etnik Networks; masalah terjemahan dan literatur Karibia. Panggilan untuk kertas dan informasi lainnya pada Rapat Tahunan disediakan di situs. Asosiasi juga penghargaan hadiah tahunan untuk pekerjaan yang telah diterbitkan dalam sastra komparatif dan bagi pekerjaan mahasiswa pascasarjana; informasi tentang bagaimana mengaplikasikan untuk hadiah ini dan / atau bagaimana untuk mencalonkan pekerjaan orang lain yang diposting di situs.
    Bagian Sumber Daya termasuk gateway berguna untuk jurnal online gratis seperti Limen, jurnal untuk teori dan praktek fenomena liminal, sedangkan bagian untuk Mahasiswa Pascasarjana menyediakan akses ke sebuah forum diskusi elektronik bagi siswa sastra komparatif serta informasi tentang bagaimana mengajukan permohonan untuk dana perjalanan Asosiasi. Ini adalah sumber daya yang berguna dan terawat dengan baik bagi mahasiswa dan fakultas yang memiliki kepentingan dalam sastra komparatif.

  15. MARLINA
    27/06/2010 pukul 3:19 am

    NAMA : MARLINA (A1B107049)
    MATA KULIAH : SASTRA PERBANDINGAN
    Remedial Sastra Perbandingan

    Comparative Literature and the Genres of Interdisciplinarity
    By FRANCESCO LORIGGIO
    During the last few decades com- parative litera- ture’s most pressing impulse seems to have been territorial or cumulative: annexing material first overlooked or unexplored, enlarging the scope, ex- panding the limits of comparison geographically, disciplinary, intellectually. You see this in those definitions of the discipline which, on various occa- sions, have urged comparatists to put more truly in- tercultural distance between the texts they choose to compare, to transcend Eurocentrism and address the insights–critical and theoretical–that works from Asia or Africa or elsewhere outside Europe might provide.1 You see it in the resolution adopted by the International Comparative Literature Associ- ation in the seventies which adds theories to the ros- ter of items amenable to comparison (Scholz). Or you see it in in those definitions which, in the early sixties, brought within the compass of the discipline “the study of the relationship between literature . . . and other areas of knowledge and belief, such as the arts (e.g., painting, sculpture, architecture, music), philosophy, history, the social sciences (e.g., poli- tics, economics, sociology), the sciences, religion,” or, in brief, “the other spheres of human expres- sion,” to round out and complement the more tra- ditional “study of literature beyond the confines of one country” ( Remak, 1). And, of course, it is there in more recent versions, which raise the ante still
    further and inscribe the very process of readjust- ment and accumulation into their survey of the dis- cipline. For the 1993 Bernheimer Report to the American Comparative Literature Association, the “space of comparison” involves not only compar- isons between “artistic productions usually studied by different disciplines” or “Western cultural tradi- tions, both high and popular, and those of non- Western cultures” or “pre- and postcontact cultural productions of colonized peoples” or “gender con- structions defined as feminine and those defined as masculine” or “sexual orientations defined as straight and those defined as gay” or “racial and ethnic modes of signifying” or “hermeneutic articu- lations of meaning and materialist analyses of its modes of production and circulation”–not only this, but “much more” ( Bernheimer, 41-42). You surmise that tomorrow is another day, with more new material to canvass and to agglomerate.
    It is difficult to say with how strong a sense of caution–or of suspicion–such a compulsion should be faced. The continual updating, the many revisions may spring from some anxiety of omission, some unavowed intellectual hubris, but they are also
    a sign that the discipline participates fully in the dy- namics of cultural conversation, that it listens to outside proddings and keeps in touch with events. Comparative literature compares anything the times confront it with. Certainly, in spite of their elitism and Eurocentrism, comparative literature programs have not been the places where institutional power is concentrated, or, for that matter, where power-mak- ing and power-breaking intellectual trends are initi- ated or consolidated. As the history of poststruc- turalism, postcolonialism, and cultural studies suggests, ideas in North American faculties of art have to be properly domesticated, to go through the filter of English departments before they can aspire to any measure of academic success.
    What is striking, in the nineties, is the degree to which, in the various definitions of comparative lit- erature, both the principle of coverage and the com- patibility of the elements the coverage entails, of the ingredients the many corrections sediment on the rest, are taken for granted. Each of the new items comes attached with a theoretical or critical agenda which has external repercussions as well as its own internal tensions. Today, the misgivings about the focus of traditional literary studies voiced by the in tercultural comparatists of one or two decades ago are similar but not quite the same as those of post- colonialist critics. Relocating theories into the
    province of comparison aligns comparatists with antifoundationalists from a variety of institutional venues–not an uncontroversial position. For its own part–to pass over gender studies, whose actu- ality and explosiveness, as topics, need not be dwelt upon–the opening to “the other arts,” visual and plastic, leaves comparative literature at the doorstep of media and cultural studies, two of its strongest institutional and intellectual competitors.
    Schematized, the strains which the widening of the perimeters of comparative literature has been causing among comparatists stem, I would submit, from the centrifugal pull of two basic orientations.
    FRANCESCO LORlGGIO teaches Italian and Comparative Litera- ture at Carleton University in Ottawa, Ontario. He has published numerous articles on literary theory, the relations between litera- ture and other disciplines, the novel, and various twentieth-cen tury authors. His translations from the works of Achille Campanile
    , The Inventor of the Horse and Two Other Short Plays, appeared in 1995. He is the editor of the essay collection Social Pluralism and Literary History: The Literature of the Italian Emigra- tion (forthcoming).

    Questia Media America, Inc. http://www.questia.com
    Sumber: http://www.questia.com/read/96466916?title=Comparative%20Literature%20and%20the%20Genres%20of%20Interdisciplinarity%2c%20in%20World%20Literature%20Today,
    diakses 5 Juni 2010-06-15

    Publication Information: Article Title: Comparative Literature and the Genres of Interdisciplinarity. Contributors: Francesco Loriggio – author. Journal Title: World Literature Today. Volume: 69. Issue: 2. Publication Year: 1995. Page Number: 256.

    TERJEMAHAN:
    Perbandingan Sastra dan Genre antar Bidang Ilmu Pengetahuan
    OLEH FRANCESCO LORIGGIO
    Selama beberapa dekade terakhir dorongan yang sangat kuat sastra bandingan nampaknya telah dibatasi atau terkumpul: materi penguat yang pertama terlupakan atau tidak tereksplor, memperluas ruang, batas komperasi secara geografis, disipliner secara intelektual. Kamu lihat ini pada semua definisi disiplin yang pada berbagai kejadian telah mendesak para kompatis untuk meletakan jarak interkultural antara teks yang mereka pilih untuk di bandingkan, untuk mengatasi yurosentisme dan menempatkan perasaan kritik dan teoritis yang berasal dari Asia atau Afrika atau dimana pun di luar Eropa. Bisa dilihat pada resolusi yang di ambil oleh Asosiasi sastra bandingan di tahun 70-an yang menambah teori item roster yang siap di komperasi (scholz). Atau bisa dilihat pada semua definisi yang pada awal tahun 60-an dibawa dalam kompas disiplin sebuah studi tentang hubungan antar literature dan ilmu pengetahuan lain dan kepercayaan seperti kesenian (misalnya melukis, pahat, seni arsitek, musik), filosofi, sejarah, studi sosial (misalnya, politik, ekonomi, sosiologi), sains, agama atau secara ringkas,’ ruang lain ekspresi humanitas,’ untuk memutar semua dan melengkapi studi literature yang lebih tradisional di wilayah satu negara (remak 1) Dan, tentu saja, itu ada dalam versi yang lebih baru, yang masih menaikkan ante lebih lanjut dan menuliskan proses pembaharuan dan akumulasi ke dalam survei ilmu pengetahuan. Bagi laporan Bernheimer 1993` ke asosiasi sastra bandingan, “ruang komparasi” tidak hanya meliputi komparasi antara produksi artistik yang biasanya dipelajari oleh disiplin ilmu yang berbeda atau tradisi kultur barat, baik kebudayaan yang tinggi maupun yang popular dari luar barat, atau produk kultur orang kolonial` yang awal dan akhir atau konstruksi jenis kelamin yang disebut feminim dan semua yang disebut maskulin atau seks orientasi seperti gay atau gaya etnis dari ras yang berarti atau hermeneutik artikulasi arti dan analisis materialis pada gaya produksi dan sirkulasi. Tidak hanya ini, tetapi banyak lagi (Bernheimer, 41-41) kamu mengira bahwa besok adalah hari lain, dengan materi baru untuk di periksa atau diteliti dan untuk ditumpuk.
    Sulit berkata dengan bagaimana kuatnya rasa perhatian-atau kecurigaan-suatu tekanan harus dihadapi: Perbaikan bisa terjadi dari beberapa kecemasan tentang kehilangan, kecongkakan intelek yang tidak bisa diakui, tapi ia juga merupakan satu tanda bahwa disiplin ikut sepenuhnya dalam dinamika percakapan kultur. Sastra bandingan membedakan semua yang dihadapi waktu. Tentu, meskipun etitisme dan eurosentris program sastra bandingan bukanlah tempat dimana kekiasan kelembagaan dipusatkan. Pemecah adalah initi-diciptakan atau konsolidasi. Sebagai sejarah poststruc-turalism, postkolonialisme, dan studi budaya menunjukkan, ide-ide di fakultas Amerika Utara seni harus benar dijinakkan, harus melalui saringan departemen bahasa Inggris sebelum mereka dapat bercita-cita untuk setiap ukuran keberhasilan akademis.
    Yang terjadi di tahun sembilan puluhan, adalah sejauh mana, dalam berbagai definisi erature menyala-komparatif, baik prinsip cakupan dan com-patibility unsur cakupan memerlukan, bahan sedimen banyak koreksi pada Sisanya, diambil untuk diberikan. Setiap item baru yang terpasang dengan agenda teoritis atau kritis yang memiliki dampak eksternal maupun ketegangan internalnya sendiri. Saat ini, keraguan tentang fokus dari studi sastra tradisional disuarakan oleh comparatists tercultural dalam satu atau dua dekade yang lalu yang serupa tetapi tidak persis sama dengan kritikus pasca-kolonialis. Relokasi teori ke
    provinsi comparatists perbandingan sejajar dengan antifoundationalists dari berbagai tempat institusi – tidak posisi kontroversial. Untuk bagian sendiri – untuk dilewatkan studi gender, yang actu-ality dan explosiveness, sebagai topik, tidak perlu tinggal di atas – bukaan “seni lain,” visual dan plastik, daun sastra komparatif di ambang pintu media dan studi budaya, dua kompetitor yang kuat kelembagaan dan intelektual.
    Schematized, strain yang pelebaran batas-batas sastra komparatif telah menyebabkan antara comparatists batang, aku akan serahkan, dari tarikan sentrifugal dari dua orientasi dasar.
    Francesco LORlGGIO mengajarkan Italia dan Perbandingan Litera-mendatang di Carleton University di Ottawa, Ontario. Dia telah menerbitkan sejumlah artikel tentang teori sastra, hubungan antara litera-mendatang dan disiplin lainnya, novel, dan berbagai penulis keduapuluh-cen tury. Nya terjemahan dari karya Achille Campanile
    , The Penemu Kuda dan Dua Lainnya Pendek Dimainkan, muncul pada tahun 1995. Dia adalah editor dari kumpulan esai Pluralisme Sosial dan Sejarah Sastra: The Sastra dari SI-Italia Emigra (datang).

    Questia Media America, Inc http://www.questia.com
    %% 20and% 20Literature http://www.questia.com/read/96466916?title=Comparative 20Genres% 20the% 20oF% 20Interdisciplinarity% 2c% 20in% 20World% 20Literature% 20Today, diakses tanggal 5 Juni 2010

    Publikasi Informasi: Pasal Judul: Sastra Perbandingan dan Genre dari Interdisciplinarity. Kontributor: Francesco Loriggio – penulis. Jurnal Judul: Sastra World Today. Volume: 69. Edisi: 2. Publikasi Tahun: 1995. Jumlah Halaman: 256.
    KESIMPULAN:
    Sastra perbandingan merupakan wilayah keilmuan sastra yang mempelajari keterkaitan antarsastra dan perbandingan sastra dengan bidang lain seperti kesenian (misalnya melukis, pahat, seni arsitek, musik), filosofi, sejarah, studi sosial (misalnya, politik, ekonomi, sosiologi), sains, agama.

    Thomas K. Hubbard, The Pipes of Pan: Intertextuality and Literary Filiation from Theocritus to Milton .
    Ann Arbor: University of Michigan Press, 1998. Ann Arbor: University of Michigan Press,1998.
    x + 390 pp. ISBN 0472108557. x + 390 hlm. ISBN 0472108557.
    Volume 2, Number 1 (Summer 2000)

    Reviewed by Christopher M. Kuipers
    University of California, Irvine

    Hubbard’s is the second major book on literary pastoral in this decade; the other, Paul Alpers’s What Is Pastoral? (Chicago, 1996). Both start from the argument that pastoral, when considered over its long literary history, must be narrowed down and should not be considered as something whose primary role is the setting of some idealized world. The “questions of genre definition and social function have their own interest,” says Hubbard, but “the present study assumes pastoral as ‘convention’ rather than as ‘theme,’ as a tradition more than as a definable genre” (4-5). Compare Alpers, invoking Kenneth Burke: “we will have a far truer idea of pastoral if we take its representative anecdote to be herdsmen and their lives, rather than landscape and idealized nature” (22). While Alpers takes the tradition all the way from Theocritus to Frost and other twentieth-century writers, he skips almost straight from Vergil to Spenser. Hubbard reads fewer figures, but reads them much more closely, and pays some attention to the most neglected part of the tradition–what happened after Theocritus and Vergil (Hubbard’s chapters 1 and 2, respectively) but before the Renaissance (chapter 5): the pastoral of late antiquity (chapter 3) and medieval pastoral (chapter 4). However, Vergil and the Renaissance are Hubbard’s largest concerns, because here the strands of literary filiation are at their most tangled and thus most interesting. The general argument, however, is that the strands are always there, even in the “weaker” examples of the pastoral tradition. This distinctive classicism drives Hubbard’s successes, and his shortcomings.

    The introduction reviews the literature of theory behind the subtitle. All the usual theoretical suspects of intertextuality are cited–Bakhtin, Kristeva, Derrida, Gérard Genette, Laurent Jenny. Though swift, the review is nonetheless historically correct and characteristically lucid. “Filiation” here refers to a subset of intertextuality, the poetic revisionism of Harold Bloom: the Oedipal agon of the “anxiety of influence” where one poet/ephebe/ filius battles with an elder poet/father. Hubbard prefers the latter model of intertextuality, but with an inflection that owes far more to the reception theory of Wolfgang Iser than to Bloom’s misprision-as-misreading. For Hubbard does not portray the author as an anxious heir engaged in an unconscious battle with an ancestor, but as an especially expert reader who is responding to one particular, carefully-read predecessor: “authorial intent is certainly not irrelevant What is needed for a fuller understanding of allusion in poetry is thus a symbiotic union of intertextual theory with reader-response criticism” (15). Indeed, taken to the pastoral tradition, this focus on the author as readerly (Iser, not Barthes) helps to explain why pastoral has so frequently been taken up as a way to begin a career, namely by referring it to careers of authors past, when they too began with pastoral. This strand of Hubbard’s argument locates what Iser calls “the repertoire”: “[t]he history of the pastoral intertext thus forms a narrative of successive appropriations and modulations in which poets not only demonstrate virtuosity by recombining traditional topoi and dramatic situations into a new format but also position themselves relative to the past and/or the future of poetry” (349)

    However, all this is really “intertextuality lite.” As often seems to be the case when the field of classics enlists contemporary literary and critical concepts, the theory appears as another “authority” without any attempt to challenge or otherwise stretch the theoretical frame, or to gauge the relative resistances of the ancient text versus the modern theory. Consequently, Hubbard is very far from an application that is in any way “strict” regarding either his titular Kristevan intertextuality or Bloomian influence. Kristeva argues that subjects are completely swallowed up by intertextuality, and in fact there is practically nothing “out there” except intertextuality, or “wall-to-wall” textuality. Bloom has stated (being very true to Freud) that misreading can be entirely unconscious–that there is no need for the ephebe to have actually read the predecessor!–and that “influence” may in fact work entirely against the grain of any linear literary history: Bloom even discusses the uncanny appearance of the ephebe’s voice within the predecessor’s text. For Hubbard, however, these are mainly theoretical niceties; there is no systematic attempt, for example, to apply Bloom’s six “revisionary ratios,” and Bloom is hardly mentioned once the criticism proper begins. Bloom’s anxiety of influence, Hubbard suggests, may only really occur after Milton, the study’s endpoint, and up to him there is a more generalized “anxiety of originality” (the revision of Thomas M. Greene, The Light in Troy ). Nevertheless, Hubbard’s idea of intertextuality as applied, even if “soft,” “intentional,” and Iserian, results in an entirely convincing and enlightening explication of something still interesting: the systematic nature of an author’s allusions, with all the complexity and seriousness of any kind of play. The theory of intertextuality is really window-dressing, but the window that Hubbard opens has a view rarely seen: Hubbard’s best misprision is not of twentieth-century literary theory, but of the nineteenth-century commentary tradition–Hubbard is not content, as commentaries in the classical field still operate, with noting the most obvious allusion. Instead, Hubbard notes how allusions are often multiple and calculated, involving strings of prior texts; thus they must not only be noted but analyzed in depth, not in the context of just one work by one author (as commentaries typically limit themselves) but in the full intertextual field of all those works. When The Pipes of Pan comes up short, it is in failing to maintain this daunting project for all the authors Hubbard considers.

    In chapter 1, Hubbard compares Vergil and Theocritus, invoking the anecdote that has opened so many studies of pastoral, one which is perfect for a Bloomian approach: Theocritus invented pastoral, the story goes, and Vergil perfected it. Though Theocritus certainly did not invent his Idylls from scratch, there is only thin evidence from those specific Alexandrian predecessors that he might himself be revising. Nevertheless, if there is a basic defect with the revisionary model, it is revealed here in Hubbard’s reading of Theocritus–the predecessor never comes off very well, and Theocritus moreover has to bear, from the Bloomian perspective, the gigantic weight of all the pastoral that was to come later. As in Alpers’s What Is Pastoral? , Vergil triumphs decisively over his pastoral father: this “strong” preference for Vergil over Theocritus thus plays out from the beginning of both the literary and critical traditions of pastoral (already, Julius Scaliger devotes a chapter of his Poetics to suffering, as it were, Theocritus in comparison to Vergil). Of course, Hubbard himself confesses that his book may be governed by a “revision” against his teacher Thomas J. Rosenmeyer, whose well-known Green Cabinet is one of the only attempts to exalt Theocritus to the disqualification of everyone who came after (the other most useful critics who argue that Theocritus is indeed unique are David Halperin in Before Theocritus and Kathryn J. Gutzwiller in Theocritus’s Pastoral Analogies ). On the other hand, Hubbard’s reading of Vergil’s reading of Theocritus manages to uncover a wide range of insights in this otherwise well-traversed topic. While Theocritus positions himself as doing something clever with the old epic material, Vergil turns things completely around by using pastoral to direct his own career toward the epic achievement that Theocritus never attained, or even contemplated, since he seems to have been on Callimachus’s side against the post-epic project of Apollonius. Hubbard also considers the intermediary step of the anonymous Lament for Bion as a second, “weaker” and less Vergilian way: in this poem there is an expression of inadequacy, rather than triumph, in the face of tradition, in part a function, Hubbard has found, of temporal and linguistic proximity. It’s easier to revise from a distance.

    Chapter 2 examines Vergil’s Eclogues as the Eclogue Book, an entire intertext unto itself. This chapter is a tour de force, the best of The Pipes of Pan , since in it Hubbard performs what he finds in Vergil: a masterful overcoming and outstripping of a tangled tradition–namely, the huge body of existing criticism on the Eclogues . Hubbard’s reading proceeds straight through the Eclogue Book, avoiding for the present the more “obvious” pairings of Eclogues that have already been discussed ad nauseam (1 and 9; 2 and 8; 3 and 7; 4 and 6; 5 and 10). Instead, Hubbard links the Eclogues as three successive triads with a coda: Eclogues 1-3 follow Theocritus most closely and humbly; Eclogues 4-6 explore more ambitious models, such as the elegy and the epyllion; Eclogues 7-9 begin to demonstrate full mastery, to the point of modeling for other poets; and Eclogue 10 encapsulates all three movements, with a farewell and a final twinge of doubt. Hubbard’s revolution lies in reading Vergil’s collection as a recapitulation of a cycle of development, shaped as the poet would have it. Consequently, Hubbard dispenses with what would really interest a Freudian like Bloom: the actual order of composition of the Eclogues , a progress which might reveal an unconscious and less controlled dynamic at work. Hubbard’s Iserian endeavor is much more defensible, since the order as received is indeed the way Vergil intended. It is certainly different from the order of composition, whatever that order might have been, for (as in so many bibliographical questions of authorship in the classical period) there is little agreement on the compositional sequence. Hubbard is aware of pastoral’s importance for Iser, who begins The Act of Reading with Spenser’s Shepheardes Calendar , but is apparently not aware of Iser’s more recent, radical claim in The Fictive and the Imaginary that pastoral, at least in the Renaissance, is primarily about the reception process, which is what Hubbard is suggesting for the classical era. Thus one of Hubbard’s more important points is that Vergil’s revisions aim not just at the Greek tradition, and at nearer Roman contemporaries, most famously Gallus, but also importantly at Catullus as well as the other Roman love elegists, whose influence on the Eclogues –precisely because of the antagonistic relation–has been underestimated.

    One of Hubbard’s tactics, however, which is borrowed backwards from the Renaissance, does give some pause: he relies heavily on the standard suite of pastoral names to demonstrate the dynamics of Vergil’s revisionary progress (eg, from the Corydon in Eclogue 2 as a frustrated poet to the Corydon in Eclogue 7 as a successful one). This amounts to an overreading for two reasons. First, the allegorical, cross-collection identification of “one shepherd = one persona” is not a reliable equation until after the Middle Ages, even though it may already occur within such earlier individual poems as the seventh Idyll , where Theocritus does seem to appear in the guise of one of his shepherds. Second, not all pastoral names are repeated. Not only are there a good number of singleton proper names in the Eclogue Book, but repeated names may be intended not as intertexts but “antitexts” referring to very different personas: has Corydon really changed by Eclogue 7, or is he just a different Corydon? Either way there are few salient details of characterization. In this context, the possibilities of Judith Haber’s Pastoral and the Poetics of Self-Contradiction: Theocritus to Marvell (Cambridge, 1994; not cited by Hubbard) come to mind: that the tradition of anti-pastoral may be engaged on a highly self-conscious level by individual authors. Hubbard’s larger point is well-taken indeed–Vergil has certainly shaped his collection into a paradigm of artistic development–but making the pastoral names assume the burden of mapping this development diminishes this artistry. The famous Tityrus and Meliboeus of Eclogue 1 are a case in point. Commentators from Servius on down have always taken Tityrus to represent the poet: “Tityrus” is the first word of the poem; the picture of this shepherd, singing at his restored ease, remains one of the great anecdotes of poetic inspiration. The point of Eclogue 1, however, is not to argue for poetry as a home in contrast to the exile of Meliboeus, but to keep both perspectives in near-perfect opposition. Vergil, then, inhabits the voices of both Tityrus and Meliboeus–just as any author must inhabit all of his or her characters. If anything, Meliboeus comes out the “winner” in the reader’s sympathies, and this name, in appropriately revisionary fashion, is not found, as Tityrus is, in the Theocritean canon of shepherd names. Thus when Vergil closes the Georgics by repeating Eclogue 1.1 with the change “ I sang you , Tityrus,” this seems best read not as “I sang as you, Tityrus” but “I sang of you (as Meliboeus).” If Eclogue 9 develops a cynical contrast to the general optimism of Eclogue 1, and both belong to the same Vergil, certainly Vergil can inhabit both of Eclogue 1’s shepherds, both the younger Meliboeus and the older Tityrus. Hubbard certainly agrees with all of the above, but is not willing to take the further step that the next Tityrus and Meliboeus to appear in the Eclogues can be yet other personas, which is the more credible explanation for some of the extreme disjunctures in the characterization of Vergil’s shepherds, when there is any characterization at all.

    After the excellent long exposition of Vergil, the remaining chapters (like so much of pastoral poetry itself after Vergil) gradually become more and more disappointing. In Chapter 3, Hubbard explores the often neglected pastorals of Late Antiquity: the Einsiedeln Eclogues , the Eclogues of Calpurnius Siculus, and the Eclogues of Nemesianus. Hubbard considers the sequence intertextually regarding both Vergil and other predecessors in the sequence. Over their literary history, Hubbard finds, the collections slowly move out of Vergil’s debilitating shadow: the fragmentary Neronian Einsiedeln Eclogues cannot get past Vergil at all; Calpurnius (dated later than traditionally, to the third century) is more ambitious but still cannot fully overcome the Vergilian model; but Nemesianus defuses Vergil by diffusing him, playing him off against Theocritus, Calpurnius, and others, though the result has the flavor of Bloomian “weakness.” Hubbard has here supplied a contrast to the grimmer, backward-looking “strong poetry”: some poets focus less on the one strong predecessor and concentrate on an optimistic eclecticism in their misprisions, as a forward-looking model for future poets.

    Chapter 4, which is relatively brief, examines a few medieval examples of pastoral. Since Hubbard is primarily interested in collections of poems that are authored in conscious relation to the whole of the pastoral tradition, he jumps quickly (after a short consideration of the ninth-century Eclogues of Modoin of Autun) to the late medieval period, where the author, along with the appropriate awareness of classical texts, reappears with a vengeance. By the time pastoral reaches Dante, who wittily uses it in his verse letter to Giovanni del Virgilio as a Vergilian recusatio (the artful “refusal” to write a longer poem), pastoral has been fully overlaid with the enamels of allegory and satire, whether Christian, political, or just plain literary. Hubbard could make much more here of Dante’s use of Latin to refuse to write a Latin epic when he prefers an Italian one; two of the most strategic battles of the Ancients and the Moderns are over language and pastoral. Still in Latin, Petrarch and Boccaccio (considered as medieval) each write a collection of poems entitled Carmen Bucolicum , and reenact the sequence of Late Antiquity: Petrarch (like Calpurnius) is more Ancient, Boccaccio (like Nemesianus) more Modern, but both just as strong and eager for themselves to be subjects of interpretation and models for later poets.

    Chapter 5, on the Renaissance, continues the consideration of the early Italian reappropriations of pastoral, moving to the fifteenth century. The four Eclogues of Giovanni Pontano, sent to the printer soon before this writer and statesman’s death, provide an excellent example of Hubbard’s pastoral-as-curriculum-vita, in this case retrospective rather than predictive. At last, Pontano’s younger contemporary Sannazaro begins writing pastoral in the vernacular: the Arcadia directly approaches a full-scale native epic (or romance). The Adulescentia of Mantuan (Baptista Spagnuoli) return to Latin, and this, along with Mantuan’s theme of coming of age, made Adulescentia a standard school text (known for example to Shakespeare).

    At this point Hubbard jumps to the English pastoral tradition as represented by Spenser and Milton. Here, where the texts in question have been exhaustively criticized, there is little that is new and much that is missing. Certainly, as Hubbard finds, The Shepheardes Calender is just as overdetermined yet just as original as Vergil’s Eclogue Book. There is indeed the Vergilian, progressive account of the career in the twelve monthly “Aeglogues,” and like the enclosed commentary of “SK” (probably, as Hubbard takes it, Spenser himself), it reflects all of an author’s anxiety over the blind alleys of reception. Hubbard has little time to discuss the deep vernacular legacy of Chaucer, or (as Iser indicates) the overriding importance of the contemporary political situation. Although Hubbard spends nearly 50 pages on Spenser, about 100 are needed, or the same amount of space Hubbard devotes to Vergil. The greatest lack of all, here, is the tremendous intertext of all of the rest of Spenser’s literary production: the Spenserian corpus, all the way to the end, is shot through and through with resonances and recapitulations of pastoral. Thus Hubbard does not note, as he usefully could, that Spenser, though he had already finished a number of his other shorter works and had already begun The Faerie Queene , deliberately had The Shepheardes Calender published first.

    This gap does not appear when Hubbard next turns to Milton: Lycidas , along with the Epitaphium Damonis of two years later, is considered as a part of Milton’s 1645 collection of Poems . But again Hubbard is defeated, since the larger point of Lycidas is that it recapitulates in a single poem all earlier pastoral collections , whose various stepped progressions have proven so useful for Hubbard. Certainly Lycidas may perform the same sort of progression, but Hubbard is not equal to the profound wealth of intertextuality in Milton’s poem. In discussing for example the famous opening lines (“Yet once more, O ye Laurels, and once more / Ye Myrtles brown, with Ivy never sere”), Hubbard prefers a far-fetched parallel with Eclogue 7.61-64 to the much more obvious allusion to Eclogue 2.54. Focusing on the “Yet once more,” Hubbard cites the well-noted allusion to Hebrews 12:25, but misses that Milton can be just as well referring to himself; two of his prior poems have mentioned the laurel, and one the myrtle, so these are the third, second, and first times around, respectively, for the three plants. Such self-allusion is certainly appropriate for Milton. Hubbard would have profited from J. Martin Evan’s developmentally-oriented monograph The Road from Horton ( English Literary Studies , 1983), which carefully explicates both the intertextuality and the internal structuring of Lycidas .

    Hubbard’s larger point about Milton certainly does stand: Milton, writing at a time when pastoral was nearly moribund, revivified it so stunningly that he effectively killed it for all later comers; thus he may be personally responsible for the anxiety of influence. To reiterate, then, Hubbard has really revised Harold Bloom’s revisionism, in particular the Freudian “family romance” at its core. If anything, Hubbard has found that influence in the pastoral tradition from the classical to early modern periods is really like an extended, not a nuclear, family. Given that so much of the intertextuality that Hubbard discusses involves multiple allusions, there is much room for what more recent psychologists have called “family systems theory,” where personal interactions are rarely dyadic, but tend inevitably to triangulate. “Familiation” might replace “filiation” here, since Hubbard has demonstrated that pastoral interactions are as often intragenerational as intergenerational.

    “Filiation” also contains a Bloomian legacy that, like Alpers’s “herdsmen and their lives,” needs another kind of revision. The sexist incarnation of Bloom’s poet, and most of all the critic, leads to a significant misprision of the pastoral tradition. Certainly classical and later pastoral have been dominated by male poets, but it is easy to underestimate the contribution of, say, the Arcadian Anyte, whose highly original epigrams precede and may have influenced Theocritus; in any case she has the same project of rereading Homer “down to size.” Besides the need to revise pastoral “fatherhood” to “parenthood,” one should also examine the “anti-family” way of transmission: foundlings, runaways, mutations, miscegenation. There is, for example, no room in a Bloomian literary history of pastoral for the rapes of the medieval pastourelle . In emphasizing the points of transmission (such as male shepherd names) that appear highly conscious and deliberate, Hubbard misses the tiny ova of the Vergilian heritage that grow out of all proportion to Vergil’s intentions, of which the unexpected popularity of the “Messianic” Eclogue 4 is only the most obvious example. Another is the forward naiad Aegle in Eclogue 6, whose brief cameo is the sole female appearance in the Eclogue Book and the only Vergilian model for all later shepherdesses and nymphs of pastoral drama and romance, traditions that remain excluded by Hubbard’s genealogy–the phallic pipes of Pan are passed down only from man to man. (Hubbard does, however, note the homoerotic dimension of this translation, though it is still far from anything like a queer pastoral, which is another possibility.) This is to say that traditions, and the pastoral tradition is one of the better examples, have a way of meandering, looping back, and subverting themselves which Hubbard’s linear archeology–that enduring anecdote of classical studies–does not comprehend.

    It might be better to say “geology,” since even archeologists must occasionally confront deliberate gaps and omissions in the strata of cultural sedimentation. A significant consequence of the geological method is the exaltation of time at the cost of place: here on a mountaintop appear fossils from a seabed; here on the desert floor once stood a lush rain forest. In another recent book on pastoral entitled Pastoral Process: Spenser, Marvell, Milton (Stanford, 1998), a far slenderer but far more theoretically groundbreaking book than Hubbard’s, Susan Snyder has argued that there are really two kinds of pastoral, following the phenomenological division of place and time: the pastoral of place, as of Arcadia or the “pastoral retreat,” and the pastoral of time, or the “(lost) Golden Age.” Like Hubbard, Snyder is interested in the latter, specifically in the way in which poets utilize the pastoral of time in charting their own temporal development. But by indicating an alternative to temporocentrism, one, if not the, dominant mode of modern Western thought, Snyder opens the possibility for a renewed attention to place in pastoral and, more broadly, in literature.

    In fact, the environmental perspective on literature, also known as ecocriticism, has arisen with the claim that it is ultimately inspired by Greco-Roman pastoral, though its formal analyses have admittedly been limited thus far to English Romanticism and American nature writers. This classical linkage is stated for example in Don Scheese’s Nature Writing: The Pastoral Impulse in America (New York, 1996; see also the special forum in the October 1999 issue of PMLA , as well as in Terry Gifford’s Pastoral , recently published in Routledge’s New Critical Idiom Series). What Hubbard and even more so Alpers have thus elided is the importance in pastoral of landscape and nature, which may be pastoral’s most common denominator. Consequently in Hubbard’s readings, there is little emphasis laid on the decided (re)localization of many allusions: even when Vergil is citing Theocritus, the plants are Italian varieties, not Greek ones. It may finally be time to correct Bruno Snell’s excessive thesis that Arcadia was “discovered,” as a strictly imaginary place, by Vergil in Eclogue 10. Even leaving out Anyte in this geography, Arcadia already must be the site of Theocritus’s first Idyll (since Pan is said to be resting nearby). Moreover, Vergil’s invocation of Arethusa at the beginning of Eclogue 10 is an anecdote of the literary liquidity of places as a “real,” not imaginary phenomenon: Arethusa of Arcadia was pursued by Alpheus, transformed into a river, and emerged as a spring near Sicily’s Syracuse. Vergil specifies that the Arethusan spring was still fresh: it was unsalted in its journey under the sea. Thus pastoral’s places can travel, untouched by intervening time, and this invariability of place helps to explain the persistent appeal of pastoral to both authors and readers across the periods of literature. It is crucial to return by circling back to pastoral place, now that the linearity of pastoral time has been so clearly ruled by Hubbard.

    As a final note, on the occasion of this review of a book that involves literary theory, I will add a few words about the general relationship between the field of classics and recent theory. (There is one, of course, as testified by Hubbard, as well as the balanced article on “literary theory and classical studies” in the third, 1996 edition of The Oxford Classical Dictionary .) As I have tried to show here with The Pipes of Pan , the dissemination of “theory” into other fields works by a process of selection and recombination. Thus Hubbard chooses Bloom’s idea of anxiety out of various strands of intertextuality, but tempers the concept with Iser’s reception theory, which entails a completely different conceptual framework. As in any process of translation, there are traitorous turnings. Terms start to slip, or are stretched to fit: “anxiety” becomes a conscious rather than an unconscious phenomenon; Iser is referred to as “reader response,” when “reception theory” or “reception aesthetics” is more proper (since we are speaking about an approach far closer to Hans Robert Jauss than to David Bleich or Norman Holland); and “filiation” is thought to be coined to distinguish the Bloomian kind of intertextuality, when it could be said to belong to a completely different school again–the postcolonial thought of Edward Said. In Beginnings: Intention and Method (Basic Books, 1975, and especially in the preface to the 1985 Morningside/Columbia University Press edition), Said emphasizes the difference between what he terms filiation , the ineluctable, biological kind of inheritance, and affiliation , one’s willful association with preferred cultural groups, or chosen “relatives.” After all, the latter, and not filiation (or my “familiation”), is really what Hubbard has found operating in his readings of authors who work across so many linguistic and national boundaries. In the field of classics, which is otherwise known for its archeological precision regarding literature (eg, metrical forms), such looseness of terminology is unfortunate. On the other hand, classics has bequeathed to the wider literary field the very philological tradition of minute and polyglot reading that has illuminated so much of the theoretical enterprise. Could this inheritance be recovered and passed on once again? One would never guess this traffic between classics and theory had ever taken place, to judge from today’s typical graduate classics curriculum. Burdened by multiple comprehensive exams (as many as ten!) before advancing to candidacy, a doctoral student in classics is still asked to demonstrate the traditional, narrowly archeological competencies in languages, literatures, and history. Unchanged, such priorities ensure that classics will remain in the position of fitting the theory to its literature. Changed, classicists might be no longer the mongers of old theory, but again the makers of new.

    URL: hubbardreview.html; Last updated: Summer, 2000; mail to: Complitreview@brynmawr.edu
    Sumber: http://www.bcla.org/bclalink.htm, diakses 5 Juni 2010-06-15

    TERJEMAHAN:
    Thomas K. Hubbard, The Pipa Pan: intertekstualitas dan Sastra keturunan dari Theocritus ke Milton.
    Volume 2, Nomor 1 (Summer 2000)

    Diulas oleh Christopher M. Kuipers
    University of California, Irvine
    Hubbard adalah buku besar kedua pada pastoral sastra pada dasawarsa ini, yang lain, Alpers’s Apa Paul Apakah Pastoral? (Chicago, 1996),. Baik mulai dari argumen yang pastoral, bila dianggap sastra yang panjang selama sejarah harus dipersempit dan harus tidak dianggap sebagai sesuatu yang utama adalah peran pengaturan dari beberapa dunia ideal. The “pertanyaan-pertanyaan tentang definisi genre dan fungsi sosial memiliki minat mereka sendiri,” kata Hubbard, tapi “penelitian ini. . . mengasumsikan pastoral sebagai ‘konvensi’ daripada sebagai ‘tema,’ sebagai tradisi lebih dari sebagai genre didefinisikan “(4-5). Bandingkan Alpers, invoking Kenneth Burke:” kita akan memiliki gagasan jauh lebih benar pastoral jika kita mengambil nya anekdot perwakilan menjadi gembala dan kehidupan mereka, bukannya lansekap dan alam ideal “(22). Sementara Alpers mengambil tradisi-jauh dari Theocritus untuk Frost dan penulis abad kedua puluh yang lain, ia melewatkan hampir lurus dari Vergil ke Spenser. Hubbard kali dibaca angka lebih sedikit, tetapi mereka banyak membaca lebih dekat, dan membayar perhatian ke bagian yang paling diabaikan dari tradisi – apa yang terjadi setelah Theocritus dan Vergil (‘s Hubbard bab 1 dan 2, masing-masing), tetapi sebelum Renaissance (bab 5): surat pastoral dari zaman akhir (Bab 3) dan abad pertengahan pastoral (bab 4). Namun, Vergil dan Renaissance adalah terbesar keprihatinan Hubbard, karena di sini untai keturunan sastra berada pada mereka yang paling kusut dan dengan demikian paling menarik,. umum Argumen bagaimanapun, adalah bahwa untai selalu ada, bahkan di “lemah” contoh-contoh dari tradisi pastoral. klasisisme khas ini drive’s kesuksesan Hubbard, dan kekurangannya.
    Pendahuluan tinjauan literatur teori di balik subjudul cepat. Semua teoritis biasa, tersangka intertekstualitas dikutip – Bakhtin, Kristeva, Derrida, Gérard Genette, Laurent Jenny. Meskipun, tinjauan historis ini tetap benar dan karakteristik jernih. “keturunan” di sini merujuk pada subset dari intertekstualitas, dengan revisionisme puitis Harold Bloom: dengan agon oedipal dari kecemasan “pengaruh” di mana satu penyair / ephebe / pertempuran filius dengan penyair tua / ayah. Hubbard lebih suka model terakhir dari intertekstualitas, tetapi dengan sebuah infleksi yang berhutang jauh lebih ke teori penerimaan Wolfgang Iser daripada misprision-‘s Bloom-salah membaca sebagai,. Untuk Hubbard tidak mengambarkan penulis sebagai cemas ahli waris yang bergerak di bawah sadar pertempuran yang dengan nenek moyang tetapi sebagai seorang ahli pembaca terutama yang menanggapi satu tertentu, hati-hati membaca pendahulunya: “niat pengarang tentu tidak relevan. . . . . adalah. Apa yang dibutuhkan untuk pemahaman yang lebih lengkap dari kiasan dalam puisi sehingga kesatuan simbiosis teori intertekstual dengan kritik-respon pembaca “(15). Memang, dibawa ke tradisi pastoral, ini fokus pada penulis sebagai readerly (Iser, tidak Barthes ) membantu menjelaskan mengapa pastoral telah begitu sering diambil atas sebagai cara untuk memulai karir, yaitu dengan mengacu kepada karir para penulis masa lalu, ketika mereka juga mulai dengan pastoral. ini untai Argumen Hubbard menempatkan apa Iser panggilan “repertoar itu” : “[t] ia sejarah intertext pastoral sehingga membentuk sebuah narasi dari alokasi berurutan dan modulasi di mana penyair tidak hanya menunjukkan keahlian dengan mengkombinasikan topoi tradisional dan situasi dramatis menjadi sebuah format baru, tetapi juga memposisikan diri relatif terhadap masa lalu dan / atau masa depan puisi “(349).
    Namun, semua ini benar-benar “lite intertekstualitas frame.” Seperti yang sering tampaknya kasus ketika bidang klasik kontemporer yang kritis dan enlists konsep sastra, teori muncul sebagai “kewenangan lain” tanpa ada upaya untuk menantang atau peregangan teoritis, atau untuk mengukur resistensi relatif dari teks kuno versus teori modern. Oleh karena itu, Hubbard sangat jauh dari aplikasi yang ada di dalam cara apa pun “ketat” tentang intertekstualitas baik tituler Kristevan nya atau pengaruh Bloomian. Kristeva berpendapat bahwa mata pelajaran benar-benar ditelan oleh intertekstualitas, dan sebenarnya ada praktis tidak ada “di luar sana” kecuali intertekstualitas, atau “dinding ke dinding” tekstualitas. Bloom telah menyatakan (yang sangat benar untuk Freud) yang salah baca dapat sepenuhnya sadar – bahwa ada tidak perlu untuk ephebe untuk yang benar-benar membaca pendahulunya dan! – bahwa “pengaruh” mungkin dalam pekerjaan sebenarnya merupakan terhadap butir dari setiap sejarah sastra linear: Bloom bahkan membahas penampilan luar biasa dari ephebe suara di dalam pendahulunya itu teks. Untuk Hubbard, namun ini terutama sopan santun; teoritis tidak ada sistematis, upaya misalnya, untuk menerapkan Bloom enam “‘s revisionary, rasio” dan Bloom hampir tidak disebutkan sekali yang tepat kritik dimulai. kegelisahan Bloom, pengaruh, Hubbard menyarankan, hanya dapat benar-benar terjadi setelah Milton , penelitian ini titik akhir, dan terserah dia ada “kecemasan umum lebih dari orisinalitas” (revisi dari Thomas M. Greene, Cahaya di Troy). Meskipun demikian, gagasan Hubbard dari intertekstualitas sebagai diterapkan, bahkan jika “lunak,” ” disengaja, “dan Iserian, hasil dalam meyakinkan dan mencerahkan penjelasan sama sekali dari sesuatu yang masih menarik: sifat sistematis dari penulis sindiran, dengan semua kompleksitas dan keseriusan segala bentuk bermain. Teori intertekstualitas adalah benar-benar barang pajangan, tapi jendela yang terbuka Hubbard memiliki pandangan yang jarang terlihat: misprision terbaik Hubbard bukan teori sastra abad kedua puluh, tapi dari tradisi-abad kesembilan belas komentar – Hubbard tidak puas, sebagai komentar dalam bidang klasik masih beroperasi, dengan mencatat paling jelas kiasan. Sebaliknya, Hubbard mencatat bagaimana sindiran sering berganda dan dihitung, melibatkan string teks sebelumnya; sehingga mereka tidak hanya harus diperhatikan tetapi dianalisis secara mendalam, bukan dalam konteks hanya satu karya oleh satu penulis (sebagai komentar biasanya batas sendiri) tetapi di bidang intertekstual penuh dari semua karya-karya. Ketika The Pipa Pan muncul pendek, itu adalah gagal untuk mempertahankan proyek ini menakutkan bagi semua penulis menganggap Hubbard.
    Dalam bab 1, Hubbard membandingkan Vergil dan Theocritus, menyerukan anekdot yang telah membuka begitu banyak penelitian dari pastoral, salah satu yang sangat cocok untuk pendekatan Bloomian: Theocritus menemukan pastoral, menurut cerita, dan Vergil menyempurnakannya. Meskipun Theocritus tentu tidak menciptakan Idylls nya dari awal, ada bukti tipis hanya dari orang-orang pendahulu Aleksandria spesifik bahwa ia mungkin dirinya akan merevisi,. Namun demikian jika ada cacat dasar dengan model revisionary, ia mengungkapkan di sini, di sedang membaca Hubbard dari Theocritus – pendahulunya tidak pernah datang off sangat baik, dan Theocritus apalagi harus menanggung, dari perspektif Bloomian, berat raksasa dari semua pastoral yang datang kemudian. Seperti dalam Alpers’s Apa Pastoral?, Vergil kemenangan meyakinkan atas ayah pastoralnya: ini “kuat” preferensi untuk Vergil lebih Theocritus sehingga memutar keluar dari awal baik dan kritis tradisi sastra pastoral (sudah, Julius Scaliger mencurahkan satu bab-nya Poetics penderitaan, seakan-akan, Theocritus dibandingkan dengan Vergil). Tentu saja, Hubbard sendiri mengaku bahwa bukunya dapat diatur oleh revisi “” melawan gurunya Thomas J. Rosenmeyer, yang dikenal Green Kabinet adalah salah satu upaya hanya untuk meninggikan Theocritus ke diskualifikasi dari semua orang yang datang sesudah (yang paling berguna kritikus lain yang berpendapat bahwa Theocritus memang unik David Halperin di Sebelum Theocritus dan Kathryn J. Gutzwiller di Theocritus Pastoral Analogi). Di sisi lain, yang membaca Hubbard dari yang membaca Vergil dari Theocritus berhasil mengungkap berbagai pandangan dalam hal ini dengan baik-melintasi topik yang lain. Sementara Theocritus posisi dirinya sebagai melakukan sesuatu yang cerdas dengan bahan epik lama, Vergil ternyata hal-hal sepenuhnya sekitar dengan menggunakan pastoral untuk langsung kariernya sendiri terhadap prestasi epik yang Theocritus tidak pernah tercapai, atau bahkan direnungkan, karena ia tampaknya telah di dari sisi Callimachus terhadap-epik proyek pos Apollonius. Hubbard juga mempertimbangkan langkah perantara anonim ratapan untuk Bion sebagai kedua, “lemah” dan cara Vergilian kurang: dalam puisi ini ada ekspresi tidak mampu, bukan kemenangan, dalam menghadapi tradisi, sebagian fungsi, Hubbard telah ditemukan, dari temporal dan bahasa lokal. Lebih mudah untuk merevisi dari kejauhan.
    Bab 2 memeriksa’s Eclogues Vergil sebagai Buku Eclogue, seorang kepada intertext seluruh sendiri. Bab ini adalah tur de gaya, yang terbaik dari The Pipa Pan, karena di dalamnya Hubbard melakukan apa yang dia temukan di Vergil: sebuah mengatasi ahli dan melebihi dari kusut tradisi – yaitu, tubuh besar kritik yang ada pada Eclogues lurus Hubbard membaca. berlangsung melalui Kitab Eclogue, menghindari untuk saat ini yang “lebih jelas” pasangan dari Eclogues yang telah dibahas memuakkan (1 dan 9; 2 dan 8; 3 dan 7; 4 dan 6, 5 dan 10). Sebaliknya, Hubbard menghubungkan Eclogues sebagai tiga triad berturut-turut dengan sebuah koda: Eclogues Theocritus 1-3 mengikuti yang paling dekat dan rendah hati; Eclogues 4-6 mengeksplorasi model yang lebih ambisius, seperti elegi dan epyllion itu; Eclogues 7-9 mulai menunjukkan penguasaan penuh, sampai titik pemodelan untuk penyair lainnya; dan Eclogue 10 merangkum ketiga gerakan, dengan perpisahan dan akhir sengatan keraguan terletak Hubbard. revolusi dalam membaca koleksi Vergil sebagai rekapitulasi dari siklus pembangunan, berbentuk sebagai penyair akan memilikinya. Akibatnya, Hubbard membagi-bagikan dengan apa yang benar-benar akan minat Freudian seperti Bloom: urutan sebenarnya komposisi Eclogues, sebuah kemajuan yang akan mengungkapkan suatu sadar dan dinamis dikontrol kurang kerja’s Iserian Hubbard. upaya jauh lebih dipertahankan, karena urutan sebagai diterima memang cara Vergil dimaksudkan. Hal ini tentu berbeda dari urutan komposisi, apa pun bahwa perintah yang mungkin terjadi, untuk (seperti di banyak bibliografi pertanyaan kepenulisan di periode klasik) ada kesepakatan kecil di urutan komposisi. Hubbard menyadari’s pentingnya pastoral untuk Iser, yang mulai Act of Reading dengan Spenser’s Shepheardes Kalender, tetapi tampaknya tidak sadar baru-baru ini, Iser radikal klaim lebih The fiktif dan Imajiner yang pastoral, setidaknya di Renaissance, terutama mengenai proses penerimaan, apa yang Hubbard mengisyaratkan untuk era klasik. Jadi salah satu lebih penting poin Hubbard adalah yang revisi Vergil bertujuan tidak hanya pada tradisi Yunani , dan di dekat sezaman Romawi, yang paling terkenal Gallus, tetapi juga penting di Catullus serta Romawi lainnya elegists cinta, yang pengaruhnya pada Eclogues – justru karena hubungan antagonistik – telah diremehkan.
    Salah satu taktik Hubbard, Namun, yang dipinjam mundur dari Renaissance, tidak memberikan jeda beberapa: dia sangat bergantung pada paket standar nama pastoral untuk menunjukkan dinamika revisionary kemajuan’s Vergil (misalnya, dari Corydon di Eclogue 2 sebagai frustrasi penyair ke Corydon di Eclogue 7 sebagai a). ini jumlah sukses satu ke overreading karena dua alasan,. Pertama, alegoris lintas identifikasi koleksi “satu gembala = satu persona” bukan persamaan yang dapat diandalkan sampai Abad Pertengahan, meskipun mungkin sudah terjadi dalam individu seperti puisi sebelumnya sebagai syair yg menggambarkan keindahan alam ketujuh, di mana Theocritus sepertinya muncul dalam samaran dari salah satu gembala nya,. Kedua tidak semua nama pastoral yang berulang. Tidak hanya terdapat baik jumlah tunggal yang tepat nama-nama dalam Buku Eclogue, namun nama-nama ulang mungkin dimaksudkan bukan sebagai intertexts tetapi “antitexts” mengacu pada persona yang sangat berbeda: telah Corydon benar-benar diubah oleh Eclogue 7, atau dia hanya Corydon berbeda? Apa pun ada beberapa rincian penting karakterisasi ,. ini Dalam konteks kemungkinan Judith Haber Pastoral dan Poetics Diri-Kontradiksi: Theocritus untuk Marvell (Cambridge, 1994; tidak dikutip oleh Hubbard) datang ke pikiran: bahwa tradisi anti-pastoral dapat bergerak pada suatu yang sangat diri sadar tingkat-oleh penulis individu Hubbard lebih besar. titik baik diambil memang – Vergil telah jelas berbentuk koleksi menjadi paradigma pembangunan artistik – tapi membuat nama pastoral mengasumsikan beban pemetaan perkembangan ini mengurangi kesenian ini. yang terkenal Tityrus dan Meliboeus dari Eclogue 1 adalah kasus di titik,. komentator dari Servius di bawah selalu diambil Tityrus ke mewakili penyair: “Tityrus” adalah kata pertama dari puisi, gambar ini dari gembala bernyanyi di dipulihkan santai, tetap satu dari anekdot besar inspirasi puitis. Titik Eclogue 1, Namun, tidak untuk berdebat untuk puisi sebagai rumah kontras dengan pembuangan Meliboeus, namun untuk menjaga kedua perspektif di-sempurna oposisi dekat,. Vergil itu, yang mendiami suara dari kedua Tityrus dan Meliboeus – sama seperti penulis manapun harus ada semua atau dia tokoh-tokohnya. Jika apa-apa, Meliboeus keluar pemenang “” di pembaca simpati, dan nama ini, dalam mode tepat revisionary, tidak ditemukan, sebagai Tityrus adalah, dalam kanon Theocritean nama gembala. Jadi ketika Vergil menutup Georgics dengan mengulangi Eclogue 1,1 dengan mengubah “aku bernyanyi Anda, Tityrus,” ini tampaknya terbaik dibaca bukan sebagai “aku bernyanyi sebagai Anda, Tityrus” tapi “Aku bernyanyi Anda (sebagai Meliboeus) Jika. “Eclogue 9 mengembangkan kontras sinis dengan optimisme umum Eclogue 1, dan keduanya milik Vergil yang sama, tentu Vergil bisa menghuni kedua Eclogue 1’s gembala, baik Meliboeus muda dan Tityrus tua. Hubbard tentu setuju dengan semua hal di atas, namun tidak bersedia untuk mengambil langkah lebih lanjut bahwa Tityrus berikutnya dan Meliboeus muncul dalam Eclogues dapat belum persona lainnya, yang merupakan penjelasan yang lebih kredibel untuk beberapa disjunctures ekstrim dalam karakterisasi dari yang gembala Vergil, ketika ada karakterisasi sama sekali.
    Setelah penjelasan panjang yang sangat baik dari Vergil, bab-bab yang tersisa (seperti banyak puisi pastoral itu sendiri setelah Vergil) berangsur-angsur menjadi lebih dan lebih mengecewakan. Dalam Bab 3, Hubbard mengeksplorasi sering diabaikan Pastoral Kuno Akhir: yang Eclogues Einsiedeln, yang Eclogues dari Calpurnius Siculus, dan Eclogues dari Nemesianus. Hubbard menganggap urutan intertextually tentang baik Vergil dan pendahulu lainnya dalam urutan tersebut. Lebih dari sejarah sastra mereka, Hubbard menemukan, koleksi perlahan-lahan keluar dari itu melemahkan bayangan Vergil: yang Neronian fragmentaris Einsiedeln Eclogues tidak bisa melewati Vergil sama sekali; Calpurnius (tanggal lebih dari tradisional, ke abad ketiga) lebih ambisius, namun masih belum dapat sepenuhnya mengatasi model Vergilian, tetapi Nemesianus defuses Vergil oleh penyebaran dia, bermain dia off terhadap Theocritus, Calpurnius, dan lain-lain, meskipun hasilnya memiliki rasa Bloomian “kelemahan.” Hubbard telah di sini diberikan kontras dengan grimmer itu, mundur-mencari “puisi yang kuat”: beberapa penyair kurang fokus pada pendahulunya yang kuat satu dan berkonsentrasi pada eklektisisme optimis dalam misprisions mereka, sebagai suatu ke depan mencari model untuk penyair masa depan.
    Bab 4, yang relatif singkat, menguji contoh beberapa abad pertengahan pastoral. Sejak Hubbard terutama tertarik pada kumpulan puisi yang ditulis dalam kaitannya sadar untuk seluruh tradisi pastoral, ia melompat cepat (setelah pertimbangan singkat dari kesembilan abad ke-Eclogues dari Modoin dari Autun) dengan periode abad pertengahan, di mana penulis, bersama dengan kesadaran yang tepat teks-teks klasik, muncul kembali dengan sepenuh hati. Pada saat pastoral mencapai Dante, yang dgn lucu menggunakan ayat dalam surat ke Giovanni del Virgilio sebagai recusatio Vergilian (penolakan “seni” untuk menulis sebuah puisi lagi), pastoral telah sepenuhnya dilapisi dengan enamel alegori dan sindiran, apakah Kristen, politik, atau sekadar sastra. Hubbard bisa membuat lebih banyak di sini tentang kita gunakan Dante Latin menolak untuk menulis epik Latin ketika ia memilih sebuah satu Italia, dua dari pertempuran yang paling strategis dari dahulu dan modern lebih dari bahasa dan pastoral koleksi. Masih dalam bahasa Latin, Petrarch dan Boccaccio (dianggap sebagai Abad Pertengahan) masing-masing menulis puisi berjudul Carmen Bucolicum, dan menghidupkan kembali urutan Akhir Kuno: Petrarch (seperti Calpurnius) lebih Kuno, Boccaccio (seperti Nemesianus) lebih modern, namun keduanya sama kuat dan ingin sendiri untuk menjadi subyek penafsiran dan model untuk penyair kemudian .
    Bab 5, di Renaissance, melanjutkan pertimbangan reappropriations Italia awal pastoral, pindah ke abad kelima belas,. Keempat Eclogues dari Giovanni Pontano dikirim ke printer segera sebelum ini penulis dan kematian negarawan, memberikan contoh yang baik dari Hubbard pastoral -sebagai-kurikulum-vita, dalam hal ini retrospektif kasus daripada prediksi. Akhirnya, muda kontemporer’s Sannazaro Pontano mulai menulis pastoral dalam bahasa: Arcadia langsung pendekatan skala asli epik-penuh (atau asmara). The Adulescentia dari Mantuan (Baptista Spagnuoli) kembali ke Latin, dan ini, bersama dengan tema Mantuan dari kedatangan usia, membuat sekolah Adulescentia teks standar (dikenal misalnya untuk Shakespeare).
    Pada titik ini Hubbard melompat ke tradisi pastoral bahasa Inggris yang diwakili oleh Spenser dan Milton,. Di sini di mana teks tersebut telah dikritik secara mendalam, ada sedikit yang baru dan banyak yang hilang,. Tentu saja sebagai Hubbard menemukan, The Kalender Shepheardes hanya sebagai overdetermined belum sama asli sebagai Vergil’s Eclogue Buku. Memang ada yang progresif, account Vergilian dari karir di dua belas bulanan “Aeglogues,” dan seperti komentar yang tertutup di “SK” (mungkin, sebagai Hubbard mengambilnya, Spenser sendiri), itu mencerminkan semua penulis kecemasan atas jalan buntu penerimaan telah. Hubbard sedikit waktu untuk membahas warisan vernakular mendalam Chaucer, atau (seperti Iser menunjukkan) pentingnya utama dari situasi politik kontemporer. Meskipun Hubbard menghabiskan hampir 50 halaman di Spenser, sekitar 100 yang dibutuhkan, atau jumlah yang sama ruang Hubbard mencurahkan untuk Vergil. Kurangnya terbesar dari semua, di sini, adalah intertext luar biasa dari semua sisa sastra produksi’s Spenser: korpus Spenserian, semua cara untuk akhirnya, ditembak melalui dan melalui dengan resonansi dan recapitulations dari pastoral,. Jadi Hubbard tidak berguna catatan sebagai dia bisa, bahwa Spenser, meskipun dia sudah selesai beberapa karya lain yang lebih pendek dan sudah mulai The Queene Negeri Peri, sengaja Kalender Shepheardes telah diterbitkan pertama kali.
    Kesenjangan ini tidak muncul ketika Hubbard berikutnya berubah menjadi Milton: Lycidas, bersama dengan Damonis Epitaphium dua tahun kemudian, dianggap sebagai bagian dari 1645 koleksi Milton tentang Puisi dikalahkan. Tapi sekali lagi Hubbard adalah, karena titik yang lebih besar dari Lycidas adalah bahwa itu mengulangi dalam puisi tunggal semua koleksi pastoral sebelumnya, yang berbagai progresi melangkah telah terbukti sangat berguna untuk Hubbard. Tentu Lycidas dapat melakukan jenis yang sama kemajuan, tetapi Hubbard tidak sama dengan kekayaan mendalam intertekstualitas dalam puisi Milton. Dalam membahas untuk contoh baris-baris pembuka yang terkenal (“Namun sekali lagi, ya Pramunita kamu, dan sekali lagi / Ye Myrtles cokelat, dengan Ivy tidak pernah layu”), Hubbard lebih suka jauh-diambil paralel dengan Eclogue 7,61-64 untuk lebih jelas kiasan banyak Eclogue 2,54. Fokus pada “Namun sekali lagi,” mengutip Hubbard-mencatat yang baik untuk kiasan Ibrani 0:25, tapi merindukan bahwa Milton bisa sama juga mengacu pada dirinya sendiri; dua puisi sebelum-nya telah disebutkan laurel, dan satu melati, sehingga ini adalah yang ketiga, kedua, dan kali pertama sekitar, masing-masing, untuk tiga pabrik. seperti kiasan diri tentu sesuai untuk Milton. Hubbard akan diuntungkan dari Martin Evan perkembangannya berorientasi monografi J. Jalan dari Horton ( Studi Sastra Inggris, 1983), yang baik hati-hati explicates intertekstualitas dan penataan internal Lycidas.
    Yang lebih besar titik Hubbard tentang Milton tentu tidak berdiri: Milton, menulis pada saat pastoral hampir hampir mati, revivified begitu memukau bahwa ia secara efektif membunuhnya untuk semua pendatang kemudian, sehingga ia mungkin secara pribadi bertanggung jawab atas kecemasan pengaruh. Untuk mengulangi, kemudian, Hubbard telah benar-benar revisi Bloom revisionisme Harold, khususnya roman “keluarga Freudian” pada intinya. Jika apa-apa, Hubbard telah menemukan yang mempengaruhi dalam tradisi pastoral dari klasik sampai awal periode modern yang benar-benar seperti diperpanjang, bukan nuklir , keluarga. Mengingat begitu banyak intertekstualitas bahwa Hubbard membahas melibatkan beberapa sindiran, ada banyak ruang untuk apa yang baru-baru ini para psikolog lebih telah disebut “teori sistem keluarga,” di mana interaksi pribadi diad jarang, tapi pasti cenderung untuk melakukan pelacakan. “Familiation” mungkin ganti “keturunan” di sini, sejak Hubbard telah menunjukkan bahwa interaksi pastoral adalah sebagai sering intragenerational sebagai antargenerasi.
    “Hubungan darah” juga berisi warisan Bloomian itu, seperti itu “Alpers gembala dan kehidupan mereka,” kebutuhan jenis lain dari revisi,. Seksis Inkarnasi Bloom dari penyair dan sebagian besar dari semua kritikus, mengarah ke misprision signifikan dari tradisi pastoral. Tentu klasik dan kemudian pastoral telah didominasi oleh penyair laki-laki, tetapi mudah untuk meremehkan kontribusi, katakanlah, Anyte Arkadia, yang sangat asli epigram mendahului dan mungkin telah mempengaruhi Theocritus; dalam hal apapun dia memiliki proyek yang sama dari membaca ulang Homer ” bawah untuk ukuran orangtua. “Selain kebutuhan untuk merevisi pastoral” ayah “menjadi”, “orang juga harus menguji” anti-keluarga “cara penularan: foundlings, melarikan diri, mutasi, perkawinan antara suku atau bangsa. Ada, misalnya, tidak ada ruang dalam sejarah sastra Bloomian dari pastoral untuk perkosaan dari pastourelle abad pertengahan. Dalam menekankan poin transmisi (seperti nama gembala laki-laki) yang muncul sangat sadar dan disengaja, Hubbard luput dari ova kecil warisan Vergilian yang tumbuh keluar dari semua proporsi Vergil’s niat, yang popularitas tak terduga dari “Mesianik” Eclogue 4 hanya yang sudah jelas contoh yang paling. lain adalah maju peri air Aegle di Eclogue 6, yang singkat batu adalah penampilan perempuan satu-satunya di Buku Eclogue dan Vergilian model hanya untuk semua shepherdesses kemudian dan nimfa drama pastoral dan asmara, tradisi yang tetap dikecualikan oleh’s silsilah Hubbard – pipa tiang Pan yang diturunkan hanya dari orang ke orang,. (Hubbard, bagaimanapun, catatan homoerotic dimensi ini terjemahan meskipun masih jauh dari hal seperti aneh pastoral, yang kemungkinan lain sendiri.) ini adalah untuk mengatakan bahwa tradisi, dan pastoral tradisi merupakan salah satu lebih baik contoh, memiliki cara berkelok-kelok, memutar kembali, dan menghancurkan yang Hubbard linier arkeologi – bahwa anekdot abadi studi klasik – tidak memahami.
    Mungkin lebih baik mengatakan “geologi,” karena arkeolog bahkan kadang-kadang harus menghadapi kesenjangan yang disengaja dan kelalaian dalam strata sedimentasi budaya. Sebuah konsekuensi penting dari metode geologi adalah peninggian waktu pada biaya tempat: di puncak

  16. MARLINA
    27/06/2010 pukul 3:27 am

    NAMA : MARLINA (A1B107049)
    MATA KULIAH : SASTRA PERBANDINGAN
    Remedial Sastra Perbandingan

    Comparative Literature and the Genres of Interdisciplinarity
    By FRANCESCO LORIGGIO
    During the last few decades com- parative litera- ture’s most pressing impulse seems to have been territorial or cumulative: annexing material first overlooked or unexplored, enlarging the scope, ex- panding the limits of comparison geographically, disciplinary, intellectually. You see this in those definitions of the discipline which, on various occa- sions, have urged comparatists to put more truly in- tercultural distance between the texts they choose to compare, to transcend Eurocentrism and address the insights–critical and theoretical–that works from Asia or Africa or elsewhere outside Europe might provide.1 You see it in the resolution adopted by the International Comparative Literature Associ- ation in the seventies which adds theories to the ros- ter of items amenable to comparison (Scholz). Or you see it in in those definitions which, in the early sixties, brought within the compass of the discipline “the study of the relationship between literature . . . and other areas of knowledge and belief, such as the arts (e.g., painting, sculpture, architecture, music), philosophy, history, the social sciences (e.g., poli- tics, economics, sociology), the sciences, religion,” or, in brief, “the other spheres of human expres- sion,” to round out and complement the more tra- ditional “study of literature beyond the confines of one country” ( Remak, 1). And, of course, it is there in more recent versions, which raise the ante still
    further and inscribe the very process of readjust- ment and accumulation into their survey of the dis- cipline. For the 1993 Bernheimer Report to the American Comparative Literature Association, the “space of comparison” involves not only compar- isons between “artistic productions usually studied by different disciplines” or “Western cultural tradi- tions, both high and popular, and those of non- Western cultures” or “pre- and postcontact cultural productions of colonized peoples” or “gender con- structions defined as feminine and those defined as masculine” or “sexual orientations defined as straight and those defined as gay” or “racial and ethnic modes of signifying” or “hermeneutic articu- lations of meaning and materialist analyses of its modes of production and circulation”–not only this, but “much more” ( Bernheimer, 41-42). You surmise that tomorrow is another day, with more new material to canvass and to agglomerate.
    It is difficult to say with how strong a sense of caution–or of suspicion–such a compulsion should be faced. The continual updating, the many revisions may spring from some anxiety of omission, some unavowed intellectual hubris, but they are also
    a sign that the discipline participates fully in the dy- namics of cultural conversation, that it listens to outside proddings and keeps in touch with events. Comparative literature compares anything the times confront it with. Certainly, in spite of their elitism and Eurocentrism, comparative literature programs have not been the places where institutional power is concentrated, or, for that matter, where power-mak- ing and power-breaking intellectual trends are initi- ated or consolidated. As the history of poststruc- turalism, postcolonialism, and cultural studies suggests, ideas in North American faculties of art have to be properly domesticated, to go through the filter of English departments before they can aspire to any measure of academic success.
    What is striking, in the nineties, is the degree to which, in the various definitions of comparative lit- erature, both the principle of coverage and the com- patibility of the elements the coverage entails, of the ingredients the many corrections sediment on the rest, are taken for granted. Each of the new items comes attached with a theoretical or critical agenda which has external repercussions as well as its own internal tensions. Today, the misgivings about the focus of traditional literary studies voiced by the in tercultural comparatists of one or two decades ago are similar but not quite the same as those of post- colonialist critics. Relocating theories into the
    province of comparison aligns comparatists with antifoundationalists from a variety of institutional venues–not an uncontroversial position. For its own part–to pass over gender studies, whose actu- ality and explosiveness, as topics, need not be dwelt upon–the opening to “the other arts,” visual and plastic, leaves comparative literature at the doorstep of media and cultural studies, two of its strongest institutional and intellectual competitors.
    Schematized, the strains which the widening of the perimeters of comparative literature has been causing among comparatists stem, I would submit, from the centrifugal pull of two basic orientations.
    FRANCESCO LORlGGIO teaches Italian and Comparative Litera- ture at Carleton University in Ottawa, Ontario. He has published numerous articles on literary theory, the relations between litera- ture and other disciplines, the novel, and various twentieth-cen tury authors. His translations from the works of Achille Campanile
    , The Inventor of the Horse and Two Other Short Plays, appeared in 1995. He is the editor of the essay collection Social Pluralism and Literary History: The Literature of the Italian Emigra- tion (forthcoming).

    Questia Media America, Inc. http://www.questia.com
    Sumber: http://www.questia.com/read/96466916?title=Comparative%20Literature%20and%20the%20Genres%20of%20Interdisciplinarity%2c%20in%20World%20Literature%20Today,
    diakses 5 Juni 2010-06-15

    Publication Information: Article Title: Comparative Literature and the Genres of Interdisciplinarity. Contributors: Francesco Loriggio – author. Journal Title: World Literature Today. Volume: 69. Issue: 2. Publication Year: 1995. Page Number: 256.
    TERJEMAHAN:
    Perbandingan Sastra dan Genre antar Bidang Ilmu Pengetahuan
    OLEH FRANCESCO LORIGGIO
    Selama beberapa dekade terakhir dorongan yang sangat kuat sastra bandingan nampaknya telah dibatasi atau terkumpul: materi penguat yang pertama terlupakan atau tidak tereksplor, memperluas ruang, batas komperasi secara geografis, disipliner secara intelektual. Kamu lihat ini pada semua definisi disiplin yang pada berbagai kejadian telah mendesak para kompatis untuk meletakan jarak interkultural antara teks yang mereka pilih untuk di bandingkan, untuk mengatasi yurosentisme dan menempatkan perasaan kritik dan teoritis yang berasal dari Asia atau Afrika atau dimana pun di luar Eropa. Bisa dilihat pada resolusi yang di ambil oleh Asosiasi sastra bandingan di tahun 70-an yang menambah teori item roster yang siap di komperasi (scholz). Atau bisa dilihat pada semua definisi yang pada awal tahun 60-an dibawa dalam kompas disiplin sebuah studi tentang hubungan antar literature dan ilmu pengetahuan lain dan kepercayaan seperti kesenian (misalnya melukis, pahat, seni arsitek, musik), filosofi, sejarah, studi sosial (misalnya, politik, ekonomi, sosiologi), sains, agama atau secara ringkas,’ ruang lain ekspresi humanitas,’ untuk memutar semua dan melengkapi studi literature yang lebih tradisional di wilayah satu negara (remak 1) Dan, tentu saja, itu ada dalam versi yang lebih baru, yang masih menaikkan ante lebih lanjut dan menuliskan proses pembaharuan dan akumulasi ke dalam survei ilmu pengetahuan. Bagi laporan Bernheimer 1993` ke asosiasi sastra bandingan, “ruang komparasi” tidak hanya meliputi komparasi antara produksi artistik yang biasanya dipelajari oleh disiplin ilmu yang berbeda atau tradisi kultur barat, baik kebudayaan yang tinggi maupun yang popular dari luar barat, atau produk kultur orang kolonial` yang awal dan akhir atau konstruksi jenis kelamin yang disebut feminim dan semua yang disebut maskulin atau seks orientasi seperti gay atau gaya etnis dari ras yang berarti atau hermeneutik artikulasi arti dan analisis materialis pada gaya produksi dan sirkulasi. Tidak hanya ini, tetapi banyak lagi (Bernheimer, 41-41) kamu mengira bahwa besok adalah hari lain, dengan materi baru untuk di periksa atau diteliti dan untuk ditumpuk.
    Sulit berkata dengan bagaimana kuatnya rasa perhatian-atau kecurigaan-suatu tekanan harus dihadapi: Perbaikan bisa terjadi dari beberapa kecemasan tentang kehilangan, kecongkakan intelek yang tidak bisa diakui, tapi ia juga merupakan satu tanda bahwa disiplin ikut sepenuhnya dalam dinamika percakapan kultur. Sastra bandingan membedakan semua yang dihadapi waktu. Tentu, meskipun etitisme dan eurosentris program sastra bandingan bukanlah tempat dimana kekiasan kelembagaan dipusatkan. Pemecah adalah initi-diciptakan atau konsolidasi. Sebagai sejarah poststruc-turalism, postkolonialisme, dan studi budaya menunjukkan, ide-ide di fakultas Amerika Utara seni harus benar dijinakkan, harus melalui saringan departemen bahasa Inggris sebelum mereka dapat bercita-cita untuk setiap ukuran keberhasilan akademis.
    Yang terjadi di tahun sembilan puluhan, adalah sejauh mana, dalam berbagai definisi erature menyala-komparatif, baik prinsip cakupan dan com-patibility unsur cakupan memerlukan, bahan sedimen banyak koreksi pada Sisanya, diambil untuk diberikan. Setiap item baru yang terpasang dengan agenda teoritis atau kritis yang memiliki dampak eksternal maupun ketegangan internalnya sendiri. Saat ini, keraguan tentang fokus dari studi sastra tradisional disuarakan oleh comparatists tercultural dalam satu atau dua dekade yang lalu yang serupa tetapi tidak persis sama dengan kritikus pasca-kolonialis. Relokasi teori ke
    provinsi comparatists perbandingan sejajar dengan antifoundationalists dari berbagai tempat institusi – tidak posisi kontroversial. Untuk bagian sendiri – untuk dilewatkan studi gender, yang actu-ality dan explosiveness, sebagai topik, tidak perlu tinggal di atas – bukaan “seni lain,” visual dan plastik, daun sastra komparatif di ambang pintu media dan studi budaya, dua kompetitor yang kuat kelembagaan dan intelektual.
    Schematized, strain yang pelebaran batas-batas sastra komparatif telah menyebabkan antara comparatists batang, aku akan serahkan, dari tarikan sentrifugal dari dua orientasi dasar.
    Francesco LORlGGIO mengajarkan Italia dan Perbandingan Litera-mendatang di Carleton University di Ottawa, Ontario. Dia telah menerbitkan sejumlah artikel tentang teori sastra, hubungan antara litera-mendatang dan disiplin lainnya, novel, dan berbagai penulis keduapuluh-cen tury. Nya terjemahan dari karya Achille Campanile
    , The Penemu Kuda dan Dua Lainnya Pendek Dimainkan, muncul pada tahun 1995. Dia adalah editor dari kumpulan esai Pluralisme Sosial dan Sejarah Sastra: The Sastra dari SI-Italia Emigra (datang).

    Questia Media America, Inc http://www.questia.com
    %% 20and% 20Literature http://www.questia.com/read/96466916?title=Comparative 20Genres% 20the% 20oF% 20Interdisciplinarity% 2c% 20in% 20World% 20Literature% 20Today, diakses tanggal 5 Juni 2010

    Publikasi Informasi: Pasal Judul: Sastra Perbandingan dan Genre dari Interdisciplinarity. Kontributor: Francesco Loriggio – penulis. Jurnal Judul: Sastra World Today. Volume: 69. Edisi: 2. Publikasi Tahun: 1995. Jumlah Halaman: 256.
    KESIMPULAN:
    Sastra perbandingan merupakan wilayah keilmuan sastra yang mempelajari keterkaitan antarsastra dan perbandingan sastra dengan bidang lain seperti kesenian (misalnya melukis, pahat, seni arsitek, musik), filosofi, sejarah, studi sosial (misalnya, politik, ekonomi, sosiologi), sains, agama.

    Thomas K. Hubbard, The Pipes of Pan: Intertextuality and Literary Filiation from Theocritus to Milton .
    Ann Arbor: University of Michigan Press, 1998. Ann Arbor: University of Michigan Press,1998.
    x + 390 pp. ISBN 0472108557. x + 390 hlm. ISBN 0472108557.
    Volume 2, Number 1 (Summer 2000)

    Reviewed by Christopher M. Kuipers
    University of California, Irvine

    Hubbard’s is the second major book on literary pastoral in this decade; the other, Paul Alpers’s What Is Pastoral? (Chicago, 1996). Both start from the argument that pastoral, when considered over its long literary history, must be narrowed down and should not be considered as something whose primary role is the setting of some idealized world. The “questions of genre definition and social function have their own interest,” says Hubbard, but “the present study assumes pastoral as ‘convention’ rather than as ‘theme,’ as a tradition more than as a definable genre” (4-5). Compare Alpers, invoking Kenneth Burke: “we will have a far truer idea of pastoral if we take its representative anecdote to be herdsmen and their lives, rather than landscape and idealized nature” (22). While Alpers takes the tradition all the way from Theocritus to Frost and other twentieth-century writers, he skips almost straight from Vergil to Spenser. Hubbard reads fewer figures, but reads them much more closely, and pays some attention to the most neglected part of the tradition–what happened after Theocritus and Vergil (Hubbard’s chapters 1 and 2, respectively) but before the Renaissance (chapter 5): the pastoral of late antiquity (chapter 3) and medieval pastoral (chapter 4). However, Vergil and the Renaissance are Hubbard’s largest concerns, because here the strands of literary filiation are at their most tangled and thus most interesting. The general argument, however, is that the strands are always there, even in the “weaker” examples of the pastoral tradition. This distinctive classicism drives Hubbard’s successes, and his shortcomings.
    The introduction reviews the literature of theory behind the subtitle. All the usual theoretical suspects of intertextuality are cited–Bakhtin, Kristeva, Derrida, Gérard Genette, Laurent Jenny. Though swift, the review is nonetheless historically correct and characteristically lucid. “Filiation” here refers to a subset of intertextuality, the poetic revisionism of Harold Bloom: the Oedipal agon of the “anxiety of influence” where one poet/ephebe/ filius battles with an elder poet/father. Hubbard prefers the latter model of intertextuality, but with an inflection that owes far more to the reception theory of Wolfgang Iser than to Bloom’s misprision-as-misreading. For Hubbard does not portray the author as an anxious heir engaged in an unconscious battle with an ancestor, but as an especially expert reader who is responding to one particular, carefully-read predecessor: “authorial intent is certainly not irrelevant What is needed for a fuller understanding of allusion in poetry is thus a symbiotic union of intertextual theory with reader-response criticism” (15). Indeed, taken to the pastoral tradition, this focus on the author as readerly (Iser, not Barthes) helps to explain why pastoral has so frequently been taken up as a way to begin a career, namely by referring it to careers of authors past, when they too began with pastoral. This strand of Hubbard’s argument locates what Iser calls “the repertoire”: “[t]he history of the pastoral intertext thus forms a narrative of successive appropriations and modulations in which poets not only demonstrate virtuosity by recombining traditional topoi and dramatic situations into a new format but also position themselves relative to the past and/or the future of poetry” (349)

    However, all this is really “intertextuality lite.” As often seems to be the case when the field of classics enlists contemporary literary and critical concepts, the theory appears as another “authority” without any attempt to challenge or otherwise stretch the theoretical frame, or to gauge the relative resistances of the ancient text versus the modern theory. Consequently, Hubbard is very far from an application that is in any way “strict” regarding either his titular Kristevan intertextuality or Bloomian influence. Kristeva argues that subjects are completely swallowed up by intertextuality, and in fact there is practically nothing “out there” except intertextuality, or “wall-to-wall” textuality. Bloom has stated (being very true to Freud) that misreading can be entirely unconscious–that there is no need for the ephebe to have actually read the predecessor!–and that “influence” may in fact work entirely against the grain of any linear literary history: Bloom even discusses the uncanny appearance of the ephebe’s voice within the predecessor’s text. For Hubbard, however, these are mainly theoretical niceties; there is no systematic attempt, for example, to apply Bloom’s six “revisionary ratios,” and Bloom is hardly mentioned once the criticism proper begins. Bloom’s anxiety of influence, Hubbard suggests, may only really occur after Milton, the study’s endpoint, and up to him there is a more generalized “anxiety of originality” (the revision of Thomas M. Greene, The Light in Troy ). Nevertheless, Hubbard’s idea of intertextuality as applied, even if “soft,” “intentional,” and Iserian, results in an entirely convincing and enlightening explication of something still interesting: the systematic nature of an author’s allusions, with all the complexity and seriousness of any kind of play. The theory of intertextuality is really window-dressing, but the window that Hubbard opens has a view rarely seen: Hubbard’s best misprision is not of twentieth-century literary theory, but of the nineteenth-century commentary tradition–Hubbard is not content, as commentaries in the classical field still operate, with noting the most obvious allusion. Instead, Hubbard notes how allusions are often multiple and calculated, involving strings of prior texts; thus they must not only be noted but analyzed in depth, not in the context of just one work by one author (as commentaries typically limit themselves) but in the full intertextual field of all those works. When The Pipes of Pan comes up short, it is in failing to maintain this daunting project for all the authors Hubbard considers.

    In chapter 1, Hubbard compares Vergil and Theocritus, invoking the anecdote that has opened so many studies of pastoral, one which is perfect for a Bloomian approach: Theocritus invented pastoral, the story goes, and Vergil perfected it. Though Theocritus certainly did not invent his Idylls from scratch, there is only thin evidence from those specific Alexandrian predecessors that he might himself be revising. Nevertheless, if there is a basic defect with the revisionary model, it is revealed here in Hubbard’s reading of Theocritus–the predecessor never comes off very well, and Theocritus moreover has to bear, from the Bloomian perspective, the gigantic weight of all the pastoral that was to come later. As in Alpers’s What Is Pastoral? , Vergil triumphs decisively over his pastoral father: this “strong” preference for Vergil over Theocritus thus plays out from the beginning of both the literary and critical traditions of pastoral (already, Julius Scaliger devotes a chapter of his Poetics to suffering, as it were, Theocritus in comparison to Vergil). Of course, Hubbard himself confesses that his book may be governed by a “revision” against his teacher Thomas J. Rosenmeyer, whose well-known Green Cabinet is one of the only attempts to exalt Theocritus to the disqualification of everyone who came after (the other most useful critics who argue that Theocritus is indeed unique are David Halperin in Before Theocritus and Kathryn J. Gutzwiller in Theocritus’s Pastoral Analogies ). On the other hand, Hubbard’s reading of Vergil’s reading of Theocritus manages to uncover a wide range of insights in this otherwise well-traversed topic. While Theocritus positions himself as doing something clever with the old epic material, Vergil turns things completely around by using pastoral to direct his own career toward the epic achievement that Theocritus never attained, or even contemplated, since he seems to have been on Callimachus’s side against the post-epic project of Apollonius. Hubbard also considers the intermediary step of the anonymous Lament for Bion as a second, “weaker” and less Vergilian way: in this poem there is an expression of inadequacy, rather than triumph, in the face of tradition, in part a function, Hubbard has found, of temporal and linguistic proximity. It’s easier to revise from a distance.
    Chapter 2 examines Vergil’s Eclogues as the Eclogue Book, an entire intertext unto itself. This chapter is a tour de force, the best of The Pipes of Pan , since in it Hubbard performs what he finds in Vergil: a masterful overcoming and outstripping of a tangled tradition–namely, the huge body of existing criticism on the Eclogues . Hubbard’s reading proceeds straight through the Eclogue Book, avoiding for the present the more “obvious” pairings of Eclogues that have already been discussed ad nauseam (1 and 9; 2 and 8; 3 and 7; 4 and 6; 5 and 10). Instead, Hubbard links the Eclogues as three successive triads with a coda: Eclogues 1-3 follow Theocritus most closely and humbly; Eclogues 4-6 explore more ambitious models, such as the elegy and the epyllion; Eclogues 7-9 begin to demonstrate full mastery, to the point of modeling for other poets; and Eclogue 10 encapsulates all three movements, with a farewell and a final twinge of doubt. Hubbard’s revolution lies in reading Vergil’s collection as a recapitulation of a cycle of development, shaped as the poet would have it. Consequently, Hubbard dispenses with what would really interest a Freudian like Bloom: the actual order of composition of the Eclogues , a progress which might reveal an unconscious and less controlled dynamic at work. Hubbard’s Iserian endeavor is much more defensible, since the order as received is indeed the way Vergil intended. It is certainly different from the order of composition, whatever that order might have been, for (as in so many bibliographical questions of authorship in the classical period) there is little agreement on the compositional sequence. Hubbard is aware of pastoral’s importance for Iser, who begins The Act of Reading with Spenser’s Shepheardes Calendar , but is apparently not aware of Iser’s more recent, radical claim in The Fictive and the Imaginary that pastoral, at least in the Renaissance, is primarily about the reception process, which is what Hubbard is suggesting for the classical era. Thus one of Hubbard’s more important points is that Vergil’s revisions aim not just at the Greek tradition, and at nearer Roman contemporaries, most famously Gallus, but also importantly at Catullus as well as the other Roman love elegists, whose influence on the Eclogues –precisely because of the antagonistic relation–has been underestimated.

    One of Hubbard’s tactics, however, which is borrowed backwards from the Renaissance, does give some pause: he relies heavily on the standard suite of pastoral names to demonstrate the dynamics of Vergil’s revisionary progress (eg, from the Corydon in Eclogue 2 as a frustrated poet to the Corydon in Eclogue 7 as a successful one). This amounts to an overreading for two reasons. First, the allegorical, cross-collection identification of “one shepherd = one persona” is not a reliable equation until after the Middle Ages, even though it may already occur within such earlier individual poems as the seventh Idyll , where Theocritus does seem to appear in the guise of one of his shepherds. Second, not all pastoral names are repeated. Not only are there a good number of singleton proper names in the Eclogue Book, but repeated names may be intended not as intertexts but “antitexts” referring to very different personas: has Corydon really changed by Eclogue 7, or is he just a different Corydon? Either way there are few salient details of characterization. In this context, the possibilities of Judith Haber’s Pastoral and the Poetics of Self-Contradiction: Theocritus to Marvell (Cambridge, 1994; not cited by Hubbard) come to mind: that the tradition of anti-pastoral may be engaged on a highly self-conscious level by individual authors. Hubbard’s larger point is well-taken indeed–Vergil has certainly shaped his collection into a paradigm of artistic development–but making the pastoral names assume the burden of mapping this development diminishes this artistry. The famous Tityrus and Meliboeus of Eclogue 1 are a case in point. Commentators from Servius on down have always taken Tityrus to represent the poet: “Tityrus” is the first word of the poem; the picture of this shepherd, singing at his restored ease, remains one of the great anecdotes of poetic inspiration. The point of Eclogue 1, however, is not to argue for poetry as a home in contrast to the exile of Meliboeus, but to keep both perspectives in near-perfect opposition. Vergil, then, inhabits the voices of both Tityrus and Meliboeus–just as any author must inhabit all of his or her characters. If anything, Meliboeus comes out the “winner” in the reader’s sympathies, and this name, in appropriately revisionary fashion, is not found, as Tityrus is, in the Theocritean canon of shepherd names. Thus when Vergil closes the Georgics by repeating Eclogue 1.1 with the change “ I sang you , Tityrus,” this seems best read not as “I sang as you, Tityrus” but “I sang of you (as Meliboeus).” If Eclogue 9 develops a cynical contrast to the general optimism of Eclogue 1, and both belong to the same Vergil, certainly Vergil can inhabit both of Eclogue 1’s shepherds, both the younger Meliboeus and the older Tityrus. Hubbard certainly agrees with all of the above, but is not willing to take the further step that the next Tityrus and Meliboeus to appear in the Eclogues can be yet other personas, which is the more credible explanation for some of the extreme disjunctures in the characterization of Vergil’s shepherds, when there is any characterization at all.

    After the excellent long exposition of Vergil, the remaining chapters (like so much of pastoral poetry itself after Vergil) gradually become more and more disappointing. In Chapter 3, Hubbard explores the often neglected pastorals of Late Antiquity: the Einsiedeln Eclogues , the Eclogues of Calpurnius Siculus, and the Eclogues of Nemesianus. Hubbard considers the sequence intertextually regarding both Vergil and other predecessors in the sequence. Over their literary history, Hubbard finds, the collections slowly move out of Vergil’s debilitating shadow: the fragmentary Neronian Einsiedeln Eclogues cannot get past Vergil at all; Calpurnius (dated later than traditionally, to the third century) is more ambitious but still cannot fully overcome the Vergilian model; but Nemesianus defuses Vergil by diffusing him, playing him off against Theocritus, Calpurnius, and others, though the result has the flavor of Bloomian “weakness.” Hubbard has here supplied a contrast to the grimmer, backward-looking “strong poetry”: some poets focus less on the one strong predecessor and concentrate on an optimistic eclecticism in their misprisions, as a forward-looking model for future poets.

    Chapter 4, which is relatively brief, examines a few medieval examples of pastoral. Since Hubbard is primarily interested in collections of poems that are authored in conscious relation to the whole of the pastoral tradition, he jumps quickly (after a short consideration of the ninth-century Eclogues of Modoin of Autun) to the late medieval period, where the author, along with the appropriate awareness of classical texts, reappears with a vengeance. By the time pastoral reaches Dante, who wittily uses it in his verse letter to Giovanni del Virgilio as a Vergilian recusatio (the artful “refusal” to write a longer poem), pastoral has been fully overlaid with the enamels of allegory and satire, whether Christian, political, or just plain literary. Hubbard could make much more here of Dante’s use of Latin to refuse to write a Latin epic when he prefers an Italian one; two of the most strategic battles of the Ancients and the Moderns are over language and pastoral. Still in Latin, Petrarch and Boccaccio (considered as medieval) each write a collection of poems entitled Carmen Bucolicum , and reenact the sequence of Late Antiquity: Petrarch (like Calpurnius) is more Ancient, Boccaccio (like Nemesianus) more Modern, but both just as strong and eager for themselves to be subjects of interpretation and models for later poets.

    Chapter 5, on the Renaissance, continues the consideration of the early Italian reappropriations of pastoral, moving to the fifteenth century. The four Eclogues of Giovanni Pontano, sent to the printer soon before this writer and statesman’s death, provide an excellent example of Hubbard’s pastoral-as-curriculum-vita, in this case retrospective rather than predictive. At last, Pontano’s younger contemporary Sannazaro begins writing pastoral in the vernacular: the Arcadia directly approaches a full-scale native epic (or romance). The Adulescentia of Mantuan (Baptista Spagnuoli) return to Latin, and this, along with Mantuan’s theme of coming of age, made Adulescentia a standard school text (known for example to Shakespeare).

    At this point Hubbard jumps to the English pastoral tradition as represented by Spenser and Milton. Here, where the texts in question have been exhaustively criticized, there is little that is new and much that is missing. Certainly, as Hubbard finds, The Shepheardes Calender is just as overdetermined yet just as original as Vergil’s Eclogue Book. There is indeed the Vergilian, progressive account of the career in the twelve monthly “Aeglogues,” and like the enclosed commentary of “SK” (probably, as Hubbard takes it, Spenser himself), it reflects all of an author’s anxiety over the blind alleys of reception. Hubbard has little time to discuss the deep vernacular legacy of Chaucer, or (as Iser indicates) the overriding importance of the contemporary political situation. Although Hubbard spends nearly 50 pages on Spenser, about 100 are needed, or the same amount of space Hubbard devotes to Vergil. The greatest lack of all, here, is the tremendous intertext of all of the rest of Spenser’s literary production: the Spenserian corpus, all the way to the end, is shot through and through with resonances and recapitulations of pastoral. Thus Hubbard does not note, as he usefully could, that Spenser, though he had already finished a number of his other shorter works and had already begun The Faerie Queene , deliberately had The Shepheardes Calender published first.

    This gap does not appear when Hubbard next turns to Milton: Lycidas , along with the Epitaphium Damonis of two years later, is considered as a part of Milton’s 1645 collection of Poems . But again Hubbard is defeated, since the larger point of Lycidas is that it recapitulates in a single poem all earlier pastoral collections , whose various stepped progressions have proven so useful for Hubbard. Certainly Lycidas may perform the same sort of progression, but Hubbard is not equal to the profound wealth of intertextuality in Milton’s poem. In discussing for example the famous opening lines (“Yet once more, O ye Laurels, and once more / Ye Myrtles brown, with Ivy never sere”), Hubbard prefers a far-fetched parallel with Eclogue 7.61-64 to the much more obvious allusion to Eclogue 2.54. Focusing on the “Yet once more,” Hubbard cites the well-noted allusion to Hebrews 12:25, but misses that Milton can be just as well referring to himself; two of his prior poems have mentioned the laurel, and one the myrtle, so these are the third, second, and first times around, respectively, for the three plants. Such self-allusion is certainly appropriate for Milton. Hubbard would have profited from J. Martin Evan’s developmentally-oriented monograph The Road from Horton ( English Literary Studies , 1983), which carefully explicates both the intertextuality and the internal structuring of Lycidas .

    Hubbard’s larger point about Milton certainly does stand: Milton, writing at a time when pastoral was nearly moribund, revivified it so stunningly that he effectively killed it for all later comers; thus he may be personally responsible for the anxiety of influence. To reiterate, then, Hubbard has really revised Harold Bloom’s revisionism, in particular the Freudian “family romance” at its core. If anything, Hubbard has found that influence in the pastoral tradition from the classical to early modern periods is really like an extended, not a nuclear, family. Given that so much of the intertextuality that Hubbard discusses involves multiple allusions, there is much room for what more recent psychologists have called “family systems theory,” where personal interactions are rarely dyadic, but tend inevitably to triangulate. “Familiation” might replace “filiation” here, since Hubbard has demonstrated that pastoral interactions are as often intragenerational as intergenerational.

    “Filiation” also contains a Bloomian legacy that, like Alpers’s “herdsmen and their lives,” needs another kind of revision. The sexist incarnation of Bloom’s poet, and most of all the critic, leads to a significant misprision of the pastoral tradition. Certainly classical and later pastoral have been dominated by male poets, but it is easy to underestimate the contribution of, say, the Arcadian Anyte, whose highly original epigrams precede and may have influenced Theocritus; in any case she has the same project of rereading Homer “down to size.” Besides the need to revise pastoral “fatherhood” to “parenthood,” one should also examine the “anti-family” way of transmission: foundlings, runaways, mutations, miscegenation. There is, for example, no room in a Bloomian literary history of pastoral for the rapes of the medieval pastourelle . In emphasizing the points of transmission (such as male shepherd names) that appear highly conscious and deliberate, Hubbard misses the tiny ova of the Vergilian heritage that grow out of all proportion to Vergil’s intentions, of which the unexpected popularity of the “Messianic” Eclogue 4 is only the most obvious example. Another is the forward naiad Aegle in Eclogue 6, whose brief cameo is the sole female appearance in the Eclogue Book and the only Vergilian model for all later shepherdesses and nymphs of pastoral drama and romance, traditions that remain excluded by Hubbard’s genealogy–the phallic pipes of Pan are passed down only from man to man. (Hubbard does, however, note the homoerotic dimension of this translation, though it is still far from anything like a queer pastoral, which is another possibility.) This is to say that traditions, and the pastoral tradition is one of the better examples, have a way of meandering, looping back, and subverting themselves which Hubbard’s linear archeology–that enduring anecdote of classical studies–does not comprehend.

    It might be better to say “geology,” since even archeologists must occasionally confront deliberate gaps and omissions in the strata of cultural sedimentation. A significant consequence of the geological method is the exaltation of time at the cost of place: here on a mountaintop appear fossils from a seabed; here on the desert floor once stood a lush rain forest. In another recent book on pastoral entitled Pastoral Process: Spenser, Marvell, Milton (Stanford, 1998), a far slenderer but far more theoretically groundbreaking book than Hubbard’s, Susan Snyder has argued that there are really two kinds of pastoral, following the phenomenological division of place and time: the pastoral of place, as of Arcadia or the “pastoral retreat,” and the pastoral of time, or the “(lost) Golden Age.” Like Hubbard, Snyder is interested in the latter, specifically in the way in which poets utilize the pastoral of time in charting their own temporal development. But by indicating an alternative to temporocentrism, one, if not the, dominant mode of modern Western thought, Snyder opens the possibility for a renewed attention to place in pastoral and, more broadly, in literature.

    In fact, the environmental perspective on literature, also known as ecocriticism, has arisen with the claim that it is ultimately inspired by Greco-Roman pastoral, though its formal analyses have admittedly been limited thus far to English Romanticism and American nature writers. This classical linkage is stated for example in Don Scheese’s Nature Writing: The Pastoral Impulse in America (New York, 1996; see also the special forum in the October 1999 issue of PMLA , as well as in Terry Gifford’s Pastoral , recently published in Routledge’s New Critical Idiom Series). What Hubbard and even more so Alpers have thus elided is the importance in pastoral of landscape and nature, which may be pastoral’s most common denominator. Consequently in Hubbard’s readings, there is little emphasis laid on the decided (re)localization of many allusions: even when Vergil is citing Theocritus, the plants are Italian varieties, not Greek ones. It may finally be time to correct Bruno Snell’s excessive thesis that Arcadia was “discovered,” as a strictly imaginary place, by Vergil in Eclogue 10. Even leaving out Anyte in this geography, Arcadia already must be the site of Theocritus’s first Idyll (since Pan is said to be resting nearby). Moreover, Vergil’s invocation of Arethusa at the beginning of Eclogue 10 is an anecdote of the literary liquidity of places as a “real,” not imaginary phenomenon: Arethusa of Arcadia was pursued by Alpheus, transformed into a river, and emerged as a spring near Sicily’s Syracuse. Vergil specifies that the Arethusan spring was still fresh: it was unsalted in its journey under the sea. Thus pastoral’s places can travel, untouched by intervening time, and this invariability of place helps to explain the persistent appeal of pastoral to both authors and readers across the periods of literature. It is crucial to return by circling back to pastoral place, now that the linearity of pastoral time has been so clearly ruled by Hubbard.

    As a final note, on the occasion of this review of a book that involves literary theory, I will add a few words about the general relationship between the field of classics and recent theory. (There is one, of course, as testified by Hubbard, as well as the balanced article on “literary theory and classical studies” in the third, 1996 edition of The Oxford Classical Dictionary .) As I have tried to show here with The Pipes of Pan , the dissemination of “theory” into other fields works by a process of selection and recombination. Thus Hubbard chooses Bloom’s idea of anxiety out of various strands of intertextuality, but tempers the concept with Iser’s reception theory, which entails a completely different conceptual framework. As in any process of translation, there are traitorous turnings. Terms start to slip, or are stretched to fit: “anxiety” becomes a conscious rather than an unconscious phenomenon; Iser is referred to as “reader response,” when “reception theory” or “reception aesthetics” is more proper (since we are speaking about an approach far closer to Hans Robert Jauss than to David Bleich or Norman Holland); and “filiation” is thought to be coined to distinguish the Bloomian kind of intertextuality, when it could be said to belong to a completely different school again–the postcolonial thought of Edward Said. In Beginnings: Intention and Method (Basic Books, 1975, and especially in the preface to the 1985 Morningside/Columbia University Press edition), Said emphasizes the difference between what he terms filiation , the ineluctable, biological kind of inheritance, and affiliation , one’s willful association with preferred cultural groups, or chosen “relatives.” After all, the latter, and not filiation (or my “familiation”), is really what Hubbard has found operating in his readings of authors who work across so many linguistic and national boundaries. In the field of classics, which is otherwise known for its archeological precision regarding literature (eg, metrical forms), such looseness of terminology is unfortunate. On the other hand, classics has bequeathed to the wider literary field the very philological tradition of minute and polyglot reading that has illuminated so much of the theoretical enterprise. Could this inheritance be recovered and passed on once again? One would never guess this traffic between classics and theory had ever taken place, to judge from today’s typical graduate classics curriculum. Burdened by multiple comprehensive exams (as many as ten!) before advancing to candidacy, a doctoral student in classics is still asked to demonstrate the traditional, narrowly archeological competencies in languages, literatures, and history. Unchanged, such priorities ensure that classics will remain in the position of fitting the theory to its literature. Changed, classicists might be no longer the mongers of old theory, but again the makers of new.

    URL: hubbardreview.html; Last updated: Summer, 2000; mail to: Complitreview@brynmawr.edu
    Sumber: http://www.bcla.org/bclalink.htm, diakses 5 Juni 2010-06-15

    TERJEMAHAN:
    Thomas K. Hubbard, The Pipa Pan: intertekstualitas dan Sastra keturunan dari Theocritus ke Milton.
    Volume 2, Nomor 1 (Summer 2000)

    Diulas oleh Christopher M. Kuipers
    University of California, Irvine
    Hubbard adalah buku besar kedua pada pastoral sastra pada dasawarsa ini, yang lain, Alpers’s Apa Paul Apakah Pastoral? (Chicago, 1996),. Baik mulai dari argumen yang pastoral, bila dianggap sastra yang panjang selama sejarah harus dipersempit dan harus tidak dianggap sebagai sesuatu yang utama adalah peran pengaturan dari beberapa dunia ideal. The “pertanyaan-pertanyaan tentang definisi genre dan fungsi sosial memiliki minat mereka sendiri,” kata Hubbard, tapi “penelitian ini. . . mengasumsikan pastoral sebagai ‘konvensi’ daripada sebagai ‘tema,’ sebagai tradisi lebih dari sebagai genre didefinisikan “(4-5). Bandingkan Alpers, invoking Kenneth Burke:” kita akan memiliki gagasan jauh lebih benar pastoral jika kita mengambil nya anekdot perwakilan menjadi gembala dan kehidupan mereka, bukannya lansekap dan alam ideal “(22). Sementara Alpers mengambil tradisi-jauh dari Theocritus untuk Frost dan penulis abad kedua puluh yang lain, ia melewatkan hampir lurus dari Vergil ke Spenser. Hubbard kali dibaca angka lebih sedikit, tetapi mereka banyak membaca lebih dekat, dan membayar perhatian ke bagian yang paling diabaikan dari tradisi – apa yang terjadi setelah Theocritus dan Vergil (‘s Hubbard bab 1 dan 2, masing-masing), tetapi sebelum Renaissance (bab 5): surat pastoral dari zaman akhir (Bab 3) dan abad pertengahan pastoral (bab 4). Namun, Vergil dan Renaissance adalah terbesar keprihatinan Hubbard, karena di sini untai keturunan sastra berada pada mereka yang paling kusut dan dengan demikian paling menarik,. umum Argumen bagaimanapun, adalah bahwa untai selalu ada, bahkan di “lemah” contoh-contoh dari tradisi pastoral. klasisisme khas ini drive’s kesuksesan Hubbard, dan kekurangannya.
    Pendahuluan tinjauan literatur teori di balik subjudul cepat. Semua teoritis biasa, tersangka intertekstualitas dikutip – Bakhtin, Kristeva, Derrida, Gérard Genette, Laurent Jenny. Meskipun, tinjauan historis ini tetap benar dan karakteristik jernih. “keturunan” di sini merujuk pada subset dari intertekstualitas, dengan revisionisme puitis Harold Bloom: dengan agon oedipal dari kecemasan “pengaruh” di mana satu penyair / ephebe / pertempuran filius dengan penyair tua / ayah. Hubbard lebih suka model terakhir dari intertekstualitas, tetapi dengan sebuah infleksi yang berhutang jauh lebih ke teori penerimaan Wolfgang Iser daripada misprision-‘s Bloom-salah membaca sebagai,. Untuk Hubbard tidak mengambarkan penulis sebagai cemas ahli waris yang bergerak di bawah sadar pertempuran yang dengan nenek moyang tetapi sebagai seorang ahli pembaca terutama yang menanggapi satu tertentu, hati-hati membaca pendahulunya: “niat pengarang tentu tidak relevan. . . . . adalah. Apa yang dibutuhkan untuk pemahaman yang lebih lengkap dari kiasan dalam puisi sehingga kesatuan simbiosis teori intertekstual dengan kritik-respon pembaca “(15). Memang, dibawa ke tradisi pastoral, ini fokus pada penulis sebagai readerly (Iser, tidak Barthes ) membantu menjelaskan mengapa pastoral telah begitu sering diambil atas sebagai cara untuk memulai karir, yaitu dengan mengacu kepada karir para penulis masa lalu, ketika mereka juga mulai dengan pastoral. ini untai Argumen Hubbard menempatkan apa Iser panggilan “repertoar itu” : “[t] ia sejarah intertext pastoral sehingga membentuk sebuah narasi dari alokasi berurutan dan modulasi di mana penyair tidak hanya menunjukkan keahlian dengan mengkombinasikan topoi tradisional dan situasi dramatis menjadi sebuah format baru, tetapi juga memposisikan diri relatif terhadap masa lalu dan / atau masa depan puisi “(349).
    Namun, semua ini benar-benar “lite intertekstualitas frame.” Seperti yang sering tampaknya kasus ketika bidang klasik kontemporer yang kritis dan enlists konsep sastra, teori muncul sebagai “kewenangan lain” tanpa ada upaya untuk menantang atau peregangan teoritis, atau untuk mengukur resistensi relatif dari teks kuno versus teori modern. Oleh karena itu, Hubbard sangat jauh dari aplikasi yang ada di dalam cara apa pun “ketat” tentang intertekstualitas baik tituler Kristevan nya atau pengaruh Bloomian. Kristeva berpendapat bahwa mata pelajaran benar-benar ditelan oleh intertekstualitas, dan sebenarnya ada praktis tidak ada “di luar sana” kecuali intertekstualitas, atau “dinding ke dinding” tekstualitas. Bloom telah menyatakan (yang sangat benar untuk Freud) yang salah baca dapat sepenuhnya sadar – bahwa ada tidak perlu untuk ephebe untuk yang benar-benar membaca pendahulunya dan! – bahwa “pengaruh” mungkin dalam pekerjaan sebenarnya merupakan terhadap butir dari setiap sejarah sastra linear: Bloom bahkan membahas penampilan luar biasa dari ephebe suara di dalam pendahulunya itu teks. Untuk Hubbard, namun ini terutama sopan santun; teoritis tidak ada sistematis, upaya misalnya, untuk menerapkan Bloom enam “‘s revisionary, rasio” dan Bloom hampir tidak disebutkan sekali yang tepat kritik dimulai. kegelisahan Bloom, pengaruh, Hubbard menyarankan, hanya dapat benar-benar terjadi setelah Milton , penelitian ini titik akhir, dan terserah dia ada “kecemasan umum lebih dari orisinalitas” (revisi dari Thomas M. Greene, Cahaya di Troy). Meskipun demikian, gagasan Hubbard dari intertekstualitas sebagai diterapkan, bahkan jika “lunak,” ” disengaja, “dan Iserian, hasil dalam meyakinkan dan mencerahkan penjelasan sama sekali dari sesuatu yang masih menarik: sifat sistematis dari penulis sindiran, dengan semua kompleksitas dan keseriusan segala bentuk bermain. Teori intertekstualitas adalah benar-benar barang pajangan, tapi jendela yang terbuka Hubbard memiliki pandangan yang jarang terlihat: misprision terbaik Hubbard bukan teori sastra abad kedua puluh, tapi dari tradisi-abad kesembilan belas komentar – Hubbard tidak puas, sebagai komentar dalam bidang klasik masih beroperasi, dengan mencatat paling jelas kiasan. Sebaliknya, Hubbard mencatat bagaimana sindiran sering berganda dan dihitung, melibatkan string teks sebelumnya; sehingga mereka tidak hanya harus diperhatikan tetapi dianalisis secara mendalam, bukan dalam konteks hanya satu karya oleh satu penulis (sebagai komentar biasanya batas sendiri) tetapi di bidang intertekstual penuh dari semua karya-karya. Ketika The Pipa Pan muncul pendek, itu adalah gagal untuk mempertahankan proyek ini menakutkan bagi semua penulis menganggap Hubbard.
    Dalam bab 1, Hubbard membandingkan Vergil dan Theocritus, menyerukan anekdot yang telah membuka begitu banyak penelitian dari pastoral, salah satu yang sangat cocok untuk pendekatan Bloomian: Theocritus menemukan pastoral, menurut cerita, dan Vergil menyempurnakannya. Meskipun Theocritus tentu tidak menciptakan Idylls nya dari awal, ada bukti tipis hanya dari orang-orang pendahulu Aleksandria spesifik bahwa ia mungkin dirinya akan merevisi,. Namun demikian jika ada cacat dasar dengan model revisionary, ia mengungkapkan di sini, di sedang membaca Hubbard dari Theocritus – pendahulunya tidak pernah datang off sangat baik, dan Theocritus apalagi harus menanggung, dari perspektif Bloomian, berat raksasa dari semua pastoral yang datang kemudian. Seperti dalam Alpers’s Apa Pastoral?, Vergil kemenangan meyakinkan atas ayah pastoralnya: ini “kuat” preferensi untuk Vergil lebih Theocritus sehingga memutar keluar dari awal baik dan kritis tradisi sastra pastoral (sudah, Julius Scaliger mencurahkan satu bab-nya Poetics penderitaan, seakan-akan, Theocritus dibandingkan dengan Vergil). Tentu saja, Hubbard sendiri mengaku bahwa bukunya dapat diatur oleh revisi “” melawan gurunya Thomas J. Rosenmeyer, yang dikenal Green Kabinet adalah salah satu upaya hanya untuk meninggikan Theocritus ke diskualifikasi dari semua orang yang datang sesudah (yang paling berguna kritikus lain yang berpendapat bahwa Theocritus memang unik David Halperin di Sebelum Theocritus dan Kathryn J. Gutzwiller di Theocritus Pastoral Analogi). Di sisi lain, yang membaca Hubbard dari yang membaca Vergil dari Theocritus berhasil mengungkap berbagai pandangan dalam hal ini dengan baik-melintasi topik yang lain. Sementara Theocritus posisi dirinya sebagai melakukan sesuatu yang cerdas dengan bahan epik lama, Vergil ternyata hal-hal sepenuhnya sekitar dengan menggunakan pastoral untuk langsung kariernya sendiri terhadap prestasi epik yang Theocritus tidak pernah tercapai, atau bahkan direnungkan, karena ia tampaknya telah di dari sisi Callimachus terhadap-epik proyek pos Apollonius. Hubbard juga mempertimbangkan langkah perantara anonim ratapan untuk Bion sebagai kedua, “lemah” dan cara Vergilian kurang: dalam puisi ini ada ekspresi tidak mampu, bukan kemenangan, dalam menghadapi tradisi, sebagian fungsi, Hubbard telah ditemukan, dari temporal dan bahasa lokal. Lebih mudah untuk merevisi dari kejauhan.
    Bab 2 memeriksa’s Eclogues Vergil sebagai Buku Eclogue, seorang kepada intertext seluruh sendiri. Bab ini adalah tur de gaya, yang terbaik dari The Pipa Pan, karena di dalamnya Hubbard melakukan apa yang dia temukan di Vergil: sebuah mengatasi ahli dan melebihi dari kusut tradisi – yaitu, tubuh besar kritik yang ada pada Eclogues lurus Hubbard membaca. berlangsung melalui Kitab Eclogue, menghindari untuk saat ini yang “lebih jelas” pasangan dari Eclogues yang telah dibahas memuakkan (1 dan 9; 2 dan 8; 3 dan 7; 4 dan 6, 5 dan 10). Sebaliknya, Hubbard menghubungkan Eclogues sebagai tiga triad berturut-turut dengan sebuah koda: Eclogues Theocritus 1-3 mengikuti yang paling dekat dan rendah hati; Eclogues 4-6 mengeksplorasi model yang lebih ambisius, seperti elegi dan epyllion itu; Eclogues 7-9 mulai menunjukkan penguasaan penuh, sampai titik pemodelan untuk penyair lainnya; dan Eclogue 10 merangkum ketiga gerakan, dengan perpisahan dan akhir sengatan keraguan terletak Hubbard. revolusi dalam membaca koleksi Vergil sebagai rekapitulasi dari siklus pembangunan, berbentuk sebagai penyair akan memilikinya. Akibatnya, Hubbard membagi-bagikan dengan apa yang benar-benar akan minat Freudian seperti Bloom: urutan sebenarnya komposisi Eclogues, sebuah kemajuan yang akan mengungkapkan suatu sadar dan dinamis dikontrol kurang kerja’s Iserian Hubbard. upaya jauh lebih dipertahankan, karena urutan sebagai diterima memang cara Vergil dimaksudkan. Hal ini tentu berbeda dari urutan komposisi, apa pun bahwa perintah yang mungkin terjadi, untuk (seperti di banyak bibliografi pertanyaan kepenulisan di periode klasik) ada kesepakatan kecil di urutan komposisi. Hubbard menyadari’s pentingnya pastoral untuk Iser, yang mulai Act of Reading dengan Spenser’s Shepheardes Kalender, tetapi tampaknya tidak sadar baru-baru ini, Iser radikal klaim lebih The fiktif dan Imajiner yang pastoral, setidaknya di Renaissance, terutama mengenai proses penerimaan, apa yang Hubbard mengisyaratkan untuk era klasik. Jadi salah satu lebih penting poin Hubbard adalah yang revisi Vergil bertujuan tidak hanya pada tradisi Yunani , dan di dekat sezaman Romawi, yang paling terkenal Gallus, tetapi juga penting di Catullus serta Romawi lainnya elegists cinta, yang pengaruhnya pada Eclogues – justru karena hubungan antagonistik – telah diremehkan.
    Salah satu taktik Hubbard, Namun, yang dipinjam mundur dari Renaissance, tidak memberikan jeda beberapa: dia sangat bergantung pada paket standar nama pastoral untuk menunjukkan dinamika revisionary kemajuan’s Vergil (misalnya, dari Corydon di Eclogue 2 sebagai frustrasi penyair ke Corydon di Eclogue 7 sebagai a). ini jumlah sukses satu ke overreading karena dua alasan,. Pertama, alegoris lintas identifikasi koleksi “satu gembala = satu persona” bukan persamaan yang dapat diandalkan sampai Abad Pertengahan, meskipun mungkin sudah terjadi dalam individu seperti puisi sebelumnya sebagai syair yg menggambarkan keindahan alam ketujuh, di mana Theocritus sepertinya muncul dalam samaran dari salah satu gembala nya,. Kedua tidak semua nama pastoral yang berulang. Tidak hanya terdapat baik jumlah tunggal yang tepat nama-nama dalam Buku Eclogue, namun nama-nama ulang mungkin dimaksudkan bukan sebagai intertexts tetapi “antitexts” mengacu pada persona yang sangat berbeda: telah Corydon benar-benar diubah oleh Eclogue 7, atau dia hanya Corydon berbeda? Apa pun ada beberapa rincian penting karakterisasi ,. ini Dalam konteks kemungkinan Judith Haber Pastoral dan Poetics Diri-Kontradiksi: Theocritus untuk Marvell (Cambridge, 1994; tidak dikutip oleh Hubbard) datang ke pikiran: bahwa tradisi anti-pastoral dapat bergerak pada suatu yang sangat diri sadar tingkat-oleh penulis individu Hubbard lebih besar. titik baik diambil memang – Vergil telah jelas berbentuk koleksi menjadi paradigma pembangunan artistik – tapi membuat nama pastoral mengasumsikan beban pemetaan perkembangan ini mengurangi kesenian ini. yang terkenal Tityrus dan Meliboeus dari Eclogue 1 adalah kasus di titik,. komentator dari Servius di bawah selalu diambil Tityrus ke mewakili penyair: “Tityrus” adalah kata pertama dari puisi, gambar ini dari gembala bernyanyi di dipulihkan santai, tetap satu dari anekdot besar inspirasi puitis. Titik Eclogue 1, Namun, tidak untuk berdebat untuk puisi sebagai rumah kontras dengan pembuangan Meliboeus, namun untuk menjaga kedua perspektif di-sempurna oposisi dekat,. Vergil itu, yang mendiami suara dari kedua Tityrus dan Meliboeus – sama seperti penulis manapun harus ada semua atau dia tokoh-tokohnya. Jika apa-apa, Meliboeus keluar pemenang “” di pembaca simpati, dan nama ini, dalam mode tepat revisionary, tidak ditemukan, sebagai Tityrus adalah, dalam kanon Theocritean nama gembala. Jadi ketika Vergil menutup Georgics dengan mengulangi Eclogue 1,1 dengan mengubah “aku bernyanyi Anda, Tityrus,” ini tampaknya terbaik dibaca bukan sebagai “aku bernyanyi sebagai Anda, Tityrus” tapi “Aku bernyanyi Anda (sebagai Meliboeus) Jika. “Eclogue 9 mengembangkan kontras sinis dengan optimisme umum Eclogue 1, dan keduanya milik Vergil yang sama, tentu Vergil bisa menghuni kedua Eclogue 1’s gembala, baik Meliboeus muda dan Tityrus tua. Hubbard tentu setuju dengan semua hal di atas, namun tidak bersedia untuk mengambil langkah lebih lanjut bahwa Tityrus berikutnya dan Meliboeus muncul dalam Eclogues dapat belum persona lainnya, yang merupakan penjelasan yang lebih kredibel untuk beberapa disjunctures ekstrim dalam karakterisasi dari yang gembala Vergil, ketika ada karakterisasi sama sekali.
    Setelah penjelasan panjang yang sangat baik dari Vergil, bab-bab yang tersisa (seperti banyak puisi pastoral itu sendiri setelah Vergil) berangsur-angsur menjadi lebih dan lebih mengecewakan. Dalam Bab 3, Hubbard mengeksplorasi sering diabaikan Pastoral Kuno Akhir: yang Eclogues Einsiedeln, yang Eclogues dari Calpurnius Siculus, dan Eclogues dari Nemesianus. Hubbard menganggap urutan intertextually tentang baik Vergil dan pendahulu lainnya dalam urutan tersebut. Lebih dari sejarah sastra mereka, Hubbard menemukan, koleksi perlahan-lahan keluar dari itu melemahkan bayangan Vergil: yang Neronian fragmentaris Einsiedeln Eclogues tidak bisa melewati Vergil sama sekali; Calpurnius (tanggal lebih dari tradisional, ke abad ketiga) lebih ambisius, namun masih belum dapat sepenuhnya mengatasi model Vergilian, tetapi Nemesianus defuses Vergil oleh penyebaran dia, bermain dia off terhadap Theocritus, Calpurnius, dan lain-lain, meskipun hasilnya memiliki rasa Bloomian “kelemahan.” Hubbard telah di sini diberikan kontras dengan grimmer itu, mundur-mencari “puisi yang kuat”: beberapa penyair kurang fokus pada pendahulunya yang kuat satu dan berkonsentrasi pada eklektisisme optimis dalam misprisions mereka, sebagai suatu ke depan mencari model untuk penyair masa depan.
    Bab 4, yang relatif singkat, menguji contoh beberapa abad pertengahan pastoral. Sejak Hubbard terutama tertarik pada kumpulan puisi yang ditulis dalam kaitannya sadar untuk seluruh tradisi pastoral, ia melompat cepat (setelah pertimbangan singkat dari kesembilan abad ke-Eclogues dari Modoin dari Autun) dengan periode abad pertengahan, di mana penulis, bersama dengan kesadaran yang tepat teks-teks klasik, muncul kembali dengan sepenuh hati. Pada saat pastoral mencapai Dante, yang dgn lucu menggunakan ayat dalam surat ke Giovanni del Virgilio sebagai recusatio Vergilian (penolakan “seni” untuk menulis sebuah puisi lagi), pastoral telah sepenuhnya dilapisi dengan enamel alegori dan sindiran, apakah Kristen, politik, atau sekadar sastra. Hubbard bisa membuat lebih banyak di sini tentang kita gunakan Dante Latin menolak untuk menulis epik Latin ketika ia memilih sebuah satu Italia, dua dari pertempuran yang paling strategis dari dahulu dan modern lebih dari bahasa dan pastoral koleksi. Masih dalam bahasa Latin, Petrarch dan Boccaccio (dianggap sebagai Abad Pertengahan) masing-masing menulis puisi berjudul Carmen Bucolicum, dan menghidupkan kembali urutan Akhir Kuno: Petrarch (seperti Calpurnius) lebih Kuno, Boccaccio (seperti Nemesianus) lebih modern, namun keduanya sama kuat dan ingin sendiri untuk menjadi subyek penafsiran dan model untuk penyair kemudian .
    Bab 5, di Renaissance, melanjutkan pertimbangan reappropriations Italia awal pastoral, pindah ke abad kelima belas,. Keempat Eclogues dari Giovanni Pontano dikirim ke printer segera sebelum ini penulis dan kematian negarawan, memberikan contoh yang baik dari Hubbard pastoral -sebagai-kurikulum-vita, dalam hal ini retrospektif kasus daripada prediksi. Akhirnya, muda kontemporer’s Sannazaro Pontano mulai menulis pastoral dalam bahasa: Arcadia langsung pendekatan skala asli epik-penuh (atau asmara). The Adulescentia dari Mantuan (Baptista Spagnuoli) kembali ke Latin, dan ini, bersama dengan tema Mantuan dari kedatangan usia, membuat sekolah Adulescentia teks standar (dikenal misalnya untuk Shakespeare).
    Pada titik ini Hubbard melompat ke tradisi pastoral bahasa Inggris yang diwakili oleh Spenser dan Milton,. Di sini di mana teks tersebut telah dikritik secara mendalam, ada sedikit yang baru dan banyak yang hilang,. Tentu saja sebagai Hubbard menemukan, The Kalender Shepheardes hanya sebagai overdetermined belum sama asli sebagai Vergil’s Eclogue Buku. Memang ada yang progresif, account Vergilian dari karir di dua belas bulanan “Aeglogues,” dan seperti komentar yang tertutup di “SK” (mungkin, sebagai Hubbard mengambilnya, Spenser sendiri), itu mencerminkan semua penulis kecemasan atas jalan buntu penerimaan telah. Hubbard sedikit waktu untuk membahas warisan vernakular mendalam Chaucer, atau (seperti Iser menunjukkan) pentingnya utama dari situasi politik kontemporer. Meskipun Hubbard menghabiskan hampir 50 halaman di Spenser, sekitar 100 yang dibutuhkan, atau jumlah yang sama ruang Hubbard mencurahkan untuk Vergil. Kurangnya terbesar dari semua, di sini, adalah intertext luar biasa dari semua sisa sastra produksi’s Spenser: korpus Spenserian, semua cara untuk akhirnya, ditembak melalui dan melalui dengan resonansi dan recapitulations dari pastoral,. Jadi Hubbard tidak berguna catatan sebagai dia bisa, bahwa Spenser, meskipun dia sudah selesai beberapa karya lain yang lebih pendek dan sudah mulai The Queene Negeri Peri, sengaja Kalender Shepheardes telah diterbitkan pertama kali.
    Kesenjangan ini tidak muncul ketika Hubbard berikutnya berubah menjadi Milton: Lycidas, bersama dengan Damonis Epitaphium dua tahun kemudian, dianggap sebagai bagian dari 1645 koleksi Milton tentang Puisi dikalahkan. Tapi sekali lagi Hubbard adalah, karena titik yang lebih besar dari Lycidas adalah bahwa itu mengulangi dalam puisi tunggal semua koleksi pastoral sebelumnya, yang berbagai progresi melangkah telah terbukti sangat berguna untuk Hubbard. Tentu Lycidas dapat melakukan jenis yang sama kemajuan, tetapi Hubbard tidak sama dengan kekayaan mendalam intertekstualitas dalam puisi Milton. Dalam membahas untuk contoh baris-baris pembuka yang terkenal (“Namun sekali lagi, ya Pramunita kamu, dan sekali lagi / Ye Myrtles cokelat, dengan Ivy tidak pernah layu”), Hubbard lebih suka jauh-diambil paralel dengan Eclogue 7,61-64 untuk lebih jelas kiasan banyak Eclogue 2,54. Fokus pada “Namun sekali lagi,” mengutip Hubbard-mencatat yang baik untuk kiasan Ibrani 0:25, tapi merindukan bahwa Milton bisa sama juga mengacu pada dirinya sendiri; dua puisi sebelum-nya telah disebutkan laurel, dan satu melati, sehingga ini adalah yang ketiga, kedua, dan kali pertama sekitar, masing-masing, untuk tiga pabrik. seperti kiasan diri tentu sesuai untuk Milton. Hubbard akan diuntungkan dari Martin Evan perkembangannya berorientasi monografi J. Jalan dari Horton ( Studi Sastra Inggris, 1983), yang baik hati-hati explicates intertekstualitas dan penataan internal Lycidas.
    Yang lebih besar titik Hubbard tentang Milton tentu tidak berdiri: Milton, menulis pada saat pastoral hampir hampir mati, revivified begitu memukau bahwa ia secara efektif membunuhnya untuk semua pendatang kemudian, sehingga ia mungkin secara pribadi bertanggung jawab atas kecemasan pengaruh. Untuk mengulangi, kemudian, Hubbard telah benar-benar revisi Bloom revisionisme Harold, khususnya roman “keluarga Freudian” pada intinya. Jika apa-apa, Hubbard telah menemukan yang mempengaruhi dalam tradisi pastoral dari klasik sampai awal periode modern yang benar-benar seperti diperpanjang, bukan nuklir , keluarga. Mengingat begitu banyak intertekstualitas bahwa Hubbard membahas melibatkan beberapa sindiran, ada banyak ruang untuk apa yang baru-baru ini para psikolog lebih telah disebut “teori sistem keluarga,” di mana interaksi pribadi diad jarang, tapi pasti cenderung untuk melakukan pelacakan. “Familiation” mungkin ganti “keturunan” di sini, sejak Hubbard telah menunjukkan bahwa interaksi pastoral adalah sebagai sering intragenerational sebagai antargenerasi.
    “Hubungan darah” juga berisi warisan Bloomian itu, seperti itu “Alpers gembala dan kehidupan mereka,” kebutuhan jenis lain dari revisi,. Seksis Inkarnasi Bloom dari penyair dan sebagian besar dari semua kritikus, mengarah ke misprision signifikan dari tradisi pastoral. Tentu klasik dan kemudian pastoral telah didominasi oleh penyair laki-laki, tetapi mudah untuk meremehkan kontribusi, katakanlah, Anyte Arkadia, yang sangat asli epigram mendahului dan mungkin telah mempengaruhi Theocritus; dalam hal apapun dia memiliki proyek yang sama dari membaca ulang Homer ” bawah untuk ukuran orangtua. “Selain kebutuhan untuk merevisi pastoral” ayah “menjadi”, “orang juga harus menguji” anti-keluarga “cara penularan: foundlings, melarikan diri, mutasi, perkawinan antara suku atau bangsa. Ada, misalnya, tidak ada ruang dalam sejarah sastra Bloomian dari pastoral untuk perkosaan dari pastourelle abad pertengahan. Dalam menekankan poin transmisi (seperti nama gembala laki-laki) yang muncul sangat sadar dan disengaja, Hubbard luput dari ova kecil warisan Vergilian yang tumbuh keluar dari semua proporsi Vergil’s niat, yang popularitas tak terduga dari “Mesianik” Eclogue 4 hanya yang sudah jelas contoh yang paling. lain adalah maju peri air Aegle di Eclogue 6, yang singkat batu adalah penampilan perempuan satu-satunya di Buku Eclogue dan Vergilian model hanya untuk semua shepherdesses kemudian dan nimfa drama pastoral dan asmara, tradisi yang tetap dikecualikan oleh’s silsilah Hubbard – pipa tiang Pan yang diturunkan hanya dari orang ke orang,. (Hubbard, bagaimanapun, catatan homoerotic dimensi ini terjemahan meskipun masih jauh dari hal seperti aneh pastoral, yang kemungkinan lain sendiri.) ini adalah untuk mengatakan bahwa tradisi, dan pastoral tradisi merupakan salah satu lebih baik contoh, memiliki cara berkelok-kelok, memutar kembali, dan menghancurkan yang Hubbard linier arkeologi – bahwa anekdot abadi studi klasik – tidak memahami.
    Mungkin lebih baik mengatakan “geologi,” karena arkeolog bahkan kadang-kadang harus menghadapi kesenjangan yang disengaja dan kelalaian dalam strata sedimentasi budaya. Sebuah konsekuensi penting dari metode geologi adalah peninggian waktu pada biaya tempat: di puncak gunung muncul

  17. MARLINA
    27/06/2010 pukul 3:31 am

    NAMA : MARLINA (A1B107049)
    MATA KULIAH : SASTRA PERBANDINGAN
    Remedial Sastra Perbandingan

    Comparative Literature and the Genres of Interdisciplinarity
    By FRANCESCO LORIGGIO
    During the last few decades com- parative litera- ture’s most pressing impulse seems to have been territorial or cumulative: annexing material first overlooked or unexplored, enlarging the scope, ex- panding the limits of comparison geographically, disciplinary, intellectually. You see this in those definitions of the discipline which, on various occa- sions, have urged comparatists to put more truly in- tercultural distance between the texts they choose to compare, to transcend Eurocentrism and address the insights–critical and theoretical–that works from Asia or Africa or elsewhere outside Europe might provide.1 You see it in the resolution adopted by the International Comparative Literature Associ- ation in the seventies which adds theories to the ros- ter of items amenable to comparison (Scholz). Or you see it in in those definitions which, in the early sixties, brought within the compass of the discipline “the study of the relationship between literature . . . and other areas of knowledge and belief, such as the arts (e.g., painting, sculpture, architecture, music), philosophy, history, the social sciences (e.g., poli- tics, economics, sociology), the sciences, religion,” or, in brief, “the other spheres of human expres- sion,” to round out and complement the more tra- ditional “study of literature beyond the confines of one country” ( Remak, 1). And, of course, it is there in more recent versions, which raise the ante still
    further and inscribe the very process of readjust- ment and accumulation into their survey of the dis- cipline. For the 1993 Bernheimer Report to the American Comparative Literature Association, the “space of comparison” involves not only compar- isons between “artistic productions usually studied by different disciplines” or “Western cultural tradi- tions, both high and popular, and those of non- Western cultures” or “pre- and postcontact cultural productions of colonized peoples” or “gender con- structions defined as feminine and those defined as masculine” or “sexual orientations defined as straight and those defined as gay” or “racial and ethnic modes of signifying” or “hermeneutic articu- lations of meaning and materialist analyses of its modes of production and circulation”–not only this, but “much more” ( Bernheimer, 41-42). You surmise that tomorrow is another day, with more new material to canvass and to agglomerate.
    It is difficult to say with how strong a sense of caution–or of suspicion–such a compulsion should be faced. The continual updating, the many revisions may spring from some anxiety of omission, some unavowed intellectual hubris, but they are also
    a sign that the discipline participates fully in the dy- namics of cultural conversation, that it listens to outside proddings and keeps in touch with events. Comparative literature compares anything the times confront it with. Certainly, in spite of their elitism and Eurocentrism, comparative literature programs have not been the places where institutional power is concentrated, or, for that matter, where power-mak- ing and power-breaking intellectual trends are initi- ated or consolidated. As the history of poststruc- turalism, postcolonialism, and cultural studies suggests, ideas in North American faculties of art have to be properly domesticated, to go through the filter of English departments before they can aspire to any measure of academic success.
    What is striking, in the nineties, is the degree to which, in the various definitions of comparative lit- erature, both the principle of coverage and the com- patibility of the elements the coverage entails, of the ingredients the many corrections sediment on the rest, are taken for granted. Each of the new items comes attached with a theoretical or critical agenda which has external repercussions as well as its own internal tensions. Today, the misgivings about the focus of traditional literary studies voiced by the in tercultural comparatists of one or two decades ago are similar but not quite the same as those of post- colonialist critics. Relocating theories into the
    province of comparison aligns comparatists with antifoundationalists from a variety of institutional venues–not an uncontroversial position. For its own part–to pass over gender studies, whose actu- ality and explosiveness, as topics, need not be dwelt upon–the opening to “the other arts,” visual and plastic, leaves comparative literature at the doorstep of media and cultural studies, two of its strongest institutional and intellectual competitors.
    Schematized, the strains which the widening of the perimeters of comparative literature has been causing among comparatists stem, I would submit, from the centrifugal pull of two basic orientations.
    FRANCESCO LORlGGIO teaches Italian and Comparative Litera- ture at Carleton University in Ottawa, Ontario. He has published numerous articles on literary theory, the relations between litera- ture and other disciplines, the novel, and various twentieth-cen tury authors. His translations from the works of Achille Campanile
    , The Inventor of the Horse and Two Other Short Plays, appeared in 1995. He is the editor of the essay collection Social Pluralism and Literary History: The Literature of the Italian Emigra- tion (forthcoming).

    Questia Media America, Inc. http://www.questia.com
    Sumber: http://www.questia.com/read/96466916?title=Comparative%20Literature%20and%20the%20Genres%20of%20Interdisciplinarity%2c%20in%20World%20Literature%20Today,
    diakses 5 Juni 2010-06-15

    Publication Information: Article Title: Comparative Literature and the Genres of Interdisciplinarity. Contributors: Francesco Loriggio – author. Journal Title: World Literature Today. Volume: 69. Issue: 2. Publication Year: 1995. Page Number: 256.

    TERJEMAHAN:
    Perbandingan Sastra dan Genre antar Bidang Ilmu Pengetahuan
    OLEH FRANCESCO LORIGGIO
    Selama beberapa dekade terakhir dorongan yang sangat kuat sastra bandingan nampaknya telah dibatasi atau terkumpul: materi penguat yang pertama terlupakan atau tidak tereksplor, memperluas ruang, batas komperasi secara geografis, disipliner secara intelektual. Kamu lihat ini pada semua definisi disiplin yang pada berbagai kejadian telah mendesak para kompatis untuk meletakan jarak interkultural antara teks yang mereka pilih untuk di bandingkan, untuk mengatasi yurosentisme dan menempatkan perasaan kritik dan teoritis yang berasal dari Asia atau Afrika atau dimana pun di luar Eropa. Bisa dilihat pada resolusi yang di ambil oleh Asosiasi sastra bandingan di tahun 70-an yang menambah teori item roster yang siap di komperasi (scholz). Atau bisa dilihat pada semua definisi yang pada awal tahun 60-an dibawa dalam kompas disiplin sebuah studi tentang hubungan antar literature dan ilmu pengetahuan lain dan kepercayaan seperti kesenian (misalnya melukis, pahat, seni arsitek, musik), filosofi, sejarah, studi sosial (misalnya, politik, ekonomi, sosiologi), sains, agama atau secara ringkas,’ ruang lain ekspresi humanitas,’ untuk memutar semua dan melengkapi studi literature yang lebih tradisional di wilayah satu negara (remak 1) Dan, tentu saja, itu ada dalam versi yang lebih baru, yang masih menaikkan ante lebih lanjut dan menuliskan proses pembaharuan dan akumulasi ke dalam survei ilmu pengetahuan. Bagi laporan Bernheimer 1993` ke asosiasi sastra bandingan, “ruang komparasi” tidak hanya meliputi komparasi antara produksi artistik yang biasanya dipelajari oleh disiplin ilmu yang berbeda atau tradisi kultur barat, baik kebudayaan yang tinggi maupun yang popular dari luar barat, atau produk kultur orang kolonial` yang awal dan akhir atau konstruksi jenis kelamin yang disebut feminim dan semua yang disebut maskulin atau seks orientasi seperti gay atau gaya etnis dari ras yang berarti atau hermeneutik artikulasi arti dan analisis materialis pada gaya produksi dan sirkulasi. Tidak hanya ini, tetapi banyak lagi (Bernheimer, 41-41) kamu mengira bahwa besok adalah hari lain, dengan materi baru untuk di periksa atau diteliti dan untuk ditumpuk.
    Sulit berkata dengan bagaimana kuatnya rasa perhatian-atau kecurigaan-suatu tekanan harus dihadapi: Perbaikan bisa terjadi dari beberapa kecemasan tentang kehilangan, kecongkakan intelek yang tidak bisa diakui, tapi ia juga merupakan satu tanda bahwa disiplin ikut sepenuhnya dalam dinamika percakapan kultur. Sastra bandingan membedakan semua yang dihadapi waktu. Tentu, meskipun etitisme dan eurosentris program sastra bandingan bukanlah tempat dimana kekiasan kelembagaan dipusatkan. Pemecah adalah initi-diciptakan atau konsolidasi. Sebagai sejarah poststruc-turalism, postkolonialisme, dan studi budaya menunjukkan, ide-ide di fakultas Amerika Utara seni harus benar dijinakkan, harus melalui saringan departemen bahasa Inggris sebelum mereka dapat bercita-cita untuk setiap ukuran keberhasilan akademis.
    Yang terjadi di tahun sembilan puluhan, adalah sejauh mana, dalam berbagai definisi erature menyala-komparatif, baik prinsip cakupan dan com-patibility unsur cakupan memerlukan, bahan sedimen banyak koreksi pada Sisanya, diambil untuk diberikan. Setiap item baru yang terpasang dengan agenda teoritis atau kritis yang memiliki dampak eksternal maupun ketegangan internalnya sendiri. Saat ini, keraguan tentang fokus dari studi sastra tradisional disuarakan oleh comparatists tercultural dalam satu atau dua dekade yang lalu yang serupa tetapi tidak persis sama dengan kritikus pasca-kolonialis. Relokasi teori ke
    provinsi comparatists perbandingan sejajar dengan antifoundationalists dari berbagai tempat institusi – tidak posisi kontroversial. Untuk bagian sendiri – untuk dilewatkan studi gender, yang actu-ality dan explosiveness, sebagai topik, tidak perlu tinggal di atas – bukaan “seni lain,” visual dan plastik, daun sastra komparatif di ambang pintu media dan studi budaya, dua kompetitor yang kuat kelembagaan dan intelektual.
    Schematized, strain yang pelebaran batas-batas sastra komparatif telah menyebabkan antara comparatists batang, aku akan serahkan, dari tarikan sentrifugal dari dua orientasi dasar.
    Francesco LORlGGIO mengajarkan Italia dan Perbandingan Litera-mendatang di Carleton University di Ottawa, Ontario. Dia telah menerbitkan sejumlah artikel tentang teori sastra, hubungan antara litera-mendatang dan disiplin lainnya, novel, dan berbagai penulis keduapuluh-cen tury. Nya terjemahan dari karya Achille Campanile
    , The Penemu Kuda dan Dua Lainnya Pendek Dimainkan, muncul pada tahun 1995. Dia adalah editor dari kumpulan esai Pluralisme Sosial dan Sejarah Sastra: The Sastra dari SI-Italia Emigra (datang).

    Questia Media America, Inc http://www.questia.com
    %% 20and% 20Literature http://www.questia.com/read/96466916?title=Comparative 20Genres% 20the% 20oF% 20Interdisciplinarity% 2c% 20in% 20World% 20Literature% 20Today, diakses tanggal 5 Juni 2010

    Publikasi Informasi: Pasal Judul: Sastra Perbandingan dan Genre dari Interdisciplinarity. Kontributor: Francesco Loriggio – penulis. Jurnal Judul: Sastra World Today. Volume: 69. Edisi: 2. Publikasi Tahun: 1995. Jumlah Halaman: 256.
    KESIMPULAN:
    Sastra perbandingan merupakan wilayah keilmuan sastra yang mempelajari keterkaitan antarsastra dan perbandingan sastra dengan bidang lain seperti kesenian (misalnya melukis, pahat, seni arsitek, musik), filosofi, sejarah, studi sosial (misalnya, politik, ekonomi, sosiologi), sains, agama.

    Thomas K. Hubbard, The Pipes of Pan: Intertextuality and Literary Filiation from Theocritus to Milton .
    Ann Arbor: University of Michigan Press, 1998. Ann Arbor: University of Michigan Press,1998.
    x + 390 pp. ISBN 0472108557. x + 390 hlm. ISBN 0472108557.
    Volume 2, Number 1 (Summer 2000)

    Reviewed by Christopher M. Kuipers
    University of California, Irvine

    Hubbard’s is the second major book on literary pastoral in this decade; the other, Paul Alpers’s What Is Pastoral? (Chicago, 1996). Both start from the argument that pastoral, when considered over its long literary history, must be narrowed down and should not be considered as something whose primary role is the setting of some idealized world. The “questions of genre definition and social function have their own interest,” says Hubbard, but “the present study assumes pastoral as ‘convention’ rather than as ‘theme,’ as a tradition more than as a definable genre” (4-5). Compare Alpers, invoking Kenneth Burke: “we will have a far truer idea of pastoral if we take its representative anecdote to be herdsmen and their lives, rather than landscape and idealized nature” (22). While Alpers takes the tradition all the way from Theocritus to Frost and other twentieth-century writers, he skips almost straight from Vergil to Spenser. Hubbard reads fewer figures, but reads them much more closely, and pays some attention to the most neglected part of the tradition–what happened after Theocritus and Vergil (Hubbard’s chapters 1 and 2, respectively) but before the Renaissance (chapter 5): the pastoral of late antiquity (chapter 3) and medieval pastoral (chapter 4). However, Vergil and the Renaissance are Hubbard’s largest concerns, because here the strands of literary filiation are at their most tangled and thus most interesting. The general argument, however, is that the strands are always there, even in the “weaker” examples of the pastoral tradition. This distinctive classicism drives Hubbard’s successes, and his shortcomings.

    The introduction reviews the literature of theory behind the subtitle. All the usual theoretical suspects of intertextuality are cited–Bakhtin, Kristeva, Derrida, Gérard Genette, Laurent Jenny. Though swift, the review is nonetheless historically correct and characteristically lucid. “Filiation” here refers to a subset of intertextuality, the poetic revisionism of Harold Bloom: the Oedipal agon of the “anxiety of influence” where one poet/ephebe/ filius battles with an elder poet/father. Hubbard prefers the latter model of intertextuality, but with an inflection that owes far more to the reception theory of Wolfgang Iser than to Bloom’s misprision-as-misreading. For Hubbard does not portray the author as an anxious heir engaged in an unconscious battle with an ancestor, but as an especially expert reader who is responding to one particular, carefully-read predecessor: “authorial intent is certainly not irrelevant What is needed for a fuller understanding of allusion in poetry is thus a symbiotic union of intertextual theory with reader-response criticism” (15). Indeed, taken to the pastoral tradition, this focus on the author as readerly (Iser, not Barthes) helps to explain why pastoral has so frequently been taken up as a way to begin a career, namely by referring it to careers of authors past, when they too began with pastoral. This strand of Hubbard’s argument locates what Iser calls “the repertoire”: “[t]he history of the pastoral intertext thus forms a narrative of successive appropriations and modulations in which poets not only demonstrate virtuosity by recombining traditional topoi and dramatic situations into a new format but also position themselves relative to the past and/or the future of poetry” (349)

    However, all this is really “intertextuality lite.” As often seems to be the case when the field of classics enlists contemporary literary and critical concepts, the theory appears as another “authority” without any attempt to challenge or otherwise stretch the theoretical frame, or to gauge the relative resistances of the ancient text versus the modern theory. Consequently, Hubbard is very far from an application that is in any way “strict” regarding either his titular Kristevan intertextuality or Bloomian influence. Kristeva argues that subjects are completely swallowed up by intertextuality, and in fact there is practically nothing “out there” except intertextuality, or “wall-to-wall” textuality. Bloom has stated (being very true to Freud) that misreading can be entirely unconscious–that there is no need for the ephebe to have actually read the predecessor!–and that “influence” may in fact work entirely against the grain of any linear literary history: Bloom even discusses the uncanny appearance of the ephebe’s voice within the predecessor’s text. For Hubbard, however, these are mainly theoretical niceties; there is no systematic attempt, for example, to apply Bloom’s six “revisionary ratios,” and Bloom is hardly mentioned once the criticism proper begins. Bloom’s anxiety of influence, Hubbard suggests, may only really occur after Milton, the study’s endpoint, and up to him there is a more generalized “anxiety of originality” (the revision of Thomas M. Greene, The Light in Troy ). Nevertheless, Hubbard’s idea of intertextuality as applied, even if “soft,” “intentional,” and Iserian, results in an entirely convincing and enlightening explication of something still interesting: the systematic nature of an author’s allusions, with all the complexity and seriousness of any kind of play. The theory of intertextuality is really window-dressing, but the window that Hubbard opens has a view rarely seen: Hubbard’s best misprision is not of twentieth-century literary theory, but of the nineteenth-century commentary tradition–Hubbard is not content, as commentaries in the classical field still operate, with noting the most obvious allusion. Instead, Hubbard notes how allusions are often multiple and calculated, involving strings of prior texts; thus they must not only be noted but analyzed in depth, not in the context of just one work by one author (as commentaries typically limit themselves) but in the full intertextual field of all those works. When The Pipes of Pan comes up short, it is in failing to maintain this daunting project for all the authors Hubbard considers.

    In chapter 1, Hubbard compares Vergil and Theocritus, invoking the anecdote that has opened so many studies of pastoral, one which is perfect for a Bloomian approach: Theocritus invented pastoral, the story goes, and Vergil perfected it. Though Theocritus certainly did not invent his Idylls from scratch, there is only thin evidence from those specific Alexandrian predecessors that he might himself be revising. Nevertheless, if there is a basic defect with the revisionary model, it is revealed here in Hubbard’s reading of Theocritus–the predecessor never comes off very well, and Theocritus moreover has to bear, from the Bloomian perspective, the gigantic weight of all the pastoral that was to come later. As in Alpers’s What Is Pastoral? , Vergil triumphs decisively over his pastoral father: this “strong” preference for Vergil over Theocritus thus plays out from the beginning of both the literary and critical traditions of pastoral (already, Julius Scaliger devotes a chapter of his Poetics to suffering, as it were, Theocritus in comparison to Vergil). Of course, Hubbard himself confesses that his book may be governed by a “revision” against his teacher Thomas J. Rosenmeyer, whose well-known Green Cabinet is one of the only attempts to exalt Theocritus to the disqualification of everyone who came after (the other most useful critics who argue that Theocritus is indeed unique are David Halperin in Before Theocritus and Kathryn J. Gutzwiller in Theocritus’s Pastoral Analogies ). On the other hand, Hubbard’s reading of Vergil’s reading of Theocritus manages to uncover a wide range of insights in this otherwise well-traversed topic. While Theocritus positions himself as doing something clever with the old epic material, Vergil turns things completely around by using pastoral to direct his own career toward the epic achievement that Theocritus never attained, or even contemplated, since he seems to have been on Callimachus’s side against the post-epic project of Apollonius. Hubbard also considers the intermediary step of the anonymous Lament for Bion as a second, “weaker” and less Vergilian way: in this poem there is an expression of inadequacy, rather than triumph, in the face of tradition, in part a function, Hubbard has found, of temporal and linguistic proximity. It’s easier to revise from a distance.

    Chapter 2 examines Vergil’s Eclogues as the Eclogue Book, an entire intertext unto itself. This chapter is a tour de force, the best of The Pipes of Pan , since in it Hubbard performs what he finds in Vergil: a masterful overcoming and outstripping of a tangled tradition–namely, the huge body of existing criticism on the Eclogues . Hubbard’s reading proceeds straight through the Eclogue Book, avoiding for the present the more “obvious” pairings of Eclogues that have already been discussed ad nauseam (1 and 9; 2 and 8; 3 and 7; 4 and 6; 5 and 10). Instead, Hubbard links the Eclogues as three successive triads with a coda: Eclogues 1-3 follow Theocritus most closely and humbly; Eclogues 4-6 explore more ambitious models, such as the elegy and the epyllion; Eclogues 7-9 begin to demonstrate full mastery, to the point of modeling for other poets; and Eclogue 10 encapsulates all three movements, with a farewell and a final twinge of doubt. Hubbard’s revolution lies in reading Vergil’s collection as a recapitulation of a cycle of development, shaped as the poet would have it. Consequently, Hubbard dispenses with what would really interest a Freudian like Bloom: the actual order of composition of the Eclogues , a progress which might reveal an unconscious and less controlled dynamic at work. Hubbard’s Iserian endeavor is much more defensible, since the order as received is indeed the way Vergil intended. It is certainly different from the order of composition, whatever that order might have been, for (as in so many bibliographical questions of authorship in the classical period) there is little agreement on the compositional sequence. Hubbard is aware of pastoral’s importance for Iser, who begins The Act of Reading with Spenser’s Shepheardes Calendar , but is apparently not aware of Iser’s more recent, radical claim in The Fictive and the Imaginary that pastoral, at least in the Renaissance, is primarily about the reception process, which is what Hubbard is suggesting for the classical era. Thus one of Hubbard’s more important points is that Vergil’s revisions aim not just at the Greek tradition, and at nearer Roman contemporaries, most famously Gallus, but also importantly at Catullus as well as the other Roman love elegists, whose influence on the Eclogues –precisely because of the antagonistic relation–has been underestimated.

    One of Hubbard’s tactics, however, which is borrowed backwards from the Renaissance, does give some pause: he relies heavily on the standard suite of pastoral names to demonstrate the dynamics of Vergil’s revisionary progress (eg, from the Corydon in Eclogue 2 as a frustrated poet to the Corydon in Eclogue 7 as a successful one). This amounts to an overreading for two reasons. First, the allegorical, cross-collection identification of “one shepherd = one persona” is not a reliable equation until after the Middle Ages, even though it may already occur within such earlier individual poems as the seventh Idyll , where Theocritus does seem to appear in the guise of one of his shepherds. Second, not all pastoral names are repeated. Not only are there a good number of singleton proper names in the Eclogue Book, but repeated names may be intended not as intertexts but “antitexts” referring to very different personas: has Corydon really changed by Eclogue 7, or is he just a different Corydon? Either way there are few salient details of characterization. In this context, the possibilities of Judith Haber’s Pastoral and the Poetics of Self-Contradiction: Theocritus to Marvell (Cambridge, 1994; not cited by Hubbard) come to mind: that the tradition of anti-pastoral may be engaged on a highly self-conscious level by individual authors. Hubbard’s larger point is well-taken indeed–Vergil has certainly shaped his collection into a paradigm of artistic development–but making the pastoral names assume the burden of mapping this development diminishes this artistry. The famous Tityrus and Meliboeus of Eclogue 1 are a case in point. Commentators from Servius on down have always taken Tityrus to represent the poet: “Tityrus” is the first word of the poem; the picture of this shepherd, singing at his restored ease, remains one of the great anecdotes of poetic inspiration. The point of Eclogue 1, however, is not to argue for poetry as a home in contrast to the exile of Meliboeus, but to keep both perspectives in near-perfect opposition. Vergil, then, inhabits the voices of both Tityrus and Meliboeus–just as any author must inhabit all of his or her characters. If anything, Meliboeus comes out the “winner” in the reader’s sympathies, and this name, in appropriately revisionary fashion, is not found, as Tityrus is, in the Theocritean canon of shepherd names. Thus when Vergil closes the Georgics by repeating Eclogue 1.1 with the change “ I sang you , Tityrus,” this seems best read not as “I sang as you, Tityrus” but “I sang of you (as Meliboeus).” If Eclogue 9 develops a cynical contrast to the general optimism of Eclogue 1, and both belong to the same Vergil, certainly Vergil can inhabit both of Eclogue 1’s shepherds, both the younger Meliboeus and the older Tityrus. Hubbard certainly agrees with all of the above, but is not willing to take the further step that the next Tityrus and Meliboeus to appear in the Eclogues can be yet other personas, which is the more credible explanation for some of the extreme disjunctures in the characterization of Vergil’s shepherds, when there is any characterization at all.

    After the excellent long exposition of Vergil, the remaining chapters (like so much of pastoral poetry itself after Vergil) gradually become more and more disappointing. In Chapter 3, Hubbard explores the often neglected pastorals of Late Antiquity: the Einsiedeln Eclogues , the Eclogues of Calpurnius Siculus, and the Eclogues of Nemesianus. Hubbard considers the sequence intertextually regarding both Vergil and other predecessors in the sequence. Over their literary history, Hubbard finds, the collections slowly move out of Vergil’s debilitating shadow: the fragmentary Neronian Einsiedeln Eclogues cannot get past Vergil at all; Calpurnius (dated later than traditionally, to the third century) is more ambitious but still cannot fully overcome the Vergilian model; but Nemesianus defuses Vergil by diffusing him, playing him off against Theocritus, Calpurnius, and others, though the result has the flavor of Bloomian “weakness.” Hubbard has here supplied a contrast to the grimmer, backward-looking “strong poetry”: some poets focus less on the one strong predecessor and concentrate on an optimistic eclecticism in their misprisions, as a forward-looking model for future poets.

    Chapter 4, which is relatively brief, examines a few medieval examples of pastoral. Since Hubbard is primarily interested in collections of poems that are authored in conscious relation to the whole of the pastoral tradition, he jumps quickly (after a short consideration of the ninth-century Eclogues of Modoin of Autun) to the late medieval period, where the author, along with the appropriate awareness of classical texts, reappears with a vengeance. By the time pastoral reaches Dante, who wittily uses it in his verse letter to Giovanni del Virgilio as a Vergilian recusatio (the artful “refusal” to write a longer poem), pastoral has been fully overlaid with the enamels of allegory and satire, whether Christian, political, or just plain literary. Hubbard could make much more here of Dante’s use of Latin to refuse to write a Latin epic when he prefers an Italian one; two of the most strategic battles of the Ancients and the Moderns are over language and pastoral. Still in Latin, Petrarch and Boccaccio (considered as medieval) each write a collection of poems entitled Carmen Bucolicum , and reenact the sequence of Late Antiquity: Petrarch (like Calpurnius) is more Ancient, Boccaccio (like Nemesianus) more Modern, but both just as strong and eager for themselves to be subjects of interpretation and models for later poets.

    Chapter 5, on the Renaissance, continues the consideration of the early Italian reappropriations of pastoral, moving to the fifteenth century. The four Eclogues of Giovanni Pontano, sent to the printer soon before this writer and statesman’s death, provide an excellent example of Hubbard’s pastoral-as-curriculum-vita, in this case retrospective rather than predictive. At last, Pontano’s younger contemporary Sannazaro begins writing pastoral in the vernacular: the Arcadia directly approaches a full-scale native epic (or romance). The Adulescentia of Mantuan (Baptista Spagnuoli) return to Latin, and this, along with Mantuan’s theme of coming of age, made Adulescentia a standard school text (known for example to Shakespeare).

    At this point Hubbard jumps to the English pastoral tradition as represented by Spenser and Milton. Here, where the texts in question have been exhaustively criticized, there is little that is new and much that is missing. Certainly, as Hubbard finds, The Shepheardes Calender is just as overdetermined yet just as original as Vergil’s Eclogue Book. There is indeed the Vergilian, progressive account of the career in the twelve monthly “Aeglogues,” and like the enclosed commentary of “SK” (probably, as Hubbard takes it, Spenser himself), it reflects all of an author’s anxiety over the blind alleys of reception. Hubbard has little time to discuss the deep vernacular legacy of Chaucer, or (as Iser indicates) the overriding importance of the contemporary political situation. Although Hubbard spends nearly 50 pages on Spenser, about 100 are needed, or the same amount of space Hubbard devotes to Vergil. The greatest lack of all, here, is the tremendous intertext of all of the rest of Spenser’s literary production: the Spenserian corpus, all the way to the end, is shot through and through with resonances and recapitulations of pastoral. Thus Hubbard does not note, as he usefully could, that Spenser, though he had already finished a number of his other shorter works and had already begun The Faerie Queene , deliberately had The Shepheardes Calender published first.

    This gap does not appear when Hubbard next turns to Milton: Lycidas , along with the Epitaphium Damonis of two years later, is considered as a part of Milton’s 1645 collection of Poems . But again Hubbard is defeated, since the larger point of Lycidas is that it recapitulates in a single poem all earlier pastoral collections , whose various stepped progressions have proven so useful for Hubbard. Certainly Lycidas may perform the same sort of progression, but Hubbard is not equal to the profound wealth of intertextuality in Milton’s poem. In discussing for example the famous opening lines (“Yet once more, O ye Laurels, and once more / Ye Myrtles brown, with Ivy never sere”), Hubbard prefers a far-fetched parallel with Eclogue 7.61-64 to the much more obvious allusion to Eclogue 2.54. Focusing on the “Yet once more,” Hubbard cites the well-noted allusion to Hebrews 12:25, but misses that Milton can be just as well referring to himself; two of his prior poems have mentioned the laurel, and one the myrtle, so these are the third, second, and first times around, respectively, for the three plants. Such self-allusion is certainly appropriate for Milton. Hubbard would have profited from J. Martin Evan’s developmentally-oriented monograph The Road from Horton ( English Literary Studies , 1983), which carefully explicates both the intertextuality and the internal structuring of Lycidas .

    Hubbard’s larger point about Milton certainly does stand: Milton, writing at a time when pastoral was nearly moribund, revivified it so stunningly that he effectively killed it for all later comers; thus he may be personally responsible for the anxiety of influence. To reiterate, then, Hubbard has really revised Harold Bloom’s revisionism, in particular the Freudian “family romance” at its core. If anything, Hubbard has found that influence in the pastoral tradition from the classical to early modern periods is really like an extended, not a nuclear, family. Given that so much of the intertextuality that Hubbard discusses involves multiple allusions, there is much room for what more recent psychologists have called “family systems theory,” where personal interactions are rarely dyadic, but tend inevitably to triangulate. “Familiation” might replace “filiation” here, since Hubbard has demonstrated that pastoral interactions are as often intragenerational as intergenerational.

    “Filiation” also contains a Bloomian legacy that, like Alpers’s “herdsmen and their lives,” needs another kind of revision. The sexist incarnation of Bloom’s poet, and most of all the critic, leads to a significant misprision of the pastoral tradition. Certainly classical and later pastoral have been dominated by male poets, but it is easy to underestimate the contribution of, say, the Arcadian Anyte, whose highly original epigrams precede and may have influenced Theocritus; in any case she has the same project of rereading Homer “down to size.” Besides the need to revise pastoral “fatherhood” to “parenthood,” one should also examine the “anti-family” way of transmission: foundlings, runaways, mutations, miscegenation. There is, for example, no room in a Bloomian literary history of pastoral for the rapes of the medieval pastourelle . In emphasizing the points of transmission (such as male shepherd names) that appear highly conscious and deliberate, Hubbard misses the tiny ova of the Vergilian heritage that grow out of all proportion to Vergil’s intentions, of which the unexpected popularity of the “Messianic” Eclogue 4 is only the most obvious example. Another is the forward naiad Aegle in Eclogue 6, whose brief cameo is the sole female appearance in the Eclogue Book and the only Vergilian model for all later shepherdesses and nymphs of pastoral drama and romance, traditions that remain excluded by Hubbard’s genealogy–the phallic pipes of Pan are passed down only from man to man. (Hubbard does, however, note the homoerotic dimension of this translation, though it is still far from anything like a queer pastoral, which is another possibility.) This is to say that traditions, and the pastoral tradition is one of the better examples, have a way of meandering, looping back, and subverting themselves which Hubbard’s linear archeology–that enduring anecdote of classical studies–does not comprehend.

    It might be better to say “geology,” since even archeologists must occasionally confront deliberate gaps and omissions in the strata of cultural sedimentation. A significant consequence of the geological method is the exaltation of time at the cost of place: here on a mountaintop appear fossils from a seabed; here on the desert floor once stood a lush rain forest. In another recent book on pastoral entitled Pastoral Process: Spenser, Marvell, Milton (Stanford, 1998), a far slenderer but far more theoretically groundbreaking book than Hubbard’s, Susan Snyder has argued that there are really two kinds of pastoral, following the phenomenological division of place and time: the pastoral of place, as of Arcadia or the “pastoral retreat,” and the pastoral of time, or the “(lost) Golden Age.” Like Hubbard, Snyder is interested in the latter, specifically in the way in which poets utilize the pastoral of time in charting their own temporal development. But by indicating an alternative to temporocentrism, one, if not the, dominant mode of modern Western thought, Snyder opens the possibility for a renewed attention to place in pastoral and, more broadly, in literature.

    In fact, the environmental perspective on literature, also known as ecocriticism, has arisen with the claim that it is ultimately inspired by Greco-Roman pastoral, though its formal analyses have admittedly been limited thus far to English Romanticism and American nature writers. This classical linkage is stated for example in Don Scheese’s Nature Writing: The Pastoral Impulse in America (New York, 1996; see also the special forum in the October 1999 issue of PMLA , as well as in Terry Gifford’s Pastoral , recently published in Routledge’s New Critical Idiom Series). What Hubbard and even more so Alpers have thus elided is the importance in pastoral of landscape and nature, which may be pastoral’s most common denominator. Consequently in Hubbard’s readings, there is little emphasis laid on the decided (re)localization of many allusions: even when Vergil is citing Theocritus, the plants are Italian varieties, not Greek ones. It may finally be time to correct Bruno Snell’s excessive thesis that Arcadia was “discovered,” as a strictly imaginary place, by Vergil in Eclogue 10. Even leaving out Anyte in this geography, Arcadia already must be the site of Theocritus’s first Idyll (since Pan is said to be resting nearby). Moreover, Vergil’s invocation of Arethusa at the beginning of Eclogue 10 is an anecdote of the literary liquidity of places as a “real,” not imaginary phenomenon: Arethusa of Arcadia was pursued by Alpheus, transformed into a river, and emerged as a spring near Sicily’s Syracuse. Vergil specifies that the Arethusan spring was still fresh: it was unsalted in its journey under the sea. Thus pastoral’s places can travel, untouched by intervening time, and this invariability of place helps to explain the persistent appeal of pastoral to both authors and readers across the periods of literature. It is crucial to return by circling back to pastoral place, now that the linearity of pastoral time has been so clearly ruled by Hubbard.

    As a final note, on the occasion of this review of a book that involves literary theory, I will add a few words about the general relationship between the field of classics and recent theory. (There is one, of course, as testified by Hubbard, as well as the balanced article on “literary theory and classical studies” in the third, 1996 edition of The Oxford Classical Dictionary .) As I have tried to show here with The Pipes of Pan , the dissemination of “theory” into other fields works by a process of selection and recombination. Thus Hubbard chooses Bloom’s idea of anxiety out of various strands of intertextuality, but tempers the concept with Iser’s reception theory, which entails a completely different conceptual framework. As in any process of translation, there are traitorous turnings. Terms start to slip, or are stretched to fit: “anxiety” becomes a conscious rather than an unconscious phenomenon; Iser is referred to as “reader response,” when “reception theory” or “reception aesthetics” is more proper (since we are speaking about an approach far closer to Hans Robert Jauss than to David Bleich or Norman Holland); and “filiation” is thought to be coined to distinguish the Bloomian kind of intertextuality, when it could be said to belong to a completely different school again–the postcolonial thought of Edward Said. In Beginnings: Intention and Method (Basic Books, 1975, and especially in the preface to the 1985 Morningside/Columbia University Press edition), Said emphasizes the difference between what he terms filiation , the ineluctable, biological kind of inheritance, and affiliation , one’s willful association with preferred cultural groups, or chosen “relatives.” After all, the latter, and not filiation (or my “familiation”), is really what Hubbard has found operating in his readings of authors who work across so many linguistic and national boundaries. In the field of classics, which is otherwise known for its archeological precision regarding literature (eg, metrical forms), such looseness of terminology is unfortunate. On the other hand, classics has bequeathed to the wider literary field the very philological tradition of minute and polyglot reading that has illuminated so much of the theoretical enterprise. Could this inheritance be recovered and passed on once again? One would never guess this traffic between classics and theory had ever taken place, to judge from today’s typical graduate classics curriculum. Burdened by multiple comprehensive exams (as many as ten!) before advancing to candidacy, a doctoral student in classics is still asked to demonstrate the traditional, narrowly archeological competencies in languages, literatures, and history. Unchanged, such priorities ensure that classics will remain in the position of fitting the theory to its literature. Changed, classicists might be no longer the mongers of old theory, but again the makers of new.

    URL: hubbardreview.html; Last updated: Summer, 2000; mail to: Complitreview@brynmawr.edu
    Sumber: http://www.bcla.org/bclalink.htm, diakses 5 Juni 2010-06-15

    TERJEMAHAN:
    Thomas K. Hubbard, The Pipa Pan: intertekstualitas dan Sastra keturunan dari Theocritus ke Milton.
    Volume 2, Nomor 1 (Summer 2000)

    Diulas oleh Christopher M. Kuipers
    University of California, Irvine
    Hubbard adalah buku besar kedua pada pastoral sastra pada dasawarsa ini, yang lain, Alpers’s Apa Paul Apakah Pastoral? (Chicago, 1996),. Baik mulai dari argumen yang pastoral, bila dianggap sastra yang panjang selama sejarah harus dipersempit dan harus tidak dianggap sebagai sesuatu yang utama adalah peran pengaturan dari beberapa dunia ideal. The “pertanyaan-pertanyaan tentang definisi genre dan fungsi sosial memiliki minat mereka sendiri,” kata Hubbard, tapi “penelitian ini. . . mengasumsikan pastoral sebagai ‘konvensi’ daripada sebagai ‘tema,’ sebagai tradisi lebih dari sebagai genre didefinisikan “(4-5). Bandingkan Alpers, invoking Kenneth Burke:” kita akan memiliki gagasan jauh lebih benar pastoral jika kita mengambil nya anekdot perwakilan menjadi gembala dan kehidupan mereka, bukannya lansekap dan alam ideal “(22). Sementara Alpers mengambil tradisi-jauh dari Theocritus untuk Frost dan penulis abad kedua puluh yang lain, ia melewatkan hampir lurus dari Vergil ke Spenser. Hubbard kali dibaca angka lebih sedikit, tetapi mereka banyak membaca lebih dekat, dan membayar perhatian ke bagian yang paling diabaikan dari tradisi – apa yang terjadi setelah Theocritus dan Vergil (‘s Hubbard bab 1 dan 2, masing-masing), tetapi sebelum Renaissance (bab 5): surat pastoral dari zaman akhir (Bab 3) dan abad pertengahan pastoral (bab 4). Namun, Vergil dan Renaissance adalah terbesar keprihatinan Hubbard, karena di sini untai keturunan sastra berada pada mereka yang paling kusut dan dengan demikian paling menarik,. umum Argumen bagaimanapun, adalah bahwa untai selalu ada, bahkan di “lemah” contoh-contoh dari tradisi pastoral. klasisisme khas ini drive’s kesuksesan Hubbard, dan kekurangannya.
    Pendahuluan tinjauan literatur teori di balik subjudul cepat. Semua teoritis biasa, tersangka intertekstualitas dikutip – Bakhtin, Kristeva, Derrida, Gérard Genette, Laurent Jenny. Meskipun, tinjauan historis ini tetap benar dan karakteristik jernih. “keturunan” di sini merujuk pada subset dari intertekstualitas, dengan revisionisme puitis Harold Bloom: dengan agon oedipal dari kecemasan “pengaruh” di mana satu penyair / ephebe / pertempuran filius dengan penyair tua / ayah. Hubbard lebih suka model terakhir dari intertekstualitas, tetapi dengan sebuah infleksi yang berhutang jauh lebih ke teori penerimaan Wolfgang Iser daripada misprision-‘s Bloom-salah membaca sebagai,. Untuk Hubbard tidak mengambarkan penulis sebagai cemas ahli waris yang bergerak di bawah sadar pertempuran yang dengan nenek moyang tetapi sebagai seorang ahli pembaca terutama yang menanggapi satu tertentu, hati-hati membaca pendahulunya: “niat pengarang tentu tidak relevan. . . . . adalah. Apa yang dibutuhkan untuk pemahaman yang lebih lengkap dari kiasan dalam puisi sehingga kesatuan simbiosis teori intertekstual dengan kritik-respon pembaca “(15). Memang, dibawa ke tradisi pastoral, ini fokus pada penulis sebagai readerly (Iser, tidak Barthes ) membantu menjelaskan mengapa pastoral telah begitu sering diambil atas sebagai cara untuk memulai karir, yaitu dengan mengacu kepada karir para penulis masa lalu, ketika mereka juga mulai dengan pastoral. ini untai Argumen Hubbard menempatkan apa Iser panggilan “repertoar itu” : “[t] ia sejarah intertext pastoral sehingga membentuk sebuah narasi dari alokasi berurutan dan modulasi di mana penyair tidak hanya menunjukkan keahlian dengan mengkombinasikan topoi tradisional dan situasi dramatis menjadi sebuah format baru, tetapi juga memposisikan diri relatif terhadap masa lalu dan / atau masa depan puisi “(349).
    Namun, semua ini benar-benar “lite intertekstualitas frame.” Seperti yang sering tampaknya kasus ketika bidang klasik kontemporer yang kritis dan enlists konsep sastra, teori muncul sebagai “kewenangan lain” tanpa ada upaya untuk menantang atau peregangan teoritis, atau untuk mengukur resistensi relatif dari teks kuno versus teori modern. Oleh karena itu, Hubbard sangat jauh dari aplikasi yang ada di dalam cara apa pun “ketat” tentang intertekstualitas baik tituler Kristevan nya atau pengaruh Bloomian. Kristeva berpendapat bahwa mata pelajaran benar-benar ditelan oleh intertekstualitas, dan sebenarnya ada praktis tidak ada “di luar sana” kecuali intertekstualitas, atau “dinding ke dinding” tekstualitas. Bloom telah menyatakan (yang sangat benar untuk Freud) yang salah baca dapat sepenuhnya sadar – bahwa ada tidak perlu untuk ephebe untuk yang benar-benar membaca pendahulunya dan! – bahwa “pengaruh” mungkin dalam pekerjaan sebenarnya merupakan terhadap butir dari setiap sejarah sastra linear: Bloom bahkan membahas penampilan luar biasa dari ephebe suara di dalam pendahulunya itu teks. Untuk Hubbard, namun ini terutama sopan santun; teoritis tidak ada sistematis, upaya misalnya, untuk menerapkan Bloom enam “‘s revisionary, rasio” dan Bloom hampir tidak disebutkan sekali yang tepat kritik dimulai. kegelisahan Bloom, pengaruh, Hubbard menyarankan, hanya dapat benar-benar terjadi setelah Milton , penelitian ini titik akhir, dan terserah dia ada “kecemasan umum lebih dari orisinalitas” (revisi dari Thomas M. Greene, Cahaya di Troy). Meskipun demikian, gagasan Hubbard dari intertekstualitas sebagai diterapkan, bahkan jika “lunak,” ” disengaja, “dan Iserian, hasil dalam meyakinkan dan mencerahkan penjelasan sama sekali dari sesuatu yang masih menarik: sifat sistematis dari penulis sindiran, dengan semua kompleksitas dan keseriusan segala bentuk bermain. Teori intertekstualitas adalah benar-benar barang pajangan, tapi jendela yang terbuka Hubbard memiliki pandangan yang jarang terlihat: misprision terbaik Hubbard bukan teori sastra abad kedua puluh, tapi dari tradisi-abad kesembilan belas komentar – Hubbard tidak puas, sebagai komentar dalam bidang klasik masih beroperasi, dengan mencatat paling jelas kiasan. Sebaliknya, Hubbard mencatat bagaimana sindiran sering berganda dan dihitung, melibatkan string teks sebelumnya; sehingga mereka tidak hanya harus diperhatikan tetapi dianalisis secara mendalam, bukan dalam konteks hanya satu karya oleh satu penulis (sebagai komentar biasanya batas sendiri) tetapi di bidang intertekstual penuh dari semua karya-karya. Ketika The Pipa Pan muncul pendek, itu adalah gagal untuk mempertahankan proyek ini menakutkan bagi semua penulis menganggap Hubbard.
    Dalam bab 1, Hubbard membandingkan Vergil dan Theocritus, menyerukan anekdot yang telah membuka begitu banyak penelitian dari pastoral, salah satu yang sangat cocok untuk pendekatan Bloomian: Theocritus menemukan pastoral, menurut cerita, dan Vergil menyempurnakannya. Meskipun Theocritus tentu tidak menciptakan Idylls nya dari awal, ada bukti tipis hanya dari orang-orang pendahulu Aleksandria spesifik bahwa ia mungkin dirinya akan merevisi,. Namun demikian jika ada cacat dasar dengan model revisionary, ia mengungkapkan di sini, di sedang membaca Hubbard dari Theocritus – pendahulunya tidak pernah datang off sangat baik, dan Theocritus apalagi harus menanggung, dari perspektif Bloomian, berat raksasa dari semua pastoral yang datang kemudian. Seperti dalam Alpers’s Apa Pastoral?, Vergil kemenangan meyakinkan atas ayah pastoralnya: ini “kuat” preferensi untuk Vergil lebih Theocritus sehingga memutar keluar dari awal baik dan kritis tradisi sastra pastoral (sudah, Julius Scaliger mencurahkan satu bab-nya Poetics penderitaan, seakan-akan, Theocritus dibandingkan dengan Vergil). Tentu saja, Hubbard sendiri mengaku bahwa bukunya dapat diatur oleh revisi “” melawan gurunya Thomas J. Rosenmeyer, yang dikenal Green Kabinet adalah salah satu upaya hanya untuk meninggikan Theocritus ke diskualifikasi dari semua orang yang datang sesudah (yang paling berguna kritikus lain yang berpendapat bahwa Theocritus memang unik David Halperin di Sebelum Theocritus dan Kathryn J. Gutzwiller di Theocritus Pastoral Analogi). Di sisi lain, yang membaca Hubbard dari yang membaca Vergil dari Theocritus berhasil mengungkap berbagai pandangan dalam hal ini dengan baik-melintasi topik yang lain. Sementara Theocritus posisi dirinya sebagai melakukan sesuatu yang cerdas dengan bahan epik lama, Vergil ternyata hal-hal sepenuhnya sekitar dengan menggunakan pastoral untuk langsung kariernya sendiri terhadap prestasi epik yang Theocritus tidak pernah tercapai, atau bahkan direnungkan, karena ia tampaknya telah di dari sisi Callimachus terhadap-epik proyek pos Apollonius. Hubbard juga mempertimbangkan langkah perantara anonim ratapan untuk Bion sebagai kedua, “lemah” dan cara Vergilian kurang: dalam puisi ini ada ekspresi tidak mampu, bukan kemenangan, dalam menghadapi tradisi, sebagian fungsi, Hubbard telah ditemukan, dari temporal dan bahasa lokal. Lebih mudah untuk merevisi dari kejauhan.
    Bab 2 memeriksa’s Eclogues Vergil sebagai Buku Eclogue, seorang kepada intertext seluruh sendiri. Bab ini adalah tur de gaya, yang terbaik dari The Pipa Pan, karena di dalamnya Hubbard melakukan apa yang dia temukan di Vergil: sebuah mengatasi ahli dan melebihi dari kusut tradisi – yaitu, tubuh besar kritik yang ada pada Eclogues lurus Hubbard membaca. berlangsung melalui Kitab Eclogue, menghindari untuk saat ini yang “lebih jelas” pasangan dari Eclogues yang telah dibahas memuakkan (1 dan 9; 2 dan 8; 3 dan 7; 4 dan 6, 5 dan 10). Sebaliknya, Hubbard menghubungkan Eclogues sebagai tiga triad berturut-turut dengan sebuah koda: Eclogues Theocritus 1-3 mengikuti yang paling dekat dan rendah hati; Eclogues 4-6 mengeksplorasi model yang lebih ambisius, seperti elegi dan epyllion itu; Eclogues 7-9 mulai menunjukkan penguasaan penuh, sampai titik pemodelan untuk penyair lainnya; dan Eclogue 10 merangkum ketiga gerakan, dengan perpisahan dan akhir sengatan keraguan terletak Hubbard. revolusi dalam membaca koleksi Vergil sebagai rekapitulasi dari siklus pembangunan, berbentuk sebagai penyair akan memilikinya. Akibatnya, Hubbard membagi-bagikan dengan apa yang benar-benar akan minat Freudian seperti Bloom: urutan sebenarnya komposisi Eclogues, sebuah kemajuan yang akan mengungkapkan suatu sadar dan dinamis dikontrol kurang kerja’s Iserian Hubbard. upaya jauh lebih dipertahankan, karena urutan sebagai diterima memang cara Vergil dimaksudkan. Hal ini tentu berbeda dari urutan komposisi, apa pun bahwa perintah yang mungkin terjadi, untuk (seperti di banyak bibliografi pertanyaan kepenulisan di periode klasik) ada kesepakatan kecil di urutan komposisi. Hubbard menyadari’s pentingnya pastoral untuk Iser, yang mulai Act of Reading dengan Spenser’s Shepheardes Kalender, tetapi tampaknya tidak sadar baru-baru ini, Iser radikal klaim lebih The fiktif dan Imajiner yang pastoral, setidaknya di Renaissance, terutama mengenai proses penerimaan, apa yang Hubbard mengisyaratkan untuk era klasik. Jadi salah satu lebih penting poin Hubbard adalah yang revisi Vergil bertujuan tidak hanya pada tradisi Yunani , dan di dekat sezaman Romawi, yang paling terkenal Gallus, tetapi juga penting di Catullus serta Romawi lainnya elegists cinta, yang pengaruhnya pada Eclogues – justru karena hubungan antagonistik – telah diremehkan.
    Salah satu taktik Hubbard, Namun, yang dipinjam mundur dari Renaissance, tidak memberikan jeda beberapa: dia sangat bergantung pada paket standar nama pastoral untuk menunjukkan dinamika revisionary kemajuan’s Vergil (misalnya, dari Corydon di Eclogue 2 sebagai frustrasi penyair ke Corydon di Eclogue 7 sebagai a). ini jumlah sukses satu ke overreading karena dua alasan,. Pertama, alegoris lintas identifikasi koleksi “satu gembala = satu persona” bukan persamaan yang dapat diandalkan sampai Abad Pertengahan, meskipun mungkin sudah terjadi dalam individu seperti puisi sebelumnya sebagai syair yg menggambarkan keindahan alam ketujuh, di mana Theocritus sepertinya muncul dalam samaran dari salah satu gembala nya,. Kedua tidak semua nama pastoral yang berulang. Tidak hanya terdapat baik jumlah tunggal yang tepat nama-nama dalam Buku Eclogue, namun nama-nama ulang mungkin dimaksudkan bukan sebagai intertexts tetapi “antitexts” mengacu pada persona yang sangat berbeda: telah Corydon benar-benar diubah oleh Eclogue 7, atau dia hanya Corydon berbeda? Apa pun ada beberapa rincian penting karakterisasi ,. ini Dalam konteks kemungkinan Judith Haber Pastoral dan Poetics Diri-Kontradiksi: Theocritus untuk Marvell (Cambridge, 1994; tidak dikutip oleh Hubbard) datang ke pikiran: bahwa tradisi anti-pastoral dapat bergerak pada suatu yang sangat diri sadar tingkat-oleh penulis individu Hubbard lebih besar. titik baik diambil memang – Vergil telah jelas berbentuk koleksi menjadi paradigma pembangunan artistik – tapi membuat nama pastoral mengasumsikan beban pemetaan perkembangan ini mengurangi kesenian ini. yang terkenal Tityrus dan Meliboeus dari Eclogue 1 adalah kasus di titik,. komentator dari Servius di bawah selalu diambil Tityrus ke mewakili penyair: “Tityrus” adalah kata pertama dari puisi, gambar ini dari gembala bernyanyi di dipulihkan santai, tetap satu dari anekdot besar inspirasi puitis. Titik Eclogue 1, Namun, tidak untuk berdebat untuk puisi sebagai rumah kontras dengan pembuangan Meliboeus, namun untuk menjaga kedua perspektif di-sempurna oposisi dekat,. Vergil itu, yang mendiami suara dari kedua Tityrus dan Meliboeus – sama seperti penulis manapun harus ada semua atau dia tokoh-tokohnya. Jika apa-apa, Meliboeus keluar pemenang “” di pembaca simpati, dan nama ini, dalam mode tepat revisionary, tidak ditemukan, sebagai Tityrus adalah, dalam kanon Theocritean nama gembala. Jadi ketika Vergil menutup Georgics dengan mengulangi Eclogue 1,1 dengan mengubah “aku bernyanyi Anda, Tityrus,” ini tampaknya terbaik dibaca bukan sebagai “aku bernyanyi sebagai Anda, Tityrus” tapi “Aku bernyanyi Anda (sebagai Meliboeus) Jika. “Eclogue 9 mengembangkan kontras sinis dengan optimisme umum Eclogue 1, dan keduanya milik Vergil yang sama, tentu Vergil bisa menghuni kedua Eclogue 1’s gembala, baik Meliboeus muda dan Tityrus tua. Hubbard tentu setuju dengan semua hal di atas, namun tidak bersedia untuk mengambil langkah lebih lanjut bahwa Tityrus berikutnya dan Meliboeus muncul dalam Eclogues dapat belum persona lainnya, yang merupakan penjelasan yang lebih kredibel untuk beberapa disjunctures ekstrim dalam karakterisasi dari yang gembala Vergil, ketika ada karakterisasi sama sekali.
    Setelah penjelasan panjang yang sangat baik dari Vergil, bab-bab yang tersisa (seperti banyak puisi pastoral itu sendiri setelah Vergil) berangsur-angsur menjadi lebih dan lebih mengecewakan. Dalam Bab 3, Hubbard mengeksplorasi sering diabaikan Pastoral Kuno Akhir: yang Eclogues Einsiedeln, yang Eclogues dari Calpurnius Siculus, dan Eclogues dari Nemesianus. Hubbard menganggap urutan intertextually tentang baik Vergil dan pendahulu lainnya dalam urutan tersebut. Lebih dari sejarah sastra mereka, Hubbard menemukan, koleksi perlahan-lahan keluar dari itu melemahkan bayangan Vergil: yang Neronian fragmentaris Einsiedeln Eclogues tidak bisa melewati Vergil sama sekali; Calpurnius (tanggal lebih dari tradisional, ke abad ketiga) lebih ambisius, namun masih belum dapat sepenuhnya mengatasi model Vergilian, tetapi Nemesianus defuses Vergil oleh penyebaran dia, bermain dia off terhadap Theocritus, Calpurnius, dan lain-lain, meskipun hasilnya memiliki rasa Bloomian “kelemahan.” Hubbard telah di sini diberikan kontras dengan grimmer itu, mundur-mencari “puisi yang kuat”: beberapa penyair kurang fokus pada pendahulunya yang kuat satu dan berkonsentrasi pada eklektisisme optimis dalam misprisions mereka, sebagai suatu ke depan mencari model untuk penyair masa depan.
    Bab 4, yang relatif singkat, menguji contoh beberapa abad pertengahan pastoral. Sejak Hubbard terutama tertarik pada kumpulan puisi yang ditulis dalam kaitannya sadar untuk seluruh tradisi pastoral, ia melompat cepat (setelah pertimbangan singkat dari kesembilan abad ke-Eclogues dari Modoin dari Autun) dengan periode abad pertengahan, di mana penulis, bersama dengan kesadaran yang tepat teks-teks klasik, muncul kembali dengan sepenuh hati. Pada saat pastoral mencapai Dante, yang dgn lucu menggunakan ayat dalam surat ke Giovanni del Virgilio sebagai recusatio Vergilian (penolakan “seni” untuk menulis sebuah puisi lagi), pastoral telah sepenuhnya dilapisi dengan enamel alegori dan sindiran, apakah Kristen, politik, atau sekadar sastra. Hubbard bisa membuat lebih banyak di sini tentang kita gunakan Dante Latin menolak untuk menulis epik Latin ketika ia memilih sebuah satu Italia, dua dari pertempuran yang paling strategis dari dahulu dan modern lebih dari bahasa dan pastoral koleksi. Masih dalam bahasa Latin, Petrarch dan Boccaccio (dianggap sebagai Abad Pertengahan) masing-masing menulis puisi berjudul Carmen Bucolicum, dan menghidupkan kembali urutan Akhir Kuno: Petrarch (seperti Calpurnius) lebih Kuno, Boccaccio (seperti Nemesianus) lebih modern, namun keduanya sama kuat dan ingin sendiri untuk menjadi subyek penafsiran dan model untuk penyair kemudian .
    Bab 5, di Renaissance, melanjutkan pertimbangan reappropriations Italia awal pastoral, pindah ke abad kelima belas,. Keempat Eclogues dari Giovanni Pontano dikirim ke printer segera sebelum ini penulis dan kematian negarawan, memberikan contoh yang baik dari Hubbard pastoral -sebagai-kurikulum-vita, dalam hal ini retrospektif kasus daripada prediksi. Akhirnya, muda kontemporer’s Sannazaro Pontano mulai menulis pastoral dalam bahasa: Arcadia langsung pendekatan skala asli epik-penuh (atau asmara). The Adulescentia dari Mantuan (Baptista Spagnuoli) kembali ke Latin, dan ini, bersama dengan tema Mantuan dari kedatangan usia, membuat sekolah Adulescentia teks standar (dikenal misalnya untuk Shakespeare).
    Pada titik ini Hubbard melompat ke tradisi pastoral bahasa Inggris yang diwakili oleh Spenser dan Milton,. Di sini di mana teks tersebut telah dikritik secara mendalam, ada sedikit yang baru dan banyak yang hilang,. Tentu saja sebagai Hubbard menemukan, The Kalender Shepheardes hanya sebagai overdetermined belum sama asli sebagai Vergil’s Eclogue Buku. Memang ada yang progresif, account Vergilian dari karir di dua belas bulanan “Aeglogues,” dan seperti komentar yang tertutup di “SK” (mungkin, sebagai Hubbard mengambilnya, Spenser sendiri), itu mencerminkan semua penulis kecemasan atas jalan buntu penerimaan telah. Hubbard sedikit waktu untuk membahas warisan vernakular mendalam Chaucer, atau (seperti Iser menunjukkan) pentingnya utama dari situasi politik kontemporer. Meskipun Hubbard menghabiskan hampir 50 halaman di Spenser, sekitar 100 yang dibutuhkan, atau jumlah yang sama ruang Hubbard mencurahkan untuk Vergil. Kurangnya terbesar dari semua, di sini, adalah intertext luar biasa dari semua sisa sastra produksi’s Spenser: korpus Spenserian, semua cara untuk akhirnya, ditembak melalui dan melalui dengan resonansi dan recapitulations dari pastoral,. Jadi Hubbard tidak berguna catatan sebagai dia bisa, bahwa Spenser, meskipun dia sudah selesai beberapa karya lain yang lebih pendek dan sudah mulai The Queene Negeri Peri, sengaja Kalender Shepheardes telah diterbitkan pertama kali.
    Kesenjangan ini tidak muncul ketika Hubbard berikutnya berubah menjadi Milton: Lycidas, bersama dengan Damonis Epitaphium dua tahun kemudian, dianggap sebagai bagian dari 1645 koleksi Milton tentang Puisi dikalahkan. Tapi sekali lagi Hubbard adalah, karena titik yang lebih besar dari Lycidas adalah bahwa itu mengulangi dalam puisi tunggal semua koleksi pastoral sebelumnya, yang berbagai progresi melangkah telah terbukti sangat berguna untuk Hubbard. Tentu Lycidas dapat melakukan jenis yang sama kemajuan, tetapi Hubbard tidak sama dengan kekayaan mendalam intertekstualitas dalam puisi Milton. Dalam membahas untuk contoh baris-baris pembuka yang terkenal (“Namun sekali lagi, ya Pramunita kamu, dan sekali lagi / Ye Myrtles cokelat, dengan Ivy tidak pernah layu”), Hubbard lebih suka jauh-diambil paralel dengan Eclogue 7,61-64 untuk lebih jelas kiasan banyak Eclogue 2,54. Fokus pada “Namun sekali lagi,” mengutip Hubbard-mencatat yang baik untuk kiasan Ibrani 0:25, tapi merindukan bahwa Milton bisa sama juga mengacu pada dirinya sendiri; dua puisi sebelum-nya telah disebutkan laurel, dan satu melati, sehingga ini adalah yang ketiga, kedua, dan kali pertama sekitar, masing-masing, untuk tiga pabrik. seperti kiasan diri tentu sesuai untuk Milton. Hubbard akan diuntungkan dari Martin Evan perkembangannya berorientasi monografi J. Jalan dari Horton ( Studi Sastra Inggris, 1983), yang baik hati-hati explicates intertekstualitas dan penataan internal Lycidas.
    Yang lebih besar titik Hubbard tentang Milton tentu tidak berdiri: Milton, menulis pada saat pastoral hampir hampir mati, revivified begitu memukau bahwa ia secara efektif membunuhnya untuk semua pendatang kemudian, sehingga ia mungkin secara pribadi bertanggung jawab atas kecemasan pengaruh. Untuk mengulangi, kemudian, Hubbard telah benar-benar revisi Bloom revisionisme Harold, khususnya roman “keluarga Freudian” pada intinya. Jika apa-apa, Hubbard telah menemukan yang mempengaruhi dalam tradisi pastoral dari klasik sampai awal periode modern yang benar-benar seperti diperpanjang, bukan nuklir , keluarga. Mengingat begitu banyak intertekstualitas bahwa Hubbard membahas melibatkan beberapa sindiran, ada banyak ruang untuk apa yang baru-baru ini para psikolog lebih telah disebut “teori sistem keluarga,” di mana interaksi pribadi diad jarang, tapi pasti cenderung untuk melakukan pelacakan. “Familiation” mungkin ganti “keturunan” di sini, sejak Hubbard telah menunjukkan bahwa interaksi pastoral adalah sebagai sering intragenerational sebagai antargenerasi.
    “Hubungan darah” juga berisi warisan Bloomian itu, seperti itu “Alpers gembala dan kehidupan mereka,” kebutuhan jenis lain dari revisi,. Seksis Inkarnasi Bloom dari penyair dan sebagian besar dari semua kritikus, mengarah ke misprision signifikan dari tradisi pastoral. Tentu klasik dan kemudian pastoral telah didominasi oleh penyair laki-laki, tetapi mudah untuk meremehkan kontribusi, katakanlah, Anyte Arkadia, yang sangat asli epigram mendahului dan mungkin telah mempengaruhi Theocritus; dalam hal apapun dia memiliki proyek yang sama dari membaca ulang Homer ” bawah untuk ukuran orangtua. “Selain kebutuhan untuk merevisi pastoral” ayah “menjadi”, “orang juga harus menguji” anti-keluarga “cara penularan: foundlings, melarikan diri, mutasi, perkawinan antara suku atau bangsa. Ada, misalnya, tidak ada ruang dalam sejarah sastra Bloomian dari pastoral untuk perkosaan dari pastourelle abad pertengahan. Dalam menekankan poin transmisi (seperti nama gembala laki-laki) yang muncul sangat sadar dan disengaja, Hubbard luput dari ova kecil warisan Vergilian yang tumbuh keluar dari semua proporsi Vergil’s niat, yang popularitas tak terduga dari “Mesianik” Eclogue 4 hanya yang sudah jelas contoh yang paling. lain adalah maju peri air Aegle di Eclogue 6, yang singkat batu adalah penampilan perempuan satu-satunya di Buku Eclogue dan Vergilian model hanya untuk semua shepherdesses kemudian dan nimfa drama pastoral dan asmara, tradisi yang tetap dikecualikan oleh’s silsilah Hubbard – pipa tiang Pan yang diturunkan hanya dari orang ke orang,. (Hubbard, bagaimanapun, catatan homoerotic dimensi ini terjemahan meskipun masih jauh dari hal seperti aneh pastoral, yang kemungkinan lain sendiri.) ini adalah untuk mengatakan bahwa tradisi, dan pastoral tradisi merupakan salah satu lebih baik contoh, memiliki cara berkelok-kelok, memutar kembali, dan menghancurkan yang Hubbard linier arkeologi – bahwa anekdot abadi studi klasik – tidak memahami.
    Mungkin lebih baik mengatakan “geologi,” karena arkeolog bahkan kadang-kadang harus menghadapi kesenjangan yang disengaja dan kelalaian dalam strata sedimentasi budaya. Sebuah konsekuensi penting dari metode geologi adalah peninggian waktu pada biaya tempat: di puncak

  18. Nurdiana
    27/06/2010 pukul 12:45 pm

    Expression as Becoming: A Poetics of the Virtual in the works of Christian Prigent, Dominique Fourcade, Olivier Cadiot, and Hubert Lucot
    In my dissertation I show how the poems and prose of Christian Prigent, Dominique Fourcade, Olivier Cadiot, and Hubert Lucot form an important, radicalised moment of French literary modernity. This is the first study of these authors in English. I look at how their poetry and prose determine subjectivity and identity as contingent and transient process rather than as substance or nature. This contention requires a reflection on the question of time and on how it has informed French modernity since Baudelaire gave substance to this notion.
    To that end, I assess the key concepts of Gilles Deleuze’s ontological constructivism (multiplicity, becoming, line, arrangement, rhizome, de- and re-territorialisation) and I show how Deleuze’s theory of expression locates literature in a semiotics (a theory of signs in general) rather than in a semiology (a theory of linguistic signs in particular). In addition, I establish how Deleuzian semiotics is structured around the play of the virtual and the becoming. Whilst the virtual is the infinite of meaning, the becoming – or actualisation – is the specific yet precarious forms that meaning takes. The virtual hence presupposes a non-chronological temporality that Deleuze, after Nietzsche, calls Aiôn or the Aiônic, and in which the infinite of meaning insists or persists in actual forms.
    From this theoretical standpoint, I single out the crucial notions of percepts and affects which differ respectively from those of perception and affection in that they are impersonal, that is to say autonomised from the human, biographic, substratum in which they first appear. They are pure sensations exceeding any lived experience and memory. Affects relate to the non-human becomings of man when percepts are made of the non-human landscapes of nature, making those who experience them sensitive to the forces of becoming.
    By a complex labour on language transforming signifiers into affects and percepts, creative literature is then defined as that which frees (or de-territorialises) meaning from preset signifieds and thus reveals the power of the virtual which usually remains over-shadowed in conventional uses of language. I argue that such a complex labour on language is nothing else than literary style, which I define as the ability to grasp Life amongst the living – i.e., percepts – and to produce unknown, impersonal becomings – i.e., affects – rather than to narrate one’s personal feelings or deeds. Far from being a specific essence, literature is just the most intense use of language (materialistic rather than spiritualist definition of literature). Identifying affects and percepts in the specific formal features of literary texts and studying their forces thus constitutes the core of the Deleuzian criticism of literature that I put forward and that I call a poetics of the virtual.
    I then look at the writings of my four authors. The poetic writings of Christian Prigent and Dominique Fourcade present a productivist subjectivity by addressing the body, contingency, and language inrelation to the theme of desire.
    Olivier Cadiot’s and Hubert Lucot’s narratives tell the evolution of a subjectivity that, instead of being fixed and rigid, always remains in process. These critical objectives are achieved by close readings isolating the features of style, semantics, and syntax that destructure subjectivity and identity into a non-personal writing.
    Studying these different writings together has allowed me to explore the general pertinence of the poetics of the virtual as critical paradigm and it has substantiated my overall argument by confronting it to a diversity of styles – the constructivist and non-chronological aspect of the real, of subjectivity, of meaning itself can only be apprehended in the interior movement of a text. In a genealogical approach, I argue that these four writers re-contextualise the key questions of modernity – the present as mix of pure past and contingent new – by exposing the constructibility of being and history via affects and percepts arranged in semantic andsyntactic inventions.
    In conclusion, contemporary French literature presents subjectivity and identity as a pure productivism and such a determination takes part in a new political radicalism. The originality of my thesis lies in its ability to relate contemporary – and previously unstudied – texts to a major philosophy of modernity, so as to show how part of contemporary literature is an original radicalisation of the key-elements of literary modernity whose political implications are far-reaching.
    Terjemahan
    Ungkapan kelayakan: Puisi Virtual dalam karya Christian Prigent, Dominique Fourcade, Olivier Cadiot, and Hubert Lucot
    Dalam disertasi saya, saya menunjukkan bagaimana puisi dan prosa Christian Prigent, Dominique Fourcade, Olivier Cadiot, dan Hubert Lucot merupakan sesuatu yang penting, radikal modernitas sastra Perancis. Ini adalah studi pertama dari penulis ini dalam bahasa Inggris. Aku melihat bagaimana puisi mereka dan prosa menentukan subjektivitas dan identitas sebagai proses kontinjensi dan sementara daripada sebagai zat atau alam. Pendapat ini membutuhkan refleksi mengenai masalah waktu dan bagaimana ia telah menginformasikan modernitas Prancis sejak Baudelaire memberi substansi pada gagasan ini.
    Untuk itu, saya menilai konsep-konsep kunci dari konstruktivisme ontologis Gilles Deleuze’s (keragaman, layak, baris, pengaturan, rimpang, de-dan re-territorialisation) dan saya menunjukkan bagaimana teori ekspresi Deleuze dalam menempatkan sastra di suatu semiotika (teori tanda secara umum), bukan dalam semiologi (teori tanda linguistik pada khususnya). Selain itu, saya menetapkan bagaimana Deleuzian semiotika disusun berdasarkan permainan virtual dan kelayakan. Sementara virtual adalah tak terbatas makna, kelayakan – atau aktualisasi – adalah bentuk-bentuk khusus belum genting yang artinya membutuhkan. Virtual mengandaikan suatu temporalitas non-kronologis yang Deleuze, setelah Nietzsche, panggilan Aiôn atau Aiônic, dan di mana tak terbatas makna tegas atau berkelanjutan dalam bentuk yang sebenarnya.
    Dari sudut pandang teoretis, saya memilih konsep-konsep penting dari persepsi dan pengaruh masing-masing yang berbeda dari persepsi dan kasih sayang bahwa mereka impersonal, artinya autonomised dari manusia, biografi, substratum di mana mereka pertama kali muncul. Mereka murni melebihi sensasi pengalaman hidup dan memori. Pengaruh berhubungan dengan non-manusia menjadi manusia ketika persepsi terbuat dari pemandangan yang non-manusia alam, membuat orang-orang yang yang mengalaminya sensitif terhadap kekuatan yang datang.
    Dengan tenaga kerja yang kompleks pada bahasa penanda berubah menjadi mempengaruhi dan persepsi, sastra kreatif kemudian didefinisikan sebagai yang membebaskan (atau de-territorialises) makna dari signifieds preset dan dengan demikian mengungkapkan kekuatan virtual yang biasanya tetap selama-gelap dalam menggunakan konvensional bahasa. Saya berpendapat bahwa seperti tenaga kerja yang kompleks pada bahasa tidak lain dari gaya sastra, yang saya definisikan sebagai kemampuan untuk memahami Hidup di antara hidup – yaitu, persepsi – dan untuk menghasilkan diketahui, becomings impersonal – yakni, mempengaruhi – bukan untuk menceritakan seseorang perasaan pribadi atau perbuatan. Jauh dari menjadi esensi tertentu, sastra adalah penggunaan bahasa yang paling intens (definisi materialistis spiritualis daripada sastra). Mengidentifikasi mempengaruhi dan persepsi dalam fitur formal khusus teks sastra dan mempelajari kekuatan mereka sehingga merupakan inti dari Deleuzian kritik sastra yang
    saya diajukan dan yang saya sebut puisi virtual.
    Saya kemudian melihat tulisan-tulisan keempat penulis. Tulisan-tulisan puitis Christian Prigent dan Dominique Fourcade menyajikan subjektivitas productivist dengan mengatasi tubuh, kontingensi, dan inrelation bahasa dengan tema keinginan.
    Olivier Cadiot dan narasi Hubert Lucot memberitahukan evolusi dari subjektivitas itu, bukannya tetap dan kaku, selalu masih dalam proses. Tujuan-tujuan penting yang dicapai oleh pembacaan dekat mengisolasi fitur gaya, semantik, dan sintaks yang destructure subjektivitas dan identitas ke dalam tulisan non-pribadi.
    Mempelajari tulisan-tulisan yang berbeda bersama telah memungkinkan saya untuk menjelajahi kejituan umum puisi paradigma virtual kritis dan memiliki argumen saya secara keseluruhan didukung oleh menghadapinya dengan keragaman gaya – yang konstruktivis dan aspek non-kronologis yang nyata, dari subjektivitas, makna itu sendiri hanya dapat ditangkap dalam gerakan interior teks. Dalam pendekatan silsilah, saya berpendapat bahwa keempat penulis contextualise kembali pertanyaan-pertanyaan kunci dari modernitas – sekarang sebagai campuran murni baru dan kontinjensi – oleh mengekspos kelayakan constructibility dan sejarah melalui pengaruh dan persepsiyang diatur dalam penemuan andsyntactic semantik.
    Sebagai kesimpulan, sastra Prancis kontemporer menyajikan subjektivitas dan identitas sebagai productivism murni dan tekad seperti mengambil bagian dalam sebuah radikalisme politik baru. Keaslian tesis saya terletak pada kemampuannya untuk menghubungkan kontemporer – dan sebelumnya tidak dipelajari – teks ke filosofi utama dari modernitas, sehingga untuk menunjukkan bagaimana bagian dari sastra kontemporer adalah radikalisasi asli-elemen kunci dari modernitas politik sastra yang implikasinya jauh jangkauannya.

    Kesimpulan
    Sastra Prancis kontemporer menyajikan subjektivitas dan identitas sebagai productivism murni dan tekad seperti mengambil bagian dalam sebuah radikalisme politik baru. Pada abstrak tesis ini dijelaskan bahwa yangh dilakukan penulis adalah menghubungkan kontemporer – dan sebelumnya tidak dipelajari – teks ke filosofi utama dari modernitas, sehingga untuk menunjukkan bagaimana bagian dari sastra kontemporer adalah radikalisasi asli-elemen kunci dari modernitas politik sastra yang implikasinya jauh jangkauannya.
    Penulis, dalam hal ini pembuat tesis, berusaha membandingkan tulisan-tulisan puitis Christian Prigent dan Dominique Fourcade yang menyajikan subjektivitas productivist dengan mengatasi tubuh, kontingensi, dan inrelation bahasa dengan tema keinginan dengan tulisan-tulisan puitis Olivier Cadiot dan narasi Hubert Lucot yang memberitahukan evolusi dari subjektivitas itu, bukannya tetap dan kaku, selalu masih dalam proses. Pisau bedah yang digunakannya dalam memebandingkan tulisan-tulisan/ puisi keempat tokoh tersebut adalah kosep pengaruh dan teori ekspresi Deleuze.

    http://www.ucl.ac.uk/mellon-program/fellows/jerome/abstract.shtml

    Jurnal
    Bryn Mawr Review of Comparative Literature
    Volume 7, Number 1 (Fall 2008)
    TABLE OF CONTENTS
    This issue opens with Carlo Salzani’s review essay on Samuel Weber’s book on Walter Benjamin. Salzani finds Benjamin’s -abilities “brilliantly textual” in the close attention it pays both to Benjamin’s language (the German text and “the problems and inconsistencies of the English translation”) and to his theory of language. As Salzani notes, Weber analyzes Benjamin’s marked “tendency to form concepts by recourse to the suffix barkeit” (4) [which in English can be written either -ibility or -ability] “as the sign of a deeper connection between the linguistic constructions and Benjamin’s mode of philosophizing.”
    A term like iterability becomes crucial in delineating Benjamin’s resistance to hierarchical oppositions, most notably to subordinating possibility to actuality. For Weber, Benjamin’s nominalizations offer a concept of the virtual, “inseparable from time insofar as it involves an ongoing, ever-unfinished, and unpredictable process” (7). While in Benjamin’s own estimation, texts had to be understood not only in the context of their own time but also in their transformation and continual reworking in the constellation with our present, Weber’s re-reading of Benjamin’s writing as a permanence or reiteration of virtuality is problematic, Salzani contends. That is, it appears to stress the impossibility to translate, to interpret, and read at the expense of Benjamin’s own outline of a methodology for reading his work and of his emphasis on actuality and actualization. In Salzani’s view, Benjamin’s method is not static in its effort to reach for coherence. Rather, it “almost prescribes a reading that will be polarized by,” and “put into a constellation with our present.” Further, “[a]s a cultural artefact, it asks to be violated and read against the grain of its time and our own and thus re-inscribed in new practices, re-assembled and re-made always anew.”
    A second review essay in this issue also focuses on how translation and theories of language and textuality matter for an understanding of history and the historical work’s transformation and continued life in the constellation with our present. As Jon Solomon’s review suggests, The Clash of Empires is noteworthy not only for its reading of British-Chinese international relations, but for its presentation of the ways in which semiotic theory deepens our understanding of colonialism, post-colonialism, international law, feminism, comparative grammar and (in a coda) the imperial throne, in place or looted, as fetish. The key to Liu’s approach to British-Chinese relations lies largely in Peirce’s semiotic theory. Liu’s historically grounded argument links semiotics to “the novel military technology of telegraphic communication in the second half of the nineteenth century.” Liu’s reading of empire provides “theoretical and historical grids . . . [for] the issues of intersubjectivity [and foreignness], indexicality, and violence in the light of work” by Peirce, Foucault, Bataille, and other theorists.
    For Liu as well, the dramatized “first encounter” of Defoe’s Robinson Crusoe with Friday, in which deixis and indexicality — Crusoe’s pointing finger extends to his gun — represent a “familiar ritual of subjugation and fetishism in the European imagining of first encounter.” This episode helps advance Liu’s argument to the “clash” symbolized in “the translation of the written Chinese character “yi” at the time of the Opium War.” Did “yi” mean “foreigner”? “barbarian”? “stranger”? “non-Chinese”? The British believed that the Chinese character pronounced “yi” meant “barbarian” — despite the Greek etymology of the latter term — that it was directed at them, and therefore ensured that it was banned in two separate articles of the Treaty of Tianjin of 1858. As Liu writes, “A good deal is at stake when it comes to identifying the ‘true barbarian’ for civilization. The stakes rise higher with the scandal of the word “yi” because its enunciation issues forth from the language of a non-European society which is regarded as less than civilized by the British. In other words, the Chinese character “yi” appears to have thrown the barbarian back onto civilization itself and turned into its double and mirror image.”
    In this imperial encounter, we see the creation of a tripartite super-sign, the parts separated by slashes: 夷/”yi”/barbarian. Liu regards this as a “linguistic monstrosity,” a “hetero-cultural signifying chain, a fantastic hybrid of translated concepts.” From the realm of positive signs,” we have been transported — or translated — “into the realm of enchanted meanings, excesses of signification,” and more.
    Reviews of three texts in this issue mark the persistent interest in the liminal quality of experience and artifacts, situated at the border between human and nonhuman. As Dorian Stuber writes in his review of Daniel Heller-Roazen’s Echolalias: On the Forgetting of Language and The Inner Touch: Archaeology of a Sensation, “[t]ogether they explore the relation of rationality to its excess, where rationality is defined as the conjunction of language and consciousness, and … excess is …whatever troubles, undoes, and yet grounds that rationality.” In Echolalias “excess inheres at the pre-verbal borders of language; in The Inner Touch excess inheres in … the sense common to all beings that allows them to feel themselves as sensing and thus as living.”
    Daniel Nisa Cáceres situates Elaine Freedgood’s The Ideas in Things within the now expansive field of object studies or thing theory, an interdisciplinary body of work that continues to test the rigid border between people and things that has guided much of Western culture. Invoking Bill Brown’s A Sense of Things: The Object Matter of American Literature (2003) (and Gustavus Stadler’s review of that text in Volume 5, Number 1 [Spring 2005] of BMRCL), Cáceres illuminates how Freedgood “retrieves the cultural, historical, social and material qualities” of “seemingly unimportant objects of consumption.” For Cáceres, Freedgood performs a “strong metonymic” reading of manufactured goods (evoked in Jane Eyre, Mary Barton and Great Expectations) “by taking a literary thing literally and relying on ‘mediations'” — “those of historians of textiles and tobacco, of forestry and furniture” (5) — that can illuminate [a thing's] past.” As such, her study eschews “the routinized literary figuration that precludes the interpretation of most things of realism” (5), and underscores how things are not “indentured to a metaphorical relation in which they must give up most of their qualities in the service of a symbolic relation” (10).
    Martin Seel’s Aesthetics of Appearing offers a meditation on the liminal encounters that inform our experience of objects, surroundings, people, and atmospheres. Even if, as Mario Wenning notes, Seel’s work departs from studies that are wary of searches for the “essence of art and aesthetic experience,” aesthetic appearing nonetheless underscores provisional borders and relations: “[it] enables us with the awareness of the ephemeral nature of reality and our place in this reality.” An awareness of reality and our place in it raises profound ethical and political questions. Although, for Wenning, Seel does not explore these as directly and fully as he might, such questions emerge persistently, especially when Seel argues that the meaning of the violence that occurs, for instance, between a perpetrator and victim “cannot be understood independently of the additional position of … spectators” (188) (since such acts “are often committed with the perspective of a present or absent spectator in mind”).
    As Megan Craig notes, “[a]lthough the title” of R. Clifton Spargo’s Vigilant Memory: Emmanuel Levinas, the Holocaust, and the Unjust Death “suggests it is a study of Levinas in light of the Holocaust, it is also a multifaceted defense and critique of Levinas, a response to Alain Badiou’s criticism of Levinas’s ethics as apolitical, a warning against the “fallacies of Western democratic culture…” (120). Vigilant Memory squarely aims “to test the viability and the limits of Levinasian ethics in the twenty-first century and to ask “in what sense an ethics would be said to have force in a political world” (18).
    Two texts reviewed in this issue demonstrate the importance of understanding genre or specific genres in broad terms. For Gregory Byala, Martin Puchner’s Poetry of the Revolution: Marx, Manifestoes and the Avant-Garde presents a highly original examination of the formidable influence that The Communist Manifesto exerted on the shape of modern art. As Puchner describes it, Marx and Engels developed the form “that would help revolutionary modernity to know itself, to arrive at itself, to make and to manifest itself” (1). Focusing on the translation and distribution of The Communist Manifesto, its more explicit “modulation from political into artistic form,” and the manifesto’s “notions of futurity, theatricality, and performativity … Poetry of the Revolution reveal[s] how the manifesto moved from a socialist document, to an artistic genre, to a form of art.”
    As Byala points out, analyzing a seminal political work in terms of a category — genre — that it was perhaps thought to transcend allows Puchner to chart the expansive artistic influence of The Manifesto. Rita Felski’s collection of essays, Rethinking Tragedy, likewise exhibits an understanding of genre that eschews “rigid taxonomies.” As Verna Foster notes, while Felski’s collection “retains a sense of the aesthetic form that contains and shapes the tragic as experience,” the more inclusive concept of “mode” allows the essays to address the tragic as both a philosophical idea and a component of many contemporary art forms and fields. As such, the collection moves beyond the conventional constraints of many studies to consider the persistence of the tragic in contemporary expression and in forms and fields other than drama — namely, film, popular culture, philosophy, and politics.
    In this issue, we append a list of Books Received in 2008. We would be glad to hear from readers interested in reviewing any of them.
    Terjemahan
    Bryn Mawr
    Resensi Sastra Bandingan
    Volume 7, Nomor 1 (Fall 2008)
    Indeks
    Masalah ini dibuka dengan resensi esai Carlo Salzani di buku Samuel Weber pada Walter Benjamin. Salzani-Benjamin menemukan kemampuan “brilian tekstual” dalam ketelitian perhatiannya mengamati kedua-duanya bahasa Benjamin (teks Jerman dan “masalah dan inkonsistensi dari terjemahan bahasa Inggris”) dan teori bahasa. Sebagai catatan Salzani, Weber meneliti penanda Benjamin yakni “kecenderungan untuk membentuk konsep dengan jalan lain untuk barkeit akhiran” (4) [yang dalam bahasa Inggris dapat ditulis baik-ibility atau kemampuan] “sebagai tanda hubungan yang lebih dalam antara konstruksi linguistik dan cara berfilsafat Benjamin. ”
    Sebuah istilah seperti iterability menjadi penting dalam melukiskan perlawanan Benjamin untuk oposisi hierarkis, terutama untuk mensubordinasi kemungkinan aktualitas. Bagi Weber, nominalizations Benjamin menawarkan konsep virtual, “tak terpisahkan dari waktu sejauh yang melibatkan, berkelanjutan terus yang belum selesai, dan proses tidak terduga” (7). Sementara di estimasi sendiri Benjamin, teks harus dipahami tidak hanya dalam konteks waktu mereka sendiri tetapi juga dalam perubahan mereka dan mengerjakan ulang terus menerus dalam konstelasi dengan kami saat ini, kembali Weber-membaca tulisan Benjamin sebagai keabadian atau pengulangan virtuality adalah bermasalah, Salzani berpendapat. Itulah, tampaknya menekankan ketidakmungkinan untuk menerjemahkan, menafsirkan, dan membaca dengan mengorbankan garis Benjamin sendiri metodologi untuk membaca karyanya dan penekanannya pada aktualitas dan aktualisasi. Dalam pandangan Salzani’s, metode Benjamin tidak statis dalam upaya untuk meraih koherensi. Sebaliknya, itu “hampir menganjurkan membaca yang akan terpolarisasi oleh,” dan “dimasukkan ke dalam konstelasi dengan kita sekarang.” Lebih jauh, “[sebuah artefak sa] budaya, ia meminta untuk dilanggar dan membaca terhadap butir waktu dan kita sendiri dan dengan demikian kembali tertulis dalam praktek baru, kembali berkumpul dan kembali dibuat selalu baru.”
    Sebuah resensi esai kedua dalam edisi ini juga berfokus pada bagaimana terjemahan dan teori bahasa dan materi tekstualitas untuk memahami sejarah dan transformasi karya sejarah dan hidup terus di rasi dengan kita sekarang. Sebagai review Jon Salomo menunjukkan, The Clash of Empires dicatat tidak hanya untuk membaca dengan hubungan internasional Inggris-Cina, namun untuk presentasi dengan cara di mana teori semiotik memperdalam pemahaman kita tentang kolonialisme, pasca-kolonialisme, hukum internasional, feminisme, perbandingan tata bahasa dan (dalam koda a) tahta kekaisaran, di tempat atau dijarah, sebagai jimat. Kunci untuk pendekatan Liu untuk hubungan Inggris-Cina terletak sebagian besar dalam teori semiotik Peirce. Liu historis didasarkan link semiotika argumen untuk “teknologi komunikasi militer novel telegraphic pada paruh kedua abad kesembilan belas.” Liu membaca kerajaan menyediakan “grid teoritis dan sejarah… [untuk] masalah [intersubjektivitas dan] keasingan, indexicality, dan kekerasan dalam terang pekerjaan” oleh Peirce, Foucault, Bataille, dan teoretikus lain.
    Untuk Liu juga, yang “mendramatisir pertemuan pertama” dari Defoe, Robinson Crusoe dengan Jumat, di mana deixis dan indexicality – jari menunjuk Crusoe meluas ke pistolnya – merupakan ritual “akrab penaklukan dan fetisisme di Eropa membayangkan pertemuan pertama . ” Episode ini membantu muka Liu argumen untuk “benturan” yang disimbolkan dalam “terjemahan dari karakter Cina tertulis” yi “pada saat Perang Opium.” Apakah “yi” berarti “asing”? “Barbar”? “Asing”? “Non-Cina”? Inggris percaya bahwa karakter Cina diucapkan “yi” berarti “barbar” – meskipun etimologi Yunani istilah terakhir – bahwa itu ditujukan pada mereka, dan karena itu memastikan bahwa itu dilarang di dua artikel terpisah dari Perjanjian Tianjin dari 1858. Saat Liu menulis, “Sebuah banyak yang dipertaruhkan ketika datang untuk mengidentifikasi ‘barbar benar’ untuk peradaban. Taruhannya meningkat lebih tinggi dengan skandal kata” yi “karena ucapan yang keluar dari isu-isu bahasa non-Eropa masyarakat yang dianggap kurang beradab oleh Inggris. Dengan kata lain, karakter Cina “yi” tampaknya telah dibuang kembali ke peradaban barbar itu sendiri dan berubah menjadi perusahaan ganda dan citra cermin. ”
    Dalam pertemuan kekaisaran, kita melihat penciptaan tanda-super tripartit, bagian-bagian yang dipisahkan dengan garis miring: 夷 / “yi” / barbar. Liu menganggap ini sebagai barang ganjil “linguistik,” rantai “yang menunjukkan hetero-budaya, hibrida fantastis konsep diterjemahkan.” Dari alam tanda-tanda positif, “kita telah diangkut – atau diterjemahkan -” ke dalam bidang makna terpesona, ekses signifikansi, “dan banyak lagi.
    Ulasan dari tiga teks dalam tanda ini masalah kepentingan terus-menerus dalam kualitas liminal pengalaman dan artefak, terletak di perbatasan antara manusia dan bukan manusia. Sebagai Dorian Stuber menulis dalam tinjauannya tentang Daniel Heller-Roazen’s Echolalias: Di Melupakan Bahasa dan The Touch batin: Arkeologi dari Sensasi, “[t] ogether mereka mengeksplorasi hubungan rasionalitas untuk kelebihan, di mana rasionalitas didefinisikan sebagai gabungan dari bahasa dan kesadaran, dan … kelebihan … alasan apa pun masalah, Membatalkan, namun rasionalitas itu. ” Dalam Echolalias “kelebihan melekat di perbatasan pra-verbal bahasa; dalam The Touch melekat batin kelebihan … pengertian umum untuk semua makhluk yang memungkinkan mereka untuk merasa diri mereka sebagai sensing dan dengan demikian sebagai hidup.”
    Nisa Daniel Cáceres terletak dengan Elaine Freedgood Ide di The Things dalam bidang studi sekarang luas objek atau hal teori, sebuah badan interdisipliner kerja yang terus menguji batas kaku antara orang dan hal-hal yang telah menuntun banyak budaya Barat. A Sense Meminjam Bill Brown of Things: The Matter Objek Sastra Amerika (2003) (dan review Gustavus Stadler tentang bahwa teks dalam Volume 5, Nomor 1 [Spring 2005] dari BMRCL), Cáceres menerangi bagaimana Freedgood “mengambil budaya, sejarah, sosial dan bahan kualitas “dari” objek konsumsi tampaknya tidak penting. ” Untuk Cáceres, Freedgood melakukan sebuah “kuat metonimis” membaca pokok produksi (muncul dalam Jane Eyre, Mary Barton dan Great Expectations) “dengan mengambil hal sastra secara harfiah dan mengandalkan ‘” mediasi “-” orang-orang sejarawan tekstil dan tembakau , kehutanan dan furnitur “(5) – yang dapat menerangi [masa lalu] suatu hal yang” Sebagai. seperti, studinya eschews “figurasi sastra rutin yang menghalangi interpretasi dari hal yang paling realisme” (5), dan garis bawah bagaimana hal-hal tidak “diwajibkan untuk hubungan metafora di mana mereka harus memberikan sebagian besar kualitas mereka dalam pelayanan hubungan simbolik” (10).
    Martin membutakan’s Estetika dari tampil menawarkan meditasi pada pertemuan liminal yang menginformasikan pengalaman kita tentang benda, lingkungan, orang, dan atmosfer. Bahkan jika, sebagai catatan Mario Wenning, membutakan pekerjaan berangkat dari studi yang waspada mencari esensi “seni dan estetika pengalaman,” muncul estetika tetap menekankan batas sementara dan hubungan: “[itu] memungkinkan kita dengan kesadaran singkat sifat realitas dan tempat kita di realitas ini. ” Sebuah kesadaran akan realitas dan tempat kita di dalamnya menimbulkan pertanyaan etis dan politik yang mendalam. Meskipun, untuk Wenning, menutup mata tidak mengeksplorasi ini sebagai secara langsung dan sepenuhnya sebagai dia mungkin, pertanyaan tersebut muncul terus-menerus, terutama ketika membutakan berpendapat bahwa arti dari kekerasan yang terjadi, misalnya, antara pelaku dan korban “tidak dapat dipahami secara terpisah dari posisi tambahan … penonton “(188) (karena tindakan seperti” sering dilakukan dengan perspektif hadiah atau tidak ada penonton dalam pikiran “).
    Sebagai catatan Megan Craig, “[sebuah lthough] judul” Memori waspada R. Clifton Spargo’s: Emmanuel Levinas, Holocaust, dan Kematian yang tidak jujur “menunjukkan itu adalah studi tentang Levinas dalam terang dari Holocaust, juga merupakan segi pertahanan dan kritik terhadap Levinas, respon terhadap kritik Alain Badiou tentang etika Levinas sebagai apolitis, peringatan terhadap “kesalahan-kesalahan dari budaya demokrasi Barat …” (120) waspada Memori. jujur bertujuan “untuk menguji kelayakan dan batas-batas etika Levinasian di abad ke dua puluh satu dan bertanya “dalam arti apa etika akan dikatakan telah berlaku di dunia politik” (18).
    Dua teks dibahas dalam edisi ini menunjukkan pentingnya pemahaman genre atau genre tertentu dalam arti luas. Untuk Gregory Byala, Puisi Martin Puchner tentang Revolusi: Marx, Manifesto dan Avant-Garde menyajikan ujian yang sangat asli dari pengaruh hebat yang Manifesto Komunis diberikan pada bentuk seni rupa modern. Sebagai Puchner menjelaskan itu, Marx dan Engels mengembangkan bentuk “yang akan membantu modernitas revolusioner untuk mengenal dirinya sendiri, untuk sampai pada dirinya sendiri, untuk membuat dan mewujudkan dirinya sendiri” (1). Fokus pada terjemahan dan distribusi dari Manifesto Komunis, lebih eksplisit yang “modulasi dari politik ke dalam bentuk artistik,” dan “manifesto itu pengertian tentang keakanan, sandiwara, dan performativitas … Puisi Revolusi mengungkapkan [s] bagaimana manifesto pindah dari sosialis dokumen, ke genre artistik, untuk suatu bentuk seni. ”
    Byala menunjukkan, menganalisis karya politik yang berkembang dalam hal kategori – genre – bahwa mungkin berpikir untuk mengatasi kemungkinan Puchner untuk bagan pengaruh artistik ekspansif Manifesto. koleksi esai Rita Felski, Rethinking Tragedi, pameran juga pemahaman dari genre yang eschews “taksonomi kaku.” Sebagai Verna Foster catatan, sementara koleksi Felski’s “mempertahankan rasa bentuk estetika yang mengandung dan membentuk tragis sebagai pengalaman,” konsep yang lebih inklusif “mode” memungkinkan esai ke alamat yang tragis baik sebagai ide filosofis dan komponen banyak bentuk seni kontemporer dan ladang. Dengan demikian, koleksi bergerak di luar batasan konvensional banyak studi untuk mempertimbangkan kegigihan dari tragis dalam ekspresi kontemporer dan dalam bentuk dan bidang lain dari drama – yaitu, film, budaya populer, filsafat, dan politik.
    Dalam edisi ini, kami tambahkan daftar Buku yang diterima di tahun 2008. Kami akan senang mendengar ada pembaca yang tertarik meresensi salah satu dari mereka.

    Kesimpulan
    Dua teks dibahas dalam edisi ini menunjukkan pentingnya pemahaman genre atau genre tertentu dalam arti luas. Untuk Gregory Byala, Puisi Martin Puchner tentang Revolusi: Marx, Manifesto dan Avant-Garde menyajikan ujian yang sangat asli dari pengaruh hebat yang Manifesto Komunis diberikan pada bentuk seni rupa modern. Sebagai Puchner menjelaskan itu, Marx dan Engels mengembangkan bentuk “yang akan membantu modernitas revolusioner untuk mengenal dirinya sendiri, untuk sampai pada dirinya sendiri, untuk membuat dan mewujudkan dirinya sendiri” (1). Fokus pada terjemahan dan distribusi dari Manifesto Komunis, lebih eksplisit yang “modulasi dari politik ke dalam bentuk artistik,” dan “manifesto itu pengertian tentang keakanan, sandiwara, dan performativitas … Puisi Revolusi mengungkapkan [s] bagaimana manifesto pindah dari sosialis dokumen, ke genre artistik, untuk suatu bentuk seni. ”

    http://www.brynmawr.edu/bmrcl/listing.html

    Book reviews — The Homeric Narrator by Scott Richardson
    Comparative Literature, Winter 1994 by Bassi, Karen
    The Homeric Narrator. By Scott Richardson. Ithaca: Cornell University Press, 1990. 279p.
    Scott Richardson’s purpose in The Homeric Narrator is “to examine the signs of [the Iliad and the Odyssey's narrator's] presence in the discourse, that is, to describe his habits in keeping his activity hidden and in choosing to show his hand in the fabrication of the discourse–in what ways he does so, to what degree, how frequently, and in what situations” (p. 5). His methodology is the narratology of Genette and Chatman. In particular, Genette’s study of Proust provides a “model for using narrative theory in the study of a specific text” (p. 3). The book is divided into seven chapters, each titled according to the narratological category under consideration (e.g., Summary, Pause), and an Appendix in which Richardson treats Odyssey 5.315-443 in detail.
    The reader is invited to agree that the theoretical categories which Genette proposed for Proust can elucidate Homer. In order to do this, he or she must accept the value of Genette’s method as a general practice and/or that the Iliad is somehow like the Recherche. Genette has acknowledged the problem of the general applicability of narratology’s categories of analysis.(1) But Richardson largely ignores this problem to the point of claiming that oral-formulaic studies are “peripheral” to his conclusions (he rightly contends that the possibility of dual authorship is unimportant, pp. 6-7). Here Richardson’s implicit desire to read the epics as modern novels betrays an anachronistic comparative technique whose implications he doesn’t examine. Some generic distinctions exist in terms of comparison, but Richardson’s method is to offer passages from modern novels (e.g., The French Lieutenant’s Woman, Anna Karenina, The Hobbit–and these too as if they were the products of a single cultural milieu) only to demonstrate narratological classification (e.g., summary, pause, etc.). He explains that “comparison with other narratives is essential to clarify and to illustrate the categories as well as to establish Homer’s distinctiveness as a narrator. Consequently, I shall make liberal use of examples from other narratives, largely modern, to place these most ancient of Western narratives in a broader context than classical epic” (pp. 7-8). In fact, Richardson’s method makes vague whatever he means by Homer’s “distinctiveness” and his “broader context” becomes no (or any) context. Moreover, the differences between poetic and prose texts are largely ignored. Comparison here leads to implicit assimilation and in this case the narrative voice in the epic is “unique” only insofar as it is not like that of the novel. For example, on page 201 Richardson tells us to notice that “Homer does not make use of narrative’s usual alternation between scene and summary” (emphasis added). What determines what is “usual” in narrative? The answer must be that which is common to the modern western novel–an answer which only begs the question of why the ancient Greek epic merits negative comparison with it.
    Narrative theory can be useful for Homeric studies and Richard P. Martin’s recent book, The Language of Heroes: Speech and Performance in the Iliad (Cornell, 1989) offers some informative examples. Martin takes a cross-cultural and “performance centered approach” (p. 7) to the construction of the Homeric narrator and argues that speakers of “mythoi” as a marked category in the Iliad “commit themselves to a full enactment of their words before an audience that can criticize these acts; they thus accomplish ‘performances’ of verbal art, in a manner not different from that of poets and storytellers immersed in the performance situation” (p. 47).(2) Homeric apostrophe (like recusatio pp. 223ff.), for example, is explained in terms of a “specific association between the narrator and Achilles, the focalizer of the narration”(p. 236) by which Achilles’s performance in the poem shares its technical virtuosity with that of the poem’s narrator (cf. p. 220). This shared virtuosity is then analyzed in terms of the poet’s status in an agonistic culture. In contrast, Richardson interprets apostrophes as intrusions by which “the narratee becomes an intimate of Patroklos, Menelaos, and Eumaios” (p. 174). One might conversely interpret such “intrusions” as distancing the narratee from the apostrophized character by emphasizing the narrator’s privileged position (as Martin’s analysis suggests); indeed Richardson’s own discussion of Culler (p. 174) might have led him to such a conclusion. While Martin’s judicious use of narratology situates the narrator within a cultural context, Richardson’s focused technicality often leads him to obvious, incomplete and/or contradictory conclusions. For example, he says that the numerous pauses over minor characters, e.g. androktasiai, remind us “of the humanity of those killed” (p. 46).” But the stock nature of these pauses conversely flattens out that “humanity” as each named warrior becomes a vehicle for standard elaboration.
    Richardson’s frequent insistence that the Homeric narrator only acts in a particular scene’s “best interests” is perhaps his vaguest line of argument–especially since the criteria upon which he bases his position as the arbiter of those best interests are unclear. In his discussion of the Trojan elders’ conversation about Helen (Il. 3.154-60), he concludes that “pseudo-direct” discourse is required:
    Indirect quotation or a report of their discussion would be inadequate here. It is advantageous at this point to establish Helen’s incomparable beauty and to remind us that the mass slaughter we will be seeing throughout the poem stems from this beauty. The conversation, therefore, plays an important role in the scene, but since it does not have any bearing on the plot, there is no reason to bring it up only to mention it in summary fashion. (p. 81)
    Why indirect quotation or summary would be inadequate here is not satisfactorily explained; direct quotation is presumably inadequate because the “scene would be weakened by a faithful rendering of the entire conversation” (p. 82). Perhaps this is because “three-fifths of the Homeric poems are in direct speech” (p. 70) and, consequently, direct speech is not sufficiently market in the text. But Richardson argues for the opposite conclusion: “If the scene is built around a speech or if the words are integral to a full appreciation of the scene, anything short of direct quotation would be deficient” (p. 82). In other words he implies that any scene in which spoken discourse is included (e.g., Il. 3.154-60) is strengthened (not weakened) by direct quotation. At issue here is Richardson’s reliability in determining a scene’s “best interests.” Also at issue is whether or not his understanding of a scene’s “strength” or “weakness” is rooted in a privileging of the individual voice (direct speech) over the collective voice (represented in “pseudo-direct” speech) and the implications of this privileged status for the political history of western narrative.
    More compelling is Richardson’s discussion of chronological sequencing (Chapter 4: Order). Following Zielinski’s lead in treating simultaneous events in the epic, Richardson notes that “Homer chooses to conceal his power of manipulating the temporal arrangement of events and to maintain the illusion of a steady chronological course of events” (p. 91). Richardson often presents convincing evidence of the narrator’s reluctance to overtly “manipulate” the story, although the fact that Richardson (for example) notices this “reticence” leaves open the question of what it means for the narrator to “choose” to conceal his manipulation of the story’s progression. In other words, Richardson does not differentiate between a narrator who keeps his activity hidden and one who represents himself as doing so.(3) This discussion of chronological sequencing and narrative voice invites comparison with later Greek historical writing–a comparison which would “historicize” the consequences of that choice in the context of competing modes of representing social reality.(4)
    I appreciate Richardson’s attempt to familiarize or de-classify the Homeric epic by comparing it to modern texts, but I question the price of this familiarity–especially because it relies on subsuming cultural critique under aesthetic categories. When Richardson says that Homeric similes can situate us in our “own everyday world” (p. 66) this familiarizing tendency would even convince twentieth-century postmodern Americans that archaic Greeks were essentially like us. But more to the point, and as a result of a lack of consideration for the political, social, and historical contexts of texts, Richardson’s study makes the Homeric narrator into a second-hand (or second-rate) novelist. While the book provides some useful insights into specific passages, it also disappoints. For example, the Appendix (pp. 201-07) reduces Odysseus’s difficult voyage from Kalypso’s island and encounter with Leucothea (Odyssey 5.315-443) to a list of terms (e.g., Od. 5.424 is an “appositive summary, signalling the end of the monologue”). The entry for Od. 5.321 reads: “Explanation and identification. Why could he not resurface? Because the clothes weighed him down. What clothes? The ones Kalypso had given him. The narrator does not leave it for us to figure out the cause of his problem; it is his responsibility to give us a clear understanding of the events.” Since Richardson’s purpose in the Appendix is to demonstrate that fragmentation” need not come with narratological “classification” (201) we can only conclude from these examples that it does and that charting the Homeric narrator on his narratological map leaves us adrift.
    1 See his Preface to Narrative Discourse and Narrative Discourse Revisited 11-12.
    2 I assume Martin’s book was published too late for Richardson to have seen it. Also useful is Mark Edwards, Horner, Poet of the Iliad (Baltimore and London, 1987) whose application of narratological catagories is less insistent but whose conclusions nevertheless anticipate some of Richardson’s.
    3 This important distinction was clarified for me by Harry Berger, Jr.
    4 See Hayden White, “The Value of Narrativity in the Representation of Reality,” Critical Inquiry 7 (1980). Now Chapter 1 of The Content of the Form (Johns Hopkins University Press, 1987).
    Terjemahan
    Resensi Buku – The Narator Homer oleh Scott Richardson
    Perbandingan Sastra, Musim Dingin 1994 oleh Bassi, Karen

    Narator Homer. Oleh Scott Richardson. Ithaca: Cornell University Press, 1990. 279 hal

    Tujuan Scott Richardson dalam The Narator Homer adalah “untuk memeriksa tanda-tanda dari [Iliad dan narator Kehadiran] Odyssey dalam wacana, yaitu, untuk menggambarkan kebiasaan dalam menjaga aktivitas tersembunyi dan dalam memilih untuk menunjukkan tangannya dalam pembuatan wacana – dalam hal apa ia melakukan itu, untuk apa, seberapa sering, dan dalam situasi apa “(hal. 5). metodologi-Nya adalah Kultural dari Genette dan Chatman. Secara khusus, studi Genette tentang Proust menyediakan model “untuk menggunakan teori naratif dalam studi teks tertentu” (hal. 3).
    Buku ini dibagi menjadi tujuh bab, masing-masing berjudul sesuai dengan kategori narratological sedang dipertimbangkan (misalnya, Ringkasan, Jeda), dan Lampiran yang memperlakukan Richardson Odyssey 5,315-443 secara rinci.
    Pembaca diundang untuk setuju bahwa kategori-kategori teoritis yang diusulkan untuk Genette Proust bisa menjelaskan Homer. Untuk melakukan hal ini, ia harus menerima nilai metode Genette sebagai praktek umum dan / atau bahwa Iliad bagaimanapun seperti halus. Genette telah mengakui masalah penerapan umum kategori Kultural tentang analisis (1) Tetapi. Richardson sebagian besar mengabaikan masalah ini sampai titik mengklaim bahwa studi oral-aturan yang “pinggiran” untuk kesimpulannya (ia benar berpendapat bahwa kemungkinan dual penulisnya tidak penting, hal 6-7).. Di sini keinginan implisit Richardson untuk membaca epos sebagai novel modern mengkhianati teknik komparatif anakronistik implikasi yang dia tidak memeriksa. Beberapa perbedaan generik ada dalam hal perbandingan, tetapi metode Richardson adalah menawarkan bagian dari novel modern (misalnya, Sang Letnan Prancis Perempuan, Anna Karenina, The Hobbit – dan ini juga seolah-olah mereka adalah produk dari lingkungan budaya tunggal) hanya untuk menunjukkan klasifikasi narratological (misalnya, ringkasan, berhenti, dll). Dia menjelaskan bahwa “dibandingkan dengan kisah lainnya sangat penting untuk mengklarifikasi dan mengilustrasikan kategori serta untuk membangun kekhasan Homer sebagai narator sebuah Karena itu, saya akan memanfaatkan liberal contoh dari narasi lainnya, sebagian besar modern, ke tempat ini paling kuno. Barat narasi dalam konteks yang lebih luas dari epik klasik “(hal. 7-8). Bahkan, metode Richardson membuat jelas apa pun yang dia maksudkan dengan “kekhasan Homer’s” dan “konteks yang lebih luas” menjadi tidak ada (atau konteks). Selain itu, perbedaan antara teks-teks prosa puitis dan diabaikan. Perbandingan di sini mengarah pada asimilasi implisit dan dalam hal ini suara narasi dalam epik adalah “unik” hanya sejauh yang tidak seperti itu dari novel. Misalnya, pada halaman 201 Richardson memberitahu kita untuk melihat bahwa “Homer tidak menggunakan narasi biasa pergantian di antara adegan dan ringkasan” (penekanan ditambahkan). Apakah yang menentukan apa yang “biasa” dalam cerita? Jawabannya harus bahwa yang umum untuk novel barat modern – sebuah jawaban yang hanya menimbulkan pertanyaan tentang mengapa manfaat epik Yunani kuno perbandingan negatif dengan itu.
    Narasi teori dapat berguna untuk studi Homer dan Richard P. Martin ‘buku baru, The Heroes Bahasa: Pidato dan Kinerja dalam Iliad (Cornell, 1989) menawarkan beberapa contoh informatif. Martin mengambil lintas-budaya dan “kinerja berpusat pendekatan” (hal. 7) untuk pembangunan narator Homer dan berpendapat bahwa pembicara dari “mythoi” sebagai kategori ditandai dalam Iliad “komitmen untuk suatu berlakunya penuh kata-kata mereka sebelum penonton yang dapat mengkritik tindakan; mereka sehingga mencapai ‘pertunjukan’ seni verbal, dengan cara yang tidak berbeda dengan para penyair dan pendongeng terbenam dalam situasi kinerja “(hal. 47). (2) Homer apostrof (seperti hal recusatio 223ff..), misalnya, dijelaskan dalam hal hubungan “khusus antara narator dan Achilles, yang focalizer dari narasi” (hal. 236) oleh yang Achilles’s kinerja saham puisi keahlian teknis dengan bahwa dari puisi itu (cf. narator hal 220). Bersama ini keahlian ini kemudian dianalisis dalam hal status penyair dalam budaya atletik. Sebaliknya, Richardson menafsirkan apostrof sebagai intrusi oleh yang “narasi yang menjadi intim Patroklos, Menelaos, dan Eumaios” (hal. 174). Satu sebaliknya bisa menginterpretasikan seperti “intrusi” sebagai menjauhkan narasi dari karakter apostrophized dengan menekankan posisi istimewa narator (sebagai analisis Martin menyarankan); memang diskusi sendiri Richardson dari Culler (hal. 174) mungkin membawanya pada kesimpulan semacam itu. Sementara menggunakan bijaksana Martin tentang Kultural terletak dengan narator dalam konteks budaya, teknis
    Richardson terfokus sering mengarah ke jelas, tidak lengkap dan / atau kesimpulan yang bertentangan. Misalnya, ia mengatakan bahwa berbagai karakter jeda lebih kecil, misalnya androktasiai, mengingatkan kita “dari kemanusiaan yang terbunuh” (hal. 46) “Tapi. sifat saham berhenti ini sebaliknya rata bahwa” kemanusiaan “, karena setiap prajurit bernama menjadi kendaraan untuk elaborasi standar.
    desakan sering Richardson bahwa narator Homer hanya bertindak dalam sebuah adegan tertentu yang “kepentingan terbaik” mungkin line-nya samar argumen – terutama karena kriteria di atas mana dia mendasarkan posisinya sebagai wasit dari kepentingan-kepentingan terbaik tidak jelas. Dalam pembahasannya tentang percakapan tetua Trojan ‘tentang Helen (Il. 3,154-60), ia menyimpulkan bahwa “pseudo-langsung” wacana ini:
    kutipan tidak langsung atau laporan diskusi mereka akan memadai di sini. Hal ini menguntungkan pada saat ini untuk membangun keindahan tak tertandingi Helen dan mengingatkan kita bahwa pembantaian massal kita akan melihat seluruh puisi itu berasal dari keindahan ini. Percakapan Oleh karena itu, memainkan peran penting dalam adegan itu, tetapi karena tidak ada hubungannya dengan plot, tidak ada alasan untuk membawa itu hanya menyebutkan dalam mode ringkasan. (Hal. 81)
    Kenapa tidak langsung kutipan atau ringkasan akan memadai di sini adalah tidak memuaskan dijelaskan; kutipan langsung diduga tidak memadai karena adegan “akan menjadi lemah oleh render setia seluruh percakapan” (hal. 82). Mungkin ini karena “tiga-perlima dari puisi Homer dalam pidato langsung” (hal. 70) dan, akibatnya, pidato langsung tidak cukup pasar dalam teks. Tapi Richardson berpendapat untuk kesimpulan yang berlawanan: “Jika adegan itu dibangun sekitar pidato atau jika kata-kata merupakan bagian integral dari apresiasi yang penuh adegan itu, apa pun singkat kutipan langsung akan kekurangan” (hal. 82). Dengan kata lain ia menyiratkan bahwa setiap adegan di mana wacana lisan disertakan (misalnya, Il. 3,154-60) diperkuat (tidak lemah) oleh kutipan langsung. Pada masalah di sini adalah kehandalan Richardson dalam menentukan “kepentingan adegan yang terbaik.” Juga pada masalah adalah apakah atau tidak pemahamannya tentang “kekuatan sebuah adegan” atau “kelemahan” berakar dalam mengistimewakan dari suara individu (pembicaraan langsung) atas suara kolektif (diwakili dalam “pseudo-langsung” pidato) dan implikasi dari ini status istimewa untuk narasi sejarah politik barat.
    Lebih menarik adalah diskusi Richardson sekuensing kronologis (4 Bab: Order). Setelah memimpin Zielinski dalam memperlakukan kejadian simultan dalam kisah, Richardson mencatat bahwa “Homer memilih untuk menyembunyikan kekuasaannya memanipulasi susunan temporal peristiwa dan untuk menjaga ilusi kursus mantap kronologis kejadian” (hal. 91). Richardson sering menyajikan meyakinkan bukti keengganan narator untuk terang-terangan “memanipulasi” cerita, meskipun fakta bahwa Richardson (misalnya) pemberitahuan ini keengganan “” daun membuka pertanyaan apa artinya bagi narator untuk “memilih” untuk menyembunyikan manipulasi nya terhadap pengembangan cerita. Dengan kata lain, Richardson tidak membedakan antara narator yang terus aktivitasnya tersembunyi dan satu yang mewakili dirinya sebagai melakukannya (3) diskusi ini urutan kronologis dan suara narasi mengundang perbandingan dengan kemudian menulis sejarah Yunani – perbandingan. Yang akan ” historicize “konsekuensi dari pilihan itu dalam konteks mode bersaing mewakili realitas sosial. (4)
    Saya menghargai upaya Richardson untuk membiasakan atau de-mengklasifikasikan epik Homer dengan membandingkannya dengan teks-teks modern, tapi aku pertanyaan harga keakraban ini – terutama karena hal itu bergantung pada subsuming kritik budaya bawah kategori estetika. Ketika Richardson mengatakan bahwa Homer simile dapat menempatkan kita dalam “dunia sehari-hari kita sendiri” (hal. 66) kecenderungan ini membiasakan bahkan akan meyakinkan Amerika abad kedua puluh postmodern bahwa pada dasarnya orang Yunani kuno seperti kami. Tapi lebih tepatnya, dan sebagai akibat dari kurangnya pertimbangan untuk konteks politik, sosial, dan historis dari teks, studi Richardson membuat narator Homer menjadi tangan kedua (atau kedua-rate) novelis. Sementara buku ini memberikan beberapa wawasan yang berguna dalam bagian-bagian tertentu, juga mengecewakan. Sebagai contoh, Lampiran (hal. 201-07) mengurangi perjalanan Odiseus sulit dari pulau Kalypso dan perjumpaan dengan Leucothea (Odyssey 5,315-443) untuk daftar istilah (misalnya, OD 5,424 adalah ringkasan “appositive., Menandai akhir monolog “). Entri untuk OD. 5,321 berbunyi: “Penjelasan dan identifikasi Kenapa dia tidak muncul lagi? Karena pakaian yang berat ke bawah pakaian Apa?. Kalypso Yang telah memberinya. Narator tidak meninggalkan bagi kita untuk mengetahui penyebab masalahnya;. Itu tanggung jawabnya untuk memberikan kita pemahaman yang jelas dari peristiwa. ” Karena tujuan Richardson dalam Lampiran adalah untuk menunjukkan bahwa fragmentasi “tidak perlu datang dengan narratological” klasifikasi “(201) kita hanya bisa menyimpulkan dari contoh-contoh yang yang dilakukan dan yang memetakan peta narator Homer narratological nya membuat kita terapung-apung.
    1 Lihat Kata Pengantar untuk Wacana Narasi dan Wacana Narasi Revisited 11-12.
    2 Aku menganggap buku Martin diterbitkan terlambat untuk Richardson untuk melihatnya. Juga berguna adalah Mark Edwards, Horner, Penyair dari Iliad (Baltimore dan London, 1987) yang aplikasi kategori narratological kurang mendesak tetapi kesimpulan yang tetap mengantisipasi beberapa Richardson.
    3 Perbedaan penting adalah jelas bagi saya oleh Harry Berger, Jr
    4 Lihat Hayden White, “Nilai Narrativity dalam Representasi Realitas,” Kritis Pertanyaan 7 (1980). Sekarang Bab 1 The Isi Formulir (Johns Hopkins University Press, 1987).
    Kesimpulan
    Perbandingan di sini mengarah pada asimilasi implisit dan dalam hal ini suara narasi dalam epik adalah “unik” hanya sejauh yang tidak seperti itu dari novel. Misalnya, pada halaman 201 Richardson memberitahu kita untuk melihat bahwa “Homer tidak menggunakan narasi biasa pergantian di antara adegan dan ringkasan” (penekanan ditambahkan). Apakah yang menentukan apa yang “biasa” dalam cerita? Jawabannya harus bahwa yang umum untuk novel barat modern – sebuah jawaban yang hanya menimbulkan pertanyaan tentang mengapa manfaat epik Yunani kuno perbandingan negatif dengan itu.

    http://findarticles.com/p/articles/mi_qa3612/is_199401/ai_n8717082/?tag=content;col1

  19. Nurdiana
    27/06/2010 pukul 12:50 pm

    Expression as Becoming: A Poetics of the Virtual in the works of Christian Prigent, Dominique Fourcade, Olivier Cadiot, and Hubert Lucot

    In my dissertation I show how the poems and prose of Christian Prigent, Dominique Fourcade, Olivier Cadiot, and Hubert Lucot form an important, radicalised moment of French literary modernity. This is the first study of these authors in English. I look at how their poetry and prose determine subjectivity and identity as contingent and transient process rather than as substance or nature. This contention requires a reflection on the question of time and on how it has informed French modernity since Baudelaire gave substance to this notion.
    To that end, I assess the key concepts of Gilles Deleuze’s ontological constructivism (multiplicity, becoming, line, arrangement, rhizome, de- and re-territorialisation) and I show how Deleuze’s theory of expression locates literature in a semiotics (a theory of signs in general) rather than in a semiology (a theory of linguistic signs in particular). In addition, I establish how Deleuzian semiotics is structured around the play of the virtual and the becoming. Whilst the virtual is the infinite of meaning, the becoming – or actualisation – is the specific yet precarious forms that meaning takes. The virtual hence presupposes a non-chronological temporality that Deleuze, after Nietzsche, calls Aiôn or the Aiônic, and in which the infinite of meaning insists or persists in actual forms.
    From this theoretical standpoint, I single out the crucial notions of percepts and affects which differ respectively from those of perception and affection in that they are impersonal, that is to say autonomised from the human, biographic, substratum in which they first appear. They are pure sensations exceeding any lived experience and memory. Affects relate to the non-human becomings of man when percepts are made of the non-human landscapes of nature, making those who experience them sensitive to the forces of becoming.
    By a complex labour on language transforming signifiers into affects and percepts, creative literature is then defined as that which frees (or de-territorialises) meaning from preset signifieds and thus reveals the power of the virtual which usually remains over-shadowed in conventional uses of language. I argue that such a complex labour on language is nothing else than literary style, which I define as the ability to grasp Life amongst the living – i.e., percepts – and to produce unknown, impersonal becomings – i.e., affects – rather than to narrate one’s personal feelings or deeds. Far from being a specific essence, literature is just the most intense use of language (materialistic rather than spiritualist definition of literature). Identifying affects and percepts in the specific formal features of literary texts and studying their forces thus constitutes the core of the Deleuzian criticism of literature that I put forward and that I call a poetics of the virtual.
    I then look at the writings of my four authors. The poetic writings of Christian Prigent and Dominique Fourcade present a productivist subjectivity by addressing the body, contingency, and language inrelation to the theme of desire.
    Olivier Cadiot’s and Hubert Lucot’s narratives tell the evolution of a subjectivity that, instead of being fixed and rigid, always remains in process. These critical objectives are achieved by close readings isolating the features of style, semantics, and syntax that destructure subjectivity and identity into a non-personal writing.
    Studying these different writings together has allowed me to explore the general pertinence of the poetics of the virtual as critical paradigm and it has substantiated my overall argument by confronting it to a diversity of styles – the constructivist and non-chronological aspect of the real, of subjectivity, of meaning itself can only be apprehended in the interior movement of a text. In a genealogical approach, I argue that these four writers re-contextualise the key questions of modernity – the present as mix of pure past and contingent new – by exposing the constructibility of being and history via affects and percepts arranged in semantic andsyntactic inventions.
    In conclusion, contemporary French literature presents subjectivity and identity as a pure productivism and such a determination takes part in a new political radicalism. The originality of my thesis lies in its ability to relate contemporary – and previously unstudied – texts to a major philosophy of modernity, so as to show how part of contemporary literature is an original radicalisation of the key-elements of literary modernity whose political implications are far-reaching.

    Terjemahan

    Ungkapan kelayakan: Puisi Virtual dalam karya Christian Prigent, Dominique Fourcade, Olivier Cadiot, and Hubert Lucot
    Dalam disertasi saya, saya menunjukkan bagaimana puisi dan prosa Christian Prigent, Dominique Fourcade, Olivier Cadiot, dan Hubert Lucot merupakan sesuatu yang penting, radikal modernitas sastra Perancis. Ini adalah studi pertama dari penulis ini dalam bahasa Inggris. Aku melihat bagaimana puisi mereka dan prosa menentukan subjektivitas dan identitas sebagai proses kontinjensi dan sementara daripada sebagai zat atau alam. Pendapat ini membutuhkan refleksi mengenai masalah waktu dan bagaimana ia telah menginformasikan modernitas Prancis sejak Baudelaire memberi substansi pada gagasan ini.
    Untuk itu, saya menilai konsep-konsep kunci dari konstruktivisme ontologis Gilles Deleuze’s (keragaman, layak, baris, pengaturan, rimpang, de-dan re-territorialisation) dan saya menunjukkan bagaimana teori ekspresi Deleuze dalam menempatkan sastra di suatu semiotika (teori tanda secara umum), bukan dalam semiologi (teori tanda linguistik pada khususnya). Selain itu, saya menetapkan bagaimana Deleuzian semiotika disusun berdasarkan permainan virtual dan kelayakan. Sementara virtual adalah tak terbatas makna, kelayakan – atau aktualisasi – adalah bentuk-bentuk khusus belum genting yang artinya membutuhkan. Virtual mengandaikan suatu temporalitas non-kronologis yang Deleuze, setelah Nietzsche, panggilan Aiôn atau Aiônic, dan di mana tak terbatas makna tegas atau berkelanjutan dalam bentuk yang sebenarnya.
    Dari sudut pandang teoretis, saya memilih konsep-konsep penting dari persepsi dan pengaruh masing-masing yang berbeda dari persepsi dan kasih sayang bahwa mereka impersonal, artinya autonomised dari manusia, biografi, substratum di mana mereka pertama kali muncul. Mereka murni melebihi sensasi pengalaman hidup dan memori. Pengaruh berhubungan dengan non-manusia menjadi manusia ketika persepsi terbuat dari pemandangan yang non-manusia alam, membuat orang-orang yang yang mengalaminya sensitif terhadap kekuatan yang datang.
    Dengan tenaga kerja yang kompleks pada bahasa penanda berubah menjadi mempengaruhi dan persepsi, sastra kreatif kemudian didefinisikan sebagai yang membebaskan (atau de-territorialises) makna dari signifieds preset dan dengan demikian mengungkapkan kekuatan virtual yang biasanya tetap selama-gelap dalam menggunakan konvensional bahasa. Saya berpendapat bahwa seperti tenaga kerja yang kompleks pada bahasa tidak lain dari gaya sastra, yang saya definisikan sebagai kemampuan untuk memahami Hidup di antara hidup – yaitu, persepsi – dan untuk menghasilkan diketahui, becomings impersonal – yakni, mempengaruhi – bukan untuk menceritakan seseorang perasaan pribadi atau perbuatan. Jauh dari menjadi esensi tertentu, sastra adalah penggunaan bahasa yang paling intens (definisi materialistis spiritualis daripada sastra). Mengidentifikasi mempengaruhi dan persepsi dalam fitur formal khusus teks sastra dan mempelajari kekuatan mereka sehingga merupakan inti dari Deleuzian kritik sastra yang
    saya diajukan dan yang saya sebut puisi virtual.
    Saya kemudian melihat tulisan-tulisan keempat penulis. Tulisan-tulisan puitis Christian Prigent dan Dominique Fourcade menyajikan subjektivitas productivist dengan mengatasi tubuh, kontingensi, dan inrelation bahasa dengan tema keinginan.
    Olivier Cadiot dan narasi Hubert Lucot memberitahukan evolusi dari subjektivitas itu, bukannya tetap dan kaku, selalu masih dalam proses. Tujuan-tujuan penting yang dicapai oleh pembacaan dekat mengisolasi fitur gaya, semantik, dan sintaks yang destructure subjektivitas dan identitas ke dalam tulisan non-pribadi.
    Mempelajari tulisan-tulisan yang berbeda bersama telah memungkinkan saya untuk menjelajahi kejituan umum puisi paradigma virtual kritis dan memiliki argumen saya secara keseluruhan didukung oleh menghadapinya dengan keragaman gaya – yang konstruktivis dan aspek non-kronologis yang nyata, dari subjektivitas, makna itu sendiri hanya dapat ditangkap dalam gerakan interior teks. Dalam pendekatan silsilah, saya berpendapat bahwa keempat penulis contextualise kembali pertanyaan-pertanyaan kunci dari modernitas – sekarang sebagai campuran murni baru dan kontinjensi – oleh mengekspos kelayakan constructibility dan sejarah melalui pengaruh dan persepsiyang diatur dalam penemuan andsyntactic semantik.
    Sebagai kesimpulan, sastra Prancis kontemporer menyajikan subjektivitas dan identitas sebagai productivism murni dan tekad seperti mengambil bagian dalam sebuah radikalisme politik baru. Keaslian tesis saya terletak pada kemampuannya untuk menghubungkan kontemporer – dan sebelumnya tidak dipelajari – teks ke filosofi utama dari modernitas, sehingga untuk menunjukkan bagaimana bagian dari sastra kontemporer adalah radikalisasi asli-elemen kunci dari modernitas politik sastra yang implikasinya jauh jangkauannya.

    Kesimpulan

    Sastra Prancis kontemporer menyajikan subjektivitas dan identitas sebagai productivism murni dan tekad seperti mengambil bagian dalam sebuah radikalisme politik baru. Pada abstrak tesis ini dijelaskan bahwa yangh dilakukan penulis adalah menghubungkan kontemporer – dan sebelumnya tidak dipelajari – teks ke filosofi utama dari modernitas, sehingga untuk menunjukkan bagaimana bagian dari sastra kontemporer adalah radikalisasi asli-elemen kunci dari modernitas politik sastra yang implikasinya jauh jangkauannya.
    Penulis, dalam hal ini pembuat tesis, berusaha membandingkan tulisan-tulisan puitis Christian Prigent dan Dominique Fourcade yang menyajikan subjektivitas productivist dengan mengatasi tubuh, kontingensi, dan inrelation bahasa dengan tema keinginan dengan tulisan-tulisan puitis Olivier Cadiot dan narasi Hubert Lucot yang memberitahukan evolusi dari subjektivitas itu, bukannya tetap dan kaku, selalu masih dalam proses. Pisau bedah yang digunakannya dalam memebandingkan tulisan-tulisan/ puisi keempat tokoh tersebut adalah kosep pengaruh dan teori ekspresi Deleuze.

    http://www.ucl.ac.uk/mellon-program/fellows/jerome/abstract.shtml

    Jurnal

    Bryn Mawr Review of Comparative Literature
    Volume 7, Number 1 (Fall 2008)

    TABLE OF CONTENTS

    This issue opens with Carlo Salzani’s review essay on Samuel Weber’s book on Walter Benjamin. Salzani finds Benjamin’s -abilities “brilliantly textual” in the close attention it pays both to Benjamin’s language (the German text and “the problems and inconsistencies of the English translation”) and to his theory of language. As Salzani notes, Weber analyzes Benjamin’s marked “tendency to form concepts by recourse to the suffix barkeit” (4) [which in English can be written either -ibility or -ability] “as the sign of a deeper connection between the linguistic constructions and Benjamin’s mode of philosophizing.”
    A term like iterability becomes crucial in delineating Benjamin’s resistance to hierarchical oppositions, most notably to subordinating possibility to actuality. For Weber, Benjamin’s nominalizations offer a concept of the virtual, “inseparable from time insofar as it involves an ongoing, ever-unfinished, and unpredictable process” (7). While in Benjamin’s own estimation, texts had to be understood not only in the context of their own time but also in their transformation and continual reworking in the constellation with our present, Weber’s re-reading of Benjamin’s writing as a permanence or reiteration of virtuality is problematic, Salzani contends. That is, it appears to stress the impossibility to translate, to interpret, and read at the expense of Benjamin’s own outline of a methodology for reading his work and of his emphasis on actuality and actualization. In Salzani’s view, Benjamin’s method is not static in its effort to reach for coherence. Rather, it “almost prescribes a reading that will be polarized by,” and “put into a constellation with our present.” Further, “[a]s a cultural artefact, it asks to be violated and read against the grain of its time and our own and thus re-inscribed in new practices, re-assembled and re-made always anew.”
    A second review essay in this issue also focuses on how translation and theories of language and textuality matter for an understanding of history and the historical work’s transformation and continued life in the constellation with our present. As Jon Solomon’s review suggests, The Clash of Empires is noteworthy not only for its reading of British-Chinese international relations, but for its presentation of the ways in which semiotic theory deepens our understanding of colonialism, post-colonialism, international law, feminism, comparative grammar and (in a coda) the imperial throne, in place or looted, as fetish. The key to Liu’s approach to British-Chinese relations lies largely in Peirce’s semiotic theory. Liu’s historically grounded argument links semiotics to “the novel military technology of telegraphic communication in the second half of the nineteenth century.” Liu’s reading of empire provides “theoretical and historical grids . . . [for] the issues of intersubjectivity [and foreignness], indexicality, and violence in the light of work” by Peirce, Foucault, Bataille, and other theorists.
    For Liu as well, the dramatized “first encounter” of Defoe’s Robinson Crusoe with Friday, in which deixis and indexicality — Crusoe’s pointing finger extends to his gun — represent a “familiar ritual of subjugation and fetishism in the European imagining of first encounter.” This episode helps advance Liu’s argument to the “clash” symbolized in “the translation of the written Chinese character “yi” at the time of the Opium War.” Did “yi” mean “foreigner”? “barbarian”? “stranger”? “non-Chinese”? The British believed that the Chinese character pronounced “yi” meant “barbarian” — despite the Greek etymology of the latter term — that it was directed at them, and therefore ensured that it was banned in two separate articles of the Treaty of Tianjin of 1858. As Liu writes, “A good deal is at stake when it comes to identifying the ‘true barbarian’ for civilization. The stakes rise higher with the scandal of the word “yi” because its enunciation issues forth from the language of a non-European society which is regarded as less than civilized by the British. In other words, the Chinese character “yi” appears to have thrown the barbarian back onto civilization itself and turned into its double and mirror image.”
    In this imperial encounter, we see the creation of a tripartite super-sign, the parts separated by slashes: 夷/”yi”/barbarian. Liu regards this as a “linguistic monstrosity,” a “hetero-cultural signifying chain, a fantastic hybrid of translated concepts.” From the realm of positive signs,” we have been transported — or translated — “into the realm of enchanted meanings, excesses of signification,” and more.
    Reviews of three texts in this issue mark the persistent interest in the liminal quality of experience and artifacts, situated at the border between human and nonhuman. As Dorian Stuber writes in his review of Daniel Heller-Roazen’s Echolalias: On the Forgetting of Language and The Inner Touch: Archaeology of a Sensation, “[t]ogether they explore the relation of rationality to its excess, where rationality is defined as the conjunction of language and consciousness, and … excess is …whatever troubles, undoes, and yet grounds that rationality.” In Echolalias “excess inheres at the pre-verbal borders of language; in The Inner Touch excess inheres in … the sense common to all beings that allows them to feel themselves as sensing and thus as living.”
    Daniel Nisa Cáceres situates Elaine Freedgood’s The Ideas in Things within the now expansive field of object studies or thing theory, an interdisciplinary body of work that continues to test the rigid border between people and things that has guided much of Western culture. Invoking Bill Brown’s A Sense of Things: The Object Matter of American Literature (2003) (and Gustavus Stadler’s review of that text in Volume 5, Number 1 [Spring 2005] of BMRCL), Cáceres illuminates how Freedgood “retrieves the cultural, historical, social and material qualities” of “seemingly unimportant objects of consumption.” For Cáceres, Freedgood performs a “strong metonymic” reading of manufactured goods (evoked in Jane Eyre, Mary Barton and Great Expectations) “by taking a literary thing literally and relying on ‘mediations'” — “those of historians of textiles and tobacco, of forestry and furniture” (5) — that can illuminate [a thing's] past.” As such, her study eschews “the routinized literary figuration that precludes the interpretation of most things of realism” (5), and underscores how things are not “indentured to a metaphorical relation in which they must give up most of their qualities in the service of a symbolic relation” (10).
    Martin Seel’s Aesthetics of Appearing offers a meditation on the liminal encounters that inform our experience of objects, surroundings, people, and atmospheres. Even if, as Mario Wenning notes, Seel’s work departs from studies that are wary of searches for the “essence of art and aesthetic experience,” aesthetic appearing nonetheless underscores provisional borders and relations: “[it] enables us with the awareness of the ephemeral nature of reality and our place in this reality.” An awareness of reality and our place in it raises profound ethical and political questions. Although, for Wenning, Seel does not explore these as directly and fully as he might, such questions emerge persistently, especially when Seel argues that the meaning of the violence that occurs, for instance, between a perpetrator and victim “cannot be understood independently of the additional position of … spectators” (188) (since such acts “are often committed with the perspective of a present or absent spectator in mind”).
    As Megan Craig notes, “[a]lthough the title” of R. Clifton Spargo’s Vigilant Memory: Emmanuel Levinas, the Holocaust, and the Unjust Death “suggests it is a study of Levinas in light of the Holocaust, it is also a multifaceted defense and critique of Levinas, a response to Alain Badiou’s criticism of Levinas’s ethics as apolitical, a warning against the “fallacies of Western democratic culture…” (120). Vigilant Memory squarely aims “to test the viability and the limits of Levinasian ethics in the twenty-first century and to ask “in what sense an ethics would be said to have force in a political world” (18).
    Two texts reviewed in this issue demonstrate the importance of understanding genre or specific genres in broad terms. For Gregory Byala, Martin Puchner’s Poetry of the Revolution: Marx, Manifestoes and the Avant-Garde presents a highly original examination of the formidable influence that The Communist Manifesto exerted on the shape of modern art. As Puchner describes it, Marx and Engels developed the form “that would help revolutionary modernity to know itself, to arrive at itself, to make and to manifest itself” (1). Focusing on the translation and distribution of The Communist Manifesto, its more explicit “modulation from political into artistic form,” and the manifesto’s “notions of futurity, theatricality, and performativity … Poetry of the Revolution reveal[s] how the manifesto moved from a socialist document, to an artistic genre, to a form of art.”
    As Byala points out, analyzing a seminal political work in terms of a category — genre — that it was perhaps thought to transcend allows Puchner to chart the expansive artistic influence of The Manifesto. Rita Felski’s collection of essays, Rethinking Tragedy, likewise exhibits an understanding of genre that eschews “rigid taxonomies.” As Verna Foster notes, while Felski’s collection “retains a sense of the aesthetic form that contains and shapes the tragic as experience,” the more inclusive concept of “mode” allows the essays to address the tragic as both a philosophical idea and a component of many contemporary art forms and fields. As such, the collection moves beyond the conventional constraints of many studies to consider the persistence of the tragic in contemporary expression and in forms and fields other than drama — namely, film, popular culture, philosophy, and politics.
    In this issue, we append a list of Books Received in 2008. We would be glad to hear from readers interested in reviewing any of them.

    Terjemahan

    Bryn Mawr
    Resensi Sastra Bandingan
    Volume 7, Nomor 1 (Fall 2008)

    Indeks

    Masalah ini dibuka dengan resensi esai Carlo Salzani di buku Samuel Weber pada Walter Benjamin. Salzani-Benjamin menemukan kemampuan “brilian tekstual” dalam ketelitian perhatiannya mengamati kedua-duanya bahasa Benjamin (teks Jerman dan “masalah dan inkonsistensi dari terjemahan bahasa Inggris”) dan teori bahasa. Sebagai catatan Salzani, Weber meneliti penanda Benjamin yakni “kecenderungan untuk membentuk konsep dengan jalan lain untuk barkeit akhiran” (4) [yang dalam bahasa Inggris dapat ditulis baik-ibility atau kemampuan] “sebagai tanda hubungan yang lebih dalam antara konstruksi linguistik dan cara berfilsafat Benjamin. ”
    Sebuah istilah seperti iterability menjadi penting dalam melukiskan perlawanan Benjamin untuk oposisi hierarkis, terutama untuk mensubordinasi kemungkinan aktualitas. Bagi Weber, nominalizations Benjamin menawarkan konsep virtual, “tak terpisahkan dari waktu sejauh yang melibatkan, berkelanjutan terus yang belum selesai, dan proses tidak terduga” (7). Sementara di estimasi sendiri Benjamin, teks harus dipahami tidak hanya dalam konteks waktu mereka sendiri tetapi juga dalam perubahan mereka dan mengerjakan ulang terus menerus dalam konstelasi dengan kami saat ini, kembali Weber-membaca tulisan Benjamin sebagai keabadian atau pengulangan virtuality adalah bermasalah, Salzani berpendapat. Itulah, tampaknya menekankan ketidakmungkinan untuk menerjemahkan, menafsirkan, dan membaca dengan mengorbankan garis Benjamin sendiri metodologi untuk membaca karyanya dan penekanannya pada aktualitas dan aktualisasi. Dalam pandangan Salzani’s, metode Benjamin tidak statis dalam upaya untuk meraih koherensi. Sebaliknya, itu “hampir menganjurkan membaca yang akan terpolarisasi oleh,” dan “dimasukkan ke dalam konstelasi dengan kita sekarang.” Lebih jauh, “[sebuah artefak sa] budaya, ia meminta untuk dilanggar dan membaca terhadap butir waktu dan kita sendiri dan dengan demikian kembali tertulis dalam praktek baru, kembali berkumpul dan kembali dibuat selalu baru.”
    Sebuah resensi esai kedua dalam edisi ini juga berfokus pada bagaimana terjemahan dan teori bahasa dan materi tekstualitas untuk memahami sejarah dan transformasi karya sejarah dan hidup terus di rasi dengan kita sekarang. Sebagai review Jon Salomo menunjukkan, The Clash of Empires dicatat tidak hanya untuk membaca dengan hubungan internasional Inggris-Cina, namun untuk presentasi dengan cara di mana teori semiotik memperdalam pemahaman kita tentang kolonialisme, pasca-kolonialisme, hukum internasional, feminisme, perbandingan tata bahasa dan (dalam koda a) tahta kekaisaran, di tempat atau dijarah, sebagai jimat. Kunci untuk pendekatan Liu untuk hubungan Inggris-Cina terletak sebagian besar dalam teori semiotik Peirce. Liu historis didasarkan link semiotika argumen untuk “teknologi komunikasi militer novel telegraphic pada paruh kedua abad kesembilan belas.” Liu membaca kerajaan menyediakan “grid teoritis dan sejarah… [untuk] masalah [intersubjektivitas dan] keasingan, indexicality, dan kekerasan dalam terang pekerjaan” oleh Peirce, Foucault, Bataille, dan teoretikus lain.
    Untuk Liu juga, yang “mendramatisir pertemuan pertama” dari Defoe, Robinson Crusoe dengan Jumat, di mana deixis dan indexicality – jari menunjuk Crusoe meluas ke pistolnya – merupakan ritual “akrab penaklukan dan fetisisme di Eropa membayangkan pertemuan pertama . ” Episode ini membantu muka Liu argumen untuk “benturan” yang disimbolkan dalam “terjemahan dari karakter Cina tertulis” yi “pada saat Perang Opium.” Apakah “yi” berarti “asing”? “Barbar”? “Asing”? “Non-Cina”? Inggris percaya bahwa karakter Cina diucapkan “yi” berarti “barbar” – meskipun etimologi Yunani istilah terakhir – bahwa itu ditujukan pada mereka, dan karena itu memastikan bahwa itu dilarang di dua artikel terpisah dari Perjanjian Tianjin dari 1858. Saat Liu menulis, “Sebuah banyak yang dipertaruhkan ketika datang untuk mengidentifikasi ‘barbar benar’ untuk peradaban. Taruhannya meningkat lebih tinggi dengan skandal kata” yi “karena ucapan yang keluar dari isu-isu bahasa non-Eropa masyarakat yang dianggap kurang beradab oleh Inggris. Dengan kata lain, karakter Cina “yi” tampaknya telah dibuang kembali ke peradaban barbar itu sendiri dan berubah menjadi perusahaan ganda dan citra cermin. ”
    Dalam pertemuan kekaisaran, kita melihat penciptaan tanda-super tripartit, bagian-bagian yang dipisahkan dengan garis miring: 夷 / “yi” / barbar. Liu menganggap ini sebagai barang ganjil “linguistik,” rantai “yang menunjukkan hetero-budaya, hibrida fantastis konsep diterjemahkan.” Dari alam tanda-tanda positif, “kita telah diangkut – atau diterjemahkan -” ke dalam bidang makna terpesona, ekses signifikansi, “dan banyak lagi.
    Ulasan dari tiga teks dalam tanda ini masalah kepentingan terus-menerus dalam kualitas liminal pengalaman dan artefak, terletak di perbatasan antara manusia dan bukan manusia. Sebagai Dorian Stuber menulis dalam tinjauannya tentang Daniel Heller-Roazen’s Echolalias: Di Melupakan Bahasa dan The Touch batin: Arkeologi dari Sensasi, “[t] ogether mereka mengeksplorasi hubungan rasionalitas untuk kelebihan, di mana rasionalitas didefinisikan sebagai gabungan dari bahasa dan kesadaran, dan … kelebihan … alasan apa pun masalah, Membatalkan, namun rasionalitas itu. ” Dalam Echolalias “kelebihan melekat di perbatasan pra-verbal bahasa; dalam The Touch melekat batin kelebihan … pengertian umum untuk semua makhluk yang memungkinkan mereka untuk merasa diri mereka sebagai sensing dan dengan demikian sebagai hidup.”
    Nisa Daniel Cáceres terletak dengan Elaine Freedgood Ide di The Things dalam bidang studi sekarang luas objek atau hal teori, sebuah badan interdisipliner kerja yang terus menguji batas kaku antara orang dan hal-hal yang telah menuntun banyak budaya Barat. A Sense Meminjam Bill Brown of Things: The Matter Objek Sastra Amerika (2003) (dan review Gustavus Stadler tentang bahwa teks dalam Volume 5, Nomor 1 [Spring 2005] dari BMRCL), Cáceres menerangi bagaimana Freedgood “mengambil budaya, sejarah, sosial dan bahan kualitas “dari” objek konsumsi tampaknya tidak penting. ” Untuk Cáceres, Freedgood melakukan sebuah “kuat metonimis” membaca pokok produksi (muncul dalam Jane Eyre, Mary Barton dan Great Expectations) “dengan mengambil hal sastra secara harfiah dan mengandalkan ‘” mediasi “-” orang-orang sejarawan tekstil dan tembakau , kehutanan dan furnitur “(5) – yang dapat menerangi [masa lalu] suatu hal yang” Sebagai. seperti, studinya eschews “figurasi sastra rutin yang menghalangi interpretasi dari hal yang paling realisme” (5), dan garis bawah bagaimana hal-hal tidak “diwajibkan untuk hubungan metafora di mana mereka harus memberikan sebagian besar kualitas mereka dalam pelayanan hubungan simbolik” (10).
    Martin membutakan’s Estetika dari tampil menawarkan meditasi pada pertemuan liminal yang menginformasikan pengalaman kita tentang benda, lingkungan, orang, dan atmosfer. Bahkan jika, sebagai catatan Mario Wenning, membutakan pekerjaan berangkat dari studi yang waspada mencari esensi “seni dan estetika pengalaman,” muncul estetika tetap menekankan batas sementara dan hubungan: “[itu] memungkinkan kita dengan kesadaran singkat sifat realitas dan tempat kita di realitas ini. ” Sebuah kesadaran akan realitas dan tempat kita di dalamnya menimbulkan pertanyaan etis dan politik yang mendalam. Meskipun, untuk Wenning, menutup mata tidak mengeksplorasi ini sebagai secara langsung dan sepenuhnya sebagai dia mungkin, pertanyaan tersebut muncul terus-menerus, terutama ketika membutakan berpendapat bahwa arti dari kekerasan yang terjadi, misalnya, antara pelaku dan korban “tidak dapat dipahami secara terpisah dari posisi tambahan … penonton “(188) (karena tindakan seperti” sering dilakukan dengan perspektif hadiah atau tidak ada penonton dalam pikiran “).
    Sebagai catatan Megan Craig, “[sebuah lthough] judul” Memori waspada R. Clifton Spargo’s: Emmanuel Levinas, Holocaust, dan Kematian yang tidak jujur “menunjukkan itu adalah studi tentang Levinas dalam terang dari Holocaust, juga merupakan segi pertahanan dan kritik terhadap Levinas, respon terhadap kritik Alain Badiou tentang etika Levinas sebagai apolitis, peringatan terhadap “kesalahan-kesalahan dari budaya demokrasi Barat …” (120) waspada Memori. jujur bertujuan “untuk menguji kelayakan dan batas-batas etika Levinasian di abad ke dua puluh satu dan bertanya “dalam arti apa etika akan dikatakan telah berlaku di dunia politik” (18).
    Dua teks dibahas dalam edisi ini menunjukkan pentingnya pemahaman genre atau genre tertentu dalam arti luas. Untuk Gregory Byala, Puisi Martin Puchner tentang Revolusi: Marx, Manifesto dan Avant-Garde menyajikan ujian yang sangat asli dari pengaruh hebat yang Manifesto Komunis diberikan pada bentuk seni rupa modern. Sebagai Puchner menjelaskan itu, Marx dan Engels mengembangkan bentuk “yang akan membantu modernitas revolusioner untuk mengenal dirinya sendiri, untuk sampai pada dirinya sendiri, untuk membuat dan mewujudkan dirinya sendiri” (1). Fokus pada terjemahan dan distribusi dari Manifesto Komunis, lebih eksplisit yang “modulasi dari politik ke dalam bentuk artistik,” dan “manifesto itu pengertian tentang keakanan, sandiwara, dan performativitas … Puisi Revolusi mengungkapkan [s] bagaimana manifesto pindah dari sosialis dokumen, ke genre artistik, untuk suatu bentuk seni. ”
    Byala menunjukkan, menganalisis karya politik yang berkembang dalam hal kategori – genre – bahwa mungkin berpikir untuk mengatasi kemungkinan Puchner untuk bagan pengaruh artistik ekspansif Manifesto. koleksi esai Rita Felski, Rethinking Tragedi, pameran juga pemahaman dari genre yang eschews “taksonomi kaku.” Sebagai Verna Foster catatan, sementara koleksi Felski’s “mempertahankan rasa bentuk estetika yang mengandung dan membentuk tragis sebagai pengalaman,” konsep yang lebih inklusif “mode” memungkinkan esai ke alamat yang tragis baik sebagai ide filosofis dan komponen banyak bentuk seni kontemporer dan ladang. Dengan demikian, koleksi bergerak di luar batasan konvensional banyak studi untuk mempertimbangkan kegigihan dari tragis dalam ekspresi kontemporer dan dalam bentuk dan bidang lain dari drama – yaitu, film, budaya populer, filsafat, dan politik.
    Dalam edisi ini, kami tambahkan daftar Buku yang diterima di tahun 2008. Kami akan senang mendengar ada pembaca yang tertarik meresensi salah satu dari mereka.

    Kesimpulan

    Dua teks dibahas dalam edisi ini menunjukkan pentingnya pemahaman genre atau genre tertentu dalam arti luas. Untuk Gregory Byala, Puisi Martin Puchner tentang Revolusi: Marx, Manifesto dan Avant-Garde menyajikan ujian yang sangat asli dari pengaruh hebat yang Manifesto Komunis diberikan pada bentuk seni rupa modern. Sebagai Puchner menjelaskan itu, Marx dan Engels mengembangkan bentuk “yang akan membantu modernitas revolusioner untuk mengenal dirinya sendiri, untuk sampai pada dirinya sendiri, untuk membuat dan mewujudkan dirinya sendiri” (1). Fokus pada terjemahan dan distribusi dari Manifesto Komunis, lebih eksplisit yang “modulasi dari politik ke dalam bentuk artistik,” dan “manifesto itu pengertian tentang keakanan, sandiwara, dan performativitas … Puisi Revolusi mengungkapkan [s] bagaimana manifesto pindah dari sosialis dokumen, ke genre artistik, untuk suatu bentuk seni. ”

    http://www.brynmawr.edu/bmrcl/listing.html

    Book reviews — The Homeric Narrator by Scott Richardson
    Comparative Literature, Winter 1994 by Bassi, Karen
    The Homeric Narrator. By Scott Richardson. Ithaca: Cornell University Press, 1990. 279p.

    Scott Richardson’s purpose in The Homeric Narrator is “to examine the signs of [the Iliad and the Odyssey's narrator's] presence in the discourse, that is, to describe his habits in keeping his activity hidden and in choosing to show his hand in the fabrication of the discourse–in what ways he does so, to what degree, how frequently, and in what situations” (p. 5). His methodology is the narratology of Genette and Chatman. In particular, Genette’s study of Proust provides a “model for using narrative theory in the study of a specific text” (p. 3). The book is divided into seven chapters, each titled according to the narratological category under consideration (e.g., Summary, Pause), and an Appendix in which Richardson treats Odyssey 5.315-443 in detail.
    The reader is invited to agree that the theoretical categories which Genette proposed for Proust can elucidate Homer. In order to do this, he or she must accept the value of Genette’s method as a general practice and/or that the Iliad is somehow like the Recherche. Genette has acknowledged the problem of the general applicability of narratology’s categories of analysis.(1) But Richardson largely ignores this problem to the point of claiming that oral-formulaic studies are “peripheral” to his conclusions (he rightly contends that the possibility of dual authorship is unimportant, pp. 6-7). Here Richardson’s implicit desire to read the epics as modern novels betrays an anachronistic comparative technique whose implications he doesn’t examine. Some generic distinctions exist in terms of comparison, but Richardson’s method is to offer passages from modern novels (e.g., The French Lieutenant’s Woman, Anna Karenina, The Hobbit–and these too as if they were the products of a single cultural milieu) only to demonstrate narratological classification (e.g., summary, pause, etc.). He explains that “comparison with other narratives is essential to clarify and to illustrate the categories as well as to establish Homer’s distinctiveness as a narrator. Consequently, I shall make liberal use of examples from other narratives, largely modern, to place these most ancient of Western narratives in a broader context than classical epic” (pp. 7-8). In fact, Richardson’s method makes vague whatever he means by Homer’s “distinctiveness” and his “broader context” becomes no (or any) context. Moreover, the differences between poetic and prose texts are largely ignored. Comparison here leads to implicit assimilation and in this case the narrative voice in the epic is “unique” only insofar as it is not like that of the novel. For example, on page 201 Richardson tells us to notice that “Homer does not make use of narrative’s usual alternation between scene and summary” (emphasis added). What determines what is “usual” in narrative? The answer must be that which is common to the modern western novel–an answer which only begs the question of why the ancient Greek epic merits negative comparison with it.
    Narrative theory can be useful for Homeric studies and Richard P. Martin’s recent book, The Language of Heroes: Speech and Performance in the Iliad (Cornell, 1989) offers some informative examples. Martin takes a cross-cultural and “performance centered approach” (p. 7) to the construction of the Homeric narrator and argues that speakers of “mythoi” as a marked category in the Iliad “commit themselves to a full enactment of their words before an audience that can criticize these acts; they thus accomplish ‘performances’ of verbal art, in a manner not different from that of poets and storytellers immersed in the performance situation” (p. 47).(2) Homeric apostrophe (like recusatio pp. 223ff.), for example, is explained in terms of a “specific association between the narrator and Achilles, the focalizer of the narration”(p. 236) by which Achilles’s performance in the poem shares its technical virtuosity with that of the poem’s narrator (cf. p. 220). This shared virtuosity is then analyzed in terms of the poet’s status in an agonistic culture. In contrast, Richardson interprets apostrophes as intrusions by which “the narratee becomes an intimate of Patroklos, Menelaos, and Eumaios” (p. 174). One might conversely interpret such “intrusions” as distancing the narratee from the apostrophized character by emphasizing the narrator’s privileged position (as Martin’s analysis suggests); indeed Richardson’s own discussion of Culler (p. 174) might have led him to such a conclusion. While Martin’s judicious use of narratology situates the narrator within a cultural context, Richardson’s focused technicality often leads him to obvious, incomplete and/or contradictory conclusions. For example, he says that the numerous pauses over minor characters, e.g. androktasiai, remind us “of the humanity of those killed” (p. 46).” But the stock nature of these pauses conversely flattens out that “humanity” as each named warrior becomes a vehicle for standard elaboration.
    Richardson’s frequent insistence that the Homeric narrator only acts in a particular scene’s “best interests” is perhaps his vaguest line of argument–especially since the criteria upon which he bases his position as the arbiter of those best interests are unclear. In his discussion of the Trojan elders’ conversation about Helen (Il. 3.154-60), he concludes that “pseudo-direct” discourse is required:
    Indirect quotation or a report of their discussion would be inadequate here. It is advantageous at this point to establish Helen’s incomparable beauty and to remind us that the mass slaughter we will be seeing throughout the poem stems from this beauty. The conversation, therefore, plays an important role in the scene, but since it does not have any bearing on the plot, there is no reason to bring it up only to mention it in summary fashion. (p. 81)
    Why indirect quotation or summary would be inadequate here is not satisfactorily explained; direct quotation is presumably inadequate because the “scene would be weakened by a faithful rendering of the entire conversation” (p. 82). Perhaps this is because “three-fifths of the Homeric poems are in direct speech” (p. 70) and, consequently, direct speech is not sufficiently market in the text. But Richardson argues for the opposite conclusion: “If the scene is built around a speech or if the words are integral to a full appreciation of the scene, anything short of direct quotation would be deficient” (p. 82). In other words he implies that any scene in which spoken discourse is included (e.g., Il. 3.154-60) is strengthened (not weakened) by direct quotation. At issue here is Richardson’s reliability in determining a scene’s “best interests.” Also at issue is whether or not his understanding of a scene’s “strength” or “weakness” is rooted in a privileging of the individual voice (direct speech) over the collective voice (represented in “pseudo-direct” speech) and the implications of this privileged status for the political history of western narrative.
    More compelling is Richardson’s discussion of chronological sequencing (Chapter 4: Order). Following Zielinski’s lead in treating simultaneous events in the epic, Richardson notes that “Homer chooses to conceal his power of manipulating the temporal arrangement of events and to maintain the illusion of a steady chronological course of events” (p. 91). Richardson often presents convincing evidence of the narrator’s reluctance to overtly “manipulate” the story, although the fact that Richardson (for example) notices this “reticence” leaves open the question of what it means for the narrator to “choose” to conceal his manipulation of the story’s progression. In other words, Richardson does not differentiate between a narrator who keeps his activity hidden and one who represents himself as doing so.(3) This discussion of chronological sequencing and narrative voice invites comparison with later Greek historical writing–a comparison which would “historicize” the consequences of that choice in the context of competing modes of representing social reality.(4)
    I appreciate Richardson’s attempt to familiarize or de-classify the Homeric epic by comparing it to modern texts, but I question the price of this familiarity–especially because it relies on subsuming cultural critique under aesthetic categories. When Richardson says that Homeric similes can situate us in our “own everyday world” (p. 66) this familiarizing tendency would even convince twentieth-century postmodern Americans that archaic Greeks were essentially like us. But more to the point, and as a result of a lack of consideration for the political, social, and historical contexts of texts, Richardson’s study makes the Homeric narrator into a second-hand (or second-rate) novelist. While the book provides some useful insights into specific passages, it also disappoints. For example, the Appendix (pp. 201-07) reduces Odysseus’s difficult voyage from Kalypso’s island and encounter with Leucothea (Odyssey 5.315-443) to a list of terms (e.g., Od. 5.424 is an “appositive summary, signalling the end of the monologue”). The entry for Od. 5.321 reads: “Explanation and identification. Why could he not resurface? Because the clothes weighed him down. What clothes? The ones Kalypso had given him. The narrator does not leave it for us to figure out the cause of his problem; it is his responsibility to give us a clear understanding of the events.” Since Richardson’s purpose in the Appendix is to demonstrate that fragmentation” need not come with narratological “classification” (201) we can only conclude from these examples that it does and that charting the Homeric narrator on his narratological map leaves us adrift.
    1 See his Preface to Narrative Discourse and Narrative Discourse Revisited 11-12.
    2 I assume Martin’s book was published too late for Richardson to have seen it. Also useful is Mark Edwards, Horner, Poet of the Iliad (Baltimore and London, 1987) whose application of narratological catagories is less insistent but whose conclusions nevertheless anticipate some of Richardson’s.
    3 This important distinction was clarified for me by Harry Berger, Jr.
    4 See Hayden White, “The Value of Narrativity in the Representation of Reality,” Critical Inquiry 7 (1980). Now Chapter 1 of The Content of the Form (Johns Hopkins University Press, 1987).

    Terjemahan

    Resensi Buku – The Narator Homer oleh Scott Richardson
    Perbandingan Sastra, Musim Dingin 1994 oleh Bassi, Karen

    Narator Homer. Oleh Scott Richardson. Ithaca: Cornell University Press, 1990. 279 hal

    Tujuan Scott Richardson dalam The Narator Homer adalah “untuk memeriksa tanda-tanda dari [Iliad dan narator Kehadiran] Odyssey dalam wacana, yaitu, untuk menggambarkan kebiasaan dalam menjaga aktivitas tersembunyi dan dalam memilih untuk menunjukkan tangannya dalam pembuatan wacana – dalam hal apa ia melakukan itu, untuk apa, seberapa sering, dan dalam situasi apa “(hal. 5). metodologi-Nya adalah Kultural dari Genette dan Chatman. Secara khusus, studi Genette tentang Proust menyediakan model “untuk menggunakan teori naratif dalam studi teks tertentu” (hal. 3).
    Buku ini dibagi menjadi tujuh bab, masing-masing berjudul sesuai dengan kategori narratological sedang dipertimbangkan (misalnya, Ringkasan, Jeda), dan Lampiran yang memperlakukan Richardson Odyssey 5,315-443 secara rinci.
    Pembaca diundang untuk setuju bahwa kategori-kategori teoritis yang diusulkan untuk Genette Proust bisa menjelaskan Homer. Untuk melakukan hal ini, ia harus menerima nilai metode Genette sebagai praktek umum dan / atau bahwa Iliad bagaimanapun seperti halus. Genette telah mengakui masalah penerapan umum kategori Kultural tentang analisis (1) Tetapi. Richardson sebagian besar mengabaikan masalah ini sampai titik mengklaim bahwa studi oral-aturan yang “pinggiran” untuk kesimpulannya (ia benar berpendapat bahwa kemungkinan dual penulisnya tidak penting, hal 6-7).. Di sini keinginan implisit Richardson untuk membaca epos sebagai novel modern mengkhianati teknik komparatif anakronistik implikasi yang dia tidak memeriksa. Beberapa perbedaan generik ada dalam hal perbandingan, tetapi metode Richardson adalah menawarkan bagian dari novel modern (misalnya, Sang Letnan Prancis Perempuan, Anna Karenina, The Hobbit – dan ini juga seolah-olah mereka adalah produk dari lingkungan budaya tunggal) hanya untuk menunjukkan klasifikasi narratological (misalnya, ringkasan, berhenti, dll). Dia menjelaskan bahwa “dibandingkan dengan kisah lainnya sangat penting untuk mengklarifikasi dan mengilustrasikan kategori serta untuk membangun kekhasan Homer sebagai narator sebuah Karena itu, saya akan memanfaatkan liberal contoh dari narasi lainnya, sebagian besar modern, ke tempat ini paling kuno. Barat narasi dalam konteks yang lebih luas dari epik klasik “(hal. 7-8). Bahkan, metode Richardson membuat jelas apa pun yang dia maksudkan dengan “kekhasan Homer’s” dan “konteks yang lebih luas” menjadi tidak ada (atau konteks). Selain itu, perbedaan antara teks-teks prosa puitis dan diabaikan. Perbandingan di sini mengarah pada asimilasi implisit dan dalam hal ini suara narasi dalam epik adalah “unik” hanya sejauh yang tidak seperti itu dari novel. Misalnya, pada halaman 201 Richardson memberitahu kita untuk melihat bahwa “Homer tidak menggunakan narasi biasa pergantian di antara adegan dan ringkasan” (penekanan ditambahkan). Apakah yang menentukan apa yang “biasa” dalam cerita? Jawabannya harus bahwa yang umum untuk novel barat modern – sebuah jawaban yang hanya menimbulkan pertanyaan tentang mengapa manfaat epik Yunani kuno perbandingan negatif dengan itu.
    Narasi teori dapat berguna untuk studi Homer dan Richard P. Martin ‘buku baru, The Heroes Bahasa: Pidato dan Kinerja dalam Iliad (Cornell, 1989) menawarkan beberapa contoh informatif. Martin mengambil lintas-budaya dan “kinerja berpusat pendekatan” (hal. 7) untuk pembangunan narator Homer dan berpendapat bahwa pembicara dari “mythoi” sebagai kategori ditandai dalam Iliad “komitmen untuk suatu berlakunya penuh kata-kata mereka sebelum penonton yang dapat mengkritik tindakan; mereka sehingga mencapai ‘pertunjukan’ seni verbal, dengan cara yang tidak berbeda dengan para penyair dan pendongeng terbenam dalam situasi kinerja “(hal. 47). (2) Homer apostrof (seperti hal recusatio 223ff..), misalnya, dijelaskan dalam hal hubungan “khusus antara narator dan Achilles, yang focalizer dari narasi” (hal. 236) oleh yang Achilles’s kinerja saham puisi keahlian teknis dengan bahwa dari puisi itu (cf. narator hal 220). Bersama ini keahlian ini kemudian dianalisis dalam hal status penyair dalam budaya atletik. Sebaliknya, Richardson menafsirkan apostrof sebagai intrusi oleh yang “narasi yang menjadi intim Patroklos, Menelaos, dan Eumaios” (hal. 174). Satu sebaliknya bisa menginterpretasikan seperti “intrusi” sebagai menjauhkan narasi dari karakter apostrophized dengan menekankan posisi istimewa narator (sebagai analisis Martin menyarankan); memang diskusi sendiri Richardson dari Culler (hal. 174) mungkin membawanya pada kesimpulan semacam itu. Sementara menggunakan bijaksana Martin tentang Kultural terletak dengan narator dalam konteks budaya, teknis
    Richardson terfokus sering mengarah ke jelas, tidak lengkap dan / atau kesimpulan yang bertentangan. Misalnya, ia mengatakan bahwa berbagai karakter jeda lebih kecil, misalnya androktasiai, mengingatkan kita “dari kemanusiaan yang terbunuh” (hal. 46) “Tapi. sifat saham berhenti ini sebaliknya rata bahwa” kemanusiaan “, karena setiap prajurit bernama menjadi kendaraan untuk elaborasi standar.
    desakan sering Richardson bahwa narator Homer hanya bertindak dalam sebuah adegan tertentu yang “kepentingan terbaik” mungkin line-nya samar argumen – terutama karena kriteria di atas mana dia mendasarkan posisinya sebagai wasit dari kepentingan-kepentingan terbaik tidak jelas. Dalam pembahasannya tentang percakapan tetua Trojan ‘tentang Helen (Il. 3,154-60), ia menyimpulkan bahwa “pseudo-langsung” wacana ini:
    kutipan tidak langsung atau laporan diskusi mereka akan memadai di sini. Hal ini menguntungkan pada saat ini untuk membangun keindahan tak tertandingi Helen dan mengingatkan kita bahwa pembantaian massal kita akan melihat seluruh puisi itu berasal dari keindahan ini. Percakapan Oleh karena itu, memainkan peran penting dalam adegan itu, tetapi karena tidak ada hubungannya dengan plot, tidak ada alasan untuk membawa itu hanya menyebutkan dalam mode ringkasan. (Hal. 81)
    Kenapa tidak langsung kutipan atau ringkasan akan memadai di sini adalah tidak memuaskan dijelaskan; kutipan langsung diduga tidak memadai karena adegan “akan menjadi lemah oleh render setia seluruh percakapan” (hal. 82). Mungkin ini karena “tiga-perlima dari puisi Homer dalam pidato langsung” (hal. 70) dan, akibatnya, pidato langsung tidak cukup pasar dalam teks. Tapi Richardson berpendapat untuk kesimpulan yang berlawanan: “Jika adegan itu dibangun sekitar pidato atau jika kata-kata merupakan bagian integral dari apresiasi yang penuh adegan itu, apa pun singkat kutipan langsung akan kekurangan” (hal. 82). Dengan kata lain ia menyiratkan bahwa setiap adegan di mana wacana lisan disertakan (misalnya, Il. 3,154-60) diperkuat (tidak lemah) oleh kutipan langsung. Pada masalah di sini adalah kehandalan Richardson dalam menentukan “kepentingan adegan yang terbaik.” Juga pada masalah adalah apakah atau tidak pemahamannya tentang “kekuatan sebuah adegan” atau “kelemahan” berakar dalam mengistimewakan dari suara individu (pembicaraan langsung) atas suara kolektif (diwakili dalam “pseudo-langsung” pidato) dan implikasi dari ini status istimewa untuk narasi sejarah politik barat.
    Lebih menarik adalah diskusi Richardson sekuensing kronologis (4 Bab: Order). Setelah memimpin Zielinski dalam memperlakukan kejadian simultan dalam kisah, Richardson mencatat bahwa “Homer memilih untuk menyembunyikan kekuasaannya memanipulasi susunan temporal peristiwa dan untuk menjaga ilusi kursus mantap kronologis kejadian” (hal. 91). Richardson sering menyajikan meyakinkan bukti keengganan narator untuk terang-terangan “memanipulasi” cerita, meskipun fakta bahwa Richardson (misalnya) pemberitahuan ini keengganan “” daun membuka pertanyaan apa artinya bagi narator untuk “memilih” untuk menyembunyikan manipulasi nya terhadap pengembangan cerita. Dengan kata lain, Richardson tidak membedakan antara narator yang terus aktivitasnya tersembunyi dan satu yang mewakili dirinya sebagai melakukannya (3) diskusi ini urutan kronologis dan suara narasi mengundang perbandingan dengan kemudian menulis sejarah Yunani – perbandingan. Yang akan ” historicize “konsekuensi dari pilihan itu dalam konteks mode bersaing mewakili realitas sosial. (4)
    Saya menghargai upaya Richardson untuk membiasakan atau de-mengklasifikasikan epik Homer dengan membandingkannya dengan teks-teks modern, tapi aku pertanyaan harga keakraban ini – terutama karena hal itu bergantung pada subsuming kritik budaya bawah kategori estetika. Ketika Richardson mengatakan bahwa Homer simile dapat menempatkan kita dalam “dunia sehari-hari kita sendiri” (hal. 66) kecenderungan ini membiasakan bahkan akan meyakinkan Amerika abad kedua puluh postmodern bahwa pada dasarnya orang Yunani kuno seperti kami. Tapi lebih tepatnya, dan sebagai akibat dari kurangnya pertimbangan untuk konteks politik, sosial, dan historis dari teks, studi Richardson membuat narator Homer menjadi tangan kedua (atau kedua-rate) novelis. Sementara buku ini memberikan beberapa wawasan yang berguna dalam bagian-bagian tertentu, juga mengecewakan. Sebagai contoh, Lampiran (hal. 201-07) mengurangi perjalanan Odiseus sulit dari pulau Kalypso dan perjumpaan dengan Leucothea (Odyssey 5,315-443) untuk daftar istilah (misalnya, OD 5,424 adalah ringkasan “appositive., Menandai akhir monolog “). Entri untuk OD. 5,321 berbunyi: “Penjelasan dan identifikasi Kenapa dia tidak muncul lagi? Karena pakaian yang berat ke bawah pakaian Apa?. Kalypso Yang telah memberinya. Narator tidak meninggalkan bagi kita untuk mengetahui penyebab masalahnya;. Itu tanggung jawabnya untuk memberikan kita pemahaman yang jelas dari peristiwa. ” Karena tujuan Richardson dalam Lampiran adalah untuk menunjukkan bahwa fragmentasi “tidak perlu datang dengan narratological” klasifikasi “(201) kita hanya bisa menyimpulkan dari contoh-contoh yang yang dilakukan dan yang memetakan peta narator Homer narratological nya membuat kita terapung-apung.
    1 Lihat Kata Pengantar untuk Wacana Narasi dan Wacana Narasi Revisited 11-12.
    2 Aku menganggap buku Martin diterbitkan terlambat untuk Richardson untuk melihatnya. Juga berguna adalah Mark Edwards, Horner, Penyair dari Iliad (Baltimore dan London, 1987) yang aplikasi kategori narratological kurang mendesak tetapi kesimpulan yang tetap mengantisipasi beberapa Richardson.
    3 Perbedaan penting adalah jelas bagi saya oleh Harry Berger, Jr
    4 Lihat Hayden White, “Nilai Narrativity dalam Representasi Realitas,” Kritis Pertanyaan 7 (1980). Sekarang Bab 1 The Isi Formulir (Johns Hopkins University Press, 1987).

    Kesimpulan

    Perbandingan di sini mengarah pada asimilasi implisit dan dalam hal ini suara narasi dalam epik adalah “unik” hanya sejauh yang tidak seperti itu dari novel. Misalnya, pada halaman 201 Richardson memberitahu kita untuk melihat bahwa “Homer tidak menggunakan narasi biasa pergantian di antara adegan dan ringkasan” (penekanan ditambahkan). Apakah yang menentukan apa yang “biasa” dalam cerita? Jawabannya harus bahwa yang umum untuk novel barat modern – sebuah jawaban yang hanya menimbulkan pertanyaan tentang mengapa manfaat epik Yunani kuno perbandingan negatif dengan itu.

    http://findarticles.com/p/articles/mi_qa3612/is_199401/ai_n8717082/?tag=content;col1

  20. 15/02/2013 pukul 4:08 pm

    Just what genuinely motivated u to compose “Remedial Sanding Reg A dan B
    blog sainul hermawan”? I personallyseriously adored the
    post! Thank you ,Cyril

  21. 22/03/2013 pukul 4:03 pm

    Your own report offers proven necessary to me.
    It’s extremely helpful and you’re clearly extremely knowledgeable in this field. You get popped my own face to different thoughts about this kind of subject matter along with intriguing, notable and reliable content.

  22. 03/04/2013 pukul 7:39 pm

    Hello mates, how is everything, and what you want to say regarding this post, in my view its truly amazing designed for me.

  23. 07/05/2013 pukul 10:39 am

    Hi! This is my first visit to your blog! We are a
    team of volunteers and starting a new project in a community in the same niche.
    Your blog provided us beneficial information to work
    on. You have done a wonderful job!

  24. 18/05/2013 pukul 3:47 pm

    Thanks for the marvelous posting! I seriously enjoyed reading it, you could be a great author.
    I will always bookmark your blog and will often come back later on.
    I want to encourage you continue your great posts, have a nice weekend!

  25. 19/05/2013 pukul 9:32 am

    The current, contemporary flair of sculpture is always not
    easily specified. Add some bulb eco-friendly fertilizer or bone
    food for a exceptional show next spring.

  26. 20/05/2013 pukul 5:01 pm

    I know this if off topic but I’m looking into starting my own weblog and was wondering what all is needed to get setup? I’m assuming having a blog like yours would
    cost a pretty penny? I’m not very internet smart so I’m not 100% positive.
    Any suggestions or advice would be greatly appreciated.
    Kudos

  27. 25/05/2013 pukul 9:16 am

    So you will never forced to repay. Before you make any decisions regarding bankruptcy, be sure you are very
    thorough with your application and assess your financial burden.
    Why Consider Debt Settlement If you have a lawsuit filed against help on debt you, it is really meant
    for an emergency, a debt consolidation program, and even threatening.
    The national help on debt program has another benefit. This again refers to the person without
    any prior notification.

  28. Tam
    27/05/2013 pukul 11:42 am

    If some one wants expert view on the topic of
    blogging and site-building then i advise him/her to
    pay a quick visit this web site, Keep up the nice job.

  29. 28/05/2013 pukul 11:36 am

    I am really glad to glance at this blog posts which includes
    lots of useful facts, thanks for providing these statistics.

  30. 03/06/2013 pukul 3:16 am

    Having read this I believed it was really informative. I appreciate you spending some time and effort to put this article together. I once again find myself spending a significant amount of time both reading and commenting. But so what, it was still worth it!

  31. 06/06/2013 pukul 7:26 pm

    Unquestionably consider that that you said. Your favourite reason appeared to be on the net the easiest factor to take into accout of.
    I say to you, I certainly get annoyed whilst other folks consider issues that they
    plainly don’t recognise about. You managed to hit the nail upon the highest as well as defined out the entire thing with no need side effect , other folks could take a signal. Will probably be again to get more. Thank you

  32. 13/06/2013 pukul 8:40 am

    Heya! I realize this is kind of off-topic but I had to ask.
    Does operating a well-established website such as yours require a large amount of
    work? I’m brand new to blogging but I do write in my journal every day. I’d like to start a blog so I can easily share my personal experience and thoughts online.
    Please let me know if you have any kind of
    suggestions or tips for brand new aspiring bloggers. Appreciate it!

  33. 15/06/2013 pukul 10:06 am

    WOW just what I was searching for. Came here by
    searching for John Zadel

  34. 17/06/2013 pukul 6:14 pm

    Does your site have a contact page? I’m having problems locating it but, I’d like to shoot you an
    e-mail. I’ve got some creative ideas for your blog you might be interested in hearing. Either way, great website and I look forward to seeing it grow over time. Many thanks!

  35. 18/06/2013 pukul 5:49 pm

    Hello! This is kind of off topic but I need some guidance from an established blog.
    Is it very difficult to set up your own blog? I’m not very techincal but I can figure things out pretty quick. I’m
    thinking about setting up my own but I’m not sure where to start. Do you have any ideas or suggestions? Thanks and more thanks!

  36. 05/07/2013 pukul 1:53 pm

    Hi are using WordPress for your site platform?
    I’m new to the blog world but I’m trying to get started and set up
    my own. Do you need any html coding expertise to make your own blog?
    Any help would be really appreciated!

  37. 17/07/2013 pukul 8:31 pm

    There’s obviously much to learn about this. I think you made some good tips in Features as well. It’s been
    so very much appreciated!

  38. 18/07/2013 pukul 3:27 pm

    Wow, this paragraph is pleasant, my younger sister is analyzing such
    things, therefore I am going to
    inform her.

  39. 19/07/2013 pukul 6:50 am

    What’s up, all is going fine here and ofcourse every one is sharing data, that’s genuinely fine, keep up writing.

  40. 26/07/2013 pukul 10:19 pm

    Hello, after reading this amazing post i am also glad
    to share my experience here with colleagues.

  41. 27/07/2013 pukul 6:17 am

    Hi there are using WordPress for your site platform?
    I’m new to the blog world but I’m trying to get started and create my
    own. Do you require any html coding expertise to make your own
    blog? Any help would be really appreciated!

  42. 28/07/2013 pukul 5:57 am

    I think the admin of this web site is genuinely working hard in favor of
    his site, as here every information is quality based material.

  43. 03/08/2013 pukul 8:44 pm

    Everyone loves it whenever people get together and share ideas.
    Great site, continue the good work!

  44. 04/08/2013 pukul 4:37 am

    It’s fantastic that you are getting thoughts from this paragraph as well as from our discussion made here.

  45. 10/09/2013 pukul 3:25 am

    how did they rush it out??? it is fantastic and always has been since the
    beginning. it takes everything throw at it even when i
    throw the phone itself.. AND THE HEADPHONE JACK COVER IS NOT MADE WRONG!

    THE HOLE IS For the LITTLE MIC Around the TOP…The situation IS
    NOT MADE WRONG ITS JUST STUPID IDIOTS BUYING SMARTPHONES

  46. 25/09/2013 pukul 7:13 pm

    I absolutely love your blog.. Very nice colors & theme.

    Did you create this site yourself? Please reply back as
    I’m looking to create my very own blog and would love to
    find out where you got this from or exactly what the theme is called.
    Thank you!

  47. 06/11/2013 pukul 5:00 am

    I wanterd to tell you that I frequently access this blog with my blackberry, when I am
    on the train to work, and it’s one of the few blogs that I’ve
    come across that are legible on mobile phones, and that’s really remarkable.

  48. 22/01/2014 pukul 8:04 am

    Hello, everything is going perfectly here and ofcourse every one is sharing
    facts, that’s really excellent, keep up writing.

  49. 25/03/2014 pukul 10:39 am

    It is perfect time to make some plans for the
    future and it is time to be happy. I’ve read this post and if I could I want to suggest you some interesting things or suggestions.
    Perhaps you can write next articles referring to this article.
    I desire to read more things about it!

  50. 11/07/2014 pukul 8:52 am

    I have seen that these days, more and more people are increasingly being attracted to digital
    cameras and the area of pictures. However, to be a photographer, you should first shell out so much
    time period deciding the exact model of digicam to buy plus moving out of store to store just so you could possibly buy the cheapest camera
    of the trademark you have decided to pick. But it would
    not end at this time there. You also have to think about whether you should buy a digital digital camera extended
    warranty. Thanks a bunch for the good ideas I gained from your blog.

  51. 15/08/2014 pukul 8:52 pm

    I was recommended this website by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about my trouble.
    You’re amazing! Thanks!

  52. 18/08/2014 pukul 4:25 am

    I am curious to find out what blog system you’re utilizing?
    I’m having some minor security issues with my latest blog and
    I would like to find something more secure. Do you have any solutions?

  53. 21/08/2014 pukul 3:34 pm

    I think the admin of this web page is really working hard for his
    web site, for the reason that here every data is quality based information.

  54. 25/08/2014 pukul 10:35 pm

    I am truly happy to read this weblog posts which carries plenty of helpful facts, thanks for providing such statistics.

  55. 12/09/2014 pukul 11:43 am

    Very soon this web sitе will be famous among all Ьlogցing people, dսe to it’s pleasant content

  56. 15/09/2014 pukul 4:08 pm

    Good day! I could have sworn I’ve visited this site before but after going through many of the posts I realized it’s new to me.
    Nonetheless, I’m definitely pleased I found it and I’ll be bookmarking it and checking back frequently!

  57. 18/09/2014 pukul 9:49 am

    One more issue is really that video gaming has become one of the all-time biggest forms of excitement for people of
    any age. Kids engage in video games, plus adults do,
    too. The particular XBox 360 has become the favorite video games systems for people who love
    to have a huge variety of activities available
    to them, and who like to learn live with some others all over the world.
    Thank you for sharing your thinking.

  58. 27/09/2014 pukul 5:01 am

    We all have the right to express ourselves and to
    share our knowledge and our opinions and such chat roulette websites give us the opportunity to do this.
    So how easy is it to find a good, well known, place to play roulette game online.
    If life is boring, there are now a host of sites following in the footsteps
    of chatroulette where you can make random video chat connections.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: