PSDP 2010 Tanjung – Proposal

Kumpulkan tugas Anda di sini paling lambat sehari sebelum pertemuan terakhir.

  1. Muhammad Sadri
    18/05/2010 pukul 12:15 pm

    JUDUL
    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGUBAH PUISI MENJADI SEBUAH PROSA DENGAN MODEL DEMONSTRASI DAN MEDIA LAGU UNTUK SISWA KELAS VII MTs. AL- FALAH MAHE.

    Latar Belakang Masalah
    Keterampilan berbahasa terdiri atas empat, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain. Dalam pembelajaran di sekolah keterampilan berbahasa diajarkan secara terintgrasi.
    Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang tertuang di dalam silabus, disebutkan bahwa salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa MTS AL-FALAH MAHE adalah mengubah puisi menjadi sebuah prosa. . Menulis prosa merupakan karya sastra yang bentuk pisiknya berbeda dengan puisi, hal yang sangat penting bagi siswa karena sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan, keinginan, cita-cita, perasaan, dalam bentuk bahasa yang jelas . Selain itu, dengan menulis prosa akan memberikan suatu kekayaan kosa kata dalam mengarang.
    Dari hasil observasi pembelajaran di kelas, wawancara dengan siswa dan guru, serta hasil belajar siswa dalam mengubah puisi menjadi prosa ternyata karya siswa dalam bentuk prosa belum sesuai harapan. Pada umumnya para siswa mengalami kesulitan dalam hal mengubah kata-kata puisi untuk dibuat cerita, sulit menuangkan pikirannya kedalam prosa dan sulit mengembangkan kata-kata puisi.
    Berdasarkan hasil pengamatan dalam pembelajaran, wawancara dengan siswa dan guru, kendala yang dialami para siswa tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) siswa kurang mendapatkan berlatih dalam menulis prosa, (2) siswa tidak tertarik menuangkan gagasan dan perasaannya dalam bentuk cerita, (3) siswa mengalami kesulitan dalam hal pemilihan kata, (4) guru kesulitan dalam membangkitkan minat belajar siswa, (5) guru belum mengoptimalkan media dan metode yang tepat dalam pembelajaran.
    Dengan kenyataan di atas, peneliti memandang perlunya dilakukan perbaikan terhadap pembelajaran mengubah puisi menjadi prosa agar siswa dapat menuangkan gagasan, keinginan, cita-cita, dan harapan dalam bentuk cerita dengan memperhatikan aspek-aspek alur cerita. Untuk itu guru perlu menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat sehingga mampu mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Media yang dipandang mampu mengatasi permasalahan rendahnya kemampuan menulis prosa siswa adalah metode demonstrasi dan media lagu. Dengan penggunaan metode dan media ini diharapkan siswa lebih tertarik dan serius dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengubah puisi menjadi prosa.
    C. Rumusan Masalah
    Berdasar latar belakang masalah di atas, hasil observasi, dan wawancara dengan siswa dan guru, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
    Apakah penggunaan metode demonstrasi dan media lagu dalam pembelajaran mengubah puisi menjadi prosa dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam menulis prosa ?
    2. Apakah penggunaan metode demonstrasi dan media lagu dalam pembelajaran mengubah puisi menjadi prosai dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam prosa ?
    C. Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Penelitian
    Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disampaikan, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
    1. Untuk mengetahui motivasi belajar siswa dalam pembelajaran puisi dengan metode demonstrasi dan media lagu.
    2. Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengubah puisi menjadi prosa dengan metode demonstrasi dan media lagu.
    D. Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Toeretis
    a. Hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai alternatif, bagi guru di sekolah lain dalam pembelajaran mengubah puisi menjadi prosa.
    2. Manfaat Praktis
    a. Bagi siswa
    1) Meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran.
    2) Meningkatkan kemampuan membuat prosa siswa untuk dapat menuangkan gagasan, keinginan, cita-cita, dan pengalaman dalam bentuk cerita.
    3) Siswa termotivasi untuk belajar satra.
    4) Meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
    b. Bagi guru
    1) Umpan balik untuk mengetahui kesulitan belajar siswa.
    2) Meningkatkan kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran
    3) Meningkatkan gairah dalam melaksanakan pembelajaran
    4) Guru terampil menggunakan model pembelajaran yang variatif..

    E. KAJIAN PUSTAKA
    A. TINJAUAN PUSTAKA
    1. Pengertian Belajar
    Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku atau kecakapan manusia. Perubahan tingkah laku ini bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisiologis atau proses kematangan. sPerubahan yang terjadi karena belajar dapat berupa perubahan-perubahan dalam kebiasaan (habit), kecakapan-kecakapan (skills) atau dalam ketiga aspek yakni pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor) (Usman dan Setiawati, 1993).
    Purwanto (1998) dalam Slametno (2008) mengemukakan adanya elemen penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu:
    Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu bisa mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk.
    Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.
    Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
    Pengertian Mengajar
    Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. Banyak kegiatan ataupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar lebih baik pada seluruh siswa (Ali, 2004).
    Menurut Usman dan Setiawati (1993) mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar. Guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga kehendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas.
    Nasution (1982) dalam Slametno (2008) mengemukakan kegiatan mengajar diartikan sebagai segenap aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dengan demikian proses dan keberhasilan belajar siswa turut ditentukan oleh peran yang dibawakan guru selama interaksi proses belajar mengajar.
    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
    Menurut Usman dan Setiawati (1993) ada 2 faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:
    Faktor dari dalam diri (Intern)
    Faktor fisiologis
    Faktor psikologis yang meliputi perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berpikir, bakat, dan motivasi.
    Faktor dari luar diri (Ekstern)
    Faktor sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan kelompok.
    Faktor budaya, seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.
    Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar.
    Faktor spiritual dan keagamaan.
    Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
    Menurut Hopkins (1993) dalam Leluni, M (2008) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang terjadi serta terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.
    Menurut Ebbut (1985) dalam Leluni, M (2008) penelitian tindakan kelas adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut.
    Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
    Menurut Hopkins (1993) dalam Leluni, M (2009) ada 6 prinsip penelitian tindakan kelas, yaitu:
    Pekerjaan utama guru adalah mengajar, dan apapun metode PTK yang kebetulan diterapkan seyogyanya tidak berdampak mengganggu komitmennya sebagai pengajar.
    Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menurut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang menganggu proses pembelajaran.
    Metodologi yang digunakan harus cukup reliabel sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara cukup meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya.

    6. Hakikat Menulis
    Menulis ialah melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat memahami lambang-lambang grafik tersebut (Tarigan, 2008). Menulis adalah kegiatan menyusun dan mengkomunikasikan gagasan dengan medium bahasa yang dilakukan penulis kepada pembaca sehingga terjadi interaksi keduanya demi tercapainya suatu tujuan. Atar Semi (1990) mengungkapkan bahwa menulis merupakan suatu proses. Dari proses tersebut, menulis juga melibatkan berbagai keterampilan menyusun pikiran dan perasaan dengan menggunakan kata-kata dalam bentuk susunan yang tepat.
    Aktivitas menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan berbahasa yang paling akhir dikuasai siswa setelah kemampuan mendengarkan, berbicara, dan membaca. Dibanding tiga kemampuan berbahasa yang lain, menulis lebih sulit dikuasai (Nurgiantoro, 2008). Lebih lanjut dijelaskan bahwa kemampuan menulis menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa itu sendiri yang akan menjadi isi tulisan.
    Hakikat Puisi Herman J. Waluyo ( 2003) mengatakan bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias.
    Pendapat lain mengenai pengertian puisi disampaikan oleh Pradopo (2002), yang menyatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan. Sementara itu, unsur-unsur estetika puisi dapat diketahui melalui unsur-unsur estetika (keindahan), misalnya gaya bahasa dan komposisinya. Puisi sebagai karya sastra, memiliki fungsi estetika dominan dan di dalamnya terdapat unsur-unsur kepuitisannya, misalnya persajakan, diksi (pilihan kata), irama, dan gaya bahasa. Gaya bahasa meliputi semua penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, yaitu efek estetika atau aspek kepuitisan.
    Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa puisi adalah ungkapan perasaan, emosi, ide yang disampaikan dengan bahasa yang indah susunannya dan mempunyai makna yang luas. Puisi merupakan wujud dari pengalaman penulisnya dalam bentuk bahasa yang memiliki makna yang dalam. Bahasa puisi bersifat plastis, namun mampu mengakomodasikan berbagai dimensi makna di balik apa yang tersurat. Dimensi itu, misalnya imagery, yaitu gambar angan-angan pada saat orang membaca sebuah karya, sehingga merasa terlibat dengan pengalaman penyair.
    Prosa
    Prosa berasal dari bahasa latin dan bahasa inggris prose. Prosa merujuk kepada genre/jenis karya satra yang dibedakan dari puisi. Prosa tidak terikat pada kaidah puitika, dan lebih cenderung memakai bahasa sehari-hari (Zaidan dkk, 1994).
    Hasannuddin WS dkk (2007) mendefiniskan prosa dengan rumusan sebagai berikut:
    Karangan bebas, bentuk karangan yang tidak terikat oleh bait, banyak baris dalam satu bait, banyak suku kata dalam satu baris dan tidak terikat oleh sajak. Ungkapan sastra yang menggunakan bahasa secara lebih denotatif. Prosa biasanya dipertentangkan dengan puisi, karena dalam karya prosa penggunaan bahasa cenderung sesuai dengan arti leksikalnya.
    Sasaran garapannya lebih faktual dan objektif. Prosa dalam hal ini dipertentangkan dalam fiksi yang lebih menekankan imajinasi. Prosa dicirikan dengan ungkapan yang langsung, apa adanya, jelas, terang,dan hidup bahasanya.
    9. Media Pembelajaran
    Media meruapakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan (Syiful Bahhri Djamarah dan Aswan Zain, 2002). Dalam proses belajar-mengajar, media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan pembelajaran, ketikjelasan bahan yang disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan pembelajaran daspat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah mencerna bahan pembelajaran daripada tanpa menggunakan media.
    Hal yang harus dipertimbangkan dalam menggunakan media adalah tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Oleh karena itu, tujuan pembelajaran yang berupa kompetensi dasar tertentu dalam kurikulum harus dijadikan dasar penggunaan media pembelajaran.
    Media pembelajaran memiliki beberapa fungsi dalam pembelajaran. Nana Sudjana (dalam Syiful Bahhri Djamarah dan Aswan Zain, 2006) menyatakan beberapa fungsi media pembelajaran. Fungsi media pembelajaran tersebut antara lain: 1) meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berpikir, sehingga dapat mengurangi verbalisme, 2) meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap, 3) memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa, 4) memberikan pengalaman yang tidak mudah dengan cara lain, 5) bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga siswa akan lebih paham dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran dengan baik.
    Sementara itu, Harjanto (2006) mengelompokkan media pembelajaran menjadi empat jenis, yaitu: 1) media grafis atau media dua dimensi, seperti gambar, foto, grafik, bagan, poster, kartun, komik, dll., 2) media tiga dimensi, yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid model), model penampang, model susun, dll., 3) media proyeksi seperti slide, filmstrip, film, OHP, dll., dan 4) lingkungan.
    Dalam menggunakan media pendidikan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, harus didasarkan pada kriteria yang objektif. Sebab penggunaan media pendidikan tidak sekedar menampilkan program pengajaran di dalam kelas, tetapi juga mempertimbangkan tujuan pembelajaran, strategi yang dipakai, termasuk bahan pembelajaran.
    10. Metode Demonstrasi
    1. Pengertian Metode Demonstrasi
    Yang dimaksud dengan metode demonstrasi ialah metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk mmemperlihatkan bagaimana berjalannya suatu proses pembentukan tertentu pada siswa.
    Untuk memperjelas pengertian tersebut dalam praktiknya dapat dilakukan oleh guru atau anak didik itu sendiri. Metode demonstrasi cukup baik apabila digunakan dalam penyampaian bahan pelajaran.
    11 . Pengertian Lagu
    Lagu merupakan gubahan seni nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hububgan temporal (biasanya diiringi dengan alat musik) untuk mengasilkan gubahan musik yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan (mengandung irama). Ragam atau nada atau suara yang berirama disebut juga dengan lagu. Lagu dapat dinyanyikan secara sola. Berdua, bertiga, atau beramai-ramai (kor). Perkataan dalam lagu biasnya berbentuk puisi berirama, namun bersifat keagamaan atau prosa bebas
    Pono Banoe (2003), menyatakan bahwa lagu merupakan nyanyian atau melodi pokok. Yang juga berarti karya musik. Karya musik untuk dimainkan atau dinyanyikan dengan pola dan bentuk tertentu. Contoh: Indonesia Raya, Simfoni, Melati dari Jaya Giri, dan sebagainya. Lebih lanjut ia dibedakan menjadi: lagu anak-anak, lagu, daerah, lagu hiburan, lagu kebangsaan, lagu Melayu, dan lagu pop.
    12. Lagu sebagai Media Pembelajaran
    Media audio-visual merupakan salah satu media pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli. Media audio visual memiliki kemampuan untuk dapat mengatasi kekurangkan dari media audio atau media visual semata. Kemampuan media audio akan meningkat bila dilengkapi dengan karakteristik gerak.
    Lagu yang ditayangkan memlalui LCD/video merupakan media pembelajaran audio visual yang sangat tepat dalam pembelajaran menulis puisi bebas karena syair lagu yang ada dalam lagu dapat digunakan sebgai contoh puisi, sedangkan musik yang megiringinya akan membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Lazanov (dalam Bobbi De Porter, 2006) yang menyatakan bahwa musik berpengaruh terhadap guru dalam mengajar. Lebih jauh dijelaskan guru dapat menggunakan musik untuk untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar. Musik juga membantu siswa bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak. Di samping itu, musik juga mampu merangsang, memanjakan dan memperkuat belajar siswa.
    Dalam quantum learning, alasan yang menjadi dasar penggunaan musik dalam pembelajaran adalah karena musik berhubungan dan mempengaruhi kondisi fisiologis. Setelah dilakukan percobaan secara intensif dengan subjek para siswa didapati bahwa musik adalah kuncinya. Relaksasi yang diiringi dengan musik membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi (Lasanov dalam Bobbi De Porter, 2006).
    Sementara itu Oemar Hamalik (1986) menyatakan bahwa dengan menggunakan rekaman lagu dapat: (1) mendorong motivasi belajar siswa, rekaman lagu dapat merangsang perhatian dan minat siswa, (2) efisiensi dalam pengajaran bahasa, (3) menjadikan pelajaran lebih konkret karena dapat memperdengarkan secara langsung hal-hal, peristiwa yang baru terjadi, sehingga siswa termotivasi untuk menuangkan idenya dalam bentuk tulisan, (4) rekaman lagu dapat diulang beberapa kali, hal ini akan menjadikan pelajaran labih baik karena dapat menghilangkan salah tafsir dan penguasaan bahan akan lebih mendalam, (5) mendorong berbagai kegiatan belajar, rekaman lagi memberikan keterangan-keterangan yang nyata.
    Kerangka Berpikir
    Minat siswa dan penggunaan media dalam pembelajaran merupakan hal yang berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi tertentu. Sebagian siswa menyatakan bahwa menulis puisi bebas merupakan materi pembelajaran yang rumit untuk dipelajari dan dipahami, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan kata yang tepat, alur cerita dan menyesuaikan jalan puisi. Selain itu, media yang digunakan oleh guru belum dapat dioptimalkan. Hal ini menyebabkan siswa tidak tertarik sehingga kurang aktif dalam pembelajaran.
    Media yang menurut peneliti mampu membangkitkan minat siswa dalam pembelajaran mengubah puisi menjadi prosa adalah demonstrasi dan lagu. Hal ini didasarkan asumsi bahwa siswa sangat menyukai dan akrab dengan lagu-lagu pop, sehingga ketika diperdengarkan lagu tersebut siswa akan lebih tertarik dan serius dalam mengikuti pembelajaran. Berangkat dari ketertarikan siswa ini, siswa akan lebih bergairah dan aktif dalam mengikuti pembelajaran. Di samping itu, lagu yang syairnya bagus dilihat dari pilihan kata, majas, gambar video dan persajakannya, dapat dijadikan sebagai model puisi yang dapat dijadikan acuan untuk menulis prosa yang lain bagi siswa dengan tema yang sama atau berbeda dengan lagu. Dengan pembelajaran menulis puisi menggunakan media lagu ini, siswa dan guru juga akan memperoleh suatu pengalaman baru dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran menulis prosa, sehingga siswa menjadi lebih mudah menemukan tema, pilihan kata yang tepat, alur cerita, dan kesesuaian cerita dengan puisi. Sedangkan guru dapat menggunakan berbagai media dan metode pembelajaran yang bervariasi dan inovatif. Dengan demikian, tujuan akhir dari pembelajaran dapat tercapai, yakni meningkatnya kemampuan siswa dalam mengubah puisi menjadi prosa.
    Kerangka berpikir penelitian ini dapat dilihat dari bagan berikut:
    KONDISI AWAL
    TINDAKAN
    KONDISI AKHIR
    GURU: Belum menggunakan model demonstrasi dan media lagu dalam pembelajaran.
    SISWA:
    Motivasi dan Kemampuan mengubah puisi menjadi prosa rendah.
    SIKLUS I
    Menggunakan model demonstrasi dan media lagu dalam pembelajaran puisi.
    SIKLUS II
    Menggunakan model demostrasi dan media lagu dalam pembelajaran mengubah puisi menjadi prosa.
    Menggunakan model demonstrasi media lagu dalam pembelajaran mengubah puisi menjadi prosa.
    Motivasi dan Kemampuan siswa dalam mengubah puisi menjadi prosa meningkat.

    Hipotesis Tindakan
    Berdasarkan kajian reflektif yang didasarkan sharing idea antar guru mata pelajaran sejenis yang tergabung dalam MGMP dan kajian teori dalam penelitian tindakan kelas ini ditetapkan hipotesis tindakan sebagai berikut:
    “Pembelajaran mengubah puisi menjadi prosa dengan model demonstrasi dan media lagu dapat dikatakan berhasil pada siswa kelas VII MTS. AL-FALAH MAHE”.

    F. METODE PENELITIAN
    A. Karakteristik Kelas
    Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan di kelas VII A MTS AL-FALAH MAHE dengan jumlah peserta didik 36 siswa, yang terdiri atas 15 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan.
    Kondisi awal pelaksanaan tindakan kelas ini terekam data sebagai berikut:
    1. Masih rendahnya kemampuan menulis puis siswa.
    2. Masih tingginya hambatan/kendala yang dihadapi siswa dalam megubah puisi menjadi prosa.
    3. Guru belum menerapkan model pembelajaran yang inovatif secara optimal.
    4. Menulis prosa belum dijadikan kebiasaan siswa.
    5. Lingkungan kelas belum kondusif untuk melakukan kegiatan menulis. (buku fiksi, nonfiksi, dan teks belum mencukupi untuk seluruh siswa)
    B. Rencana Tindakan
    Kegiatan penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam dua siklus. Penelitian ini diawali dengan kegiatan observasi untuk memeroleh informasi dan gambaran terhadap permasalahan yang sedang dihadapi, diteliti, dan tindakan yang telah dilakukan oleh guru dan dilanjutkan dengan membahas hasil observasi serta merencanakan dan menetapkan tindakan.
    a. Perencanaan (Planning)
    Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut:
    1. Penyusunan rencana pembelajaran dan skenario pembelajaran dengan media gambar.
    2 . Membuat media pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan diajarkan.
    3. Penyusunan alat evaluasi tindakan berupa:
    a) Pedoman wawancara (untuk siswa, guru, dan kolaborator)
    b) Lembar observasi kegiatan belajar mengajar
    c) Soal evaluasi dan tugas
    d. Pelaksanaan Tindakan (Acting)
    Tindakan dilaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat, meliputi:
    1. Siswa dikelompokan menjadi 7 kelompok dengan anggota kelompok 4-5 siswa.
    2. Siswa mendengarkan dan menyaksikan sebuah lagu melalui video klip.
    3. Siswa bertanya jawab dengan guru mengenai isi syair lagu.
    4. Siswa menjawab pertanyaan berkaitan dengan isi lagu.
    5. Siswa diberikan acuan untuk merubah syair lagu menjadi cerita.
    6. Siswa diberikan kesempatan untuk mengerjakan seperti contoh gurunya.
    7. Siswa membuat jalan cerita bisa berdasrkan cerita divedio LCD, DVD dan VCD
    8. Siswa mendengarkan dan menyaksikan lagi sebuah lagu yang lain yang ditayangkan melalui LCD.
    9. Siswa menentukan jalannya cerita sesuai dengan syair lagu.
    10. Siswa merangkai kata-kata berdasarkan syair lagu yang sudah jadi.
    11. Guru bersama siswa menilai isi, proses, dan hasil menggunakan teknik ini
    c. Observasi (Observation)
    Observasi pelaksanaan tindakan/ pembelajaran dilakukan secara kolaboratif dengan menggunakan format pengamatan proses pembelajaran. Evaluasi hasil pengamatan juga dilaksanakan secara kolaboratif dengan mengolah data yang telah diperoleh dan memaknainya serta menentukan keberhasilan dan pencapaian tindakan dan atau hasil sampingan dari pelaksanaan tindakan.
    d. Refleksi (Reflecting)
    Hasil observasi dan evaluasi dianalisis. Berdasarkan analisis ini guru peneliti dan siswa melakukan refleksi diri untuk menentukan perencanaan dan tindakan berikutnya. Refleksi juga didasarkan atas jurnal yang dibuat guru setelah selesai melaksanakan tindakan/ pembelajaran dan learning logs yang dibuat siswa serta hasil kerja siswa yang dikumpulkan atau dipresentasikan, dan hasil kerja kelompok.

    C. Cara Pengambilan Data
    Data dalam penelitian tindakan ini diambil dari pengamatan dan analisis terhadap (1) hasil belajar siswa, (2) suasana kegiatan pembelajaran, (3) refleksi diri dan perubahan-perubahan yang terjadi, dan (4) keterkaitan perencanaan dengan pelaksanaan.
    Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan:
    1. Teknik tes untuk memeroleh data hasil belajar siswa.
    2. Teknik angket minat untuk mendapatkan data tentang minat belajar siswa.
    3. Teknik observasi langsung untuk mendapatkan data situasi pembelajaran pada saat pelaksanaan tindakan (dilakukan oleh kolaborator).
    4. Analisis dokumen (jurnal) untuk mendapatkan data yang berkait dengan refleksi diri dan perubahan yang terjadi di kelas.
    5. Analisis rencana pembelajaran dan hasil pengamatan proses pembelajaran digunakan untuk memperoleh data tentang keterkaitan antara perencanaan dengan pelaksanaan tindakan.
    D. Indikator Keberhasilan
    Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah semakin tingginya minat dan kemampuan , yang ditandai dengan :
    1. Sekurang-kurangnya 75 % siswa berminat mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia.
    2. Sekurang-kurangnya 65 % siswa berperan aktif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
    3. Sekurang-kurangnya 75 % siswa mampu mengubah puisi menjadi prosa dengan memperhatikan pilihan kata, alur cerita dan kesesuian dengan puisi.

    G. PENUTUP

    Kesimpulan
    Berdasarkan rangkaian kegiatan yag dilakukan oleh peneliti, maka dapat disimpulkan kegiatan ini berhasil karena dengan proses yang dilakukan siswa mampu mengubah puisi menjadi prosa berdasarkan syair lagu dengan pilihan kata yag tepat, alur cerita dan kesesuian cerita dengan puisi.

    Saran

  2. Betty Sugiarti
    19/05/2010 pukul 3:37 am

    judul:Meningkatkan Keterampilan Komunikasi dengan Teknik Dramatisasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Keterampilan dalam berbahasa ada empat aspek yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Seperti kita ketahui fungsi utama bahasa adalah sarana komunikasi. Bahasa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antar penutur untuk berbagai keperluan dan situasi pemakaian. Untuk itu, orang akan berpikir bagaimana menggunakan bahasa secara tepat, artikulasi yang jelas juga ekspresi yang sesuai dengan konteks dan situasi.

    Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas . keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga melahirkan tuturan dan ujaran yang komunikatif, jelas dan mudah dipahami. Selain itu juga dapat melahirkan generasi kritis dan berbudaya karena terbiasa dan terlatih.

    Namun harus diakui secara jujur, keterampilan berbicara dikalangan siswa SMP, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia disekolah yang dinilai gagal dalam membantu siswa terampil berbahasa sekaligus bersastra. Yang lebih memprihatinkan ada pihak yang ekstrim berani menyatakan bahwa tidak ada mata pelajaran bahasa Indonesia siswa pun dapat berbahasa Indonesia seperti saat ini, asalkan mereka diajari berbicara, membaca dan menulis (Depdiknas, 2004:9). Sementara itu hasil observasi empirik lapangan juga menunjukkan fenomena yang hampir sama. Keterampilan berbicara siswa SMP berada pada tingkat yang rendah, artikulasi yang dilafalkan tidak jelas, dan ekspresi tidak tepat.

    Demikian juga masalah yang dikeluhkan oleh guru SMP 4 Tanjung siswa kelas VII berdasarkan hasil observasi hanya 20% (8 siswa) dari 40 siswa yang dinilai terampil berbicara dalam situasi formal didepan kelas. Ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam berbicara, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk faktor eksternal, diantaranya pengaruh penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari yang banyak menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah). Sedangkan faktor internal, pendekatan pembelajaran, metode, media, atau sumber belajar yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Pada umumnya, guru bahasa Indonesia cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. Guru bahasa Indonesia lebih banyak berkutat dengan pengajara tata bahasa, dibandingkan mengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata (Nurhadi, 2000). Jika kondisi pembelajaran semacam itu dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin keterampilan berbicara dikalangan siswa SMP akan terus berada pada tingkat yang rendah. Para siswa akan terus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara jelas dan tepat.

    Penelitian ini difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung. Salah satu pendekatan pembelajaran yang mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif, efektif, dan menyenangkan adalah dengan teknik dramatisasi. Melalui teknik drama siswa diajak untuk berbicara dengan artikulasi yang jelas dan ekspresi yang tepat dengan menerapkan prinsip pemakaian bahasa secara komprehensif. Dengan teknik drama, guru berusaha mengembangkan keterampilan berbahasa sekaligus bersastra didalam konteks yang nyata. Guru juga memberikan pengalaman kepada siswa melalui pembelajaran terpadu dengan menggunakan proses yang saling berkaitan dalam komunikasi alamiah senyatanya.

    Dari uraian latar belakang tersebut maka judul proposal penelitian tindakan kelas yang diajukan penulis adalah” meningkatkan keterampilan komunikasi dengan teknik dramatisasi pada siswa”. Peningkatan kemampuan komunikasi sebagai variabel tak bebas (dependen, respons, terikat) dimaksudkan sebagai unsur solusi masalah yang terjadi dikelas, sedangkan dramatisasi sebagai variabel perantara ( intervening ) dimaksudkan adalah sebagai bahan untuk mengkomunikasikannya.

    1.2 Rumusan Masalah

    Dari latar belakang tersebut maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
    1. Bagaimana meningkatkan keterampilan berbicara dengan menggunakan artikulasi yang jelas dan ekspresi yang tepat pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung ?
    2. Bagaimana meningkatkan keterampilan berbicara dengan menggunakan teknik drama pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung ?
    1.3 Tujuan penelitian
    Merujuk pada rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk :
    1. Mengetahui apakah dengan penggunaan artikulasi yang jelas dan ekspresi yang tepat dapat meningkat keterampilan berbicara siswa.
    2. Mengetahui apakah dengan teknik drama dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam berbicara.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Berdasarkan masalah penelitian dan tujuan penelitian yang dikemukakan diatas, hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut :
    Bagi sekolah hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi tentang model-model pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran berbicara.
    Bagi guru hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran berbicara dengan teknik drama.
    Bagi siswa penelitioan ini dapat digunakan untuk membantu meningkatkan keterampilan berbicara sekaligus berdrama.
    Bagi peneliti hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan berbicara siswa dengan teknik drama, serta menambah wawasan penggunaan drama dalam pembelajaran.

    BAB II
    KAJIAN TEORI

    2.1 Berbicara

    Seperti telah kita ketahui bahwa dalam kegiatan menyimak, aktivitas kita diawali dengan mendengarkan dan diakhiri dengan memahami atau menanggapi . kegiatan berbicara tidak demikian, kegiatan berbicara diawali dari suatu pesan yang harus dimiliki pembicara yang akan disampaikan kepada penerima pesan agar penerima pesan dapat menerima dan memahami isik pesan itu. Dalam menyampaikan pesan seseorang menggunakan suatu media atau alat yaitu bahasa, dalam hal ini bahasa lisan. Peristiwa proses penyampaian pesan secara lisan itu disebut berbicara.

    Dalam kamus bahasa Indonesia (Anton M. Moeliono, dkk. 1998:114) dinyatakan bahwa berbicara adalah; berkata, bercakap, berbahasa, melakukan pendapat dengan perkataan, tulisan dan sebagainya atau berunding. Menurut Tarigan (1983:15) berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan dan perasaan. Jadi pada hakikatnya berbicara merupakan ungkapan pemikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa.

    Unsur-unsur kejiwaan yang harus dikembangkan dalam berbicara antara lain (Aminuddin ,1982:1) :
    1. Rasa komunikasi
    2. Rasa humor
    3. Rasa kepemimpinan
    4. Rasa percaya diri

    2.1.1 Jenis-jenis berbicara
    1.Berbicara berdasarkan tujuannya
    a.berbicara memberitahukan, melaporkan, dan menginformasikan
    b.berbicara menghibur
    c.berbicara membujuk, mengajak, meyakinkan, atau menggerakkan
    2.Berbicara berdasarkan situasinya
    a.berbicara formal(ceramah, wawancara)
    b.berbicara informal
    3.Berbicara berdasarkan cara pemakaiannya
    a.berbicara mendadak
    b.berbicara berdasarkan cara penyampaian
    c.berbicara berdasarkan hafalan
    d.berbicara berdasarkan naskah
    4.Berbicara berdasarkan jumlah pendengarnya
    a.berbicara antar pribadi
    b.berbicara dalam kelompok kecil
    c.berbicara dalam kelompok besar

    2.1.2 Keterampilan Berbicara
    Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP saat ini, arah pembinaan bahasa Indonesia disekolah dituangkan dalam tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang secara eksplisit dinyatakan dalam kurikulum. Secara garis besar tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia adalah agar anak dapat berbahasa dengan baik. Itu berarti agar anak mampu menyimak, berbicara, membaca, menulis dengan baik menggunakan media bahasa Indonesia (Samsuri, 1987 dan Sadono, 1988).

    Keterampilan berbicara sangat erat kaitannya dan bersifat resiprokal dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan berbicara adalah terampil dalam mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan dan perasaan. Pendengar menerima pesan atau informasi melalui rangkaian nada, tekanan dan penempatan persendian. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, berbicara dapat dibantu dengan ekspresi dan pantonim berbicara.

    2.2 Drama
    Drama berasal dari bahasa Yunani” draomai” yang artinya berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Jadi drama bisa dikatakan sebagai cerita atau kisah yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater.
    Istilah yang memiliki kedekatan makna dengan drama, yaitu sandiwara, istilah ini diciptakan oleh Mangjunegara VII berasal dari bahasa Jawa “shandi” yang berarti rahasia, “warah” yang berarti pengajaran. Oleh Ki Hajar Dewantara istilah sandiwara diartikan sebagai pengajaran yang dilakukan dengan perlambangan, secara tidak langsung. Orang yang memainkan drama disebut lakon/aktor.
    Dramatisasi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah penyesuaian untuk pertunjukkan drama, pendramaan: hal membuat suatu peristiwa menjadi mengesankan dan mengharukan, pembawaan atau pembicaraan puisi atau prosa secara dramatis.
    Naskah drama adalah bahan pokok pementasan. Secara garis besar naskah drama dapat berbentuk tragedi (tentang kesedihan dan kemalangan), dan komedi (tentang lelucon dan tingkah laku konyol), serta disajikan secara realis (mendekati kenyataan yang sebenarnya dalam pementasan) baik dalam bahasa, pakaian, dan tata panggung serta secara simbolik (dalam pementasannya tidak perlu mirip apa yang sebenarnya terjadi dalam realita) biasanya dibuat puitis, dibumbui musik-koor-tarian dan panggung kosong tanpa hiasan yang melukiskan suatu realitas.
    2.2.1 Jenis-jenis Drama
    Drama dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
    Drama modern
    Adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.

    Drama klasik
    Adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesakitan, kehidupan istana atau kerajaan, kejadian luar biasa.

    Macam-macam drama berdasarkan isi kandungan cerita :
    1.Drama komedi
    Adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.
    2.Drama Tragedi
    Adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.
    3.Drama Tragedikomedi
    Adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.
    4.Opera
    Adalah drama yang mengandung musik.
    5.Lelucon/Dagelan
    Adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka merangsang gelak tawa penonton.
    6.Operet/Operette
    Adalah opera yang ceritanya lebih pendek.
    7.Pantonim
    Adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.
    8.Tablau
    Adalah drama yang mirip pantonim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.
    9.Passie
    Adalah drama yang mengandung unsur agama/religious
    10.Sosio Drama
    Adalah bentuk drama yang mengambil kisah dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
    11. Drama Romantik
    Drama yang berkembang pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Drama ini sering disebut drama liris atau drama puitis.
    12. Drama Kloset
    Adalah jenis drama yang hanya enak dibaca.
    13. Drama Teatrikal
    Adalah drama yang idealnya diciptakan untuk dipentaskan.
    14. Monolog
    Adalah drama yang dilakonkan oleh seorang pelaku.
    15.Drama Sejarah
    Adalah jenis drama yang beberapa unsurnya mengambil dari fakta-fakta sejarah.
    2.2.2 Aliran Drama
    Aliran klasik
    Drama ini bersifat konvensional, yaitu mengikuti aturan-atiran penulisan dengan ketat.
    Neo klasik
    Drama ini mempunyaii konsep sebab akibat, dimana kebenaran dan kekuasaan Tuhan adalah mutlak.
    Romantisme
    Drama dalam aliran ini branggapan bahwa nasib seorang manusia ditentukan oleh takdir dan dirinya sendiri.
    Realisme
    Drama yang menggambarkan dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari.
    Ekspresionisme
    Drama ekspresionisme ini mengalir lebih dalam dan detail dibanding realisme.
    Naturalism
    Drama ini merupakan perkembangan realism, namun gambaran yang disuguhkan lebih mendekati kenyataan alam.
    Eksistensialisme
    Drama ini menggambarkan aksistensi tokoh sebagai manusia yang tahu akan kebenaran.
    2.2.3 Unsur-unsur Drama
    Unsur-unsur drama, yaitu :
    Judul
    Nama penulis naskah
    Nama takoh cerita dan keterangan tentang tokoh
    Sinopsis
    Prolog atau pembuka cerita, berisi gambaran singkat permulaan cerita berikut keterangan latar, tempat, waktu dan suasana peristiwa
    Dialog
    Unsur intrinsik (penokohan, alur, latar, tema, moral cerita )
    Babak; pembagian alur cerita
    Adegan/peristiwa/lakon
    Keterangan latar dan lakuan tokoh (disampaikan dalam tanda kurung untuk dipahami pemain atau pembaca naskah drama)
    Epilog/penutup cerita, yang memberikan keterangan bagaimana cerita berakhir. Biasanya dilengkapi juga dengan informasi mengenai apa yang terjadi pada tokoh setelah penyelesaian cerita.

    Dalam drama siswa dituntut untuk dapat memerankan watak karakter yang ada dalam naskah. Hal yang harus diperhatikan antara lain :
    Kuat lemah dan tinggi rendahnya suara
    Air muka, ekspresi, mimik
    Blocking (posisi kita, jangan sampai 1 sisi kosong ataupun membelakangi penonton)
    Kostum (harus menggambarkan karakter tokoh dan cerita)
    Artikulasi (pengucapan/pelafalan harus jelas)
    Kecepatan berbicara
    Gesture (gerak tubuh)

    2.3 Artikulasi
    Artikulasi sering disebut Bina Wicara atau terapi wicara. Bina Wicara berarti upaya untuk meningkatkan mutu penggunaan rangkaian bunyi bahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi/berbicara. Pengertian artikulasi “menurut” kamus Besar bahasa Indonesia adalah, lafal, pengucapan kata perubahan rognga dan ruang dalam saluran suara untuk menghasilkan bahasa. Artikulasi mengusahakan bunyi bahasa agar dapat berbicara dengan jelas dan tepat.

    2.4 Ekspresi
    Menurut kamus sastra (laelasari 2006:159) ekspresi adalah (gerak-gerik) air muka pelaku dengan isyarat untuk memberikan gambaran emosi; pernyataan atau perubahan gerak-gerik muka,mata,bibir dan sebagainya; peniruan dengan gerak-gerik anggota badan dan raut muka.

    Kemampuan ekspresi artinya, dimana seseorang pemain (aktor) berusaha untuk mengenal dirinya sendiri. Si aktor akan berusaha meraih kedalam dirinya dan menonjolkan perasaan yang dimilikinya,agar mencapai kepekaan respon terhadap segala sesuatu. Kemampuan ekspresi menurut teknik penguasaan tubuh seperti relaksasi, konsentrasi, kepekaan kreativitas dan kepunahan diri (pikiran-perasaan-tubuh yang seimbang). Kita menggunakan cara-cara nonlinguistik untuk mengekspresikan ide-ide sebagai pendukung berbicara, tangisan, infleksi, nada, gesture untuk cara berkomunikasi yang lebih universal dari pada bahasa yang kita mengerti.

    BAB III
    METODE PENELITIAN

    3.1 Rancangan Penelitian
    Rancangan penelitian adalah rencana dan struktur penyelidikan yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti akan memperoleh jawaban untuk pertanyaan penelitiannya (Karlinger, 1990:483). Secara umum tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung dengan teknik dramatisasi. Sesuai dengan tujuan penelitian, rancangan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas. Menurut Isaac (1971) penelitian tindakan kelas ini didesain untuk masalha-masalah yang diaplikasikan secara langsung didalam kelas atau dunia kerjaja.
    Dalam penelitian ini menggunakan metode bermain peran (role play), melalui konsep ini para siswa diharapkan dapat mencoba dan melatih diri mengeksplorasi hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya sehingga bersama-sama siswa lain dapat mengungkapkan perasaan-perasaannya, sikap prilakunya,dan berbagai masalah yang sekarang dihadapi.
    Sebelum melaksanakan tindakan bermain peran siswa dibagi dalam beberapa kelompok, yang setiap kelompok terdiri dari 5 orang, kemudian masing-masing siswa memerankan diri dengan berbagai tokoh.
    3.2 Tahap Pelaksanaan
    Dalam pelaksanaan proses pembelajaran bahasa dengan konsep bermain peran dirancang dengan tujuh tahapan bermain peran yang menjadikan sebagai pedoman penyajian program pembelajaran.
    tahapan yaitu :
    1. Mememberi motivasi kepada siswa, agar tertarik pada masalah yang diajukan guru.
    2. Memilih peran, pada tahap ini siswa bersama guru mendeskripsikan karakter tokoh, kemudian siswa diberi kesempatan dengan sukarela untuk memerankan tokoh yang ada.
    3. Menyusun tahap-tahap bermain peran, setiap kelompok menyusun skenario garis-garis besar adegan yang akan dimainkan.
    4. Kegiatan pengamatan, keterlibatan pengamat dapat membuat proses pembelajaran menjadi hidup, terutama padfa saat mendiskusikan peranyang telah dimainkan.
    5. Pemeranan, para siswa memainkan peran dengan dipandu scenario adegan dengan ekspresi dan artikulasi yang jelas, waktu pemeranan harus dibatasi.
    6. Diskusi dan evaluasi, guru mengarahkan diskusi yang dilakukan siswa untuk mencapai kompetensi dasar. Sedangkan evaluasi dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan.
    7. Mengambil kesimpulan, melalui bermain peran para siswa dapat berlatih menerapkan prinsip demokrasi.
    3.3 Lolasi dan Subjek penelitian
    3.2.1 Lokasi Penelitian
    Lokasi penelitian adalah di SMP Negeri 4 Tanjung yang berlokasi di. Jl.Ir. Pangeran H.M.Noor Mabuun, kabupaten tabalong.
    3.2.2 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah siswa kelasVII SMP N egeri 4 Tanjung, yang berjumlah 40 orang, terdiri atas 17 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan. Subjek penelitian ini sangat heterogen dilihat dari kemampuannya, yakni ada sebagian siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah.
    3.4 Data dan Sumber data
    Data dari penelitian ini berupa penilaian dalam drama. Sumber data untuk memperoleh data penelitian tersebut adalah siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung.
    3.4 Waktu Penelitian
    Waktu penyelenggaraan penelitian ini adalah pada semester II (bulan Januari – Maret)
    3.5 Teknik Pengumpulan Data
    Secara umum ada dua jenis teknis yang dapat digunakan untuk pengumpulan data dalam satu penelitian. Dua teknis tersebut adalah teknis tes dan teknis nontes. Dalam penelitian pendidikan, penyelenggaraan tes adalah salah satu teknik pengumpulan data yang sering digunakan (Suhadi, 1993 : 90). Pada penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes. Secara operasional pengertian tes menurut Joni (dalam Suhadi, 1993:90) dapat didefinisikan sebagai sejumlah tugas yang harus dikerjakan oleh yang dites. Ditinjau dari bentuk pelaksanaannya teknis tes dibedakan atas teknik tes secara lisan dan tulis.
    Dalam kaitannya dengan penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik lisan. Selain itu , teknik pengumpulan data juga dilakukan melalui observasi dan catatan lapangan. Observasi digunakan untuk mengetahui kekurangan atau kesulitan siswa dengan media yang digunakan pada proses pembelajaran, sedangkan catatan lapangan digunakan untuk mencatat proses pembelajaran yang berlangsung untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan tindakan/perlakuan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Arikunto, Suharsimi dkk.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.
    Arikunto, suharsimi. 2006. Prosedur penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Jakarta : Rineka Cipta.
    HB, Akhmad. 2003.Diktat Mata Kuliah Berbicara. Banjarmasin.
    Laelasari dan Nurlailah. 2006. Kamus Istilah Sastra. Bandung: Nuansa Aulia
    Mahsun, MS. 2007. Metode Penelitian Bahasa (Tahapan strategi, metode, dan tekniknya) Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada.
    Muslich, M. 2009. Melaksanakan PTK Itu Mudah (Pedoman Praktis Bagi Guru Profesional). Jakarta:Bumi Aksara.
    Moeliono, Anton M. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
    Sembodo, E. 2009. Contekan Pintar Sastra Indonesia (Sastra, Prosa, Puisi, Drama). Bandung: Hikmah
    Susilo. 2009.Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
    P, farida puji. 2006. Mengenal Drama (Teknik Menulis Naskah Drama ). Yogyakarta: Citra Aji Parama.

  3. ISA LELONI
    19/05/2010 pukul 3:48 am

    Iudul:Upaya Meningkatkan Kemampuan Dalam Menentukan Unsur Intrinsik Pada Cerpen Dengan metode Diskusi Dan Penugasan Di SMP Negeri 2 Tanta Pada Siswa Kelas VIII
    BAB I
    PENDAHULUAN
    LATAR BELAKANG
    Guru yang profesional adalah guru yang senantiasa berusaha untuk meningkatkan diri dan terbuka terhadap suatu inovasi. Usaha peningkatan kualitas pendidikan pada unit sekolah, seorang guru memiliki peran sebagai perancang desain pembelajaran dan dituntut memiliki kemampuan menentukan strategi manajemen pembelajaran yang mencerminkan prediksi keberhasilan, tingkat kesulitan yang dihadapi siswa , kesesuaian metode fasilitas dan media pendukung proses belajar mengajar. Kemampuan ini diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah yang dihadapi guru dalam menjalankan proses belajar mengajar.
    Setiap karya sastra berbentuk cerpen ( cerit pendek ) sudah pasti memilki unsur intrinsik alur ( plot ). Masalah praktis yang sering menjadi kendala bagi guru dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran tersebut antara lain siswa mengalami kesulitan dalam menentukan unsur intrinsik pada cerpen ( cerita pendek ). Masalah pembelajaran tersebut sering ditemui penulis dalam mengajarkan bidang studi Bahasa Indonesia dikelas VIII SMP Negeri 2 Tanta.
    Untuk mengatasi hal tersebut penulis mencoba mencari solusi guna memperbaiki sumber masalahnya, baik yang berasal dari siswa maupun metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Sebagai solusi dilakukan penelitian tindakan penelitian yang sangat sederhana ,namun tidak meninggalkan kaidah-kaidah penelitian itu sendiri. Dalam penelitian ini akan digunakan metode pembelajaran diskusi dan penugasan, dengan metode ini siswa dituntut untuk melakukan interaksi kelompok,memupuk kerjasama dan kekompakan, membangun sikap ingroup pada diri siswa.
    Dari uraian latar belakang tersebut diatas maka judul proposal penelitian tindakan kelas yang diajukan penulis adalah “upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menentukan unsur intrinsik pada cerpen”.

    RUMUSAN MASALAH
    Berdasarkan latar belakang dan pembahasan masalah tersebut permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
    Bagaimanakah meningkatkan kemampuan siswa dalam penggunaan metode diskusi dan penugasan melalui unsur intrinsik alur( plot ) pada cerpen ( cerita pendek ) ?

    TUJUAN PENELITIAN
    Berdasarkan masalah penelitian tersebut maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
    Untuk mengetahui sejauh mana meningkatkan kemampuan siswa dalam penggunaan metode diskusi dan penugasan melalui unsur intrinsik alur (plot ) pada cerpen ( cerita pendek ).

    1
    MANFAAT PENELITIAN
    Berdasarkan masalah penelitian dan tujuan yang dikemukakan diatas,hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut :
    Bagi sekolah hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi tentang model-model pembelajaran Bahasa Indonesia.
    Bagi guru hasil penelitian ini bermanfaat sebagai wacana maupun acuan implementasi penerapan metode pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia,secara khusus bermanfaat mengatasi kendala atau masalah pembelajaran.
    Bagi siswa penelitian ini dapat dijadikan pendorong semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.
    Bagi peneliti hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam menentukan unsur intrinsik alur pada cerpen.

    2
    BAB II
    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Pengertian Alur
    Alur adalah urutan peristiwa yang bersambung-sambung dalam sebuah cerita berdasarkan sebab –akibat.
    Selanjutnya Mido ( 1994:42-44 ) memaparkan alur terjadi dari susunan peristiwa yang lebih kecil, seperti : episode,anekdot,insiden dan kejadian-kejadian kecil lainya. Peristiwa-peristiwa itu diseleksi dan disusun sedemikian rupa sehingga dapat menjadi sebuah cerita yang menarik. Alur itu berkembang melalui tingkat –tingkat perkembangan tertentu. Dengan kata lain , alur itu mempunyai tahap-tahap bagian-bagianya.

    2.2 Bagian-bagian Alur
    Alur terdiri dari 5 bagian ,yakni :
    Beberan mula ( introduksi atau eksposisi )
    Pengawalan ( komplikasi )
    Puncak kegawatan ( klimaks )
    Peleraian ( antiklimaks )
    Penyelesaian ( konklusi akhir )

    2.3 Penggolongan Alur
    menurut Mido ( 1994: 46 ) alur dapat digolongkan berdasarkan 4 pendekatan yakni :
    Pendekatan kuantitas, alur terdiri atas : ( 1 ) alur tunggal, dan ( 2 ) alur ganda. Alur tunggal merujuk kepada cerita rekaan yang hanya memiliki satu alur cerita yang berhubungan dengan seorang tokoh utama cerita. Sementara alur ganda merujuk kepada cerita rekaan yang memiliki lebih dari satu alur, tetapi alur-alur itu tidak berdiri sendiri ( saling terpisah ) sebaliknya justru saling bertautan ( tidak dapat dipisahkan ).
    Pendekatan kualitas , alur terdiri atas : ( 1 ) alur erat ( alur rapat ), dan ( 2) alur renggang ( alur longgar ). Alur erat merujuk kepada hubungan yang erat antara peristiwa cerita yang satu dengan peristiwa yang lain, tidak ada digresi ( lanturan ) di dalamnya, sehingga tidak ada peristiwa cerita yang dapat dilepaskan begitu saja. Sementara alur renggang merujuk kepada tidak adanya hubungan yang padu antara peristiwa cerita yang satu dengan peristiwa yang lain, di dalamnya banyak sekali ditemukan digresi ( lanturan ) yang dapat saja dilepaskan tanpa mempengaruhi keutuhan alur cerita secara keseluruhan.
    Pendekatan urutan pengisahan, terdiri atas : ( 1 ) urutan kronologis ( urutan alamiah, alur maju, atau alur progresif ), ( 2 ) urutan nonkronologis. Urutan kronologis merujuk kepada cerita rekaan yang urutan peristiwa ceritanya disusun sedemikian rupa berdasarkan urutan waktu kronologisnya. Sementara itu urutan nonkronologis merujuk kepaada cerita rekaan yang urutan peristiwa ceritanya tidak disusun secara kronologis berdasarkan urutan waktunya.

    3
    Pendekatan tegangan, terdiri atas : ( 1 ) alur menanjak , ( 2 ) alur menurun ,dan ( 3) alur piramidal. Alur menanjak merujuk kepada cerita rekaan yang puncak alurnya diletakan di bagian akhir cerita. Alur menurun merupakan kebalikan dari alur menanjak , yakni meletakan puncak alurnya dibagian awal cerita. Alur piramidal menempatkan puncak alur di tengah-tengah struktu penceritaan.

    4
    BAB III
    METODE PENELITIAN

    TEMPAT PENELITIAN
    penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Tanta pada kelas VIII mata pelajaran Bahasa Indonesia , jam 4 s.d 5 pada hari jumat dan jam 5 s.d 7 pada hari sabtu. semester 2 tahun 2010. kelas VIII berjumlah 30 orang yang terdiri dari 16 siswa putri dan 14 siswa putra.

    FAKTOR YANG DIAMATI
    proses pembelajaran : untuk mengetahui keefektifan penggunaan metode diskusi dan penugasan dalam proses pembelajaran.
    siswa : melihat kemampuan siswa dalam menentukan unsur intrinsik alur pada cerpen, kemampuan menjawab pertanyaan dan peningkatan daya serap siswa melalui tes individu.

    PENGUMPULAN DATA
    Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan cukup sederhana dan aktual dengan pengumpulan data melalui :
    observasi yang dilakukan guru selama pelaksanaan tindakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang ditetapkan.
    tes individu untuk mengukur keberhasilan pembelajaran secara individu.

    ANALISIS DATA
    Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah bersifat deskritif, dengan pengumpulan data dilakukan melalui empat kegiatan seperti yang diungkapkan Miles & Huberman ( 1984 : 21 )”first the data conserned appear in words rather than in number….”dibagian lain dikatakan pula “we consider that analysis consist of three concurrent flow of activity : data reduction, data display ,and conclusion drawing / verivication”. Analisis data terdiri dari emmpat jalur kegiatan bersamaan, yaitu pengumpulan data,reduksi data,penyajian data dan penarikan kesimpulan / ferifikasi.

    5
    DAFTAR PUSTAKA

    Ganie,T.N.2010.FORMAT KAJIAN PROSA FIKSI.Banjarmasin.

    6

  4. Eka Ratna Sari
    19/05/2010 pukul 10:17 am

    Meningkatkan Kemampuan Memarafrasakan Dengan Latihan Gaya Bahasa

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1.Latar Belakang

    Sastra Indonesia,menurut urutan waktu,terbagi atas beberapa angkatan, salah satunya adalah angkatan balai pustaka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920,yang di keluarkan oleh penerbit balai pustaka yaitu prosa (roman,novel,cerpen,dan drama) dan puisi,mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam, dan hikayat dalam khazanah kata.
    Sebagaimana karya sastra yang lain (prosa), puisi juga memiliki kandungan makna yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia, khususnya tentang nilai-nilai atau norma-norma kehidupan, baik kehidupan secara individual, bermasyarakat, dan berbangsa.
    Puisi merupakan ungkapan pikiran dan perasaan hasil perenungan penulis, pengungkapan pikiran dan perasaan itu menggunakan bahasa indah dan padat. Keindahan bahasa mencakup kemerduan bunyinya, ketepatan pilihan katanya yang berisi susunan kalimat yang pendek, dan penggunaan gaya bahasa yang tepat.
    Untuk memahami makna puisi dan dapat mengungkapkan isinya. Peserta didik dapat memarafrasakan atau memprosakan puisinya terlebih dahulu, memarafrasakan puisi dapat di lakukan dengan cara menuliskan kembali kata-kata yang dihilangkan oleh penulisnya, tetapi tidak semudah itu, untuk memarafrasakan. Hal itu di karenakan dengan adanya gaya bahasa dalam puisi, dapat mempersulit dalam pemahaman untuk mengetahui pesan yang ingin disampaikan penulis kepada peserta didik, karena tidak semua siswa yang bisa mengerti dan menguasai gaya bahasa, untuk mempelajari semua itu,siswa harus menguasai pengetahuan mengenai gaya bahasa terlebih dahulu, secara terperinci.
    Masalah kesulitan memarafrasakan, juga dikeluhkan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia, di SMP 2 Murung Pudak pada siswa kelas VII, berdasarkan hasil observasi hanya sebagian kecil saja siswa yang bisa memarafrasakan,hal itu bisa terlihat dengan rendahnya nilai yang di dapat siswa.
    Kesulitan memarafrasakan, dapat di akibatkan oleh kurangnya pengetahuan siswa tentang gaya bahasa pada puisi, gaya bahasa merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam puisi. kesulitan juga bisa di akibatkan oleh ketidaksesuaian metode yang di pakai dalam mengajar dengan pelajaran yang di sampaikan,pemakaian metode dalam pembelajaran yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pemahaman bagi siswa SMP,Selain itu guru juga pada umumnya,cenderung menggunakan cara belajar yang membosankan dalam kegiatan belajar mengajar.Peserta didik tidak di berikan suatu hal baru,yang lebih menyenangkan dan dapat memotivasi siswa agar lebih semangat dalam kegiatan pembelajaran.Jika keadaan pembelajaran seperti di biarkan terus-menerus,bukan tidak mungkin kemampuan siswa dalam memarafrasakan pada siswa SMP akan berada di tingkat bawah.Peserta didik akan mengalami kesulitan dalam memahami puisi secara benar.
    Maka dari itu diperlukan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan kreatif , pembelajaran yang di dalamnya mengarahkan siswa untuk lebih aktif, tidak hanya guru aktif , sehingga proses belajar mengajar aktif, efektif, dan menyenangkan, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru ,tetapi yang lebih penting adanya latihan untuk memantapkan siswa dalam penguasaan materi pelajaran memarafrasakan.
    Penelitian ini dilakukan untuk mengatasi masalah kesulitan yang dihadapi siswa dalam pelajaran memarafrasakan di SMP 2 Murung Pudak pada siswa kelas VII.Dengan memahami gaya bahasa siswa diharapkan mampu mengungkapkan makna dari puisi, dan juga dengan memahami gaya bahasa siswa dapat mengubah puisi menjadi bentuk prosa.
    Salah satu usaha yang dilakukan guru dalam upaya meningkatkan kemampuan dalam memarafrasakan dengan cara pembelajaran yang efektif dan menyenangkan adalah dengan menggunakan latihan untuk menguasai gaya bahasa.

    1.2. Rumusan Masalah

    Dilihat dari latar belakang,maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

    1.Bagaimana mengatasi kesulitan dalam memarafrasakan?
    2.Bagaimana meningkatkan pemahaman mengenai gaya bahasa?

    1.3 Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas nya adalah sebagai berikut:

    1.Untuk mengetahui cara-cara yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan kesulitan memarafrasakan .
    2.Untuk mengetahui hasil yang di peroleh dalam pembelajaran memarafrasakan dengan menggunakan metode latihan. gaya bahasa.

    1.4. Manfaat Penelitian

    Adapun manfaat yang dapat diambil dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

    1. Memberikan wawasan bahwa dengan menggunakan
    cara pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dapat mengatasi masalah dalam proses belajar mengajar.
    2. Kemampuan siswa SMP 2 Murung Pudak dalam memarafrasakan mengalami peningkatan.

    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA

    2.1.1. Pengertian Puisi
    Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980:10).
    Ada beberapa pengertian lain.
    1.Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
    2.Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
    3.Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.
    4.William Wordsworth (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.
    5.Percy Byssche Shelly (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling senang
    Fungsi Puisi
    Fungsi puisi adalah fungsi spiritual yang sifatnya tidak langsung bagi kehidupan fisikal yang praktis. Hal ini sesuai dengan hakikat puisi yang merupakan ekspresi tidak langsung. Kegunaan atau manfaat puisi ini berhubungan dengan kehidupan batin/rohani atau kejiwaan manusia. Puisi mempengaruhi kehidupan manusia lewat kehidupan batin dan kejiwaannya. Lewat kehidupan kejiwaan ini puisi mempengaruhi aktivitas kehidupan fisik manusia.
    Karena puisi merupakan karya seni penyampai gagasan maka fungsi puisi adalah dulce (indah, manis) dan utile (berguna, bermanfaat). Dulce berhubungan dengan ekspresi dan sarana ekspresinya, sedangkan utile berhubungan dengan muatan yang dikandung puisi, berupa ajaran, gagasan, atau pikiran.
    Puisi merangsang kepekaan terhadap keindahan dan rasa kemanusiaan. Karya seni, termasuk puisi berupaya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang terkikis teknologi dan menyadarkan kembali manusia pada kedudukannya sebagai subjek dalam kehidupan ini. Puisi berusaha mengembalikan stabilitas, keselarasan, dan keutuhan dalam diri manusia.

    2.1.2 Ciri-ciri Puisi
    Ciri-ciri puisi dapat dilihat dari bahasa yang dipergunakan serta dari wujud puisi tersebut. Bahasa puisi mengandung rima, irama, dan kiasan, sedangkan wujud puisi terdiri dari bentuknya yang berbait, letak yang tertata ke bawah, dan tidak mementingkan ejaan. Untuk memahami puisi dapat juga dilakukan dengan membedakannya dari bentuk prosa.
    Sifat seni ini merupakan ciri khas puisi. Puisi adalah sebuah karya yang fungsi estetiknya atau fungsi keseniannya dominan. Aspek estetik ini bermacam-macam. Di antaranya gaya bunyi, gaya kata, dan gaya kalimat serta wacana. Bahkan, aspek estetik itu terwujud dalam bentuk tipografinya.
    Puisi itu sebuah pernyataan yang hanya mengedepankan inti gagasan, pemikiran, ataupun peristiwa. Oleh karena itu, dipilih kata, frase, dan kalimat yang setepat-tepatnya supaya puisi menjadi mampat dan padat. Hal-hal yang dirasa tidak perlu dihilangkan. Dengan demikian tinggal intinya yang mengandung ekspresivitas yang itensif (berdaya guna).
    Dari waktu ke waktu, puisi itu selalu berubah karena evolusi selera dan perubahan konsep estetik atau konsep keindahan.
    Ketidaklangsungan ekspresi itu disebabkan oleh 3 hal, yaitu (1) penggantian arti, (2) penyimpangan arti, (3) penciptaan arti. Penggantian arti disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi dalam sajak.
    Penyimpangan arti disebabkan oleh adanya ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Penciptaan arti disebabkan oleh pengorganisasian ruang teks, diantaranya berupa (pola) persajakan, ejambemen, tipografi, dan homologue.
    Penafsiran Puisi
    Agar dapat memahami isi puisi diawali dengan menelaah atau melakukan kajian terhadap gaya maupun bentuk puisi yang bersama-sama membentuk suatu keutuhan isi puisi.
    Perhatikan jika terdapat hal-hal yang menarik perhatian, misalnya judul serta kekerapan kata. Banyaknya kata yang berulang dapat menggiring pembaca dalam memahami tema. Jika terdapat bait yang mengandung sedikit lirik, biasanya di sanalah tertuang tema puisi. Seperti halnya pada judul yang juga dapat membayangkan tema. Tetapi ingat, judul belum tentu sama dengan tema.
    Mengetahui tema serta akulirik merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam upaya memahami puisi.

    2.1.3 Unsur-Unsur Pembentuk Puisi
    Ada beberapa pendapat tentang unsur-unsur pembentuk puisi. Salah satunya adalah pendapat I.A. Richard. Dia membedakan dua hal penting yang membangun sebuah puisi yaitu hakikat puisi (the nature of poetry), dan metode puisi (the method of poetry).
    Hakikat puisi terdiri dari empat hal pokok, yaitu
    1. Sense (tema, arti)
    Sense atau tema adalah pokok persoalan (subyek matter) yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Pokok persoalan dikemukakan oleh pengarang baik secara langsung maupun secara tidak langsung (pembaca harus menebak atau mencari-cari, menafsirkan).
    2. Feling (rasa)
    Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya. Setiap penyair mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan.
    3. Tone (nada)
    Yang dimaksud tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya pada umumnya. Terhadap pembaca, penyair bisa bersikap rendah hati, angkuh, persuatif, sugestif.
    4. Intention (tujuan)
    Intention adalah tujuan penyair dalam menciptakan puisi tersebut. Walaupun kadang-kadang tujuan tersebut tidak disadari, semua orang pasti mempunyai tujuan dalam karyanya. Tujuan atau amanat ini bergantung pada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair
    Untuk mencapai maksud tersebut, penyair menggunakan sarana-sarana. Sarana-sarana tersebutlah yang disebut metode puisi. Metode puisi terdiri dari
    1. Diction (diksi)
    Diksi adalah pilihan atau pemilihan kata yang biasanya diusahakan oleh penyair dengan secermat mungkin. Penyair mencoba menyeleksi kata-kata baik kata yang bermakna denotatif maupun konotatif sehingga kata-kata yanag dipakainya benar-benar mendukung maksud puisinya.

    2 .Imageri (imaji, daya bayang)
    Yang dimaksud imageri adalah kemampuan kata-kata yang dipakai pengarang dalam mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Maka penyair menggunakan segenap kemampuan imajinasinya, kemampuan melihat dan merasakannya dalam membuat puisi
    3 .The concrete word (kata-kata kongkret)
    Yang dimaksud the concrete word adalah kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama tetapi secara konotatif mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya. Slametmulyana menyebutnya sebagai kata berjiwa, yaitu kata-kata yang telah dipergunakan oleh penyair, yang artinya tidak sama dengan kamus.
    5. Figurative language (gaya bahasa)
    Adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya.
    6. Rhythm dan rima (irama dan sajak)
    Irama ialah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembutnya ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama dibedakan menjadi dua,
    1.metrum, yaitu irama yang tetap, menurut pola tertentu.
    2.Ritme, yaitu irama yang disebabkan perntentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur.
    2.2 Pengertian dan Ciri Prosa Fiksi
    Prosa fiksi sebagai cerita rekaan bukan berarti prosa fiksi adalah lamunan kosong seorang pengarang. Prosa fiksi adalah perpaduan atau kerja sama antara pikiran dan perasaan. Fiksi dapat dibedakan atas fiksi yang realitas dan fiksi yang aktualitas. Fiksi realitas mengatakan: “seandainya semua fakta, maka beginilah yang akan terjadi. Jadi, fiksi realitas adalah hal-hal yang dapat terjadi, tetapi belum tentu terjadi. Penulis fiksi membuat para tokoh imaginatif dalam karyanya itu menjadi hidup. Fiksi aktualitas mengatakan “karena semua fakta maka beginilah yang akan terjadi”. Jadi, aktualitas artinya hal-hal yang benar-benar terjadi. Contoh: roman sejarah, kisah perjalanan, biografi, otobiografi.
    Prosa selalu bersumber dari lingkungan kehidupan yang dialami, disaksikan, didengar, dan dibaca oleh pengarang. Adapun ciri-ciri prosa fiksi adalah bahasanya terurai, dapat memperluas pengetahuan dan menambah pengetahuan, terutama pengalaman imajinatif. Prosa fiksi dapat menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian dalam kehidupan. Maknanya dapat berarti ambigu. Prosa fiksi melukiskan realita imajinatif karena imajinasi selalu terikat pada realitas, sedangkan realitas tak mungkin lepas dari imajinasi. Bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitikberatkan pada penggunaan kata-kata konotatif. Selanjutnya prosa fiksi mengajak kita untuk berkontemplasi karena sastra menyodorkan interpretasi pribadi yang berhubungan dengan imajinasi.
    Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Prosa
    Unsur pembangun prosa terdiri dari struktur dalam atau unsur intrinsik serta struktur luar atau unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik prosa terdiri dari tema dan amanat, alur, tokoh, latar, sudut pandang, serta bahasa yang dipergunakan pengarang untuk mengekspresikan gagasannya.
    Tema prosa fiksi terutama novel dapat terdiri dari tema utama serta beberapa tema bawahan. Pada cerpen yang memiliki pengisahan lebih singkat, biasanya hanya terdapat tema utama.
    Alur merupakan struktur penceritaan yang dapat bergerak maju (alur maju), mundur (alur mundur), atau gabungan dari kedua alur tersebut (alur campuran). Pergerakan alur dijalankan oleh tokoh cerita. Tokoh yang menjadi pusat cerita dinamakan tokoh sentral. Tokoh adalah pelaku di dalam cerita. Berdasarkan peran tokoh dapat dibagi menjadi tokoh utama, tokoh bawahan, dan tokoh tambahan. Tokoh tercipta berkat adanya penokohan, yaitu cara kerja pengarang untuk menampilkan tokoh cerita. Penokohan dapat dilakukan menggunakan metode (a) analitik, (b) dramatik, dan (c) kontekstual.
    Tokoh cerita akan menjadi hidup jika ia memiliki watak seperti layaknya manusia. Watak tokoh terdiri dari sifat, sikap, serta kepribadian tokoh. Cara kerja pengarang memberi watak pada tokoh cerita dinamakan penokohan, yang dapat dilakukan melalui dimensi (a) fisik, (b) psikis, dan (c) sosial.
    Latar berkaitan erat dengan tokoh dan alur. Latar adalah seluruh keterangan mengenai tempat, waktu, serta suasana yang ada dalam cerita. Latar tempat terdiri dari tempat yang dikenal, tempat tidak dikenal, serta tempat yang hanya ada dalam khayalan. Latar waktu ada yang menunjukkan waktu dengan jelas, namun ada pula yang tidak dapat diketahui secara pasti.
    Cara kerja pengarang untuk membangun cerita bukan hanya melalui penokohan dan perwatakan, dapat pula melalui sudut pandang. Sudut pandang adalah cara pengarang untuk menetapkan siapa yang akan mengisahkan ceritanya, yang dapat dipilih dari tokoh atau dari narator. Sudut pandang melalui tokoh cerita terdiri dari (a) sudut pandang akuan, (b) sudut pandang diaan, (c) sudut pandang campuran. Dalam menuangkan cerita menggunakan medium bahasa, pengarang bebas menentukan akan menggunakan bahasa nasional, bahasa daerah, dialek, ataupun bahasa asing.
    2.3 Perbedaan Puisi dengan Prosa
    HB. Jassin (1953:54) mengatakan bahwa untuk mendefinisikan puisi, puisi itu harus dikaitkan dengan definisi prosa. Prosa merupakan pengucapan dengan pikiran, sedangkan puisi merupakan pengucapan dengan perasaan.
    Rahmanto dan Dick Hartoko (1986) mengatakan bahwa puisi merupakan lawan terhadap prosa. Ungkapan bahasa yang terikat (puisi), lawan ungkapan bahasa yang tidak terikat (prosa). Keterikatan oleh paralelisme, metrum, rima, pola bunyi, dsb. Pada sastra modern perbedaan puisi dan prosa sangat kabur.
    Luxemburg (1992) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan teks puisi adalah teks-teks monolog yang isinya tidak pertama-tama merupakan sebuah alur. Selain itu teks puisi bercirikan penyajian tipografik tertentu. Tipografik ini merupakan ciri yang paling menonjol dalam puisi. Apabila kita melihat teks yang barisnya tidak selesai secara otomatis kita menganggap bahwa teks tersebut merupakan teks puisi.
    Rachmad Djoko Pradopo (1987) mengatakan bahwa dewasa ini orang mengalami kesulitan dalam membedakan puisi dan prosa hanya dari bentuk visualnya sebagai sebuah karya tertulis. Sampai-sampai sekarang ini dikatakan bahwa niat pembacalah yang menjadi ciri sastra utama.
    Alterbern (dalam Pradopo, 1987) mengatakan bahwa puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa berirama. Ada tiga unsur pokok dalam puisi yaitu pemikiran/ide/emosi, bentuk, dan kesan. Jadi puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indra dalam susunan bahasa yang berirama.
    Slametmulyana (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.
    Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).
    Perbedaan lain terdapat pada sifat. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987)
    Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.
    2.4. Parafrasa Puisi
    Pernahkah Anda mendengar istilah parafrasa? Istilah parafrasa mungkin
    sering muncul dalam pembahasan puisi. Salah satu cara untuk memahami
    puisi adalah dengan membuat parafrasa terhadap puisi tersebut, yaitu
    dengan menambahkan kata-kata yang dapat memperjelas kalimat pendek
    yang menjadi ciri khas puisi. Setelah ada penambahan, puisi tersebut berubah
    menjadi uraian prosa atau cerita. Artinya, wajah asli puisi tersebut telah
    berubah menjadi prosa, namun kandungan makna atau pengertian dari isi
    puisi tidak berubah. Hal seperti itulah yang disebut parafrasa.
    Yang dimaksud parafrase adalah mengubah  puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa yang tunduk pada aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut. Ketika memarafrasakan puisi, tema dan diksi pilihan kata yang terdapat dalam puisi haruslah ada.
    Perlu diketahui bahwa parafrase merupakan metode memahami puisi, bukan metode membuat karya sastra. Dengan demikian, memparafrasekan puisi tetap dalam kerangka upaya memahami puisi.
    Ada dua metode parafrase puisi, yaitu
    1.Parafrase terikat, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami. Seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrase tersebut.
    2.Parafrase bebas, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan. Setelah kita membaca puisi tersebut kita menafsirkan secara keseluruhan, kemudian menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.
    2.5. Pengertian Gaya Bahasa
    Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus. Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis, untuk dapat membuat atau menciptakan gaya bahasa yang baik.
    Gaya bahasa sebagai gejala penggunaan sistem tanda,dapat dipahami bahwa gaya bahasa pada dasarnya memiliki sejumlah matra hubungan, hubungan tersebut dapat di kaitkan dengan dunia proses kreatif pengarang dunia luar yang di jadikan objek dan penciptaan, fakta yang terkait dengan aspek internal kebahasaan itu sendiri, dan dunia penafsiran penanggapnya ( Aminuddin,1995:54 )
    Analisis Unsur-unsur Intrinsik Puisi
    Untuk memahami makna sebuah puisi dapat dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur intrinsiknya, misalnya dengan mengkaji gaya bahasa dan bentuk puisi. Gaya bahasa yang dipergunakan penyair mencakup (1) Gaya bunyi yang meliputi: asonansi, aliterasi, persajakan, efoni, dan kakofoni. (2) Gaya kata yang membahas tentang pengulangan kata dan diksi. (3) Gaya kalimat yang berisi gaya implisit dan gaya retorika. (4) Larik, dan (5) bahasa kiasan.
    Memahami puisi melalui bentuknya dapat dilakukan dengan menelaah tipografi, tanda baca, serta enjambemen. Untuk mempermudah dan memperjelas penganalisisan puisi, di depan setiap larik berilah bernomor urut. Apabila puisi yang hendak dianalisis tersebut memiliki beberapa bait, dapat pula diberi bernomor pada setiap baitnya.
    Dalam penelitian tindakan kelas ini,penulis menggunakan metode latihan gaya bahasa,untuk mengatasi permasalahan dalam memarafrasakan. Metode Figurative language (gaya bahasa) Adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya. Jenis-jenis gaya bahasa antara lain:
    1. perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana, dll.
    2. Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding.
    3. Perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut-turut.
    4. Personifikasi, ialah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia di mana benda mati dapat berbuat dan berpikir seperti manusia.
    5. Metonimia, yaitu kiasan pengganti nama.
    6. Sinekdoke, yaitu bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting untuk benda itu sendiri.
    7. Allegori, ialah cerita kiasan atau lukisan kiasan, merupakan metafora yang dilanjutkan.
    8. Depersonifikasi adalah kebalikan dari gaya bahasa personifikasi. Kalau personifikasi menginsankan benda mati, depersonifikasi justru membendakan manusia.
    9. Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberi penekanaan pada suatu pernyataan untuk memperhebat.
    10. litotes adalah gaya bahasa yang didalam pengungkapan menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif.
    11. Ironi adalah makna yang bertentangan dengan maksud berolok-olok.
    12. Sinisme adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati.
    13. Metonomia adalah sejenis gaya bahasa yang mempergunakan nama sesuatu barang bagi sesuatu yang lain berkaitan erat dengannya.
    Dengan memberikan lebih banyak latihan mengenai gaya bahasa,siswa akan lebih mudah memarafrasakan, karena dengan banyak latihan, berarti siswa akan lebih memahami dan menguasai gaya bahasa.

    BAB III
    METODOLOGI PENELITIAN

    3.1. Pendekatan Penelitian
    Ada dua macam pendekatan dalam penelitian yaitu pendekatan kuatitatif dimana peneliti akan bekerja dengan angka-angka sebagai perwujudan gejala yang diamai dan pendekatan kualitatif dimana peneliti akan bekerja dengan informasi-informasi data dan di dalam menganalisanya tidak menggunakan analisa data statistik.
    Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh penggunaan latihan gaya bahasa dalam meningkatkan kemampuan memarafrasakan. Dengan melakukan analisis akan mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil pre-test dan post test.
    3.2. Tempat dan Waktu penelitian
    3.2.1. Tempat penelitian
    Penelitian ini di lakukan di SMP Negeri 2 Murung Pudak, yang beralamat di desa Maburai, kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong.
    3.2.2 Waktu Penelitian
    Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester Juli-Desember 2010, di selenggarakan pada hari senin,7 September 2010 dan menganalisis data selama tiga bulan, dari bulan September – Nopember 2010 .
    3.3. Sumber Data
    Sumber data untuk penelitian ini diperoleh dari siswa kelas VII SMP 2 Murung Pudak,yang berjumlah 21 siswa, yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan.
    3.4. Teknik Pengumpulan Data
    Teknik pengumpulan data merupakan cara atau jalan yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menurut Suharsimi (1998:138) secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non tes.
    Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes subjektif. Siswa sebagai objek yang di tes. Dan data yang dikumpulkan berupa hasil tes kemampuan memarafrasakan dengan menggunakan gaya bahasa. Teknik pengumpulan data juga dilakukan melalui observasi dan catatan lapangan.
    3.5. Analisis Data
    Analisis data dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, paparan, dan penampilan.Dari penelitian data tersebut, kemudian dipaparkan menjadi lebih sederhana setelah itu akan dapat disimpulkan. Dan pada penelitian ini data hasil tes kemampuan memarafrasakan dapat diolah melalui tahap seleksi data, pemeriksaan data dan penyimpulan data.

    Daftar Rujukan

    Nurhadi, Dawud, Yuni Pratiwi.2007.Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VII. Jakarta:Erlangga.
    Aminuddin. 1995.Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: Ikip Semarang Press
    Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
    Keraf Gorys. 2007. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

  5. Rahmadani
    19/05/2010 pukul 1:55 pm

    Nama : Rahnadani
    NPM : 3060711380
    Jurusan : PBSID

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.

    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

  6. Rahmadani
    19/05/2010 pukul 1:56 pm

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.

    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual..

  7. Annisa Fitrina Yusda
    20/05/2010 pukul 4:19 am

    Judul Penelitian
    Kesulitan dalam Pembuatan Puisi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Tanjung
    A. Latar Belakang
    Banyak pelajaran sastra yang bagi sebagian siswa agak sulit bahkan mungkin sangat sulit, di antaranya ialah membuat puisi, hal itu disebabkan karena kurangnya pengetahuan yang mereka miliki tentang puisi serta kurang menariknya cara guru mengajarkan puisi kepada siswa. Masalah tersebut di alami oleh sebagian siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Tanjung. Siswa mengalami kesulitan dalam pembuatan puisi yang di ajarkan oleh guru Bahasa Indonesia, mereka merasa sulit menuangkan fikiran kedalam bentuk sebuah puisi. Kalaupun bisa, di dalam puisi yang mereka buat tersebut tidak terdapat puitisasi. Di sinilah peran guru sangat di perlukan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam pembuatan puisi.
    Pembelajaran bahasa Indonesia lebih diarahkan agar siswa mampu dan terampil menggunakan bahasa Indonesia secara komunikatif. Keterampilan berbahasa itu meliputi keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa lebih ditekankan pada performansi berbahasa secara konkret atau berupa unjuk kerja mempergunakan bahasa dalam konteks tertentu sesuai dengan fungsi komunikasi bahasa daripada sekedar memiliki pengetahuan tentang kebahasaan ( Dirjen Dikdasmen: 2004).
    Tarigan (1986: 3) menyimpulkan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan secara tidak langsung bertatap muka dengan orang lain. Dengan demikian mengajarkan menulis adalah melatih anak didik menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyatakan isi hati dan buah pikiran secara menarik, yang mengenai pada pembaca. Pembelajaran menulis dapat berupa apa saja: surat, artikel, laporan, buku harian, prosa, drama, puisi dan lain-lain.
    Pembelajaran menulis sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian siswa yang masih berada pada usia remaja dan memiliki jiwa yang labil. Dengan sering berlatih menulis, siswa akan terbiasa mengekspresikan gagasan-gagasan dan perasaanya lewat tulisan. Tentu saja hal ini akan berdampak yang kontruktif dan positif bagi perkembangan kepribadian siswa. Bagi guru bahasa Indonesia, ini merupakan sebuah tantangan untuk membangkitkan dan menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan merangsang kemampuan siswa menulis.
    Selaras dengan arah pembelajaran bahasa tersebut, maka pembelajaran sastra harus dikuasai oleh siswa. Siswa di tingkat SMP harus memiliki kemampuan mengapresiasi dan menghasilkan (menulis) karya sastra yang meliputi prosa, puisi, dan drama. Namun realita yang terjadi di kelas, kegiatan membuat dan menulis puisi merupakan kegiatan yang sulit bagi siswa. Pembelajaran membuat puisi sering menjadi pembelajaran yang membosankan dan tidak menarik. Bahkan, pembelajaran sastra sering dianggap tidak penting atau pelajaran yang tak memiliki makna oleh siswa. Hal ini berakibat pada rendahnya kemampuan siswa dalam mengapresiasi dan menghasilkan karya sastra.
    Dari masalah tersebut, dapat dikemukakan bahwa masalah yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah kesulitan dalam pembuatan puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Tanjung. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan tindakan kelas. Tindakan yang akan dilakukan yaitu menggunakan teknik menulis semiterpimpin dalam pembelajaran menulis puisi. Teknik ini dipilih karena diyakini dapat membimbing siswa yang masih dalam tahap awal berlatih membuat puisi .
    B. Rumusan Masalah
    Dari uraian di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
    1. Hampir sebagian besar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Tanjung kesulitan untuk membuat puisi dengan bahasanya sendiri, kata-katanya sendiri maupun gagasannya sendiri.
    2. siswa kesulitan menggunakan kata-kata untuk dituangkan kedalam sebuah puisi yang ingin mereka tulis.
    3. kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh siswa tentang puisi.
    4. kurangnya minat dalam membuat puisi.
    5. Bagaimanakah mengatasi kesulitan dalam pembuatan puisi melalui teknik menulis semiterpimpin siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Tanjung?

    C. Tujuan Penelitian
    Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian tindakan ini adalah mengatasi kesulitan dalam pembuatan puisi siswa kelas VIII SMP Negeri Tanjung. Selain itu penelitian ini ditujukan agar dapat memotivasi minat siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Tanjung dalam hal membuat puisi.
    D. Manfaat Penelitian
    Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini, jika ditinjau dari sudut pihak yang terlibat dalam penelitian adalah:
    (1) Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat memberikan motivasi, pengetahuan, dan pelatihan dalam menulis puisi dengan teknik menulis semiterpimpin, sehingga siswa dapat mengembangkan dan mengungkapkan gagasan dan perasaan dalam bentuk puisi.
    (2) Bagi guru, memberikan salah satu alternatif dan variasi cara pembelajaran membuat puisi di kelas, sehingga guru tidak terpaku pada metode pembelajaran yang monoton (ceramah, penugasan).
    (3) Bagi sekolah, dengan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia, sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi mutu lulusan.

    E. Kajian Pustaka
    Menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan tulisan sebagai mediumnya (Akhadiah, S, 1997:1.3). Sedangkan Dagher (dalam Jurnal Gentengkali No. 3, 2000: 29) mendefinisikan menulis merupakan proses berpikir yang dituangkan di atas kertas dalam bentuk tulisan. Proses berpikir ini mencakup proses bagaimana ide-ide dimunculkan, dan difokuskan pada ide-ide tertentu yang relevan dan saling terkait. Menulis membutuhkan usaha berpikir yang terus-menerus untuk jangka waktu tertentu. Ketika kita menuliskan tiga kalimat atau lebih, kita harus menyusunnya sedemikian rupa sehingga kalimat-kalimat tersebut menjadi teks yang menyatu dan koheren. Dengan demikian maka menulis bukanlah semata-mata masalah mentransformasikan “bahasa” ke dalam simbol-simbol tertentu, namun lebih merupakan proses berpikir (Sitorus dan Said, 1997:1)
    Bagi siswa kegiatan menulis itu merupakan sesuatu hal yang sulit. Untuk melatihkan proses berpikir siswa tentang bagaimana menuangkan/memunculkan ide-ide tertentu yang relevan dan saling terkait, maka daripada itu siswa perlu mendapatkan bimbingan.
    Pengetahuan dan keterampilan menulis dapat dibagi tiga. Pertama, substansi bahan. Bahan-bahan bentuk tulisan (karangan) meliputi ide, pengorganisasian, dan bahasa. Kedua, strategi penyampaian ide, bertujuan agar ide penulis dapat terungkap dan diterima secara sistematis dan komunikatif. Ketiga, gaya, menyangkut beberapa hal, yaitu ejaan, pilihan kata, hubungan kata, susunan kalimat, hubungan kalimat, majas, susunan paragraf, hubungan paragraf, penyajian, dan pewajahan Widyamartaya (dalam Buletin Pelangi Pedidikan Volume 1, 2001: 10). Ketiga hal tersebut digubahkan sebagai acuan dalam peningkatan kemampuan menulis siswa.
    Perrine (dalam Jurnal Gentengkali No. 3, 2000: 29) mengungkapkan bahwa puisi merupakan satu jenis berbahasa yang dalam penyampaiannya dilakukan dengan pilihan kata yang pekat dan lebih intensif daripada penyampaian dengan menggunakan alat berbahasa untuk berkomunikasi biasa. Dalam usaha untuk memahami, kita perlu paham tentang “mengatakan” apa puisi itu. Sebab, bahasa yang kita gunakan dalam “ketidaklaziman” itu menghasilkan bentuk pemakaian bahasa yang berbeda.
    Sutarto dkk. (1999:3) mengatakan bahwa puisi merupakan sebuah struktur yang dibangun oleh struktur yang tampak dan yang tidak tampak. Struktur yang tampak dikenal sebagai struktur fisik yang secara tradisional struktur ini disebut bentuk atau bahasa atau bunyi. Struktur yang tidak tampak disebut struktur batin atau makna karena puisi berisi ungkapan batin penulisnya. Struktur batin puisi terdiri atas unsur tema, nada, perasaan, dan amanat.
    Menulis semi terpimpin berarti bahwa aktivitas menulis sebagian dikuasai oleh guru. Ini dimaksudkan untuk membantu kesulitan siswa di dalam menulis Subyakto, (dalam Buletin Pelangi Pedidikan Volume 1, 2001: 10). Teknis menulis semiterpimpin dalam penelitian ini adalah teknik menulis dengan disediakannya panduan berupa carta agar siswa mudah menuangkan ide. Dengan bantuan teknik ini diharapkan siswa mendapatkan kemudahan di dalam menuangkan ide dan perasaan ke dalam bentuk puisi.

    F. Metode Penelitian
    1. Setting dan Subjek Penelitian
    Penentuan tempat dalam penelitian ini menggunakan metode purposive, yaitu penetapan daerah penelitian secara sengaja pada tempat tertentu yang dianggap sesuai dengan tujuan penelitian. Setting yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 2 Tanjung. Sedangkan yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII pada semester 1 tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah 38 siswa.
    2. Rancangan Penelitian
    Penelitiaan ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengn berkolaborasi dengan guru bahasa Indonesia yang ada di SMP Negeri 2 Tanjung. Hal ini dimaksudkan agar dapat berdiskusi dalam memecahkan masalah penelitian ini sehingga dapat memberikan hasil yang optimal dan dapat mengatasi permasalahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya kompetensi menulis puisi.
    Adapun langkah-langkah penelitian tindakan kelas yang akan digunakan dalam penelitian ini mengikuti langkah-langkah Hopkins (dalam Materi Pelatihan Terintegrasi Depdiknas, 2005), dengan tahapan dalam setiap siklus sebagai berikut: rencana (plan), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflective).
    Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus diberikan dua tindakan, yaitu (1) melengkapi beberapa kalimat puisi yang dirumpangkan dengan daftar kata yang telah disediakan; (2) melengkapi sebuah puisi yang dirumpangkan dengan daftar kata yang disediakan
    Skenario tindakan pembelajaran yang akan dilakukan sebagai berikut
    (1) Guru memberikan penjelasan kepada siswa tentang teknik menulis semiterpimpin;
    (2) Guru menyediakan alat bantu menulis semiterpimpin berupa kalimat-kalimat puisi dan sebuah puisi yang dirumpangkan kemudian siswa diminta untuk melengkapi kalimat/puisi yang dirumpangkan tersebut dengan daftar kata yang telah disediakan.
    (3) Guru menyediakan alat bantu berupa daftar kalimat dan daftar kata kemudian siswa diminta untuk menyusun menjadi sebuah puisi.
    (4) Secara bergantian beberapa siswa menuliskan di papan tulis hasil pekerjaan skenario nomor 1 dan 2 .Siswa lain mengamati, memberikan tanggapan, dan memperbaiki.
    (5) Guru membahas dan memberikan penguatan terhadap pekerjaan siswa. Pembahasan berfokus pada pemilihan dan penyusunan kata/kalimat yang puitis.
    (6) Guru memberikan evaluasi sebagai akhir kegiatan pembelajaran
    Siklus I
    1. a. Refleksi awal
    Pada tahap ini peneliti mengidentifikasi permasalahan dan menganalisis masalah dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas VIII semester I SMP Negeri 2 Tanjung tahun pelajaran 2008/2009.
    1. b. Perencanaan Tindakan
    Rancangan tindakan yang dilakukan sebagai berikut:
    Membuat persiapan mengajar dengan langkah-langkah sebagai berikut:
    a) Menyusun tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan Kompetensi Dasar.
    b) Menentukan materi pelajaran yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai.
    c) Menentukan metode yang digunakan. Sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian ini, metode yang digunakan yaitu ceramah, diskusi, tanya jawab, dan penugasan.
    d) Merumuskan kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:
    1) Kegiatan pendahuluan
    Kegiatan pendahuluan meliputi apersepsi yang dilakukan dengan metode ceramah yang diselingi metode tanya jawab.
    2) Kegiatan inti :
    (1) Siswa membentuk kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 4-5 orang.
    (2) Semua siswa mengamati carta kalimat puisi dan kalimat-kalimat puisi yang dirumpangkan dan daftar kata yang ditempel guru di papan tulis.
    (3) Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk melengkapi kalimat-kalimat puisi yang dirumpangkan dengan daftar kata yang telah disediakan.
    (4) Masing-masing kelompok secara bergantian -melalui juru bicaranya- menuliskan hasil pekerjaannya di papan tulis.
    (5) Siswa dan guru melakukan pembahasan terhadap pekerjaan yang telah di tulis di papan tulis dengan cara masing-masing kelompok saling memberikan tanggapan terhadap hasil pekerjaan yang telah ditulis di papan tulis. Tanggapan tersebut berupa pembetulan yang disertai penjelasan atau alasan. Guru memberikan komentar terhadap pekerjaan dan tanggapan siswa.Masing-masing kelompok melalui juru bicaranya menuliskan di papan tulis hasil inventarisasi hal/unsur gambar yang telah dipilih.
    Contoh puisi rumpang dengan daftar kata yang disediakan:
    Lengkapilah kalimat-kalimat puisi yang rumpang berikut ini dengan memilih salah satu kata yang terdapat dalam daftar kata!
    (1) pagi yang…bertabur ….mentari (cerah, cahaya)
    (2) hari …penuh canda (gembira)
    (3) setangkai…mekar di taman (kembang)
    (4) semerbak mewangi…angkasa (harum)
    (5) menusuk kalbu…hati (sejukkan)
    Daftar Kata : bersinar, cerah, indah, sepi, gembira, pohon, kembang, harum, riusau, gundah, jiwa, raga, menghias, senja, mendung
    Berikut adalah contoh carta kalimat puisi rumpang beserta daftar kata:
    Carta kalimat puisi rumpang dan dafatar kata
    Ibu
    Karya Ni Wayan Suparthiwi
    Terbentang telaga …
    Dalam
    Tiada tersurut
    Ketulusan terpancar
    Bak … menyinari bumi
    Ibu
    … tempatku bersandar
    Merapikan sendi-sendi putus
    Ibu
    Kau tempatku mengadu
    … duka
    Namun hanya sekejap
    Kau pergi jauh
    Remuk tinggalkan …
    Daftar kata : rindu, cinta, kasih, bulan, matahari, mentari, kamu, engkau, kau, memadu, menggapai, menerima, kenangan, ingatan, kesan
    3) Kegiatan Penutup
    (1) Guru dan siswa melakukan refleksi dengan bertanya jawab tentang jalannya pembelajaran yang telah dilakukan.
    (2) Guru memberikan penguatan kepada siswa dengan memberikan komentar positif tentang hasil pekerjaan siswa.
    Untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran diadakan tes tertulis. Tes ini diberikan karena penulis ingin mengetahui kemajuan siswa selama pembelajaran secara individual.
    c. Pengamatan
    Pengumpulan data pada penelitian tindakan ini dilakukan dengan pengamatan pada proses pembelajaran yang meliputi aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Guru dibantu dengan teman sejawat mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung, mencatat data-data yang muncul kemudian mentranskripkannya. Analisis dokumen dilakukan dengan menilai hasil pekerjaan siswa baik secara kelompok maupun individu.
    Data tentang kemampuan menulis puisi diukur dengan membandingkan antara kemampuan menulis puisi sebelum dilakukan tindakan dan hasil setelah dilakukan tindakan. Selain mengukur kemampuan menulis juga diukur motivasi belajar siswa dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, yaitu saat diskusi dalam kelompok, memberi tanggapan, dan tanya jawab.
    d. Refleksi
    Analisis data dan refleksi dilakukan dalam kegiatan tersendiri dengan teman sejawat. Hasil refleksi dicatat dan menghasilkan rancangan tindakan pada Siklus II. Peneliti melakukan analisis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data yang telah dikumpulkan. Hasil yang terkumpul dari temuan-temuan di lapangan selanjutnya dijadikan dasar untuk perecanaan pada Siklus II.
    Siklus II
    Rancangan tindakan yang dilakukan pada siklus II pada dasarnya sama dengan siklus I, yaitu siswa diberi dua kali tindakan. Tindakan pertama siswa melengkapi kalimat-kalimat puisi yang dirumpangkan dan tindakan kedua siswa melengkapi puisi rumpang.
    Adapun tahapan tahapan pembelajaran yang dilakukan meliputi:
    a. Refleksi awal
    Berdasarkan refleksi siklus I, peneliti akan melakukan perencanaan ulang. Hasil perencanaan ulang ini akan diterapkan pada Siklus II. Sebelum merevisi rencana pembelajaran terlebih dahulu penulis membuat catatan-catatan permasalahan yang muncul pada Siklus I. Namun, sebagai pedoman untuk pelaksanaan pembelajaran yang akan diterapkan pada siklus II, secara garis besar sama dengan Siklus I yang direncanakan sebagai berikut.
    b. Rancangan Tindakan
    Rancangan tindakan yang dilakukan sebagai berikut:
    Membuat persiapan mengajar dengan langkah-langkah sebagai berikut:
    a) Menyusun tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan Kompetensi Dasar.
    b) Menentukan materi pelajaran yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai.
    c) Menentukan metode yang digunakan. Sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian ini, metode yang digunakan yaitu multi metode yang terdiri atas metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, pemberian tugas, dan latihan.
    d) Merumuskan kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:
    1) Kegiatan pendahuluan
    Kegiatan pendahuluan meliputi apersepsi yang dilakukan dengan metode ceramah yang diselingi metode tanya jawab dengan media gambar.
    2) Kegiatan inti
    (1) Siswa membentuk kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 4-5 orang.
    (2) Semua siswa mengamati carta kalimat puisi dan kalimat puisi yang dirumpangkan yang ditempel guru di papan tulis.
    (3) Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk melengkapi kalimat rumpang dan puisi rumpang dengan daftar kata yang telah disediakan..
    (4) Masing-masing kelompok secara bergantian -melalui juru bicaranya- menuliskan hasil pekerjaannya di papan tulis.
    (5) Siswa dan guru melakukan pembahasan terhadap pekerjaan yang telah di tulis di papan tulis dengan cara masing-masing kelompok saling memberikan tanggapan terhadap hasil pekerjaan yang telah ditulis di papan . Tanggapan tersebut berupa pembetulan yang disertai penjelasan atau alasan. Guru memberikan komentar terhadap pekerjaan dan tanggapan siswa.
    3) Kegiatan Penutup
    (1) Guru dan siswa melakukan refleksi dengan bertanya jawab tentang jalannya pembelajaran yang telah dilakukan.
    (2) Guru memberikan penguatan kepada siswa dengan memberikan komentar positif tentang hasil pekerjaan siswa.
    Untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran diadakan tes tertulis. Tes ini diberikan untuk mengetahui kemajuan siswa selama pembelajaran secara individual.
    c. Pengamatan
    Pengumpulan data pada penelitian tindakan ini dilakukan dengan pengamatan pada proses pembelajaran yang meliputi aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dan analisis dokumen. Guru dibantu dengan teman sejawat mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung, mencatat data-data yang muncul kemudian mentranskripkannya. Analisis dokumen dilakukan dengan menilai hasil pekerjaan siswa baik secara kelompok maupun individu.
    Data tentang peningkatan kemampuan menulis puisi diukur dengan membandingkan antara kemampuan menulis puisi sebelum dilakukan tindakan dan hasil setelah dilakukan tindakan. Selain mengukur peningkatan kemampuan menulis juga diukur peningkatan motivasi belajar siswa dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, yaitu saat diskusi dalam kelompok, memberi tanggapan, dan tanya jawab.
    d. Refleksi
    Analisis data dan refleksi dilakukan dalam kegiatan tersendiri dengan teman sejawat. Hasil refleksi dicatat dan menghasilkan rancangan tindakan pada Siklus berikutnya, lalu melakukan analisis, sintesis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data yang telah dikumpulkan. Hasil yang terkumpul dari temuan-temuan di lapangan selanjutnya dijadikan dasar untuk perecanaan pada Siklus berikutnya.
    3. Instrumen Penelitian
    Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang kesulitan menulis puisi adalah :
    (1) lembar pengamatan (observasi)
    (2) studi dokumen

    4. Teknik Pengumpulan Data
    Data penelitian ini dikumpulkan dengan teknik pengamatan (observasi), dan studi dokumen.
    (1) Teknik pengamatan (observasi), digunakan untuk menilai proses pembelajaran dan motivasi belajar siswa.
    Indikator yang digunakan dalam pengamatan ini adalah:
    1. mengerjakan tepat waktu
    2. aktivitas tinggi
    3. mengerjakan dengan benar
    (2) Studi dokumen, untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis puisi.
    G. Analisis Data
    Tes merupakan cara pengukuran yang tepat untuk memperoleh data dari siswa karena akan memperoleh data langsung dari sumbernya. Teknik analisis datanya , karena data kuantitatif, yaitu memberikan penilaian terhadap hasil tes. Adapun hal-hal yang dinilai dalam tes tersebut, yaitu:
    a. diksi atau pilihan kata
    b. rima atau persajakan
    c. isi
    Dalam penelitian ini kemampuan menulis puisi diukur dengan membandingkan hasil yang diperoleh oleh siswa sebelum dilakukan penelitian dengan hasil belajar setelah dilakukan penelitian.
    Kesimpulan dari penjelasan diatas, maka dapat dipastikan jika teknik semiterpimpin dapat membantu kesulitan siswa dalam membuat sebuah puisi….

    Daftar Pustaka
    Akhadiah, S. 1997. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
    Depdikbud. 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar (Garis-Garis Besar Program Pengajaran). Jakarta: Depdikbud.
    Depdiknas, 1999/2000, Jurnal Gentengkali, Edisi 3 Tahun III, Surabaya: Depdiknas
    2004. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Depdiknas
    ¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬_________2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 3. Jakarta: Depdiknas
    Sitorus dan Habiruddin Said. 1997. Some Samples of Teaching Writing Materials: Materi LKI PKG Bahasa Inggris 1997/1998
    Sumardjo, J & Saini K.M. 1991. Apresisasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
    Sutarto, dkk. 1999. Pedoman Pembelajaran Apresiasi Puisi, Buku 2-P, Jakarta: Puskur Depdikbud
    Tarigan, Henri Guntur.1986. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa

  8. SRI PURWATI
    20/05/2010 pukul 4:20 am

    PROPOSAL
    PENELITIAN TINDAKAN KELAS
    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN DENGAN TEKNIK BUKU HARIAN PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 4 TANJUNG

    DI SAMPAIKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
    PENELITIAN SASTRA DAN PENGAJARANNYA

    DOSEN PEMBIMBING:
    SAINUL HERMAWAN, M.Hum

    OLEH:
    NAMA : SRI PURWATI
    NPM : 306. 07. 11. 377
    SEMESTER : VI

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
    JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
    SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
    PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
    BANJARMASIN
    2010

    Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Pendek dengan Teknik Buku Harian pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung
    BAB I
    PENDAHULUAN
    I.I Latar Belakang
    Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal ada empat komponen keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dari keempat keterampilan tersebut, menulis menduduki tingkat kesulitan tertinggi. Hal itu dikarenakan dalam menulis diperlukan keterampilan khusus dan tidak semua orang bisa melakukannya.
    Menulis sebagai suatu aktivitas memang bisa dikatakan mudah. Mudah karena setiap orang, asal tidak buta huruf pasti bisa melakukannya. Namun mudah juga itu relatif tergantung apa yang ditulis. Menulis SMS, surat, catatan harian, artikel, cerpen, atau menulis naskah buku tentu berbeda tingkat kesulitannya. Mudah sulitnya menulis selain tergantung apa yang ditulis, juga tergantung siapa yang menulis. Bagi seorang cerpenis yang sudah menghasilkan ratusan cerpen tentu saja menulis cerpen itu mudah baginya. Sementara itu seorang penulis pemula apalagi yang sama sekali belum pernah menulis cerpen, tentu menulis cerpen bukanlah hal yang mudah.
    Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus diajarkan kepada siswa dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi. Dengan adanya aturan tersebut seharusnya siswa SMP kelas VII sudah dapat menulis, baik itu menulis pengalaman pribadi dalam bentuk cerita pendek ( cerpen), novel dan lain- lain, maupun menulis kembali dongeng yang telah didengarkan dengan sistematika penulisan dan ejaan yang tepat. Namun, pada kenyataannya hampir setengah dari jumlah siswa setiap kelasnya belum mampu menulis. Bahkan, masih banyak siswa yang menulis dengan ide yang meloncat- loncat. Hal itu dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kreatifitas siswa dalam mengembangkan dan merangkai kata- kata menjadi sebuah karangan.
    Di dalam keterampilan menulis narasi, baik yang berupa novel ataupun cerpen, siswa haruslah mempunyai pengetahuan tentang urutan kronologis suatu peristiwa, kejadian dan masalah yang diharapkan, sehingga lebih menuntut pengetahuan dan keterampilan serta ide dalam menggunakan kosa kata agar karangan yang dihasilkan bisa menjadi karangan yang baik. Kesulitan menulis cerpen yang dihadapi siswa bukan hanya dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang teknik menulis, tetapi juga dikarenakan ketidaksesuaian antara metode dan media yang dipakai dalam mengajar dengan pelajaran yang disampaikan. Penggunaan metode dan media pembelajaran mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan menulis cerpen pada siswa SMP kelas VII.
    Dengan penggunaan media pembelajaran yang tepat dan menyenangkan tentunya akan membangkitkan minat dan kreatifitas siswa dalam menulis. Salah satu upaya membangkitkan minat dan kreatifitas siswa dalam menulis cerpen adalah dengan penggunaan buku harian sebagai media pembelajarannya. Hal tersebut dikarenakan pada jenjang usia remaja, siswa lebih cenderung mengungkapkan pikiran, pengalaman dan perasaanya ke dalam buku harian sehingga penggunaan media buku harian sebagai sarana peningkatan kemampuan menulis siswa, dianggap penulis lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa.
    Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti kemampuan menulis siswa kelas VII, terutama mengenai peningkatan kemampuan menulis cerita pendek dengan teknik buku harian pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
    1) Bagaimana mengatasi kurangnya kreatifitas siswa dalam mengembangkan kata- kata menjadi sebuah karangan?
    2) Bagaimana upaya dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung?
    1.3 Tujuan Penelitian
    Sesuai dengan rumusan masalah diatas, penulis menetapkan tujuan dalam penelitian tindakan kelas ini, sebagai berikut:
    1) Untuk mengetahui kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung dalam menulis cerpen.
    2) Untuk mengetahui efektifitas penggunaan media buku harian dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen di kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung.
    3) Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung dalam menulis cerpen dengan teknik buku harian.
    1.4 Manfaat Penelitian
    – Bagi Siswa
    a. Dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam menulis cerita pendek.
    b. Dapat meningkatkan makna pembelajaran menulis cerpen bagi siswa.
    – Bagi Guru
    a. Dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis cerpen.
    b. Dapat meningkatkan ketepatan penggunaan media buku harian dalam proses
    pembelajaran.
    c. Dapat meningkatkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran.
    d. Dapat memfasilitasi siswa dalam peningkatan motivasi dan hasil belajarnya.
    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA
    2.1 Cerita Pendek
    2.1.1 Pengertian Cerita Pendek
    Sampai kini belum ada kesamaan pendapat tentang pengertian cerpen yang paling tepat sehingga dapat diterima setiap orang,. Banyak ahli dan peminat sastra yang berpendapat bahwa memberikan batasan cerita pendek lebih sulit daripada memperlihatkan atau menunjukkan cerpen itu sendiri. Walaupun demikian berikut ini penulis kutipkan beberapa pendapat tentang pengertian tersebut sebagai bahan untuk memahami sebuah cerita pendek.
    Harry D. Fauzi (2005: 61) mengemukakan bahwa cerita pendek atau cerpen adalah bentuk karangan prosa fiksi yang pendek, jumlahnya katanya berkisar antara seribu hingga lima ribu kata. Cerpen dikembangkan dan diarahkan kepada insiden atau peristiwa tunggal yang berkaitan erat dengan pelaku utamanya. Bagi penulis cerpen tidak ada kesempatan untuk mengembangkan karakter pelaku- pelaku secara rinci
    Beberapa batasan lain menekankan pada tunggalnya kejadian cerpen itu sendiri. Jacob Sumardjo dan Saini K.M (1994: 37) berpendapat bahwa cerpen adalah cerita atau narasi fiktif yang relatif pendek dan hanya mengandung satu peristiwa untuk satu efek bagi pembacanya. Dikemukakan pula oleh Ellery Sadwich (dalam Tarigan, 1993: 197) bahwa cerpen adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada jiwa pembaca.
    2.1.2 Ciri- Ciri Cerpen
    Beberapa ciri yang tampak pada sebuah cerpen dikemukakan oleh Ristiani (2003: 4) sebagai berikut:
    1. Relatif lebih pendek ( sebab ada pula cerpen yang panjang)
    2. Terdiri atas 1.000 sampai 5.000 kata (tidak menjadi ukuran mutlak)
    3. Dapat dibaca selesai dalam sekali duduk
    4. Kesan tunggal diperoleh dalam sekali baca (caranya dengan mengarahkan plot pada insiden/ peristiwa tunggal)
    5. Tokoh jarang dikembangkan karena langsung ditunjukkan karakternya
    6. Karakter dalam cerpen lebih merupakan penunjukkan daripada perkembangan
    7. Dimensi waktu terbatas
    8. Kualitas cerpen bersifat pendataan, pemusatan dan pendalaman
    9. Mencapai keutuhan secara ekslusi
    10. Membiarkan hal- hal yang dianggap tidak pokok
    11. Hanya mengungkapkan satu masalah tunggal
    12. Menunjukkan adanya kebulatan kisah
    13. Pemusatan perhatian pada satu tokoh utama, pada satu situasi tertentu
    Rincian mengenai ciri- ciri cerpen dapat disimpulkan dengan memperhatikan beberapa pendapat diatas. Ciri- ciri tersebut adalah: Pertama, bentuk cerpen berupa cerita rekaan atau narasi fiktif (bukan analisis argumentatif); Kedua, sifat narasi fiktif cerpen menuntut adanya satu kejadian atau terkonsentrasi hanya pada satu peristiwa; Ketiga, bahan atau isinya berupa kehidupan; Keempat, relatif pendek; dan Kelima, menggunakan media bahasa
    Dari ciri- ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah cerita fiksi atau rekaan yang relatif singkat, mengungkapkan suatu kesan dari pragmen kehidupan manusia, berpusat pada suatu peristiwa dan merupakan suatu kesatuan yang utuh serta dinyatakan dalam bahasa tulis.
    2.2 Buku Harian
    Buku harian dikenal juga dengan catatan harian. Dalam bahasa Inggris disebut “diary”. Buku harian berisi tentang hal- hal penting yang terjadi pada hari itu. Hal penting itu dapat berupa pengalaman, pemikiran dan perasaan. Pengalaman menarik yang bermanfaat dapat dituliskan didalamnya. Pemikiran yang muncul, yang dianggap penting dan bermanfaat juga di rekam dalam buku harian. Begitu pula halnya dengan perasaan tentang atau terhadap sesuatu, juga dapat menjadi muatan buku harian. Jadi, buku harian adalah catatan penting tentang pengalaman, pemikiran, dan perasaan yang ditulis setiap hari oleh seseorang.
    Buku harian memiliki dua kategori. Pertama, buku harian yang bersifat personal atau individu/ pribadi. Buku harian jenis ini dibuat, dibaca dan dimanfaatkan oleh individu. Isinya berkaitan dengan masalah- masalah pribadi dan tidak boleh dibaca oleh orang lain. Kedua, buku harian yang bersifat umum. Buku harian jenis ini dibuat, dibaca dan dimanfaatkanoleh atau atas nama lembaga.
    Buku harian merupakan catatan uang menggunakan bahasa tulis. Menulis buku harian tiap hari berarti kita berlatih menulis. Jadi, manfaat pertama dari buku harian ialah sebagai wahana berlatih menulis. Selain itu, buku harian mencatat, merekam dan mengabadikan pengalaman, perasaan dan pemikiran yang bermanfaat. Manfaat kedua dari buku harian adalah sebagai alat perekam kejadian atau peristiwa penting yang berhubungan dengan pengalaman, perasaan dan pemikiran.
    Ada tiga hal yang dapat dituangkan ke dalam buku harian. Ketiga hal tersebut akan menjadi isi buku harian. Hal itu adalah pengalaman, pemikiran dan perasaan. Pengalaman adalah sesuatu yang telah dialami baik itu yang menyenangkan maupun menyedihkan. Pengalaman yang dituangkan ke dalam buku harian tentu pengalaman yang berharga dan bermanfaat. Perasaan adalah sesuatu yang dirasakan tentang atau terhadap hal tertentu. Perasaan itu bisa sedih, senang, duka, gembira, lucu dan sebagainya. Sedangkan pemikiran adalah sesuatu yang menjadi hasil berpikir, sesuatu yang dilahirkan oleh proses berpikir. Pemikiran itu bisa berupa pendapat, gagasan dan ide tentang atau yang berhubungan dengan sesuatu.
    Sebelum menulis buku harian ada beberapa hal yang harus diketahui, hal itu adalah komponen/ elemen buku harian, format buku harian dan penggunaan bahasa dalam buku harian. Elemen minimal buku harian ada dua, pertama komponen hari, tanggal dan tahun. Kedua komponen isi buku harian.
    Buku harian ada dua kategori. Pertama, buku harian yang berkategori individu. Buku harian berkategori ini menggunakan bahasa yang individual juga. Bahasa yang individu adalah bahasa khas (khusus) yang digunakan oleh seseorang untuk mengung-kapkan sesuatu. Bahasanya diwarnai oleh kepribadian individu itu. Tentu saja, bahasa yang digunakan haruslah komuni-katif. Artinya, bahasa yang digunakan dapat dipahami jika dibaca oleh orang lain. Buku harian berkategori kedua yaitu buku harian yang dibuat dan digunakan oleh lembaga. Buku harian jenis ini hendaklah menggunakan bahasa yang umum, bahasa yang dapat dikenal dan dipahami oleh orang yang membacanya. Biasanya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan ragam lembaga itu.
    Jadi, bahasa yang digunakan dalam buku harian adalah bahasa yang sesuai dengan kategori buku harian itu. Jika ia berkategori individu bahasanya sangat individual, dan jika berkategori lembaga, bahasanya haruslah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Untuk penggunaan bahasa itu, hal yang paling penting adalah komunikatif, dapat dipahami dengan tepat dan benar oleh pembaca.
    2.3 Menuliskan Pengalaman, Perasaan dan Pemikiran pada Buku Harian
    “Pengalaman adalah guru yang paling baik” (experience is the best teacher), itulah ungkapan yang sering kita dengar. Tiap hari kita mendapat banyak pengalaman. Pengalaman hari ini berbeda dengan kemarin. Pengalaman minggu yang lalu berbeda dengan minggu ini. Dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun, kita memiliki segudang pengalaman. Akan tetapi, apakah semua yang kita alami itu dapat kita ingat? Tentu tidak, bukan? Oleh karena itu, kita perlu memiliki keterampilan untuk merekam pengalaman itu. Salah satu bentuk keterampilan tersebut adalah menulis buku harian. Pada saatnya, pengalaman kita yang terekam itu akan dapat menjadi guru atau pelajaran yang sangat berharga.
    Pengalaman yang dicatat pada buku harian adalah pengalaman yang menarik. Selain menarik, pengalaman itu juga bermanfaat untuk dicatat. Pengalaman itu bisa terjadi setiap hari. Akan tetapi, belum tentu pengalaman tiap hari itu menarik dan bermanfaat. Oleh karena itu, pengalaman tersebut haruslah diseleksi, disaring, dan dipilih. Hanya yang menarik dan bermanfaat sajalah yang dicatat atau direkam di dalam buku harian.
    2.4 Teknik Buku Harian
    Menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan tulisan sebagai mediumnya (Akhdiah, 1997:1.3). Karena menulis itu sulit oleh sebab itu, kegiatan menulis perlu mendapat bimbingan dari guru. Menurut Widyamartaya (1990:9) pengetahuan dan keterampilan menulis dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, subtansi bahan yang berupa ide, pengorganiosasian dan bahasa, kedua, strategi penyampaian ide, ketiga gaya yang di antaranya adalah ejaan, pilihan kata, pilihan kata, hubungan kata, susunan kalimat, susunan paragraf, hubungan paragraf.
    Teknik buku harian dalam penelitian ini adalah teknik menulis dengan disediakannya buku harian untuk siswa dalam menulis pengalaman, pemikiran dan perasaanya, agar siswa mudah dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen. Dengan bantuan teknik ini diharapkan siswa mengalami kemudahan di dalam menuangkan ide ke dalam paragraf. Karena siswa memiliki panduan dalam menulis cerpen melalui buku hariannya. Dan tentunya dengan adanya buku harian akan sangat membantu siswa dalam mengembangkan ide- ide yang semula sempit menjadi berkembang sehingga siswa dapat dengan mudah merangkai kata- kata dalam bentuk karangan.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Rancangan Penelitian
    Ada dua macam pendekatan dalam penelitian yaitu pendekatan kuatitatif dimana peneliti akan bekerja dengan angka-angka sebagai perwujudan gejala yang diamai dan pendekatan kualitatif dimana peneliti akan bekerja dengan informasi-informasi data dan di dalam menganalisanya tidak menggunakan analisa data statistik.
    Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh penggunaan latihan gaya bahasa dalam meningkatkan kemampuan memarafrasakan. Dengan melakukan analisis akan mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil pre-test dan post test.
    3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
    3.2.1 Tempat Penelitian
    Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negri 4 Tanjung. Secara khusus, penelitian dilakukan di kelas VII A SMP Negeri 4 Tanjung, yang beralamat di Jl. Tanjung Selatan, Kecamatan Murung Pudak.
    3.2.2 Waktu Penelitian
    Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil yakin pada bulan Mei – Nopember 2010, diselenggarakan pada hari senin, 8 Mei 2010 dan menganalisis data selama tiga bulan, dari bulan September – Oktober 2010.

    3.3. Objek dan Subjek Penelitian
    Adapun yang menjadi objek penelitian ini adalah proses belajar mengajar, khususnya pembelajaran menulis cerpen yang terjadi di kelas VII A SMP Negeri 4 Tanjung yang berjumlah 21 siswa, yang terdiri dari 13 siswa laki- laki dan 8 siswa perempuan. Subjek dari penelitian ini adalah guru bahasa Indonesia dan siswa kelas VII A SMP Negeri 4 Tanjung.
    3.4 Bentuk Penelitian
    Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas (Suhardjo dalam Arikunto, 2007: 58). PTK memiliki ciri khusus yang membedakan dengan jenis penelitian lain. Berkaitan dengan ciri khusus tersebut, Suharsimi Ariakunto, dkk (2002: 62) menjelaskan ada beberapa karakteristik PTK tersebut, antara lain: (1) adanya tindakan yang nyata yang dilakukan dalam situasi yang alami dan ditujukan untuk menyelesaikan masalah, (2) menambah wawasan keilmiahan dan keilmuan, (3) sumber permasalahan berasal dari masalah yang dialami guru dalam pembelajaran, (4) permasalahan yang diangkat bersifat sederhana, nyata, jelas dan penting, (5) adanya kolaborasi antara praktikan dan peneliti, (6) ada tujuan penting dalam pelaksanaan PTK, yaitu meningkatkan profesionalisme guru, ada keputusan kelompok, bertujuan untuk meningkatkan dan menambah pengetahuan.
    Prinsip utama dalam PTK adalah adanya pemberian tindakan yang diaplikasikan dalam siklus-siklus yang berkelanjutan. Siklus yang berkelanjutan tersebut digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis. Dalam siklus tersebut,penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planing). Tahap berikutnya adalah pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting) (Suharsimi, Arikunto dkk., 2007: 104). Keempat aspek tersebut berjalan secara dinamis. PTK merupakan penelitian yang bersiklus. Artinya, penelitian ini dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai tujuan penelitian dapat tercapai.

    3.5 Sumber Data
    Sumber data dalam penelitian ini adalah:
    1) Dokumen
    Dokumen meliputi catatan lapangan selama proses pembelajaran dan hasil belajar siswa berupa tulisan.
    2) Informan
    Informan yaitu seseorang yang dipandang mengetahui permasalahan yang ingin dikaji oleh peneliti dan bersedia memberikan informasi kepada peneliti. Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah guru bahasa Indonesia VII dan siswa kelas VII A SMP Negeri 4 Tanjung.
    3) Tempat dan Peristiwa
    Tempat dan peristiwa yang menjadi data dalam penelitian ini adalah objek atau tempat yang akan digunakan guru dan siswa untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran menulis cerpen berlangsung di lingkungan yang telah ditentukan.
    3.6 Teknik Pengumpulan Data
    Teknik pengumpulan data yang digunakandalam penelitian ini adalah:
    1) Observasi
    Observasi yaitu dengan melakukan pengamatan proses pembelajaran menulis cerpen untuk melihat perkembangan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Observasi terhadap siswa difokuskan pada keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui teknik buku harian.
    2) Wawancara
    Wawancara yaitu dengan melakukan wawancara terhadap sejumlah siswa untuk mengetahui pendapat mereka tentang proses pembelajaran menulis cerpen dengan teknik buku harian yang dihadapi serta informasi lain yang dibutuhkan peneliti.
    3) Tes
    Tes yaitu dengan memberikan tugas kepada siswa untuk menulis cerpen sebelum dan sesudah adanya tindakan pemakaian teknik buku harian.
    F. Teknik Analisis Data
    Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kritis. Teknik tersebut mencakup kegiatan mengungkapkan kelebihan dan kekurangan kerja siswa dan guru dalam proses belajar-mengajar yang terjadi di dalam kelas selama penelitian berlangsung. Hasil analisis digunakan untuk menyusun rencana tindakan kelas berikutnya sesuai dengan siklus yang ada. Analisis dilakukan oleh guru dan peneliti secara bersama-sama.

    DAFTAR PUSTAKA
    Eneste, Pamusuk. 1982. Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya mengarang. Jakarta: Gramedia.
    Semi, M. Atar. 1995. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya
    Thahar, Haris Effendi. 1999. Kiat Menulis Cerita Pendek. Bandung: Angkasa
    Sukamto. 2000. Penelitian Tindakan (Action Research). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

  9. SRI PURWATI
    20/05/2010 pukul 4:44 am

    PROPOSAL
    PENELITIAN TINDAKAN KELAS
    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN DENGAN TEKNIK BUKU HARIAN PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 4 TANJUNG

    DI SAMPAIKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
    PENELITIAN SASTRA DAN PENGAJARANNYA

    DOSEN PEMBIMBING:
    SAINUL HERMAWAN, M.Hum

    OLEH:
    NAMA : SRI PURWATI
    NPM : 306. 07. 11. 377
    SEMESTER : VI

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
    JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
    SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
    PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
    BANJARMASIN
    2010

    Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Pendek dengan Teknik Buku Harian pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung
    BAB I
    PENDAHULUAN
    I.I Latar Belakang
    Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal ada empat komponen keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dari keempat keterampilan tersebut, menulis menduduki tingkat kesulitan tertinggi. Hal itu dikarenakan dalam menulis diperlukan keterampilan khusus dan tidak semua orang bisa melakukannya.
    Menulis sebagai suatu aktivitas memang bisa dikatakan mudah. Mudah karena setiap orang, asal tidak buta huruf pasti bisa melakukannya. Namun mudah juga itu relatif tergantung apa yang ditulis. Menulis SMS, surat, catatan harian, artikel, cerpen, atau menulis naskah buku tentu berbeda tingkat kesulitannya. Mudah sulitnya menulis selain tergantung apa yang ditulis, juga tergantung siapa yang menulis. Bagi seorang cerpenis yang sudah menghasilkan ratusan cerpen tentu saja menulis cerpen itu mudah baginya. Sementara itu seorang penulis pemula apalagi yang sama sekali belum pernah menulis cerpen, tentu menulis cerpen bukanlah hal yang mudah.
    Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus diajarkan kepada siswa dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi. Dengan adanya aturan tersebut seharusnya siswa SMP kelas VII sudah dapat menulis, baik itu menulis pengalaman pribadi dalam bentuk cerita pendek ( cerpen), novel dan lain- lain, maupun menulis kembali dongeng yang telah didengarkan dengan sistematika penulisan dan ejaan yang tepat. Namun, pada kenyataannya hampir setengah dari jumlah siswa setiap kelasnya belum mampu menulis. Bahkan, masih banyak siswa yang menulis dengan ide yang meloncat- loncat. Hal itu dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kreatifitas siswa dalam mengembangkan dan merangkai kata- kata menjadi sebuah karangan.
    Di dalam keterampilan menulis narasi, baik yang berupa novel ataupun cerpen, siswa haruslah mempunyai pengetahuan tentang urutan kronologis suatu peristiwa, kejadian dan masalah yang diharapkan, sehingga lebih menuntut pengetahuan dan keterampilan serta ide dalam menggunakan kosa kata agar karangan yang dihasilkan bisa menjadi karangan yang baik. Kesulitan menulis cerpen yang dihadapi siswa bukan hanya dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang teknik menulis, tetapi juga dikarenakan ketidaksesuaian antara metode dan media yang dipakai dalam mengajar dengan pelajaran yang disampaikan. Penggunaan metode dan media pembelajaran mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan menulis cerpen pada siswa SMP kelas VII.
    Dengan penggunaan media pembelajaran yang tepat dan menyenangkan tentunya akan membangkitkan minat dan kreatifitas siswa dalam menulis. Salah satu upaya membangkitkan minat dan kreatifitas siswa dalam menulis cerpen adalah dengan penggunaan buku harian sebagai media pembelajarannya. Hal tersebut dikarenakan pada jenjang usia remaja, siswa lebih cenderung mengungkapkan pikiran, pengalaman dan perasaanya ke dalam buku harian sehingga penggunaan media buku harian sebagai sarana peningkatan kemampuan menulis siswa, dianggap penulis lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa.
    Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti kemampuan menulis siswa kelas VII, terutama mengenai peningkatan kemampuan menulis cerita pendek dengan teknik buku harian pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
    1) Bagaimana mengatasi kurangnya kreatifitas siswa dalam mengembangkan kata- kata menjadi sebuah karangan?
    2) Bagaimana upaya dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung?
    1.3 Tujuan Penelitian
    Sesuai dengan rumusan masalah diatas, penulis menetapkan tujuan dalam penelitian tindakan kelas ini, sebagai berikut:
    1) Untuk mengetahui kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung dalam menulis cerpen.
    2) Untuk mengetahui efektifitas penggunaan media buku harian dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen di kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung.
    3) Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanjung dalam menulis cerpen dengan teknik buku harian.
    1.4 Manfaat Penelitian
    – Bagi Siswa
    a. Dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam menulis cerita pendek.
    b. Dapat meningkatkan makna pembelajaran menulis cerpen bagi siswa.
    – Bagi Guru
    a. Dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis cerpen.
    b. Dapat meningkatkan ketepatan penggunaan media buku harian dalam proses
    pembelajaran.
    c. Dapat meningkatkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran.
    d. Dapat memfasilitasi siswa dalam peningkatan motivasi dan hasil belajarnya.
    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA
    2.1 Cerita Pendek
    2.1.1 Pengertian Cerita Pendek
    Sampai kini belum ada kesamaan pendapat tentang pengertian cerpen yang paling tepat sehingga dapat diterima setiap orang,. Banyak ahli dan peminat sastra yang berpendapat bahwa memberikan batasan cerita pendek lebih sulit daripada memperlihatkan atau menunjukkan cerpen itu sendiri. Walaupun demikian berikut ini penulis kutipkan beberapa pendapat tentang pengertian tersebut sebagai bahan untuk memahami sebuah cerita pendek.
    Harry D. Fauzi (2005: 61) mengemukakan bahwa cerita pendek atau cerpen adalah bentuk karangan prosa fiksi yang pendek, jumlahnya katanya berkisar antara seribu hingga lima ribu kata. Cerpen dikembangkan dan diarahkan kepada insiden atau peristiwa tunggal yang berkaitan erat dengan pelaku utamanya. Bagi penulis cerpen tidak ada kesempatan untuk mengembangkan karakter pelaku- pelaku secara rinci
    Beberapa batasan lain menekankan pada tunggalnya kejadian cerpen itu sendiri. Jacob Sumardjo dan Saini K.M (1994: 37) berpendapat bahwa cerpen adalah cerita atau narasi fiktif yang relatif pendek dan hanya mengandung satu peristiwa untuk satu efek bagi pembacanya. Dikemukakan pula oleh Ellery Sadwich (dalam Tarigan, 1993: 197) bahwa cerpen adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada jiwa pembaca.
    2.1.2 Ciri- Ciri Cerpen
    Beberapa ciri yang tampak pada sebuah cerpen dikemukakan oleh Ristiani (2003: 4) sebagai berikut:
    1. Relatif lebih pendek ( sebab ada pula cerpen yang panjang)
    2. Terdiri atas 1.000 sampai 5.000 kata (tidak menjadi ukuran mutlak)
    3. Dapat dibaca selesai dalam sekali duduk
    4. Kesan tunggal diperoleh dalam sekali baca (caranya dengan mengarahkan plot pada insiden/ peristiwa tunggal)
    5. Tokoh jarang dikembangkan karena langsung ditunjukkan karakternya
    6. Karakter dalam cerpen lebih merupakan penunjukkan daripada perkembangan
    7. Dimensi waktu terbatas
    8. Kualitas cerpen bersifat pendataan, pemusatan dan pendalaman
    9. Mencapai keutuhan secara ekslusi
    10. Membiarkan hal- hal yang dianggap tidak pokok
    11. Hanya mengungkapkan satu masalah tunggal
    12. Menunjukkan adanya kebulatan kisah
    13. Pemusatan perhatian pada satu tokoh utama, pada satu situasi tertentu
    Rincian mengenai ciri- ciri cerpen dapat disimpulkan dengan memperhatikan beberapa pendapat diatas. Ciri- ciri tersebut adalah: Pertama, bentuk cerpen berupa cerita rekaan atau narasi fiktif (bukan analisis argumentatif); Kedua, sifat narasi fiktif cerpen menuntut adanya satu kejadian atau terkonsentrasi hanya pada satu peristiwa; Ketiga, bahan atau isinya berupa kehidupan; Keempat, relatif pendek; dan Kelima, menggunakan media bahasa
    Dari ciri- ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah cerita fiksi atau rekaan yang relatif singkat, mengungkapkan suatu kesan dari pragmen kehidupan manusia, berpusat pada suatu peristiwa dan merupakan suatu kesatuan yang utuh serta dinyatakan dalam bahasa tulis.
    2.2 Buku Harian
    Buku harian dikenal juga dengan catatan harian. Dalam bahasa Inggris disebut “diary”. Buku harian berisi tentang hal- hal penting yang terjadi pada hari itu. Hal penting itu dapat berupa pengalaman, pemikiran dan perasaan. Pengalaman menarik yang bermanfaat dapat dituliskan didalamnya. Pemikiran yang muncul, yang dianggap penting dan bermanfaat juga di rekam dalam buku harian. Begitu pula halnya dengan perasaan tentang atau terhadap sesuatu, juga dapat menjadi muatan buku harian. Jadi, buku harian adalah catatan penting tentang pengalaman, pemikiran, dan perasaan yang ditulis setiap hari oleh seseorang.
    Buku harian memiliki dua kategori. Pertama, buku harian yang bersifat personal atau individu/ pribadi. Buku harian jenis ini dibuat, dibaca dan dimanfaatkan oleh individu. Isinya berkaitan dengan masalah- masalah pribadi dan tidak boleh dibaca oleh orang lain. Kedua, buku harian yang bersifat umum. Buku harian jenis ini dibuat, dibaca dan dimanfaatkanoleh atau atas nama lembaga.
    Buku harian merupakan catatan uang menggunakan bahasa tulis. Menulis buku harian tiap hari berarti kita berlatih menulis. Jadi, manfaat pertama dari buku harian ialah sebagai wahana berlatih menulis. Selain itu, buku harian mencatat, merekam dan mengabadikan pengalaman, perasaan dan pemikiran yang bermanfaat. Manfaat kedua dari buku harian adalah sebagai alat perekam kejadian atau peristiwa penting yang berhubungan dengan pengalaman, perasaan dan pemikiran.
    Ada tiga hal yang dapat dituangkan ke dalam buku harian. Ketiga hal tersebut akan menjadi isi buku harian. Hal itu adalah pengalaman, pemikiran dan perasaan. Pengalaman adalah sesuatu yang telah dialami baik itu yang menyenangkan maupun menyedihkan. Pengalaman yang dituangkan ke dalam buku harian tentu pengalaman yang berharga dan bermanfaat. Perasaan adalah sesuatu yang dirasakan tentang atau terhadap hal tertentu. Perasaan itu bisa sedih, senang, duka, gembira, lucu dan sebagainya. Sedangkan pemikiran adalah sesuatu yang menjadi hasil berpikir, sesuatu yang dilahirkan oleh proses berpikir. Pemikiran itu bisa berupa pendapat, gagasan dan ide tentang atau yang berhubungan dengan sesuatu.
    Sebelum menulis buku harian ada beberapa hal yang harus diketahui, hal itu adalah komponen/ elemen buku harian, format buku harian dan penggunaan bahasa dalam buku harian. Elemen minimal buku harian ada dua, pertama komponen hari, tanggal dan tahun. Kedua komponen isi buku harian.
    Buku harian ada dua kategori. Pertama, buku harian yang berkategori individu. Buku harian berkategori ini menggunakan bahasa yang individual juga. Bahasa yang individu adalah bahasa khas (khusus) yang digunakan oleh seseorang untuk mengung-kapkan sesuatu. Bahasanya diwarnai oleh kepribadian individu itu. Tentu saja, bahasa yang digunakan haruslah komuni-katif. Artinya, bahasa yang digunakan dapat dipahami jika dibaca oleh orang lain. Buku harian berkategori kedua yaitu buku harian yang dibuat dan digunakan oleh lembaga. Buku harian jenis ini hendaklah menggunakan bahasa yang umum, bahasa yang dapat dikenal dan dipahami oleh orang yang membacanya. Biasanya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan ragam lembaga itu.
    Jadi, bahasa yang digunakan dalam buku harian adalah bahasa yang sesuai dengan kategori buku harian itu. Jika ia berkategori individu bahasanya sangat individual, dan jika berkategori lembaga, bahasanya haruslah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Untuk penggunaan bahasa itu, hal yang paling penting adalah komunikatif, dapat dipahami dengan tepat dan benar oleh pembaca.
    2.3 Menuliskan Pengalaman, Perasaan dan Pemikiran pada Buku Harian
    “Pengalaman adalah guru yang paling baik” (experience is the best teacher), itulah ungkapan yang sering kita dengar. Tiap hari kita mendapat banyak pengalaman. Pengalaman hari ini berbeda dengan kemarin. Pengalaman minggu yang lalu berbeda dengan minggu ini. Dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun, kita memiliki segudang pengalaman. Akan tetapi, apakah semua yang kita alami itu dapat kita ingat? Tentu tidak, bukan? Oleh karena itu, kita perlu memiliki keterampilan untuk merekam pengalaman itu. Salah satu bentuk keterampilan tersebut adalah menulis buku harian. Pada saatnya, pengalaman kita yang terekam itu akan dapat menjadi guru atau pelajaran yang sangat berharga.
    Pengalaman yang dicatat pada buku harian adalah pengalaman yang menarik. Selain menarik, pengalaman itu juga bermanfaat untuk dicatat. Pengalaman itu bisa terjadi setiap hari. Akan tetapi, belum tentu pengalaman tiap hari itu menarik dan bermanfaat. Oleh karena itu, pengalaman tersebut haruslah diseleksi, disaring, dan dipilih. Hanya yang menarik dan bermanfaat sajalah yang dicatat atau direkam di dalam buku harian.
    2.4 Teknik Buku Harian
    Menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan tulisan sebagai mediumnya (Akhdiah, 1997:1.3). Karena menulis itu sulit oleh sebab itu, kegiatan menulis perlu mendapat bimbingan dari guru. Menurut Widyamartaya (1990:9) pengetahuan dan keterampilan menulis dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, subtansi bahan yang berupa ide, pengorganiosasian dan bahasa, kedua, strategi penyampaian ide, ketiga gaya yang di antaranya adalah ejaan, pilihan kata, pilihan kata, hubungan kata, susunan kalimat, susunan paragraf, hubungan paragraf.
    Teknik buku harian dalam penelitian ini adalah teknik menulis dengan disediakannya buku harian untuk siswa dalam menulis pengalaman, pemikiran dan perasaanya, agar siswa mudah dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen. Dengan bantuan teknik ini diharapkan siswa mengalami kemudahan di dalam menuangkan ide ke dalam paragraf. Karena siswa memiliki panduan dalam menulis cerpen melalui buku hariannya. Dan tentunya dengan adanya buku harian akan sangat membantu siswa dalam mengembangkan ide- ide yang semula sempit menjadi berkembang sehingga siswa dapat dengan mudah merangkai kata- kata dalam bentuk karangan.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Rancangan Penelitian
    Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan, yang pemfokusannya dilaksanakan dalam kegiatan di kelas sehingga penelitiannya berupa penelitian tindakan kelas. Tujuan utama penelitian ini ingin mendeskripsikan kemampuan siswa dalam pembelajaran di kelas, terutama deskripsi peningkatan kualitas pembelajaran menulis kreatif cerpen di kelas. Guru akan dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswanya jika guru tersebut mau melihat kembali pembelajaran yang diberikan kepada siswanya. Mampu tidaknya siswa dalam pembelajaran itu sangat bergantung pada tindakan guru. Tindakan guru seperti itu bila dicatat, kemudian direfleksikan kembali permasalahannya maka guru tersebut dapat dikatakan pula sebagai penelitian tindakan kelas sebab penelitian tindakan kelas menurut Carr dan Kemmis (dalam McNiff, 1992:2) adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri (self-reflective) secara kolektif yang melibatkan partisipan (guru, siswa, kepala sekolah) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) dengan tujuan untuk mengembangkan rasionalisasi dari praktik pendidikan yang sedang dialami guru.
    Penelitian tindakan pada penelitian ini terfokus pada rumusan permasalahan dan tujuan penelitian. Berdasarkan itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pembelajaran menulis kreatif cerpen dan meningkatkan hasil pembelajaran menulis yang terjadi pada situasi kelas yang konkret. Di samping tujuan di atas, diharapkan pula penelitian ini dapat menghasilkan interpretasi dan penilaian terhadap praktik yang dilakukan dalam proses belajar-mengajar kritis yang terjadi di dalam kelas.
    Prosedur penelitian tindakan terdiri atas beberapa tahap. Menurut pendapat Kurt Lewin (dalam Sukamto,2000:11), setiap siklus penelitian tindakan selalu ada aktivitas dasar, di antaranya adalah: identifikasi ide awal, analisis, menemukan masalah umum, perencanaan umum tindakan, mengembangkan langkah tindakan pertama, melaksanakan langkah tindakan pertama, mengevaluasi dan merevisi perencanaan umum. Berdasarkan siklus dasar ini, peneliti mengadakan perbaikan-perbaikan yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya. Tindakan seperti itu dilakukan terus-menerus sampai ada perbaikan.
    Berdasarkan pendapat Lewin itu, penelitian ini dirancang dengan langkah-langkah yang meliputi: studi pendahuluan, persiapan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan refleksi.
    Langkah-langkah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. Langkah awal kegiatan penelitian ini dimulai dari identifikasi permasalahan yang ada dalam pembelajaran, baik permasalahan yang ada dalam siswa, guru, maupun dalam proses perencanaan. Setelah itu, diadakan analisis hasil permasalahan dan diperoleh temuan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang tepat sehingga kurang bisa mengembangkan kemampuan menulis secara maksimal. Berdasarkan temuan itu, peneliti bersama-sama guru menyusun rencana tindakan untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis. Perencanaan tindakan kelas disusun bersama antara guru dan peneliti, yang berupa tujuan pembelajaran, satuan pelajaran, rencana pembelajaran, penilaian, bahan atau materi yang digunakan dalam pembelajaran. Rencana tindakan itu dilaksanakan dalam siklus-siklus pembelajaran. Setelah selesai tindakan setiap siklusnya, peneliti dan guru mengadakan refleksi untuk menentukan dasar tindakan perbaikan pada pelaksanaan siklus berikutnya hingga tujuan penelitian tercapai. Secara terperinci, alur penelitian ini diuraikan pada bagian berikut ini.
    3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
    3.2.1 Tempat Penelitian
    Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negri 4 Tanjung. Secara khusus, penelitian dilakukan di kelas VII A SMP Negeri 4 Tanjung, yang beralamat di Jl. Tanjung Selatan, Kecamatan Murung Pudak.
    3.2.2 Waktu Penelitian
    Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil yakin pada bulan Mei – Nopember 2010, diselenggarakan pada hari senin, 8 Mei 2010 dan menganalisis data selama tiga bulan, dari bulan September – Oktober 2010.

    3.3. Objek dan Subjek Penelitian
    Adapun yang menjadi objek penelitian ini adalah proses belajar mengajar, khususnya pembelajaran menulis cerpen yang terjadi di kelas VII A SMP Negeri 4 Tanjung yang berjumlah 21 siswa, yang terdiri dari 13 siswa laki- laki dan 8 siswa perempuan. Subjek dari penelitian ini adalah guru bahasa Indonesia dan siswa kelas VII A SMP Negeri 4 Tanjung.
    3.4 Bentuk Penelitian
    Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas (Suhardjo dalam Arikunto, 2007: 58). PTK memiliki ciri khusus yang membedakan dengan jenis penelitian lain. Berkaitan dengan ciri khusus tersebut, Suharsimi Ariakunto, dkk (2002: 62) menjelaskan ada beberapa karakteristik PTK tersebut, antara lain: (1) adanya tindakan yang nyata yang dilakukan dalam situasi yang alami dan ditujukan untuk menyelesaikan masalah, (2) menambah wawasan keilmiahan dan keilmuan, (3) sumber permasalahan berasal dari masalah yang dialami guru dalam pembelajaran, (4) permasalahan yang diangkat bersifat sederhana, nyata, jelas dan penting, (5) adanya kolaborasi antara praktikan dan peneliti, (6) ada tujuan penting dalam pelaksanaan PTK, yaitu meningkatkan profesionalisme guru, ada keputusan kelompok, bertujuan untuk meningkatkan dan menambah pengetahuan.
    Prinsip utama dalam PTK adalah adanya pemberian tindakan yang diaplikasikan dalam siklus-siklus yang berkelanjutan. Siklus yang berkelanjutan tersebut digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis. Dalam siklus tersebut,penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planing). Tahap berikutnya adalah pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting) (Suharsimi, Arikunto dkk., 2007: 104). Keempat aspek tersebut berjalan secara dinamis. PTK merupakan penelitian yang bersiklus. Artinya, penelitian ini dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai tujuan penelitian dapat tercapai.

    3.5 Sumber Data
    Sumber data dalam penelitian ini adalah:
    1) Dokumen
    Dokumen meliputi catatan lapangan selama proses pembelajaran dan hasil belajar siswa berupa tulisan.
    2) Informan
    Informan yaitu seseorang yang dipandang mengetahui permasalahan yang ingin dikaji oleh peneliti dan bersedia memberikan informasi kepada peneliti. Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah guru bahasa Indonesia VII dan siswa kelas VII A SMP Negeri 4 Tanjung.
    3) Tempat dan Peristiwa
    Tempat dan peristiwa yang menjadi data dalam penelitian ini adalah objek atau tempat yang akan digunakan guru dan siswa untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran menulis cerpen berlangsung di lingkungan yang telah ditentukan.
    3.6 Teknik Pengumpulan Data
    Teknik pengumpulan data yang digunakandalam penelitian ini adalah:
    1) Observasi
    Observasi yaitu dengan melakukan pengamatan proses pembelajaran menulis cerpen untuk melihat perkembangan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Observasi terhadap siswa difokuskan pada keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui teknik buku harian.
    2) Wawancara
    Wawancara yaitu dengan melakukan wawancara terhadap sejumlah siswa untuk mengetahui pendapat mereka tentang proses pembelajaran menulis cerpen dengan teknik buku harian yang dihadapi serta informasi lain yang dibutuhkan peneliti.
    3) Tes
    Tes yaitu dengan memberikan tugas kepada siswa untuk menulis cerpen sebelum dan sesudah adanya tindakan pemakaian teknik buku harian.
    F. Teknik Analisis Data
    Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kritis. Teknik tersebut mencakup kegiatan mengungkapkan kelebihan dan kekurangan kerja siswa dan guru dalam proses belajar-mengajar yang terjadi di dalam kelas selama penelitian berlangsung. Hasil analisis digunakan untuk menyusun rencana tindakan kelas berikutnya sesuai dengan siklus yang ada. Analisis dilakukan oleh guru dan peneliti secara bersama-sama.

    DAFTAR PUSTAKA
    Eneste, Pamusuk. 1982. Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya mengarang. Jakarta: Gramedia.
    Semi, M. Atar. 1995. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya
    Thahar, Haris Effendi. 1999. Kiat Menulis Cerita Pendek. Bandung: Angkasa
    Sukamto. 2000. Penelitian Tindakan (Action Research). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

  10. Mika Rahmah
    20/05/2010 pukul 5:19 am

    KEMAMPUAN MEMAHAMI MAKNA DIKSI PUISI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Puisi merupakan salah satu dari karya sastra selain prosa,pantun,dan drama.Puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias. kata-kata tersebut dipilih agar memiliki kekuatan pengucapan.Meskipun singkat, kata tersebut bermakna. Kata-kata tersebut bisa juga sebagai perwakilan dari perasaan si penyair. Hakikat dari puisi itu adalah curahan hati yang diungkapkan dalam sebuah puisi.
    Sesungguhnya dalam memaknai diksi pada puisi iti tidak sulit, yang membuat sulit itu adalah kurangnya pengetahuan tentang apa dan bagaimana diksi atau kata dan kurangnya latihan dalam memahami kata-kata, karena hal tersebutlah dilakukan penelitian ini. Seting penelitian ini pun dilakukan pada siswa karena kesulitan pembelajaran tenteng memahami makna diksi puisi ini terdapat pada siswa sekolah.
    Diksi adalah pilihan kata yang digunakan dalam puisi harus dipilih. Kata-kata dalam puisi bersifat konotasi dan puitis. Konotasi atau kias berarti memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. Puisi berarti mempunyai efek keindahan dan berbeda dengan kata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Diksi bisa berupa konotasi dan donotasi, jikalau diksi itu konotasi maka terdapat unkapan, symbol, dan majas.
    Penelitian ini dilakukan agar mendapat pemecahan masalah yang tepat supaya hasil kerja akhir siswa dapat lebih mampu dalam memahami makna diksi pada puisi dari pada sebelumnya dan dapat memperlancar belajar dan pembelajara tentang sastra puisi untuk kedepannya. Berdasarkan hal di atas maka penulis tertarik dalam meneliti kemampuan memahami makna diksi puisi karya Sapardi Djoko Damono.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang rumusan penelitian ini adalah sebagai berikut:
    1. Bagaimanakah memahami makna diksi pada puisi?
    2. Jelaskan pengertian dari diksi !
    3. Bagaimanakah diksi yang ada pada puisi?
    4. Bagaimanakah diksi yang ada pada puisi Sapardi Djoko Damono?

    1.3 Tujuan Penelitian
    Penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
    1. Agar dapat memahami makna diksi puisi
    2. Agar menambah pengetahuan tentang apa itu diksi
    3. Supaya proses belajar mengajar lebih efektif
    4. Supaya nilai akhir siswa lebih baik dari sebelumnya

    1.4 Manfat Penelitian
    Banyak sekali manfaat dari penelitian diantaranya adalah pengajar dapat lebih menfokoskan pengajarannya pada masalah yang dihadapi siswa. Hasil kerja akhir siswa jadi lebih baik. Memudahkan bagi siswa untuk menerima hal yang baru lagi tetang puisi,bagi peneliti akan mendapatkan hal-hal atau ilmu yang baru agar dapat lebih dikembangkan lagi untuk menunjang dunia pendidikan.

    BAB II
    KAJIAN KEPUSTAKAAN

    2.1 Pengertian puisi
    Puisi merupakan salah satu karya sastra selain prosa, pantun dan drama. Dalam pembutan bahasa (kata) sangat berperan penting, karena bahasa (kata) itu merupakan alat bagi penyair dalam mengekspresikan puisinya. Puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias. kata-kata tersebut dipilih agar memiliki kekuatan pengucapan.Meskipun singkat, kata tersebut bermakna. Kata-kata tersebut bisa juga sebagai perwakilan dari perasaan si penyair. Hakikat dari puisi itu adalah curahan hati yang diungkapkan dalam sebuah puisi.
    2.2 Pengertian bahasa puisi
    Dalam pembuatan puisi bahasa (kata) sangat berperan penting, karena bahasa (kata) itu merupakan alat bagi penyair dalam mengekspresikan puisinya. Mulyana (1956:7) menegaskan bahwa ‘ . . . bahasa adalah satu-satunya alat bagi sastrawan. Jadi lancer atau tidaknya pelaksanaan penjelasan cita hanya ditetapkan oleh rangkaian kata-kata yang digunakan itu saja.
    Kladen (1983:IV) mengatakan bahwa bahasa menjadi iandah karena ad puisi didalamnya. Puisi disampaikan melalui kata-kata, karena puisi adalah keindahan yang menjelma dalam kata. Kata-kata bukanlah sebab keindahan dalam puisi tetapi adalah akibatnya. Puisi tidak menjadi indah karena puisi yang dikandungnya.
    2.3 Pengertian Diksi atau Kata Puisi
    Damono (1983a:66) mengatakan bahwa kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi.Kata-kata tidak sekedar berperan sebagai alat yang menghubungkan pembaca dengan ide penyair . . . tetapi seksligus sebagai pendukung imajinasi dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair. Meskipun perannya sebagai penghubung tak bisa dilenyapkan , namun yang utama adalah sebagai objek mendukung imaji. Hal inilah yang membedakannya dari kata-kata dalam buku puisi.
    Seorang penyair yang professional dituntut oleh profisinya untuk selalu terampil dan piawai dalam memilih, memilah, dan menyusun kosa kata (diksi puisi). Bsrkaitan dengan diksi puisi, ada 3 jenis keterampilan yanh harus dikuasai oleh seorang penyair, yakni
    1. Keterampilan mengolah bahasa berkias
    2. Keterampilan mengolah bahasa bersajak berirama
    3. Keterampilan mengolah bahasa citraan
    Kosa kata yang dipilih,dipilah, dan disusun oleh seorang penyair adalah kosa kata yang setidak-tidaknya menurut pendapat penyair yang bersangkutan dapat dengan tepat menggambarkan pikiran dan perasaannya.
    Diksi (kata) adalah pilihan kata artinya kita memilih kata yang tepat untu8k menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsure sangat penteng baik dalam dunia karang mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari (Arifin,Tasai,2006:29). Salah satu unsure intrinsic dalam puisi adalah diksi (kata). Dalam memahami diksi pada puisi perlu diketahui terlebih dahulu yaitu ada diksi konotasi dan ada diksi denotasi. Diksi konotasi berupa ungkapan, symbol, dan majas. Dalam membuat puisi hendaknya menggunakan kata atau diksi yang tepat, hemat dan cermat.Seperti pada puisi “Mata Pisau” dan “tuan” karya Sapardi Djoko damono.

    MATA PISAU

    Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
    Kau yang baru saja
    Berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
    Yang tersedia diatas meja
    Sehabis makan malam ;
    Ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.

    (Sapardi Djoko Damono, 1994:40)

    Kehematan penyair dalam pilihan kata, juga tampak misalnya pada lirik “ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu”.Dengan satu lirik tersebut penyair berhasil memicu imajinasi pembaca bahwa (mata) pisau ternyata juga dapat berfungsi sebagai alat yang amat mengerikan manakala digunakan untuk keperluan lain seperti membunuh;menggorok leher seseorang.
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang cermat.misalnya pilihan kata atau ungkapan seperti mata pisau,baru saja diasah,tajam ,mengiris apel, dan berkilat, semua ini mengacu pada pengertian yang sama bahwa mata pisau itu tajam. Bahkan pilihan kata atau ungkapan yang satu dengan yang lainnya berkaitan.
    Kecermatan penyair juga terlihat pada beberapa pilihan kata yang memiliki persamaan bunyi akhir dalam satu larik. Misalnya persamaan bunyi akhir ap pada kata berkejap dengan menatap pada larik pertama, persamaan bunyi akhir (asonansi) u pada kata kau dengan baru (larik kedua), persamaan bunyi akhir (asonansi) a pada kata saja dengan mengasahnya (larik kedua) , danpada kata tersedia dengan di atas meja (larik keempat). Selain itu , juga terdapat aliterasi m pada larik sehabis makan malam.
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang tepat. Misalnya Frasa tak berkejap dapat di ososiasikan dengan mata ; mata pisau . Frasa tak berkejap dapat diasosiasikan dengan menatap;menatapmu. Ketepatan asosiasi ini sekaligus memperlihatkan kecermatan penyair dalam pilihan kata antara mata (mata pisau),(tak )berkejap, dan menatap(menatapmu).Ketiga kata itu merupakan pasangan kata yang parallel.
    Kemudian pilihan kata tajam , mengiris, dan apel, pada larik “ia tajam untuk mengiris apel” juga parallel dengan pilihan kata pada larik sebelumnya seperti mata pisau, tak berkejap, menatap(mu), baru saja diasah.Begitu pilihan kata berkilat pada larik “ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu”, juga parallel dengan pilihan kata pada larik sen\belumnya seperti mata pisau, tak berkejap, menatap(mu), baru saja diasah, ia tajam.selain itu, kata Berkilat pada larik tersebut juga paralel dengan urat lehermu.

    TUAN

    Tuan Tuhan, bukan ?Tunggu sebentar,
    Saya sedang keluar.

    (Sapardi Djoko Damono, 1983b:25)

    Puisi “Tuan” ditu;lis dengan bahasa yang hemat. Puisi tersebut hanya terdiri atas dua larik. Larik pertama berbunyi “Tuan Tuhan, bukan ?Tunggusebentar”, larik kedua berbunyi “Saya sedang keluar’.Tidak ada kata yang mubazir
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang cermat. Kecermatan misalnya pada larik pertama”Tuan Tuhan,bukan?Tunggu sebentar”.

    Kata tuan, Tuhan, dan bukan memiliki persamaan bunyi akhir, an. Kata Tuan juga berhubungan erat dengan kata Tuhan dan Tunggu yang ketiganya dimulai dengan huruf t kafital (T). ketiga kata tersebut menimbulkan kan aliterasi pada konsonan t. Ketiga kata tersebut juga memiliki bunyi awal yang sama yaitu bunyi tu. Selain itu,juga menimbulkan asonansi bunyi u secara beruntun pada kata Tuan, Tuhan, bukan, dan Tunggu. Kemudian kata sebentar pada larik pertama memiliki persamaan bunyi akhir ar dengan kata ke luar pada larik kedua. Kata sebentar, saya, dan sedang memiliki aliterasi pada konsonan s.
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang tepat.misalnya pemakaian kata tuan pada larik pertama,ternyata memang tepat,sebab kata Tuan diikuti dengan kata saya pada larik kedua.Begitu pula dengan pemakaian kata sebentar pada larik pertama,ternyata juga memang tepat,sebab kata sebentar sejajar dengan kata sedang pada larik kedua. Bahkan pemakaian kata depan ke, juga memang tepat dengan penulisan ke yang terpisah pada kata ke luar.
    Dengan penjelasan dan contoh diatas, siswa akan lebih mengerti tentang memahami makna diksi puisi, karena selain teori juga disertai dua buah contoh yang disertai dengan penjelasan tentang makna diksi yang ada pada puisi tersebut. Dengan disertakannya contoh maka teori yang sudah ada akan lebih dapat dimengerti.

    BAB III
    METEDOLOGI PENELITIAN

    Penelitian yang dilakukan ini mengemukakan penelitian kualitatif yang akan dipaparkan sebagai berikut:

    3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
    Pendekatan dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dengan pendekatan kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah. Pendekatan ini di gunakan berdasarkan pada penelitian yang tidak di lakukan dimana terdapat masalah dalam memahami makna diksi puisi.
    Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan.

    3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
    Penelitian ini dilakukan di MAN 1 Tanjung dan waktunya berkisar selama 3 bulan, Yakni sejak tanggal 20 februari 2010 sampai 19 mei 2010.

    3.3 Sumber Data
    Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua buah puisi karya Sapardi Djoko Damono yang dimuat dalam buku Tarman Effendi Tarsyad(2009) berjudul Puisi Sapardi Djoko Damono (Banjarmasin: Penerbit Tahura Media).
    Subjek penelitian dilakukan pada siswa MAN kelas X Bahasa dimana mereka kesulitan dalam memahami makna diksi pada puisi.

    3.4 Teknik Pengolahan Data
    Teknik yang digunakan adalah teknik pengumpulan data dan teknik analisis data yakni mengumpulkan data yang sesuai dengan permasalahan yang dikaji , langkah-langkah yang sesuai dengan permasalahan yang dikaji:

    1. Membaca puisi yang dikaji secara keseluruhan
    2. memilih dan menentukan data sesuai dengan masalah yang di rumuskan.
    3. Merumuskan masalah
    4. Mendiskripsikan data yang telah di tentukan

    3.5. Analisis Data
    Setelah data terkumpul kegiatan berikutnya adalah melakukan analisi data. Teknik yang digunakan dalam analisis adalah tenik deskriptif. Semua data dianalisis dengan tahap-tahap sebagai berikut:
    1. Data dikumpulkan dan disesuaikan dengan rumusan masalah yang sudah ada.
    2. Data dinilai dan dideskripsikan
    3. Data direfleksi dengan teori dan ilmu yang sudah ada

    Daftar Rujukan
    Tarsyad,Tarman Effendi.2009.Puisi Sapardi Djoko damono. Banjarmasin:Tahura Media

    Ganie,Tajuddin Noor.2010.Bahasa puisi Penyair Kalsel Generasi Penulis Zaman Kolonial Belanda 1930- 1942. Banjarmasin

    Ahar Saifudin.1997. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Dawud,dkk.2004.Bahasa dan Sastra Indonesia jilid 2 untuk SMA kelas XI. Jakarta:Erlangga.

    KEMAMPUAN MEMAHAMI MAKNA DIKSI PUISI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Puisi merupakan salah satu dari karya sastra selain prosa,pantun,dan drama.Puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias. kata-kata tersebut dipilih agar memiliki kekuatan pengucapan.Meskipun singkat, kata tersebut bermakna. Kata-kata tersebut bisa juga sebagai perwakilan dari perasaan si penyair. Hakikat dari puisi itu adalah curahan hati yang diungkapkan dalam sebuah puisi.
    Sesungguhnya dalam memaknai diksi pada puisi iti tidak sulit, yang membuat sulit itu adalah kurangnya pengetahuan tentang apa dan bagaimana diksi atau kata dan kurangnya latihan dalam memahami kata-kata, karena hal tersebutlah dilakukan penelitian ini. Seting penelitian ini pun dilakukan pada siswa karena kesulitan pembelajaran tenteng memahami makna diksi puisi ini terdapat pada siswa sekolah.
    Diksi adalah pilihan kata yang digunakan dalam puisi harus dipilih. Kata-kata dalam puisi bersifat konotasi dan puitis. Konotasi atau kias berarti memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. Puisi berarti mempunyai efek keindahan dan berbeda dengan kata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Diksi bisa berupa konotasi dan donotasi, jikalau diksi itu konotasi maka terdapat unkapan, symbol, dan majas.
    Penelitian ini dilakukan agar mendapat pemecahan masalah yang tepat supaya hasil kerja akhir siswa dapat lebih mampu dalam memahami makna diksi pada puisi dari pada sebelumnya dan dapat memperlancar belajar dan pembelajara tentang sastra puisi untuk kedepannya. Berdasarkan hal di atas maka penulis tertarik dalam meneliti kemampuan memahami makna diksi puisi karya Sapardi Djoko Damono.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang rumusan penelitian ini adalah sebagai berikut:
    1. Bagaimanakah memahami makna diksi pada puisi?
    2. Jelaskan pengertian dari diksi !
    3. Bagaimanakah diksi yang ada pada puisi?
    4. Bagaimanakah diksi yang ada pada puisi Sapardi Djoko Damono?

    1.3 Tujuan Penelitian
    Penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
    1. Agar dapat memahami makna diksi puisi
    2. Agar menambah pengetahuan tentang apa itu diksi
    3. Supaya proses belajar mengajar lebih efektif
    4. Supaya nilai akhir siswa lebih baik dari sebelumnya

    1.4 Manfat Penelitian
    Banyak sekali manfaat dari penelitian diantaranya adalah pengajar dapat lebih menfokoskan pengajarannya pada masalah yang dihadapi siswa. Hasil kerja akhir siswa jadi lebih baik. Memudahkan bagi siswa untuk menerima hal yang baru lagi tetang puisi,bagi peneliti akan mendapatkan hal-hal atau ilmu yang baru agar dapat lebih dikembangkan lagi untuk menunjang dunia pendidikan.

    BAB II
    KAJIAN KEPUSTAKAAN

    2.1 Pengertian puisi
    Puisi merupakan salah satu karya sastra selain prosa, pantun dan drama. Dalam pembutan bahasa (kata) sangat berperan penting, karena bahasa (kata) itu merupakan alat bagi penyair dalam mengekspresikan puisinya. Puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias. kata-kata tersebut dipilih agar memiliki kekuatan pengucapan.Meskipun singkat, kata tersebut bermakna. Kata-kata tersebut bisa juga sebagai perwakilan dari perasaan si penyair. Hakikat dari puisi itu adalah curahan hati yang diungkapkan dalam sebuah puisi.
    2.2 Pengertian bahasa puisi
    Dalam pembuatan puisi bahasa (kata) sangat berperan penting, karena bahasa (kata) itu merupakan alat bagi penyair dalam mengekspresikan puisinya. Mulyana (1956:7) menegaskan bahwa ‘ . . . bahasa adalah satu-satunya alat bagi sastrawan. Jadi lancer atau tidaknya pelaksanaan penjelasan cita hanya ditetapkan oleh rangkaian kata-kata yang digunakan itu saja.
    Kladen (1983:IV) mengatakan bahwa bahasa menjadi iandah karena ad puisi didalamnya. Puisi disampaikan melalui kata-kata, karena puisi adalah keindahan yang menjelma dalam kata. Kata-kata bukanlah sebab keindahan dalam puisi tetapi adalah akibatnya. Puisi tidak menjadi indah karena puisi yang dikandungnya.
    2.3 Pengertian Diksi atau Kata Puisi
    Damono (1983a:66) mengatakan bahwa kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi.Kata-kata tidak sekedar berperan sebagai alat yang menghubungkan pembaca dengan ide penyair . . . tetapi seksligus sebagai pendukung imajinasi dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair. Meskipun perannya sebagai penghubung tak bisa dilenyapkan , namun yang utama adalah sebagai objek mendukung imaji. Hal inilah yang membedakannya dari kata-kata dalam buku puisi.
    Seorang penyair yang professional dituntut oleh profisinya untuk selalu terampil dan piawai dalam memilih, memilah, dan menyusun kosa kata (diksi puisi). Bsrkaitan dengan diksi puisi, ada 3 jenis keterampilan yanh harus dikuasai oleh seorang penyair, yakni
    1. Keterampilan mengolah bahasa berkias
    2. Keterampilan mengolah bahasa bersajak berirama
    3. Keterampilan mengolah bahasa citraan
    Kosa kata yang dipilih,dipilah, dan disusun oleh seorang penyair adalah kosa kata yang setidak-tidaknya menurut pendapat penyair yang bersangkutan dapat dengan tepat menggambarkan pikiran dan perasaannya.
    Diksi (kata) adalah pilihan kata artinya kita memilih kata yang tepat untu8k menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsure sangat penteng baik dalam dunia karang mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari (Arifin,Tasai,2006:29). Salah satu unsure intrinsic dalam puisi adalah diksi (kata). Dalam memahami diksi pada puisi perlu diketahui terlebih dahulu yaitu ada diksi konotasi dan ada diksi denotasi. Diksi konotasi berupa ungkapan, symbol, dan majas. Dalam membuat puisi hendaknya menggunakan kata atau diksi yang tepat, hemat dan cermat.Seperti pada puisi “Mata Pisau” dan “tuan” karya Sapardi Djoko damono.

    MATA PISAU

    Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
    Kau yang baru saja
    Berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
    Yang tersedia diatas meja
    Sehabis makan malam ;
    Ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.

    (Sapardi Djoko Damono, 1994:40)

    Kehematan penyair dalam pilihan kata, juga tampak misalnya pada lirik “ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu”.Dengan satu lirik tersebut penyair berhasil memicu imajinasi pembaca bahwa (mata) pisau ternyata juga dapat berfungsi sebagai alat yang amat mengerikan manakala digunakan untuk keperluan lain seperti membunuh;menggorok leher seseorang.
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang cermat.misalnya pilihan kata atau ungkapan seperti mata pisau,baru saja diasah,tajam ,mengiris apel, dan berkilat, semua ini mengacu pada pengertian yang sama bahwa mata pisau itu tajam. Bahkan pilihan kata atau ungkapan yang satu dengan yang lainnya berkaitan.
    Kecermatan penyair juga terlihat pada beberapa pilihan kata yang memiliki persamaan bunyi akhir dalam satu larik. Misalnya persamaan bunyi akhir ap pada kata berkejap dengan menatap pada larik pertama, persamaan bunyi akhir (asonansi) u pada kata kau dengan baru (larik kedua), persamaan bunyi akhir (asonansi) a pada kata saja dengan mengasahnya (larik kedua) , danpada kata tersedia dengan di atas meja (larik keempat). Selain itu , juga terdapat aliterasi m pada larik sehabis makan malam.
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang tepat. Misalnya Frasa tak berkejap dapat di ososiasikan dengan mata ; mata pisau . Frasa tak berkejap dapat diasosiasikan dengan menatap;menatapmu. Ketepatan asosiasi ini sekaligus memperlihatkan kecermatan penyair dalam pilihan kata antara mata (mata pisau),(tak )berkejap, dan menatap(menatapmu).Ketiga kata itu merupakan pasangan kata yang parallel.
    Kemudian pilihan kata tajam , mengiris, dan apel, pada larik “ia tajam untuk mengiris apel” juga parallel dengan pilihan kata pada larik sebelumnya seperti mata pisau, tak berkejap, menatap(mu), baru saja diasah.Begitu pilihan kata berkilat pada larik “ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu”, juga parallel dengan pilihan kata pada larik sen\belumnya seperti mata pisau, tak berkejap, menatap(mu), baru saja diasah, ia tajam.selain itu, kata Berkilat pada larik tersebut juga paralel dengan urat lehermu.

    TUAN

    Tuan Tuhan, bukan ?Tunggu sebentar,
    Saya sedang keluar.

    (Sapardi Djoko Damono, 1983b:25)

    Puisi “Tuan” ditu;lis dengan bahasa yang hemat. Puisi tersebut hanya terdiri atas dua larik. Larik pertama berbunyi “Tuan Tuhan, bukan ?Tunggusebentar”, larik kedua berbunyi “Saya sedang keluar’.Tidak ada kata yang mubazir
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang cermat. Kecermatan misalnya pada larik pertama”Tuan Tuhan,bukan?Tunggu sebentar”.

    Kata tuan, Tuhan, dan bukan memiliki persamaan bunyi akhir, an. Kata Tuan juga berhubungan erat dengan kata Tuhan dan Tunggu yang ketiganya dimulai dengan huruf t kafital (T). ketiga kata tersebut menimbulkan kan aliterasi pada konsonan t. Ketiga kata tersebut juga memiliki bunyi awal yang sama yaitu bunyi tu. Selain itu,juga menimbulkan asonansi bunyi u secara beruntun pada kata Tuan, Tuhan, bukan, dan Tunggu. Kemudian kata sebentar pada larik pertama memiliki persamaan bunyi akhir ar dengan kata ke luar pada larik kedua. Kata sebentar, saya, dan sedang memiliki aliterasi pada konsonan s.
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang tepat.misalnya pemakaian kata tuan pada larik pertama,ternyata memang tepat,sebab kata Tuan diikuti dengan kata saya pada larik kedua.Begitu pula dengan pemakaian kata sebentar pada larik pertama,ternyata juga memang tepat,sebab kata sebentar sejajar dengan kata sedang pada larik kedua. Bahkan pemakaian kata depan ke, juga memang tepat dengan penulisan ke yang terpisah pada kata ke luar.
    Dengan penjelasan dan contoh diatas, siswa akan lebih mengerti tentang memahami makna diksi puisi, karena selain teori juga disertai dua buah contoh yang disertai dengan penjelasan tentang makna diksi yang ada pada puisi tersebut. Dengan disertakannya contoh maka teori yang sudah ada akan lebih dapat dimengerti.

    BAB III
    METEDOLOGI PENELITIAN

    Penelitian yang dilakukan ini mengemukakan penelitian kualitatif yang akan dipaparkan sebagai berikut:

    3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
    Pendekatan dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dengan pendekatan kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah. Pendekatan ini di gunakan berdasarkan pada penelitian yang tidak di lakukan dimana terdapat masalah dalam memahami makna diksi puisi.
    Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan.

    3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
    Penelitian ini dilakukan di MAN 1 Tanjung dan waktunya berkisar selama 3 bulan, Yakni sejak tanggal 20 februari 2010 sampai 19 mei 2010.

    3.3 Sumber Data
    Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua buah puisi karya Sapardi Djoko Damono yang dimuat dalam buku Tarman Effendi Tarsyad(2009) berjudul Puisi Sapardi Djoko Damono (Banjarmasin: Penerbit Tahura Media).
    Subjek penelitian dilakukan pada siswa MAN kelas X Bahasa dimana mereka kesulitan dalam memahami makna diksi pada puisi.

    3.4 Teknik Pengolahan Data
    Teknik yang digunakan adalah teknik pengumpulan data dan teknik analisis data yakni mengumpulkan data yang sesuai dengan permasalahan yang dikaji , langkah-langkah yang sesuai dengan permasalahan yang dikaji:

    1. Membaca puisi yang dikaji secara keseluruhan
    2. memilih dan menentukan data sesuai dengan masalah yang di rumuskan.
    3. Merumuskan masalah
    4. Mendiskripsikan data yang telah di tentukan

    3.5. Analisis Data
    Setelah data terkumpul kegiatan berikutnya adalah melakukan analisi data. Teknik yang digunakan dalam analisis adalah tenik deskriptif. Semua data dianalisis dengan tahap-tahap sebagai berikut:
    1. Data dikumpulkan dan disesuaikan dengan rumusan masalah yang sudah ada.
    2. Data dinilai dan dideskripsikan
    3. Data direfleksi dengan teori dan ilmu yang sudah ada

    Daftar Rujukan
    Tarsyad,Tarman Effendi.2009.Puisi Sapardi Djoko damono. Banjarmasin:Tahura Media

    Ganie,Tajuddin Noor.2010.Bahasa puisi Penyair Kalsel Generasi Penulis Zaman Kolonial Belanda 1930- 1942. Banjarmasin

    Ahar Saifudin.1997. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Dawud,dkk.2004.Bahasa dan Sastra Indonesia jilid 2 untuk SMA kelas XI. Jakarta:Erlangga.

  11. Rahmadani
    20/05/2010 pukul 6:02 am

    Nama : Rahmadani
    NPM : 3060711380
    Jurusan: PBSID

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBUAT NASKAH
    CERITA MENJADI DRAMA

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.

    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

  12. 20/05/2010 pukul 6:04 am

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBUAT NASKAH
    CERITA MENJADI DRAMA

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.

    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

  13. 20/05/2010 pukul 6:05 am

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBUAT NASKAH
    CERITA MENJADI DRAMA

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.

    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

  14. Rahmadani
    20/05/2010 pukul 6:07 am

    Nama : Rahmadani
    NPM : 3060711380

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBUAT NASKAH
    CERITA MENJADI DRAMA

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.

    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

  15. Rahmadani
    20/05/2010 pukul 6:08 am

    Nama : Rahmadani
    NPM : 3060711380

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBUAT NASKAH
    CERITA MENJADI DRAMA

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.
    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

  16. rahmadani
    20/05/2010 pukul 6:15 am

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.

    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual

  17. Eka Ratna Sari
    20/05/2010 pukul 6:27 am

    Penelitian Tindakan Kelas
    ( Classroom Action Research )
    “Puisi Akrostik”
    Untuk Meningkatkan Keterampilan Penggunaan Gaya Bahasa Siswa Kelas VII di SMP Negeri 6 Tanta

    Oleh : Emiliawati
    NPM
    A. Latar Belakang
    Pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dalam suatu Negara, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Di Negara kita, dunia pendidikan masih dirundung masalah yang amat berat seiring dengan kemajuan iptek secara global, terutama masalah yang berkaitan dengan rendahnya kualitas atau mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan.
    Untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara optimal, maka peran guru sebagai suatu profesi menjadi ujung tombak yang secara langsung ikut andil dalam mewarnai hitam putihnya dunia pendidikan di Negara kita.
    Masalah praktis yang sering menjadi kendala bagi guru dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran tersebut antara lain rendahnya motivasi dan partisipasi belajar siswa yang pada akhirnya membawa dampak rendahnya keterampilan, kekreatifan, dan kinerja siswa dalam proses pembelajaran, serta mempengaruhi daya serap siswa terhadap materi pelajaran. Masalah ini bila tidak lekas ditangani maka akan membawa kerugian yang besar bagi siswa dan mengakibatkan rendahnya kualitas output pendidikan.
    Masalah pembelajaran di atas sering ditemui penulis dalam mengajar bidang studi Bahasa Indonesia di kelas VII SMP Negeri 6 Tanta, bidang studi Bahasa Indonesia memiliki alokasi waktu 6 jam dalam satu minggu. Dengan alasan teknis dan situasi mata pelajaran ini biasanya diletakkan pada jam akhir, dimana kondisi mental dan fisik siswa sudah mulai menurun, situasi ini berdampak pada rendahnya motivasi, partisipasi, kekreatifan, dan keterampilan siswa dalam pembelajaran yang kemudian berakibat pada rendahnya kinerja siswa.
    Untuk mengatasi hal tersebut, penulis mencoba mencari solusi guna memperbaiki sumber masalahnya, baik yang berasal dari siswa maupun metode pembelajaran yang diterapkan guru. Sebagai solusi dilakukan penelitian tindakan kelas yang sangat sederhana, namun tidak meninggalkan kaidah – kaidah penelitian itu sendiri. Dalam penelitian tindakan kelas ini, akan digunakan metode pembelajaran penulisan puisi akrostik. Dengan metode ini siswa dituntut untuk melakukan interaksi secara kelompok, untuk memupuk kerjasama dan kekompakkan membangun sikap sosial pada diri siswa. Dengan kebersamaan tersebut maka secara tidak sadar siswa akan terpacu dan tumbuh motivasi dan partisipasinya dalam pembelajaran
    B. Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
    – Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran penulisan puisi akrostik dapat meningkatkan keterampilan penggunaan gaya bahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

    C. Tujuan Penelitian
    – Untuk mengetahui sejauh mana ketepatan metode penulisan puisi akrostik dapat meningkatkan keterampilan penggunaan gaya bahasa pada siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

    D. Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai wahana maupun acuan implementasi penerapan metode pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia, secara khusus bermanfaat untuk mengatasi kendala atau masalah pembelajaran, sedangkan bagi siswa dapat dijadikan pendorong tumbuhnya semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.
    E. Kajian Pustaka
    1. Motivasi Belajar siswa
    Secara umum tujuan akhir dari suatu proses pembelajaran adalah tercapainya indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yang kemudian secara kuantitatif dapat dilihat dari hasil atau prestasi siswa. Namun demikian hasil belajar siswa sering kali tidak sesuai dengan harapan guru maupun siswa itu sendiri, dimana hasil belajar siswa sangat erat kaitannya dengan berbagai macam faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhinya.
    Motivasi merupakan bagian faktor internal siswa yang sangat berperan dalam mewujudkan aktualisasi potensi siswa secara maksimal. Motivasi merupakan faktor pendorong atau penarik yang mengakibatkan seseorang berperilaku kearah tertentu.
    Menurut Grifin ( 2000 ; 140 ) mengemukakan “ Motivation can be defined as the of factor that cause people to behave in certain ways “. Selanjutnya dia juga mengemukakan “ Need are usually thought of as factor that pus behavior – they are drives or forces that compel people to behave in various ways “. Motivasi didefinisikan sebagai seperangkat faktor yang menyebabkan orang berperilaku dengan cara tertentu.
    Sedangkan Oemar Hamalik ( 1999 ; 106 ) berpendapat “ Motivasi adalah perubahan energi dalam diri ( pribadi ) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”.
    Motivasi memiliki dua komponen yaitu komponen dalam dan komponen luar. Komponen dalam adalah perubahan dalam diri seseorang, keadaan merasa tidak puas, ketegangan psikologis, sedangkan komponen dari luar ialah keinginan dan tujuan yang mengarah pada perbuatan seseorang.
    Dari dua pendapat di atas bila kita hubungkan dengan motivasi belajar siswa dapat disimpulkan bahwa siswa memiliki motivasi belajar karena adanya kebutuhan atau keinginan yang mendorong siswa untuk berbuat atau beraktivitas untuk mencapai tujuan atau kebutuhan tertentu. Kebutuhan siswa di sini tidak lain adalah berprestasi. Sebagai tugas guru untuk membuka kesempatan dan jalan serta memilih alat untuk membantu kelancaran siswa untuk mencapai hal tersebut. Siswa dikatakan memiliki motivasi belajar bila perilakunya menunjukkan minat, perhatian, ingin ikut serta, bekerja keras, dan mencurahkan waktu untuk hal itu atau dengan kata lain munculnya sikap partisipasi total terhadap proses pembelajaran.
    2. Partisipasi Siswa
    Partisipasi merupakan suatu tingkat sejauh mana para anggota terlibat atau melibatkan diri di dalam kegiatan dan menyumbangkan tenaga serta pikiran dalam pelaksanaan kegiatan ( Sukidin, 2001 ; 161 ). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah keterlibatan secara emosi / pikiran dan tenaga dalam proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara sadar dan mempunyai keinginan untuk mengambil manfaat dari kegiatan tersebut. Dengan demikian sangatlah penting peran dan partisipasi siswa dalam pembelajaran guna mensukseskan dan kebermanfaatan pembelajaran itu sendiri.
    Motivasi dan partisipasi siswa akan mewujudkan kinerja siswa dalam pembelajaran. Dimana kinerja merupakan potret keseluruhan dari keterlibatan dan keberhasilan siswa dalam belajar. Menurut Rahmanto ( 2000 ; 61 ) kinerja merupakan tingkat pelaksanaan tugas yang dicapai oleh seseorang atau organisasi dengan menggunakan kemampuan yang ada dan batas – batas yang telah ditetapkan sebagai tujuan.
    Kinerja dapat diukur sehingga dapat dijadikan patokan sejauh mana keterlibatan dan kemampuan siswa dalam pembelajaran, hal ini sesuai dengan pendapat Cascio ( 1998 ; 43 ) menyatakan “ Performance may be defined as observable thing people do that are relevant for the goals of the organization…”. Dilain pihak Curphy ( 1999 ; 389 ) mengatakan “ An acre performance is worth the whole world of promise “. Kinerja dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat diamati, sesuai atau berdasarkan tujuan – tujuan organisasi. Dalam suatu pembelajaran pengamatan kemampuan dengan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan sangat penting dilakukan, karena disamping sebagi tolok ukur keberhasilan pembelajaran juga dapat dijadikan dasar untuk perencanaan berikutnya.
    Untuk menumbuhkan motivasi dan partisipasi sehingga membuahkan kinerja yang baik maka sangat diperlukan metode pembelajaran yang bersipat partisipatoris, yang diharapkan mampu membawa siswa ke dalam situasi yang lebih kondusif karena siswa lebih terbuka, sensitive, empati, dan mewujudkan sikap partisipasi dalam pembelajaran.
    F. Metode Penelitian “ Puisi Akrostik “
    Model pembelajaran yang bersifat partisipatoris berlandaskan empat pilar prinsip pendidikan dari UNESCO yaitu ; learning to do, learning to know, learning to be, dan learning ti live together ( Fasli Jalal, 2001 ; Lii ), berdasarkan prinsip tersebut siswa diharapkan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya melalui interaksi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik, sosial, maupun budaya ( learning to do ), kemudian mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya ( learning to know ), melalui interksi siswa mampu membangun pengetahuan dan kepercayaan diri ( learnimg to be ), mampu beriteraksi secara harmonis, naik dengan individu atau kelompok lainnya ( learning to live together ).
    Untuk menciptakan suasana pembelajaran partisipasif dalam pembelajaran gaya bahasa dimaksud perlu adanya pemilihan metode yang dijadikan alat untuk mempengaruhi suasana pembelajaran. Metode yang cocok untuk hal tersebut adalah metode “ penulisan puisi akrostik “
    Penggunaan metode penulisan puisi akrostik didasari asumsi bahwa siswa mampu menguasai dengan baik penggunaan gaya bahasa sehingga siswa dapat memupuk rasa percaya diri pada diri siswa itu sendiri dan dapat menumbuhkan kekreatifan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode ini memandang keberhasilan individu dioreantasikan dalam keberhasilan kelompok, dengan demikian siswa akan bekerjasama dalam mencapai tujuan dan siswa bekerja keras membantu dan mendorong anggota kelompoknya untuk berhasil dalam pembelajaran. Prosedur metode penulisan puisi akrostik ini sangat sederhana yaitu; siswa dibuat kelompok sebanyak 3 kelompok yang masing – masing terdiri dari 4 siswa dalam 1 kelompok, kemudian penulis membagikan kertas yang berisi nama seorang sastrawan. Dalam metode belajar ini, siswa diminta untuk membuat puisi secara vertikal sesuai dengan nama salah satu sastrawan yang dibagikan oleh penulis per kelompok dengan durasi waktu 20 menit. Untuk membangkitkan motivasi siswa, penulis memberikan hadiah bagi kelompok yang membuat puisi secara cepat dan tepat.
    Pada kegiatan akhir ini penulis memajang hasil puisi yang telah dibuat sesuai dengan kelompoknya masing – masing.
    Kemudian masing – masing kelompok disuruh untuk menilai hasil puisi yang telah dibuat oleh kelompok lain.

    G. Hasil Penelitian dan Pembahasan
    Untuk mendapatkan data pendukung telah dilakukan observasi pada setiap siklus I, siklus II, dan siklus III. Data tersebut diharapkan dapat melihat seberapa tepat penggunaan metode pembelajaran yang diterapkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi guru, khususnya dalam hal meningkatkan motivasi dan partisipasi belajar siswa dan juga menjadi dasar bagi guru untuk merencanakan perbaikan strategi pembelajaran berikutnya.
    Data yang diperoleh dari observasi pada siklus I setelah siswa melakukan kegiatan pembelajaran penggunaan gaya bahasa dengan metode penulisan puisi akrostik adalah sebagai berikut.
    Tabel Penilaian Kegiatan Kelompok Siklus I
    No Kelompok Skor Nilai Predikat
    1 Kelompok I 46 57,5 Kurang
    2 Kelompok II 50 61,3 Cukup
    3 Kelompok III 63 63 Cukup
    Berdasarkan observasi siklus I diperoleh data dengan nilai kelompok berpredikat cukup 2 kelompok, yaitu kelompok II dan kelompok III, sedangkan 1 kelompok berpredikat kurang yaitu kelompok I. Kelemahan penampilan pada siklus ini dapat dipaparkan sebagai berikut:
    Kelompok I ( satu )
    – Penguasaan materi masih kurang dan belum terjadi kerjasama kelompok dengan baik.
    – Anggota kelompok masih kurang percaya diri terhadap kemampuan yang dia miliki.
    – Belum terjadi pembagian tugas kelompok, masing – masing anggota belum bisa menjalankan peran dengan baik.

    Secara umum kekompakkan dalam kerja kelompok masih belum terbangun dalam menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Setelah dilakukan refleksi bersama observer dan meminta pendapat beberapa siswa kemudian dilanjutkan dengan persiapan untuk kegiatan pada siklus II.
    Setelah dilakukan perbaikan perencanaan dilakukan kegiatan siklus II, data yang diperoleh dari observasi pada siklus II setelah melakukan kegiatan penulisan puisi akrostik adalah sebagai berikut:
    Tabel Penilaian Kegiatan Penulisan Puisi akrostik Pada siklus II
    No Kelompok Skor Nilai Predikat
    1 Kelompok I 66 82,5 Baik
    2 Kelompok II 67 81,3 Baik
    3 Kelompok III 84 84 Baik
    Setelah dilakukan perbaikan perencanaan kegiatan penulisan puisi akrostik siklus II terjadi perubahan pada perolehan nilai, data observasi seperti terlihat pada tabel di atas. Dari 3 kelompok keseluruhan mendapat nilai dengan predikan baik yaitu; kelompok I mendapat nilai 82,5, kelompok II mendapat nilai 81,3, dan kelompok III mendapat nilai 8,3. Perolehan nilai pada kelompok pada umumnya sudah rata – rata berpredikat baik, namun secara individu masih terdapat siswa yang mendapat nilai berpredikat cukup, yaitu masing – masing 1 orang pada kelompok III. Oleh karena itu setelah dilakukan refleksi bersama observer disepakati untuk melakukan perbaikan pada siklus ke III, dengan arahan seperti pada siklus II. Adapun tujuan siklus III, disamping untuk perbaikan juga lebih memantapkan perolehan skor atau nilai yang telah didapat.
    Setelah dilakukan kegiatan siklus III, data yang diperoleh dari observasi setelah siswa melakukan kegiatan penulisan puisi akrostik adalah sebagai berikut:
    Tabel penilaian kegiatan penulisan puisi akrostik siklus III
    No Kelompok Skor Nilai Predikat
    1 Kelompok I 69 85 Baik
    2 Kelompok II 65 81,3 Baik
    3 Kelompok III 68 79 Baik
    Perolehan nilai pada siklus III, baik kelompok maupun klasikal mengalami peningkatan, walaupun tidak mencolok, sehingga perolehan nilai dipandang cukup stabil, walaupun tidak terdapat perubahan predikat dari siklus II ke siklus III.
    Setelah dilakukan refleksi dengan berdasarkan data – data di atas maka kegiatan dihentikan pada siklus III, karena dipandang sudah terjadi peningkatan kualitas pembelajaran dengan predikat baik untuk semua kelompok atau secara klasikal, nilai individu juga menunjukkan kestabilan. Walaupun pada kelompok III terdapat siswa yang tadinya pada siklus II mendapat predikat amat baik setelah siklus III mengalami kemunduran yaitu dengan predikat cukup. Hal ini dimungkinkan adanya factor – factor yang mempengaruhi yang sifatnya sementara seperti sakit.
    Untuk memantapkan data guna mendukung keberhasilan kegiatan maka diambil pula data dari tes individual yang dilakukan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
    Tabel Rekapitulasi Hasil Tes Individu pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III

    No
    Nama Siswa Nilai Tes
    Siklus I Siklus II Siklus III
    1 Beah 45 75 80
    2 Alif 45 65 75
    3 Revi Cahyani . M. 60 80 80
    4 Amelya Septiani 60 65 75
    5 Christy. W 55 70 80
    6 Daud Rahman 50 75 70
    7 M. Murtomo 50 70 65
    8 M. Rojali 65 70 70
    9 Sandy Ardiansyah 65 85 90
    10 Marliani 55 75 75
    11 Siti Astuti 60 75 80
    12 Winarno 50 70 75
    Total 660 875 915
    Rata – rata 55,00 72,91 76,25
    Berdasarkan data hasil tes individu pada siklus I, siklus II terdapat peningkatan, sedangkan dari siklus II ke siklus III terdapat kestabilan dan cenderung meningkat, dimana pada siklus I nilai rata – rata 55,00, pada siklus II terjadi peningkatan nilai yang menyolok yaitu rata – rata 72,91, sedangkan pada siklus III nilai rata – rata 76,25.
    H. Kesimpulan dan Saran
    1. Kesimpulan
    Berdasarkan uraian dan pembahasan hasil di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
    – Terjadi peningkatan nilai yang sangat berarti antara siklus I, siklus II, dan siklus III, baik nilai kelompok dalam kegiatan penulisan puisi akrostik maupun nilai individu, setelah dilakukan perbaikan persiapan kegiatan.
    – Secara individual terjadi peningkatan hasil tes yang sangat berarti dan terjadi perkembangan nilai yang stabil pada siklus III.
    – Pembelajaran dengan menggunakan metode penulisan puisi akrostik terbukti dapat meningkatkan kekreatifan atau keterampilan penggunaan gaya bahasa siswa dalam proses pembelajaran, sehingga dapat dijadikan solusi dalam mengatasi masalah pembelajaran.
    2. Saran – Saran
    Berdasarkan kesimpulan yang didapat dari penelitian tindakan kelas di SMP Negeri 6 Tanta kelas VII, bidang studi Bahasa Indonesia, dapat disampaikan saran sebagai berikut:
    – Untuk mengatasi masalah pembelajaran yang berkaitan dengan rendahnya motivasi dan kurangnya keterampilan atau kekreatifan siswa dalam pembelajaran dapat digunakan metode penulisan puisi akrostik, sehingga dapat mempengaruhi suasana pembelajaran menjadi lebih bersemangat.
    – Penerapan metode pembelajaran penulisan puisi akrostik sangat mudah dan praktis sehingga dapat dijadikan salah satu pilihan guru dalam memilih metode pembelajaran.
    I. Daftar Pustaka

    Suharma, S. Pd dkk. 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia. Bogor: Yudhistira.

  18. Eka Ratna Sari
    20/05/2010 pukul 6:30 am

    Penelitian Tindakan Kelas
    ( Classroom Action Research )
    “Puisi Akrostik”
    Untuk Meningkatkan Keterampilan Penggunaan Gaya Bahasa Siswa Kelas VII di SMP Negeri 6 Tanta

    Oleh : Emiliawati

    A. Latar Belakang
    Pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dalam suatu Negara, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Di Negara kita, dunia pendidikan masih dirundung masalah yang amat berat seiring dengan kemajuan iptek secara global, terutama masalah yang berkaitan dengan rendahnya kualitas atau mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan.
    Untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara optimal, maka peran guru sebagai suatu profesi menjadi ujung tombak yang secara langsung ikut andil dalam mewarnai hitam putihnya dunia pendidikan di Negara kita.
    Masalah praktis yang sering menjadi kendala bagi guru dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran tersebut antara lain rendahnya motivasi dan partisipasi belajar siswa yang pada akhirnya membawa dampak rendahnya keterampilan, kekreatifan, dan kinerja siswa dalam proses pembelajaran, serta mempengaruhi daya serap siswa terhadap materi pelajaran. Masalah ini bila tidak lekas ditangani maka akan membawa kerugian yang besar bagi siswa dan mengakibatkan rendahnya kualitas output pendidikan.
    Masalah pembelajaran di atas sering ditemui penulis dalam mengajar bidang studi Bahasa Indonesia di kelas VII SMP Negeri 6 Tanta, bidang studi Bahasa Indonesia memiliki alokasi waktu 6 jam dalam satu minggu. Dengan alasan teknis dan situasi mata pelajaran ini biasanya diletakkan pada jam akhir, dimana kondisi mental dan fisik siswa sudah mulai menurun, situasi ini berdampak pada rendahnya motivasi, partisipasi, kekreatifan, dan keterampilan siswa dalam pembelajaran yang kemudian berakibat pada rendahnya kinerja siswa.
    Untuk mengatasi hal tersebut, penulis mencoba mencari solusi guna memperbaiki sumber masalahnya, baik yang berasal dari siswa maupun metode pembelajaran yang diterapkan guru. Sebagai solusi dilakukan penelitian tindakan kelas yang sangat sederhana, namun tidak meninggalkan kaidah – kaidah penelitian itu sendiri. Dalam penelitian tindakan kelas ini, akan digunakan metode pembelajaran penulisan puisi akrostik. Dengan metode ini siswa dituntut untuk melakukan interaksi secara kelompok, untuk memupuk kerjasama dan kekompakkan membangun sikap sosial pada diri siswa. Dengan kebersamaan tersebut maka secara tidak sadar siswa akan terpacu dan tumbuh motivasi dan partisipasinya dalam pembelajaran
    B. Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
    – Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran penulisan puisi akrostik dapat meningkatkan keterampilan penggunaan gaya bahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

    C. Tujuan Penelitian
    – Untuk mengetahui sejauh mana ketepatan metode penulisan puisi akrostik dapat meningkatkan keterampilan penggunaan gaya bahasa pada siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

    D. Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai wahana maupun acuan implementasi penerapan metode pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia, secara khusus bermanfaat untuk mengatasi kendala atau masalah pembelajaran, sedangkan bagi siswa dapat dijadikan pendorong tumbuhnya semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.
    E. Kajian Pustaka
    1. Motivasi Belajar siswa
    Secara umum tujuan akhir dari suatu proses pembelajaran adalah tercapainya indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yang kemudian secara kuantitatif dapat dilihat dari hasil atau prestasi siswa. Namun demikian hasil belajar siswa sering kali tidak sesuai dengan harapan guru maupun siswa itu sendiri, dimana hasil belajar siswa sangat erat kaitannya dengan berbagai macam faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhinya.
    Motivasi merupakan bagian faktor internal siswa yang sangat berperan dalam mewujudkan aktualisasi potensi siswa secara maksimal. Motivasi merupakan faktor pendorong atau penarik yang mengakibatkan seseorang berperilaku kearah tertentu.
    Menurut Grifin ( 2000 ; 140 ) mengemukakan “ Motivation can be defined as the of factor that cause people to behave in certain ways “. Selanjutnya dia juga mengemukakan “ Need are usually thought of as factor that pus behavior – they are drives or forces that compel people to behave in various ways “. Motivasi didefinisikan sebagai seperangkat faktor yang menyebabkan orang berperilaku dengan cara tertentu.
    Sedangkan Oemar Hamalik ( 1999 ; 106 ) berpendapat “ Motivasi adalah perubahan energi dalam diri ( pribadi ) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”.
    Motivasi memiliki dua komponen yaitu komponen dalam dan komponen luar. Komponen dalam adalah perubahan dalam diri seseorang, keadaan merasa tidak puas, ketegangan psikologis, sedangkan komponen dari luar ialah keinginan dan tujuan yang mengarah pada perbuatan seseorang.
    Dari dua pendapat di atas bila kita hubungkan dengan motivasi belajar siswa dapat disimpulkan bahwa siswa memiliki motivasi belajar karena adanya kebutuhan atau keinginan yang mendorong siswa untuk berbuat atau beraktivitas untuk mencapai tujuan atau kebutuhan tertentu. Kebutuhan siswa di sini tidak lain adalah berprestasi. Sebagai tugas guru untuk membuka kesempatan dan jalan serta memilih alat untuk membantu kelancaran siswa untuk mencapai hal tersebut. Siswa dikatakan memiliki motivasi belajar bila perilakunya menunjukkan minat, perhatian, ingin ikut serta, bekerja keras, dan mencurahkan waktu untuk hal itu atau dengan kata lain munculnya sikap partisipasi total terhadap proses pembelajaran.
    2. Partisipasi Siswa
    Partisipasi merupakan suatu tingkat sejauh mana para anggota terlibat atau melibatkan diri di dalam kegiatan dan menyumbangkan tenaga serta pikiran dalam pelaksanaan kegiatan ( Sukidin, 2001 ; 161 ). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah keterlibatan secara emosi / pikiran dan tenaga dalam proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara sadar dan mempunyai keinginan untuk mengambil manfaat dari kegiatan tersebut. Dengan demikian sangatlah penting peran dan partisipasi siswa dalam pembelajaran guna mensukseskan dan kebermanfaatan pembelajaran itu sendiri.
    Motivasi dan partisipasi siswa akan mewujudkan kinerja siswa dalam pembelajaran. Dimana kinerja merupakan potret keseluruhan dari keterlibatan dan keberhasilan siswa dalam belajar. Menurut Rahmanto ( 2000 ; 61 ) kinerja merupakan tingkat pelaksanaan tugas yang dicapai oleh seseorang atau organisasi dengan menggunakan kemampuan yang ada dan batas – batas yang telah ditetapkan sebagai tujuan.
    Kinerja dapat diukur sehingga dapat dijadikan patokan sejauh mana keterlibatan dan kemampuan siswa dalam pembelajaran, hal ini sesuai dengan pendapat Cascio ( 1998 ; 43 ) menyatakan “ Performance may be defined as observable thing people do that are relevant for the goals of the organization…”. Dilain pihak Curphy ( 1999 ; 389 ) mengatakan “ An acre performance is worth the whole world of promise “. Kinerja dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat diamati, sesuai atau berdasarkan tujuan – tujuan organisasi. Dalam suatu pembelajaran pengamatan kemampuan dengan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan sangat penting dilakukan, karena disamping sebagi tolok ukur keberhasilan pembelajaran juga dapat dijadikan dasar untuk perencanaan berikutnya.
    Untuk menumbuhkan motivasi dan partisipasi sehingga membuahkan kinerja yang baik maka sangat diperlukan metode pembelajaran yang bersipat partisipatoris, yang diharapkan mampu membawa siswa ke dalam situasi yang lebih kondusif karena siswa lebih terbuka, sensitive, empati, dan mewujudkan sikap partisipasi dalam pembelajaran.
    F. Metode Penelitian “ Puisi Akrostik “
    Model pembelajaran yang bersifat partisipatoris berlandaskan empat pilar prinsip pendidikan dari UNESCO yaitu ; learning to do, learning to know, learning to be, dan learning ti live together ( Fasli Jalal, 2001 ; Lii ), berdasarkan prinsip tersebut siswa diharapkan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya melalui interaksi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik, sosial, maupun budaya ( learning to do ), kemudian mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya ( learning to know ), melalui interksi siswa mampu membangun pengetahuan dan kepercayaan diri ( learnimg to be ), mampu beriteraksi secara harmonis, naik dengan individu atau kelompok lainnya ( learning to live together ).
    Untuk menciptakan suasana pembelajaran partisipasif dalam pembelajaran gaya bahasa dimaksud perlu adanya pemilihan metode yang dijadikan alat untuk mempengaruhi suasana pembelajaran. Metode yang cocok untuk hal tersebut adalah metode “ penulisan puisi akrostik “
    Penggunaan metode penulisan puisi akrostik didasari asumsi bahwa siswa mampu menguasai dengan baik penggunaan gaya bahasa sehingga siswa dapat memupuk rasa percaya diri pada diri siswa itu sendiri dan dapat menumbuhkan kekreatifan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode ini memandang keberhasilan individu dioreantasikan dalam keberhasilan kelompok, dengan demikian siswa akan bekerjasama dalam mencapai tujuan dan siswa bekerja keras membantu dan mendorong anggota kelompoknya untuk berhasil dalam pembelajaran. Prosedur metode penulisan puisi akrostik ini sangat sederhana yaitu; siswa dibuat kelompok sebanyak 3 kelompok yang masing – masing terdiri dari 4 siswa dalam 1 kelompok, kemudian penulis membagikan kertas yang berisi nama seorang sastrawan. Dalam metode belajar ini, siswa diminta untuk membuat puisi secara vertikal sesuai dengan nama salah satu sastrawan yang dibagikan oleh penulis per kelompok dengan durasi waktu 20 menit. Untuk membangkitkan motivasi siswa, penulis memberikan hadiah bagi kelompok yang membuat puisi secara cepat dan tepat.
    Pada kegiatan akhir ini penulis memajang hasil puisi yang telah dibuat sesuai dengan kelompoknya masing – masing.
    Kemudian masing – masing kelompok disuruh untuk menilai hasil puisi yang telah dibuat oleh kelompok lain.

    G. Hasil Penelitian dan Pembahasan
    Untuk mendapatkan data pendukung telah dilakukan observasi pada setiap siklus I, siklus II, dan siklus III. Data tersebut diharapkan dapat melihat seberapa tepat penggunaan metode pembelajaran yang diterapkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi guru, khususnya dalam hal meningkatkan motivasi dan partisipasi belajar siswa dan juga menjadi dasar bagi guru untuk merencanakan perbaikan strategi pembelajaran berikutnya.
    Data yang diperoleh dari observasi pada siklus I setelah siswa melakukan kegiatan pembelajaran penggunaan gaya bahasa dengan metode penulisan puisi akrostik adalah sebagai berikut.
    Tabel Penilaian Kegiatan Kelompok Siklus I
    No Kelompok Skor Nilai Predikat
    1 Kelompok I 46 57,5 Kurang
    2 Kelompok II 50 61,3 Cukup
    3 Kelompok III 63 63 Cukup
    Berdasarkan observasi siklus I diperoleh data dengan nilai kelompok berpredikat cukup 2 kelompok, yaitu kelompok II dan kelompok III, sedangkan 1 kelompok berpredikat kurang yaitu kelompok I. Kelemahan penampilan pada siklus ini dapat dipaparkan sebagai berikut:
    Kelompok I ( satu )
    – Penguasaan materi masih kurang dan belum terjadi kerjasama kelompok dengan baik.
    – Anggota kelompok masih kurang percaya diri terhadap kemampuan yang dia miliki.
    – Belum terjadi pembagian tugas kelompok, masing – masing anggota belum bisa menjalankan peran dengan baik.

    Secara umum kekompakkan dalam kerja kelompok masih belum terbangun dalam menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Setelah dilakukan refleksi bersama observer dan meminta pendapat beberapa siswa kemudian dilanjutkan dengan persiapan untuk kegiatan pada siklus II.
    Setelah dilakukan perbaikan perencanaan dilakukan kegiatan siklus II, data yang diperoleh dari observasi pada siklus II setelah melakukan kegiatan penulisan puisi akrostik adalah sebagai berikut:
    Tabel Penilaian Kegiatan Penulisan Puisi akrostik Pada siklus II
    No Kelompok Skor Nilai Predikat
    1 Kelompok I 66 82,5 Baik
    2 Kelompok II 67 81,3 Baik
    3 Kelompok III 84 84 Baik
    Setelah dilakukan perbaikan perencanaan kegiatan penulisan puisi akrostik siklus II terjadi perubahan pada perolehan nilai, data observasi seperti terlihat pada tabel di atas. Dari 3 kelompok keseluruhan mendapat nilai dengan predikan baik yaitu; kelompok I mendapat nilai 82,5, kelompok II mendapat nilai 81,3, dan kelompok III mendapat nilai 8,3. Perolehan nilai pada kelompok pada umumnya sudah rata – rata berpredikat baik, namun secara individu masih terdapat siswa yang mendapat nilai berpredikat cukup, yaitu masing – masing 1 orang pada kelompok III. Oleh karena itu setelah dilakukan refleksi bersama observer disepakati untuk melakukan perbaikan pada siklus ke III, dengan arahan seperti pada siklus II. Adapun tujuan siklus III, disamping untuk perbaikan juga lebih memantapkan perolehan skor atau nilai yang telah didapat.
    Setelah dilakukan kegiatan siklus III, data yang diperoleh dari observasi setelah siswa melakukan kegiatan penulisan puisi akrostik adalah sebagai berikut:
    Tabel penilaian kegiatan penulisan puisi akrostik siklus III
    No Kelompok Skor Nilai Predikat
    1 Kelompok I 69 85 Baik
    2 Kelompok II 65 81,3 Baik
    3 Kelompok III 68 79 Baik
    Perolehan nilai pada siklus III, baik kelompok maupun klasikal mengalami peningkatan, walaupun tidak mencolok, sehingga perolehan nilai dipandang cukup stabil, walaupun tidak terdapat perubahan predikat dari siklus II ke siklus III.
    Setelah dilakukan refleksi dengan berdasarkan data – data di atas maka kegiatan dihentikan pada siklus III, karena dipandang sudah terjadi peningkatan kualitas pembelajaran dengan predikat baik untuk semua kelompok atau secara klasikal, nilai individu juga menunjukkan kestabilan. Walaupun pada kelompok III terdapat siswa yang tadinya pada siklus II mendapat predikat amat baik setelah siklus III mengalami kemunduran yaitu dengan predikat cukup. Hal ini dimungkinkan adanya factor – factor yang mempengaruhi yang sifatnya sementara seperti sakit.
    Untuk memantapkan data guna mendukung keberhasilan kegiatan maka diambil pula data dari tes individual yang dilakukan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
    Tabel Rekapitulasi Hasil Tes Individu pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III

    No
    Nama Siswa Nilai Tes
    Siklus I Siklus II Siklus III
    1 Beah 45 75 80
    2 Alif 45 65 75
    3 Revi Cahyani . M. 60 80 80
    4 Amelya Septiani 60 65 75
    5 Christy. W 55 70 80
    6 Daud Rahman 50 75 70
    7 M. Murtomo 50 70 65
    8 M. Rojali 65 70 70
    9 Sandy Ardiansyah 65 85 90
    10 Marliani 55 75 75
    11 Siti Astuti 60 75 80
    12 Winarno 50 70 75
    Total 660 875 915
    Rata – rata 55,00 72,91 76,25
    Berdasarkan data hasil tes individu pada siklus I, siklus II terdapat peningkatan, sedangkan dari siklus II ke siklus III terdapat kestabilan dan cenderung meningkat, dimana pada siklus I nilai rata – rata 55,00, pada siklus II terjadi peningkatan nilai yang menyolok yaitu rata – rata 72,91, sedangkan pada siklus III nilai rata – rata 76,25.
    H. Kesimpulan dan Saran
    1. Kesimpulan
    Berdasarkan uraian dan pembahasan hasil di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
    – Terjadi peningkatan nilai yang sangat berarti antara siklus I, siklus II, dan siklus III, baik nilai kelompok dalam kegiatan penulisan puisi akrostik maupun nilai individu, setelah dilakukan perbaikan persiapan kegiatan.
    – Secara individual terjadi peningkatan hasil tes yang sangat berarti dan terjadi perkembangan nilai yang stabil pada siklus III.
    – Pembelajaran dengan menggunakan metode penulisan puisi akrostik terbukti dapat meningkatkan kekreatifan atau keterampilan penggunaan gaya bahasa siswa dalam proses pembelajaran, sehingga dapat dijadikan solusi dalam mengatasi masalah pembelajaran.
    2. Saran – Saran
    Berdasarkan kesimpulan yang didapat dari penelitian tindakan kelas di SMP Negeri 6 Tanta kelas VII, bidang studi Bahasa Indonesia, dapat disampaikan saran sebagai berikut:
    – Untuk mengatasi masalah pembelajaran yang berkaitan dengan rendahnya motivasi dan kurangnya keterampilan atau kekreatifan siswa dalam pembelajaran dapat digunakan metode penulisan puisi akrostik, sehingga dapat mempengaruhi suasana pembelajaran menjadi lebih bersemangat.
    – Penerapan metode pembelajaran penulisan puisi akrostik sangat mudah dan praktis sehingga dapat dijadikan salah satu pilihan guru dalam memilih metode pembelajaran.
    I. Daftar Pustaka

    Suharma, S. Pd dkk. 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia. Bogor: Yudhistira.

  19. Emiliawati
    20/05/2010 pukul 6:36 am

    Penelitian Tindakan Kelas
    ( Classroom Action Research )
    “Puisi Akrostik”
    Untuk Meningkatkan Keterampilan Penggunaan Gaya Bahasa Siswa Kelas VII di SMP Negeri 6 Tanta

    Oleh : Emiliawati
    NPM : 306.07.11.405

    A. Latar Belakang
    Pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dalam suatu Negara, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Di Negara kita, dunia pendidikan masih dirundung masalah yang amat berat seiring dengan kemajuan iptek secara global, terutama masalah yang berkaitan dengan rendahnya kualitas atau mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan.
    Untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara optimal, maka peran guru sebagai suatu profesi menjadi ujung tombak yang secara langsung ikut andil dalam mewarnai hitam putihnya dunia pendidikan di Negara kita.
    Masalah praktis yang sering menjadi kendala bagi guru dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran tersebut antara lain rendahnya motivasi dan partisipasi belajar siswa yang pada akhirnya membawa dampak rendahnya keterampilan, kekreatifan, dan kinerja siswa dalam proses pembelajaran, serta mempengaruhi daya serap siswa terhadap materi pelajaran. Masalah ini bila tidak lekas ditangani maka akan membawa kerugian yang besar bagi siswa dan mengakibatkan rendahnya kualitas output pendidikan.
    Masalah pembelajaran di atas sering ditemui penulis dalam mengajar bidang studi Bahasa Indonesia di kelas VII SMP Negeri 6 Tanta, bidang studi Bahasa Indonesia memiliki alokasi waktu 6 jam dalam satu minggu. Dengan alasan teknis dan situasi mata pelajaran ini biasanya diletakkan pada jam akhir, dimana kondisi mental dan fisik siswa sudah mulai menurun, situasi ini berdampak pada rendahnya motivasi, partisipasi, kekreatifan, dan keterampilan siswa dalam pembelajaran yang kemudian berakibat pada rendahnya kinerja siswa.
    Untuk mengatasi hal tersebut, penulis mencoba mencari solusi guna memperbaiki sumber masalahnya, baik yang berasal dari siswa maupun metode pembelajaran yang diterapkan guru. Sebagai solusi dilakukan penelitian tindakan kelas yang sangat sederhana, namun tidak meninggalkan kaidah – kaidah penelitian itu sendiri. Dalam penelitian tindakan kelas ini, akan digunakan metode pembelajaran penulisan puisi akrostik. Dengan metode ini siswa dituntut untuk melakukan interaksi secara kelompok, untuk memupuk kerjasama dan kekompakkan membangun sikap sosial pada diri siswa. Dengan kebersamaan tersebut maka secara tidak sadar siswa akan terpacu dan tumbuh motivasi dan partisipasinya dalam pembelajaran
    B. Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
    – Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran penulisan puisi akrostik dapat meningkatkan keterampilan penggunaan gaya bahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

    C. Tujuan Penelitian
    – Untuk mengetahui sejauh mana ketepatan metode penulisan puisi akrostik dapat meningkatkan keterampilan penggunaan gaya bahasa pada siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

    D. Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai wahana maupun acuan implementasi penerapan metode pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia, secara khusus bermanfaat untuk mengatasi kendala atau masalah pembelajaran, sedangkan bagi siswa dapat dijadikan pendorong tumbuhnya semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.
    E. Kajian Pustaka
    1. Motivasi Belajar siswa
    Secara umum tujuan akhir dari suatu proses pembelajaran adalah tercapainya indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yang kemudian secara kuantitatif dapat dilihat dari hasil atau prestasi siswa. Namun demikian hasil belajar siswa sering kali tidak sesuai dengan harapan guru maupun siswa itu sendiri, dimana hasil belajar siswa sangat erat kaitannya dengan berbagai macam faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhinya.
    Motivasi merupakan bagian faktor internal siswa yang sangat berperan dalam mewujudkan aktualisasi potensi siswa secara maksimal. Motivasi merupakan faktor pendorong atau penarik yang mengakibatkan seseorang berperilaku kearah tertentu.
    Menurut Grifin ( 2000 ; 140 ) mengemukakan “ Motivation can be defined as the of factor that cause people to behave in certain ways “. Selanjutnya dia juga mengemukakan “ Need are usually thought of as factor that pus behavior – they are drives or forces that compel people to behave in various ways “. Motivasi didefinisikan sebagai seperangkat faktor yang menyebabkan orang berperilaku dengan cara tertentu.
    Sedangkan Oemar Hamalik ( 1999 ; 106 ) berpendapat “ Motivasi adalah perubahan energi dalam diri ( pribadi ) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”.
    Motivasi memiliki dua komponen yaitu komponen dalam dan komponen luar. Komponen dalam adalah perubahan dalam diri seseorang, keadaan merasa tidak puas, ketegangan psikologis, sedangkan komponen dari luar ialah keinginan dan tujuan yang mengarah pada perbuatan seseorang.
    Dari dua pendapat di atas bila kita hubungkan dengan motivasi belajar siswa dapat disimpulkan bahwa siswa memiliki motivasi belajar karena adanya kebutuhan atau keinginan yang mendorong siswa untuk berbuat atau beraktivitas untuk mencapai tujuan atau kebutuhan tertentu. Kebutuhan siswa di sini tidak lain adalah berprestasi. Sebagai tugas guru untuk membuka kesempatan dan jalan serta memilih alat untuk membantu kelancaran siswa untuk mencapai hal tersebut. Siswa dikatakan memiliki motivasi belajar bila perilakunya menunjukkan minat, perhatian, ingin ikut serta, bekerja keras, dan mencurahkan waktu untuk hal itu atau dengan kata lain munculnya sikap partisipasi total terhadap proses pembelajaran.
    2. Partisipasi Siswa
    Partisipasi merupakan suatu tingkat sejauh mana para anggota terlibat atau melibatkan diri di dalam kegiatan dan menyumbangkan tenaga serta pikiran dalam pelaksanaan kegiatan ( Sukidin, 2001 ; 161 ). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah keterlibatan secara emosi / pikiran dan tenaga dalam proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara sadar dan mempunyai keinginan untuk mengambil manfaat dari kegiatan tersebut. Dengan demikian sangatlah penting peran dan partisipasi siswa dalam pembelajaran guna mensukseskan dan kebermanfaatan pembelajaran itu sendiri.
    Motivasi dan partisipasi siswa akan mewujudkan kinerja siswa dalam pembelajaran. Dimana kinerja merupakan potret keseluruhan dari keterlibatan dan keberhasilan siswa dalam belajar. Menurut Rahmanto ( 2000 ; 61 ) kinerja merupakan tingkat pelaksanaan tugas yang dicapai oleh seseorang atau organisasi dengan menggunakan kemampuan yang ada dan batas – batas yang telah ditetapkan sebagai tujuan.
    Kinerja dapat diukur sehingga dapat dijadikan patokan sejauh mana keterlibatan dan kemampuan siswa dalam pembelajaran, hal ini sesuai dengan pendapat Cascio ( 1998 ; 43 ) menyatakan “ Performance may be defined as observable thing people do that are relevant for the goals of the organization…”. Dilain pihak Curphy ( 1999 ; 389 ) mengatakan “ An acre performance is worth the whole world of promise “. Kinerja dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat diamati, sesuai atau berdasarkan tujuan – tujuan organisasi. Dalam suatu pembelajaran pengamatan kemampuan dengan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan sangat penting dilakukan, karena disamping sebagi tolok ukur keberhasilan pembelajaran juga dapat dijadikan dasar untuk perencanaan berikutnya.
    Untuk menumbuhkan motivasi dan partisipasi sehingga membuahkan kinerja yang baik maka sangat diperlukan metode pembelajaran yang bersipat partisipatoris, yang diharapkan mampu membawa siswa ke dalam situasi yang lebih kondusif karena siswa lebih terbuka, sensitive, empati, dan mewujudkan sikap partisipasi dalam pembelajaran.
    F. Metode Penelitian “ Puisi Akrostik “
    Model pembelajaran yang bersifat partisipatoris berlandaskan empat pilar prinsip pendidikan dari UNESCO yaitu ; learning to do, learning to know, learning to be, dan learning ti live together ( Fasli Jalal, 2001 ; Lii ), berdasarkan prinsip tersebut siswa diharapkan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya melalui interaksi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik, sosial, maupun budaya ( learning to do ), kemudian mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya ( learning to know ), melalui interksi siswa mampu membangun pengetahuan dan kepercayaan diri ( learnimg to be ), mampu beriteraksi secara harmonis, naik dengan individu atau kelompok lainnya ( learning to live together ).
    Untuk menciptakan suasana pembelajaran partisipasif dalam pembelajaran gaya bahasa dimaksud perlu adanya pemilihan metode yang dijadikan alat untuk mempengaruhi suasana pembelajaran. Metode yang cocok untuk hal tersebut adalah metode “ penulisan puisi akrostik “
    Penggunaan metode penulisan puisi akrostik didasari asumsi bahwa siswa mampu menguasai dengan baik penggunaan gaya bahasa sehingga siswa dapat memupuk rasa percaya diri pada diri siswa itu sendiri dan dapat menumbuhkan kekreatifan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode ini memandang keberhasilan individu dioreantasikan dalam keberhasilan kelompok, dengan demikian siswa akan bekerjasama dalam mencapai tujuan dan siswa bekerja keras membantu dan mendorong anggota kelompoknya untuk berhasil dalam pembelajaran. Prosedur metode penulisan puisi akrostik ini sangat sederhana yaitu; siswa dibuat kelompok sebanyak 3 kelompok yang masing – masing terdiri dari 4 siswa dalam 1 kelompok, kemudian penulis membagikan kertas yang berisi nama seorang sastrawan. Dalam metode belajar ini, siswa diminta untuk membuat puisi secara vertikal sesuai dengan nama salah satu sastrawan yang dibagikan oleh penulis per kelompok dengan durasi waktu 20 menit. Untuk membangkitkan motivasi siswa, penulis memberikan hadiah bagi kelompok yang membuat puisi secara cepat dan tepat.
    Pada kegiatan akhir ini penulis memajang hasil puisi yang telah dibuat sesuai dengan kelompoknya masing – masing.
    Kemudian masing – masing kelompok disuruh untuk menilai hasil puisi yang telah dibuat oleh kelompok lain.

    G. Hasil Penelitian dan Pembahasan
    Untuk mendapatkan data pendukung telah dilakukan observasi pada setiap siklus I, siklus II, dan siklus III. Data tersebut diharapkan dapat melihat seberapa tepat penggunaan metode pembelajaran yang diterapkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi guru, khususnya dalam hal meningkatkan motivasi dan partisipasi belajar siswa dan juga menjadi dasar bagi guru untuk merencanakan perbaikan strategi pembelajaran berikutnya.
    Data yang diperoleh dari observasi pada siklus I setelah siswa melakukan kegiatan pembelajaran penggunaan gaya bahasa dengan metode penulisan puisi akrostik adalah sebagai berikut.
    Tabel Penilaian Kegiatan Kelompok Siklus I
    No Kelompok Skor Nilai Predikat
    1 Kelompok I 46 57,5 Kurang
    2 Kelompok II 50 61,3 Cukup
    3 Kelompok III 63 63 Cukup
    Berdasarkan observasi siklus I diperoleh data dengan nilai kelompok berpredikat cukup 2 kelompok, yaitu kelompok II dan kelompok III, sedangkan 1 kelompok berpredikat kurang yaitu kelompok I. Kelemahan penampilan pada siklus ini dapat dipaparkan sebagai berikut:
    Kelompok I ( satu )
    – Penguasaan materi masih kurang dan belum terjadi kerjasama kelompok dengan baik.
    – Anggota kelompok masih kurang percaya diri terhadap kemampuan yang dia miliki.
    – Belum terjadi pembagian tugas kelompok, masing – masing anggota belum bisa menjalankan peran dengan baik.

    Secara umum kekompakkan dalam kerja kelompok masih belum terbangun dalam menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Setelah dilakukan refleksi bersama observer dan meminta pendapat beberapa siswa kemudian dilanjutkan dengan persiapan untuk kegiatan pada siklus II.
    Setelah dilakukan perbaikan perencanaan dilakukan kegiatan siklus II, data yang diperoleh dari observasi pada siklus II setelah melakukan kegiatan penulisan puisi akrostik adalah sebagai berikut:
    Tabel Penilaian Kegiatan Penulisan Puisi akrostik Pada siklus II
    No Kelompok Skor Nilai Predikat
    1 Kelompok I 66 82,5 Baik
    2 Kelompok II 67 81,3 Baik
    3 Kelompok III 84 84 Baik
    Setelah dilakukan perbaikan perencanaan kegiatan penulisan puisi akrostik siklus II terjadi perubahan pada perolehan nilai, data observasi seperti terlihat pada tabel di atas. Dari 3 kelompok keseluruhan mendapat nilai dengan predikan baik yaitu; kelompok I mendapat nilai 82,5, kelompok II mendapat nilai 81,3, dan kelompok III mendapat nilai 8,3. Perolehan nilai pada kelompok pada umumnya sudah rata – rata berpredikat baik, namun secara individu masih terdapat siswa yang mendapat nilai berpredikat cukup, yaitu masing – masing 1 orang pada kelompok III. Oleh karena itu setelah dilakukan refleksi bersama observer disepakati untuk melakukan perbaikan pada siklus ke III, dengan arahan seperti pada siklus II. Adapun tujuan siklus III, disamping untuk perbaikan juga lebih memantapkan perolehan skor atau nilai yang telah didapat.
    Setelah dilakukan kegiatan siklus III, data yang diperoleh dari observasi setelah siswa melakukan kegiatan penulisan puisi akrostik adalah sebagai berikut:
    Tabel penilaian kegiatan penulisan puisi akrostik siklus III
    No Kelompok Skor Nilai Predikat
    1 Kelompok I 69 85 Baik
    2 Kelompok II 65 81,3 Baik
    3 Kelompok III 68 79 Baik
    Perolehan nilai pada siklus III, baik kelompok maupun klasikal mengalami peningkatan, walaupun tidak mencolok, sehingga perolehan nilai dipandang cukup stabil, walaupun tidak terdapat perubahan predikat dari siklus II ke siklus III.
    Setelah dilakukan refleksi dengan berdasarkan data – data di atas maka kegiatan dihentikan pada siklus III, karena dipandang sudah terjadi peningkatan kualitas pembelajaran dengan predikat baik untuk semua kelompok atau secara klasikal, nilai individu juga menunjukkan kestabilan. Walaupun pada kelompok III terdapat siswa yang tadinya pada siklus II mendapat predikat amat baik setelah siklus III mengalami kemunduran yaitu dengan predikat cukup. Hal ini dimungkinkan adanya factor – factor yang mempengaruhi yang sifatnya sementara seperti sakit.
    Untuk memantapkan data guna mendukung keberhasilan kegiatan maka diambil pula data dari tes individual yang dilakukan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
    Tabel Rekapitulasi Hasil Tes Individu pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III

    No
    Nama Siswa Nilai Tes
    Siklus I Siklus II Siklus III
    1 Beah 45 75 80
    2 Alif 45 65 75
    3 Revi Cahyani . M. 60 80 80
    4 Amelya Septiani 60 65 75
    5 Christy. W 55 70 80
    6 Daud Rahman 50 75 70
    7 M. Murtomo 50 70 65
    8 M. Rojali 65 70 70
    9 Sandy Ardiansyah 65 85 90
    10 Marliani 55 75 75
    11 Siti Astuti 60 75 80
    12 Winarno 50 70 75
    Total 660 875 915
    Rata – rata 55,00 72,91 76,25
    Berdasarkan data hasil tes individu pada siklus I, siklus II terdapat peningkatan, sedangkan dari siklus II ke siklus III terdapat kestabilan dan cenderung meningkat, dimana pada siklus I nilai rata – rata 55,00, pada siklus II terjadi peningkatan nilai yang menyolok yaitu rata – rata 72,91, sedangkan pada siklus III nilai rata – rata 76,25.
    H. Kesimpulan dan Saran
    1. Kesimpulan
    Berdasarkan uraian dan pembahasan hasil di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
    – Terjadi peningkatan nilai yang sangat berarti antara siklus I, siklus II, dan siklus III, baik nilai kelompok dalam kegiatan penulisan puisi akrostik maupun nilai individu, setelah dilakukan perbaikan persiapan kegiatan.
    – Secara individual terjadi peningkatan hasil tes yang sangat berarti dan terjadi perkembangan nilai yang stabil pada siklus III.
    – Pembelajaran dengan menggunakan metode penulisan puisi akrostik terbukti dapat meningkatkan kekreatifan atau keterampilan penggunaan gaya bahasa siswa dalam proses pembelajaran, sehingga dapat dijadikan solusi dalam mengatasi masalah pembelajaran.
    2. Saran – Saran
    Berdasarkan kesimpulan yang didapat dari penelitian tindakan kelas di SMP Negeri 6 Tanta kelas VII, bidang studi Bahasa Indonesia, dapat disampaikan saran sebagai berikut:
    – Untuk mengatasi masalah pembelajaran yang berkaitan dengan rendahnya motivasi dan kurangnya keterampilan atau kekreatifan siswa dalam pembelajaran dapat digunakan metode penulisan puisi akrostik, sehingga dapat mempengaruhi suasana pembelajaran menjadi lebih bersemangat.
    – Penerapan metode pembelajaran penulisan puisi akrostik sangat mudah dan praktis sehingga dapat dijadikan salah satu pilihan guru dalam memilih metode pembelajaran.
    I. Daftar Pustaka

    Suharma, S. Pd dkk. 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia. Bogor: Yudhistira.

  20. Rahmadani
    20/05/2010 pukul 7:47 am

    Rahmadani

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.

    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

  21. Rahmadani
    20/05/2010 pukul 8:10 am

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.

    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan yang ada, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

  22. Nia Norlela
    20/05/2010 pukul 9:00 am

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang
    Pada hakekatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang dipelajari secara lisan maupun tertulis. Ada empat keterampilan bahasa yang harus diperhatikan, keempat keterampilan tersebut adalah keterampilan menyimak, berbicara,membaca, dan menulis. Setiap keterampilan mempunyai hubungan yang sangat erat ( Tarigan 1986: 1).
    Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa perlu mendapat perhatian yang serius dalam pembelajaran di sekolah. Pembelajaran menulis pun tidak lepas dari keterampilan menyimak dan membaca, dalam hal ini penulis lebih menekankan pada pembelajaran menulis. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pembelajaran menulis harus lebih ditingkatkan. Kemampuan menulis seharusnya sudah diterapkan sejak siswa duduk di sekolah dasar, hal ini dapat dijadikan sebagai pondasi bagi siswa dalam menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti SMP maupun SMA bahkan sampai Perguruan Tinggi. Dengan kemampuan menulis siswa dapat mengembangkan dan menuangkan gagasan dan pengalamannya dalam berbagai macam bentuk, salah satunya adalah cerita dalam bentuk drama.
    Dalam menulis diperlukan adanya suatu bentuk ekspresi gagasan yang berkesinambungan dan mempunyai urutan logis. Hal ini dapat diwujudkan dalam penggunaan kosa kata dan tata bahasanya, sehingga dapat menggambarkan atau menyajikan informasi yang diekspresikan secara jelas. Bahasa memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Urgensi bahasa mencakup segala bidang kehidupan, karena suatu yang dihayati, diamati, dan dirasakan oleh seseorang dapat dipahami oleh orang lain, apabila telah diungkapkan dengan bahasa, baik lisan maupun tulisan.
    Salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam komunikasi adalah kemampuan dalam menuangkan dan mengembangkan ide dalam bentuk tulisan. Ide atau gagasan tersebut kemudian dikembangkan dalam bentuk rangkaian kalimat. Hasil dari kegiatan menulis adalah untuk dibaca oleh orang lain. Agar orang lain dapat membaca tulisan tersebut dituntut adanya bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, kemampuan menulis tersebut membutuhkan perhatian dan keseriusan dari instrumen penyelenggara pendidikan, terutama guru dan kurikulum yang mendukung.
    Realitas menunjukkan bahwa kemampuan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa SMP terutama pada siswa kelas VIII. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Menulis juga dianggap sebagai suatu kegiatan yang membosankan. Oleh karena itu, perlulah kiranya guru mencari dan menerapkan pendekatan yang sesuai dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa.
    Dalam menulis teks drama pada siswa SMPN 7 Tanjung kelas VII hasil belajarnya kurang memuaskan. Oleh karena itu, peneliti menganggap perlu untuk melakukan penelitian kemampuan menulis teks drama.
    Penelitian ini diberi judul, Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Drama Dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan. Tidak sedikit siswa yang mengalami hambatan dalam penguasaan kemampuan menulis. Kenyataan ini dapat dilihat dari pelaksanaan pembelajaran menulis bahasa Indonesia di SMP Negeri 7 Tanjung yang berorientasi pada teori dan pengetahuan, sehingga keterampilan berbahasa khususnya menulis kurang mendapat perhatian.
    Kemampuan menulis bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan melalui uraian atau penjelasan semata. Siswa tidak akan memperoleh keterampilan menulis hanya dengan duduk, menyimak keterangan guru dan mencatat apa yang didengar. Pembelajaran menulis dapat berhasil jika dilakukan dengan melatih kemampuan siswa untuk membuat sebuah tulisan dengan mengamati objek secara langsung. Dengan demikian, kemampuan siswa dalam menulis lebih banyak diperoleh dari pengalaman yang berulang-ulang melalui latihan. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini masih banyak terjadi pembelajaran satu arah, artinya gurulah yang aktif berceramah, sedangkan siswa hanya berperan sebagai pendengar. Metode pembelajaran seperti ini yang membuat kondisi siswa menjadi pasif. Mereka tidak melakukan kegiatan sehingga membuat pikiran mereka tidak bekerja karena tidak ada stimulus yang dapat memberikan gambaran tentang materi yang sedang disampaikan, terutama materi yang berhubungan dengan menulis teks drama.
    Kemampuan menulis teks drama merupakan kemampuan yang penyajiannya logis dan objektif sesuai dengan benda, situasi keadaan yang diamati. Oleh karena itu, pengamatan secara langsung pada objek yang dijadikan sebagai bahan tulisan merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam menyusun sebuah teks drama.
    Dari hasil pengamatan ternyata banyak siswa yang mengeluh jika kegiatan belajar sampai pada pokok pembelajaran menulis, apalagi yang berhubungan dengan kegiatan menulis teks drama. Dalam proses belajar mengajar strategi yang digunakan oleh guru adalah ceramah. Hal ini yang menyebabkan siswa kurang tertarik dengan pembelajarn tersebut karena guru tidak memberikan contoh teks drama. Dengan memberikan contoh teks drama kepada siswa diharapkan siswa dapat memiliki gambaran tentang teks drama sehingga mampu merangsang siswa untuk menulis sebuah teks drama yang sesuai.
    Kompetensi dasar menulis teks drama juga telah diajarkan tetapi masih mengalami beragam hambatan. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh dari guru bidang studi bahasa indonesia yang menyatakan bahwa siswa belum mampu menulis drama secara produktif, siswa mau menulis teks drama jika mendapat tugas dari guru, dimana tema drama yang hendak dibuat sudah ditentukan oleh guru. Dalam rangka mencapai kompetensi dasar menulis teks drama yang memuaskan, maka penulis menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pendekatan kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan dalam proses belajar mengajar agar kelas lebih hidup dan lebih bermakna karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam tatanan kehidupan baik di sekolah maupun di luar sekolah.
    Di dalam pendekatan kontekstual terdapat beberapa komponen salah satunya adalah komponen pemodelan. Maksudnya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya mampu melakukan. Pemodelan dapat berupa demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar (Nurhadi 2003: 5).
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan dapat mengatasi rendahnya kemampuan menulis teks drama siswa SMPN 7 Tanjung. Dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran menulis teks drama karena dalam pembelajaran tersebut siswa akan diperlihatkan sebuah model teks drama. Keuntungan memperlihatkan model teks drama dalam pembelajaran menulis adalah siswa dapat melihat bentuk teks drama secara langsung sehingga dapat memberikan gambaran kepada siswa tentang teks drama. Sebab penjelasan mengenai drama saja tidak cukup, jadi selain penjelasan guru juga bisa memberikan contoh konkret sebuah teks drama karena di dalam sebuah contoh teks drama tersebut ada tulisan yang menggambarkan tentang situasi atau keadaan.
    Dari model teks drama itulah akhirnya siswa dapat menemukan dan mengembangkan gagasan yang akan mereka tuangkan menjadi sebuah teks drama. Sehingga dapat menimbulkan perubahan terhadap perilaku siswa menjadi lebih aktif dan termotivasi serta antusias dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama. Selain itu, perilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis teks drama belum menunjukkan adanya perubahan perilaku yang positif. Siswa kelihatan kurang berminat dan kurang senang dengan pembelajaran tersebut. Hal ini dikarenakan tidak ada motivasi yang dapat menstimulus siswa untuk menciptakan teks drama yang lebih baik dan siswa belum mengenal bentuk teks drama secara konkret. Dengan menggunakan teks drama sebagai model dalam pembelajaran menulis teks drama diharapkan dapat membawa perubahan yang positif terhadap perilaku siswa. Siswa menjadi lebih berminat dan termotivasi untuk menciptakan teks drama yang lebih baik. Siswa pun merasa senang untuk mengikuti pembelajaran menulis teks drama karena siswa memiliki gambaran mengenai teks drama dan hal-hal yang berkaitan dengan teks drama melalui model tersebut. Dengan demikian siswa menjadi lebih aktif dan pembelajaran pun dapat berjalan dengan lancar. Dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan pembelajaran menulis teks drama selain dapat meningkatkan kemampuan menulis teks drama, siswa juga dapat mengalami perubahan perilaku menjadi lebih aktif dan termotivasi. Karena dalam proses pembelajarannya, siswa akan diperlihatkan contoh teks drama sebagai model yang dapat menstimulus siswa sehingga siswa dapat mengenal bentuk teks drama dan mempunyai gambaran tentang teks drama, sehingga siswa dapat menulis teks drama sesuai dengan unsur-unsur drama dengan mudah. Siswa menjadi lebih perhatian dan proses pembelajaran pun dapat berjalan dengan lancar.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
    1. Bagaimanakah peningkatan kemampuan menulis teks drama dengan pendekatan kontekstual
    komponen pemodelan pada siswa kelas VIII SMPN 7 Tanjung?
    2. Bagaimanakah perubahan perilaku siswa dalam belajar menulis teks drama pada siswa kelas
    VIII SMP Negeri 7 Tanjung setelah mengikuti pembelajaran menulis teks drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    3. Bagaimana melaksanakan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) menulis teks drama
    sehingga dapat menunjang peningkatan kemampuan menulis teks drama dengan komponen
    pemodelan di kelas VIII SMP Negeri 7 Tanjung?
    4. Bagaimana bentuk hasil yang telah dicapai siswa di kelas VIII SMP Negeri 7 Tanjung dalam
    peningkatan kemampuan menulis teks drama dengan komponen pemodelan?

    1.3 Tujuan Penelitian
    Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:
    1. Mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis teks drama pada siswa kelas VIII
    SMPN 7 Tanjung dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    2. Mendeskripsikan perubahan perilaku siswa SMP Negeri 7 Tanjung dalam belajar menulis
    teks drama pada siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Tanjung setelah mengikuti pembelajaran
    menulis teks drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    3. Mendeskripsikan pelaksanaaan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) menulis teks
    drama sehingga dapat menunjang peningkatan kemampuan menulis teks drama dengan
    komponen pemodelan di kelas VIII SMP Negeri 7 Tanjung?
    4. Mendeskripsikan bentuk hasil yang telah dicapai siswa di kelas VIII SMP Negeri 7 Tanjung
    dalam peningkatan kemampuan menulis teks drama dengan komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Adapun manfaat yang dapat diambil dari penulisan penelitian tindakan kelas ini adalah:
    1. Menambah pengetahuan dan wawasan peneliti dalam pengajaran kemampuan menulis teks
    drama siswa SMPN 7 Tanjung dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    2. Memberikan informasi kepada guru-guru di Sekolah tentang pentingnya meningkatkan
    kemampuan menulis teks drama siswa SMPN 7 Tanjung dengan pendekatan kontekstual
    komponen pemodelan.sekaligus sebagai salah satu panduan dalam menjalankan tugas
    mengajar yang menyangkut dengan upaya membimbing siswa terampil dalam menulis teks
    drama.
    3. Lebih meningkatkan kemampuan menulis teks drama siswa SMPN 7 Tanjung dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    4. Secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi guru dan siswa karena dengan menggunakan
    teknik pemodelan dapat membantu siswa untuk berpikir secara cepat sehingga memudahkan
    guru dalam mengarahkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan tujuan
    yang ingin dicapai.

    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA

    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, terutama pada siswa SMP kelas VII. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis dengan metode atau pendekatan yang tepat.
    Penelitian ini, bertujuan untuk membuktikan bahwa dengan pemodelan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis, baik menulis bahasa maupun menulis sastra. Naskah drama adalah karangan yang berisi cerita atau lakon atau karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog/percakapan yang temanya diambil dari konflik kehidupan manusia. Dalam naskah drama termuat nama-nama tokoh cerita, diucapkan para tokoh, dan keadaan panggung yang diperlukan. Bahkan kadang-kadang juga dilengkapi penjelasan tentang tata busana, tata lampu, dan tata suara (musik pengiring).
    Dasar naskah drama adalah konflik manusia yang digali dari kehidupan. Oleh karena itu, dalam pengajaran drama seorang guru perlu memberi kebebasan kepada siswanya untuk menggambarkan kehidupan secara kreatif dalam sebuah tulisan yang berbentuk naskah drama.
    Harymawan (1993:2) menyebutkan bahwa drama merupakan cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton (audience). Meskipun drama ditulis dengan tujuan untuk dipentaskan, tidak berarti bahwa semua karya drama yang ditulis oleh pengarang harus dipentaskan (Hasanuddin WS.).
    Dalam arti luas, drama adalah seni pertunjukan yang menyajikan alur cerita. Berkaitan dengan naskah drama, dikenal pula istilah-istilah babak, adegan, dialog, prolog, dan epilog. Babak merupakan suatu awal cerita baru, sedangkan adegan adalah penghadiran tokoh baru pada suatu pertunjukan. Epilog yaitu bagian penutup dalam karya sastra yang menyampaikan intisari cerita (B. Rahmanto 1998: 7.8).
    Naskah drama bentuk dan susunannya berbeda dengan naskah cerita pendek atau novel. Naskah cerita pendek atau novel berisi cerita lengkap dan langsung tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sebaliknya, naskah drama tidak mengisahkan cerita secara langsung. Penuturan ceritanya diganti dengan dialog para tokoh. Jadi, naskah drama itu mengutamakan ucapan-ucapan atau pembicaraan para tokoh.
    Drama naskah disebut juga sastra lakon. Sebagai salah satu genre sastra, drama naskah dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin (semantik, makna). Sedangkan naskah drama yaitu karangan yang berisi cerita atau lakon.
    Waluyo (2001:8) untuk memahami naskah secara lengkap dan terinci, maka struktur drama akan dijelaskan di sini. Unsur-unsur struktur itu saling menjalin membentuk kesatuan dan saling terikat satu dengan yang lain. Ada yang menyebut plot sebagai unsur utama, tetapi ada yang menyebut perwatakan sebagai unsur pembangun struktur yang utama. Memang kedua unsur tersebut jalin menjalin. Kekuatan plot terletak dalam kekuatan penggambaran watak, sebaliknya kekuatan watak pelaku hanya hidup dalam plot yang meyakinkan. Adapun unsur-unsur drama yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut.
    1. Plot atau Alur
    Plot atau alur adalah peristiwa yang sambung menyambung dalam sebuah cerita berdasarkan logika sebab akibat.

    2. Penokohan atau Perwatakan
    Penokohan atau perwatakan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahir maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidup, sikap, keyakinan, adat istiadat, dan sebagainya. Watak para tokoh harus konsisten dari awal sampai akhir.

    3. Dialog (Percakapan)
    Dialog adalah percakapan antar tokoh di dalam sebuah drama. Salah satu ciri khas suatu drama adalah naskah berbentuk percakapan atau dialog. Dalam menyusun dialog ini pengarang harus benar-benar memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari-hari

    4. Setting (Tempat Kejadian)
    Setting (tempat kejadian) Waluyo (2001:23) menyatakan bahwa setting atau tempat kejadian cerita sering pula disebut latar seting. Penentuan ini harus secara cermat sebab drama naskah juga harus memberikan kemungkinan dipentaskan.

    5. Tema dan Amanat
    Tema adalah gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Sedangkan tema dalam drama merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema berhubungan dengan premis drama tersebut yang berhubungan pula dengan nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandang yang dikemukakan oleh pengarangnya. Dalam drama juga terdapat amanat atau pesan pengarang. Amanat dalam lakon drama biasanya disampaikan secara tidak langsung. Untuk mencari amanat yang tersimpan dalam drama akan lebih mudah dimengerti apabila drama dipentaskan.
    Menulis kreatif naskah drama adalah penciptaan karya sastra berbentuk dialog yang didasarkan pada konflik kehidupan manusia yang mempunyai nilai kehidupan, yakni nilai-nilai yang bermakna kehidupan, yang mengarahkan dan meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia (Roekhan 1991:5).
    Sumber penciptaan karya sastra tidak lain adalah kehidupan kita dalam keseluruhannya. Karya kreatif bisa saja merupakan penemuan kembali kekuatan dan kelemahan kita di masa lalu, keberhasilan kita di masa sekarang, atau juga kegagalan kita dalam menyongsong kehidupan di masa depan. Oleh karena itu nilai-nilai yang bermakna dalam kehidupan, yang mengarahkan dan meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia, hal itu bukan suatu kemustahilan tetapi bisa saja diwujudkan.
    Ada beberapa pendapat tentang pengertian menulis. Menurut Tarigan (1986:21), menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut jika mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Wiyanto (2004:1) juga berpendapat bahwa kata menulis mempunyai dua arti. Pertama, menulis berarti mengubah bunyi dapat didengar menjadi tanda-tanda yang dapat dilihat. Kedua, kata menulis mempunyai arti kegiatan mengungkapkan gagasan tertulis. Orang yang melakukan kegiatan ini dinamakan penulis dan hasil kegiatannya disebut dengan tulisan. Tulisan adalah rekaman peristiwa, pengalaman, pengetahuan, ilmu, serta pemikiran manusia. Tulisan dapat menembus ruang dan waktu. Artinya, tulisan dapat dibaca oleh orang yang berada di berbagai tempat pada waktu sekarang dan yang akan datang. Dengan adanya itu, manusia lain yang tinggal di tempat yang jauh dapat menangkap dan memahami pengetahuan dan pemikiran tersebut.
    Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur (Tarigan 1986:4). Proses penguasaan keterampilan menulis sama saja dengan keterampilan berbicara. Hanya bedanya berbicara perlu mendengarkan terlebih dahulu, sedangkan menulis perlu membaca. Makin sering membaca dan makin sering menirukan yang dibaca itu, keterampilan menulis akan segera dikuasai. Jadi, keterampilan menulis itu kita peroleh dari banyak membaca.
    Menulis sangat penting dan berguna untuk dibelajarkan kepada siswa. Tujuannya agar siswa terampil dalam menulis. Keterampilan atau kemampuan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis (Depdiknas 2003:6).
    Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan, hakikat keterampilan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan yang dimiliki dengan menggunakan bahasa tulis. Keterampilan menulis sangat penting untuk dibelajarkan kepada siswa. Oleh karena itu, diperlukan adanya pembelajaran yang baik dari seorang guru agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
    Pembelajaran ini lebih mengutamakan pada kaidah penulisan naskah drama yang benar meskipun wujud penulisan ( produk ) juga dinilai. Pengutamaan pada kaidah menulis ini hadir sebagai antisipasi karena sebagian besar dari siswa masih merasa kesulitan dalam menulis naskah drama yang sesuai dengan kaidah penulisan naskah drama. Untuk mengatasi masalah tersebut penulis mencoba menghadirkan bentuk pembelajaran menulis yang lebih memfokuskan pada kaidah penulisan naskah drama, yakni pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Bahasa merupakan alat komunikasi yang unik. Manusia dapat berinteraksi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa, baik bahasa tulis maupun lisan. Dalam kegiatan pembelajaran bahasa terdapat empat keteramilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Empat keterampilan berbahasa keterampilan berbahasa tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Keterampilan menulis sebagai satu dari emat keterampilan berbahasa selain menyimak, membaca dan berbicara. Dalam keterampilan menulis akan dibahas tentang pengertian dan manfaat menulis. Keterampilan menulis sangat penting dimiliki siswa, karena dengan menulis seseorang dapat mengungkapkan gagasanya dalam mencapai tujuan tertentu.
    Langkah penting yang harus dilakukan sebelum menulis naskah drama adalah; ( 1 ) Menentukan tema cerita, ( 2 ) Membuat sinopsis atau ringkasan cerita, ( 3 ) menentukan kerangka cerita, ( 4 ) Menentukan konflik cerita, ( 5 ) menentukan tokoh cerita dan perwatakannya, dan ( 6 ) Menyusun naskah drama.
    Pembelajaran menulis naskah drama sebagai penunjang pemahaman bahasa berarti untuk melatih keterampilan menulis (teks drama sederhana, resensi drama, resensi pementasan).
    Waluyo (2001:159) menyatakan bahwa latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis teks drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Tugas menulis dapat berupa tugas individu ataupun kelompok. Hasilnya dapat dilaporkan kepada guru secara tertulis, dapat juga dibaca di depan kelas.
    Penulisan naskah drama sendiri oleh siswa sangat penting untuk memperdalam pengertian pengertian mereka tentang drama. Membaca, menilai, mendiskusikan lakon akan memberikan bantuan kepada siswa untuk menulis drama sendiri. Aktivitas ini akan memberikan gagasan-gagasan yang murni dari siswa untuk menghasilkan naskah drama yang baru. Biasanya siswa sulit untuk menemukan konflik dan plot yang menarik. Untuk keadaan yang demikian, maka guru dapat membantunya. Demikian juga, jika menghadaoi ketiadaan bahan cerita. Berpaling dari cerita-cerita klasik daerah setempat, akan menolong siswa. Apabila struktur lakon telah ditemukin, sebenarnya tugas siswa hanya mengisi dialog pada struktur yang sudah ada. Gagasan siswa biasanya masih segar dan murni, banyak dialog-dialog spontan yang dapat mereka susun dan sering kali sangat menarik.
    Untuk dapat menulis naskah drama, seseorang harus mengetahui pengertian drama dan unsur-unsur pembangun teks drama terlebih dahulu. Adapun pengertian drama dan unsur-unsur pembangun drama diuraikan sebagai berikut.
    Pendekatan kontekstual (Contexstual Teaching and Leraning/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, diharapkan pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Oleh karena itu, strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil (Depdiknas 2002:4).
    Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring).
    Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic). Adapaun tujuh komponen tersebut sebagai berikut:
    Pendekatan kontekstual komponen pemodelan adalah sebuah pengajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu dengan adanya model yang ditiru. Proses belajar mengajar yang menekankan pembentukan keterampilan untuk memperoleh pengetahuan. Pemodelan ini pada dasarnya membahas tentang gagasan yang dipikirkan dan mendemonstrasikannya.
    Pengembangan pendekatan kontekstual komponen pemodelan ini memerlukan keterampilan guru atau model dalam membuat perencanaan pengajaran yang diawali dengan membuat persiapan, memilih bahan, menentukan metode, dan teknik penyajian, serta menentukan alat evaluasi yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam pembelarajan.
    Dalam pendekatan kontekstual guru berperan sebagai fasilitator, diamisator, organisator sehingga dapat tercipta iklim belajar yang hidup. Sedangkan siswa berperan aktif serta kreatif. Dari pembelajaran ini siswa dapat mengambil manfaat tertentu dalam belajar sastra. Siswa tidak hanya tidak sekadar membaca, menikmati estetika fiksi, menghayati melalui emosi melainkan mengekspresikan gagasanya melalui menulis naskah drama yang sesuai dengan kaidah penulisan yang benar.
    Melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang berlangsung dikelas peneliti menyajikan cara menulis naskah drama satu babak yang sesuai dengan kaidah penulisan naskah drama dengan langkah-langkah tertentu yang harus dilalui siswa selama penulisan, kesulitan-kesulitan lain yang dihadapi siswa yakni siswa masih kebingungan dalam menentukan tema dan unsur-unsur pembangun sebuah drama yang sesuai dengan kaidah penulsan naskah drama. Dalam hal ini, untuk memudahkan siswa peneliti mencoba menggunakan model-model naskah drama satu babak yang sesuai sebagai sumber atau basis penulisan, karena dengan model secara otomatis siswa akan lebih mudah menentukan tema dan unsur-unsur pembangun drama lainya sebelum kegiatan penulisan naskah drama dilakukan.
    Salah satu dari komponen pembelajaran kontekstual adalah pemodelan (modelling). Komponen pemodelan pada pembelajaran yaitu dalam sebuah pembelajaran keterampilan berbahasa atau keterampilan tertentu ada model yang ditiru. Model ini dapat berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan sesuatu. Dengan demikian, guru memberi model tentang bagaimana belajar (Depdiknas 2002:16).
    Pemodelan pada dasarnya bertujuan untuk membahasakan gagasan yang kita pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar seperti yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan keinginannya (Nurhadi dkk. 2002:49)
    Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa dapat ditunjuk untuk memberi contoh pada temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes bahasa inggris atau yang lainnya, siswa dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa contoh tersebut dapat dikatakan sebagai model. Model juga dapat didatangkan dari luar, seorang penutur asli bahasa inggris misalnya. Sesekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi model cara berujar, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika bicara, dan sebagainya (Nurhadi dkk. 2004:45).
    Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa komponen pemodelan dalam pendekatan kontekstual adalah memberi model atau contoh dalam proses pembelajaran sehingga dari model tersebut siswa lebih mudah memahami materi yang sedang dipelajari. Model dalam pembelajaran dapat berupa cara melakukan sesuatu, menunjukkan contoh sesuatu, tulisan misalnya dan lain sebagainya yang dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran. Guru bukan satu-satunya model dalam pendekatan kontekstual. Akan tetapi siswa juga dapat menjadi model dalam pembelajaran atau mendatangkan sumber dari luar yang benar-benar dapat dijadikan model dalam pembelajaran.

    BAB III
    METODE PENELITIAN

    3.1 Subjek Penelitian

    Subjek penelitian ini adalah kemampuan menulis teks drama siswa kelas VIII SMPN 7 Tanjung
    Alasan dipilihnya kelas VIII dalam penelitian ini karena:
    (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang. Terutama keterampilan memulis naskah drama, (2). Kemampuan menulis teks drama siswa kelas VIII E yang hasilnya belum memuaskan karena sebagian dari siswa belum memahami dan mengenal bentuk teks drama, (3). Sesuai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi Bahasa Indonesia siswa kelas VIII harus mempunyai kemampuan keterampilan menulis, terutama menulis naskah drama, (4). Keadaan kelas sering pasif, sebab strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru masih berjalan satu arah, (5) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi, (6) Selain itu, SMP Negeri 3 Ungaran dijadikan sebagai tempat untuk mengadakan penelitian sebab peneliti telah melaksanakan PPL I di sekolah ini dan untuk mempermudah dalam proses pengambilan data.

    3.2 Desain Penelitian

    Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, artinya bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan menggunakan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional.
    PTK dilakukan dalam bentuk proses pengkajian berdaur yang terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refeleksi. Setelah dilakukan refleksi yang meliputi analaisis dan penilaian terhadap proses tindakan, biasanya muncul permasalahan atau pemikiran baru yang perlu mendapat perhatian sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang, serta dilakukan refleksi ulang.
    Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Siklus I bertujuan mengetahui keterampilan menulis naskah drama siswa dalam tindakan awal penelitian. Siklus ini sekaligus dipakai sebagai refleksi untuk melakukan siklus II, sedangkan siklus II bertujuan mengetahui peningkatan perbaikkan-perbaikkan terhadap pelaksanann proses belajar mengajar yang didasarkan pada refleksi siklus I.

    3.3 Variabel Penelitian
    Variabel penelitian ini ada dua macam, yaitu variabel kemampuan menulis teks drama dan variabel menggunakan media teks drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Variabel pertama kemampuan menulis teks drama. Kemampuan menulis teks drama adalah suatu proses kegiatanan megungkapkan suatu ide, gagasan, dan pengalaman hidup dengan menggambarkan situasi kehidupan yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang berupa dialog dan memiliki beberapa aspek antara lain: tema, perwatakan, alur, dan bahasa.
    Variabel kedua adalah penggunaan media teks drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pemodelan adalah teknik menyampaikan pembelajaran melalui contoh-contoh teks drama. Di dalam proses pembelajarannya menggunakan model berupa teks drama. Di sini siswa diperlihatkan contoh teks drama sehingga siswa dapat melihat secara langsung bentuk teks drama. Setelah itu siswa diminta untuk berlatih membuat teks drama.

    3.4 Pendekatan kontekstual komponen pemodelan

    Melalui pendekatan ini, tujuan pengajaran yang mengambil bentuk suatu bagian kecakapan hidup tertentu, misalnya seorang siswa diberi contoh atau model naskah drama satu babak yang sudah ada, dari model tersebut maka siswa akan lebih cepat memahami seperti apa naskah drama yang benar, yang sesuai dengan kaidah penulisan naskah drama. Berawal dari contoh atau model, maka siswa akan lebih mudah dalam mengembangkan atau menuangkan pikiran dan perasaannya melalui menulis naskah drama.

    3.5 Teknik Pengumpulan Data
    3.5.1 Teknik Tes
    Data tes dalam penelitian ini diperoleh dari menulis kreatif naskah drama siswa yang dibuat pada setiap siklus. Hasil tes pada siklus pertama dianalisis. Dari analis tersebut, maka dapat diketahui kelemahan-kelemahan yang diberikan pembekalan untuk menghadapi tes pada siklus ke II.
    3.5.2 Teknik Nontes
    Teknik pengumpulan data nontes dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi.
    3.5.2.1 Teknik Observasi
    Teknik observasi dilakukan oleh peneliti pada saat pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan khusus mengenai perilaku siswa pada saat kegiatan menulis naskah drama berlangsung. Observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang perilaku siswa selama pembelajaran pada siklus I dan II.
    3.5.2.2 Teknik Jurnal
    Teknik jurnal ini ada dua, yaitu jurnal siswa dan jurnal guru. Untuk jurnal guru berisi catatan-catatan mengenai perilaku siswa, respon siswa, keaktifan siswa ketika pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual pemodelan. Untuk jurnal siswa, siswa diminta memberikan kesan terhadap pembelajaran menulis, tanggapan terhadap cara guru atau peneliti mengajar, dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual pemodelan. Hal ini sangat diperlukan peneliti untuk mengevaluasi dan merefleksi. Jurnal dilakukan pada saat pembelajaran berakhir baik siklus I maupun siklus II.
    3.5.2.3 Teknik Dokumentasi
    Teknik dokumentasi pada penelitian ini berfungsi untuk memperoleh data nontes yang berupa gambar foto yang diambil peneliti dan dibantu teman sejawat pada proses pembelajaran seklus I dan siklus II sedang berlangsung. Yang didokumentasikan dalam penelitian ini yaitu pada saat guru menyampaikan materi, Kegiatan siswa pada saat guru memberikan model atau contoh naskah drama, Pada saat siswa melakukan proses pendekatan kontekstual pemodelan.
    Ketika siswa menulis naskah drama dengan melakukan proses pendekatan kontekstual pemodelan, dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Hal ini merupakan bukti bahwa penelitian keterampilam menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan itu telah benar-benar dilakukan peneliti.
    3.2.5.4 Teknik Wawancara
    Teknik wawancara digunakan untuk memperoleh data secara langsung tentang berbagai hal yang berkaitan dengan keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual pemodelan. Data yang diambil mengenai pendapat, kesan, dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama. Wawancara dilakukan di luar pelajaran terhadap siswa yang mendapat nilai yang baik dan nilai yang tidak baik. Peneliti sudah menyiapkan lembar wawancara sebelumnya. Hasil wawancara ini dapat digunakan untuk melakukan perbaikan pada pembelajaran siklus berikutnya.
    3.6 Teknik Analisis Data
    Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.

    3.6.1 Teknik Kuantitatif
    Teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif dengan tujuan mengetahui menulis naskah drama satu babak pada siswa setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Analisis tersebut dilakukan dengan langkah-langkah; merekap skor yang diperoleh siswa, menghitung skor komulatif dari seluruh aspek, menghitung skor rata-rata kelas, dan menghitung persentase.

    DAFTAR RUJUKAN
    Bilal. 1984, Mari Bermain Drama, Jakarta : ROSDA JAYAPUTRA.
    Puji, Farida. Mengenal Drama Teknik Menulis Naskah Drama, Klaten : INTAN PARIWARA.
    Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, Supardi. 2005. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Bumi Aksara.
    Azwar, Saifuddin. Metode Penelitan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
    Depdiknas. 2009, Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan SMPN 7 Tanjung Kelas VIII. Tabalong : Depdiknas.
    http://ipotes,wordpress.com. Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL).
    E‐mail : pmil‐unud@indo.net.id. Petunjuk Penulisan Naskah.

    http://www.ums.ac.id./qac/ ). Format Proposal CAR.

    Daryanto. 1998. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya : Apollo.

  23. Rahmadani
    20/05/2010 pukul 10:41 am

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBUAT NASKAH CERITA MENJADI DRAMA UNTUK SISWA KELAS XI SMAN 2 TANJUNG

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.

    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.

    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek.

    dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan yang ada, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra.

    memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh.

    komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

  24. Rahmadani
    20/05/2010 pukul 10:54 am

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBUAT NASKAH CERITA MENJADI DRAMA UNTUK SISWA KELAS XI SMAN 2 TANJUNG

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah
    Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama dan kamampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Kurikulum ini digunakan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya (Depdiknas 2004:1).
    Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkmunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa harus diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk menghaluskan budi, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kepedulian soaial, menumbuhkan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis.
    Keterampilan menulis teks drama merupakan keterampilan yang fungsional sifatnya bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajaran menulis drama harus ditingkatkan. Untuk menulis atau membaca sebuah karya sastra naskah drama satu babak yang benar atau sesuai dengan kaidahnya memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini tentu mempengaruhi nilai yang dicapai siswa. Oleh karena itu, guru-guru dituntut berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Dalam rangka meningkatkan mutu siswa dalam keterampilan berbahasa dan bersastra khususnya keterampilan menulis sastra, maka strategi pembalajaran di Indonesia harus ditingkatkan. Salah satu langkah yang ditempuh untuk meningkatkan strategi pembelajaran tersebut, para ahli dibidang pendidikan selalu mengadakan pembaharuan dan perubahan kurikulum.
    Dengan melihat pentingnya pengajaran keterampilan menulis drama bagi pengembangan diri untuk kehidupan bermasyarakat, maka guru perlu mengembangkan diri dan menambahkan variasi pembelajaran. Pembelajaran tersebut mengarahkan siswa pada keterampilan menulis naskah drama. Melalui hal itu, siswa diharapkan dapat menemukan hal-hal baru dan menuliskannya kembali atau mengembangkannya melalui tulisan yang berupa naskah drama.
    Masalah yang dihadapi sekarang adalah menentukan strategi pengajaran menulis sastra khususnya drama, dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Sementara banyak siswa yang beranggapan sastra.
    merupakan pelajaran yang sulit sehingga siswa kurang termotivasi untuk mempelajarinya . Selain itu melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan diharapkan siswa akan bertambah wawasan sehingga akan terbentuk sikap mental yang positif dalam diri siswa untuk menghadapi norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbagai bentuk, ciri-ciri dan jenis drama diharapkan dapat menciptakan rasa bangga terhadap sastra Indonesia sebagai salah satu budaya bangsa.
    Selama itu, kemempuan menulis kreatif menulis naskah drama dilakukan siswa pada umumnya hanya berfungasi sebagai hiburan saja. Dengan kata lain manfaat dan kenikmatan drama menjadi berkurang. Bahkan sering terjadi siswa tidak mendapat apa-apa dari drama yang dilihatnya.
    Dalam mengajarkan drama, guru sering mendapat kesulitan dalam mengajarkan drama di kelas adalah dalam hal memperoleh naskah-naskah pendek dengan lama pentas (durasi) 30 menit. Kebanyakan teks drama dari para dramawan berdurasi minimal 90 menit. Ada yang durasinya 360 menit. Drama-drama yang ditulis para dramawan cocok untuk pentas sekolah (bukan kelas). Untuk pementasan kelas murid-murid perlu menyusun teks sendiri. Dapat pula guru yang menyusun kemudian didiskusikan untuk diperbaiki bersama disesuaikan dengan kondisi dan situasi kelas atau sekolah. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam membina drama di sekolah antara lain, misalnya kurang pelatih atau sutradara yang dedikatif, kurang naskah drama yang cukup pendek dan temanya relevan dengan aturan sekolah, kurang fasilitas pentas, kekurangan peserta yang dedikatif dalam berlatih, kurang biaya latihan dan biaya pementasan, kekurangan perhatian dan bantuan pimpinan sekolah demi kepentingan pementasan dan perkembangan drama di sekolah, dan kurangnya petugas teknis dan artistik Kesulitan-kesulitan tersebut kemungkinan disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang atau pemilihan metode yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu mengambil langkah atau strategi dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih tepat.
    Berdasarkan kenyataan yang ada, guru pada umumnya hanya menerangkan hal-hal yang berkaitan yang berhubungan dengan teori menulis naskah drama, tentang menulis naskah drama yang tepat, dan tentang pengertian drama. Siswa tidak cukup hanya diberi penjelasan saja tentang menulis naskah drama. Akan tetapi siswa sebenarnya tidak memperoleh pengetahuan tentang menulis naskah drama dari berbagai sumber. Meskipun, siswa belum tentu mampu menulis naskah drama dengan tepat. Dengan demikian, pelatihan pembelajaran menulis naskah drama perlu ditingkatkan.
    Selama ini peneliti mengajarkan menulis naskah drama untuk mengetahui seberapa besar kemempuan menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Dengan pendekatan ini guru memerangakan secara lisan dan siswa mendengarkan dan mencatat dalam waktu yang relative pendek atau terbatas, karena alokasi waktu pengajaran sastra memang sedikit. Sementara itu, siswa diharapkan dapat menyelesaikn materi yang disampaikan oleh guru dalam waktu yang singkat.
    Untuk memudahkan siswa dalam memahami drama, guru hendaknya mampu memperkenalkan drama dengan teknik atau pendekatan yang sesuai kepada siswa, kemudian membimbing apresiasi drama, membuat mereka menyenangi, menggemari, dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan mereka. Untuk dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
    Dalam hal ini, latihan menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis naskah drama (sederhana), menulis sinopsis drama, menulis saduran drama, dan menulis resensi (teks drama ataupun pementasan drama). Untuk itu, sebagai motivator dan fasilitator guru harus berusaha menarik minat siswa agar lebih tertarik dan lebih bersemangat dalam pembelajaran menulis naskah drama. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan maka, perlu dipikirkan dengan matang metode, teknik maupun pendekatan yang sesuai, yang mampu membawa siswa lebih aktif dan produktif. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) komponen pemodelan merupakan sebuah pendekatan yang dapat dijadikan sebuah alternative.
    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan meteri yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektivitas yakni, konstrukivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan memahami, bukan sekadar transfer pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembalajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
    Alasan peneliti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam menulis naskah drama, guru mengharapkan dengan pendekatan pemodelan ini siswa akan lebih baik dan mudah untuk mempelajarinya. Dalam hal ini, proses belajar mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindah pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Selain itu, peneliti ingin menawarkan pembelajaran yang menekankan pada proses dan hasil, sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran menulis naskah drama.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu,
    1. Bagaimana meningkatkan kemampuan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?
    2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas setelah mengikuti pembela X1 SMA Negeri 2 Tanjung jaran menulis naskah drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan? Selain itu, Menulis naskah drama sebagai salah satu keterampilan bersastra perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dalam pembelajaran di sekolah.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Berkaitan dengan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan penelitin ini adalah sebagai berikut
    1. Mendeskripsi seberapa besar peningkatan menulis naskah drama X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa kelas
    2. Mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung
    setelah mengikuti pembelajaran menulis naskah drama dengan
    pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    1.4 Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis.
    1. Secara Teoretis
    Penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya keterampilan menulis naskah drama.
    2. Secara Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis naskah drama bagi siswanya. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna dengan pendekatan kontekstual dan peningkatan kemampuan menulis naskah drama. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan kualitas guru dan siswa di Sekolah.

    BAB II
    HIPOTESIS TINDAKAN
    2.1 Kajian Pustaka
    Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis naskah drama dengan menggunakan pemodelan sebagai teknik untuk membelajarkan menulis bahasa dan sastra masih belum banyak dilakukan. Hal ini membuat banyak peneliti mengangkat topik tentang pemodelan. Kemudian berbahasa juga merupakan keterampilan yang harus dikuasai untuk berkomunikasi dalam keterampilan menulis. Pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis misalnya dalam pembelajaran keterampilan menulis karangan, geguritan, surat, dan menulis naskah drama. Penelitian tentang pemodelan digunakan sebagai teknik dalam pembelajaran masih banyak yang harus diteliti termasuk dalam membelajarkan menulis sastra yang salah satunya adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan pemodelan.
    Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa, bahkan oleh mahasiswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain itu mereka juga menganggap menulis itu merupakan hal yang menjenuhkan dan membosankan. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru mencari dan menerapkan metode atau pendekatan dalam upaya peningkatan keterampilan menulis siswa, sehingga perlu dilakukan penelitian dibidang menulis
    2.2 Hipotesis Tidakan
    Hipotesis tindakan penelitian ini adalah setelah dilakukan pembelajaran menulis naskah drama melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebagai sumber keterampilan menulis naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung mengalami peningkatan dan perilaku siswa dalam pembelajaran menulis naskah cerita menjadi drama mengalami perubahan yang positif. Sehingga dapat memajukan pembelajaran dalam bidang sastra khususnya penulisan kreatif naskah drama.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3.1 Subjek Penelitian
    Subjek penelitian ini adalah keterampilan membuat naskah cerita menjadi drama siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung kelas sebagai subjek penelitian karena berdasarkan observasi langsung dan wawancara langsung dengan guru kelas X1, bahwa kelas X1 memiliki rata-rata nilai yang lebih rendah pada kompetensi dasar menulis naskah drama.
    Alasan dipilihnya siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung karena (1) Pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis masih kurang, (2) Para siswa lebih tertarik untuk bermain sendiri, menggambar, atau berbicara dengan teman saat proses pembelajaran menulis, (3) Pemilihan materi yang kurang menarik, (4) Teknik pembelajaran menulis yang kurang bervariasi.
    Permasalahan menulis naskah drama pada siswa kelas X1 SMA Negeri 2 Tanjung perlu diatasi dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal memilih metode pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan menulis, khususnya menulis naskah drama.
    3.2.1.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Setiap pelaksanan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran menulis.
    naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam naskah tersebut. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis sebuah sebuah naskah drama satu babak dengan kaidah penulisan naskah drama yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya tentang naskah drama yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk memerankan contoh drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.1.3 Observasi
    Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.
    Proses pengambilan data tes digunakan untuk melihat kemampuan menulis naskah drama siswa dengan menggunakan kaidah penulisan naskah.
    drama dan kesesuaian tema atau judul dengan isi naskah. Pengambilan data nontes dilaksanakan untuk melihat life skill siswa yang berkembang selama mengikuti pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan observasi secara langsung menggunakan jurnal, atau dengan wawancara. Peneliti mencatat siswa yang aktif, yang pasif, yang meremehkan, yang kurang memperhatikan, yang bercakap-cakap dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Tahap ini sangat penting dan dibutuhkan pengamatan yang teliti dan kesabar demi memberikan masukan pada perbaikan siklus selanjutnya.
    3.2.1.4 Refleksi
    Pada tahap ini peneliti akan melihat hasil dari tahap tindakan dan pengamatan pada siklus I. Dari hasil tersebut, juka masih banyak siswa yang bersikap negatif terhadap proses pembelajaran atau kekurangan seperti yang dijelaskan dalam obervasi, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan untuk tindakan pada siklus II. Hasil yang positif dalam siklus I akan dipertahankan dalam siklus II. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran pada siklus I misalnya, sikap siswa yang meremehkan kegiatan menyimak.
    Hasil evaluasi yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk melakukan refleksi adalah (1) pengungkapan hasil pengamatan peneliti, (2) pengungkapan tindakan yang telah dilakukan oleh siswa, dan (3) pengungkapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Apabila pada siklus I ditemukan kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh siswa.
    kegiatan menulis naskah drama, pada siklus II akan ditindaklanjuti dan dilakukan dengan tindakan untuk memperbaiki.
    3.2.2 Proses Tindakan Siklus II
    Proses tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Hasil refleksi I diperbaiki pada siklus II. Siklus II terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
    3.2.2.1 Perencanaan
    Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran menulis naskah drama selama ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami tentang menulis naskah drama karena metode pembelajaran dan sistem penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan . Rencana yang dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
    Penelitian yang akan dilakukan peneliti pada silkus II merupakan penyempurnaan dari perencanaan pada siklus I. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan siklus II adalah (1) menyusun perbaikan rencana pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, (2) menyusun perbaikan instrumen yang
    berupa data nontes, yaitu lembar observasi, lembar jurnal, lembar wawancara, dan dokumentasi. Dan instrumen yang berupa tes yaitu tes perbuatan dan tes tertulis beserta penilaiannya, dan (3) peneliti lebih sering berdiskusi dengan guru kelas dan teman sejawat.
    3.2.2.2 Tindakan
    Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama pada siklus II ini adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Materi pelajaran adalah menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan pendekatan konteksyual komponen pemodelan. Setiap pelaksanaan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap tindak lanjut.
    Pada pertemuan pertama, tahap persiapan dilakukan dengan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi kepada siswa mengenai tujuan serta petunjuk pembelajaran membuat naskah cerita menjadi drama dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.
    Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Guru memberi contoh bentuk naskah drama pada siswa dan menerangkan aspek-aspek yang ada dalam drama. Guru menerangkan langkah-langkah menulis naskah drama dan mengajak siswa bersama-sama untuk menulis naskah drama, kemudian guru menugasi siswa untuk berlatih menulis naskah drama satu babak dengan memilih tema atau judul yang disediakan oleh guru. Setelah naskah selesai dibuat, tiap-tiap siswa diminta untuk meminta pendapat kepada teman satu mejanya
    tentang naskah drama satu babak yang mereka buat. Setelah selesai, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan atau memerankan salah satu naskah drama yang dibuatnya di depan kelas, kemudian siswa lain memberi tanggapan dan guru memberikan penilaian. Sebagai tindak lanjut, guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menulis naskah drama satu babak dengan memilih salah satu tema atau judul yang disediakan oleh guru.
    3.2.2.3 Observasi
    Observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada siklus II adalah mengamati perubahan hasil tes dan nontes pada proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi perubahan hasil tes siswa diamati oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana perubahan nilai selama proses pembelajaran. Hasil tes yang diamati juga sama seperti pada siklus I yaitu tes perbuatan dan tes tertulis. Tes perbuatan saat siswa diminta untuk maju ke depan kelas untuk menirukan pengucapan kata-kata, jeda, intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh seperti yang telah ditulis dalam naskah drama. Sedangkan tes tertulis dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan pilihan ganda. Observasi tentang hasil tes ini dilakukan untuk mengambil data berupa hasil tes perbuatan dan tes tertulis pada saat proses pembelajaran menyimak berlangsung.
    Peneliti juga melakukan observasi nontes pada siklus II tentang perubahan tindakan dan sikap siswa pada proses pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan penting yang dapat digunakan sebagai data. Observasi dilakukan pada siswa yang kemampuan menulisnya rendah.
    menulisnya tinggi pada silkus I, yaitu pengamatan melalui observasi langsung, melalui jurnal siswa dan guru, melakukan wawancara langsung dengan siswa tersebut, dengan tujuan agar kelemahan atau hambatan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi lagi pada siklus II.
    Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan secara langsung terhadap semua tindakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus II. Pengamatan melalui jurnal mempunyai tujuan merefleksi bagi peneliti sehingga dapat digunakan untuk menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menulis naskag drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang diberikan oleh peneliti selama proses pembelajaran. Pengamatan juga dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan menulis rendah dan siswa yang kemampuan menulisnya tinggi dengan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh peneliti mengenai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama.
    3.2.2.4 Refleksi
    Refleksi pada sklus II ini dimaksudkan untuk membuat simpulan dari pelaksanaan kegiatan dan tindakan serta sikap siswa yang terjadi selama pembelajaran pada siklus II. Pada bagian ini penelti diharapkan dapat mengetahui jawaban tentang peningkatan dan perubahan perilaku siswa terhadap pembelajaran menulis naskah drama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

  25. putri eka pradina
    20/05/2010 pukul 1:06 pm

    UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMBUAT PUISI DENGAN MODEL METAFOR DAN SIMILE,SISWA SMAN 2 TANJUNG KELAS X.

    OLEH:PUTRI EKA PRADINA
    NPM :306.07.11.403

    A. Latar Belakang
    Dalam kehidupan era informasi ditandai oleh ketersediaan informasi yang bervariasi, tersebar makin luas, seketika, dan tersaji dalam berbagai bentuk dan waktu yang cepat. Semua usaha pengumpulan , pengolahan, penyimpanan, dan penyajian informasi senantiasa menggunakan media.
    Perkembangan media, telah menimbulkan dua kali dari empat kali revolusi dunia pendidikan. Revolusi pertama terjadi beberapa puluh abad yang lalu, yaitu pada saat orang tua menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada orang lain yang berprofesi sebagai guru; revolusi kedua terjadi dengan digunakannya bahasa tulisan sebagai saran utama pendidikan: revolusi ketiga timbul dengan tersedianya media cetak yang ditandai dengan diciptakannya mesin cetak dan teknik percetakan; dan revolusi keempat berlangsung dengan meluasnya penggunaan media komunikasi elektronik (Miarso, 2004)
    Media pembelajaran baik berupa buku, siaran radio, rekaman peristiwa, film, komputer, dan televisi berpotensi menumbuhkan dan mengembangkan masyarakat belajar. Olehnya itu, setiap kegiatan belajar- mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan, penggunaan media tidak mungkin diabaikan. Guru adalah suatu jabatan karier. Fungsional dan profesional, seorang anggota masyarakat yang berkompeten ( cakap, mampu, dan wewenang) dan memperoleh kepercayaan dari masyarkat dan atau pemerintah untuk melaksanakan tugas, fungsi dan peranan serta tanggung jawab guru, baik dalam lembaga pendidikan jalur sekolah maupun lembaga luar sekolah. Guru yang belum menguasai pembelajaran akan ketinggalan oleh arus perkembangan informasi dan komunikasi.
    Rekaman film Laskar Pelangi merupakan media audio –visual yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Rekaman film Laskar Pelangi berisi peristiwa menyentuh hati sanubari. Terdapat peristiwa: yaitu guru-guru yang mengangkat nilai pendidikan dan mempertahankan sekolah yang letaknya di daerah terpencil, tidak rela kalau sekolah tersebut ditutup dan berusaha menyekolahkan anak-anak yang kurang mampu, dan mengajar sesuai dengan keberadaan anak didiknya .
    Melihat karakteristik rekaman film Laskar Pelangi, maka sangat tepat digunakan sebagai media pembelajaran menulis puisi. Pembelajaran menulis puisi dengan tujuan membina kepribadian anak, akhlak mulia, membangun keterampilan mengemukakan gagasan yang menimbulkan rasa kepedulian, dan simpati. Olehnya itu, rekaman film Laskar Pelangi patut dijadikan contoh kepedulian untuk menggugah daya kreasi, imajinasi, mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, persaudaraan, solidaritas masyarakat dunia, dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
    Penelitian membuktikan bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf yang dibutuhkan dalam pembelajaran kurang melekat daya ingatan (Goelman, 1995).
    Kegiatan menulis puisi adalah salah satu bentuk kegiatan yang bersifat produktif-kreatif dan membutuhkan keterlibatan emosi. Artinya, menulis puisi dilaksanakan melalui proses kreatif. Proses ini, dapat dilakukan jika siswa tergugah secara emosional untuk menciptakan sesuatu melalui rangsangan peristiwa yang memilukan, menyedihkan dan menyentuh nilai-nilai kemanusiaan.
    Menulis puisi pada hakikatnya sama dengan mengarang biasa. Dua-duanya merupakan kegiatan mengungkapkan ide dan perasaan dengan medium bahasa. Yang membedakan dua kegiatan itu adalah caranya namun yang ditekankan dalam penulisan puisi adalah ketepatan dan kehematan. Ketepatan pemilihan kata dalam pembuatan puisi tidak hanya pada dimensi makna, tetapi juga rasa dan suasana.
    Sebagai proses kreatif, menulis puisi dapat menjadi sarana bagi perkembangannya kreatifitas siswa bila ditopang oleh struktur yang mendukungnya. Muliyana (1998) mengemukakan empat struktur yang mendukung tumbuhnya kreativitas seseorang, yaitu; (1) Pengenalan pribadi dan pengetahuan, (2) dorongan internal dan eksternal, (3) kebermaknaan belajar, dan (4) hasil yang bernilai bagi orang lain.
    Salah satu standar kompetensi pada Kelas X adalah mengungkapkan pikiran, dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi baru dengan memerhatikan bait, irama, dan rime. Kompetensi dasar ini, sangat terbatas pada penulisan puisi berdasarkan struktur fisik tanpa memperhatikan struktur batin puisi. Olehnya, yang perlu di diteliti adalah penulisan puisi dengan memperhatikan struktur fisik dan batin puisi sehingga mencakup seluruh aspek dalam puisi
    Struktur fisik meliputi: diksi, pengimajian, kata konkret, majas (meliputi lambang dan kiasan) versifikasi (meliputi rima, ritma, dan metrum) dan tipograf. Struktur batin puisi terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat.
    Berdasarkan hasil observasi di SMAN 2 Tanjung dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis puisi masih jauh dari yang diharapkan. Kondisi siswa antara lain: (1) siswa tidak memiliki ide untuk menulis dalam bentuk puisi, (2) siswa tidak tertarik terhadap penulisan puisi, (3) kemampuan yang dimiliki siswa tidak sesuai dengan kegiatan penulisan puisi yang diharapkan, (4) siswa memiliki bekal penguasaan bahasa yang kurang memadai,(5) siswa memiliki kemampuan bervariasi dalam menulis puisi, (6) siswa tidak tertarik dalam menulis puisi cenderung apatis, dan (7) banyak diantara siswa tidak mencapai nilai ketuntasan dalam pembelajaran menulis puisi.
    Kemampuan guru Bahasa Indonesia sangat bervariasi, dari empat guru hanya satu orang di antaranya yang menyatakan diri senang mengajarkan puisi. Guru lainnya lebih tertarik pada pembelajaran keterampilan berbahasa yang tidak dikaitkan dengan penciptaan karya sastra. Mereka mengajar dengan metode yang konvensional, seperti menyajikan teori tentang teknik menulis puisi, menugasi siswa menulis puisi, memeriksa, dan menilai, tidak ada upaya membelajarkan siswa tetapi guru hanya mengajarkan dan siswa dianggap sebagai objek bukan subjek belajar.
    Jika kondisi tersebut dicermati, maka pembelajaran menulis puisi perlu ditingkatkan melalui inovasi, misalnya pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan metode bervariasi, menggunakan lingkungan sekitar sebagai tempat belajar, menyediakan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif, serta penciptaan kondisi yang dapat mendukung terciptanya pembelajaran yang efektif dan menyenangkan . Hal yang paling penting adalah guru mengadakan penelitian tentang keefektifan metode, teknik, dan media tertentu dalam pembelajaran menulis puisi.
    Berdasarkan kenyataan tersebut, maka diperlukan pembelajaran menulis puisi yang dirancang untuk menggugah daya imajinasi siswa. Salah satunya adalah menggunakan rekaman film sebagai media pembelajaran dalam menulis puisi.
    Berbagai penelitian telah ditunjukkan bahwa penggunaan media efektif dalam mengoptimalkan hasil belajar.
    Media audio-visual (film Laskar Pelangi) berisi informasi lengkap yang melibatkan panca indra. Dengan judul Keefektifan Rekaman Film Laskar Pelangi dalam Pembelajaran Menulis Puisi Siswa kelas X SMAN 2 Tanjung.

    B. Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang, maka dirumuskan masalah penelitian adalah:
    1. Apakah rekaman film Laskar Pelangi efektif digunakan dalam pembelajaran menulis struktur fisik puisi siswa kelas X SMAN 2 Tanjung Tabalong?
    2. Apakah rekaman film Laskar Pelangi digunakan dalam pembelajaran menulis struktur batin puisi siswa Kelas X SMAN 2 Tanjung Tabalong?
    3. Apakah rekaman film Laskar Pelangi efektif digunakan dalam pembelajaran menulis gabungan struktur fisik dan batin puisi siswa Kelas X SMAN 2 Tanjun

    C. Tujuan Penelitian
    Tujuan penelitian ini, adalah :
    1. Mendeskripsikan keefektifan penggunaan rekaman film Laskar Pelangi dalam pembelajaran menulis struktur fisik puisi siswa Kelas X SMAN 2 Tanjung;
    2. Mendeskripsikan keefektifan penggunaan rekaman film Laskar Pelangi dalam pembelajaran menulis struktur batin puisi siswa kelas X SMAN 2 Tanjung;
    3. Mendeskripsikan keefektifan penggunaan rekaman film Laskar Pelangi dalam pembelajaran menulis gabungan struktur fisik dan batin puisi siswa Kelas X SMAN 2 Tanjung.

    D. Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini, diharapkan bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis terhadap pembelajaran menulis puisi dan pengembangan media pembelajaran pada SMA. Adapun manfaat penelitian ini, sebagai berikut:
    1. Manfaat teoretis
    Temuan dalam penelitian ini, diharapkan memberikan manfaat dalam mendukung temuan penelitian media pembelajaran dan pembelajaran menulis puisi.

    2. Manfaat praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut:
    a. Menjadi bahan informasi kepada guru bahasa Indonesia tentang model pengembangan dan penggunaan rekaman film Laskar Pelangi sebagai media pembelajaran menulis puisi pada siswa SMA:
    b. Sebagai salah satu contoh inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan rekaman film Laskar Pelangi dalam bentuk VCD untuk pembelajaran menulis puisi siswa kelas X SMA:
    c. Penelitian ini, merupakan penerapan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang masih dianggap baru bagi guru. Olehnya hasil penelitian ini sepatutnya menjadi salah satu acuan dalam penerapan KTSP.

    KAJIAN PUSTAKA
    A. Pengertian Puisi
    Puisi adalah sintesis dari pelbagai peristiwa bahasa yang tersaring semurni-murninya dalam pelbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya, serta tersusun dengan sistem korespondensi dalam salah satu bentuk (Slamet Muliana dalam Nauman, 2000). Puisi ialah jenis sastra yang bentuknya dipilih dan ditata dengan cermat sehingga mampu mempertajam kesadaran orang akan suatu pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat bunyi, irama, dan makna khusus (Sugono, 2003).
    Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Kata-kata betul-betul terpilih agar memilki kekuatan pengucapan. Walaupun singkat atau padat, namun berkekuatan . Karena itu, salah satu usaha penyair adalah memilih kata-kata yang memiliki persamaan bunyi (irama). Kata-kata itu memiliki makna yang lebih luas dan lebih banyak. Karena itu, kata-kata dicarikan konotasi atau makna tambahannya dan dibuat bergaya dengan bahasa figurative (Waluyo, 2005).
    Apakah definisi-definisi yang dikemukakan tersebut sudah dapat dipahami dengan baik dan dapat diterapkan untuk menentukan sebuah karya sastra termasuk puisi atau bukan puisi? Tentu tidak mudah untuk memberikan jawaban. Ada definisi yang sulit dipahami sekaligus sulit diterapkan. Ada pula definisi yang mudah dipahami, tetapi sulit diterapkan. Hal ini menggambarkan betapa sulitnya memberikan definisi puisi.
    Puisi dari sudut proses penciptaannya menurut Esten (1995) berbeda dengan penciptaan karya yang bukan puisi. Akibat dari proses penciptaan itu, puisi memiliki unsur-unsur tertentu, yaitu musikalitas, korespondensi, dan bahasa.
    Semakin banyak definisi yang dikemukakan, akan semakin sulit untuk menentukan karangan itu termasuk puisi atau bukan puisi. Akan tetapi, dengan semakin banyak definisi yang dikenal akan semakin banyak pengetahuan yang ditemukan. Dari banyak pendapat dan definisi itu, dapat dibuat suatu penggabungan sesuai dengan kemampuan kita.
    Definisi yang dianut penulis yaitu, puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi pilihan kata, rima, dan ritme serta struktur bati berupa perasaan, nada, tema, dan amanat yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif)

    B. Struktur Puisi
    Hal yang utama dalam uraian ini adalah mengenali puisi dilihat dari struktur-struktur yang membangun puisi tersebut tanpa mempermasalahkan definisi puisi. Meskipun beberapa definisi yang dirumuskan berdasarkan struktur-struktur puisi tersebut.
    Puisi dibangun oleh dua struktur penting yaitu bentuk dan isi Jabrohim, dkk (2003). Lebih lanjut dinyatakan bahwa istilah bentuk dan puisi oleh para ahli dinamai berbeda-beda, diantaranya struktur tematik atau struktur semantik dan struktur sintaktik puisi menurut Dick Hartoko, sedangkan tema dan struktur menurut M.S. Hutagalung, bentuk fisik dan bentuk batin oleh Marjorie Boulton, dan hakikat dan metode oleh I.A.Richards.
    Berdasarkan uraian di atas, maka tampaknya setiap pakar menyadari bahwa puisi dibangun dari dua struktur meskipun dengan istilah yang berbeda-beda. Untuk lebih terarahnya pembahasan selanjutnya, peneliti merumuskan bahwa puisi terdiri atas dua struktur pokok, yaitu struktur fisik dan struktur batin.

    1. Struktur fisik puisi
    Struktur fisik meliputi: diksi, pengimajian, kata konkrit, majas (meliputi lambang dan kiasan) versifikasi (meliputi rima, ritma, dan metrum) dan tipografi.
    Pembahasan mengenai unsur fisik puisi dapat diuraikan satu persatu pada uraian berikut.
    a. Diksi (pilihan kata)
    Penyair sangat mementingkan nilai atau makna setiap kata yang ditulis dalam puisinya. Bahasa yang digunakan memberikan efek cenderung bersifat konotatif. Dalam hal ini pemilihan diksi, selain pertimbangan makna juga komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah kata lainnya, dan kedudukan kata itu dalam keseluruhan puisi itu. Di samping itu, penyair mempertimbangkan urutan kata dan daya magis dari kata-kata tersebut.
    b. Pengimajian
    Diksi yang dipilih harus menghasilkan pengimajian yang dapat dihayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa. Pengimajian dapat dibatasi dengan kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Puisi seolah-olah mengandung gema suara, benda yang tampak, atau sesuatu yang dapat dirasakan, diraba, atau disentuh, oleh karena itu, pengimajian berhubungan erat dengan diksi dan kata konkrit.

    c. Kata konkrit
    Kata-kata: gadis kecil berkaleng kecil. Lukisan tersebut lebih konkrit jika dibanding dengan: gadis peminta-minta. Contoh lainnya, untuk melukiskan dunia pengemis yang penuh kemayaan, penayir menulis. Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan/ gembira dari kemayaan ruang. Untuk melukiskan kedudukannya, penyair menulis: bulan diatas itu tidak ada yang punya/kotaku hidupnya tidak punya tanda. Untuk mengkonkritkan gambaran jiwa yang penuh dosa digunakan: aku hilang bentuk remuk.
    Dengan demikian, kata konkrit adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Di sini penyair berusaha mengkonkritkan kata-kata, maksudnya kata-kata itu diupayakan agar dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. Dalam hubungannya dengan pengimajian, kata konkrit merupakan syarat atau sebab terjadinya pengimajian.

    d. Majas/bahasa figuratif
    Bahasa figuratif pada dasarnya adalah bentuk penyimpangan dari bahasa normatif, baik dari segi makna maupun rangkaian katanya, dan bertujuan untuk mencapai arti dan efek tertentu. Pada umumnya, menurut Tarigan, bahas figuratif dipergunakan oleh pengarang untuk menghidupkan atau lebih mengekspresikan perasaan yang diungkapkan sebab kata-kata saja belum cukup jelas untuk menerangkan lukisan tersebut.
    Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa pada umumnya bahasa figuratif dipakai untuk menghidupkan lukisan, untuk lebih mengonkritkan dan lebih mengekspresikan perasaan yang diungkapkan. Pemakaian bahas figuratif menyebabkan konsep-konsep abstrak terasa dekat pada pembaca karena dalam bahasa figurative oleh penyair diciptakan kekonkritan, kedekatan, keakraban, dan kesegaran. Di samping itu, adanya bahasa figurative memudahkan pembaca dalam menikmati sesuatu yang disampaikan oleh penyair. Pradopo mengelompokkan bahasa figurative menjadi tujuh jenis, yaitu simile, metafora, epik-simile, personifikasi, metonimi, sinekdoks, dan allegori.

    e. Versifikasi
    Versifikasi meliputi rima, ritma, dan metrum. Rima kata pungutan dari bahasa Inggris rhyme, yakni pengulangan bunyi di dalam larik puisi bahkan pada keseluruhan baris dan bait puisi. Rima adalah bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan perulangan bunyi itu, puisi menjadi merdu jika dibaca. Untuk mengulang bunyi itu, penyair juga mempertimbangkan lambang bunyi. Dengan cara ini pemilihan bunyi-bunyi mendukung perasaan dan suasana puisi.
    Rima atau irama sangat berhubungan dengan bunyi dan juga berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi yang menimbulkan suara gerak yang hidup, seperti gemercik air yang mengalir turun tidak putus-putus. Gerakan yang teratur itulah yang disebut ritma/irama.

    f. Tipografi
    Hal utama yang membedakan puisi dengan prosa adalah tipografi. Puisi berbentuk bait, larik-larik puisi tidak membangun priodisitet yang disebut paragraf. Baris puisi tidak harus bermula dari tepi kiri dan berakhir ke tepi kanan baris. Tepi kiri atau tepi kanan dari halaman yang memuat puisi belum tentu terpenuhi tulisan dan hal ini tidak berlaku bagi tulisan yang berbentuk prosa.

    2. Struktur batin puisi
    Struktur batin puisi terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat. Penjelasan masing-masing struktur ini, berikut ini.
    a. Tema
    Tema merupakan gagasan pokok atau subject matter yang dikemukakan oleh penyair. Gagasan pokok itulah yang mendesak penyair menciptakan puisi. Tema bisa berhubungan dengan Tuhan, kehidupan social, keadilan , kebenaran, cinta, kasih saying, protes sosial dan sebagainya.
    b. Nada
    Penyair memiliki sikap tertentu dalam menulis puisi kepada pembaca. Penyair kadang bersikap menggurui, menasehati, mengejek, mengabari, dan menceritakan sesuatu kepada pembacanya. Sikap penyair kepada itulah yang disebut nada.
    c. Perasaan
    Dalam menciptakan puisi, suasana penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca atau penikmat terhadap sesuatu hal atau peristiwa yang dirasakan oleh penyair, maka penyair menyajikan ciptaannya dengan mengemukakan penggambaran sedemikian rupa sehingga penikmat seakan-akan digiring kepada suatu keadaan dengan perasaan tertentu pula. Perasaan seperti inilah yang disebut dengan rasa atau feeling dalam puisi.
    d. Amanat
    Amanat puisi dapat dikenali setelah memahami tema, rasa, dan nada puisi. Amanat tersirat dibalik kata-kata yang disusun dan dibalik tema yang diungkapkan oleh penyair.
    Tema berbeda dengan amanat. Tema berhubungan dengan arti karya sastra, sedangkan amanat berhubungan dengan makna karya sastra. Arti karya sastra bersifat lugas, objek dan khusus, sedangkan makna karya sastra bersifat kias, subjektif, dan umum. Makna berhubungan dengan perorangan, konsep seseorang dan situasi tempat penyair mengimajinasikan karyanya. Rumusan tema harus objektif dan sama untuk semua pembaca, namun amanat puisi dapat bersifat interpretative, artinya setiap orang mempunyai penafsiran makna yang berbeda dengan yang lainnya.

    C. Pembelajaran Menulis Puisi
    Pembelajaran bahasa Indonesia pada SMA dengan tujuan meningkatkan keterampilan berbahasa yang meliputi mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pembelajaran sastra tidak berdiri sendiri melainkan terintegrasi dalam keterampilan berbahasa tersebut. Hal ini berarti pembelajaran sastra merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan keterampilan berbahasa. Oleh karena itu, pembelajaran menulis dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Kegiatan pembelajaran puisi pada SMA meliputi: membaca, mendengarkan, menulis, dan membicarakan puisi.
    Dalam panduan penyusunan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) diuraikan tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
    Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip, sebagai berikut:
    1. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini, peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan;
    2. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu(1) belajar untuk bermain dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) belajar untuk memahami dan menghayati,(3) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,(4) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (5) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan;
    3. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ketuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral;
    4. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam kesinambungan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan.
    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
    1. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi;
    2. Penilaian menggunakan acuan criteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya;
    3. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik;
    4. Hasil penilaian dianalis untuk menentukan tindakan lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah criteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
    5. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses(keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.
    Pembelajaran menulis puisi memiliki banyak manfaat, antara lain:
    (1) Sebagai alat pengungkapan diri, (2) sebagai alat untuk memahami secara lebih jelas dan mendalam ide-ide yang ditulisnya, bisa berhubungan dengan dirinya, orang lain, dan bahkan dengan Tuhannya, (3) sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap lingkungan, (4) sebagai alat untuk melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan bersastra, (5) sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan menggunakan bahasa sebagai media komunikasi, dan (6) meningkatkan inisiatif penulis (Roekhan, 1989 dalam Pradopo, 1998).
    Aspek yang dinilai dalam penulisan puisi meliputi unsur struktur yang termasuk dalam struktur fisik puisi meliputi: diksi, pengimajian, kata konkrit, majas (meliputi lambing dan kiasan) versifikasi (meliputi rima, ritma, dan metrum) dan tipografi. Struktur batin puisi terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat.
    Penyampaian materi pembelajaran hendaknya diawali dengan pengamatan, para siswa diajak menikmati keindahan alam, misalnya ke pantai , ke gunung, ke tepi sungai, atau ke hutang. Siklus kegiatannya terdiri atas kegiatan mengamati, menikmati dan menghayati baik secara individu maupun bersama-sama dengan teman lainnya. Misalnya, untuk meminta siswa mengamati keindahan alam di gunung atau di apantai, selanjutnya siswa dalam kelompok kecil berdiskusi tentang rumusan puisi/prosa. Selanjutnya, setelah siswa tahu dan paham tentang penulisan puisi /Prosa, Anda dapat memintanya untuk praktik menulis puisi atau cerita pendek, yang mengangkat tema tentang kehidupan nyata yang ada di sekitarnya. Misalnya lingkungan hidup.
    Pemilihan materi pembelajaran penulisan sastra sesuai dengan butir-butir materi yang digariskan dalam kurikulum. Selain itu, materi ini seharusnya disesuaikan dengan tingkat kelas siswa serta situasi dan kondisi yang melingkupinya. Materi penulisan puisi, hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa. Semua materi penulisan sastra tersebut seyogyanya diintegrasikan ke dalam keterampilan berbahasa lainnya, yaitu menyimak, membaca, dan berbicara. Materi pembelajaran pengembangan kemampuan menulis sastra dapat juga diintegrasikan ke dalam materi kesastraan dan kebahasaan. Berikut ini adalah materi pembelajaran lain (selain materi pengembangan kemampuan menulis sastra) yang diintegrasikan ke dalam materi pembelajaran pengembangan kemampuan menulis sastra.
    Pembelajaran menulis puisi ini dirancang dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Tekniknya inkuiri, Tanya jawab konstruksionisme, pemodelan, kooperatif. Bentuk kegiatan belajar-mengajarnya yaitu kegiatan prawicara (inkuiri), menentukan tema puisi yang ditulis, memilih kata-kata, menjalin kata-kata, menjalin bait-bait ke dalam puisi yang utuh.
    Media pembelajaran yaitu sarana pembelajaran yang digunakan siswa atau guru untuk proses belajar-mengajar. Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran pengembangan penulisan puisi yaitu: Papan tulis, buku puisi, foto, proses kreatif penyair, rekaman peristiwa, lingkungan, dan sebagainya.
    Berikut penjelasan metode pembelajaran dalam penulisan puisi beserta berbagai medianya. Tahap pertama. Mengamati keindahan alam dalam kelompok kecil. Tahap kedua, menyelenggarakan perlombaan antar kelompok kecil ditingkat kelas. Tahap ketiga, pengenalan figure. Tahap keempat, mempublikasikan puisi yang diciptakan siswa. Tahap kelima, mengadakan wisata sastra.

    D. Proses Penulisan Puisi
    Puisi diciptakan dalam suasana perasaan yang intens yang menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Ada saat-saat tertentu yang pengucapan batin dengan puisi dan saat-saat lain yang menuntut pengucapan batin dengan bentuk prosa. Bahasanya, selain indah juga padat, artinya kata-kata yang digunakan mewakili banyak pengertian. Pilihan vokal atau konsonan juga sesuai dengan estetika (Waluyo, 2005).
    Ada tiga proses dalam penciptaan sebuah puisi, menurut Esten (1995) yaitu konsentrasi, intensifikasi, dan pengimajian
    Konsentrasi berarti pemusatan. Seorang penyair akan mengalami proses konsentrasi dalam menciptakan puisinya. Dalam proses konsentrasi, setiap komponen dalam puisi harus berpusat, bertumpuh dan terfokus pada satu permasalahan atau satu kesan. Proses konsentrasi terlihat dalam pemilihan kata, penyusunan larik, dan pembentukan bait yang diperhitungkan dengan cermat untuk mengungkapkan satu permasalahan atau yang diperhitungkan dengan cermat untuk mengungkapkan satu permasalahan atau satu kesan. Oleh karena itu, pemakaian kata dalam setiap puisi selalu cermat dan padat tidak ada satu kata pun yang mubazir. Bahkan, dengan sengaja penyair melakukan pelanggaran terhadap kaidah bahasa tertentu untuk mengonsentrikan puisinya pada satu permasalahan atau satu kesan.
    Akibat dari proses konsentrasi, dalam karya puisi sering ditemukan penghilangan imbuhan, kata depan, dan tanda baca. Hal ini sangat berbeda dengan karya bukan puisi. Dalam cerpen atau drama misalnya, dapat ditemukan permasalahan sampingan (anak Tema) sebagai penunjang permasalahan utama. Selain itu, kalimat, dan kaidah bahasa juga harus utuh dan benar.
    Proses intensifikasi adalah proses pengungkapan satu permasalahan secara mendalam, mendasar, dan substansial. Semua komponen yang ada dalam puisi saling menunjang dalam pengungkapan tersebut. Pada puisi semua permasalahan diungkap secara intens dan mendalam sebagai hasil dari suatu perenungan atau kontemplasi.
    Imaji berarti juga citra. Jadi, pengimajian disebut juga pencitraan. Pencitraan berarti pembentukan gambaran tentang sesuatu di dalam pikiran. Sebuah puisi mencerminkan adanya proses pengimajian. Artinya semua komponen puisi mulai rima, ritme, larik, dan pilihan kata berfungsi untuk membangun suatu imaji atau gambaran tertentu yang terbentuk dalam pikiran pembaca.
    Penyair membentuk imaji dengan menggunakan kata konkrit dan khas, majas dan idiom, serta gaya bahasa tertentu. Pengimajian adalah penggunaan kata yang konkrit dan khas. Penataan kata-kata dalam larik dan bait dilakukan sedemikian rupa sehingga menggugah timbulnya imaji.
    Ada empat tahap penciptaan puisi menurut Munandar (1988) dalam Pradopo dkk (1998), yaitu:
    1. Tahap persiapan dan usaha;
    2. Tahap inkubasi atau pengendapan;
    3. Tahap iluminasi;
    4. Tahap versifikasi.
    Pada tahap persiapan dan usaha seseorang akan mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan. Makin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki seseorang mengenai masalah atau tema yang digarapnya, makin memudahkan dan melancarkan pelibatan dirinya dalam proses tersebut (Munandar dalam Pradopo, 1998).
    Tahap pertama dimulai dengan tergeraknya hati seseorang untuk menulis puisi. Apa yang dapat ditulis? Apapun dapat menjadi sumber bagi penulisan puisi sehingga seorang penyair, Abdul Hadi W.M. (1984) pernah mengatakan bahwa daerah puisi luas tidak terkira. Seribu penyair tidak akan selesai menguras bahan dan ilham dari daerah puisi yang luas tidak terkira itu. Puisi bisa mengenai apa saja dan puisi mengenai apa saja bisa berarti apabila puisi itu benar-benar bernilai (Abdul Hadi M.M., 1984). Dengan demikian, di lingkungan sekitar dan dalam diri pun sebenarnya telah siap sejumlah masalah atau hal yang diekspresikan menjadi puisi. Bagi mereka yang sudah terbiasa menulis puisi (penyair) ide atau gagasan yang akan ditulis dalam puisi biasanya muncul dengan tiba-tiba ketika melihat atau mengamati lingkungan sekitarnya.
    Pada tahap inkubasi atau pengendapan, setelah semua informasi dan pengalaman yang dibutuhkan serta berusaha dengan pelibatan diri sepenuhnya untuk menimbulkan ide-ide sebanyak mungkin, maka biasanya diperlukan waktu untuk mengendapkan semua gagasan tersebut, diinkubasi dalam alam prasadar. Di sini semua ”bahan mentah” diolah dan diperkaya dengan masukan dari alam prasadar, yaitu semua pengetahuan dan pengalaman relevan yang pernah diperoleh, tetapi tidak diingat lagi secara sadar (Munandar), 1988).
    Pada tahap ini, seseorang yang akan menulis puisi melakukan empati, bagaimana seandainya dia sendiri yang mengalami nasib seperti itu, misalnya mau sekolah tetapi serba terbatas.
    Setelah itu, dia akan mencoba mengekspresikan masalah tersebut dalam sebuah puisi. Tahap ini yang dinamakan tahap iluminasi. Dalam mengekspresikan ide atau gagasan puisi dibutuhkan keterampilan berbahasa karena berbahasalah dipergunakan sebagai media ekspresi. Semakin sering menulis puisi, akan semakin terampil mengekspresikan puisi dalam bahasa indah yang estetis.
    Tahap selanjutnya adalah versifikasi, ketika seorang penulis melakukan penilaian secara kritis terhadap karyanya sendiri. Bila perlu, karya tersebut dapat dimodifikasi, ditambah, atau dihilangkan bagian-bagian yang tidak sesuai menurut perasaannya. Tujuan dari verivikasi adalah untuk menghasilkan suatu karya yang siap untuk dikomunikasikan. Pada tahap ini pengarang akan mengambil jarak, melihat produknya seperti dengan mata orang lain, sehingga dapat memberikan tinjauan secara kritis (Munandar, 1993).
    Pada awal proses kreatifnya, setiap kali selesai menulis puisi, penyair Linus Suriyadi A.G.(1984) melakukan versifikasi sebagai berikut:
    Tiap kali saya selesai menulis sebuah puisi, lalu saya bandingkan dengan karya mereka( para penyair yang terkenal (Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, dll), saya merasa gombal banget, jelek betul puisi itu. Tapi saya menyadari dua hal. Pertama, tiap rampung satu judul ada perasaan lega. Seolah saya mengalami katarsis batin yang masih tidak bagus, namun kegelisahan dan keresahan rohani saya memperoleh jalan keluar…
    Kedua, belajar menulis puisi dengan memperbandingkan karya sendiri dengan karya penyair lain ternyata efektif sekali untuk meningkatkan kemajuan…
    Di samping membandingkan puisi karya orang lain, versifikasi juga dapat dilakukan dengan cara membahas dan mendiskusikannya dengan orang lain untuk mendapatkan masukan bagi penyempurnaan karya tersebut maupun karya selanjutnya.
    Berdasarkan hal tersebut maka pembelajaran menulis puisi harus mempertimbangkan proses penciptaan puisi. Langkah-langkah guru dalam pembelajaran merujuk menciptakan konsentrasi, intensifikasi, dan pengimajian yang didukung oleh tahap persiapan, inkubasi atau pengendapan, iluminasi, dan versifikas.

    DAFTAR PUSTAKA
    Abdurrahman, (1989). Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Bintang Selatan.
    Badudu, J.S. (1981). Sari Kesusastraan Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
    Broto A.S, Surono F.X (1999), Sejarah dan Apresiasi Sastra. Solo: Tiga Serangkai.
    Hirata Andrea, (2008). Laskar Pelangi. Bentang Pustaka, Jakarta.
    IKIP Bandung (1990). Pedoman penulisan Karya Ilmiah. IKIP Bandung.
    Kosasih, E. (2003) Kompotensi Berbahasa dan Sastra Indonesia. Solo: Tiga Serangkai.
    Keraf. Gorys (1979). Komposisi. Ende: Nusa Indah.
    —————(1991). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
    Kridalaksana, Harimurti (1990). Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
    —————(2008). Kamus Linguistik. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
    Mustofa Bisri, (2007) Tuntutan Karya Ilmiah. Yogyakarta: Panji Pustaka.
    Parera, Jos Daniel (1991). Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta: Gramedia.
    Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2007), Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 1 dan 2. Jakarta.
    Rahmanto,B. (1988). Metode pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
    Syamsudin A.R. (1992). Studi Wacana, Teori-Analisis-Pengajaran. FPBS IKIP Bandung.
    Sugihastuti (2000). Bahasa Laporan Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
    Sumardi, Rozak Zaidan Abdul, (1997), Pedoman Pengajaran Apresiasi Puisi SLTP dan SLTA. Jakarta: Balai Pustaka.
    Suroso dkk, (1999), Ikhtisar Seni Sastra. Solo: Tiga Serangkai.
    Tarigan, Henry Guntur (1999), Membaca Sebagai suatu keteranpilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
    ————–(1990). Pengajaran Kosakata. Bandung: Angkasa.
    Waluyo, Herman J. (1995). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

  26. Eka Ratna Sari
    31/05/2010 pukul 6:44 am

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMARAFRASAKAN DENGAN LATIHAN GAYA BAHASA PADA SISWA KELAS VII DI SMP 2 MURUNG PUDAK

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1.Latar Belakang

    Sastra Indonesia,menurut urutan waktu,terbagi atas beberapa angkatan, salah satunya adalah angkatan balai pustaka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920,yang di keluarkan oleh penerbit balai pustaka yaitu prosa (roman,novel,cerpen,dan drama) dan puisi,mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam, dan hikayat dalam khazanah kata.
    Sebagaimana karya sastra yang lain (prosa), puisi juga memiliki kandungan makna yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia, khususnya tentang nilai-nilai atau norma-norma kehidupan, baik kehidupan secara individual, bermasyarakat, dan berbangsa.
    Puisi merupakan ungkapan pikiran dan perasaan hasil perenungan penulis, pengungkapan pikiran dan perasaan itu menggunakan bahasa indah dan padat. Keindahan bahasa mencakup kemerduan bunyinya, ketepatan pilihan katanya yang berisi susunan kalimat yang pendek, dan penggunaan gaya bahasa yang tepat.
    Untuk memahami makna puisi dan dapat mengungkapkan isinya. Peserta didik dapat memarafrasakan atau memprosakan puisinya terlebih dahulu, memarafrasakan puisi dapat di lakukan dengan cara menuliskan kembali kata-kata yang dihilangkan oleh penulisnya, tetapi tidak semudah itu, untuk memarafrasakan. Hal itu di karenakan dengan adanya gaya bahasa dalam puisi, dapat mempersulit dalam pemahaman untuk mengetahui pesan yang ingin disampaikan penulis kepada peserta didik, karena tidak semua siswa yang bisa mengerti dan menguasai gaya bahasa, untuk mempelajari semua itu,siswa harus menguasai pengetahuan mengenai gaya bahasa terlebih dahulu, secara terperinci.
    Masalah kesulitan memarafrasakan, juga dikeluhkan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia, di SMP 2 Murung Pudak pada siswa kelas VII, berdasarkan hasil observasi hanya sebagian kecil saja siswa yang bisa memarafrasakan,hal itu bisa terlihat dengan rendahnya nilai yang di dapat siswa.
    Kesulitan memarafrasakan, dapat di akibatkan oleh kurangnya pengetahuan siswa tentang gaya bahasa pada puisi, gaya bahasa merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam puisi. kesulitan juga bisa di akibatkan oleh ketidaksesuaian metode yang di pakai dalam mengajar dengan pelajaran yang di sampaikan,pemakaian metode dalam pembelajaran yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pemahaman bagi siswa SMP,Selain itu guru juga pada umumnya,cenderung menggunakan cara belajar yang membosankan dalam kegiatan belajar mengajar.Peserta didik tidak di berikan suatu hal baru,yang lebih menyenangkan dan dapat memotivasi siswa agar lebih semangat dalam kegiatan pembelajaran.Jika keadaan pembelajaran seperti di biarkan terus-menerus,bukan tidak mungkin kemampuan siswa dalam memarafrasakan pada siswa SMP akan berada di tingkat bawah.Peserta didik akan mengalami kesulitan dalam memahami puisi secara benar.
    Maka dari itu diperlukan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan kreatif , pembelajaran yang di dalamnya mengarahkan siswa untuk lebih aktif, tidak hanya guru aktif , sehingga proses belajar mengajar aktif, efektif, dan menyenangkan, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru ,tetapi yang lebih penting adanya latihan untuk memantapkan siswa dalam penguasaan materi pelajaran memarafrasakan.
    Penelitian ini dilakukan untuk mengatasi masalah kesulitan yang dihadapi siswa dalam pelajaran memarafrasakan di SMP 2 Murung Pudak pada siswa kelas VII.Dengan memahami gaya bahasa siswa diharapkan mampu mengungkapkan makna dari puisi, dan juga dengan memahami gaya bahasa siswa dapat mengubah puisi menjadi bentuk prosa.
    Salah satu usaha yang dilakukan guru dalam upaya meningkatkan kemampuan dalam memarafrasakan dengan cara pembelajaran yang efektif dan menyenangkan adalah dengan menggunakan latihan untuk menguasai gaya bahasa.

    1.2. Rumusan Masalah

    Dilihat dari latar belakang,maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

    1. Bagaimana mengatasi kesulitan dalam memarafrasakan?
    2. Bagaimana meningkatkan pemahaman mengenai gaya bahasa?

    1.3 Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas nya adalah sebagai berikut:

    1. Untuk mengetahui cara-cara yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan kesulitan memarafrasakan .
    2. Untuk mengetahui hasil yang di peroleh dalam pembelajaran memarafrasakan dengan menggunakan metode latihan. gaya bahasa.

    1.4. Manfaat Penelitian

    Adapun manfaat yang dapat diambil dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

    1. Memberikan wawasan bahwa dengan menggunakan
    cara pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dapat mengatasi masalah dalam proses belajar mengajar.
    2. Kemampuan siswa SMP 2 Murung Pudak dalam memarafrasakan mengalami peningkatan.

    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA

    2.1.1. Pengertian Puisi
    Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980:10).
    Ada beberapa pengertian lain.
    1. Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
    2. Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
    3. Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.
    4. William Wordsworth (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.
    5. Percy Byssche Shelly (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling senang
    Fungsi Puisi
    Fungsi puisi adalah fungsi spiritual yang sifatnya tidak langsung bagi kehidupan fisikal yang praktis. Hal ini sesuai dengan hakikat puisi yang merupakan ekspresi tidak langsung. Kegunaan atau manfaat puisi ini berhubungan dengan kehidupan batin/rohani atau kejiwaan manusia. Puisi mempengaruhi kehidupan manusia lewat kehidupan batin dan kejiwaannya. Lewat kehidupan kejiwaan ini puisi mempengaruhi aktivitas kehidupan fisik manusia.
    Karena puisi merupakan karya seni penyampai gagasan maka fungsi puisi adalah dulce (indah, manis) dan utile (berguna, bermanfaat). Dulce berhubungan dengan ekspresi dan sarana ekspresinya, sedangkan utile berhubungan dengan muatan yang dikandung puisi, berupa ajaran, gagasan, atau pikiran.
    Puisi merangsang kepekaan terhadap keindahan dan rasa kemanusiaan. Karya seni, termasuk puisi berupaya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang terkikis teknologi dan menyadarkan kembali manusia pada kedudukannya sebagai subjek dalam kehidupan ini. Puisi berusaha mengembalikan stabilitas, keselarasan, dan keutuhan dalam diri manusia.

    2.1.2 Ciri-ciri Puisi
    Ciri-ciri puisi dapat dilihat dari bahasa yang dipergunakan serta dari wujud puisi tersebut. Bahasa puisi mengandung rima, irama, dan kiasan, sedangkan wujud puisi terdiri dari bentuknya yang berbait, letak yang tertata ke bawah, dan tidak mementingkan ejaan. Untuk memahami puisi dapat juga dilakukan dengan membedakannya dari bentuk prosa.
    Sifat seni ini merupakan ciri khas puisi. Puisi adalah sebuah karya yang fungsi estetiknya atau fungsi keseniannya dominan. Aspek estetik ini bermacam-macam. Di antaranya gaya bunyi, gaya kata, dan gaya kalimat serta wacana. Bahkan, aspek estetik itu terwujud dalam bentuk tipografinya.
    Puisi itu sebuah pernyataan yang hanya mengedepankan inti gagasan, pemikiran, ataupun peristiwa. Oleh karena itu, dipilih kata, frase, dan kalimat yang setepat-tepatnya supaya puisi menjadi mampat dan padat. Hal-hal yang dirasa tidak perlu dihilangkan. Dengan demikian tinggal intinya yang mengandung ekspresivitas yang itensif (berdaya guna).
    Dari waktu ke waktu, puisi itu selalu berubah karena evolusi selera dan perubahan konsep estetik atau konsep keindahan.
    Ketidaklangsungan ekspresi itu disebabkan oleh 3 hal, yaitu (1) penggantian arti, (2) penyimpangan arti, (3) penciptaan arti. Penggantian arti disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi dalam sajak.
    Penyimpangan arti disebabkan oleh adanya ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Penciptaan arti disebabkan oleh pengorganisasian ruang teks, diantaranya berupa (pola) persajakan, ejambemen, tipografi, dan homologue.
    Penafsiran Puisi
    Agar dapat memahami isi puisi diawali dengan menelaah atau melakukan kajian terhadap gaya maupun bentuk puisi yang bersama-sama membentuk suatu keutuhan isi puisi.
    Perhatikan jika terdapat hal-hal yang menarik perhatian, misalnya judul serta kekerapan kata. Banyaknya kata yang berulang dapat menggiring pembaca dalam memahami tema. Jika terdapat bait yang mengandung sedikit lirik, biasanya di sanalah tertuang tema puisi. Seperti halnya pada judul yang juga dapat membayangkan tema. Tetapi ingat, judul belum tentu sama dengan tema.
    Mengetahui tema serta akulirik merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam upaya memahami puisi.
    2.1.3 Unsur-Unsur Pembentuk Puisi
    Ada beberapa pendapat tentang unsur-unsur pembentuk puisi. Salah satunya adalah pendapat I.A. Richard. Dia membedakan dua hal penting yang membangun sebuah puisi yaitu hakikat puisi (the nature of poetry), dan metode puisi (the method of poetry).
    Hakikat puisi terdiri dari empat hal pokok, yaitu
    1. Sense (tema, arti)
    Sense atau tema adalah pokok persoalan (subyek matter) yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Pokok persoalan dikemukakan oleh pengarang baik secara langsung maupun secara tidak langsung (pembaca harus menebak atau mencari-cari, menafsirkan).
    2. Feling (rasa)
    Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya. Setiap penyair mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan.
    3. Tone (nada)
    Yang dimaksud tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya pada umumnya. Terhadap pembaca, penyair bisa bersikap rendah hati, angkuh, persuatif, sugestif.
    4. Intention (tujuan)
    Intention adalah tujuan penyair dalam menciptakan puisi tersebut. Walaupun kadang-kadang tujuan tersebut tidak disadari, semua orang pasti mempunyai tujuan dalam karyanya. Tujuan atau amanat ini bergantung pada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair
    Untuk mencapai maksud tersebut, penyair menggunakan sarana-sarana. Sarana-sarana tersebutlah yang disebut metode puisi. Metode puisi terdiri dari
    1. Diction (diksi)
    Diksi adalah pilihan atau pemilihan kata yang biasanya diusahakan oleh penyair dengan secermat mungkin. Penyair mencoba menyeleksi kata-kata baik kata yang bermakna denotatif maupun konotatif sehingga kata-kata yanag dipakainya benar-benar mendukung maksud puisinya.
    2 .Imageri (imaji, daya bayang)
    Yang dimaksud imageri adalah kemampuan kata-kata yang dipakai pengarang dalam mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Maka penyair menggunakan segenap kemampuan imajinasinya, kemampuan melihat dan merasakannya dalam membuat puisi
    3 .The concrete word (kata-kata kongkret)
    Yang dimaksud the concrete word adalah kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama tetapi secara konotatif mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya. Slametmulyana menyebutnya sebagai kata berjiwa, yaitu kata-kata yang telah dipergunakan oleh penyair, yang artinya tidak sama dengan kamus.
    5. Figurative language (gaya bahasa)
    Adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya.
    6. Rhythm dan rima (irama dan sajak)
    Irama ialah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembutnya ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama dibedakan menjadi dua,
    1. metrum, yaitu irama yang tetap, menurut pola tertentu.
    2. Ritme, yaitu irama yang disebabkan perntentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur.
    2.2 Pengertian dan Ciri Prosa Fiksi
    Prosa fiksi sebagai cerita rekaan bukan berarti prosa fiksi adalah lamunan kosong seorang pengarang. Prosa fiksi adalah perpaduan atau kerja sama antara pikiran dan perasaan. Fiksi dapat dibedakan atas fiksi yang realitas dan fiksi yang aktualitas. Fiksi realitas mengatakan: “seandainya semua fakta, maka beginilah yang akan terjadi. Jadi, fiksi realitas adalah hal-hal yang dapat terjadi, tetapi belum tentu terjadi. Penulis fiksi membuat para tokoh imaginatif dalam karyanya itu menjadi hidup. Fiksi aktualitas mengatakan “karena semua fakta maka beginilah yang akan terjadi”. Jadi, aktualitas artinya hal-hal yang benar-benar terjadi. Contoh: roman sejarah, kisah perjalanan, biografi, otobiografi.
    Prosa selalu bersumber dari lingkungan kehidupan yang dialami, disaksikan, didengar, dan dibaca oleh pengarang. Adapun ciri-ciri prosa fiksi adalah bahasanya terurai, dapat memperluas pengetahuan dan menambah pengetahuan, terutama pengalaman imajinatif. Prosa fiksi dapat menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian dalam kehidupan. Maknanya dapat berarti ambigu. Prosa fiksi melukiskan realita imajinatif karena imajinasi selalu terikat pada realitas, sedangkan realitas tak mungkin lepas dari imajinasi. Bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitikberatkan pada penggunaan kata-kata konotatif. Selanjutnya prosa fiksi mengajak kita untuk berkontemplasi karena sastra menyodorkan interpretasi pribadi yang berhubungan dengan imajinasi.
    Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Prosa
    Unsur pembangun prosa terdiri dari struktur dalam atau unsur intrinsik serta struktur luar atau unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik prosa terdiri dari tema dan amanat, alur, tokoh, latar, sudut pandang, serta bahasa yang dipergunakan pengarang untuk mengekspresikan gagasannya.
    Tema prosa fiksi terutama novel dapat terdiri dari tema utama serta beberapa tema bawahan. Pada cerpen yang memiliki pengisahan lebih singkat, biasanya hanya terdapat tema utama.
    Alur merupakan struktur penceritaan yang dapat bergerak maju (alur maju), mundur (alur mundur), atau gabungan dari kedua alur tersebut (alur campuran). Pergerakan alur dijalankan oleh tokoh cerita. Tokoh yang menjadi pusat cerita dinamakan tokoh sentral. Tokoh adalah pelaku di dalam cerita. Berdasarkan peran tokoh dapat dibagi menjadi tokoh utama, tokoh bawahan, dan tokoh tambahan. Tokoh tercipta berkat adanya penokohan, yaitu cara kerja pengarang untuk menampilkan tokoh cerita. Penokohan dapat dilakukan menggunakan metode (a) analitik, (b) dramatik, dan (c) kontekstual.
    Tokoh cerita akan menjadi hidup jika ia memiliki watak seperti layaknya manusia. Watak tokoh terdiri dari sifat, sikap, serta kepribadian tokoh. Cara kerja pengarang memberi watak pada tokoh cerita dinamakan penokohan, yang dapat dilakukan melalui dimensi (a) fisik, (b) psikis, dan (c) sosial.
    Latar berkaitan erat dengan tokoh dan alur. Latar adalah seluruh keterangan mengenai tempat, waktu, serta suasana yang ada dalam cerita. Latar tempat terdiri dari tempat yang dikenal, tempat tidak dikenal, serta tempat yang hanya ada dalam khayalan. Latar waktu ada yang menunjukkan waktu dengan jelas, namun ada pula yang tidak dapat diketahui secara pasti.
    Cara kerja pengarang untuk membangun cerita bukan hanya melalui penokohan dan perwatakan, dapat pula melalui sudut pandang. Sudut pandang adalah cara pengarang untuk menetapkan siapa yang akan mengisahkan ceritanya, yang dapat dipilih dari tokoh atau dari narator. Sudut pandang melalui tokoh cerita terdiri dari (a) sudut pandang akuan, (b) sudut pandang diaan, (c) sudut pandang campuran. Dalam menuangkan cerita menggunakan medium bahasa, pengarang bebas menentukan akan menggunakan bahasa nasional, bahasa daerah, dialek, ataupun bahasa asing.
    2.3 Perbedaan Puisi dengan Prosa
    HB. Jassin (1953:54) mengatakan bahwa untuk mendefinisikan puisi, puisi itu harus dikaitkan dengan definisi prosa. Prosa merupakan pengucapan dengan pikiran, sedangkan puisi merupakan pengucapan dengan perasaan.
    Rahmanto dan Dick Hartoko (1986) mengatakan bahwa puisi merupakan lawan terhadap prosa. Ungkapan bahasa yang terikat (puisi), lawan ungkapan bahasa yang tidak terikat (prosa). Keterikatan oleh paralelisme, metrum, rima, pola bunyi, dsb. Pada sastra modern perbedaan puisi dan prosa sangat kabur.
    Luxemburg (1992) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan teks puisi adalah teks-teks monolog yang isinya tidak pertama-tama merupakan sebuah alur. Selain itu teks puisi bercirikan penyajian tipografik tertentu. Tipografik ini merupakan ciri yang paling menonjol dalam puisi. Apabila kita melihat teks yang barisnya tidak selesai secara otomatis kita menganggap bahwa teks tersebut merupakan teks puisi.
    Rachmad Djoko Pradopo (1987) mengatakan bahwa dewasa ini orang mengalami kesulitan dalam membedakan puisi dan prosa hanya dari bentuk visualnya sebagai sebuah karya tertulis. Sampai-sampai sekarang ini dikatakan bahwa niat pembacalah yang menjadi ciri sastra utama.
    Alterbern (dalam Pradopo, 1987) mengatakan bahwa puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa berirama. Ada tiga unsur pokok dalam puisi yaitu pemikiran/ide/emosi, bentuk, dan kesan. Jadi puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indra dalam susunan bahasa yang berirama.
    Slametmulyana (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.
    Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).
    Perbedaan lain terdapat pada sifat. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987)
    Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.
    2.4. Parafrasa Puisi
    Pernahkah Anda mendengar istilah parafrasa? Istilah parafrasa mungkin
    sering muncul dalam pembahasan puisi. Salah satu cara untuk memahami
    puisi adalah dengan membuat parafrasa terhadap puisi tersebut, yaitu
    dengan menambahkan kata-kata yang dapat memperjelas kalimat pendek
    yang menjadi ciri khas puisi. Setelah ada penambahan, puisi tersebut berubah
    menjadi uraian prosa atau cerita. Artinya, wajah asli puisi tersebut telah
    berubah menjadi prosa, namun kandungan makna atau pengertian dari isi
    puisi tidak berubah. Hal seperti itulah yang disebut parafrasa.
    Yang dimaksud parafrase adalah mengubah puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa yang tunduk pada aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut. Ketika memarafrasakan puisi, tema dan diksi pilihan kata yang terdapat dalam puisi haruslah ada.
    Perlu diketahui bahwa parafrase merupakan metode memahami puisi, bukan metode membuat karya sastra. Dengan demikian, memparafrasekan puisi tetap dalam kerangka upaya memahami puisi.
    Ada dua metode parafrase puisi, yaitu
    1. Parafrase terikat, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami. Seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrase tersebut.
    2. Parafrase bebas, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan. Setelah kita membaca puisi tersebut kita menafsirkan secara keseluruhan, kemudian menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.
    2.5. Pengertian Gaya Bahasa
    Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus. Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis, untuk dapat membuat atau menciptakan gaya bahasa yang baik.
    Gaya bahasa sebagai gejala penggunaan sistem tanda,dapat dipahami bahwa gaya bahasa pada dasarnya memiliki sejumlah matra hubungan, hubungan tersebut dapat di kaitkan dengan dunia proses kreatif pengarang dunia luar yang di jadikan objek dan penciptaan, fakta yang terkait dengan aspek internal kebahasaan itu sendiri, dan dunia penafsiran penanggapnya ( Aminuddin,1995:54 )
    Analisis Unsur-unsur Intrinsik Puisi
    Untuk memahami makna sebuah puisi dapat dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur intrinsiknya, misalnya dengan mengkaji gaya bahasa dan bentuk puisi. Gaya bahasa yang dipergunakan penyair mencakup (1) Gaya bunyi yang meliputi: asonansi, aliterasi, persajakan, efoni, dan kakofoni. (2) Gaya kata yang membahas tentang pengulangan kata dan diksi. (3) Gaya kalimat yang berisi gaya implisit dan gaya retorika. (4) Larik, dan (5) bahasa kiasan.
    Memahami puisi melalui bentuknya dapat dilakukan dengan menelaah tipografi, tanda baca, serta enjambemen. Untuk mempermudah dan memperjelas penganalisisan puisi, di depan setiap larik berilah bernomor urut. Apabila puisi yang hendak dianalisis tersebut memiliki beberapa bait, dapat pula diberi bernomor pada setiap baitnya.
    Dalam penelitian tindakan kelas ini,penulis menggunakan metode latihan gaya bahasa,untuk mengatasi permasalahan dalam memarafrasakan. Metode Figurative language (gaya bahasa) Adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya. Jenis-jenis gaya bahasa antara lain:
    1. perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana, dll.
    2. Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding.
    3. Perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut-turut.
    4. Personifikasi, ialah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia di mana benda mati dapat berbuat dan berpikir seperti manusia.
    5. Metonimia, yaitu kiasan pengganti nama.
    6. Sinekdoke, yaitu bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting untuk benda itu sendiri.
    7. Allegori, ialah cerita kiasan atau lukisan kiasan, merupakan metafora yang dilanjutkan.
    8. Depersonifikasi adalah kebalikan dari gaya bahasa personifikasi. Kalau personifikasi menginsankan benda mati, depersonifikasi justru membendakan manusia.
    9. Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberi penekanaan pada suatu pernyataan untuk memperhebat.
    10. litotes adalah gaya bahasa yang didalam pengungkapan menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif.
    11. Ironi adalah makna yang bertentangan dengan maksud berolok-olok.
    12. Sinisme adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati.
    13. Metonomia adalah sejenis gaya bahasa yang mempergunakan nama sesuatu barang bagi sesuatu yang lain berkaitan erat dengannya.
    Dengan memberikan lebih banyak latihan mengenai gaya bahasa,siswa akan lebih mudah memarafrasakan, karena dengan banyak latihan, berarti siswa akan lebih memahami dan menguasai gaya bahasa.

    BAB III
    METODOLOGI PENELITIAN

    3.1. Pendekatan Penelitian
    Ada dua macam pendekatan dalam penelitian yaitu pendekatan kuatitatif dimana peneliti akan bekerja dengan angka-angka sebagai perwujudan gejala yang diamai dan pendekatan kualitatif dimana peneliti akan bekerja dengan informasi-informasi data dan di dalam menganalisanya tidak menggunakan analisa data statistik.
    Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh penggunaan latihan gaya bahasa dalam meningkatkan kemampuan memarafrasakan. Dengan melakukan analisis akan mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil pre-test dan post test.
    3.2. Tempat dan Waktu penelitian
    3.2.1. Tempat penelitian
    Penelitian ini di lakukan di SMP Negeri 2 Murung Pudak, yang beralamat di desa Maburai, kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong.
    3.2.2 Waktu Penelitian
    Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester Juli-Desember 2010, di selenggarakan pada hari senin,7 September 2010 dan menganalisis data selama tiga bulan, dari bulan September – Nopember 2010 .
    3.3. Sumber Data
    Sumber data untuk penelitian ini diperoleh dari siswa kelas VII SMP 2 Murung Pudak,yang berjumlah 21 siswa, yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan.
    3.4. Teknik Pengumpulan Data
    Teknik pengumpulan data merupakan cara atau jalan yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menurut Suharsimi (1998:138) secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non tes.
    Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes subjektif. Siswa sebagai objek yang di tes. Dan data yang dikumpulkan berupa hasil tes kemampuan memarafrasakan dengan menggunakan gaya bahasa. Teknik pengumpulan data juga dilakukan melalui observasi dan catatan lapangan.
    3.5. Analisis Data
    Analisis data dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, paparan, dan penampilan.Dari penelitian data tersebut, kemudian dipaparkan menjadi lebih sederhana setelah itu akan dapat disimpulkan. Dan pada penelitian ini data hasil tes kemampuan memarafrasakan dapat diolah melalui tahap seleksi data, pemeriksaan data dan penyimpulan data.

    Daftar Rujukan

    Nurhadi, Dawud, Yuni Pratiwi.2007.Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VII. Jakarta:Erlangga.
    Aminuddin. 1995.Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: Ikip Semarang Press
    Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
    Keraf Gorys. 2007. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

  27. Mika Rahmah
    31/05/2010 pukul 7:04 am

    KEMAMPUAN MEMAHAMI MAKNA DIKSI PUISI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO PADA SISWA KELAS X DI MAN I TANJUNG

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Puisi merupakan salah satu dari karya sastra selain prosa,pantun,dan drama.Puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias. kata-kata tersebut dipilih agar memiliki kekuatan pengucapan.Meskipun singkat, kata tersebut bermakna. Kata-kata tersebut bisa juga sebagai perwakilan dari perasaan si penyair. Hakikat dari puisi itu adalah curahan hati yang diungkapkan dalam sebuah puisi.
    Sesungguhnya dalam memaknai diksi pada puisi iti tidak sulit, yang membuat sulit itu adalah kurangnya pengetahuan tentang apa dan bagaimana diksi atau kata dan kurangnya latihan dalam memahami kata-kata, karena hal tersebutlah dilakukan penelitian ini. Seting penelitian ini pun dilakukan pada siswa karena kesulitan pembelajaran tenteng memahami makna diksi puisi ini terdapat pada siswa sekolah.
    Diksi adalah pilihan kata yang digunakan dalam puisi harus dipilih. Kata-kata dalam puisi bersifat konotasi dan puitis. Konotasi atau kias berarti memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. Puisi berarti mempunyai efek keindahan dan berbeda dengan kata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Diksi bisa berupa konotasi dan donotasi, jikalau diksi itu konotasi maka terdapat unkapan, symbol, dan majas.
    Penelitian ini dilakukan agar mendapat pemecahan masalah yang tepat supaya hasil kerja akhir siswa dapat lebih mampu dalam memahami makna diksi pada puisi dari pada sebelumnya dan dapat memperlancar belajar dan pembelajara tentang sastra puisi untuk kedepannya. Berdasarkan hal di atas maka penulis tertarik dalam meneliti kemampuan memahami makna diksi puisi karya Sapardi Djoko Damono.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang rumusan penelitian ini adalah sebagai berikut:
    1. Bagaimanakah memahami makna diksi pada puisi?
    2. Jelaskan pengertian dari diksi !
    3. Bagaimanakah diksi yang ada pada puisi?
    4. Bagaimanakah diksi yang ada pada puisi Sapardi Djoko Damono?

    1.3 Tujuan Penelitian
    Penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
    1. Agar dapat memahami makna diksi puisi
    2. Agar menambah pengetahuan tentang apa itu diksi
    3. Supaya proses belajar mengajar lebih efektif
    4. Supaya nilai akhir siswa lebih baik dari sebelumnya

    1.4 Manfat Penelitian
    Banyak sekali manfaat dari penelitian diantaranya adalah pengajar dapat lebih menfokoskan pengajarannya pada masalah yang dihadapi siswa. Hasil kerja akhir siswa jadi lebih baik. Memudahkan bagi siswa untuk menerima hal yang baru lagi tetang puisi,bagi peneliti akan mendapatkan hal-hal atau ilmu yang baru agar dapat lebih dikembangkan lagi untuk menunjang dunia pendidikan.

    BAB II
    KAJIAN KEPUSTAKAAN

    2.1 Pengertian puisi
    Puisi merupakan salah satu karya sastra selain prosa, pantun dan drama. Dalam pembutan bahasa (kata) sangat berperan penting, karena bahasa (kata) itu merupakan alat bagi penyair dalam mengekspresikan puisinya. Puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias. kata-kata tersebut dipilih agar memiliki kekuatan pengucapan.Meskipun singkat, kata tersebut bermakna. Kata-kata tersebut bisa juga sebagai perwakilan dari perasaan si penyair. Hakikat dari puisi itu adalah curahan hati yang diungkapkan dalam sebuah puisi.
    2.2 Pengertian bahasa puisi
    Dalam pembuatan puisi bahasa (kata) sangat berperan penting, karena bahasa (kata) itu merupakan alat bagi penyair dalam mengekspresikan puisinya. Mulyana (1956:7) menegaskan bahwa ‘ . . . bahasa adalah satu-satunya alat bagi sastrawan. Jadi lancer atau tidaknya pelaksanaan penjelasan cita hanya ditetapkan oleh rangkaian kata-kata yang digunakan itu saja.
    Kladen (1983:IV) mengatakan bahwa bahasa menjadi iandah karena ad puisi didalamnya. Puisi disampaikan melalui kata-kata, karena puisi adalah keindahan yang menjelma dalam kata. Kata-kata bukanlah sebab keindahan dalam puisi tetapi adalah akibatnya. Puisi tidak menjadi indah karena puisi yang dikandungnya.
    2.3 Pengertian Diksi atau Kata Puisi
    Damono (1983a:66) mengatakan bahwa kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi.Kata-kata tidak sekedar berperan sebagai alat yang menghubungkan pembaca dengan ide penyair . . . tetapi seksligus sebagai pendukung imajinasi dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair. Meskipun perannya sebagai penghubung tak bisa dilenyapkan , namun yang utama adalah sebagai objek mendukung imaji. Hal inilah yang membedakannya dari kata-kata dalam buku puisi.
    Seorang penyair yang professional dituntut oleh profisinya untuk selalu terampil dan piawai dalam memilih, memilah, dan menyusun kosa kata (diksi puisi). Bsrkaitan dengan diksi puisi, ada 3 jenis keterampilan yanh harus dikuasai oleh seorang penyair, yakni
    1. Keterampilan mengolah bahasa berkias
    2. Keterampilan mengolah bahasa bersajak berirama
    3. Keterampilan mengolah bahasa citraan
    Kosa kata yang dipilih,dipilah, dan disusun oleh seorang penyair adalah kosa kata yang setidak-tidaknya menurut pendapat penyair yang bersangkutan dapat dengan tepat menggambarkan pikiran dan perasaannya.
    Diksi (kata) adalah pilihan kata artinya kita memilih kata yang tepat untu8k menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsure sangat penteng baik dalam dunia karang mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari (Arifin,Tasai,2006:29). Salah satu unsure intrinsic dalam puisi adalah diksi (kata). Dalam memahami diksi pada puisi perlu diketahui terlebih dahulu yaitu ada diksi konotasi dan ada diksi denotasi. Diksi konotasi berupa ungkapan, symbol, dan majas. Dalam membuat puisi hendaknya menggunakan kata atau diksi yang tepat, hemat dan cermat.Seperti pada puisi “Mata Pisau” dan “tuan” karya Sapardi Djoko damono.

    MATA PISAU

    Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
    Kau yang baru saja
    Berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
    Yang tersedia diatas meja
    Sehabis makan malam ;
    Ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.

    (Sapardi Djoko Damono, 1994:40)

    Kehematan penyair dalam pilihan kata, juga tampak misalnya pada lirik “ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu”.Dengan satu lirik tersebut penyair berhasil memicu imajinasi pembaca bahwa (mata) pisau ternyata juga dapat berfungsi sebagai alat yang amat mengerikan manakala digunakan untuk keperluan lain seperti membunuh;menggorok leher seseorang.
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang cermat.misalnya pilihan kata atau ungkapan seperti mata pisau,baru saja diasah,tajam ,mengiris apel, dan berkilat, semua ini mengacu pada pengertian yang sama bahwa mata pisau itu tajam. Bahkan pilihan kata atau ungkapan yang satu dengan yang lainnya berkaitan.
    Kecermatan penyair juga terlihat pada beberapa pilihan kata yang memiliki persamaan bunyi akhir dalam satu larik. Misalnya persamaan bunyi akhir ap pada kata berkejap dengan menatap pada larik pertama, persamaan bunyi akhir (asonansi) u pada kata kau dengan baru (larik kedua), persamaan bunyi akhir (asonansi) a pada kata saja dengan mengasahnya (larik kedua) , danpada kata tersedia dengan di atas meja (larik keempat). Selain itu , juga terdapat aliterasi m pada larik sehabis makan malam.
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang tepat. Misalnya Frasa tak berkejap dapat di ososiasikan dengan mata ; mata pisau . Frasa tak berkejap dapat diasosiasikan dengan menatap;menatapmu. Ketepatan asosiasi ini sekaligus memperlihatkan kecermatan penyair dalam pilihan kata antara mata (mata pisau),(tak )berkejap, dan menatap(menatapmu).Ketiga kata itu merupakan pasangan kata yang parallel.
    Kemudian pilihan kata tajam , mengiris, dan apel, pada larik “ia tajam untuk mengiris apel” juga parallel dengan pilihan kata pada larik sebelumnya seperti mata pisau, tak berkejap, menatap(mu), baru saja diasah.Begitu pilihan kata berkilat pada larik “ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu”, juga parallel dengan pilihan kata pada larik sen\belumnya seperti mata pisau, tak berkejap, menatap(mu), baru saja diasah, ia tajam.selain itu, kata Berkilat pada larik tersebut juga paralel dengan urat lehermu.

    TUAN

    Tuan Tuhan, bukan ?Tunggu sebentar,
    Saya sedang keluar.

    (Sapardi Djoko Damono, 1983b:25)

    Puisi “Tuan” ditu;lis dengan bahasa yang hemat. Puisi tersebut hanya terdiri atas dua larik. Larik pertama berbunyi “Tuan Tuhan, bukan ?Tunggusebentar”, larik kedua berbunyi “Saya sedang keluar’.Tidak ada kata yang mubazir
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang cermat. Kecermatan misalnya pada larik pertama”Tuan Tuhan,bukan?Tunggu sebentar”.

    Kata tuan, Tuhan, dan bukan memiliki persamaan bunyi akhir, an. Kata Tuan juga berhubungan erat dengan kata Tuhan dan Tunggu yang ketiganya dimulai dengan huruf t kafital (T). ketiga kata tersebut menimbulkan kan aliterasi pada konsonan t. Ketiga kata tersebut juga memiliki bunyi awal yang sama yaitu bunyi tu. Selain itu,juga menimbulkan asonansi bunyi u secara beruntun pada kata Tuan, Tuhan, bukan, dan Tunggu. Kemudian kata sebentar pada larik pertama memiliki persamaan bunyi akhir ar dengan kata ke luar pada larik kedua. Kata sebentar, saya, dan sedang memiliki aliterasi pada konsonan s.
    Puisi tersebut juga ditulis dengan bahasa yang tepat.misalnya pemakaian kata tuan pada larik pertama,ternyata memang tepat,sebab kata Tuan diikuti dengan kata saya pada larik kedua.Begitu pula dengan pemakaian kata sebentar pada larik pertama,ternyata juga memang tepat,sebab kata sebentar sejajar dengan kata sedang pada larik kedua. Bahkan pemakaian kata depan ke, juga memang tepat dengan penulisan ke yang terpisah pada kata ke luar.
    Dengan penjelasan dan contoh diatas, siswa akan lebih mengerti tentang memahami makna diksi puisi, karena selain teori juga disertai dua buah contoh yang disertai dengan penjelasan tentang makna diksi yang ada pada puisi tersebut. Dengan disertakannya contoh maka teori yang sudah ada akan lebih dapat dimengerti.

    BAB III
    METEDOLOGI PENELITIAN

    Penelitian yang dilakukan ini mengemukakan penelitian kualitatif yang akan dipaparkan sebagai berikut:

    3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
    Pendekatan dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dengan pendekatan kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah. Pendekatan ini di gunakan berdasarkan pada penelitian yang tidak di lakukan dimana terdapat masalah dalam memahami makna diksi puisi.
    Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan.

    3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
    Penelitian ini dilakukan di MAN 1 Tanjung dan waktunya berkisar selama 3 bulan, Yakni sejak tanggal 20 februari 2010 sampai 19 mei 2010.

    3.3 Sumber Data
    Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua buah puisi karya Sapardi Djoko Damono yang dimuat dalam buku Tarman Effendi Tarsyad(2009) berjudul Puisi Sapardi Djoko Damono (Banjarmasin: Penerbit Tahura Media).
    Subjek penelitian dilakukan pada siswa MAN kelas X Bahasa dimana mereka kesulitan dalam memahami makna diksi pada puisi.

    3.4 Teknik Pengolahan Data
    Teknik yang digunakan adalah teknik pengumpulan data dan teknik analisis data yakni mengumpulkan data yang sesuai dengan permasalahan yang dikaji , langkah-langkah yang sesuai dengan permasalahan yang dikaji:

    1. Membaca puisi yang dikaji secara keseluruhan
    2. memilih dan menentukan data sesuai dengan masalah yang di rumuskan.
    3. Merumuskan masalah
    4. Mendiskripsikan data yang telah di tentukan

    3.5. Analisis Data
    Setelah data terkumpul kegiatan berikutnya adalah melakukan analisi data. Teknik yang digunakan dalam analisis adalah tenik deskriptif. Semua data dianalisis dengan tahap-tahap sebagai berikut:
    1. Data dikumpulkan dan disesuaikan dengan rumusan masalah yang sudah ada.
    2. Data dinilai dan dideskripsikan
    3. Data direfleksi dengan teori dan ilmu yang sudah ada

    Daftar Rujukan
    Tarsyad,Tarman Effendi.2009.Puisi Sapardi Djoko damono. Banjarmasin:Tahura Media

    Ganie,Tajuddin Noor.2010.Bahasa puisi Penyair Kalsel Generasi Penulis Zaman Kolonial Belanda 1930- 1942. Banjarmasin

    Ahar Saifudin.1997. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Dawud,dkk.2004.Bahasa dan Sastra Indonesia jilid 2 untuk SMA kelas XI. Jakarta:Erlangga.
    .

  28. Hirmina
    31/05/2010 pukul 7:15 am

    Meningkatkan Kemampuan Mengubah Puisi atau Syair Lagu Menjadi Pantun dengan Model Pembelajaran Demonstrasi Pada Siswa XII SMA Negeri 3 Tanjung
    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah

    Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa nusantara. Meskipun merupakan puisi lama, pantun mempunyai peran yang sangat penting. Pantun dapat dijadikan sebagai alat pemelihara bahasa dan sebagai penjaga fungsi kata. Dengan pantun pula orang mampu menjaga alur berpikir. Pantun pada umumnya terdiri atas empat baris yang bersajak bersilih dua-dua ( pola ab-ab ), dan biasanya tiap baris terdiri atas empat perkataan. Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian yaitu sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, yang seringkali berkaitan dengan alam. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari dibuatnya karya sastra ini.
    Karya sastra ini dinilai baik jika terdapat hubungan makna tersembunyi dalam sampiran, biasa disebut pantun sempurna atau penuh sedangkan pada yang kurang baik, hubungan tersebut semata-mata hanya untuk keperluan persamaan bunyi, dan disebut pantun tak penuh atau tak sempurna. Karena sampiran dan isi sama-sama mengandung makna yang dalam maka kemudian dikatakan, “sampiran dapat menjadi isi, dan isi dapat menjadi sampiran “.
    Pantun adalah genre sastra tradisional yang paling dinamis, karena dapat digunakan pada situasi apapun. Dalam kehidupan masyarakat melayu sehari-hari, ini termasuk jenis sastra lisan yang paling popular. Penggunaannya hampir merata disetiap kalangan : tua-muda, laki-laki-perempuan, kaya-miskin, pejabat, rakyat biasa dan sebagainya.
    Begitu istimewanya pantun dalam kehidupan ini membuat orang bersusah payah mempelajari pantun. Membuat pantun tidaklah sulit. Orang harus banyak berlatih , berlatih, dan berlatih. Dengan berlatih maka kemampuan mengkreasikan kalimat akan semakin terasah. Melihat kondisi rendahnya kemampuan membuat atau menulis pantun pada siswa kelas XII SMA Negeri 3 Tanjung, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membuat pantun salah satunya adalah dengan mengubah puisi atau syair lagu menjadi pantun melalui model pembelajaran demonstrasi. Dengan model pembelajaran demonstrasi diharapkan siswa dapat meningkatkan keterampilannya terutama dalam kompetensi dasar membuat pantun, sehingga siswa akan lebih mudah dalam mengkreasikan kalimat dan merangkai menjadi sebuah pantun.
    Adapun model pembelajaran demonstrasi yang akan dilakukan yaitu melalui pemutaran CD atau VCD puisi atau syair lagu yang akan di ubah, kemudian siswa mengambil dua larik puisi atau syair lagu yang mereka sukai, lalu siswa membuat sampiran pantunnya masing-masing, dan setelah itu, siswa menggabungkan sampiran yang telah dibuat dengan larik puisi atau lirik lagu yang telah dipilih siswa tersebut, sehingga terbentuklah sebuah pantun yang mereka inginkan. Oleh karena itu, pembelajaran dengan model demonstrasi akan mempermudah proses kegiatan belajar dan mengajar itu berlangsung.
    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
    1. Bagaimana aktivitas membuat pantun siswa kelas XII SMA Negeri 3 Tanjung tersebut ?
    2. Bagaimana meningkatkan keterampilan membuat pantun siswa kelas XII SMA Negeri 3 Tanjung ?
    1.3 Tujuan Penelitian
    1. Tujuan umum
    Tujuan peneliti yang diharapkan dari penelitian ini menjadi masukan bagi guru yaitu untuk mempraktekkan pembelajaran mengubah puisi atau syair lagu menjadi pantun dengan model demonstrasi.
    2.Tujuan khusus
    Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
    a. Untuk mengetahui aktivitas membuat pantun siswa kelas XII SMA Negeri 3 Tanjung.
    b. Untuk mengetahui apakah melalui pembelajaran mengubah puisi atau syair lagu menjadi pantun dengan model pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan keterampilan membuat pantun bagi siswa kelas XII SMA Negeri 3 Tanjung.
    1.4. Manfaat Penelitian
    Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
    a. SMA Negeri 3 Tanjung
    Dengan hasil penelitian ini diharapkan SMA Negeri 3 Tanjung dapat lebih mempraktekkan model pembelajaran demonstrasi agar keterampilan membuat pantun maupun berbahasa menjadi lebih baik dan perlu dicoba untuk keterampilan-keterampilan lain seperti keterampilan menyimak, berbicara dan membaca.
    b. Guru
    Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk mempraktikan belajar melalui model demonstrasi dalam rangka meningkatkan keterampilan maupun kemampuan membuat pantun.

    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA

    2.1 Puisi
    a. Pengertian Puisi
    Menurut Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur-unsur lain sangat erat hubungannya.
    Puisi merupakan salah satu karya sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, ritma, serta penyusunan larik dan bait. Bisa pula dengan cara mengungkapkan sesuatu secara langsung didalamnya ada unsur pergantian arti, penyimpangan arti, dan penyimpanan arti. ( Pelajaran bahasa & sastra Indo, hal : 170 )

    2.2 Pantun

    a. Pengertian Pantun
    Keberadaan pantun sebagai salah satu puisi lama Indonesia mengundang pendapat beberapa para ahli diantaranya sebagai berikut :
    1.) W. Marsden dan Crafurd
    Pendapat W. Marsden dan Crafurd sebagai berikut :
    a. Larik pertama dan kedua pantun merupakan gambaran yang tersembunyi.
    b. Hubungan antara larik pertama dan kedua tidak jelas dan tidak erat.
    c. Apa yang diungkapkan sampiran bisa merupakan satu gambaran. Namun, bisa juga dua gambaran yang berbeda.
    2.) Abbe Faure
    Pendapat Abbe Faure sebagai berikut :
    a. Sampiran biasanya mempunyai hubungan simbolis
    b. Umumnya hubungan sampiran tidak jelas
    c. Akhirnya, sampiran bertugas memberi irama dan rima.
    3.) Wilkinson
    Menurut Wilkinson pantun mungkin bukan dari bahasa rahasia yang menjadi pantun. Sebaliknya, pantun yang berkembang menjadi bahasa rahasia. Dengan kata lain, pantun merupakan cikal-bakal bahasa rahasia.

    b. Peranan Pantun

    Pantun mempunyai peran yang penting. Pantun dapat dijadikan sebagai alat pemelihara bahasa. Pantun juga berperan sebagai penjaga fungsi kata. Dengan pantun pula orang mampu menjaga alur pikir. Pantun melatih seseorang berpikir makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berpikir asosiatif (berpikir secara teratur untuk menggunakan kata yang berirama). Orang jadi tahu bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.
    Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda, kemampuan berpantun biasanya di hargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata. Pantun seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa lain. Namun, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

    c. Ciri-ciri Pantun

    Tidak semua puisi lama yang mempunyai empat larik disebut pantun. Puisi yang dapat disebut pantun harus memenuhi cirri-ciri tertentu. Cirri-ciri pantun tersebut pada akhirnya mempunyai syarat-syarat pantun.

    Berikut ini merupakan cirri-ciri pantun :
    1. Tiap bait (kumpulan larik dalam pantun) terdiri atas empat larik (baris atau deret).
    2. Tiap larik terdiri atas empat sampai enam kata.
    3. Tiap larik terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata.
    4. Larik pertama dan kedua merupakan sampiran.
    5. Larik ketiga dan keempat merupakan isi.
    6. Rima (Persamaan bunyi atau Persajakan) akhir larik bersajak ab-ab.
    7. Bunyi akhir larik pertama dan ketiga harus sama. Bunyi akhir larik kedua dan keempat juga harus sama. Perlu diketahui bunyi akhir larik pertama dan ketiga tidak sama dengan larik kedua dan keempat.
    8. Isi pantun mengungkapkan perasaan.
    Contoh :

    Kalau mengail dilubuk dangkal
    Dapat ikan penuh seraga
    Kalau kail panjang sejengkal
    Jangan lautan hendak didug.

    d. Jenis-jenis Pantun

    Pantun merupakan puisi yang terdiri atas empat larik dalam satu bait. Larik pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan larik ketiga dan keempat merupakan isi. Isi pantun dapat berupa nasihat, pertanyaan, teka-teki, ungkapan hati, pikiran atau pun kebenaran. Berdasarkan isinya, pantun dapat dibedakan menjadi lima jenis sebagai berikut :

    1. Pantun anak-anak
    Pantun anak-anak dibagi menjadi duayaitu pantun suka cita dan duka cita.
    2. Pantun dewasa atau pantun nasib
    Pantun dewasa dibagi menjadi lima jenis yaitu, pantun dagang, perkenalan, berkasih-kasihan, perpisahan, dan beriba hati.
    3. Pantun orang tua
    Pantun orang tua dibagi menjadi lima jenis, seperti pantun adat, nasihat, agama, budi, dan kepahlawanan.
    4. Pantun teka-teki
    5. Pantun jenaka

    Dalam penulisan pantun larik pertama dan ketiga pantun diawali dengan huruf kapital. Sebaliknya, larik kedua dan keempat pantun diawali huruf kecil. Larik pertama dan ketiga diakhiri tanda koma. Larik kedua dan keempat diakhiri tanda titik.
    Cirri utama pantun dapat dilihat dari irama dan rima yang memebentuknya. Pantun mempunyai rima dan irama yang menarik. Rima dan irama itu dibentuk oleh persamaan bunyi akhir larik. Bunyi akhir larik pertama dan ketiga haruslah sama. Begitu pula bunyi akhir larik kedua dan keempat. Ciri utama pantun inilah yang dapat menjadi keistimewaan pantun.

    2.3 Metode Demonstrasi (Demonstration Method )

    Metodologi mengajar adalah ilmu yang mempelajari ; cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari Pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai.
    Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah (2000) metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Syiaful Bahri Djamah, (2000).
    Manfaat psikologi pedagogis dari metode demonstrasi adalah :
    a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
    b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
    c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa (Daradjat, 1985).
    Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :
    a. Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
    b. Memudahkan berbagai jenis penjelasan.
    c. Kesalahan-kesalahan yang terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
    Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :
    a. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.
    b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
    c. Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan, (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

    2.4 Pengajaran Membuat Pantun dengan Cara Mengubah Puisi atau Syair lagu menjadi Pantun.
    1. Menentukan puisi atau lagu yang akan diubah

    Misalnya pada puisi “Menyesal” karya Ali Hasjmi. Dan lagu “Ketahuan” dari band matta. Maka dapat diubah larik puisi dan lirik lagu menjadi sebuah pantun.

    Menyesal
    Pagi ku hilang sudah melayang
    Hari mudaku sudah pergi
    Sekarang petang datang membayang
    Batang usiaku sudah tinggi.
    Aku lalai di hari minggu
    Beta lengah dimasa muda
    Kini hidup meracun hati
    Miskin ilmu, miskin harta
    Akh, apa guna kusesalkan,
    Menyesal tua tiada berguna,
    Hanya menambah luka sukma.
    Kepada yang muda kuharapkan,
    Atur barisan dihari pagi,
    Menuju kearah padang bakti.

    Lagu Ketahuan

    Dari awal aku tak pernah
    Percaya kata-katamu
    Karena kuhanya melihat
    Semua dari parasmu
    Terkahir kau bilang padaku
    Kau takkan pernah selingkuh
    Tetapi ternyata dirimu
    Bermain di belakangku
    Saat ku melihatmu
    Kau sedang bermesraan
    Dengan seorang yang ku kenal
    o… o… kamu ketahuan
    pacaran lagi
    dengan dirinya
    teman baikku
    o… o… kamu ketahuan
    pacaran lagi
    dengan dirinya
    teman baikku
    tapi tak mengapa
    aku tak heran
    karena dirimu cinta sesaatku

    2. Mengambil dua larik puisi atau lirik lagu yang disukai.
    Dua larik puisi atau lagu itu akan menjadi isi pantun. Baik larik puisi dan larik lagu yang akan dapat diambil harus memenuhi syarat pantun. Syarat pantun yyang harus di penuhi ialah larik terdiri atas 8-12 suku kata dan bersajak ab.

    Larik puisi

    Pagi ku hilang sudah melayang
    Hari mudaku sudah pergi

    Lirik lagu
    Dari awal aku tak pernah
    Percaya kata-katamu
    Diganti
    Dari awal memang aku tak pernah
    Mempercayai kata-katamu

    3. Membuat sampiran
    Sampiran yang dibuat harus mempunyai bunyi akhir yang sama dengan larik puisi atau lirik lagu yang dipilih. Misalnya, larik puisi atau lirik lagu yang dipilih mempunyai bunyi akhir ng dan gi. Maka sampiran yang dibuat harus mempunyai bunyi ng dan gi.

    Untuk Puisi

    Burung pungguk melayang terbang,
    melayang jauh dari langit tinggi.

    Untuk Syair lagu
    Bunga mawar di dalam rumah,
    akan kupetik untuk dirimu

    4. Menggabungkan Sampiran yang dibuat dengan larik puisi atau lirik lagu yang telah dipilih.

    Dari Puisi

    Burung pungguk terbang melayang ,
    melayang jauh dilangit tinggi.
    pagiku hilang sudah melayang,
    hari mudaku sudah pergi.

    Dari lirik lagu
    Bunga mawar didalam rumah,
    Akan kupetik untuk dirimu.
    Dari awal memang aku tak pernah,
    Mempercayai kata-katamu.
    BAB III
    METODE PENELITIAN

    3.1 Pendekatan Penelitian
    Ada dua macam pendekatan dalam penelitian yaitu pendekatan kuantitatif dimana peneliti akan bekerja dengan angka-angka sebagai perwujudan gejala yang diamati. Dan pendekatan kualitatif dimana peneliti akan bekerja dengan informasi data dan didalam ,menganalisisnya tidak menggunakan analisa data statistik.
    Pendekatan dalam penelitian ini adalah peenlitian kualitatif. Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh metode pembelajaran demonstrasi terhadap peningkatan keterampilan membuat pantun siswa, dengan mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil pre test dan post test.
    3.2 Tempat dan Waktu penelitian
    a. Tempat
    penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 3 Tanjung Kecamatan murung Pudak Kabupaten Tabalong.
    b.Waktu
    penelitian ini dilakukan selama kurang lebih 6 bulan (satu semester) yaitu pada bulan Desember-Mei 2010.

    3.3 Sumber Data
    Sumber data dari penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 3 Tanjung. Jumlah seluruh siswanya 25 orang yang terdiri dari laki-laki 10 orang dan perempuannya sebanyak 15 orang.
    3.4 Teknik pengumpulan data
    Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi :
    1. Tes, teknik ini digunakan untuk memperoleh data mengenai prestasi belajar yang dicapai siswa sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran demonstrasi.
    2. Observasi, teknik ini digunakan untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa dalam belajar dan aktivitas guru dalam mengelola pelajaran dengan model pembelajaran demonstrasi tersebut.

    3.5 Analisis Data
    Teknik analisis data dil;akukan melalui tiga tahap yaitu reduksi data, paparan data dan penyimpulan. Adapun analisis untuk memberikan pengakuan atau penghargaan kepada kelompok siswa menggunakan skor individu siswa dan skor kelompok. Dari skor siswa, selanjutnya ditentukan besarnya skor perkembangan siswa tersebut.

    DAFTAR RUJUKAN

    Widya R.D 1988 Serba Serbi Pantun. Bandung : intan Pariwara
    www. Google. Com / martiningsih-online/wordpress.

  29. Husnul khatimah
    27/06/2010 pukul 4:51 am

    Judul
    Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Tanjung pada konsep Gaya Bahasa (Majas) Dengan Menggunakan Strategi Peta Konsep dan Model Pembelajaran Course Review Horay

    A. LATAR BELAKANG
    Belajar mengajar merupakan suatu kegiatan yang bermilai edukatif. Nilai dukatif ini diwarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum mengajar dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala ssuatunya guna kepentingan pengajaran ( Djamarah dan Zain, 1996: 61 ).
    Metode pembelajaran mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pelajaran Bahasa dan Sastra, dan metode ini bermacam-macam, Salah satu kesulitan siswa di kelas VII SMP Negeri 2 Tanjung dalam pelajaran Bahasa dan Sastra adalah kurang mampu memperhatikan hubungan antar konsep-konsep tersebut pada saat menyelesaikan permasalahan, oleh karena itu harus ada upaya untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran Bahasa dan Sastra, salah satu upaya tersebut adalah dengan menggunakan strategi peta konsep dan model pembelajaran course review horay.
    Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bahasa di SMP Negeri 2 Tanjung terungkap bahwa penelitian tindakan yang menggunakan pendekatan peta konsep dan model pembelajaran course review horay pada konsep Gaya Bahasa (Majas).
    Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang
    “Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Tanjung pada konsep Gaya Bahasa (Majas) Dengan Menggunakan Strategi Peta Konsep dan Model Pembelajaran Course Review Horay”.

    B. RUMUSAN MASALAH
    Rumusan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
    1. Bagaimana hasil pencapaian belajar siswa dengan menggunakan Strategi Peta Konsep dan model pembelajaran Course Review Horay pada Konsep Gaya Bahasa (Majas) ?
    2. Bagaimana aktivitas siswa terhadap pembelajaran Konsep Gaya Bahasa (Majas) dilihat dari penggunaan Strategi Peta Konsep dan model pembelajaran Course Review Horay ?
    3. Bagaimana aktivitas guru dalam pengelolaan pembelajaran menggunakan Strategi Peta Konsep dan model pembelajaran Course Review Horay pada Konsep Gaya Bahasa (Majas) ?

    C. TUJUAN PENELITIAN
    1.1 Tujuan Penelitian
    Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
    1. Untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa dengan penggunaan Strategi Peta Konsep dan model pembelajaran Course Review Horay pada Konsep Gaya Bahasa (Majas).
    2. Untuk mengetahui aktivitas siswa terhadap pembelajaran Konsep Gaya Bahasa (Majas) dilihat dari penggunaan Strategi Peta Konsep dan model pembelajaran Course Review Horay ?
    3. Untuk mengetahui aktivitas guru dalam pengelolaan pembelajaran menggunakan Strategi Peta Konsep dan model pembelajaran Course Review Horay pada
    4. Konsep Gaya Bahasa (Majas) ?

    D. MANFAAT PENELITIAN
    1.1. Manfaat Hasil penelitan
    Hasil dari penelitian ini diharapkan akan dapat memberiakn manfaat bagi perorangan maupun institusi di bawah ini :
    1. Bagi guru, dengan secara bertahap guru mengetahui strategi dan model pembelajaran yang tepat dalam upaya memperbaiki pengajaran.
    2. Bagi siswa, dengan penggunaan strategi Peta Konsep dan model pembelajaran Cuorse Review Horay dapat meningkatkan pemahaman siswa.
    3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini akan memberikan konstribusi terhadap perbaikan pembelajaran Bahasa dan Sastra, khususya pembelajaran konsep Gaya Bahasa (Majas).

    D. KAJIAN PUSTAKA
    1. Faktor- Factor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
    Menurut Soemanto (1998: 113) ada tiga factor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu :
    – Faktor-faktor stimulasi belajar
    Stimulasi belajar adalah segala hal di luar individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar. Stimulasi dalam hal ini mencakup materiil, penegasan seta suasana lingkungan eksternal yang harus diterima atau dipelajari oleh si pelajar.
    – Faktor-faktor metode belajar
    Metode mengajar yang dipakai oleh guru sangat mempengaruhi metode belajar yang dipakai oleh siswa. Dengan perkataan lain, metode yang dipakai oleh guru menimbulkan perbedaan yang berarti bagi proses belajar.
    – Faktor-faktor individual
    Faktor individual sangat besar pengaruhnya terhadap belajar seseorang yang menyangkut hal-hal berikut :
    a. Kematangan berpikir
    b. Faktor usia kronologis
    c. Faktor perbedaan jenis kelamin
    d. Pengalaman sebelumnya
    e. Kapasitas mental
    f. Kondisi kesehatan jasmani
    g. Kondisi kesehatan rohani
    h. Motivasi

    Peranan Guru dalam Pengajaran
    James B. Brow dalam Sardiman (1996: 142), mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru antara lain, menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan elajaran sahari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.
    Arikunto (1993: 199), mengemukakan banyak sekali kegiatan yang harus dilakukan oleh guru dalam rangka menangani tugas mengelola pengajaran, yaitu :
    a. Mempelajari materi pelajaran (dalam GBPP) yang akan dijadikan tuntunan dalam penyusunan rencana pelajaran. Sesuai dengan prinsif fleksilitas yang ada dalam kurikulum, di dalam menyajikan materi kurikulum guru diseyogiakan tidak hanya begitu saja megambil materi langsung diajarkan, tetapi dilakukan modifikasi dan pengembangan materi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tujuan, keadaan siswa, situasi setempat, tersedianya waktu dan fasilitas.
    b. Memilih pendekatan atau strategi untuk menyampaikan materi pelajaran. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan antara lain: tuuan pelajaran, minat dan usia siswa, tersedia waktu untuksesuatu pokok Bahasan, keadaan atau ruang serta fasilitas lain.
    c. Memilih alat-alat pelajaran dan sarana lain dengan mempertimbangkan strategi dan pendekatan yang telah ditentukan sebelumnya.
    d. Memilih strategi mengevaluasi yang akan diambil paling tidak meliputi, enis evaluasi, teknik dan jenis instrument, dan apa saja kompunen lain yang juga dipertimbangkan dalam melaksanakan evaluasi.

    Strategi Peta Konsep
    Strategi adalah suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran belajar yang telah ditentukan. Menurut Nur (2002) bahwa straregi belajar mengacu pada perilaku dan proses-proses berpikir yang diinginkan oleh siswa yang mempengaruhi apa yang dipelajari. Peta konsep sebagai suatu strategi organisasi yang umum, dimana strategi organisasi bertujuan untuk membantu siswa meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan menggunakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut. Strategi ini yang terdiri dari mengidentifikasi ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.
    Selanjutnya Nur (2002) bahwa pada peta konsep, konsep yang ekslusif diletakan pada puncak pohon konsep. Konsep ini disebut kunci konsep-konsep pada jalur yang lain dapat dihubungkan dengan kata-kata penghubung. Hubungan ini disebut pengembangan konsep dalam satu bahasa yang disebut penyesuaian terintegratif. Dengan penggunaan peta konsep ini, maka dapat diperkirakan kedalaman dan keluasan materi yang perlu diajarkan kepada siswa. Kaitan konsep yang satu dengan konsep yang lain bagi siswa merupakan hal yang penting dalam belajar, sehingga apa yag akan dipelajari oleh siswa akan lebih bermakna, lebih mudah diingatkan dan lebih mudah dipahami.

    Langkah-Langkah Penyusunan Peta Konsep ( Consept Mapping)
    Menurut Dahar (1989) ada beberapa langkah yang harus dilakukan dalam pembuatan peta konsep, yaitu :
    a. Pilih suatu bacaan dari buku pelajaran
    b. Tentukan konsep-konsep yang relevan
    c. Urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif.
    d. Susun konsep-konsep itu di atas kertas mulai dari konsep yang paling inklusif di pucuk konsep ke konsep yang tidak inlusif di bawah.
    e. Hubungkan konsep-konsep itu dengan kata-kata penghubung sehingga menjadi sebuah pete konsep.
    Model Pembelajaran Course Review Horay
    Model Pembelajaran Course Review Horay merupakan model pembelajaran yang dapat menciptakan suasana kelas menjadi meriah dan menyenangkan karena setiap siswa yang dapat menjawab benar maka siswa tersebut diwajibkan berteriak’hore!’ atau yel-yel lainnya yang disukai.
    Langkah- langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut :
    1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
    2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi.
    3. Memberikan kesempatan kepada siswa bertanya jawab.
    4. Untuk menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing siswa.
    5. Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (Ö) dan salah diisi tanda silang (x).
    6. Siswa yang sudah mendapat tanda vertikal atau horisontal, atau diagonal harus berteriak horay … atau yel-yel lainnya.
    7. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh.
    8. Kesimpulan

    Konsep Gaya Bahasa
    Didalam sebuah karya sastra utamanya dalam sebuah karangan fiksi sering kita jumpai bahasa-bahasa yang imajinatif yang ditujukan untuk memperindah sebuah cerita. Itulah yang sering kita kenal dengan Gaya Bahasa atau Majas.
    Didalam khasanah Bahasa Indonesia, Majas dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
    1. Majas Perbandingan
    2. Majas Pertentangan
    3. Majas Perulangan
    4. Majas Pertautan
    Gaya bahasa perbandingan terdiri atas beberapa gaya bahasa. Di antaranya seperti:
    a. Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan, tetapi sengaja dianggap sama. Biasanya pada majas ini diterangkan oleh pemakaian kata seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, dan laksana.
    Contoh: Dua bersaudara itu seperti minyak dengan air, tidak pernah rukun.
    b. Metafora adalah perbandingan yang implisit, tanpa kata pembanding seperti atau sebagai diantara dua hal yang berbeda.
    Contoh: Para kuli tinta mendengarkan dengan tekun penjelasan tentang kenaikan harga BBM.
    c. Personifikasi atau penginsanan adalah gaya bahasa yang menggunakan sifat-sifat insani pada barang yang tidak bernyawa.
    Contoh: Dengarlah nyanyian pucuk-pucuk cemara.
    d. Alegori adalah gaya bahasa yang memperlihatkan perbandingan yang utuh. Beberapa perbandingan membentuk satu kesatuan. Alegori merupakan metafora yang diperluas dan berkesinambungan, biasanya mengandung pendidikan dan ajaran moral.
    Contoh: Berhati-hatilah dalam mengemudikan bahtera kelangsungan kehidupan keluargamu, sebab lautan kehidupan ini penuh ranjau, topan yang ganas, batu karang, dan gelombang yang setiap saat dapat menghancurkleburkan. Oleh karena itu, nakhoda harus selalu seia sekata dan satutujuan agar dapat mencapai pantai bahagia dengan selamat.
    e. Pleonasme adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata mubazir.
    Contoh: Saya menyaksikan pembakaran rumah itu dengan mata kepala saya sendiri.
    f. Tropen adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan suatu pekerjaan atau perbuatan dengan kata lain yang mengandung pengertian yang sejalan dan sejajar.
    Contoh: Setiap malam ia menjual suaranya untuk nafkah anak dan istrinya.
    g. Perifrasis adalah Gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan menguraikan sepatah kata menjadi serangkaian kata yang mengandungarti yang sama dengan kata yang digantikan itu.
    Contoh: Ketika matahari hilang dibalik gunung barulah ia pulang.
    Gaya bahasa pertentangan ini juga terdiri atas sejumlah gaya bahasa. Di bawah ini adalah gaya bahasa pertentangan yang sering dipakai.
    a. Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih – lebihan, atau membesar – besarkan sesuatu yang dimaksud dengan tujuan memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi, memperhebat, serta meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
    Contoh: Teriakan para pengunjuk rasa itu membelah angkasa.
    b. Litotes adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikecil – kecilkan, dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, tujuannya untuk merendahkan diri. Litotes merupakan lawan dari hiperbola.
    Contoh: Jakarta sebagai kota metropolitan bukan kota yang kecil dan sepi.
    c, Ironi adalah gaya bahasa yang berupa sindiran halus berupa pernyataan yang maknanya bertentangan dengan makna sebenarnya.
    Contoh: Pagi benar engkau datang, Hen! Sekarang, baru pukul 11.00
    d. Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta – fakta yang ada.
    Contoh: Musuh sering merupakan kawan yang akrab.
    e. Klimaks adalah gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan.
    Contoh: Dua hari yang lalu korban kerusuhan berjumlah lima belas orang, kemarin bertambah menjadi dua puluh, sekarang terhitung sejumlah tiga puluh orang.
    f. Antiklimaks merupakan gaya bahasa kebalikan dari klimaks. Dalam gaya bahasa antiklimaks, susunan ungkapannya disusun makin lama makin menurun.
    Contoh: Bukan hanya Kepala Sekolah dan Guru yang mengumpulkan dana untuk korban kerusuhan, para murid ikut menyumbang semampu mereka.
    g. Antitesis Gaya bahasa pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kepaduan kata yang berlawanan arti.
    Contoh: Cantik atau tidak,kaya atau miskin, bukanlah suatu ukuran nilai seorang wanita.
    h. Okupasi merupakan gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan bantahan, tetapi kemudian di beri penjelasan atau diakhiri kesimpulan.
    Contoh: Merokok itu merusak kesehatan, akan tetapi si perokokok tidak dapat menghentikan kebiasaannya.Maka muncullah pabrik-pabrik rokok karena untungnya banyak.
    i. Kontradiksio Intermimis merupakan gaya bahasa yang memperlihatkan pertentangan dengan penjelasan semula.
    Contoh: Semua murid di kelas ini hadir, kecuali si Hasan yang sedang ikut Jambore.
    Gaya bahasa pertautan terdiri atas beberapa gaya bahasa yaitu :
    a. Metonimia adalah gaya bahasa yang menggunakan nama cirri atau nama hal yang ditautkan dengan segala sesuatu sebagai penggantinya.
    Contoh: Sang Merah Putih berkibar dengan gagahnya di angkasa.
    b. Sinekdoke ini terdiri atas dua gaya bahasa.
    – Pars Prototo adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian, tetapi yang dimaksud keseluruhan.
    Contoh: Setiap kepala dikenai sumbangan sebesar Rp 1. 500,00
    -. Totem pro parte adalah gaya ahasa yang menyebutkan keseluruhan tetapu yang dimaksudkan sebagian.
    Contoh: Sekolah kami sudah dua kali mendapat juara pertama dalam lomba cerdas cermat bahasa Inggris.
    c. Alusio adalah gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa, tokoh, dan tempat yang sudah banyak dikenal oleh pembaca. Gaya bahasa ini juga tidak menggunakan peribahasa, ungkapan, atau sampiran pantun yang isinya telah diketahui oleh umum.
    Contoh: Jangan seperti kura – kura dalam perahu.
    d. Eufimisme adalah gaya bahasa yang berupa ungkapan – ungkapan halus, untuk menggantikan ungkapan yang dirasa kasar, kurang sopan, atau kurang menyenangkan.
    Contoh: Sayang, anak setampan itu hilang akal.
    Gaya bahasa perulangan yang sering digunakan seperti di bawah ini :
    a. Aliterasi adalah sejenis gaya bahasa yang memangaatkan pemakaian kata – kata permulaan yang sama bunyi. Gaya bahasa ini biasa digunakan pada karangan fiksi yang berupa puisi.
    Contoh: Dara damba daku, Datang dari danau
    b. Asonansi adalah gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan vocal yang sama. Biasanya dipakai dalam karya puisi atau dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau menyelamatkan keindahan.
    Contoh: Muka muda mudah marah
    tiada siaga tiada biasa
    jaga harga tahan harga
    Gaya bahasa pertautan terdiri atas beberapa gaya bahasa, antara lain :
    a. Repetisi adalah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata atau beberapa kata berkali-kali,yang biasanya dipergunakan dalam pidato.
    Contoh: Kita junjung dia sebagai pemimpin,kita junjung dia sebagai pelindung.
    b. Paralelisme adalah majas penegasan yang seperti repetisi tetapi dipakai dalam puisi.
    Contoh: Kalau kau mau, aku akan datang
    Jika kau menghendaki,aku akan datang
    Biula kau minta, aku akan datang
    c. Tautologi adalah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kata-kata yang sama artinya untuk mempertegas arti
    Contoh: Saya khawatir serta was-was akan keselamatannya.
    d. Simetri adalah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan satu kata, Kelompok kata atau kalimat yang diikuti kata, kelompok kata yang seimbang artinyan dengan kata pertama.
    Contoh: Kakak berjalan tergesa-gesa, sepoerti orang dikejar anjing gila.
    e. Enumerasio adalah majas penegasan yang melukiskan beberapa peristiwa membentuk satu kesatuan yang dituliskan atu per satu supaya tiap-tiap peristiwa dalam keseluruhannya terlihat jelas.
    Contoh: Angin berhembus, laut tenang, bulan memancar lagi.
    f. Rettorik adalah majas penegasan dengan menggunakan kalimat Tanya yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban.
    Contoh: Mana mungkin orang mati hidup kembali?
    g. Koreksio adalah majas penegasan berupa membetulkan kembali kata-kata yang salah diucapkan, baik sengaja atau tidak sengaja.
    Contoh: Hari ini sakit ingatan, eh…maaf, sakit kepala maksudku.
    h. Asidenton adalah majas penegasan yang menyebutkan beberapa benda, hal atau keadaan secara berurutan tanpa memakai kata penghubung.
    Contoh: Kemeja, sepatu, kaos kaki, dibelinya di tokok itu.
    i. Polisidenton adalah majas penegasan yang menyatakan beberapa benda, orang, hal atau keadaan secara berturut-turut denganmemakai kat apenghubung.
    Contoh: Dia tidak tahu, tatapi tetap saja ditanyai, akibatnya dia marah-marah.
    j. Ekslamasio adalah majas penegasan yang memakai kata-kata seru sebagai penegas.
    Contoh: Amboi, indahnya pemandangan ini!
    j. Praeterito adalah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu dan pembaca harus menerka apa yang disembunyikan itu.
    Contoh: Tidak usah kau sebut namanya, aku sudah tahu siapa penyebab kegaduhan ini.
    k. Interupsi adalah majas penegasan yang mempergunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan diantara kalimat pokok untuk lebih menjelaskan dan menekankan bagian kalimat sebelumnya.
    Contoh: Aku, orang yang sepuluh tahun bekerja disini, belum pernah dinaikkan pangkatku.
    Gaya bahasa sering digunakan dalam karangan fiksi. Bahasa dalam karangan fiksi lebih bebas dari karangan nonfiksi atau ilmiah. Oleh karena itu, bahasa dalam karangan ilmiah adalah bahasa baku dan bermakna lugas. Dalam karangan fiksi gaya bahasa diperlukan untuk memperindah cerita.

    METODE PENELITIAN
    Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yaitu kajian yang bersifat refletif untuk meningkatkan kemampuan rasional, memperdalam pemahaman, serta memperbaiki kondisi dari tingkatan pembelajaran di kelas. Penelitian tindakan kelas ini mengunakan metode diskusi informasi.
    Subjek peneltian ini adalah siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Tanjung, dengan jumlah siswa 40 orang, terdiri dari17 siswa laki-laki dan 23 orang siswa putri.
    1. Refleksi awal
    Berdasarkan hasil observasi dan pengalaman belajar guru, dapat diuraikan refleksi awal seperti berikut :
    a. Para siswa SMP Negeri 2 Tanjung masih kesulitan untuk memahami konsep Gaya Bahasa secara keseluruhan.
    b. Siswa selama ini dalam mempelajari Konsep Gaya Bahasa masih bersifat hapalan, sehingga konsep tersebut mudah terlupakan oleh siswa.
    2. Proses Pelaksanaan Tindakan
    a. Melakukan pengajaran dengan memberikan contoh peta konsep dengan materi lain.
    b. Menyusun peta konsep sebagai acuan pembanding peta konsep yang dikerjakan siswa dengan beberapa buku sumber.
    3. Tahap Pelaksanaan
    a. Memberikan tugas baca pada siswa dengan mengacu pada buku paket dan buku-buku lan yang relevan di rumah sebelum materi tersebut dibahas.
    b. Melakukan pretest kepada siswa tentang Gaya Bahasa dengan strategi Peta Konsep
    c. Membagi siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 5 orang, untuk melakukan latihan dengan model pembelajaran Course Review Horay.
    d. Mempresentasikan dan mendiskusikan peta konsep yang telah dibuat oleh masing-masing kelompok.
    f. Membandingkan peta konsep yang telah dibuat siswa dengan peta konsep yang dibuat guru.
    g. Melakukan post test, setelah pembelajaran dengan srtategi Peta Konsepdan model pembalajaran Course Review Horay.

    Teknik pengumpulan Data
    Data yang diambil dalam penelitian ini adalah berupa data kuantitatif yaitu data hasil belajar yang di ambil dari tes awal dan tes akhir, nilai hasil lembar peta konsep yang dibuat siswa dan hasil test dari pembelajaran dengan model course review horay..
    Sedang data kuantitif berupa data aktivitas siswa selama KBM berlangsung .
    Teknik Analisis Data
    Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik persentase, untuk penilaian hasil belajar dalam bentuk persentase dengan rumus :
    f
    P x 100
    N

    Keterangan : P = Persentasi
    F = Frekuensi yang dicari persentasinya
    N = Jumlah subjek
    ( Sudijono, 2003: 40- 41 dalam Mahrita Vidya, 2006 )

    Daftar Pustaka
    Arikunto, Suharsimi.1993. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta : PT.Rineka Cipta.
    Dahar.1989. Teori-Teori Belajar. Bandung : Erlangga.
    Hamalik. 1993. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Manndar Maju.
    Nur, Muhammad. 2002. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah UNESA.
    Hadi, Abdul. 2008. Ilmu Sastra.

  30. RAHMAWATI
    02/07/2010 pukul 5:10 am

    PENINGKATAN KETERAMPIAN BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FOTO IDOLA PADA SISWA KELAS VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas.

    I. Pendahuluan
    I.1 Latar Belakang
    Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin menuntut manusia untuk maju, tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa kelancaran proses komunikasi dengan orang lain merupakan syarat atau kompetensi utama seseorang akan mendapatkan tempat dalam masyarakat. Baik komunikasi secara lisan maupun komunikasi secara tertulis. Hal itu pula yang menjadi salah satu faktor penyebab munculnya pembelajaran bahasa di sekolah.
    Siswa sebagai seorang pelajar dituntut untuk mampu, terampil, lancar, dan menguasai keempat keterampilan berbahasa yang ada. Baik keterampilan menulis, membaca, menyimak, dan berbicara. Dan salah satu tempat yang dapat menaungi dan menjadi sarana untuk seorang siswa memperoleh kompetensi dasar tersebut yaitu di sekolah.
    Sebagai sebuah institusi formal yang bersifat mendidik anak bangsa menjadi lebih maju, pendidikan sekolah harus mampu mencetak para generasi penerus bangsa yang berkualitas, terutama dalam kemampuan berbahasanya. Dan melalui pembelajaran bahasa Indonesialah, seorang siswa mendapatkan kesempatan untuk mampu, terampil, lancar, dan menguasai keterampilan berbahasanya dengan baik.
    Dari keempat keterampilan berbahasa yang ada, keterampilan berbicaralah yang dapat dikatakan sangat vital atau penting. Sebab keterampilan berbicara merupakan salah satu aspek berbahasa yang dalam peranannya dapat melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya. Dengan menguasai keterampilan berbicara yang baik pulalah nantinya seorang siswa akan dengan mudah dapat terjun ke dalam masyarakat untuk kegiatan kehidupan sosialnya.
    Dikatakan dapat melahirkan generasi masa depan yang cerdas karena dengan menguasai keterampilan berbicara, seorang siswa akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia berbicara. Dikatakan dapat melahirkan generasi masa depan yang kritis karena dengan menguasai keterampilan berbicara, seorang siswa akan mampu untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Dikatakan dapat melahirkan generasi masa depan yang kreatif karena dengan menguasai keterampilan berbicara, seorang siswa akan mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, dengan menguasai keterampilan berbicara akan lahir seorang siswa berbudaya yang sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara.Paling tidak, ada beberapa penyebab mengapa siswa kurang mampu bercerita dengan baik, misalnya saja kurang adanya rasa percaya diri yang tinggi pada tiap diri siswa masing-masing untuk berbicara di muka umum, siswa kurang berani mengungkapkan pendapat / idenya di muka umum, selain itu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran berbicara khususnya berceritalah yang dinilai sangat berperan penting dalam kegagalan siswa menjalani proses pembelajaran tersebut. Guru hanya cenderung menyampaikan materi dan selanjutnya mempersilakan muridnya untuk bercerita di depan kelas, apabila nantinya tidak ada siswa yang berani tampil di muka, maka guru akan menunjuknya satu persatu. Guru kurang dapat merangsang kreativitas berpikir dan daya imajinasi siswa. Akibatnya, situasi dan keadaan pembelajaran berjalan sangat monoton dan membosankan.
    Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya tindakan pembenahan atau perbaikan, tidak menutup kemungkinan siswa-siswi MTs Ihya Ulumuddin Bilas, tidak akan dapat berbicara atau berkomunikasi lisan dengan mitra tuturnya dengan baik. Siswa akan terus-menerus mengalami kesulitan untuk membangun keruntutan atau kelogisan cerita, membangun struktur kalimat dan memilih kata yang tepat pada saat berbicara.
    Dengan demikian untuk mengatasi akar permasalahan yang ada, adanya media pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkanlah yang sangat diperlukan siswa untuk dapat membantu siswa merangsang peningkatan kemampuan berceritanya. Dengan adanya media pembelajaran yang inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan ini diharapkan nantinya siswa akan dapat belajar berbahasa dengan mudah tanpa adanya perasaan terpasung, kaku, monoton, dan membosankan. Proses pembelajaran yang berjalan nantinya juga diharapkan akan semakin seru dan menjadi pembelajaran yang sangat disenangi siswa bahkan sangat dinanti dan dirindukan.
    Fokus penelitian ini ialah dalam upaya untuk mengatasi rendahnya keterampilan bercerita siswa yang disebabkan karena kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran berbicara yang diduga menjadi faktor utama penyebab kegagalan siswa MTs Ihya Ulumuddin Bilas, khususnya kelas VII. Dan beberapa alternatif pilihan media pembelajaran yang dinilai mampu merangsang kemampuan berpikir siswa ialah dengan media foto idola atau merchandise lain yang dimiliki tentang idolanya.
    Kedua media pembelajaran tersebut mempunyai porsi manfaat yang sama, yakni dapat merangsang kemampuan berpikir siswa dalam mengungkapkan ide / pendapatnya dengan sangat menyenangkan. Namun media foto idola dinilai lebih efektif karena meminimalisasi kemungkinan munculnya adu gengsi antar siswa apabila mereka harus membawa mercandise dari idolanya. Sebab tidak semua siswa memiliki merchandise yang mereka nilai layak untuk dipertunjukkan di muka umum sebagai bukti cinta mereka kepada idolanya.
    Sedangkan apabila menggunakan foto idola sebagai media pembelajaran alternatif, kemungkinan munculnya adu gengsi tersebut dapat di minimalisasi sebab foto merupakan media yang umum dan biasa dipertunjukkan sebagai bukti cinta seseorang kepada idolanya.
    Dan satu dari dua media pembelajaran alternatif yang diduga paling efektif, inovatif, dan mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang diinginkan oleh siswa ialah dengan foto idola yang dimiliki siswa. Melalui media foto idola, siswa diajak untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas berpikirnya tentang segala hal yang mereka ketahui dan ada pada diri idolanya. Dengan menggunakan media foto, diharapkan siswa lebih merasa senang dan mudah untuk mengungkapkan ide / pendapatnya dalam suasana yang interaktif, menarik dan menyenangkan.
    Yang tidak kalah pentingnya, para siswa juga akan mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, mampu menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, serta mampu memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
    Oleh karena itu, berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, maka penelitian ini mengambil judul “Peningkatan Keterampilan Bercerita dengan Menggunakan Media Foto Idola pada Siswa Kelas VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas”.

    I.2 Rumusan Masalah
    I.2.1 Masalah Umum
    Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah umum dalam penelitian ini ialah bagaimana peningkatan keterampilan bercerita dengan menggunakan media foto idola pada siswa kelas VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas ?

    I.3 Tujuan Penelitian
    Sejalan dengan rumusan masalah, tujuan penelitian ini ada dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
    I.3.1 Tujuan Umum
    Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah penelitian, secara umum tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah untuk mendapatkan gambaran peningkatan keterampilan bercerita dengan menggunakan media foto idola pada siswa kelas VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas.
    I.3.2 Tujuan Khusus
    Secara khusus, tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini ialah sebagai berikut:
    1. Untuk mendapatkan gambaran aktivitas guru kelas VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas dalam pembelajaran bercerita dengan media foto idola.
    2. Untuk mendapatkan gambaran aktivitas siswa kelas VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas dalam pembelajaran bercerita dengan media foto idola.
    3. Untuk mengetahui respon siswa kelas VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas terhadap pembelajaran bercerita dengan media foto idola.
    I.4 Manfaat penelitian
    Manfaat dari hasil penelitian ini ialah:
    1. Bagi Guru
    Dengan diadakannya penelitian tindakan kelas ini, guru dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya dengan menerapkan media foto idola untuk meningkatkan keterampilan siswa.
    2. Bagi Siswa
    Penelitian ini akan bermanfaat bagi siswa untuk meningkatkan keterampilannya dalam bercerita. Siswa akan lebih tertarik dalam bercerita dan akan lebih mudah melaksanakan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan bercerita dengan media foto idola.
    3. Bagi Sekolah
    Penelitian ini akan memberi sumbangan bagi sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran.

    I.5 Indikator Keberhasilan
    Indikator keberhasilan penelitian dengan judul “Meningkatan Keterampilan Bercerita Dengan Menggunakan Media Foto Idola Pada Siswa Kelas VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas” ialah apabila kemampuan bercerita siswa dapat meningkat. Siswa dapat dengan terampil dan lancar bercerita secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku. Sehingga siswa dapat bercerita dengan menggunakan bahasa yang baik dan santun serta penggunaan intonasi, lafal, penjedaan, ekspresi serta gerak tubuh yang sesuai. Kualitas siswa dan guru dari setiap siklus meningkat sehingga hasil pembelajaran juga meningkat dan nilai rata-rata siswa mencapai 70

    II. Kajian Pustaka
    II.1 APenelitian
    Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan kemampuan bercerita siswa.
    Penelitian tersebut meneliti tentang kemampuan bercerita siswa dan berbeda dengan penelitian kali ini, sebab dalam penelitian kali ini menggunakan media gambar yang lebih dispesifikkan pada foto idola siswa. Diperoleh hasil bahwa kemampuan bercerita siswa dapat ditingkatkan. Hal tersebut nampak pada data kuantitatif yang diperoleh. Sebelum dilakukan penelitian hingga setelah dilakukannya penelitian pasa siklus I, II, III selalu meningkat. Mulai dari nilai rata-rata 62,68 meningkat menjadi 77,60 dan pada siklus terakhir kemampuan bercerita siswa meningkat.

    II.2 Berbicara
    Sebagai makhluk yang diciptakan dengan sempurna, sejatinya manusia menguasai keempat aspek berbahasa untuk kepentingan berkomunikasi dengan individu di luar dirinya. Keempat keterampilan tersebut ialah menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dan keterampilan itu akan dapat dikuasai dengan baik, apabila juga dilakukan kegiatan berupa latihan-latihan yang erat kaitannya dengan keterampilan berbahasa tersebut.
    Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf, 1997:1). Sebagai alat komunikasi, bahasa mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, khususnya dalam berhubungan dengan anggota masyarakat lainnya. Selain itu, bahasa juga sebagai sarana untuk mengekspresikan diri, alat interaksi dan adaptasi, dan alat mengontrol masyarakat.
    Kemampuan berbahasa akhirnya menjadi penting, karena peranan yang pokok dari bahasa dalam masyarakat. Aspek-aspek bahasa penting sekali untuk dikembangkan, baik di masyarakat maupun di sekolah. Aspek-aspek tersebut meliputi aspek mendengar/menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Bila seseorang mahir dalam aspek-aspek tersebut maka dapat dikatakan orang itu mahir berbahasa.
    Kemampuan dan keterampilan berbicara mungkin merupakan keterampilan dasar berbahasa yang paling tidak mudah dimanipulasi konsep ‘unjuk kerja’ yang dijadikan tolok ukur. Seseorang tidak mungkin memoles kemampuan berbicaranya, khususnya bahasa asing, dalam semalam saja seandainya besok ia harus mengikuti tes berbicara. Kemampuan berbicara seseorang diperoleh dalam jangka waktu lama dan dengan usaha yang tidak kenal lelah.
    Berbicara satu sama lain, yang adalah salah satu bentuk komunikasi paling mudah yang dapat dilakukan oleh manusia melalui media bahasa, menurut Brown dan Yule (1983) seperti yang dikutip oleh Nunan (1989:27) ternyata menimbulkan implikasi pembagian fungsi bahasa ke dalam dua kategori yaitu : (1) kategori fungsi transaksional dan (2) kategori fungsi interaksional. Fungsi transaksional mementingkan transfer informasi sedangkan fungsi interaksional mementingkan fakta bahwa kegunaan utama ujaran adalah mempertahankan hubungan sosial.
    Pengembangan keterampilan berbicara harus dibedakan antara kegiatan yang bersifat monolog atau dialog. Keterampilan yang harus dimiliki dalam kegiatan monolog seperti bercerita ternyata memang berbeda jika dibandingkan dengan keterampilan dalam kegiatan yang bersifat dialog seperti diskusi, seminar, dan lain-lain. Dalam kegiatan berbicara yang bersifat monolog, interupsi dari luar dapat dikatakan tidak ada, sedangkan pada kegiatan yang bersifat dialog, dalam artian kegiatan berinteraksi dengan satu atau lebih pembicara untuk kepentingan yang bersifat transaksional maupun interaksional, peluang terjadinya interupsi sangatlah besar dan keterampilan untuk melakukan hal seperti ini, seperti yang dikatakan oleh Brown dan Yule dan kemudian dikutip oleh Nunan (1989:27) tidak dapat diperoleh begitu saja melainkan harus ‘dipelajari’ dan ‘dilatih’.
    Dua istilah ini, ‘dipelajari’ dan ‘dilatih’, mungkin merupakan istilah dan elemen kunci yang tidak memungkinkan seseorang memanipulasi dan memoles keterampilan berbicaranya dalam ‘waktu semalam’. Pernyataan ini tidak jauh berbeda dengan apa yang disarankan oleh Brown dan Yule (dalam Nunan, 1989: 27) bahwa pengajaran bahasa unutk ranah ‘keterampilan berbicara’ sebaiknya memfokuskan perhatiannya pada pengembangan ketarampilan melakukan dialog yang memang saling mempertukarkan kegiatan interaksional.
    Salah satu ciri yang dapat ditunjukkan oleh seseorang yang menguasai keterampilan interaksional, seperti yang dikatakan oleh Wells (dalam Nunan, 1989:29), adalah ketika orang tersebut mampu mengetahui kapan dia harus berbicara serta, ini mungkin yang palin penting, mampu menghubungkan secara sistematis elemen-elemen atau satuan-satuan percakapan dan dialog yang dilakukan.
    Menurut Tarigan (1987:15) berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Dari perluasan batasan ini dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar dan yang kelihatan yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan.
    Lebih jauh lagi berbicara adalah bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologist, semantik, dan linguistik sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat komunikasi yang paling penting bagi kontrol sosial.
    Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi, agar dapat menyampaikan pesan secara efektif, maka seyogyanyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan.
    Berbicara menurut Hendrikus (1987:14) berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi motivasi). Berbicara adalah suatu kemampuan khusus manusia. Oleh karena itu berbicara itu setua umur bangsa manusia itu sendiri. Berbicara yang baik dan efektif adalah mengucapkan kata atas cara yang efektif, pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat pula. Pepatah Cina mengatakan “Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai berbicara”.
    Berbicara pada akhirnya dapat dijadikan ukuran kepintaran seseorang. “Tong kosong berbunyi nyaring”, itulah pepatah Indonesia yang menggambarkan orang yang banyak bicara tapi tidak mampu berbicara dengan isi dan cara yang baik, hanya ibarat “tong” tanpa isi air sedikit pun. Oleh karena itu, berbicara yang tepat dan baik adalah prasyarat mutlak bagi komunikasi dalam masyarakat.
    Dalam berbicara sehari-hari, ada beberapa topik yang biasanya dibicarakan. Menurut Oka (1990:1) ada beberapa topik yang biasanya dijadikan sumbernya, yaitu: (1) ungkapan dari yang bersangkutan dengan buah pikiran, cetusan, perasaan, kemauan, cita, fantasi dan imajinasi (2) pengetahuan dan pengalaman, baik milik sendiri atau milik orang lain (3) lingkungan sekitar dan alam raya.
    Unsur-unsur ketiga sumber itulah yang diolah menjadi tutur dan kemudian diteruskan kepada orang lain dengan berbagai label misalnya lawakan, dongeng, ceramah, pidato, khotbah, drama, puisi, prosa, dan lain sebagainya.
    Berbicara dibagi menjadi dua bidang umum yaitu: (1) berbicara terapan atau berbicara fungsional, dan (2) pengetahuan dasar berbicara dengan kata lain menurut Tarigan (1987:21), berbicara dapat dilihat sebagai seni dan ilmu. Sebagai seni maka berbicara menekankan pada penerapannya sebagai alat komunikasi dalam masyarakat, dan butir-butir yang mendapat perhatian antara lain: (1) berbicara di muka umum (2) semantik: pemahaman makna kata (3) diskusi kelompok (4) argumentasi (5) debat (6) penafsiran lisan (7) seni drama (8) berbicara melalui udara.
    Dan kalau memandang berbicara sebagai ilmu maka hal-hal yang perlu ditelaah antara lain: (1) mekanisme bicara dan mendengarkan (2) latihan dasar bagi ujaran dan suara (3) bunyi-bunyi bahasa (4) bunyi-bunyi dalam rangkaian ujaran (6) diftong-diftong (7) konsonan-konsonan.
    Keterampilan dan kesanggupan untuk menguasai seni berbicara ini dapat dengan mencontoh para retor yang terkenal (imitatio), dengan mempelajari dan mempergunakan hukum-hukum retorika (doctrina) dan dengan melakukan latihan yang teratur (exercitium). Dalam seni berbicara dituntut juga penguasaan bahan dan pengungkapan yang tepat melalui bahasa. Dengan demikian pengetahuan akan retorika akan membantu berbicara dalam situasi formal.

    II.3 Bercerita
    Proses pemerolehan bahasa bukanlah sesuatu yang sederhana. Di dalam pengalaman setiap manusia yang normal, berbahasa adalah proses kognitif yang rumit. Proses ini mensyaratkan kematangan otak dan kematangan alat-alat ucap. Ada sejumlah tahap yang terjadi dalam otak manusia sampai ia menghasilkan ujaran. Di dalam hal ini, tingkat kemampuan memahami pada manusia jauh lebih besar daripada kemampuannya untuk memproduksi bahasa. Dengan demikian, kemampuan mereka untuk menghasilkan ujaran terjadi lebih belakangan dibandingkan dengan kemampuan mereka memahami ujaran.
    Salah satu fase penting dalam pemerolehan bahasa yang berkaitan erat dengan pemelajaran bahasa adalah fase imitasi. Pada fase imitasi, anak-anak akan meniru orang-orang di sekitarnya untuk berbicara. Dalam fase inilah anak-anak mengasah keterampilan mereka dalam bercerita.
    Cerita, mendengarkan cerita, dan bercerita adalah aspek yang sangat penting dalam pemerolehan bahasa. Keakraban anak pada bentuk-bentuk cerita merupakan nilai penting dalam proses pemerolehan bahasa. Pengalaman anak yang diperoleh dengan mendengarkan cerita dapat memperkaya perbendaharaan kata. Selain itu, anak juga memperoleh pengetahuan mengenai ragam bahasa, dalam hal ini ada ragam formal yang biasanya terdapat dalam bahasa tulis, dan ragam informal dalam bahasa lisan. Keterampilan bercerita, seperti menyampaikan informasi faktual secara jelas, merupakan keterampilan yang tidak diperoleh dengan sendirinya.
    Bercerita dapat diartikan sebagai menuturkan sesuatu hal, misalnya terjadinya sesuatu, kejadian yang sesungguhnya terjadi ataupun yang rekaan, atau lakon yang diwujudkan dalam gambar. Kegiatan bercerita sangat fungsional. Bercerita dapat berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan berupa penjelasan, gambaran sesuatu hal, menghibur, dan meningkatkan keterampilan berbicara.
    Interaksi antara pembicara dan pendengar dalam kegiatan bercerita berjalan searah. Pembicaranya menyampaikan pesan sedang pendengar menerima pesan tanpa dapat berinteraksi langsung kepada pembicara. Oleh karena itu, interaksi antara pembicara dan pendengar dalam kegiatan bercerita disebut satu arah.
    Bercerita menjadi sangat penting dalam proses pemerolehan bahasa karena melalui bercerita anak-anak dapat mengolah kembali semua bentuk pengalaman mereka dalam bahasa. Melatih anak untuk bercerita berarti melatih mereka untuk berani berbicara di depan orang lain. Menurut Wray dan Medwell (1991), dengan bercerita, atau merangkai peristiwa dalam ujaran, anak-anak memperoleh kesempatan mengungkapkan hal yang sudah terjadi, menyampaikan apa yang sedang terjadi, dan meramalkan apa yang akan terjadi.
    Dengan bercerita, anak-anak juga belajar menyesuaikan persepsinya dengan persepsi orang lain. Pada saat yang sama, anak-anak lain berlatih untuk menyimak cerita. Keterampilan ini tampaknya mudah, namun dalam pelaksanaannya dapat menjadi sangat sulit untuk dimulai. Di sinilah peran guru untuk mendorong anak agar belajar menghormati orang yang sedang berbicara.
    Kegiatan berbicara banyak dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam GBPP Sekolah Dasar banyak ditemukan pembelajaran bahasa yang berkaitan dengan bercerita. Di luar sekolah pun, kegiatan bercerita banyak pula dilakukan, misalnya orang tua bercerita pada anaknya menjelang tidur, menceritakan pengalaman, pengamatan atau terjadinya sesuatu kepada orang lain.
    Peningkatan keterampilan bercerita harus melalui latihan bercerita yang teratur, sistematis, dan berkesinambungan. Guru harus terampil merancang langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran bahasa yang berkaitan dengan bercerita. Guru juga harus menilai kegiatan bercerita siswa saat bercerita itu sedang berlangsung. Butir-butir penilaian dalam bercerita diarahkan kepada butir-butir ketepatan isi cerita, jalan cerita, penggunaan bahasa, dan kelancaran bercerita.
    Pada saat menceritakan isi gambar, selain dituntut memiliki kepekaan dan daya imajinasi, anak didik juga dituntut menguasai kosakata serta kemampuan dalam penggunaan kata sehingga menghasilkan kalimat sederhana. Berkaitan dengan perbedaan penguasaan kosakata, penggunaan kata serta kemampuan anak didik dalam menyusun kalimat maka antara anak yang satu dengan yang lain dalam mengungkapkan ide atau gagasan yang sama, bisa jadi berlainan dalam penyusunan kalimat yaitu mengenai pola dan jenis kalimat.

    II.4 Media
    II.4.1 Pengertian Media
    Media sebagai alat komunikasi akan menghasilkan pengaruh baik sosial maupun psikologis pada pendengar dan pembacanya. Yang dimaksud dengan media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran pada khususnya. Media merupakan perantara / pengantar dari pengirim kepada penerima pesan.
    Media adalah segala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagai alat untuk proses komunikasi dalam proses belajar mengajar (KBBI, 2004:2075). Dalam proses belajar mengajar, media yang digunakan untuk memperlancar komunikasi disebut dengan media instruksional edukatif. Ahmad Rohani (1997:3) dalam bukunya menyatakan bahwa media instruksional edukatif adalah segala jenis sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan instruksional.
    Pada hakikatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi. Proses komunikasi atau penyampaian pesan harus diciptakan oleh guru dan siswa. Pesan atau informasi dapat berupa pengetahuan, keahlian, skill (kemampuan), ide dan pengalaman. Agar pesan atau informasi melalui proses komunikasi dapat diserap atau dihayati orang lain digunakan sarana yang disebut dengan media (Ahmad, 1997:1).
    Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil simpulan bahwa pada dasarnya media adalah segala sesuatu yang dijadikan sebagai alat untuk mempermudah atau mencapai tujun yang diinginkan, dalam hal ini adalah dalam bidang pendidikan.
    II.4.2 Fungsi Media
    Seperti telah dikemukakan bahwa media instruksional edukatif mempunyai fungsi yang cukup berarti dalam proses belajar mengajar (Ahmad, 1997:9) antara lain: menyampaikan informasi dalam proses belajar mengajar, memperjelas informasi pada waktu tatap muka dalam proses belajar mengajar, melengkapi dan memperkaya informasi dalam kegiatan belajar mengajar, mendorong motivasi belajar, menambah variasi dalam menyajikan materi,menambahi pengertian nyata tentang suatu pengetahuan, memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak diberikan guru serta membuka cakrawala yang lebih luas, sehingga pendidikan bersifat produktif, memungkinkan peserta didik memiliki kegiatan belajar sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakat, mendorong terjadinya interaksi langsung antara peserta didik dengan guru, peserta didik dengan sesama peserta didik, dan peserta didik dengan lingkungannya, mudah dicerna dan tahan lama dalam menyerap pesan, dan dapat mengatasi watak yang berbeda.
    II.4.3 Gambar
    Media visual yang sering digunakan dalam penyampaian materi pelajaran adalah gambar. Gambar dapat memberikan nilai yang sangat berarti, terutama dalam membentuk pengertian baru dan untuk memperjelas pengertian baru, dan untuk memperjelas pengertian tentang sesuatu. Di samping itu, penggunaan media gambar dapat menimbulkan daya tarik bagi siwa, sehingga dengan demikian dapat memberikan siswa lebih senang belajar. Pada akhirnya akan memberikan hasil belajar yang lebih baik.
    Gambar adalah tiruan barang (orang, binatang, tumbuhan) yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas (KBBI, 2004:2031). Dari sumber-sumber yang lain diperoleh beberapa pengertian gambar, diantaranya ialah:
    a. Media gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual kedalam bentuk 2 dimensi sebagai curahan ataupun pikiran yang bermacam-macam seperti lukisan, potret, slide, film, strip, opaque proyektor ( Hamalik, 1994 : 95 )
    b. Media gambar adalah media yang paling umum dipakai, yang merupakan bahasan umum yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana saja ( Sadiman, 1996 : 29 )
    c. Media gambar merupakan peniruan dari benda-benda dan pemandangan dalam hal bentuk, rupa serta ukurannya relatif terhadap lingkungan ( Soelarko, 1980 : 3 )
    Gambar sangat penting digunakan dalam usaha memperjelas pengertian pada anak didik, sehingga dengan menggunakan gambar peserta didik dapat lebih memperhatikan terhadap benda-benda atau hal-hal yang belum pernah dilihatnya yang berkaitan dengan pelajaran.
    Penggunaan media gambar dalam proses belajar-mengajar akan memberikan hasil yang optimal apabila digunakan secara tepat, dalam arti sesuai dengan materi pelajaran dan mendukung. Gambar dapat membantu guru dalam mencapai tujuan instruksional, karena gambar termasuk media yang mudah dan murah serta besar artinya untuk mempertinggi nilai pelajaran. Karena gambar, pengalaman dan pengertian peserta didik menjadi luas, lebih jelas dan tidak mudah dilupakan, serta konkret dalam ingatan peserta didik.
    Adapun manfaat media gambar dalam proses instruksional adalah menyampaikan dan menjelaskan mengenai informasi, pesan, ide, dan sebagainya. Dengan tanpa banyak menggunakan bahasa-bahasa verbal, tetapi dapat lebih memberi kesan (Ahmad, 1997:76)
    II.4.4 Manfaat Media Gambar
    Media gambar sebagai media pembelajaran memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Media gambar dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan siswa dalam belajar. Ada beberapa manfaat media gambar menurut Ahmad (1997:76) antara lain sebagai berikut: menimbulkan daya tarik siswa. Gambar dengan berbagai warna akan lebih menarik dan membangkitkan perhatian serta minat siswa, mempermudah pengertian anak. Suatu penjelasan yang sifatnya abstrak, dapat dibantu dengan gambar sehingga lebih mudah memahami apa yang dimaksud, memperjelas bagian-bagian yang penting. Melalui gambar, dapat diperbesar bagian-bagian yang penting atau kecil sehingga dapat diamati lebih jelas, mengingat suatu uraian. Suatu informasi yang dijelaskan dengan kata-kata mungkin membutuhkan uraian panjang. Uraian tersebut dapat ditunjukkan melalui sebuah media gambar.
    Menurut Sudjana (2001 :12) manfaat media gambar adalah sebagai berikut :
    a. Ilustrasi gambar merupakan perangkat tingkat abstrak yang dapat ditafsirkan berdasarkan pengalaman dimasa lalu, melalui penafsiran kata-kata.
    b. Ilustrasi gambar merupakan perangkat pengajaran yang dapat menarik minat belajar siswa secara efektif.
    c. Ilustrasi gambar membantu para siswa membaca buku pelajaran terutama dalam penafsiran dan mengingat-ingat materi teks yang menyertainya.
    d. Dalam booklet, pada umumnya anak-anak lebih menyukai setengah atau 1 halaman penuh bergambar disertai beberapa petunjuk yang jelas.
    e. Ilustrasi gambar isinya harus dikaitkan dengan kehidupan nyata, agar minat para siswa menjadi efektif.
    f. Ilustrasi gambar isinya hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan gerakan mata pengamat dan bagian-bagian yang paling penting dari ilustrasi itu harus dipusatkan pada bagian sebelah kiri atas medan gambar.
    II.4.5 Fungsi Media Gambar
    Pemanfaatan media pembelajaran ada dalam komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya untuk mempertinggi proses interaksi guru-siswa dan interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya. Oleh sebab itu fungsi utama dari media pembelajaran adlah sebagai alat bantu mengajar yang dipergunakan guru. Secara garis besar fungsi utama penggunaan media gambar adalah :
    a. Fungsi edukatif; artinya mendidik dan memberikan pengaruh positif pada pendidikan.
    b. Fungsi sosial; artinya memberikan informasi yang autentik dan pengalaman berbagai bidang kehidupan dan memberikan konsep yang sama kepada setiap orang.
    c. Fungsi ekonomis; artinya memberikan produksi melalui pembinaan prestasi kerja secara maksimal.
    d. Fungsi politis; berpengaruh pada politik pembangunan.
    e. Fungsi seni budaya dan telekomunikasi, yang mendorong dan menimbulkan ciptaan baru, termasuk pola usaha penciptaan teknologi kemediaan yang modern (Hamalik, 1994 : 12)
    Fungsi-fungsi tersebut diatas terkesan masih bersifat konseptual. Fungsi praktis yang dijalankan oleh media pengajaran adalah sebagai berikut :
    a. Mengatasi perbedaan pengalaman pribadi pesrta didik, misalnya kaset video rekaman kehidupan di luar sangat diperlukan oleh anak yang tinggal didaerah pegunungan.
    b. Mengatasi batas ruang dan kelas, misalnya gambar tokoh pahlawan yang dipasang diruang kelas.
    c. Mengatasi keterbatasan kemampuan indera
    d. Mengatasi peristiwa alam, misalnya rekaman peristiwa letusan gunung berapi untuk menerangkan gejala alam.
    e. Menyederhanakan kompleksitas meteri.
    f. Memungkinkan siswa mengadakan kontak langsung dengan masyarakat atau alam sekitar (Rohani ,1997 : 6-7).
    II.4.6 Karakteristik Media Gambar
    Menurut Rahadi ( 2003 : 27-28) ada beberapa karakteristik media gambar :
    1. Harus autentik, artinya dapat menggambarkan obyek atau peristiwa seperti jika siswa melihat langsung
    2. Sederhana, komposisinya cukup jelas menunjukkan bagian-bagian pokok dalam gambar tersebut
    3. Ukuran gambar proporsionsl, sehingga siswa mudah membayangkan ukuran yang sesungguhnya benda atau objek yang digambar.
    4. Memadukan antara keindahan dengan kesesuiannya untuk mencapai tujuan 5. Gambar harus message. Tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus. Sebagai media yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

    II.5 Foto
    Dewasa ini gambar fotografi secara luas bisa diperoleh dari berbagai sumber, misalnya dari surat-surat kabar, majalah-majalah, brosur-brosur dan buku-buku. Gambar, lukisan, kartun, ilustrasi, foto yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut dapat digunakan oleh guru secara efektif dalam kegiatan belajar- mengajar, pada setiap jenjang pendidikan dan berbagai disiplin ilmu. Gambar fotografi itu pada dasarnya membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya pada pelajaran. Membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, kegiatan seni, dan pernyataan kreatif dalam bercerita, dramatisasi, bacaan, penulisan, melukis dan menggambar, serta membantu mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku teks. Demikian pula pemahaman pengertian mengenai kemasyarakatan bisa diperoleh dari gambar fotografi, dan dalam situasi tertentu gambar fotografi merupakan sumber terbaik untuk tujuan penelitian atau penyelidikan. Gambar fotografi seperti halnya media instruksional lainnya, harus dipilih dan dipergunakan sesuai dengan tujuan khusus mata pelajaran, artinya tidak bisa gambar-gambar itu hanya dipertunjukkan secara tersendiri, melainkan harus dipadukan kepada mata pelajaran tertentu. Namun demikian, terlalu banyak mempergunakan gambar pada saat yang sama akan merugikan proses belajar-mengajar, oleb sebab itu pilihlah gambar-gambar fotografi inti yang dapat mengembangkan pemahaman bagi para siswa.
    Bila dikategorikan sebagai media pembelajaran, maka foto termasuk ke dalam kategori media visual. Menurut Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Dale’s Cone of Experience) media visual ini, memiliki 20% tingkat keefektifan yang lebih tinggi dibandingkan sekedar membaca tulisan. Atau dengan kata lain, orang-orang akan mengingat sebanyak 30% dari apa yang mereka lihat (orang-orang hanya mengingat 10% dari apa yang mereka baca). Maka dari itu, bila digunakan sebagai media pembelajaran, foto akan menambah kualitas proses pembelajaran, yang berimbas pada peningkatan pengetahuan secara efektif pada peserta belajar.

    II.5.1 Keunggulan Media Foto
    Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari gambar fotografi dalam hubungannya dengan kegiatan pengajaran, antara lain:
    1. Mudah dimanfaatkan di dalam kegiatan belajar mengajar, karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa.
    2. Harganya relatif lebih murah daripada jenis-jenis media pengajaran lainnya, dan cara memperolehnya pun mudah sekali tanpa perlu mengeluarkan biaya. Dengan memanfaatkan kalender be-kas, majalah, surat-kabar dan bahan-bahan grafis lainnya.
    3. Gambar fotografi bisa dipergunakan dalam banyak hal, untuk berbagai jenjang pengajaran dan berbagai disiplin ilmu. Mulai dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi, dari ilmu-ilmu sosial sam-pai ilmu-ilmu eksakta.
    4. Lebih Kongkrit / Realistik, gambar fotografi dapat menerjemahkan konsep atau gagasan yang abstrak menjadi lebih realistik. Menurut Edgar Dale, gambar fotografi dapat mengubah tahap-tahap pengajaran, dari lambang kata (verbal symbols)beralih kepada tahapan yang lebih kongkret yaitu lambang visual (visual symbols).
    II.5.2 Kelemahan Media Foto
    Sekalipun demikian setiap media pengajaran selalu mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu, begitu juga halnya dengan gambar fotografi. Kelemahannya antara lain:
    1. Beberapa gambarnya sudah cukup memadai akan tetapi tidak cu-kup besar ukurannya bila dipergunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar, kecuali bilamana diproyeksikan melalui proyektor opek.
    2. Gambar fotografi adalah berdimensi dua, sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga. Kecuali bilamana dilengkapi dengan beberapa sen gambar untuk objek yang sama atau adegan yang diambil dilakukan dari berbagai sudut pemotretan yang berlainan.
    3. Gambar fotografi bagaimana pun indahnya tetap tidak memper-lihatkan gerak seperti halnya gambar hidup. Namun demikian, beberapa gambar fotografi sen yang disusun secara berurutan dapat memberikan kesan gerak dapat saja dicobakan, dengan mak-sud guna meningkatkan daya efektivitas proses belajar-mengajar.

    II.5.3 Karakteristik Media Foto
    Setiap guru hendaknya mengetahui media pengajaran mana yang dapat mencapai hasil paling baik dalam situasi pengajaran yang diharapkannya. Untuk itu setiap guru harus mengenal secara tepat keuntungan serta kelemahan darisetiap media pengajaran yang akan dipergunakannya. Demikian pula halnya dengan gambar fotografi ini memiliki beberapa karakteristik tertentu, antara lain:
    1. Gambar foto itu adalah dua dimensi, dan dari sudut pembelajaran hal itu menjadi amat penting, terutama bagi para siswa muda usia, atau untuk mata pelajaran yang rumit. Semua jenis gambar datar itu ditinjau dari sudut mata pelajaran dimana kedalaman perlu diperhatikan dan dipahami, maka gambar harus memiliki kualitas tiga dimensi yang memadai untuk tujuan pengajaran. Untuk itu ahli fotografi mempunyai cara-cara tertenu dalam menciptakan gambar-gambarnya dengan membuat garis-garis perspektif, mengurangi jumlah latar belakang yang kontras sehinggamemberikan dampak tiga dimensional.
    2. Gambar datar adalah medium yang “diam” oleh sebab itu dalam hal ini seringkali dipergunakan istilah gambar tetap atau gambar diam untuk menyatakan bahwa gambar itu tidak bergerak. Pemandangan, gunung-gunung, hutan atau pohon-pohonan, bangunan, objek, binatang atau manusia, dalam posisi diam merupakan subjek natural yang baik sekali untuk gambar datar.
    3. Gambar datar dapat memberi kesan gerak, misalnya gambar yang memperlihatkan adegan di jalan raya sangat efektif. Orang-orang yang lalu lalang, kendaraan yang lewat, pohon-pohon yang bergoyang ditiup angin. Semua itu tidak sukar bagi para pengamat dalam menghayati gerak dari adegan yang diperlihatkan pada gambar tersebut.
    4. Gambar datar menekankan gagasan pokok dan impresi, bahwa untuk menilai dan memilih gambar datar yang baik harus menampilkan satu gagasan utama. Dengan satu pusat perhatian maka seluruh adegan akan mendukung kepada pesan apa yang ingin disampaikan. Jadi, dengan adanya impresi atau tekanan pada satu gagasan pokok nilai gambar menjadi sangat berarti dalam pengajaran.
    5. Gambar datar memberi kesempatan untuk diamati rinciannya secara individual, misalnya hasil pemotretan jagat raya dengan benda-benda langitnya, memerlukan pengamatan rincian gambar yang tekun.
    6. Gambar datar dapat melayani berbagai mata pelajaran, segala macam objek dapat dipotret dari yang kongkrit sampai kepada gagasan yang abstrak.

    II.6 Penelitian Tindakan Kelas
    Menurut Suyanto dalam Ardiana dan Kisyani Laksono, mendefinisikan PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara profesional.
    Hal serupa dikemukakan oleh Stephen Kemmis (dalam Ardiana dan Kisyani, 2004:4) menyatakan PTK sebagai suatu bentuk penelaahan atau inquirii melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial 9termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (1) praktek-praktek sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri, (2) pemahaman mereka terhadap praktek-praktek tersebut, dan (3) situasi di tempat praktek itu dilaksanakan.
    Beberapa definisi PTK di atas, dapat diambil simpulan bahwa PTK merupakan penelitian yang bersifat reflektif yang dilakukan sebagai usaha untuk memperbaiki masalah-masalah yang ada dalam kelas dan meningkatkan pembelajaran yang sudah ada sebelumnya.
    Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam empat tahap, yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, (4) refleksi.
    II.6.1 Karakteristik PTK
    Menurut Suyanto 91997), PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut: pertama, permasalahannya diangkat atau diambil dari dalam kelas tempat guru mengajar yang benar-benar dihayati oleh guru sebagai masalah yang harus diatasi.
    Kedua, PTK ialah penelitian yang bersifat kolaboratif. Guru tidak harus sendirian berupaya memperbaiki praktis pembelajarannya. Ia dapat dibantu oleh pakar pendidikan, atau bahkan guru lain.
    Ketiga, PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas sedangkan Hopkins (dalam Ardiana dan Kisyani, 2004:10) mengatakan PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut: pertama, perbaikan praktis pembelajaran dari dalam. Kedua, usaha kolaboratif antara guru dan dosen. Ketiga, bersifat reflektif.
    Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan PTK berasal dari dalam kelas dan berusaha mencari upaya pemecahannya dengan dibantu orang lain atau kolaboratif antara guru, dosen atau pakar pendidikan.

    II.6.2 Prinsip-rinsip PTK
    Untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK) ini ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang peneliti, yaitu prinsip-prinsip PTK.
    Hopkins (dalam Ardiana dan Kisyani, 2004:11) menyatakan ada enam prinsip penting dalam PTK. Prinsip tersebut sebagai berikut:
    1. PTK tidak boleh mengganggu kegiatan guru mengajar.
    2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menyita banyak waktu, sehingga proses belajar mengajar tidak terganggu.
    3. Metode yang digunakan harus andal, sehingga dapat diterapkan di kelas.
    4. Masalah penelitian yang diangkat guru merupakan masalah yang benar-benar merisaukan.
    5. Dalam menyelenggarakan PTK guru harus selalu bersikap konsisten terhadap prosedur etika.
    6. Permasalahan yang diangkat merupakan masalah yang berhubungan dengan visi dan misi sekolah.
    II.6.3 Tujuan PTK
    Tujuan penelitian tindakan kelas ini tidak lain adalah untuk memperbaiki praktis pembelajaran. Dengan PTK diharapkan kualitas proses belajar mengajar menjadi lebih baik. Secara lebih luas PTK juga merupakan sarana untuk dapat meningkatkan pelayanan sekolah secara keseluruhan terhadap anak didik dan masyarakat.
    Dasar utama dilaksanakan PTK adalah untuk perbaikan pembelajaran khususnya dan perbaikan program sekolah pada umumnya. PTK pada dasarnya juga merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan keterampilan penanggulangan berbagai masalah yang muncul di kelas atau sekolah dengan atau tanpa masukan khusus berupa berbagai program pelatihan eksplisit.
    II.6.4 Manfaat PTK
    Dari tujuan PTK, jelaslah bahwa PTK sangat bermanfaat untuk mengembangkan proses belajar mengajar di kelas. Berdasarkan pengetahuan tentang teori belajar mengajar yang sesuai dengan bidang studi, mengembangkan teknik, metode, atau pendekatan yang akan terus dikaji untuk melihat efektivitasnya di kelas, di tempat guru mengajar. Hal itu dapat terus dilakukan setiap tahun karena akan berhadapan dengan anak-anak yang berbeda-beda, baik tingkat kelas, usia, latar sosial budaya, maupun latar kecerdasannya.
    Secara garis besar, Suyanto (dalam Ardiana dan Kisyani, 2004:14) menyatakan bahwa manfaat PTK adalah sebagai berikut: 91) memberi inovasi pembelajaran, (2) mengembangkan kurikulum ditingkat sekolah dan kelas, dan (3) meningkatkan profesionalitas guru dalam kegiatan belajar mengajar.

    III. Metode Penelitian
    III.1 Rancangan Penelitian
    Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Tujuan utama PTK ialah perbaikan dan peningkatan layanan pembelajaran. Dalam hal ini peneliti bertujuan memperbaiki atau meningkatkan pembelajaran menceritakan tokoh idola melalui media pembelajaran foto idola.
    PTK merupakan suatu jenis penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas. Dalam proses penelitian guru sebagai peneliti memikirkan apa yang terjadi di kelas san mengapa hal tersebut terjadi. Kemudian guru mencari pemecahannya dengan tindakan-tindakan pembelajaran tertentu (Suyanto dalam Ardiana, 2004:4).
    Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilakukan selama tiga siklus pembelajaran. Tiap-tiap siklus mengikuti tahapan, yakni perencanaan, implementasi tindakan, observasi dan interpretasi, analisis dan refleksi.
    1. Perencanaan
    Tahap perencanaan dalam penelitian ini meliputi:
    1.) Menyusun langkah-langkah rencana pembelajaran dengan menggunakan media foto idola.
    2.) Membuat lembar observasi untuk pengamatan aktivitas siswa di dalam kelas saat pembelajaran dengan media foto idola diterapkan untuk pembelajaran menceritakan tokoh idola dengan mengemukakan identitas dan keunggulan tokoh, serta alasan mengidolakannya dengan pilihan kata yang sesuai.
    3.) Membuat lembar respon siswa (angket) untuk mengetahui efektivitas media foto idola.
    4.) Menyediakan alat bantu (media) pembelajaran yang digunakan dalam mengoptimalkan proses pembelajaran.
    5.) Merancang alat evaluasi untuk mengukur dan mengetahui sejauh mana pemahaman dan kemampuan siswa terhadap pokok bahasan menceritakan tokoh idola dalam pembelajaran dengan menggunakan media foto idola.
    2. Implementasi dan observasi
    Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan melakukan observasi terhadap pembelajaran menceritakan tokoh idola dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Dalam penelitian ini, implementasi tindakan dirancang tiga tahap dan tiap tahapannya disebut siklus.
    Penelitian pada siklus ini dilaksanakan di kelas VII MTs Ihya Ulimuddin Bilas yang diikuti oleh 30 siswa, diantaranya laki-laki sebanyak 17 anak dan perempuan 13 anak. Guru memantau, membimbing dan menerapkan pembelajaran menceritakan tokoh idola. Siswa secara bersama-sama mengamati foto idola masing-masing, siswa mengamati dan mencari identitas khas idolanya, keunggulan tokoh idolanya serta alasan mengapa mengidolakannya. Siswa secara bergiliran bercerita tentang idolanya di muka kelas, setelah seluruh siswa tampil secara bersama-sama saling memberikan komentar.
    Penelitian pada siklus ini dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya di kelas VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas yang diikuti oleh 30 siswa, diantaranya laki-laki sebanyak 17 anak dan perempuan 13 anak. Guru mengimplementasikan hasil analisis dan refleksinya setelah menyelenggarakan pembelajaran pada siklus I, ditemukan permasalahan yang harus dipecahkan pada siklus II dengan melalui tahapan perencanaan (penyusunan rencana pembelajaran, membuat lembar observasi pengamatan guru dan siswa, membuat lembar respon siswa berupa angket, menyediakan alat bantu berupa media langsung, dan merancang alat evaluasi untuk mengukur dan mengetahui pemahaman dan kemampuan siswa terhadap materi yang diberikan), implementasi tindakan dan observasi (melaksanakan rancangan pelaksanaan pembelajaran atau yang biasa disebut RPP dan melakukan observasi terhadap pembelajaran menggunakan lembar observasi), refleksi (hasil yang didapat dalam tahap implementasi dan observasi dikumpulkan serta dianalisis, dari hasil guru dapat mengadakan refleksi), dan revisi (melakukan tinjauan ulang terhadap pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya). Siswa secara bersama-sama mengamati foto idola masing-masing, siswa mengamati dan mencari identitas khas idolanya, keunggulan tokoh idolanya serta alasan mengapa mengidolakannya. Dengan adanya pengalaman bercerita pada siklus I siswa diharapkan mengeluarkan ekspresi yang lebih baik.
    Penelitian pada siklus ini dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya di kelas VII MTs Ihya Ulimuddin Bilas yang diikuti oleh 30 siswa, diantaranya laki-laki sebanyak 17 anak dan perempuan 13 anak. Dengan menggunakan hasil analisis dan refleksi pada siklus II ini, jika masih ada kekurangan pada pelaksanaan proses pembelajaran menceritakan tokoh idola maka diperlukan refleksi dan revisi pada siklus III sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, yaitu meningkatkan keterampilan bercerita siswa kelas VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas. Siswa secara bersama-sama mengamati foto idola masing-masing, siswa mengamati dan mencari identitas khas idolanya, keunggulan tokoh idolanya serta alasan mengapa mengidolakannya. Dengan adanya pengalaman bercerita pada siklus II siswa diharapkan mengeluarkan ekspresi yang lebih baik.
    3. Refleksi
    Hasil yang didapat dalam tahap implementasi dan observasi dikumpulkan serta dianalisis. Dari hasil observasi guru yang dapat mengadakan refleksi. Dengan melihat data observasi guru yang dapat mengevaluasi diri sendiri yang dapat melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam materi menceritakan tokoh idola. Dalam refleksi juga dapat diketahui bagaimana respons atau tanggapan siswa terhadap kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan media foto idola di setiap siklusnya.
    4. Revisi
    Melakukan revisi atau tinjauan ulang serta perbaikan terhadap pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya.

    III.2 Subjek Penelitian
    Penelitian ini berjudul “Meningkatan Keterampilan Bercerita dengan Menggunakan Media Foto Idola Pada Siswa Kelas VII MTs Ihya Ulumuddin Bilas”. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MTs Ihya Ulumuddin Bilas dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VII, dengan jumlah siswa 30 anak diantaranya terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Kelas VII dipilih menjadi subjek penelitian karena menurut hasil observasi serta wawancara kolaboratif dengan guru didapatkan data bahwa kelas tersebut merupakan kelas yang memiliki nilai rata-rata yang relatif rendah dalam mencapai syarat ketuntasan dalam pembelajaran menceritakan tokoh idola.

    III.4 Data Penelitian
    Berdasarkan masalah yang ada, data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
    1. Data observasi aktivitas siswa dalam menerapkan pembelajaran bercerita dengan menggunakan media foto idola.
    2. Data observasi aktivitas guru dalam menerapkan pembelajaran bercerita dengan menggunakan media foto idola.
    3. Data hasil tes siswa yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam menceritakan tokoh idolanya dengan menggunakan media foto idola.
    4. Data respons siswa yang digunakan untuk melihat respons siswa dalam menceritakan tokoh idolanya dengan menggunakan media foto idola.

    III.5 Teknik Pengumpulan Data
    Dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik observasi, tes dan angket.
    1. Lembar Penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
    Lembar penilaian rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berisi tentang garis besar deskripsi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Penilaian rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) ini dinilai oleh pakar atau orang yang ahli dalam bidang pendidikan sebagai validatornya dan dilaksanakan sebelum pelaksanaan penelitian sehingga dapat diketahui kekurangan dan kelebihan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan penerapan media foto idola di setiap langkah-langkahnya.
    2. Lembar Observasi Aktivitas Guru
    Lembar observasi berisi pengamatan aktivitas guru dalam pembelajaran dengan menggunakan media foto idola. Format yang disusun berisi butir-butir kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi. Observasi tidak sekadar mencatat tetapi juga mengadakan pertimbangan-pertimbangan (Arikunto, 2002:204). Lembar observasi sangat diperlukan dalam kegiatan refleksi sebagai upaya untuk mengkaji keberhasilan dan kegagalan pencapaian tujuan pembelajaran pada setiap siklus dan menentukan tindak lanjut pada putaran siklus berikutnya.
    3. Lembar Observasi Aktivitas Siswa
    Lembar observasi berisi pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media foto idola. Format yang disusun berisi butir-butir kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi. Observasi tidak sekadar mencatat tetapi juga mengadakan pertimbangan-pertimbangan (Arikunto, 2002:204). Lembar observasi sangat diperlukan dalam kegiatan refleksi sebagai upaya untuk mengkaji keberhasilan dan kegagalan pencapaian tujuan pembelajaran pada setiap siklus dan menentukan tindak lanjut pada putaran siklus berikutnya.
    4. Lembar Respons Siswa
    Arikunto (2004:204) menyebutkan bahwa kuesioner atau angket adalah serentetan pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari respons dan tentang hal-hal yang ingin diketahui. Teknik kuesioner atau angket digunakan untuk mengetahui faktor penghambat dan faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran menceritakan tokoh idola dengan menggunakan media foto idola.
    5. Tes Hasil Belajar Siswa
    Arikunto (2004:205) mengartikan tes sebagai serentetan pertanyaan atau latihan serta alat yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa pokok bahasan menceritakan tokoh idola dengan menugasi siswa bercerita tentang tokoh idolanya pada setiap siklusnya.
    Untuk mendapatkan data hasil kemampuan siswa dapat diperoleh dari penerapan media foto idola pada pokok bahasan menceritakan tokoh idola dengan menugasi siswa bercerita mengenai identitas tokoh idolanya, keunggulan tokoh idolanya serta alasan mengapa ia mengidolakan idolanya tersebut.

    III.7 Teknik Analisis Data
    Untuk memperoleh data dengan kelayakan penerapan model pembelajaran dengan media foto idola dalam pengajaran menceritakan tokoh idola, digunakan analisis data deskriptif kualitatif dengan menghitung:
    1. Analisis Data Lembar Penilaian Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
    Hasil penilaian perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP) akan menggambarkan bagaimana perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk setiap pelaksanaan pembelajaran. Data tersebut akan dianalisis dengan melihat jumlah nilai yang diberikan pada setiap aspek yang dinilai, yaitu dengan menghitung jumlah yang diberikan oleh validator.

    Keterangan :
    P = persentase
    JA = jumlah nilai
    N = jumlah aktivitas keseluruhan

    2. Analisis Tes Hasil Belajar Siswa
    Analisis hasil belajar siswa, yaitu hasil menceritakan tokoh idola. Tes menceritakan tokoh idola tersebut hanya dilakukan satu kali dalam setiap siklusnya. Tiap-tiap siklus bercerita siswa oleh guru dinilai berdasarkan aspek yang telah ditentukan. Nilai tersebut diambil dari penjumlahan tiap aspek yang dinilai. Rentangan nilai keseluruhan ditentukan 1-100. Berikut ini merupakan aspek dan skor yang diberikan pada tiap cerita.
    Teknik analisis ini menggunakan perhitungan persentase keberhasilan atau ketercapaian siswa dalam menguasai konsep. Perhitungan untuk menyatakan hasil belajar siswa sebagai berikut:

    Keterangan:
    M = mean (nilai rata-rata) = jumlah nilai siswa
    N = jumlah siswa

    3. Analisis Data Lembar Observasi Aktivitas Guru
    Hasil observasi yang terangkum dalam lembar aktivitas guru dan siswa akan menggambarkan bagaimana aktivitas guru dan siswa. Data tersebut akan dianalisis dengan menggunakan persentase (%) yaitu dengan menghitung banyaknya frekuensi suatu kejadian dibandingkan dengan seluruh kejadian dan kemudian dikalikan 100%.

    Keterangan:
    P = persentase
    JA = jumlah nilai
    N = jumlah nilai maksimal

    4. Analisis Data lembar Observasi Aktivitas Siswa
    Hasil observasi yang terangkum dalam lembar aktivitas guru dan siswa akan menggambarkan bagaimana aktivitas guru dan siswa. Data tersebut akan dianalisis dengan menggunakan persentase (%) yaitu dengan menghitung banyaknya frekuensi suatu kejadian dibandingkan dengan seluruh kejadian dan kemudian dikalikan 100%.

    Keterangan:
    P = persentase
    JA = jumlah nilai
    N = jumlah aktivitas maksimal

    5. Analisis Data Respons Siswa
    Data respons siswa digunakan untuk mengetahui tentang besar kecilnya faktor penghambat dan pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran di setiap siklusnya. Agar gambaran tersebut terlihat jelas dan lebih nyata, data tersebut akan di persentase baik di setiap kegiatan maupun secara keseluruhan. Data tersebut di persentase dengan rumus sebagai berikut:

    Keterangan:
    P = persentase
    JA = jumlah nilai
    N = jumlah nilai maksimum

    IV. Daftar Pustaka
    Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
    Depdikbud. 2004. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: balai Pustaka
    Hamalik. 1994. Media Pendidikan. Bandung : Citra Aditya Bakti
    Nasution. 2005. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar.Jakarta: Bumi Aksa
    Sadiman, Arif. 1996. Media Pendidikan. Jakarta: Raja
    Sudjana. 2001. Media Pengajaran. Jakarta : Sinar Baru Algensindo
    Suyanto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Kelas: Pengenalan Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdikbud
    Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2005. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
    Tarigan, Henry Guntur. 1987. Berbicara. Jakarta: Rineka Cipta

  31. masrini
    03/07/2010 pukul 8:46 am

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN DRAMATISASI DRAMA UNTUK SISWA MAN 1 TANJUNG KELAS XI BAHASA
    BAB I PENDAHULUAN
    A.Latar belakang
    drama dapat di arikan sebagai perbuatan tindakan atau diksi.Drama merupakan karya sastra yang ditulis dalam bentuk percakapan atau dialog yang di pertunjukan oleh tokoh di atas pentas di hadapan penonton.Pada prinsifnya dramatisasi adalah memahami dan mengeksplorasikan naskah secara sungguh-sungguh ,kemudian membuat rencana untuk mementaskan naskah tersebut bersama seluruh anggota kelompoknya.
    kegunaan drama dalam pendidikan tidak dapat di sangkal lagi ,salah satunya yaitu creative drama.Creative drama adalah drama yang dimainkan anak-anak.Guru yang memimpin permainan ini bukanlah bertindak sebagai sutradara tetapi sebagai penonton dan pendidik.
    Menurut pengamatan saya selama ini dalam pembelajaran dramatisasi atau pementasan drama ,langkah yang dilakukan guru sesuai dengan pengamatan saya adalah:
    – guru atau pendidik menyampaikan kompetensi dasar atau pokok materi secara klasikal.
    – guru membagi kelompok 1-8 orang
    – siswa membuat naskah drama
    -siswa mementaskan drama berkelompok
    -evaluasi
    Menurut saya dengan cara tersebut ,siswa kurang maksimal dalam mementaskan drama ,Seba tidak ada bimbingan oleh guru pada lanagkah tersebut dan siswa hanya belajar dari kelompoknya sendirai ,tidak ada diskusi dengan kelompok lain.Sehingga ketika mereka mementaskan drama di depan kelas tampak sebagian siswa belum memahami karakter tokoh yamg di perankanya serta kurang memahami teknik bermain peran.
    Maka dalam proposal ini,saya akan mencoba cara lain,yaitu denagan meyode Role Playing dalam meningkatkan kemampuan dramatisasi.Metode role playing adalah cara mendramasisa tingkah laku dalam hubungan sosial dengan problem agar peserta didik dapat memecahkan masalah sosial.

    B.Rumusan Masalah
    Rumusan masalah dalam proposal ini adalah sebagai berikut :
    1) Apakah dengan metode Role Playing ini minat siswa bertambah dalam mempelajari drama ?
    2) Apakah dengan metode ini ,dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam dramatisasi drama ?

    C.Tujuan Penelitian
    Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah proses tindakan berjalan lancar ,siswa senang denagan metode role playing ,dan meningkatkan minat siswa serta pemahaman siswa dalam mendramasitasi drama.

    D.Mamfaat Penelitian
    Diantara mamfaat penelitian ini sebagai berikut :
    a) Sebagai pelajaran bagi guru agar lebih memahami metode pembelajaran dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa dalam proses pembelajaran.
    b) Siswa lebih mudah memahami belajaran dengan metode yang jelas dan akurat, agar pokok materi yang dibahas terarah .

    BAB II KAJIAN PUSTAKA

    Dalam prop[osal ini objek observasi adalah siswa MAN I Tanjung,jumlah siswanya 27 orang. Anak seusia mereka adalah anak yang berkembang pemikirinnya ,anak yang aktif,dan pemikiranya dinamis ,maka tepat kalau metode role playing secara kelompok ini diterapkan pada mereka.
    Metode role playing ini merupakan metode pembelajaran dengan cara drama .Ada 3 hal yang harus di tempuh pada metode ini :
    i) Mengemukakan suatu masalah
    ii) Mendramasisasikan masalah tersebut
    iii) Mendiskusikan hasil dramatisasi

    Dalam dramatisasi drama ada dua kegiatan yang perlu diperhatikan :
    1)Pementasan drama.
    Pementasan drama adalah hasil perwujudan dari naskah yang dimainkan
    2)Dramasitasi cerita drama ,merupakan memahami dan mengeksplorasi naskah secara sungguh-sungguh bersama seluruh anggota kelompok.
    Adapun langkah-langkah dramasitasi adalah :

    a)Mengemukakan cerita (naskah)kepada anggota kelompok
    b)Mengolah dialog ,merencanakan peran dan adegan pementasan
    c)Memainkan naskah itu Baik Bertahap maupun menyeluruh
    d)Evaluasi permainan
    e)Memainkan ulang
    f)evaluasi akhir dan persiapan pementasan

    BAB III METODE PENELITIAN

    Dalam penelitian ini dilakukan di sekolah MAN 1 Tanjung ,pada siswa kelas XI bahasa.Subjek tindakan yang dilakukan adalah menerapkan metode role playing dalam meningkatkan kemampuan siswa mendramasitasi drama.Hal itu dilakukan karena sesuai pengamatan saya ,siswa kurang maksimal menyampaikan isi dari drama ketika mereka mementaskan.Dalam penelitian ini dilakukan melalui 2 siklus,yaitu siklus I dan siklis II ,dimana siklus tersebut terdiri dari:
    (1) perencanaan
    (2)pelaksanaan
    (3)observasi
    (4)refleksi
    Sintak atau prosedur yang dilakukan dalam melaksakan metode Role Playing ini adalah:
    1).Guru menyiapkan skenario pembelajan
    2)Guru menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario
    3)Guru membentuk kelompok siswa
    4)Pembentukan kelompok siswa penyampainkompetensi
    5)Guru menunjuk siswa untuk melakukan skenario yang telah dipelajari
    6)Kelompok siswa membahas peran yang dilakonkan oleh pelakon
    7)Presentasi hasil kelompok
    8)Bimbingan penyimpulan
    9)Refleksi.

    role Playing

  32. 06/07/2010 pukul 3:45 am

    Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Dengan Teknik Mmenulis Akrostik

    Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Murung Pudak

    BAB 1

    1.1 Latar Belakang
    Menulis merupakan salh satu aspek keterampilan berbahasa ,keterampilan berbahasa yang lain , yang dianggap primer adalah berbicara , membaca ,dan mendengar. Siswa tidak selalu mampu kalu disuruh untuk menulis puisi . Hal ini kurangnya pengetahuan tentang cara penulisannya.
    Sesungguhnya menulis puisi bukanlah kegiatan yang sulit dan dapat dilakukan oleh semua siswa beranggapan menulis puisi itu sulit dan hanya siswa tertentu ysng bisa membuatnya .
    Kesulitan siswa ini ditandai dengan kurangnya minat siswa dalam mnulis puisi dan kurangnya motivasi dari pembimbing dalam mengarahkan oleh karena itu penelitian tindakan kelas kali ini untuk memudahkan siswa dalam menulis puisi dilakukan pembelajaran dengan teknik menulis puisi secara akrostik .
    Penulisan puisi akrostik adalah puisi yang huruf-huruf awallirik jika dibaca kebawah mejadi kata-kata tersebut biasanya berupa nama dari penulis , nama, nama kata, nama kota, dan lain – lain.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang rumusan penilitian ini adalah sebagai berikut :
    1. Bagaimana teknik penulisan puisi akrostik ?
    2. Bagaimana meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan teknik menulis puisi akrostik ?

    BAB II
    KERANGKA TEORI

    Menurut Samuel Taylor Coleridge megemukakam puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah penyair memilih kata-kata setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya seimbang , simetris antara satu unsur dengan unsur-unsur yang lain sangat erat berhubungannya dan sebagainya(www.google.co.id)

    Puisi merupakan salah satu karya sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra , dan rima ,sertaa penyusunan larik dan bait . Bisa pula dengan cara mengungkapakan sesuatu secara tak langsung didalamnya ada unsur penggantian arti, penyimpangan arti dan penyimpanan arti.( Pelajaran bahasa dan sastra Indonesia hal:170)

    Puisi akrostik adalah puisi yang huruf-huruf awal liriknya jika dibaca kebawah menjadi kata-kata tersebut biasanya berupa nama dari penulis , nama peristiwa, nama tempat, nama kota, nama orang tua, dan laian-lain. (Kreatif berbahasa dan bersastra bahasa ndonesia ,hal: 141)

    Teknik menulis puisi akrostik , akrostik berasal dari kata Francis Acrostiche dn Yunani Akrostichis yang artinya sebuah sajak yang huruf awal barisnya menyusun sebuah atau beberapa kata.(www.sejuta_puisi blogspot.com)

    Didalam puisi akrostik menggunakan huruf dalam sebuah kata untuk memulai dalam tiap-tiap baris dalam puisi menceritakan atau mendeskripsikantopik kata yang penting .Puisi akrostik berbeda dengan puisi – puisi lain karana huruf – huruf pertama tiap baris mengeja sebuah kata yang dapat dibac secara pertiakal .Pola,rima dan jumlah angka baris dapat bervariasi dalam puisi akrostik , karena puisi akrostik lebih dari puisi deskritif yang mana menjelaskan kata yang dibentuk (www.sejuta _puisi blogspot.com)

    Dari penjelasan mengenai puisi akrostik diatas siswa akan lebih mudah menyusun kata-kata karena sudah ada rangsangan sebelumnya dari huruf awal yang disusun secara vertical dan membentuk kata puisi akrostik ini merupakan salah satu kegiatan menulis puisi yang paling sukses untuk menulis pemula.
    Penulisan puisi dengan teknik akrostik
    1. Menulis puisi akrostik sangat mudah dan menyenangkan
    2. Huruf capital selalu dimulai pada tiap-tiap baris baru
    3. Membaca dan kembali membaca menemukan kata yang baik
    4. Kalimat tidaklah terlalu penting
    5. Masalah kurangnya pemahaman kata dalam perbendaharaan kata, kata dapat mellihat kamus

    Dalam menulis puisi akrostik ini perbendaharan kata masing –masing berbeda pengalaman dalam membaca pusi sangat mempengaruhi hasil tulisan puisi semakin banyak pula kata-kta yang yang akan dipilihnyadan dikembangkan dalampuisinya sehingga hasil karya puisi pun mempunyai nilaiestetika yang semakin tinggi pula (www.google .co. id. Oleh Arief Sudibyodi)Contoh puisi akrostik
    Buku
    B: Berguna dan bertambah ilmuku
    U: Untuk masa depan cerahku
    K: Karenamu terwujudlah impianku
    U: Untuk jasamu terimalah ucapan terima kasihku

  33. 06/07/2010 pukul 3:48 am

    BAB 1

    1.1 Latar Belakang
    Menulis merupakan salh satu aspek keterampilan berbahasa ,keterampilan berbahasa yang lain , yang dianggap primer adalah berbicara , membaca ,dan mendengar. Siswa tidak selalu mampu kalu disuruh untuk menulis puisi . Hal ini kurangnya pengetahuan tentang cara penulisannya.
    Sesungguhnya menulis puisi bukanlah kegiatan yang sulit dan dapat dilakukan oleh semua siswa beranggapan menulis puisi itu sulit dan hanya siswa tertentu ysng bisa membuatnya .
    Kesulitan siswa ini ditandai dengan kurangnya minat siswa dalam mnulis puisi dan kurangnya motivasi dari pembimbing dalam mengarahkan oleh karena itu penelitian tindakan kelas kali ini untuk memudahkan siswa dalam menulis puisi dilakukan pembelajaran dengan teknik menulis puisi secara akrostik .

    Penulisan puisi akrostik adalah puisi yang huruf-huruf awallirik jika dibaca kebawah mejadi kata-kata tersebut biasanya berupa nama dari penulis , nama, nama kata, nama kota, dan lain – lain.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang rumusan penilitian ini adalah swbagai berikut :
    1. Bagaimana teknik penulisan puisi akrostik ?
    2. Bagaimana meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan teknik menulis puisi akrostik ?

    BAB II
    KERANGKA TEORI

    Menurut Samuel Taylor Coleridge megemukakam puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah penyair memilih kata-kata setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya seimbang , simetris antara satu unsur dengan unsur-unsur yang lain sangat erat berhubungannya dan sebagainya(www.google.co.id)

    Puisi merupakan salah satu karya sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra , dan rima ,sertaa penyusunan larik dan bait . Bisa pula dengan cara mengungkapakan sesuatu secara tak langsung didalamnya ada unsur penggantian arti, penyimpangan arti dan penyimpanan arti.( Pelajaran bahasa dan sastra Indonesia hal:170)

    Puisi akrostik adalah puisi yang huruf-huruf awal liriknya jika dibaca kebawah menjadi kata-kata tersebut biasanya berupa nama dari penulis , nama peristiwa, nama tempat, nama kota, nama orang tua, dan laian-lain. (Kreatif berbahasa dan bersastra bahasa ndonesia ,hal: 141)

    Teknik menulis puisi akrostik , akrostik berasal dari kata Francis Acrostiche dn Yunani Akrostichis yang artinya sebuah sajak yang huruf awal barisnya menyusun sebuah atau beberapa kata.(www.sejuta_puisi blogspot.com)

    Didalam puisi akrostik menggunakan huruf dalam sebuah kata untuk memulai dalam tiap-tiap baris dalam puisi menceritakan atau mendeskripsikantopik kata yang penting .Puisi akrostik berbeda dengan puisi – puisi lain karana huruf – huruf pertama tiap baris mengeja sebuah kata yang dapat dibac secara pertiakal .Pola,rima dan jumlah angka baris dapat bervariasi dalam puisi akrostik , karena puisi akrostik lebih dari puisi deskritif yang mana menjelaskan kata yang dibentuk (www.sejuta _puisi blogspot.com)

    Dari penjelasan mengenai puisi akrostik diatas siswa akan lebih mudah menyusun kata-kata karena sudah ada rangsangan sebelumnya dari huruf awal yang disusun secara vertical dan membentuk kata puisi akrostik ini merupakan salah satu kegiatan menulis puisi yang paling sukses untuk menulis pemula.
    Penulisan puisi dengan teknik akrostik
    1. Menulis puisi akrostik sangat mudah dan menyenangkan
    2. Huruf capital selalu dimulai pada tiap-tiap baris baru
    3. Membaca dan kembali membaca menemukan kata yang baik
    4. Kalimat tidaklah terlalu penting
    5. Masalah kurangnya pemahaman kata dalam perbendaharaan kata, kata dapat mellihat kamus

    Dalam menulis puisi akrostik ini perbendaharan kata masing –masing berbeda pengalaman dalam membaca pusi sangat mempengaruhi hasil tulisan puisi semakin banyak pula kata-kta yang yang akan dipilihnyadan dikembangkan dalampuisinya sehingga hasil karya puisi pun mempunyai nilai estetika yang semakin tinggi pula (www.google .co. id. Oleh Arief Sudibyodi)

    Contoh puisi akrostik
    Buku
    B: Berguna dan bertambah ilmuku
    U: Untuk masa depan cerahku
    K: Karenamu terwujudlah impianku
    U: Untuk jasamu terimalah ucapan terima kasihku
    BAB III
    Penelitian yang dilakukan ini mengemukakan penelitian tindaka kelas yang akan dipaparkan sebagai berikut .
    1. Pendekatan penelitian
    Pendekatan penelitian indakan kelas ini dilakukan dengan peekatan kualitatif . Hal ini didasarkan pada penelitian lapangan dimana siswa mempunyai masalh dalm pembuatan puisi.
    Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah peneliian yang dilakukan oleh guru kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan memperbaiki kinerja sehingga hasil belajar siswa meningkat
    PTK bermanfaat bagi guru , pembelajaran /siswa ,serta bagi kesekolah manfaat PTK bagi siswa adalah sebagai berikut .
    1. Membantu guru memperbaiki pembelajaran
    2. Membantu guru berkembang secara professional
    3. Meningkatkan rasa percaya diri guru
    4. Memungkinkan guru secara aktif mengembangkam pengetahuan dan keterampilan
    Manfaat PTK bagi siswa untuk meningkatkan proses /hasil belajar siswa , disamping guru yang melaksanakan PTK dapat menjadi model bagi para siswa dalam bersikapkritis terhadap hasil belajarnya.
    Bagi sekolah , PTK membuat sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan atau kemajauan pada diri guru dan pendidikan disekolah tersebut.

    2. Tempat dan waktu penelitian
    Penelitian dilakukan di SMP Negeri 3 Murung Pudak yaitu pada bulan januari 2010 denagan rincian siklus pertama dilakukan pada tanggal 9 januari 2010 , sklus ke 2 tanggal 16 januari 2010 dan siklus ke 3 pada tanggal 23 Januari 2010, jadi penelitian ini dilakukan selama sebulan.

    3. Sumber Data
    Sumber data pada pada penelitian ini dilakuakn pada siswa SMP kelas VII A. Dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu: Penulisan puisi.

    4. Teknik Pengolahan Data
    Teknik pengolahan data adalah suatu proses penerapan metode penelitian pada masalah yang sedang di teliti teknik penelitian ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
    A. Metode Tanya jawab,dimana seorang guru mengajukan pertanyaan – pertanyaan kemudian siswa yang satu atau siswa yang lain menjawabnya tanpa mereka merasa khawatir benar atau salah jawaban tersebut dinilai atau tidaknya atas jawaban tersebut:
    B. Metode kelompok siswa di bagi menjadi beberapa kelompok diberi tugas yang bimbingan dan penjelasan dari guru yang masih I berikan jiks kekeliruan dan ketidak pahaman masih terapat pada siswa .
    C. Metode latihan diberikan kepada siswa dimana mereka mengerjakan secara sendiri- sendiri tanpa bmbingan guru lagi
    5. Analisis Data
    Analisis yaitu upaya untuk melakukan proses atau menggali atau mengkaji data jauh dalam rangka mendapatkan informasi atau lebih dalam (www.angel fire .com/../Analisis .doc)
    Analisi data adalah upaya yang dilakukan oleh guru yang berperan sebagai penelitian untuk merangkum secara akurat data yang telah dikumpulkan dalam bentuk yang dapat dipercaya dan benar .
    Analisis data yang dilakukan adalah mengumpulkan data-data yang cocok dan akurat dalam penelitian ini ,analisis data dapat dilakukan secara bertahap , pertama dengan menyeleksi dan mengumpulkan , kedua dengan memaparkan atau mendeskripsikan data ,dan terkhir menimpulksn dan memberi makna akhirnya, berdasarkan paparan atau deskripsi yang telah di buat di buat ditarik kesimpulan dalm bentuk pernyataan atau formula singkat.

  34. 06/07/2010 pukul 3:53 am

    Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Dengan Teknik Mmenulis Akrostik

    Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Murung Pudak

    BAB 1

    1.1 Latar Belakang
    Menulis merupakan salh satu aspek keterampilan berbahasa ,keterampilan berbahasa yang lain , yang dianggap primer adalah berbicara , membaca ,dan mendengar. Siswa tidak selalu mampu kalu disuruh untuk menulis puisi . Hal ini kurangnya pengetahuan tentang cara penulisannya.
    Sesungguhnya menulis puisi bukanlah kegiatan yang sulit dan dapat dilakukan oleh semua siswa beranggapan menulis puisi itu sulit dan hanya siswa tertentu ysng bisa membuatnya .
    Kesulitan siswa ini ditandai dengan kurangnya minat siswa dalam mnulis puisi dan kurangnya motivasi dari pembimbing dalam mengarahkan oleh karena itu penelitian tindakan kelas kali ini untuk memudahkan siswa dalam menulis puisi dilakukan pembelajaran dengan teknik menulis puisi secara akrostik .
    Penulisan puisi akrostik adalah puisi yang huruf-huruf awal lirik jika dibaca kebawah mejadi kata-kata tersebut biasanya berupa nama dari penulis , nama, nama kata, nama kota, dan lain – lain.

    BAB II
    KERANGKA TEORI

    Menurut Samuel Taylor Coleridge megemukakam puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah penyair memilih kata-kata setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya seimbang , simetris antara satu unsur dengan unsur-unsur yang lain sangat erat berhubungannya dan sebagainya(www.google.co.id)

    Puisi merupakan salah satu karya sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra , dan rima ,sertaa penyusunan larik dan bait . Bisa pula dengan cara mengungkapakan sesuatu secara tak langsung didalamnya ada unsur penggantian arti, penyimpangan arti dan penyimpanan arti.( Pelajaran bahasa dan sastra Indonesia hal:170)

    Puisi akrostik adalah puisi yang huruf-huruf awal liriknya jika dibaca kebawah menjadi kata-kata tersebut biasanya berupa nama dari penulis , nama peristiwa, nama tempat, nama kota, nama orang tua, dan laian-lain. (Kreatif berbahasa dan bersastra bahasa ndonesia ,hal: 141)

    Teknik menulis puisi akrostik , akrostik berasal dari kata Francis Acrostiche dn Yunani Akrostichis yang artinya sebuah sajak yang huruf awal barisnya menyusun sebuah atau beberapa kata.(www.sejuta_puisi blogspot.com)

    Didalam puisi akrostik menggunakan huruf dalam sebuah kata untuk memulai dalam tiap-tiap baris dalam puisi menceritakan atau mendeskripsikantopik kata yang penting .Puisi akrostik berbeda dengan puisi – puisi lain karana huruf – huruf pertama tiap baris mengeja sebuah kata yang dapat dibac secara pertiakal .Pola,rima dan jumlah angka baris dapat bervariasi dalam puisi akrostik , karena puisi akrostik lebih dari puisi deskritif yang mana menjelaskan kata yang dibentuk (www.sejuta _puisi blogspot.com)

    Dari penjelasan mengenai puisi akrostik diatas siswa akan lebih mudah menyusun kata-kata karena sudah ada rangsangan sebelumnya dari huruf awal yang disusun secara vertical dan membentuk kata puisi akrostik ini merupakan salah satu kegiatan menulis puisi yang paling sukses untuk menulis pemula.
    Penulisan puisi dengan teknik akrostik
    1. Menulis puisi akrostik sangat mudah dan menyenangkan
    2. Huruf capital selalu dimulai pada tiap-tiap baris baru
    3. Membaca dan kembali membaca menemukan kata yang baik
    4. Kalimat tidaklah terlalu penting
    5. Masalah kurangnya pemahaman kata dalam perbendaharaan kata, kata dapat mellihat kamus

    Dalam menulis puisi akrostik ini perbendaharan kata masing –masing berbeda pengalaman dalam membaca pusi sangat mempengaruhi hasil tulisan puisi semakin banyak pula kata-kta yang yang akan dipilihnyadan dikembangkan dalampuisinya sehingga hasil karya puisi pun mempunyai nilai estetika yang semakin tinggi pula (www.google .co. id. Oleh Arief Sudibyodi)

    Contoh puisi akrostik
    Buku
    B: Berguna dan bertambah ilmuku
    U: Untuk masa depan cerahku
    K: Karenamu terwujudlah impianku
    U: Untuk jasamu terimalah ucapan terima kasihku

    BAB III
    Penelitian yang dilakukan ini mengemukakan penelitian tindaka kelas yang akan dipaparkan sebagai berikut .
    1. Pendekatan penelitian
    Pendekatan penelitian indakan kelas ini dilakukan dengan peekatan kualitatif . Hal ini didasarkan pada penelitian lapangan dimana siswa mempunyai masalh dalm pembuatan puisi.
    Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah peneliian yang dilakukan oleh guru kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan memperbaiki kinerja sehingga hasil belajar siswa meningkat
    PTK bermanfaat bagi guru , pembelajaran /siswa ,serta bagi kesekolah manfaat PTK bagi siswa adalah sebagai berikut .
    1. Membantu guru memperbaiki pembelajaran
    2. Membantu guru berkembang secara professional
    3. Meningkatkan rasa percaya diri guru
    4. Memungkinkan guru secara aktif mengembangkam pengetahuan dan keterampilan
    Manfaat PTK bagi siswa untuk meningkatkan proses /hasil belajar siswa , disamping guru yang melaksanakan PTK dapat menjadi model bagi para siswa dalam bersikapkritis terhadap hasil belajarnya.
    Bagi sekolah , PTK membuat sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan atau kemajauan pada diri guru dan pendidikan disekolah tersebut.

    2. Tempat dan waktu penelitian
    Penelitian dilakukan di SMP Negeri 3 Murung Pudak yaitu pada bulan januari 2010 denagan rincian siklus pertama dilakukan pada tanggal 9 januari 2010 , sklus ke 2 tanggal 16 januari 2010 dan siklus ke 3 pada tanggal 23 Januari 2010, jadi penelitian ini dilakukan selama sebulan.

    3. Sumber Data
    Sumber data pada pada penelitian ini dilakuakn pada siswa SMP kelas VII A. Dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu: Penulisan puisi.

    4. Teknik Pengolahan Data
    Teknik pengolahan data adalah suatu proses penerapan metode penelitian pada masalah yang sedang di teliti teknik penelitian ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
    A. Metode Tanya jawab,dimana seorang guru mengajukan pertanyaan – pertanyaan kemudian siswa yang satu atau siswa yang lain menjawabnya tanpa mereka merasa khawatir benar atau salah jawaban tersebut dinilai atau tidaknya atas jawaban tersebut:
    B. Metode kelompok siswa di bagi menjadi beberapa kelompok diberi tugas yang bimbingan dan penjelasan dari guru yang masih I berikan jiks kekeliruan dan ketidak pahaman masih terapat pada siswa .
    C. Metode latihan diberikan kepada siswa dimana mereka mengerjakan secara sendiri- sendiri tanpa bmbingan guru lagi
    5. Analisis Data
    Analisis yaitu upaya untuk melakukan proses atau menggali atau mengkaji data jauh dalam rangka mendapatkan informasi atau lebih dalam (www.angel fire .com/../Analisis .doc)
    Analisi data adalah upaya yang dilakukan oleh guru yang berperan sebagai penelitian untuk merangkum secara akurat data yang telah dikumpulkan dalam bentuk yang dapat dipercaya dan benar .
    Analisis data yang dilakukan adalah mengumpulkan data-data yang cocok dan akurat dalam penelitian ini ,analisis data dapat dilakukan secara bertahap , pertama dengan menyeleksi dan mengumpulkan , kedua dengan memaparkan atau mendeskripsikan data ,dan terkhir menimpulksn dan memberi makna akhirnya, berdasarkan paparan atau deskripsi yang telah di buat di buat ditarik kesimpulan dalm bentuk pernyataan atau formula singkat.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang rumusan penilitian ini adalah swbagai berikut :
    1. Bagaimana teknik penulisan puisi akrostik ?
    2. Bagaimana meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan teknik menulis puisi akrostik ?

  35. si aluh
    06/07/2010 pukul 1:20 pm

    BUAT TEMEN – TEMEN KU SMUA AGAR MENGIRIMKAN PROPOSALNYA CUKUP SATU KALI SAJA JANGAN TERLALU BANYAK KASIAN KOLOMNYA KADA MUAT EH KADA MAYU

  36. HELINA FITRIA
    08/07/2010 pukul 9:19 am

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah
    Menulis cerpen itu sebenarnya mudah. Sama seperti kalau kita berbicara, bercerita, hanya bedanya menlis cerpen adalah bercerita dengan tulisan. Jadi lupakan segala teori penulisan cerpen yang muluk-muluk .
    Menulis ibarat ngomong sebaliknya ngomong ibarat menulis banyak tidak percaya diri menulis dengan target sehingga menimbulkan beban. Sesungguhnya menulis cerpen dengan kalimat sendiri bukanlah kegiatan yang sulit dan dapat dilakukan oleh semua siswa, tetapi banya siswa beranggapan menulis cerpen dengan kalimat sendiri sulit dan hanya sisiwa-siswa tertentu yang bisa membuatnya.
    Oleh karena itu penelitian tindakan kelas kali ini untuk memudahkan siswa menulis cerpen dengan kalimat sendiri dengan beberapa teknik.
    1.2 Rumusan Masalah
    Adapun rumusan masalah yang akan dibahas di anataranya adalah sebagai berikut :
    1. Cara Menulis Cerpen dimana akan dijelaskan dihalaman selanjutnya.
    2. Ciri – Ciri Cerpen disini akan dipaparkan apa saja cirri-cir cerpen itu.
    3. Dan yang terakhir Teknik Pengajaran Cerpen disini juga akan dijelaskan bagaimana teknik-teknik pengajaran cerpen.
    Demikianlah perumusan masalah yang saya buat agar dalam proposal ini tidak ada pelencengan masalah atau pembahasan yang keluar dari tema yang saya buat dan agar lebih focus ke permasalahan yang saya angkat.
    1.3 Tujuan Penelitian
    Penelitian ini dilakukan atas dasar siswa-siswi kurang bisanya menulis cerpen dengan kalimat sendiri. Dimana siswa sulit melaksanakan perintah menulis cerpen dengan kalimat sendiri karena kurangnya minat dan tidak terlalu luas untuk berimajinasi.
    1.4 Manfaat
    a. Kita dapat mengetahui bagaimana cara mudah untuk menulis cerpen dengan kalimat sendiri.
    b. Melalui penulisan ini, kita dapat meningkatkan daya kreasi siswa dalam menulis cerpen.

    BAB II
    PEMBAHASAN
    Menulis Cerpen Dengan Kalimat Sendiri

    A. Cara Menulis Cerpen
    Mulailah dengan sudut pandang orang pertama, dan tulisan tentang kehidupan sehari-hari. Dalam menulis cerpen ada empat perkara untuk merangkai sebuah cerpen adalah sebagai berikut:
     Topik / tema.
     Latar ( masa, tempat, zaman dll ).
     Aksi.
     Dialog.
    Difinisi dan konsep cerpen dikelompokkan ke dalam ciptaan yang bersifat negative dan rekaan, serta masih menggunakan komponen tema, plot, watak, perwatakan, latar, sudut pandang dan sebagainya. Peristiwa pokok ini sering dibantu oleh anak peristiwa bagi mewujudkan suatu kesatuan cerita, sebuah cerpen menyuguhkan kebenaran yang di ciptakan, di padat dan dimanfaatkan, digayakan dan di padukan dengan keupayaan imaginasi penciptanya.
    Menulis itu mudah! Menulis is easy. Apalagi menulis cerpen. Sangat mudah sekali. Pertama yang harus ada dan dipunyai adalah kemauan atau mood. Kalau sudah ada mood akan mudah. Rasa ingin menulis harus ditumbuhkan terlebih dahulu.
    Langkah berikutnya adalah tulis apa saja. Kalau cerpen lebih mudah lagi karena berkisah tentang cerita. Tinggal ceritakan aja lewat mulut dan diubah menjadi tulisan. Ceritakan pengalaman Anda semasa dulu.Kenapa pengalaman? Karena paling mudah adalah cerita tentang pengalaman. Cerita tentang pengalaman akan lebih menjiwai.
    Kemudian tentukan alurnya. Mau bercerita ke depan atau bercerita ke belakang. Kalau ke depan berarti cerita itu terus mengalir, sedangkan kalau bercerita ke belakang berarti cerita yang dahulu,merurut dari belakang sehingga seperti sekarang. Dulu kenapa seperti itu kenapa seperti ini.
    Dalam sebuah cerita yang paling penting adalah adanya sebuah konflik. Apa konflik yang terjadi. Permasalahan apa yang dihadapi. Kenapa bisa seperti itu. Diceritakan panjang lebar konflik yang terjadi dengan penokohan aku atau orang ketiga. Orang ke tiga berarti dia atau nama seseorang.

    B. Ciri ciri Cerpen
    1. Ciri-ciri Cerpen .
    a. Mempunyai ciri-ciri utamanya seperti singkat, padu dan intensif.
    b. Di dalamnya mengandungi adegan, tokoh dan gerak.
    c. Bahasa cerpen tajam, sugestif dan dapat menarik perhatian pembaca.
    d. Cerpen harus mengandungi tafsiran daripada pengarang berkenaan konsepsinya mengenai manusia dan kehidupan, baik secara langsung atau tidak langsung.
    e. Cerpen seharusnya dapat menimbulkan suatu kesan dalam pemikiran pembaca.
    2. Ciri-ciri Cerpen
    a. Cerpen seharusnya dapat menimbulkan perasaan kepada pembaca bahawa jalan ceritalah yang berperanan menarik perasaan dan kemudiannya baru menarik pemikiran.
    b. Cerpen mengandungi detik dan insiden-insiden yang dipilih dengan sengaja dan yang boleh menimbulkan beberapa persoalan di dalam fikiran pembaca dan insiden-insiden inilah yang menguasai plot.
    c. Cerpen harus mengandungi seorang watak utama dan keseluruhan pembinaan plot bergelegar kepada watak utama dan tema pokok.
    d. Cerpen seharusnya mempunyai suatu kesan yang berkesan lagi menarik.
    3. Ciri-ciri Cerpen
    a. Cerpen selalu bergantung kepada situasi dan mampu memberi inspirasi tunggal dalam suatu kebulatan kesan.
    b. Cerpen menyajikan suatu emosi yang terencana kurang daripada 10,000 patah perkataan.
    C. Teknik Pengajaran Cerpen
    1. Teknik Mengajar Cerpen.
    a. Selepas ditentukan pendekatan dan kaedah yang hendak digunakan bagi menyampai dan menyajikan pengajaran, guru harus juga merencanakan teknik-teknik pengajaran cerpen yang akan digunakan supaya ia mendatangkan kesan yang efisien dan afektif.
    b. Antara teknik pengajaran cerpen yang boleh digunakan seperti teknik diskusi, teknik penelahan, teknik perbandingan, teknik pembinaan kreativiti dan teknik impresif.
    2. Teknik Mengajar Cerpen
    a. Teknik Diskusi.
    b. Sesuatu sesi diskusi bukanlah matlamatnya bagi mencari satu penentuan dan keputusan yang diutamakan ialah keupayaan dan kesungguhan pelajar mengeluarkan pandangan, pendapat dan sikapnya terhadap cerpen yang didiskusikan itu.
    c. Selalunya yang membuat penutupan dan kesimpulan bagi sesuatu sesi diskusi ialah guru itu sendiri.
    d. Walaupun teknik ini menarik dan menyukakan pelajar tetapi beberapa perkara harus diberi perhatian oleh guru antaranya, pastikan semua pelajar melibatkan diri secara aktif dan berinovasi.
    e. Jangan biarkan hanya sekumpulan pelajar sahaja yang aktif yang lainnya suka menyendiri.
    f. Juga pastikan perjalanan diskusi itu bersistem dan setiap anggota diskusi saling menghormati pendapat dan pandangan orang lain.
    3. Teknik Mengajar Cerpen
    a. Teknik Penyampaian Penalaan.
    b. Teknik penyampaian penelahan pelajar mengenai sesuatu aktiviti membaca cerpen akan meningkatkan pembinaan aspresiasi cerpen.
    c. Tumpuan diberikan pada penggunaan teknik ini ialah keupayaan pelajar mengembangkan sikap, berfikiran rasional lagi objektif dengan bersandarkan hujah-hujah yang bernas bagi membuktikan sesuatu pandangan.
    d. Dengan asuhan demikian akan lahir sikap kreatif terhadap pengaspresiaian kreatif pula.
    4. Teknik Mengajar Cerpen
    a. Teknik Perbandingan.
    b. Teknik ini kurang digunakan di peringkat sekolah menengah atas.
    c. Caranya guru membuat pemilihan beberapa cerpen berdasarkan pada apa sahaja seperti persamaan tema, latar, peratusan dan sebagainya dan meminta pelajar mencari garis persamaan yang terdapat dalam cerpen-cerpen berkenaan.
    5. Teknik Mengajar Cerpen ( samb. )
    a. Teknik Pembinaan Kreativiti.
    b. Pelajar diminta supaya memecah kebuntuan cerpen tersebut dengan meminta pelajar menyelesaikan sesebuah cerpen menurut tanggapan mereka sendiri.
    c. Melatih daya imaginasi pelajar dengan mewujudkan beberapa kebarangkalian dalam diri pelajar terhadap keseronokan, penghargaan dan keberkesanan cerpen yan dihasilkan oleh pengarang yang digemarinya.
    d. Mengadakan diskusi panel.
    e. Mengadakan aktiviti sosiodrama dan pementasan drama. Arah penglibatan pelajar di aras ini memerlukan kesungguhan, keberanian dan keyakinan. Sifat-sifat ini bukan sahaja perlu ada pada individu yang berperanan menjayakan aktiviti ini. Hasilnya akan menjadikan para pelajar aktif, imaginatif dan produktif dalam menikmati dan menghayati cerpen.
    6. Teknik Mengajar Cerpen
    a. Teknik Impresif.
    b. Teknik ini digayakan dengan cara di mana pelajar dibawa mendengar pembacaan cerpen.
    c. Bacaan itu boleh dilakukan secara langsung ataupun melalui pita rakaman.
    d. Walau bagaimanapun, pemilihannya haruslah baik, berkesan dan menarik.
    e. Jika faktor ini tidak di kawal ianya akan menimbulkan perasaan negatif seperti jemu, benci dan bosan kepada pelajar.
    f. Walau apa pun pendekatan, teknik dan strategi pengajaran cerpen yang digunakan oleh guru, tetapi ianya bergantung kepada kesungguhan, keupayaan dan kredibiliti guru yang merancang dan menyajikan pengajarannya.

    1.5 Metode Penelitian
    Dalam penelitian ini, penulisan menggunakan bebrapa prosedur penelitian untuk mendapatkan data dan informasi guna membantu dalam pembuatan Skripsi ini yaitu sebagai berikut :
    a. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
    Dalam metode ini penulis memanfaatkan bahan-bahan kepustakaan yakni dengan cara membaca buku-buku,yang ada berkaitan dengan permasalahan Kesulitan Menulis Kembali Cerpen dengan Kalimat Sendiri.
    b. Penelitian Lapangan (Field Research)
    Pada penelitian ini, penelitian langsung terjun kelapangan untuk meneliti objek penelitian, yaitu terhadap masalah Kesulitan Menulis Kembali Cerpen dengan Kalimat Sendiri. Dimana dalam kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data dan keterangan yang objektif.
    1.6 Populasi dan Sampel
    a. Populasi
    Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah para siswa-siswi Sekolah SMAN 2 Tanjung. Sebagai objek penelitian yang telah dilaksanakan.
    b. Sampel
    Mengingat keterbatasan waktu, kesempatan dan biaya bagi peneliti, maka dengan penelitian ini ditetapkan sampel dengan teknik purposive sampling, sebagai berikut :
     Kepala sekolah SMAN 2 Tanjung.
     Para guru-guru yang mengajar.
     Siswa-siswi sekolah SMAN 2 Tanjung, dimana data ini sifatnya sebagai pelengkap.

    1.7 Analisis Data
    Dari data yang didapat baik dari penelitian lapangan maupun penelitian kepustakaan, maka semua data yang terkumpul kemudian penulis analisis dengan cara melakukan pembahasan dan penganalisisan terhadap data. Data tersebut untuk kemudian penulis bandingkan antara data yang ditemukan di lapangan dengan teori yang ada. Setelah itu data-data diklasifikasikan, diteliti dan ditelaah guna menjawab terhadap permasalahn yang ada untuk kemudian dirumuskan,m sehingga analisis tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan.

  37. HATMAH
    09/07/2010 pukul 2:00 am

    PROPOSAL
    PENELITIAN TINDAKAKAN KELAS

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN DALAM MENJELASKAN LATAR SUATU CERPEN DENGAN REALITAS SOSIAL DENGAN TEKNIK BUKU KUMPULAN CERPEN PADA SISWA KELAS V11 SMP NEGERI 4 TANTA

    DI SAMPAIKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
    PENELITIAN SASTRA DAN PENGAJARANNYA

    DOSEN PEMBIMBING :
    SAINUL HERMAWAN ,M.HUM

    OLEH:
    NAMA:HATMAH
    NPM:306.07.393
    SEMESTER:V1

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
    JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA SASTRA DAN DEARAH
    SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
    PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
    BANJARMASIN
    2010

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN DALAM MENJELASKAN LATAR SUATU CERPEN DENGAN REALITAS SOSIAL DENGAN TEKNIK BUKUKUMPULAN
    CERPEN PADA SISWA KELAS V11 SMP NEGERI 4 TANTA

    BAB I
    PENDAHULUAN

    I.I LATAR BELAKANG
    Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia kita mengenal ada empat komponen
    Keterampilan berbahasa ,yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.Dari keempat keterampilan tersebut dalam berbicara lah yang sering di anggap mudah dan bahkan di sepelikan,padahal kalau kita cermati secara teliti,dan di pelajari betul-betul,maka terlihat kalau di dalam pembelajaran berbicara sastra ada titik-titik
    Yang sulit kita kembangkan.
    Berbicara sebagai suatu aktivitas memang bisa di katakan mudah. Mudah karena
    Setiap orang ,asal tidak mengalami gangguan dalam berbicara,pasti orang itu bisa melakukan suatu perkataan.Namun seseorang yang melakukan perkataan dalam kehidupan seharu-hari itu sudah merupakan suatu perkataan yang benar dan baik,tetapi alangkah baiknya jika kita mempunyai niat untuk mempelajari berbicara,walaupun dalam kehidupan sehari-hari baik itu sekolah,atau di masyarakat luar.Jadi akan terlihatlah suatu perkataan dalam berbicara,yang di keluarkan dari mulut seseorang ,menghasilkan suatu yang bermakna,dan terlihat lebih baik dan lebih sopan.Serta terlihat pula tata cara berbicara yang berkpribadiaan,hubungan yang lebih tua kepada yang muda,dan juga sebaliknya,hubungan yang muda kepada yang tua.
    Berbicara merupakan salah satu kerampilan berbahasa yang harus diajarkan
    Kepada siswa dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi .Dengan adanya aturan tersebut seharusnya siswa SMP VII sudah dapat mejelaskan latar suatu cerpan ,baik itu menghubungkan langsung dengan realitas sisoal ataupun dalam masih dalam bentuk tahap tidak langsung. Di dalam keterampilan berbicara sastra dalam menjelaskan latar suatu cerpen,baik yang berupa tanggapan ataupun cuma sebatas mengungkapkan latar suatu cerpen di dalam buku kumpulan cerpen.Siswa haruslah mempunyai pengatahuan tentang urutan kronologis atau peristiwa, kejadian dan masalah yang diharapkan ,sehingga lebih menuntut pengetahuan dan keterampilan serta ide dalam menggunakan lapal yang jalas dalam berbicara,agar suatu penjelasan kita dalam memberikan tanggapan menghasilkan kepuasan. Kesulitan dalam memberikan tanggapan dalam menjelaskan latar suatu cerpen.
    Dengan penggunaan media pembicaraan yang tepat dan menyanangkan tentunya akan membangkaitkan minat dan kreatifitas dalam berbicara khususnya dalam menjelaskan latar suatu cerpen.Salah satu upaya membangkitkan minat dan kreatifitas siswa dalam menjelaskan latar suatu cerpen adalah dengan penggunaan buku kumpulan cerpen sebagai media pembelajarannya.Hal tersebut dikarenakan pada pada jenjang usia
    Remaja ,siswa lebih cenderung menggunaan media buku harian sebagai sarana peningkatan kemampuan berbicara siswa melalui menjelaskan latar suatu cerpen.
    Berdasarkan hal tersebut ,maka berbicara tertarik untuk meneliti kemampuan berbicara dalam menjelaskan latar suatu cerpen siswa lelas VII,terutama mengenai peningkatan kemampuan menjelaskan latar suatu cerpen dengan teknik buku kumpulan cerpen pada siswa kelas VII Negeri 4 Tanjung.

    1.2 RUMUSAN MASALAH
    Berdasarkan latar belakang di atas ,maka dapat di simpulkan bahwa permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
    1) Bagaimana caranya agar siswa bisa menjelaskan latar cerpen yang di sertai
    bukti teks?
    2) Bagaimana upaya dalam meningkatkan kemampuan dalam menjelaskan latar
    yang ada hubungannya dengan realitas sosial?

    1.3 TUJUAN PENELITIAN
    Sesuai dengan rumusan masalah diatas ,maka penulis akan bertujuan mengatasi
    masalah yaitu sebagai berikut :
    1) Untuk mengatahui bagaimana kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 4
    Tanta dalam menanggapi pertanyaan Guru tentang hal yang berkaitan dengan
    cerpen.

    2) Untuk mengetahui bagaimana kemampuan Siswa kelas VII SMP Negeri 4
    Tanta secara berkelompok dalam membaca cerpen yang sama dengan kelompok
    Lain.
    2) Untuk menjadikan siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanta bisa menyimpulkan
    hubungan latar cerpen dengan realitas sosial.

    1.4 MANFAAT PENELITIAN
    -Bagi Siwa
    a. Mampu mendata latar cerpen .
    b. Mampu menyebutkan hubungan latar suatu cerpen yang dibaca
    dengan kehidupan nyata di Masyarakat.
    -Bagi Guru
    a. Mampu meningkatkan proses pembelajaran dalam menentukan suatu latar cerpen dengan realitas sosial.
    b. Dapat mengatahui keadaan Siswa secara langsung dalam proses
    belajar-mengajer.
    c. Dapat mengataui penggunaan media yang tepat bagi siswa dalam
    pembelajaran khusus nya di dearah terpencil.

    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA
    2.1 Menjelaskan Hubungan Latar Cerpen dengan Realitas Sosial
    2.2.1 Maksud Menjelaskan Hubungan Latar Cerpen dengan Realitas
    Sosial
    Selain puisi,karya sastra yang cukup pupoler adalah cerpen. Kamu tentu sudah sering membaca cerpen ,pada hakikatnya ,cerpen merupakan refleksi dari realitas kehidupan yang ada di sekitar kita .Apa yang di ungkapkan oleh pengarang merupakan cerminan dari realitas sosial yang ada di sekitar kita .Artinya ,bahan penciptaan cerpen seringkali berasal dari realitas sosial.Realitas tersebut kemudian diolah berdasarkan imajinasi pengarang sehingga menjadi karya fiksi yang indah.
    Latar termasuk unsur intrinsik cerpen yang rerdiri atas latar tempat waktu, dan suasana yang melingkupi terjadinya cerita.
    Ada langkah mudah menjelaskan hubungan latar suatu cerpen dengan sosial
    sebagai berikut :
    a. Langkah pertama adalah mendata latar cerpen .
    b. Langkah kedua adalah mengaitkan latar cerpen dengan realitas sosial
    masa kini.

    2.1.2 Mendata Latar Cerpen
    Contoh pendataan latar pada kutipan cerpen Banjarmasin Th 2010 berikut ini

    Jenis latar Latar Bukti tekstual

    Tempat Di depan
    Losmen Sokomoto Di tempat aku menginap , di depan Losmen Sokomoto. . . .

    Waktu
    Sore hari Lelaki yang tengah asyik menikmati suasana sore Banjarmasin barangkali
    Bernostagia. . . .

    Suasana Santai dan menjengukkan – Lebih baik aku mengerjakan serupa memandangi keindahan Kota Banjarmasin….
    – Ada perasaan sejuk ketika minta ini dapat menyentuhnya

    Berdasarkan tabel di atas ,dapat kiti ketahui bahwa salah satu latar tempat dalam cerpen banjarmasin Th 2010 adalah di depan Losmen Sokmoto.Salah satu latar waktu berlangsungnya cerita adalah sore hari .Sedangkan salah satu latar suasana dalam cerpen tersebut adalah suasana santai sehingga menimbulkan kesejukan dalam hati,

    2.2 Mengaitkan Latar cerpen dengan Realitas sosial Masa Kini
    Berdasarkan data latar cerpen di atas kita dapat mengaitkannya dengan realitas sosial masa kini ,contoh berikut ini.
    Latar waktu dan latar tempat pada kutipan cerita di atas adalah pada sore hari di depan Losmen Sokomoto. Cerita berlangsung dalam suasana santai sehingga menimbulkan kesejukan dalam hati . Latar cerita seperti seperti itu ada dalam realitas sosial,meskipun mungkin ada nama atau orang yang diganti dengan nama fiksi .
    Pada kutipan cerpen di atas ,tokoh “aku”sedang bersantai di depan tempatnya menginap ,yaitu Losmen Sokomoto. Sambil bersantai ,dia memperhatikan hal-hal di sekitarnya yang terbelut suasana sore hari .Salah satu hal yang di perhatikannya adalah
    bangunan menara masjid Sabila Muhtadin ,dia harus bersusah payah untuk dapat memandang bangunan atu. Sebab ,bangunan itu terselip di celah-celah bangunan lain yang lebih besar dan megah ,yaitu toko Paring .
    Dalam realitas sosial pada masa sekarang ,hal tersebut menggambarkan maraknya pembangunan .Bangunan-bangunan megah ,misalnya ,mal atau pertokoan ,
    yang menghimpit bangunan-bangunan lain,seperti tempat ibadah dan sekolah .Akibatnya,kadang ada orang yang kebingungan menemukan tempat ibadah pada saat ingin beribadat .
    Hal penting yang di maksud dari hubungan data yang ada dalam kutipan cerpen yang di kaitkan dengan realitas sosial masa kini adalah nilai kehidupan.Nilai kehidupan tersebut dapat di temukan melalui ucapan,tindakan,pikiran,dan perasaan tokoh-tokoh cerita.Nilai kehidupan ada yang baik ,ada pula yang buruk.Keduanya dapat memberikan kegunaan bagi kita.Namun ,yang sebaiknya kita ambil adalah nilai kehidupan yang berguna saja.

    2.3 Menanggapi Pembacaan Cerpen
    Cerpen adalah karya imajinatif ,artinya ,cerpen dibuat berdasarkan imajinasi atau khayalan penulisnya.Pengalaman hidup penulis biasanya sangat mempengaruhi ceritanya ,Oleh karena pengalaman hidup itu dialami oleh siapa saja dan nyata maka cerita itu seolah-olah terjadi sungguh-sungguh ,meskipun cerita itu khayalan belaka.
    Kamu pun dapat memuat cerita pendek.Caranya mudah.Pilihlah pengalamanmu yangmenarik ! Tulislah pengalaman itu dengan dibumbui khayalan ! Buatlah tokoh sebagai pemeran cerita sehingga cerita tersebut seolah-olah benar-benarterjadi!
    Melalui cerita itu kamu dapat menuangkan perasaan dan menyampaikan pesan melalui tokoh cerita dengan suasana yang sesuai.Cobalah tuangkan pengalamanmu ke dalam sebuah cerpen!Dalam membaca cerpen ,ketiga hal tersebut ,yaitu isi,pesan,dan suasana ,harus diperhatikan .Jika kita di minta memberikan tanggapan terhadap pembacaan cerpen,kita juga harus mengatahui isi cerpen ,pesan,dan suasana yangterdapat di dalam cerpen tersebut.Dalam pembacaan cerpen ,tiga hal itu akan terlihat dalam lafal,intonasi dan ekspresi pembaca sebuah cerpen.

    2.4 Teknik Buku Kumpulan Cerita Pendek(CERPEN)
    Dengan teknik buku kumpulan cerpen ini Siswa di harapkan bisa menjelaskan latar suatu cerpen dengan realitas sosial,yaitu dengan melalui ketiga unsur tersebut:
    1. Mendengarkan dan Mencatat
    Agar kamu mendapatkan data yang akurat atas pembacaan cerpen
    Kamu harus mendengarkan pembacaannya dengan cermat.Selain itu,buat-
    lah tabel dari buku kumpulan cerpen yang sudah di jelaskan dan di catat dan
    kemudian dari tabel yang telah di buat ,kemudian isikanlah catatanmu!

    Contoh Tabel Pembacaan Cerpen
    Nama : Putri Intan P.
    Judul Cerpen : Bunga Desa
    Nama Penulis : Adhelia Candra
    unsur ya tidak catatan
    Lafal
    a. suara dapat di dengar dengan jelas v –
    b.Vokal dan konsonan dilafalkan dengan jelas. – v
    Intonasi
    a. Tekanan sesuai dengan isi,pesan,dan suasana. – v Prolog dan percakapan sering di ucapkan sama,tidak ada beda tekanan.
    b.Kesesuaian penjedaan dengan isi,pesan,dan suasana. v –
    c. Kesesuaian tempo dengan isi ,pesan, dan suasana . v –
    d. Kesesuaian nada ucapan dengan isi,pesan,dan suasana – v Nada sering tidak mendikung Suasana.Contohnya,nada ucapan,antara suasana sedih,dan gembira hampir tidak ada bedanya.
    Ekspresi
    a. Melakukan kontak mata dengan pendengar atau penonton v –
    b.Roman muka mencerminkan isi ,pesan,mendukung suasana – v Roman muka sering tampak datar-datarsaja.
    c. Gerak tangan dan kaki sesuai dengan isi dan pesan serta mendukung suasana – v Gerak tangan dan kaki sering tidak sesuai dengan isi,terkesan asal menggerakkan tangan

    d. Perpindahan tempat sesuai dengan isi dan pesan serta mendukung suasana. v –

    2.

    Memberikan Tanggapan

    Setelah mendapatkan data melalui mendengarkan dan mencatat
    ,kegiatan selanjutnya adalah memberikan tanggapan .Tanggapan yangKita
    berikan harus objektif sesuai dengan data yang kita catat .Jika baik kita kata-
    kan baik dan jika kurang baik kita katakana kurang baik dengan menunjukkan
    kekurangannya .

    Selain itu tanggapan harus disampaikan dengan sopan .Perhatikanlah contoh
    Tanggapan berikut ini!

    Saudara Intan yang baik ,
    Saya sangat tertarik dengan cara membaca cerpen yang telah Anda laksanakan .
    Suara anda cukup jelas ,baik ucapan vocal maupun konsonan.Selain itu,perhatian
    Atau penjedaan juga bagus ,sesuai dengan suasana cerita.
    Demikian juga mengenai tempo pembacaan juga pas sehingga saya dapat meng-
    Ikuti jalan cerita itu dengan jelas .Ekspresi Anda juga cukup bagus.
    Namun demikian ,ada beberapa hal yang perlu diperhatikan atau di sempurna-
    Kan .Misalnya ,mengenai intonasi.Antara prolog dan dialog atau percakapan sering
    Disampaikan dengan suara yang sama.Hal ini mungkin karena Anda kurang memperhatiakn
    Karakter setiap tokoh .
    Hal di atas tentu saja mempengaruhi nada ucapan yang Anda sampaikan.Nada terasa
    Datar sehingga kurang mendukung isi ,pesan, maupun suasana cerita .Selain itu,meskipun
    Anda sering melakukan kontak mata dengan penonton,namun roman muka Anda terlihat
    Datar-datar saja sehingga kurang ekspresif.
    Saran saya,Saudara Intan harus lebih memahami karakter tiap-tiap tokoh-tokoh dan
    Suasana ceritanya.Dengan memahami karakter setiap tokoh,Anda dapat menentukan
    Nada ucapan dari masing-masing tokoh,sesuai dengan suasana dan pesan yang ingin di
    Sampaikan.
    Demikian tanggapan saya,semoga bermanfaat dan terima kasih.

    BAB III
    METODE PENELITIAN

    3.1 Rancangan Penelitian
    Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan,dilaksanakan dalam di kelas jadi penelitiannya berupa penelitian tindakakan kelas .Tujuan penelitian ini angina meningkatkan kemampuan Siswa dalam pembelajaran di kelas, terutama peningkatan kualitas pembelajaran berbicara sastra . Siswa bisa lebih serius dalam suatu pembelajaran sastra,dan Guru haruis juga dapat meningkatkan hasil pembelajaran Siswanya.Sebenarnya seseorang di lahirkan kedunia memiliki kepintaran dan keliihan yang sama,begitu juga dengan Siswa di sekolah, sebenarnya juga mempunyaikepintaran yang sama,masalah tinggi dan rendahnya nilai serta sulit mudah nya menerima suatu pelajaran bagi Siswa tergantung yang memberikan kan pembeljaran tersebut,yaitu Guru.
    Maka Guru juga dapat juga dikatagorikan sebagai Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
    Tindakan semua orang pandai bercerita .Diperlukan pelatihan dan keberanian untuk dapat menjelaskan suatu latar cerpen seorang dai kondang Aa Gym atau Zainudin M.Z. adalah contoh orang yang memiliki pengalaman luas dan kemampuan menjelaskan
    Suatu cerita dengan kemampuan berbicara yang memukau.,Artinya ,beliau-beliau mengemas pengalaman yang ada dalam realitas sosial.Maka melihat dari kejadian itu di harapkan Guru atu peneliti ini dapat menghasilkan interpretasi dan penilaian praktik yang di lakukan dalam proses pembelajaran kritis yang ada di lingkungan kelas,tujuan nya untuk mengatahui bagaimana cara Siswa berbicara dalam menjelaskan latar suatu cerpen yang sesui dengan gaya sendiri tetapi masih di dalam bimbingan Gurunya.
    Dalam penelitian ini yang terapkan adalah kita harus mengatahui dulu manfaat karya sastra,khsusnya berbiara sastra,mengenai bagaiman menjelaskan latar suatu cerpen,dan kemudian di jelaskan kapada Siswa,adapun menfaat karya sastra sebagai berikut: Menurut para filsuf Yunani Kuno ,setiap karya sastra,termasuk cerpen,sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.Misalnya ,menurut Horitio,karya sastra mengandung makna dulce et utile,atau menyenangkan karena dapat menghibur penikmatnya,dan berguna karena memberikan banyak hal yang penting seperti pengatahuan maupun pendidikan bagi masyarakat.
    Sedangkan Aritoteles menggungkap bahwa karya sastra berfungsi sebagai sebagai katharsis atau pencucian emosi.Artinya,karya sastra dapat membebaskan pembaca sekaligus pengarang dari tekanan emosi,batin,dan perasaan .Sementara Plato berpendapat bahwa tema-tema karya sastra ,seperti komedi dan tragedi ,dapat dianggap sebagai santapan jiwa yang mampu merangsang emosi manusia serta dapat memperkaya pengalaman batin kita .
    Selain beberapa pendapat di atas ,ada juga teori mimetic dan creatio .Mimetic menganggap karya sastra sebagai tiruan dari alam ,meskipun tidak sama benar . Sedangkan creatio mengganggap karya sastra dapat menciptakan dunia baru yang lepas dari kenyataan .Jadi ,dengan menulis cerpen kita dapat meniru segala hal yang ada di dunia ini .Dunia tiruan tersebut kemudian kita kembangkan dengan imajinasi kita agar menjadi dunia baru seperti yang kita inginkan.
    Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut
    Langkah awal dari penelitian di mulai dari melihat langsung permasalahan yang ada di sekitar lingkungan sekolah,dalam proses belajar mengajar.setelah itu adanya analisis yang ditemukan lalu dijelaskan dengan menggunakan temuan-temuan atau pendapat dari para ahli,dari temuan tersebut peneliti dan guru memberikan rancangan pembelajaran yang akan dipelajari terutama tentang berbicara sastra tentang menjelaskan latar suatu cerpen. Perancanaan tindakan kelas di susun antara guru dan peneliti antara lain mencakup tujuan pembelajaran,satuan pembelajaran atau silabus,Rancangan Pembelajaran Penilaian (RRP),bahan dan materi pembelajaran,dan juga penggunaan media yang tepat khususnya di yang berada didearah terpencil

    3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
    3.2.1 Tempat Penelitian
    Penelitian ini dilaksanakan pada di SMP Negeri 4 Tanta . Secara khusus ,
    Penelitian dilakukan di kelas VII SMP Negeri Tanta,yang beralamat di Jl. Pulau –
    Ku’u ,Kecamatan Tanta,Kabupaten Tabalong.

    3.2.2 Waktu Penelitian
    Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil karena waktu penelitian yang di jadwalkan yang sesuai penelitian yang dilakukan,kebetulan dilaksanakanpada akhir pembelajaran yaitu pada bulan Mei-Agustus 2010, diselenggarakan pada hari senin 10 Mei 2010 dan menganalisis data selama dua bulan ,dari bulan Juni-Juli 2010.

    3.3 Objek dan Subjek Penelitian
    Adapun yang menjadi objek penelitian ini adalah proses belajar mengajar khususnya pembelajaran dalam berbicara,menjelaskan latar suatu cerpen yang terjadi di kelas VII SMP Negeri4 Tanta yang berjumlah 25 Siswa,yang terdiri dari 16 siswa laki-laki,dan 9 Siswa perempuan .Subjekdari penelitian ini adalah Guru Bahasa Indonesia dan Siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanta.

    3.4 Bentuk Penelitian
    Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian tindakan yang dilakukakan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran serta penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran khususnya yang ada di dearah terpencil .PTK memiliki cirri khusus yang membedakan dengan jenis penelitian lain .Berkaitan dengan cirri khusus tersebut ,dapat di jelaskan ada beberapa PTK tersebut ,antara lain
    a. Adanya tindakan yang nyata yang di lakukan dalam menyelesaikan suatu
    masalah.
    b. Menambah pengalaman dalam keilmiahan dan keilmuan.
    c. Sumber permasalahan pembelajaran langsung dari Guru yang bersangkutan yang sesuai bidang studi.
    d. Permaslahan yang di tampilkan tidak suatu masalah yang rumit,hanya permasalahan yang ada pada keluhan-keluhan sekitar tentang pembelajaran saja,yang sifatnya sederhana ,dan juga jelas,penting.
    e. Adanya pnggabunganantara praktikan dan peneliti.
    f. Ada tujuan penting dalam pelaksanaan PTK ,yaitu meningkatkan mutu guru yang profesional ,dan juga adanya suatua kesepakatan serta musyawarah.
    Prinsip utama PTK adalah adanya pemberian tindakan kelas yang didata dalam
    Siklus yang berkelanjutan.Siklus yang berkelanjutan tersebut digambarkan sebagaisuatu proses yang dinamis.Jadi PTK merupakan penelitian yang bersiklus ,artinya ,penelitian ini dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai tujuan penelitian dapat tercapai.

    3.5 Sumber Data
    Sumber data dalam penelitian ini adalah
    1) Dokumen
    Dokomen meliputi informasi yang meliputi catatan lapangan selama proses pembelajaran dan hasil belajar Siswa berupa tulisan.
    2) Informasi
    Informasi merupakan suatu sumber yang penting,dimana untuk mendapatkan suatu data,baik itu berupa dokumen atau hal-hal penting lainnya semuau bersumber dari informasi,tetapi ada catatan penting yang perlu di ingat,kalau kita mau mendata dalam penelitian,malalui informasi haruslah bersumbur dari informasi dari lingkungan atau tempat kita meneliti,misalnya yang jadi informasi dalam penelitian ini adalah Guru Bahasa Indonesia ,Kepala Sekolah dan Siswa SMP Negeri 4 Tanta.
    3) Tempat dan Sekitar Lingkungan
    Tempat merupakan suatu hal yang penting juga menjadi data dalam penelitian,yaitu meliputi suatu rangkaian dalam melakukan kagiatan pembelajaran,menjelaskan latar suatu cerpen dengan realitas sosial,antara Guru dan Siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tanta.Yang berlangsung di lingkungan yang tepat nyaman,dan sesuai.

    3.6 Teknik Pengolahan Data
    Teknik penumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah
    1) Observasi
    Observasi yaitu melakukan pengamatan suatu proses pembelajaran dalam
    menjelaskan latar suatu cerpen dengan realitas sosial,untuk melihat bagaimana
    kemampuan Siswa sebelum dan sesudah dilakukan suatu tindakan dalam meneliti
    yang dilakukan dan tujuan observasi melihat sampai mana keaktifan Siswa serta
    minatnya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran menjelaskan latar suatu cerpen
    dengan realitas sosial,melalui teknik buku kumpulan cerpen.
    2) Wawancara dan Tes
    Wawancara dan tes yaitu dengan melakukan suatu pertanyaan yang ada dalam sekitar pembelajaran terhadap Siswa kelas VII ,dalam bentuk lisan.
    Setelah itu Siswa di haruskan lagi mengamati buku kumpulan cerpen ,kemudian satu persatu siswa maju kedapan untuk menjelaskan realitas sosial .Kemudian dari kegiatan tadi merupakan sebuah bentuk tes bagi Siswa dalam pembelajaran tantang menjelaskan latar suatu cerpen dengan realitas sosial melalui teknik buku kumpulan cerpen,dan juga khusus untuk cara pembelajaran yang bertujuan agar Siswa tertarik dalam pembelajaran tentang berbicara sastra, untuk ini menggunakan model pembelajaran,unjuk kerja.Jadi kita biasa memberikan nilai sebelum dan sesudah adanya tindakan dalam penelitian.

    F. Teknik Analisis Data

    Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitan ini adalah teknik analisia kritis .Teknik tersebut mencakup kegiatan menjelaskan kelemahan dan kekuatan kerja Siswa dan Guru dalam proses belajar mengajar yang terjadi dilingkungan sekolah baik didalam kalas maupun diluar kelas, selama berlangsungnya penelitian . Hasil analisis digunakan untuk membuat atau menyusun rancangan tindakan kelas, yang sesuai dengan siklus yang ada. Analisis dilakukan oleh Guru dan Peneliti.

    Daftar Pustaka

    Asmara,A. 1983. Cara Menganalisis Drama .Yogyakarta :Nur Cahaya.
    .1983. Apresiasi Drama .Yogyakarta: Nur Cahaya
    Alwi,H.,S. Dardjowidjojo, H.Lapoliwa, dan A.M. Muliono. 2003.
    Tata bahasa baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.Jakarta: Balai Pustaka.
    Lestari, E.D., Y .B. Artati,dan W. Widya R. D. 2005 Bahasa dan Sastra Indonesia
    Jilid 1a SMP. Klaten : Intan Paliwara.
    Sawali, J.Kalimasadha, A.Kusstyo,dan Sunaryo. 2005.Bahasa dan Sastra Indonesia
    Kelas VII . Yogyakarta : Citra Aji Parama.

  38. Zaitun Hidayah
    09/07/2010 pukul 8:49 am

    Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Memahami Unsur Intrinsik Novel Pada Siswa Kelas XI SMA 3 Tanjung

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Novel adalah karya imazinatif yang mengisahkan sisi utuh atas probelematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh.
    Unsur Intrinsik adalah unsur yang membangun novel dari dalam cerita itu sendiri.
    Unsur-unsur intrinsik meliputi:
    a. Tema
    b. Alur
    c. Perwatakan
    d. Latar
    e. Sudut pandang
    f. Amanat
    Tema adalah pokok pikiran yang menjadi dasar cerita .Alur adalah jalinan berbagai macam peristiwa yang disusun sehingga menjadi satu kesatuan cerita. Latar/setting adalah tempat, waktu, serta suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Penokohan dapat dipahami melalui percakapan pelaku, penulisan pengarang mengenai pelaku dan tanggapan pelaku lain tentang pelaku tertentu.Amanat merupakan pemecahan pokok masalah dalam sastra.
    Dalam pembelajaran terdahulu menurut pengalaman saya yaitu pembelajaran tentang pemahaman dalam unsur intrinsik novel yaitu:
    -Guru mejelaskan unsur intrinsik secara klasikal, kemudian guru memberikan sebuah novel pada masing-masing siswa.
    -Mereka (Siswa/Siswi)menentukan unsur intrinsik novel tersebut. Setelah dijalankan / diajarkan pendidik kepada siswa ternyata menurut saya dengan cara yang seperti itu kebanyakan siswa kurang bisa menentukan unsur intrinsik novel . Dengan proposal ini saya akan menggunakan metode kelompok(jiksaw).

    B.Rumusan Masalah

    1. Apakah dengan metode jiksaw dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam unsur intrinsik novel?
    2. Apakah dengan metode jiksaw ini dapat memotivasi siswa dalam memahami unsur intrinsik novel?

    C.Tujuan Penelitian

    Adapun tujuan penelitian ini dengan metode jiksaw untuk mengetahui sampai dimana tingkat pemahaman siswa dan motivasinya dalam pembelajaran unsur intrinsik novel ini.

    D.Manfaat Penelitian

    Manfaat dalam penelitian ini antara lain adalah:
    1. Dari segi Guru/Pendidik
    Menjadikan seorang guru/pendidik yang profesional untuk meningkatkan mutu belajar mengajar.
    2. Dari segi murid/pelajar
    Meningkatkan pemahaman siswa/pelajar agar lebih memahami tentang materi pembelajaran/materi yang diajarkan.

    BAB II KAJIAN PUSTAKA

    Pada proposal ini objek dari observasi adalah siswa SMAN 3 kelas XI Tanjung. Anak SMA adalah anak yang berkembang pemikirannya, anak yang aktif, dan pemikiran yang dinamis. Maka menurut saya tepat kalau metode yang saya gunakan adalah metode jiksaw.
    Model jiksaw adalah metode dengan kelompok yaitu guru membagikan satuan informasi (pokok pembahasan)menjadi komponen-komponen kecil(subtopik)yang dibahas masing-masing kelompok.

    Novel merupakan karya sastra yang dibangun oleh unsur-unsur pembangun novel diantaranya alur cerita, pelaku, dan latar. Alur cerita berkenaan dengan jalinan peristiwa yang terdapat dalam sebuah novel.
    Pelaku merupakan tokoh-tokoh yang dibangun oleh pengarang dengan sifat-sifatnya yang telah ditentukan. Adapun latar berhubungan dengan tempat , waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa –peristiwa yang diceritakan .
    Penokohan merupakan salah satu unsur intrinsik karya sastra, diasmping tema, plot/alur, sudut pandang, dan amanat. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.
    Novel merupakan karya sastra yang berbentuk prosa dengan penceritaan mengenai tokoh-tokohnya disampaikan secara panjang dan mendetail.Dalam Novel tokoh cerita dikisahkan hingga akhir cerita.
    Dalam penelitian ini dilakukan melalui dua siklus yaitu siklus I dan siklus II,dimana siklus tersebut terdiri dari :
    1. Perencanaan
    2. Pelaksanaan
    3. Observasi
    4. Refleksi

    BAB III METODE PENELITIAN

    Dalam penelitian ini dilakukan di SMAN 3 Tanjung pada siswa kelas XI semester II. Subjek tindakan yang dilakukan adalah menerapkan metode jiksaw dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami unsur intrinsik novel. Hal itu dilakukan karena sesuai dengan pengamatan saya. Siswa kurang maksimal memahami unsur intrinsik novel yang telah disediakan oleh pendidik.i .
    Model pembelajaran Jigsaw termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sebagai berikut:
    – Tiap anggota kelompok bertugas membahas bagian tertentu
    .
    – Buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerjasama dan diskusi
    – Kembali ke kelompok asal
    – Pelaksanaan tutorial pada kelompok asal oleh anggota kelompok ahli
    – Penyimpulan dan evaluasi
    – Refleksi.
    Dalam penelitian ini dilakukan melalui 2 siklus,yaitu siklus I dan siklus II,dimana siklus tersebut terdiri dari :
    1)Perencanan
    2)Pelaksanaan
    3)Observasi
    4)Refleksi
    Adapun uraian siklus tersebut adalah sebagai berikut :
    1) Perencanaan
    Hal ini mengemukaan tentang unsur intrinsik novel, karena siswa kurang memahami tentang unsur intrinsik novel tersebut, pengamatan ini dilakukan pada tnggal 11 Mei – 18 Mei 2010, di SMA 3 Tanjung oleh peneliti. Dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, dengan jumlah siswi 15 orang dan siswa 15 orang.

    2) Pelaksanaan
    Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksaan yang merupakan implementasi atau penerapan, yaitu menggunakan tindakan di kelas. adapun pelaksanaannya sebagai berikut:
     Guru memberikan pengarahan mengenai materi pokok yang di bahas
     Guru memberikan informasi mengenai bahan pelajaran
     Guru membagi kelompok heterogen 1-5 orang dengan berhitung
     Guru memberikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagin sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok.
     Guru memerintahkan kepada siswa,supaya masing-masing onggota kelompok membahas bagian tertentu yang sudah ditentukan oleh guru.
     Guru memerintahkan setiap kelompok bahan belajar yang sama,supaya membuat kelompok ahlisesuai bagian ajar yang sama sehinga terjadi kerja sama dan diskusi.
     Setelah berdiskusi,anggota kelompok kembali ke kelompok asal.
     Pelaksaan toturial pada kelompok asal oleh anggota kelompok ahli
     Guru memberikan penyimpulan dan evaluasi tentang bahan yang di bahas.
     Guru melakukan refleksi terhadap penelitian yang telah direncanakan
    3) Observasi
    Tahap ke-3 yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat ,dalam penelitian ini guru sebagai pengamat dan juga sebagai peneliti,ada beberapa hal atau data yang di peroleh dari penelitian ini sebagai berikut.
    • Siswa lebih semangat belajar.
    • Siswa lebih mudah berinteraksi dan belajar mengeluarkan pendapat kepada orang lain.
    • Siswa lebih mudah memahami setiap topik pemersalahan, karena ketika mereka kurang memahami topik pemersalahan, mereka dapat bertanya sejelas-jelasnya kepada ahli kelompok.
    4) Refleksi
    Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk mengemukaan kembali apa yang sudah dilakukan. Dalam hal ini guru pelaksana sedang memantulkan pengalamannya selama ini. Karena dalam penelitian ini guru pelaksana juga berstatus sebagai pengamat, yaitu mengamati apa yang telah dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain guru melakukan “dialog” untuk menemukan hal-hal yang sudah sesuai dengan rancangan dan secara cermat mengenai hal-hal yang masih perlu di perbaiki. Dalam penelitian ini yang perlu di perbaiki diantaranya:
    • Perlunya waktu yang cukup dalam melaksanakan model pembelajaran Jiksaw ini.
    • Siswa diharapkan,sebelum metode jiksaw terlaksana, siswa lebih menguasai tentang bahan pelajaran yang mereka bahas.
    • Pembagian bahan atau topik permasalahan, di bagi sebelum pelaksaan.

  39. hairannur
    11/07/2010 pukul 8:19 am

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN DALAM MENULIS
    PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR MELALUI PENDEKATAN KUALITATIF
    PADA SISWA KELAS V SDN 2 KINARUM
    KECAMATAN UPAU KABUPATEN TABALONG

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Pada dasarnya keterampilan berbahasa terdiri dari empat keterampilan yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan itu satu sama lainnya karya saling berkaitan. Puisi adalah karya sastra. Semua karya sastra bersifat konotatif karena banyak digunakan makna kias dan makna lambing (Majas). Menurut kamus istilah sastra (Sudjiman, 1984) puisi merupakan ragam sastra yang ragam bahasanya terikat oleh irama, matra, rima serta penyusunan larik dan bait. Menurut Putu Arya Tirtawirya (1980 :9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara inplisit, samar dengan makna yang tersirat dimana kata-katanya condong pada makna konotatif.

    Tujuan pembelajaran menulis puisi di SDN 2 Kinarum Kecamatan Upau, diarahkan pada tercapainya kemampuan mengungkapkan pendapat, ide, gagasan,, pengalaman, informasi kesan, menggunakan ejaan dan memanfaatkan unsur-unsur kebahasaan karya sastra dalam menulis. Pencapaian tujuan tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor salah satunya adalah media pembelajaran. Media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi siswa dalam membuat siswa aktif. salah media pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa adalah media gambar. dalam pembelajaran menulis khususnya menulisp puisi media gambar dapat mengatasi masalah yang sering dialami siswa, memadukan empat aspek keterampilan berbahasa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses menulis.

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan, berdasarkan hasil pengamatan, wawancara. dan dokumentasi dengan siswa dan guru. Ada beberapa hal yang menyebabkan siswa kesulitan menulis puisi diantara lain yaitu:
    1. siswa kesulitan dalam menentukan tema.
    2. siswa kesulitan menentukan ide dan mengembangkan Ide menjadi draf puisi.
    3. siswa kesulitan dalam menentukan kata-kata.
    4. siswa kurang termotivasi oleh guru dalam menulis puisi.

    Berdasarkan masalah di atas, peneliti perlu mengadakan perbaikan dalam pembelajaran menulis puisi sehingga siswa bisa menuangkan Ide,gagasan,pendapat, dan pengalaman.dalam bentuk puisi.untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi, guru perlu menggunakan media gambar dengan metode.kualitatif sehingga siswa bisa termotifasi dan bisa mengembangkan kreativitasnya dalam bentuk menulis puisi.
    1. 2 Rumusan masalah
    Berdasarkan hasil pengamatan, wawancara, dan dokumentasi dengan siswa dan guru, secara terperinci rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
    1. bagaimana meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas V SDN 2 kinarum ?
    2. Apakah penggunaan media gambar dalam menulis puisi dapat meningkatkan kemampuan dalam menulis puisi ?

    1. 3 Tujuan penelitian
    Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka secara umum tujuan penelitian ini adalah :
    1. untuk mengetahui apakah media gambar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi
    2. untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis puisi dengan media gambar

    1.4 Manfaat penelitian
    Adapun manfaat yang diambil dari penulisan penelitian ini adalah :
    1. meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis puisi
    2. meningkatkan kreatifitas siswa dalam meluangkan ide,gagasan, dan pendapat melalui menulis puisi.
    3. menambah pengetahuan dan wawasan peneliti dalam pengajaran menulis yang mengundang kepada peningkatan kemampuan menulis puisi di luar kelas v sekolah dasar.
    4. memberikan informasi kepada guru sekolah dasar tentang pentingnya kemampuan menulis puisi sekaligus sebagai salah satu panduan dalam menjalankan tugas mengajar yang menyangkut dengan upaya membibimbing siswa terampil dalam menulis puisi.
    5. meningkatkan keterampilan guru dalam menggunakan model pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasisiswa dan aktiv dalam mengikuti pembelajaran.

    BAB II
    KAJIAN TEORI

    2.1 Menulis
    Menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk tujuan, misalnya member tahu, meyakinkan atau menghibur, hasil dari proses kreatif ini bisa disebut dengan istilah karangan atau tulisan, kedua istilah tersebut mengacu pada hasil yang sama meskipun ada pendapat mengatakan kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Istilah menulis sering melekatkan pada proses kreatif yang berjenis non ilmiah.
    Menulis dan mengarang sebenarnya dua kegiatan yang sama karena menulis berarti mengarang(baca:menyusun atau merangkai bukan menghayal)kata menjadi kalimat, menyusun kalimat menjadi paragraf, menyusun kalimat menjadi tulisan kompleks yang mengusung pokok persoalan.
    Pokok persoalan di dalam tulisan di sebut gagasan atau pikiran gagasan tersebut menjadi dasar bagi berkembangnya tulisan tersebut. gagasan pada sebuah tulisan bisa bermacam macam. Melalui tulisannya penulis bisa mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, pikiran, kehendak, dan pengalaman.
    Menulis sebagai keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam mengemukakan gagasan pikirannya kepada orang atau pihak lain den gan media tulisan. Setiap penulis pasti memiliki tujuan dengan tulisannya antara lain mengajak, menginformasikan, meyakinkan, atau menghibur pembaca

    2.2 Pengertian menulis.
    Menurut Tarigan(Hasani,2005:1) menulis adalah menurunkan atau melikiskan lambing-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang di pahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambing-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan grafik tersebut, rusyana( Hasan,2005:1) mengatakan bahwa wujud, pengutaraan sesuatu secara tersusun dengan mempergunakan bahasa disebut karangan.
    Menurut Syamsudin(Hasan,2005:1) menulis adalah aktivitas seseorang dalam menuangkan ide-ide, pikiran dan perasaan secara logis dan sistematis dalam bentuk tertulis sehingga pesan tersebut dapat di pahami oleh para pembaca.
    Menurut Hasani(2005:2) menulis merupakan keterampilan berbahasa yang di pergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. menulis merupakan keterampilan yang produktif dan eksfresif sehingga penulis harus mampu memanfaatkan kemampuan dalam menggunakan tata tulis, struktur bahasa dan kosakata
    2.3 Pengertian puisi
    Puisi merupakan salah satu karya sastra selain prosa dan drama. puis
    i adalah karya sastra yang di padatkan, di persingkat, dan di beri irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias. kata-kata tersebut di pilih agar memiliki kekuatan pengucapan, meskipun singkat, kata tersebut bermakna.
    Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa yunani berasal dari poesis yang artinya berarti penciftaan, dalam bahasa inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan poet dan poem.mengenai kata poet,coulter(dalam tarigan,1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari yunani yang berarti membuat atau mencipta. dalam bahasa yunani sendiri kata poet berarti orang yang mencifta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
    Shahnon Ahmad (dalam pradono, 1993:6) mengumpulkan definisi puisi yang umum misalnyanyair romantic inggris berikut:
    1. Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan di susun secara sebaik-baiknya misalnya seimbang simetris ,antara satu unsur dengan dengan unsure lain sangat erat hubungan nya dan sebagai nya
    2. Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran bunyi- bunyi yang merdu seperti music dalam puisinya. Kata- kata disusun begitu rupa sehingga yang menonjol adalah rangkaian bunyi nya yang merdu seperti musik yaitu dengan mempergunakan orkesta bunyi
    3. Words Worth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imatinatif yaitu perasaan yang di pekakan atau diangankan.Ada pun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur –baur.
    4. Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara kongkret dan artistic dalam bahasa imosional serta berirama.Misalnya dengan kiasan dengan citra-citra dan disusun secara artistik ( misalnya selaras,simetris,pemilihan kata-katanya tepat dan sebagainya ),dan bahasanya penuh perasaan serta berirama seperti musik ( pergantian bunyi kata-katanya berturut-turut secara teratur )
    5. Shelly mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik- detik yang paling indahdalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan,kegembiraan yang memuncak, percintaan bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai . semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk ditekam.

    dari definisi-definisi diatas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam pradopo, 1993 : 7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi diatas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. unsure-unsur itu berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan dan perasaan yang bercampur baur.

    2.4. Unsur-unsur Puisi
    berikut ini merupakan beberapa pendapat mengenai unsur-unsur puisi.
    1. Richards (dalam Tarigan, 1986) mengatakan bahwa unsur puisi terdiri dari :
    a. hakikat puisi yang meliputi tema (sense), rasa (feeling), amanat (intention), nada (tone).
    b. metode puisi yang meliputi diksi, imajeri, kata nyata, majas, ritme dan rima.
    2. Waluyo (1987) yang mengatakan bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang.
    3. Altenberg dan Lewis (dalam Badrun, 1989 : 6) meskipun tidak menyatakan secara jelas tentang unsure-unsur puisi, namun dari outline buku mereka bisa dilihat adanya.
    a. sifat puisi
    b. bahasa puisi : diksi, imajeri, bahasa kiasan, sarana retotika
    c. bentuk : nilai bunyi, vetifikasi, bentuk dan makna
    d. isi : narasi, emosi, dan tema.
    4. Dick Hartoko (dalam Waluyo, 1987 : 27) menyebut adanya unsur penting dalam puisi yaitu unsure tematik atau unsur sematik puisi dan unsur sintaksis puisi. unsur tematik puisi lebih menunjuk kearah struktur batin puisi, unsur sintaksis menunjuk kearah struktur fisik puisi.
    5. Meyer menyebutkan unsur puisi melliputi :
    a. Diksi
    b. Imajeri
    c. Bahasa kiasan
    d. Symbol
    e. Bunyi
    f. Ritme
    g. Bentuk (Badrun, 1989 :6)

    Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi meliputi :
    1. Tema
    2. Nada
    3. Rasa
    4. Amanat
    5. Diksi
    6. Imaji
    7. Bahasa figurative
    8. Kata konkret
    9. Ritme dan rima

    Unsur-unsur puisi ini menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur yaitu :
    1. Struktur batin meliputi : tema, nada, rasa dan amanat
    2. Struktur fisik meliputi : diksi, imajeri, bahasa figurative, kata konkret, ritme dan rima
    Djojosuroto (2004 : 35) menggambarkan sebagai berikut :
    2.4.1 Puisi sebagai struktur
    Berdasarkan pendapat Richards, Siswanto dan Roekhan (1991 : 55-65) menjelaskan Unsur-unsur puisi sebagai berikut :
    A. Struktur batin puisi
    Adapun struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai berikut :
    1. Tema / makna (sense) : media puisi adalah bahasa, tatanan bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, makna puisi harus bermakna, baik tiap kata, baris, bait maupun makna keseluruhan.
    2. Rasa (Feeling) yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya, pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang social dan fsikologi penyair. misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas social, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan fsikologis, dan pengetahuan kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyingkapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata , rima, gaya bahasa dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan fsikologisnya.
    3. nada (tone) yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerjasama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca dll

    4. Amanat / tujuan / maksud (intention) : sadar maupun tidak ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
    B. Struktur Fisik Puisi
    Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut :
    1. perwajahan puisi (tipografi) yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata tepi kanan kiri, pengaturan barisnya hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf capital dan diakhiri dengan tanda titik. hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi
    2. Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. karena puisi adalah bentuk karya sastra yaitu sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 1987 : 68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (Sembilan) aspek penyimpangan yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantic, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis. penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok / profesi tertentu), penyimpangan grafologis (penggunaan capital hingga titik)
    3. imaji yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan. imaji dapat dibagi menjadi tiga yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
    4. kata kongkret yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambing. missal kata kongkret “salju : melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup dll. sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi kehidupan dll.
    5. bahasa figurative yaitu bahasa berkias yang dapat menhidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986 : 128) bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatic artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987 :83). bahasa figuratif disebut juga majas. adapun macam-macam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, refetisi, anaphora, pleonasme, antithesis, alusio, klimaks, anti klimaks, satine, pars pro toto, totem proparte, hingga paradox
    6. versifikasi yaitu menyangkut rima, ritme dan metrum
    rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik diawal, tengah dan akhir baris puisi. rima mencakup :
    a. onomatope (tiruan terhadap bunyi, missal ing / yang memberikan efek magis pada puisi sutadji (B)
    b. bentuk intera pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata) dan sebagainya (Waluyo, 1987 : 92)
    c. pengulangan kata / ungkapan
    ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi
    2.5 Macam-macam puisi
    1. Puisi berpola yaitu puisi yang pengaturan lariknya membentuk gambar tertentu disesuaikan dengan judul, tema dan pesannya. larik puisi dapat berupa sepatah kata atau beberapa kata mendukung gagasan tertentu (zaidan,dkk.2004 :160). salah satu contoh puisi berpola misalnya puisi “tragedy winka & sinkha” karya sutadji (alzoum Bachre (1981-38)
    2. Puisi epik atau wiracarita yaitu puisi kisahan panjang tentang perbuatan kesatria dan pahlawan, berisi cerita kepahlawanan, berisi cerita kepahlawanan yang mengandung mitos, legenda, cerita rakyat dan sejarah (zaidan,dkk,2004:218) salah satu contoh puisi epik misalnya puisi “perang banjar” karya Tajuddin Noor Ganie (1995 : 69-73)
    3. Puisi Dramatik yaitu puisi yang memiliki persyaratan dramatik yang menekankan tikaian emosional atau situasi yang tegang (zaidan,dkk. 2004 : 161) salah satu contoh puisi dramatik misalnya puisi “Balada Terbunuhnya Atmo Karpo”Karya Rendra (1979 : 16-17)
    4. Puisi Hermetis yaitu puisi yang merupakan ekspresi perseorangan dan bersifat curahan perasaan (zaidan, dkk. 2004 : 161) comtoh puisi hermetic misalnya puisi “darah malam” karya Eza Thabry Husano (1985:12)
    5. Puisi imajis, contoh puisi imajis misalnya puisi “gadis kecil” karya Sapardi Djoko Damono (2001:82)
    6. Puisi kanak-kanak yaitu puisi yang diciptakan khusus untuk anak-anak baik oleh anak sendiri maupun orang dewasa (zaidan,dkk.2004:161) salah satu contoh misalnya puisi “tolong-menolong” karya Abdul Hadi WM (1983:10)
    7. Puisi keluhan, yaitu puisi yang menampakkan penderitaan pembicaraan karena ketidaksetiaan seorang kekasih, keadaan dunia yang merisaukan, ketidakbahagiaan dan sebaginya (zaidan,dkk 2004 :161-162) salah satu contoh misalnya puisi “senja dipelabuhan kecil” karya Chairil Anwar (1996:58)
    8. Puisi lirik yaitu puisi yang berisi curahan perasaan pribadi, terutama lukisan perasaan (zaidan, dkk. 2004 : 120-121) salah satu contoh misalnya puisi “kangen” karya Rendra (1981 : 66)
    9. Puisi mantra yaitu puisi yang mengikuti pola mantra (zaidan,dkk.2004:162) salah satu contoh misalnya puisi “Duka” karya Ibrahim Saleh (1987:270)
    10. Puisi rabeling yaitu sejenis puisi ringan yang tujuannya membebaskan rasa tertekan, gelisah dan tegang. puisi main-main (zaidan,dkk,2004:162) salah satu contoh misalnya puisi “Tau Mau” karya Yudhistira ANM Massardi (1983:62)
    11. Puisi metafisik yaitu puisi yang mengungkapkan renungan dengan analogi antara makrokosmos dan mikrokosmos melalui bahasa sehaari-hari, pengungkapannya mendalam dengan kelenturan ritme serta tema yang kompleks, baik suci maupun profane, ragam puisi ini penuh dengan paradox, argument yang dialektis dan humor yang tuntas (zaidan,dkk, 2004 :162-163) salah satu contoh misalnya puisi “Gatoloco” karya Goenawan Mohamad (2001 : 67-69)
    12. Puisi pastoral yaitu puisi yang mengambarkan kehidupan pedesaan yang tenang dan tentram (zaidan,dkk.2004:163) salah satu contoh misalnya puisi “Gembala” karya Muhammad Yamin (1963:348)
    13. Puisi sufi yaitu puisi yang mengandung nilai-nilai paham tasawuf, puisi yang mengandung nilai-nilai tasawuf, pengalaman tasawuf, biasanya mengungkapkan kerinduan penyairnya akan tuhan, hakikat hubungan makhluk dengan khalik, dan segala prilaku yang tergolong dalam pengalaman religius (zaidan,dkk.2004:164) salah satu contoh misalnya puisi “Tuhan Kita Begitu Dekat” karya Abdul Hadi Win (1977 : 40)
    2.6 Bentuk-bentuk Puisi
    Bentuk-bentuk puisi terdiri dari dua jenis yaitu jenis puisi baru dan jenis puisi lama
    2.6.1 Bentuk puisi baru
    puisi baru yang termasuk dalam kesusastraan Indonesia adalah sebagai berikut :
    1. Soneta
    merupakan jenis puisi yang lahir di Italia sekitar pertengahan pertama abad XIII
    2. Distikon
    merupakan sajak dua seuntai, artinya puisi puisi tersebut tiap bait atas dua larik
    3. Terzina
    merupakan sajak tiga seuntai, artinya puisi tersebut tiap bait terdiri atas empat larik
    4. Quatrain
    merupakan sajak empat seuntai, artinya puisi tersebut tiap bait terdiri atas empat larik
    5. Quint
    merupakan sajak lima seuntai, artinya puisi tersebut tiap bait terdiri atas lima larik
    6. Sekstet
    merupakan sajak enam seuntai, artinya puisi tersebut tiap bait terdiri atas enam larik
    7. Septima
    merupakan sajak tujuh seuntai, artinya puisi tersebut tiap bait terdiri atas tujuh larik

    8. Stanza (oktaf)
    merupakan sajak delapan seuntai, artinya puisi tersebut tiap bait terdiri atas delapan larik
    9. puisi bebas
    merupakan puisi yang menunjukkan kebebasan penyair dalam menulis puisi dan tidak terikat larik pada setiap bait puisi
    10. puisi kontemporer
    merupakan puisi Indonesia yang inkonvensional. puisi ini disebut juga dengan puisi aneh, puisi lugu, dan puisi mbeling
    Berdasarkan isinya, puisi baru dibedakan menjadi beberapa macam, macam puisi baru sebagai berikut :
    1. Balada
    Merupakan puisi yang berisi kisah atau cerita
    2. Himne
    Merupakan puisi yang berisi pujian untuk tuhan, tanah air, atau pahlawan
    3. Ode
    Merupakan puisi yang berisi sanjungan untuk orang, benda, atau peristiwa yang dimuliakan
    4. Epigram
    Merupakan puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup
    5. Romance
    merupakan puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
    6. Elogi
    Merupakn puisi yang berisi ratapan tangis atau kesedihan
    7. Satire
    Merupakan puisi yang berisi sindiran atau kritikan

    2.6.1 Bentuk Puisi Lama
    Puisi lama dapat dibedakan tigabelas jenis
    Jenis-jenis puisi lama sebagai berikut :
    1. Pantun
    a. pantun anak-anak terdiri dari pantun suka cita dan pantun duka cita
    b. pantun remaja (muda atau dewasa terdiri dari pantun perkenalan, pantun berkasih kasihan, pantun perpisahan, pantun beriba hati, dan pantun dagang
    c. pantun orang tua terdiri dari pantun adat, pantun nasehat, pantun agama, pantun budi, dan pantun kepahlawanan
    d. pantun teka-teki
    e. pantun jenaka
    2. Karmina
    merupakan jenis puisi lama yang berasal dari Indonesia. karmina sering juga disebut pantun kilat
    3. Pantun Berkait
    sama seperti pantun, pantun berkait juga memiliki sampiran dan isi. akan tetapi pantun berkait selalu berkait dari bait yang satu ke bait yang lain membentuk sebuah cerita yang diwujudkan dalam pantun
    4. Talibun
    merupakan jenis puisi lama, yang mirip dengan pantun. jika pantun setiap bait terdiri atas empat larik, talibun satu bait terdiri atas enam larik atau lebih asalkan genap. misalnya delapan, sepuluh atau seterusnya
    5. Seloka
    merupakan puisi lama Indonesia yang berasal dari india. seloka terdiri atas empat larik dalam satu bait
    6. Gurindam
    merupakan salah satu jenis puisi lama Indonesia yang berasal dari Tamil (india). gurindam terdiri atas dua larik dan bersajak aa
    7. Syair
    merupakan salah satu puisi lama Indonesia yang berasal dari arab. ada beberapa jenis syair yaitu :
    a. syair yang berisi cerita panji
    b. syair yang berisi cerita-cerita khayal/fantasi
    c. syair yang berisi cerita kiasan
    d. syair yang berisi cerita yang benar-benar terjadi
    e. syair yang berisi cerita terjemahan atau saduran dari karya sastra asing
    f. syair yang berisi cerita yang berhubungan dengan agama, mistik dan moral.
    8. Mantra
    merupakan bentuk puisi lama asli Indonesia dan juga merupakan bentuk puisi lama yang tertua dan hidup dalam sastra lisan
    9. Bidal
    merupakan salah satu puisi asli Indonesia, kalimatnya singkat yang mengandung pengertian dalam bentuk kiasan. bidal dibagi enam berdasarkan asalnya :
    a. bidal dari lingkungan petani
    b. bidal dari lingkungan rumah tangga
    c. bidal dari kalangan guru atau kaum ulama
    d. bidal dari kalangan pedagang
    e. bidal dari lingkungan nelayan atau orang-orang pantai
    f. bidal yang mengingatkan suatu dongeng atau cerita

    Berdasarkan susunan kata atau jenisnya bidal dapat dibagi delapan jenis yaitu :
    a. pepatah
    merupakan kiasan yang tepat dan langsung ditunjukan kepada seseorang untuk mematahkan perkataan orang tersebut sehingga tidak dapat berkilah lagi
    b. pribahasa
    merupakan kelompok kata atau kalimat yang mempunyai arti tertentu untuk mengiaskan sesuatu
    c. perumpamaan
    merupakan kiasan pendek yang terdiri atas dua patah kata
    d. ungkapan
    adalah kalimat yang membandingkan keadaan yang sebenarnya dengan keadaan lain yang ada dialam
    e. Ibarat
    merupakan perumpamaan yang lebih tegas daripada perumpaan biasa, karena diberi penjelasan lebih lanjut
    f. Tamsil
    adalah kiasan yang bersampiran dan bersajak atau berirama
    g. Pemeo
    merupakan kalimat pendek yang pada awalnya di ucapkan oleh seorang saja, tetapi lama-kelamaan ditiru orang banyak.

    h. Kata-kata arif
    merupakan kalimat yang berupa kiasan dan mengandung kebijaksanaan.

    10. Mafsenui
    adalah bentuk puisi lama yang berasal dari persi-arab yang berisikan pujaan terhadap orang-orang besar atau perbuatan yang penting-penting
    11. Rubai
    merupakan puisi lama yang berasal dari persi-arab, rubai bernapaskan agama atau kepercayaan dan yang terdiri atas empat larik, berima aba
    12. Gazal
    merupakan puisi lama yang berasal dari persi-arab yang terdiri atas delapan larik, tiap larik terdiri atas za-zz suku kata, setiap larik mempunyai kata akhir yang sama dan berisi masalah kebatinan yang tinggi
    13. Kithah
    merupakan puisi lama yang berasal dari persi-arab yang mempunyai bentuk tidak teratur dari biasnya bersifat keagaam dan member nasihat
    14. Nazam
    merupakan puisi lama yang berasal dari persi-arab yang terdiri dua belas larik. banyaknya suku kata tiap larik tidak jelas dan berima aa, bb, cc, dd, ee, ff dan berisi cerita tentang hamba raja yang setia

    BAB III
    METODE PENELITIAN

    3.1 Pendekatan penelitian
    Dilihat dari pendekatan analisisnya, penelitian dibagi dua macam yaitu penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekakan analisisnya pada data-data memerikal (angka) yang di olah dengan metode statistika dan penelitian dengan pendekatan kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan dedukatif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan anteafenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah.
    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan. rancangan disusun dalam satuan siklus dengan sistem berulang, setiap siklus berisi aktivitas pembelajaran pratulis, saat tulis, pasca tulis dan refleksi. refleksi dilakukan pada setiap akhir siklus. hasil refleksi digunakan sebagai dasar untuk perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya. data penelitian diperoleh dari hasil pengamatan, wawancara dan dokumentasi.
    Hasil analisis data penelitian menunjukan bahwa pembelajaran menulis puisi dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi pada siswa kelas V SDN 2 Kinarum Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong dengan media gambar. peningkatan kemampuan menulis puisi dilakukan dalam tahap pembelajaran yang meliputi tahap pratulis, tahap menulis, dan tahap pasca tulis.
    Pada tahap pratulis peran guru sebagai fasilitator dan motivasi dalam kegiatan belajar siswa dilakukan melalui aktivitas :
    1. mengadakan operasi
    2. menampilkan gambar
    3. melakukan Tanya jawab untuk membangkitkan schemata siswa tentang puisi
    4. menjelaskan langkah-langkah menulis puisi
    sedangkan aktivitas siswa pada tahap pratulis dalam kegiatan pembelajaran yaitu :
    1. memperhatikan gambar yang ditampilkan
    2. menjelaskan pertanyaan guru
    3. menyimak penjelasan tentang langkah menulis puisi
    Pada tahap menulis aktivitas guru yaitu :
    1. membagikan gambar kepada siswa
    2. siswa diminta memilih dan menyebutkan isi gambar
    3. meminta siswa menentukan ide dan mengembangkan ide tersebut menjadi draf puisi
    4. meminta siswa mengembangkan draf menjadi puisi utuh dengan memperhatikan gambar
    Sedangkan aktivitas siswa yaitu :
    1. memperhatikan gambar yang dibagikan
    2. memilih dan menyebutkan isi gambar
    3. menentukan ide dan mengembangkan ide menjadi draf puisi
    4. mengembang draf menjadi puisi utuh

    Pada tahap pascatulis, peran guru sebagai fasilitator dan motivasi dengan melakukan aktivitas :
    1. menyiapkan karangan yang akan dipublikasikan
    2. memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca karya
    3. melayani siswa dalam berdiskusi dan bertanya jawab
    4. memberikan perhatian terhadap siswa yang berdiskusi dengan mengamati menunjukan reaksi yang positif, memotivasi siswa
    5. mencatat kelebihan dan kelemahan siswa
    sedangkan aktivitas siswa pada tahap pasca tulis ini, yaitu :
    1. membacakan hasil karya tulis mereka
    2. memperhatikan dan mengomentari hasil karya tersebut
    3. karya yang sudah diperbaiki, dipajang dimajalah dinding

    dalam prosedur yang demikian, diperoleh kemampuan menulis puisi siswa yang meningkat pada setiap tahap, secara kualitatif, hasil belajar pada tahap pratulis adalah :
    1. suasana belajar sisa dapat terkendali
    2. siswa dapat berinteraksi dengan temannya
    3. siswa berani menceritakan pengalamannya dan mengemukakan pertanyaan yang berkaitan dengan puisi
    4. siswa berani menjawab pertanyaan dari guru mengenai unsur-unsur puisi
    Secara kualtatif, hasil belajar siswa pada tahap menulis ditandai dengan kemampuan :
    1. mengidetifikasi gambar
    2. menentukan ide sesuai gambar
    3. menulis draf puisi sesuai dengan ide yang ditemukan
    4. menggunakan pilihan kata (diksi) dalam menulis puisi
    Secara kualitatif hasil belajara siswa pada tahap pasca tulis yaitu dengan berkembangnya kemampuan siswa dalam memublikasikan karya, yang ditandai dengan
    1. keberanian membaca hasil karyanya
    2. kemampuan merespon hasil karya temannya
    3. kemampuan melakukan perbaikan terhadap hasil karyanya
    4. dapat menunjukkan hasil karyanya dibidang atau papan pengumuman.
    pembelajaran menulis puisi dengan media gambar berdampak positif bagi psikologis siswa dan dapat meningkatkan aktivitas siswa dengan merangsang keterlibatan emosional, perhatian, motivasi dan ketekunan siswa dalam pembelajaran menulis puisi.

    3.2 Tempat dan waktu penelitian
    3.2.1 Tempat penelitian
    Penelitian ini dilakukan di SDN 2 Kinarum Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong
    3.2.2 Waktu penelitian
    Penelitian ini dilakukan pada semester genap dari bulan januari – juni 2010 dan menganalisis data pada juni 2010

    3.3 Subjek penelitian
    Subjek penelitian ini dilakukan pada siswa kelas V SDN Kinarum Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong, yang berjumlah 18 orang yang terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan

    3.4 Pengumpulan data
    Ada beberapa teknik pengumpulan data yaitu :
    1. Mengembangkan angket
    2. Melakukan absevasi langsung di kelas
    Ternyata melalui hasil kaloborasi dan analisis data, penyebab, sesungguhnya adlaah kualitas belajar mengajar yang tidak kondusif (mendukung. Mendorong( bagi siswa untuk mengikuti pelajaran bahasa Indonesia dalam hal pembelajaran menulis puisi. umumnya siswa mengganggap bahwa akar penyebab masalah kualitas belajar mengajar adalah :
    1. proses belajar mengajar satu arah
    2. cara guru mengajar membosankan kurnag menarik
    3. guru kurang menguasai teknik/metode pembelajaran dan
    4. pelaksanaan sistem pelajaran semester tidak berjalan dengan baik

    3.5 Analisis data
    Tahapan sesudah pengumpulan data adalah analisis data, menurut moleong (2007 : 280) analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian besar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja. Pada penelitian tindakan, analisis datanya lebih banyak menggunakan metode dengan pendekatan kualitatif berdasarkan hasil observasi wawancara dan dokumentasi dengan murid dan guru. Diperoleh kesimpulan bahwa terdapat peningkatan aktivtas belajar dan perhatian siswa membaik sesudah guru mengajar dengan metode pendekatan kualitatif.

    daftar pustaka
    google.com pengertian menulis
    google.com puisi : definisi dan unsur-unsurnya.
    ending sulistyo wati dan tarman effendi tarsyad,-2009 pangkajian puisi : teori dan aplikasi Banjarmasin tahura media
    diah erna triningsih. bedah puisi baru, inta pariwara
    wendi widya r.d bedah puisi lama, inta pariwara
    prof. suharsimi arikunto. prof. suhardjono, prof, supardi penelitian tindakan kelas bumi aksara
    saifuddin azwar, ma. metode penelitian, pustaka pelajar.

  40. Desi Susilawati
    13/07/2010 pukul 4:36 am

    MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI
    DENGAN TEKNIK LATIHAN TERBIMBING BERDASARKAN MEDIA CERPEN SISWA KELAS VII-B SMP NEGERI II TANJUNG

    BAB I
    PENDAHULUAN
    A. Latar Belakang Masalah
    Bahasa merupakan media yang digunakan manusia dalam berkomunikasi.pikiran dan perasaan diekspresikan dengan bahasa. Keterampilan berbahasa terbagi menjadi empat, yakni menyimak/mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
    Ketrampilan menulis sebagai salah satu cara berkomunikasi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menyampaiakan maksud kepada oramg lain atau pembaca dengan menggunakan bahasa tulis.keterampilan membaca sangat berpengaruh terhadap keterampilan menulis. Dengan banyak membaca, seseorang akan banyak mengetahui tentang suatu hal. Semakin banyak tahu tentang suatu hal, maka seseorang akan mudah mendapat ide atau gagasan untuk dituangkan kedalam tulisan. Menulis sebagai salah satu kegitan yang harus dihadapi siswa dalam proses pembelajaran, terutama untuk mata pelajaran bahasa dan sastra indonesia. Melalui menulis diharapkan siswa dapat menungkan idenya baik yang bersifat ilmiah maupun yang bersifat imajinatif.
    Menulis puisi merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai siswa kelas VII SMP NEGERI II Tanjung. Menulis puisi adalah salah satu bentuk kegiatan yang bersifat produktif-kreatif dan membutuhkan keterlibatan emosi. Artinya, menulis puisi dilaksanakan melalui proses kreatif. Proses ini dapat dilakukan jika siswa tergugah secara emosional untuk menciptakan sesuatu melalui rangsangan peristiwa yang memilukan, menyedihkan, dan menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Menulis puisi merupakan kegiatan mengungkapkan ide dan perasaan dengan medium bahasa.yang ditekankan dalam penulisan puisi adalah ketepatan dan kehematan pemilihan kata.
    Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri IITanjung dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis puisi masih jauh dari yang diharapkan.kondisi siswa antara lain : (1) siswa tidak memiliki ide untuk menulis dalam bentuk puisi, (2) siswa tidak tertarik terhadap penulisan puisi, (3) kemampuan yang dimiliki siswa tidak sesuai dengan kegiatan penulisan puisi yang diharapkan, (4) sisiwa memiliki bekal penguasaan bahasa yang kurang memadai, (5) sisiwa memiliki kemampuan bervariasi dalam menulis puisi, (6) banyak diantara sisiwa tidak mencapai nilai ketuntasan dalam pembelajaran menulis puisi.
    Dalam menulis puisi, siswa sering mengalami kesulitan dalam menuangkan ide dan ketepatan dan kehematan dalam pemilihan kata. Dalam kegiatan pembelajaran menulis puisi ini perlu dilakukan strategi dan cara yang lebih menarik perhatian siswa. Permasalahan yang dialami siswa tersebut dapat dibantu melalui teknik dan metode baru yaitu dengan teknik latihan terbimbing dan media cerpen.melalui teknik ini siswa diharapkan mampu mengungkapkan ide yang dapat dituangkan dalam bentuk puisi, dengan bimbingan dan arahan dari guru.

    B. Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah di atas,permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
    1. Apakah penggunaan media cerpen efektif digunakan dalam pembelajaran menulis puisi siswa kelas VII SMP Negeri II Tanjung ?
    2. Bagaimana peningkatan kemampuan menulis puisi siswa VII SMP Negeri II Tanjung terhadap pembelajaran menulis puisi, setelah mengikuti pembelajaran dengan teknik latihan terbimbing berdasarkan media cerpen ?

    C. Tujuan penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah yang ada di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
    1) Mendiskripsikan keefektifan penggunaan media cerpen dalam pembelajaran menulis puisi siswa kelas VII SMP Negeri II Tanjung.
    2) mendiskripsikan peningkatan kemampuan menulis puisi siswa dengan media cerpen siswa kelas VII SMP Negeri II Tanjung.

    D. Manfaat Penelitian

    Hasil penelitian ini, diharapkan bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis terhadap pembelajaran menulis puisi dan pengembangan media pembelajaran pada siswa SMP. Adapun manfaat penelitian ini, sebagai berikut :
    1. Manfaat Teoritis
    Pembelajaran menulis puisi dengan teknik latihan terbimbing berdasarkan media cerpen, diharapkan memberikan manfaat dalam mendukung teknik dan media pembelajaran dalam pembelajaran menulis puisi.
    2. Manfaat Praktis
    a. Menjadi bahan informasi kepada guru Bahasa Indonesia tentang model pengembangan dan penggunaan cerpen sebagai media pembelajaran menulis puisi siswa pada SMP.
    b. Dengan adanya inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan cerpen sebagai media pembelajaran, siswa mendapat pengalaman baru yang bermakna dengan pembelajaran menulis puisi dengan teknik latihan terbimbing berdasarkan media cerpen.

    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA

    A. Pengertian Puisi
    Menurut kamus besar bahasa indonesia (2003: 903), Puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait atau merupakan gubahan di bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.
    Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias yangl terpilih( imajinatif). Kata-kata betul-betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan walaupun singkat atau padat, namun berkekuatan. Karena itu, salh satu usaha penyair adalah memilih kata-kata yang memiliki persamaan bunyi (irama). Kata-kata itu memiliki makna yang lebih luas dan banyak. Karena itu, kata-kata dicarikan konotasi atau makna tambahannya dan dibuat bergaya dengan bahasa figurative ( waluyo, 2005 ).
    Menurut Samuel Taylor Coloridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya sumbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur-unsur lain sangat erat berhubunganya dan sebagainya.( http://WWW.google.co.id)
    Puisi adalah sintesis dari pelbagai peristiwa bahasa tersaring senurni-murninya dalam pelbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya, serta tersusun dengan sistem korespondensi dalam salah satu bentuk ( Slamet Muliana dan Nauman, 2000)

    B. Pembelajaran Menulis Puisi
    Ketrampilan menulis merupakan kegiatan yang menarik dan sangat menyenangkan. Dengan menulis kita dapat menyalurkan ekspresi pikiran dan perasaan kedalam bentuk tulisan.tetapi kegiatan menulis masih jarang dilkukan karena sering sekali mengalami kesulitan untuk memulai kegiatan tersebut yang disebabkan kita kesulitan untuk menemukan ide yang dapat dijadikan sebuah tulisan.
    Menulis puisi merupakan salah satu bentuk menulis kreatif. Menulis puisi adalah suatu kegiatan intelektual, yakni kegiatan yang menuntut seseorang harus benar- benar cerdas, menguasai bahasa, l;uas wawasannya,dan peka perasaannya. Menulis pyuisi bermula dari proses kreatif, yakni mengimajikan atau mengembangkan fakta-fakta empirik yang kemudian diwujudkan dalam bentuk puisi. Kemudian, untuk menuangkan menjadi sebentuk puisi, kita harus terlebih dahulu memahami unsur-unsur pembentuk puisi ( Jabrohim dkk, 2003: 31-33).
    Puisi diciptakan dalm suasana perasaan yang intens yang menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Ada saat-saat tertentu yang pengucapan batin dengan puisi dan saat-saat lain yang menuntut pengucapan batin dengan bentuk prosa. Bahasanya, selain indah juga padat, artinya kata-kata yang digunakan mewakili banyak pengertian. Pilihan vokal atau konsonan juga sesuai dengan estetika ( Waluyo, 2005)
    Pembelajran menulis puisi memiliki banyak manfaat, antara lain :
    (1) Sebagai alat pengungkapan diri, (2) sebagai alat untuk memahami secara lebih jelas dan mendalam ide-ide yang ditulisnya, bisa berhubungan dengan dirinya, orang lain, dan bahkan dengan Tuhannya.(3) sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap lingkungan,(4) sebagai alat untuk melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan bersastra, (5) seagai alat untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan menggunakan bahasa sebagai media komunikasi, dan (6) meningkatkan inisiatif penulis ( Roekhan, 1989 dalam Pradopo,1989).
    Mengingat kenyataan bahwa keterampilan menulis siswa masih kurang, belum memuaskan, dan masih perlu dicarikan teknik-teknik yang efektif untuk membelajarkan ketrampilan menulis siswa. Berdasarkan kenyataan tersebut peneliti melakukan penelitian peningkatan ketrampilan menulis an puisi pada siswa kelas VII SMP Negeri II Tanjung menggunakan teknik latihan terbimbing berdasarkan media cerpen.

    C. Teknik Latihan Terbimbing
    Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik latihan terbimbing yaitu suatu cara untuk memperoleh ketangkasan melalui suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus secara sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang diuhadapinya agar tercapai keterampilan untuk dapat memahami dirinya, ketrampilan untuk menerima dirinya, untuk mengarahkan dirinya, untuk merealisasikan dirinya sesuai dengan potensi atau keterampilannya dalam mencapaipenyesuaian diri.
    Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik pria atau wanita yang terlantih dengan baik dan memiliki kepribadian dan pendidikan yang memadahi kepada seseorang, dari semua usia untuk membantunya mengatur kegiatan, keputusan sendiri, dan menenggung bebannya sendiri ( Crow & crow dalam Mugiarso 2004: 2 ).
    Teknik latihan terbimbing yang digunakan dalam proses pembelajaran akan menciptakan kondisi siswa yang aktif. ada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh teknik latihan terbimbing, antara lain 1) memberikan kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan ide yang ada pada dirinya, 2) memupuk nalar siswa, 3) dapat mengembangkan sikap kritis dan berpikir efektif, 4) siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan belajar, 5) meringankan beban guru dalam mengajar, 6) kegiatan pembelajaran tidak membosankan, 7) meningkatkan terjalinnya interaksi dua arah dalam proses pembelajaran, 8) dapat memupuk, mengembangkan, dan mengkomunikasikan pengalaman belajar, dan 9) meringankan beban guru dalam proses belajar ( Maulana 2005:26-30 ).

    D. Media pembelajaran
    Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yan g secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat seta perhatian siswa sedemikian rupa, sehingga prosess belajar terjadi ( sadiman, 2002 :6 )
    Rossi dan Breidle ( dalam Sanjaya, 2006) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya. Menurut Rossi alat-alat semacam raio dan televisi kalau dugunakan dan diprogram untuk pendidikan maka merupakan media pembelajran. Namun demikian, media bukan hanya berupa alat atau bahan saja, akan tetapi hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan.

    E. Cerita Pendek
    Jakob Sumardjo dan Saini K.M menyatakan bahwa cerpen adalah cerita atau narasi (bukan analisis) yang fiktif (tidak benar-benar telah terjadi tetapi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja) serta relatif pendek. Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah cerita fiksi berbentuk prosa yang relatif pendek dan terbatas ruang lingkupnya karena hanya mengungkapkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang serta memiliki ciri-ciri yaitu ceritanya pendek, bersifat naratif, dan bersifat rekaan ( fiction ).
    Pengertian cerpen diungkapkan oleh sastrawan kenamaan dari Amerika yang bernama Edgar Alan Poe ( dalam Nurgiantoro 2005: 10). Dia mengatakan bahwa cerita pendek (cerpen) adalah sebuah cerita yang dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam.

    F. Menulis Puisi dengan Teknik Latihan Terbimbing Berdasarkan Media Cerpen
    Menulis puisi merupakan suatu keterampilan bersastra yang sangat menyenangkan. Ketrampilan menulis puisi yang baik tidak dapat diperoleh begitu saja oleh seseoang tanpa latihan yang baik dan terus menerus. Untuk memperoleh keterampilan menulis puisi yang baik perlu adanya latihan dan bimbingan dari seorang guru yang berkompeten dalam bidangnya.

    G. Kerangka Berpikir
    Pada umumnya siswa mengalami kesulitan untuk mengungkapkan ide dan perasaan dengan medium bahasa. Dan kesulitan dalam ketepatan pemilihan kata dalam pembuatan puisi tidak hanya pada dimensi makna, tetapi juga rasa dan suasana. Oleh karena itu, agar kesulitan tersebut dapat di atasi perlu diadakan teknik dan media yang tepat serta menarik perhatian siswa. Teknik yang akan digunakan adalah teknik latihan terbimbing berdasarkan media cerpen.
    Meningkatkan keterampilan menulis puisi dengan teknik latihan terbimbing berdasarkan media cerpen diharapkan dapat memudahkan siswa dalam mengungkapkan ide dan perasaan serta pemilihan kata yang tepat dalam menulis puisi.
    dengan adanya masalah tersebut peneliti melakukan penelitian tindakan kelas ( PTK ) ini dilakukan melalui dua siklus yang terdiri empat tahapan yaitu : perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

    H. Hipotesis Tindakan
    Berdasarkan masalah yang terdapat pada kelas VII SMP Negeri II Tanjung, penelitian mengenai pembelajaran menulis puisi dilaksanakan oleh peneliti. Teknik dan media yang di gunakan dalam penelitian ini adalah teknik latihan terbimbing berdasrkan media cerpen. Teknik dan media ini akan meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis puisi. Selain itu, terdapat perilaku siswa kearah yang lebih baik dalam mengikuti pembelajran menulis puisi.

    BAB III
    METODE PENELITIAN

    3.1 Rancangan Penelitian
    Secara umum tujuan penelltian ini adalah untuk mendiskripsikan peningkatan kemampuan menulis puisi siswa dengan media cerpen siswa kelas VII SMP Negeri II Tanjung dengan teknik latihan terbimbing. Sesuai dengan tujuan penelitian, rancangan yang akan digunakan pada penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas.

    3.2 Tahap Pelaksanaan
    Pada tahap ini dilakukan tindakan seperti yang telah disusun dalam rencana pembelajaran. Materi pembelajrannya adalah ide yang dapat dikembangkan menjadi sebuah cerpen dan unsur-unsur pembangun cerpen, melalui tahapan sebagai berikut :
    1) Guru memberikan penjelasan tentang tujuan kegiatan pembelajran yang akan dilaksanakan dan manfaat yang akan diperoleh siswa setelah mengikuti pembeljaran menulis puisi.
    2) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mereka berantusias dalam mengikuti pembelajran.
    3) Guru memberikan contoh puisi kepada siswa sebagai pengenalan awal, siswa membaca dan mengamati contoh puisi tersebut.
    4) siswa bersama guru mendiskusikan tentang unsur-unsur pembangun puisi.
    5) Guru membimbing siswanya agar agar dapat menemukan ide untuk menulis puisi, dan guru juga menjelaskan langkah-langkah apa saja yang dapat dilakukan dalam mengubah cerpen menjadi sebuah puisi.
    6) siswa mulai untuk menulis puisi dan guru berkeliling melihat pekerjaannya, dan guru membantu siswa yang mengalami kesulitan.
    7) siswa bersama guru mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan dan siswa dibantu guru membuat kesimpulan mengenai pembelajaran menulis puisi dengan media cerpen.
    3.3 Lokasi dan Tempat penelitian
    3.3.1 lokasi penelitian
    Lokasi penelitian adalah di SMP Negeri II Tanjung yang berlokasi di Jl. Jaksa Agung Suprapto No.13 Kec. Tanjung Kab. Tabalong Kode Pos 71513.
    3.3.2 subjek penelitian
    Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri II Tanjung, yang berjumlah 36 orang, terdiri atas 16 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Subjek penelitian ini sangat heterogen dilihat dari kemampuannya, yakni ada sebagian siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah.
    3.4 Data dan sumber data
    Data dari penelitian ini berupa penilaian dalam penulisan puisi. Sumber data untuk memperoleh data penelitian tersebut adalah siswa kelas VII SMP Negeri Tanjung.
    3.5 Waktu penelitian
    Waktu penyelenggaraan penelitian ini adalah pada semester V ( bulan januari-maret)
    3.6 Teknik pengumpulan data
    Dalam penelitian ini, untuk mendapatkan data dilapangan peneliti menggunakan teknik tes dan nontes. Teknik tes digunakan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan dalam menulis cerpen. Sedangkan teknik nontes digunakan dengan maksud untuk mengetahui sikap siswa selama mengikuti pembelajran yang terjadi sehubungan dengan pembelajaran menulis puisi. Teknik tes yang penulis gunakan adalah tes subjektif. Penulis meemperoleh data tes subjektif selama siswa mengikuti proses pembelajaran, yakni ketika siswa melakukan kegiatan menulis puisi. Observasi dilakukan pada saat kegiatan pembelajran sedang berlangsung. Adapun aspek yang diobservasi adalah antusias siswa dalam kegiatan pembelajaran, perhatian siswa terhadap terhadap penjelasan yang diberikan guru, keseriusan siswa, keaktifan siswa, respon dan komentar siswa selama pembelajran menulis puisi berlangsung.

    BAB V
    SIMPULAN DAN SARAN
    5.1 Simpulan
    Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan data penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis puisi dengan teknik latihan terbimbing dan media cerpen tenyata sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis puisi pada siswa kelas VII SMP Negeri II Tanjung.
    5.2 Saran
    – diharapkan bagi guru bahasa indonesia dapat mempertahankan dan meningkatkan prestasi siswa dalam menulis puisi dengan teknik latihan terbimbing dan media cerpen.
    -diharapkan siswa dapat mempertahan dan menigkatkan kemampuan dalam menulis puisi dengan media cerpen.

    DAFTAR PUSTAKA

  41. Bambang Febriansyah
    14/07/2010 pukul 12:38 pm

    NAMA : BAMBANG. FEBRIANSYAH
    NPM : 306-07-11-388
    A. LATAR BELAKANG
    Sastra lahir disebabkan oleh dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan eksistensi dirinya, perhatian besar terhadap masalah manusia dan kemanusiaan, serta perhatiannya terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang hari dan sepanjang zaman. Karena itu, sastra yang telah dilahirkan oleh para pengarang diharapkan dapat memberikan kepuasan estetik dan intelektual bagi masyarakat pembaca. Akan tetapi, sering terjadi bahwa karya sastra tidak dapat dipahami dan dinikmati sepenuhnya oleh sebagian besar masyarakat pembaca. Membaca karya sastra bukan hanya untuk mendapatkan kepuasan karena keindahannya, melainkan juga untuk memperkaya wawasan dan daya nalar. Sastra adalah vitamin batin, karena mengajarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan kepada pembacanya, memberikan pencerahan. Bahkan Aristoteles berpendapat bahwa bersastra merupakan kegiatan utama manusia untuk menemukan dirinya di samping kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat.
    Mengingat peranan sastra dalam pengembangan kepribadian pembacanya, maka pengajaran sastra di sekolah tentulah menjadi keniscayaan. Melalui pengajaran sastra, seorang siswa tidak hanya cuman sekedar tau tentang apa itu sastra, tokoh-tokoh dalam kesusastraan, bahkan juga untuk mengetahui pada kekayaan isi karya sastra itu sendiri. Tetapi dengan membaca dan memahami karya sastra, berarti seorang siswa mencoba memahami kehidupan, mencoba memperoleh nilai-nilai positif dan luhur dari kehidupan, dan pada akhirnya memperkaya batinnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sidney (dalam Alwasilah, 2001:31) bahwa dengan membaca tenting tindakan-tindakan heroik manusia, kita sendiri dibimbing menuju kebaikan dan kepahlawanan.
    Selain itu, keindahan suatu karya sastra dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat membangkitkan motivasi atau dorongan kepada para siswa untuk mencari dan terus mencari keindahan dan nilai-nilai tersebut dalam karya-karya sastra lainnya. Keinginan mencari hal-hal baru tersebut tentulah akan mempengaruhi keinginan dan minat untuk membaca. Jika membaca sudah menjadi kultur dalam tatanan sosial kita, maka wawasan dan cara berpikir para siswa pun akan berbeda. Pada akhirnya, minat membaca yang tinggi akan membantu pemilihan bahan bacaan yang lebih bermutu sehingga diharapkan dapat menjadikan para siswa menjadi seorang pelajar yang berkompeten dibidang sastra.
    Berdasarkan permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap minat baca para siswa terhadap bacaan sastra di SMUN 1 Muara Uya.
    B. PERUMUSAN MASALAH
    Berdasarkan latar belakang masalah diatas perlu adanya perumusan masalah agar penelitian yang dilakukan dapat lebih terarah, lebih mendalam dan efektif. Adapun perumusan masalah yaitu seberapa besar minat para siswa-siswi SMUN 1 Muara Uya dalam membaca karya sastra?
    C. TUJUAN PENELITIAN
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana minat baca para siswa-siswi SMUN 1 Muara Uya terhadap bacaan sastra.
    D. MAMFAAT PENELITIAN
    1. Manfaat Teoritis
    Secara teoritis penelitian ini bermanfaat dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia yaitu tentang minat baca para siswa-siswi terhadap bacaan sastra.
    2. Manfaat Praktis
    Para siswa dapat memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih tentang karya sastra dan juga untuk meningkatkan prestasinya dengan cara membaca sastra.
    E. KAJIAN PUSTAKA
    Membaca karya sastra dapat dimasukkan ke dalam membaca dengan pemahaman, karena ketika membaca sebuah karya sastra, pembaca bukan hanya membaca apa yang tersurat/tertulis tetapi juga akan berusaha memahami pesan yang tersirat dari sebuah karya sastra. Oleh karena itu membaca disebut sebagai kegiatan untuk memahami. Selain itu pembaca karya sastra pada akhirnya akan memberikan suatu penilaian. Maksudnya pembaca karya sastra setelah membaca bukan hanya membaca, menikmati, memahami karya sastra tersebut, tapi akan menyimpulkan apakah karya tersebut memiliki nilai lebih, baik atau buruk.
    Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Aminuddin (1987:20), bahwa membaca karya itu haruslah bersifat kritis, maksudnya adalah kegiatan membaca dengan menggunakan pikiran dan perasaan secara kritis untuk menemukan dan mengembangkan suatu konsep dengan jalan membandingkan isi teks sastra yang dibaca dengan pengetahuan, pengalaman, serta realitas lain yang diketahui pembaca untuk memberikan identifikasi, perbandingan, dan penilaian.
    Jadi, membaca dapat dikatakan sebagai sebuah fenomena cultural. Membaca adalah proses dimana kita terlibat setiap saat, sebagaimana kita berusaha mencoba memahami dunia atau menafsirkan tanda-tanda yang mengelilingi kita (Cavallaro, 2001:90).
    Iser (dalam Ratna, 2004:171) memperkenalkan konsep ruang kosong, yaitu tempat yang disediakan penulis bagi pembaca untuk secara aktif dan kreatif berpartisipasi memberikan interpretasinya. Dengan konsep ruang kosong ini tampak bahwa pembaca memiliki peran penting, jadi pembaca memiliki kemampuan dan pengalaman yang banyak.
    Culler (dalam Ratna, 2004:172) menyatakan bahwa untuk memahami suatu karya sastra, pembaca haruslah memahami beberapa konvensi sebagaimana memahami system aturan yang berlaku umum dalam masyarakat. Misalnya membaca novel pasti konvensinya berbeda dengan membaca puisi, tapi karena dia sudah memahami konvensi yang berlaku umum, maka hal itu tida k akan menimbulkan kesulitan. Dengan demikian karya sastra akan menjadi bermakna bila pembaca telah siap untuk membaca teks yang akan dibaca.
    Membaca karya sastra bukan hanya untuk mendapatkan kepuasan karena keindahannya, melainkan juga untuk memperkaya wawasan dan daya nalar. Sastra adalah vitamin batin, karena mengajarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan kepada pembacanya, memberikan pencerahan. Bahkan Aristoteles berpendapat bahwa bersastra merupakan kegiatan utama manusia untuk menemukan dirinya di samping kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat.
    Mengingat peranan sastra dalam pengembangan kepribadian pembacanya, maka pengajaran sastra di sekolah tentulah menjadi keniscayaan. Melalui pengajaran sastra, siswa tidak hanya Cuma mengetahui tentang kekayaan sastra Indonesia dan dunia, tokoh-tokoh dalam kesusastraan, bahkan juga mengetahui pada kekayaan isi karya sastra itu sendiri. Dengan membaca dan memahami karya sastra, berarti siswa mencoba memahami kehidupan, mencoba memperoleh nilai-nilai positif dan luhur dari kehidupan, dan pada akhirnya memperkaya batinnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sidney (dalam Alwasilah, 2001:31)
    F. METODE PENELITIAN
    1. Variabel penelitian
    Yang dimaksud dengan variabel penelitian adalah apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi variabel penelitian adalah minat baca para siswa terhadap bacaan sastra.

    2. Populasi dan Sampel
    Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda, hewan, tumbuh-tumbuhan dan pristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam sebuah penelitian. Populasi juga dapat diartikan keseluruhan objek yang ingin diteliti. Oleh karena itu yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah jumlah keseluruhan siswa-siswi yang belajar di SMUN 1 Muara Uya.
    3. Metode Penelitian
    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis yang ditunjang oleh data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan (Library Research), dan penelitian lapangan (Field Research).
    Adapun penelitian kepustakaan (Library Research) adalah menelaah, mengkaji dan mempelajari berbagai literature (referensi) yang erat kaitannya dengan masalah yang akan dibahas.
    Penelitian lapangan (Field Research), penulis terjun langsung ke lapangan atau dilakukan di sekolah dengan melalui observasi, angket dan studi dokumentasi untuk memperoleh data yang jelas dan representatif .
    4. Teknik Pengumpulan Data
    Adapun teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:
    a) Observasi
    Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti. Observasi ini dilakukan dengan mengamati instrumen-instrumen dalam proses evaluasi serta data yang dapat menunjang kelengkapan penelitian ini.
    b) Angket
    Angket adalah daftar pertanyaan tertulis yang diberikan kepada responden baik secara langsung maupun tidak langsung. Angket ini diberikan kepada para siswa-siswi yang belajar di SMUN 1 Muara Uya, guna memperoleh data tentang minat baca para siswa terhadap bacaan sastra.
    5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
    Teknik analisis data merupakan cara yang digunakan untuk menguraikan keterangan-keterangan atau data yang diperoleh agar data tersebut dapat dipahami bukan saja oleh orang yang mengumpulkan data tapi juga oleh orang lain.
    Untuk mengolah data hasil penelitian, penulis melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
    a) Editing
    Dalam mengolah data, pertama kali yang harus dilakukan adalah editing, yaitu melakukan edit, memilih atau meneliti angket satu persatu tentang kelengkapan dan kebenaran pengisian angket, sehingga terhindar dari kekeliruan dan kesalahan

    b) Skoring
    Setelah melewati tahap editing, maka selanjutnya penulis memberikan skor tehadap butir-butir pertanyaan yang terdapat dalam angket. Butir jawaban yang terdapat dalam angket ada empat, yaitu a,b,c dan d.
    Adapun pemberian skor untuk tiap jawaban adalah:
    a = 4
    b = 3
    c = 2
    d = 1
    G. DAFTAR RUJUKAN
    Aminuddin, 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Cavallaro, Dani, 2001. Critical and Cultural Theory ( Terj. Laily Rahmawati). Yogyakarta: Niagara.
    Alwasilah, A. Chaedar, 2001. Language, Culture, and Educati on: A Portrait of Contemporary Indonesia. Bandung: Andira
    Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : Rineka Cipta, 1998.
    Cavallaro, Dani, 2001. Critical and Cultural Theory (Terj. Laily Rahmawati) Yogyakarta:Niagara.
    Pradopo, Rachmat Joko, 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
    Ratna, Nyoman Kutha, 2004. Teori, Metode dan Teknik Penel itian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
    Rasito, Hermawan. Pengantar Metodologi Penelitian,Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
    Sudjana, Nana. Penelitian dan Penilaian Pendidikan,Bandung: Sinar Baru,1989
    Sunaryo, Hari, 2005. Membaca Ekspresif: Keterampilan Menghidupkan Teks Sastra. Malang: UMM Press.
    Tampubolon, 1990. Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Bandung: Angkasa

  42. Parhadi
    14/07/2010 pukul 12:45 pm

    Nama: parhadi
    NPM: 306.07.11.390

    KETERAMPILAN MENULIS DAN MENYUSUN KARANGAN SEDERHANA BAGI SISWA SD KELAS IV

    A. Latar Belakang
    • Menulis merupakan proses menuangkan ide, pendapat, dan pikiran untuk disampaikan kepada orang lain.
    • Berdasarkan pengalaman peneliti selama mengajar BI di kelas IV sering dijumpai bahwa siswa belum seluruhnya bisa mengorganisasikan ide dengan baik.
    • Siswa akan lebih cepat dalam menemukan dan mengorganisasikan ide dengan bantuan teman sebaya karena menulis merupakan aktivitas kolaborasi
    • KTSP memberi peluang dalam pembelajaran menulis bersama sehingga keterampilan menulis siswa SD kelas IV menjadi lebih baik
    • Diharapkan dengan pembelajaran menulis bersama akan meningkatkan keterampilan dalam menyusun karangan siswa SD kelas IV

    B. Rumusan Masalah
    • Bagaimana Perencanaan Strategi Menulis Bersama dalam Meningkatkan Keterampilan Menyusun Karangan Sederhana Siswa SD Kelas IV
    • Bagaimana Pelaksanaan Strategi Menulis Bersama dalam Meningkatkan Keterampilan Menyusun Karangan Sederhana SD Kelas IV
    • Bagaimana Evaluasi Strategi Menulis Bersama dalam Meningkatkan Keterampilan Menyusun Karangan Sederhana Siswa SD Kelas IV
    C. Cara Pemecahan Masalah
    1. Penyiapan dengan menyusun rencana topic materi.
    2. Memperlihatkan kepada mahasiswa masing – masing teknik dalam meulis sebuah karangan.
    3. Melakukan diskusi tentang berbagai teknik menulis sebuah karangan.
    D. Tujuan Penelitian
    • Mendeskripsikan Perencanaan Strategi Menulis Bersama dalam Meningkatkan Keterampilan Menyusun Karangan Sederhana Siswa SD Kelas IV
    • Mendeskripsikan Pelaksanaan Strategi Menulis Bersama dalam Meningkatkan Keterampilan Menyusun Karangan Sederhana Siswa SD Kelas IV
    • Mendeskripsikan Evaluasi Strategi Menulis Bersama dalam Meningkatkan Keterampilan Menyusun Karangan Sederhana Siswa SD Kelas IV

    E. Manfaat Penelitian

    – Sebagai bahan masukan dalam memilih metode yang tepat untuk pelajaran menulis
    dalam meningkatkan Keterampilan Menyusun Karangan Sederhana
    – Dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan dalam menulis karangan sederha na
    – untuk mendorong aktifitas belajar guna meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

    F. Metode penelitian

    Metode yang akan di gunakan dalam penelitia tindakan kelas ini adalah Metode Classroom action Reseach (PTK).
    Menurut Sukidin, 2002 : 16 mendefinisikan PTK sebagai suatu bentuk penelaahan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau maningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas professional
    Penelitian tindakan kelas merupakan proses mengkaji melalui system berdaur dari berbagai kegiatan pembelajaran menurut Raka Joni, dkk(1988).
    Dapat di ketahui ada lima tahapan pelaksanaan PTK yaitu :
    1. pengembangan fokus masalah penelitian
    2. perencanaan tindakan
    3. observasi dan evaluasi
    4. analisa dan refleksi
    5. perencanaan tindakan lanjut.

    G. Kajian Pustaka

    1. Keterampilan Menulis

    Menulis atau mengarang, dua istilah yang tidak asing bagi masyarakat.
    Pengertian menulis sebagai proses yang melibatkan pengetahuan, pengalaman, serta penalaran untuk dituangkan dalam tulisan dengan tidak meninggalkan proses revisi. Menurut Nurchasanah (1994:2), menulis adalah proses mengungkapkan atau menuangkan informasi yang berupa pikiran, perasaan atau kemauan dengan menggunakan wacana tulis dan berdasarkan pada tatanan serta kaidah bahasa yang berlaku. Senada dengan pendapat di atas, Rofi’uddin (1998:75). mengemukakan yaitu menulis merupakan keterampilan dengan menggunakan bahasa tulis untuk mengungkapkan ide, pikiran, atau perasaan kepada orang lain. Menulis merupakan keterampilan untuk mengolah pengetahuan, pengalaman, pikiran serta ide atau gagasan ke dalam tulisan. Hal tersebut diperlukan keterampilan untuk menggunakan aspek berbahasa, yakni penggunaan tanda baca dan ejaan, pemilihan diksi atau kosakata, penggunaan tata bahasa atau struktur kalimat, pengembangan paragraf, serta pengolahan gagasan. Untuk mencapai suatu tulisan yang baik sesuai kaidah bahasa, tentu
    saja akan berhubungan pula dengan keefektifan dalam menggunakan kalimat.
    Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan pesan, gagasan, ide, dan pemberitahuan kepada penerima (pembaca) sesuai dengan yang ada dalam benak si penyampai (penulis).
    Kalimat itu mempunyai ciri-ciri:
    (1) strukturnya teratur;
    (2) kata yang digunakan mendukung makna secara tepat; dan
    (3) hubungan antar bagiannya logis.

    Menurut Atarsemi (1989), kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi
    sasaran, mampu menimbulkan pengaruh, dan meninggalkan kesan. Kalimat tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
    (1) sesuai dengan tuntutan bahasa baku;
    (2) jelas;
    (3) ringkas atau lugas;
    (4) adanya hubungan yang baik (koherensi);
    (5) kalimat harus hidup; dan
    (6) tidak ada unsur yang tidak berfungsi.

    Dari pendapat-pendapat diatas dapat dikataan bahwa menulis merupakan
    suatu keterampilan yang ada pada diri seseorang dalam mengembangkan ide/gagasan, pikiran atau perasaan kepada orang lain yang dituangkan dalam bahasa tulis berkaitan dengan suatu makna yang dipelajari (ilmu pengetahuan), pengalaman hidup seharihari, opini dan sebagainya.

    2. Penerapan Pendekatan Kontekstual (CTL) dalam Pembelajaran Menulis
    Bahasa Inggris

    Pendekatan CTL memiliki tujuh elemen pokok yakni
    (1) inkuiri,
    (2) bertanya,
    (3) kontruktivisme,
    (4) masyarakat belajar,
    (5) pemodelan,
    (6) penilaian autentik, dan
    (7) refleksi. (Ismawati & Supriyanto, 2008:3-5).

    Penerapan pendekatan CTL dalam pembelajaran menulis dilakukan dengan mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila tujuh komponen CTL diterapkan secara nyata selama proses pembelajaran menulis berlangsung. Adapun langkah-langkah konkret dalam pembelajaran menulis dengan menerapkan tujuh komponen CTL adalah sebagai berikut:

    a. Inkuiri

    Pelaksanaan proses belajar menulis (mengarang) dilaksanakan dalam
    tahapan pramenulis, menulis dan pascamenulis. Pada tahap pramenulis, siswa
    dirangsang untuk dapat menghasilkan ide atau gagasan dari pengetahuan atau
    pengalaman yang dimilikinya. Siswa dilatih untuk dapat mengembangkan daya
    imajinasinya melalui kegiatan menemukan (inkuiri). Kegiatan inkuiri dalam
    pembelajaran menulis diwujudkan melalui kegiatan menemukan topik, judul, dan
    ide pokok karangan berdasarkan pengalaman nyata para siswa yang dituliskan
    dalam kerangka (draf) karangan yang dapat diperoleh dengan melakukan
    pengamatan, bertanya, dan menyimpulkan.

    b. Bertanya

    Bertanya merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh informasi dari orang lain. Dalam pembelajaran menulis, bertanya (tanya-jawab) dilakukan sebagai ajang tukar pengetahuan atau pengalaman di antara para pelaku belajar. Kegiatan bertanya dilakukan dengan cara mengelompokkan para siswa dalam beberapa kelompok belajar. Para siswa dalam satu atau antar kelompok melakukan kegaitan bertanya untuk memperoleh pengetahuan atau informasi dari temannya yang dapat digunakan untuk bahan dalam mengembangkan karangan.

    c. Kontruktivisme

    Langkah konkret dalam menulis (mengarang) pada elemen ini dilakukan
    melalui proses yang dilaksanakan dalam tahapan-tahapan tertentu secara runtut.
    Tahapan mengarang diawali dari menentukan topik dan judul karangan, menyusun kerangka karangan, mengembangkan paragraf menjadi karangan yang utuh, dan diakhiri dengan kegiatan merevisi karangan. Dengan cara yang demikian, hasil karangan atau tulisan para siswa menjadi lebih baik atau optimal.

    d. Masyarakat Belajar

    Kegiatan menulis (mengarang) dapat dilakukan melalui kerjasama teman
    dalam kelompok atau teman antar kelompok. Pengetahuan yang dibangun melalui kerjasama dengan teman, dapat digunakan sebagai acuan pola pikir setiap individu siswa.
    Masyarakat belajar yang diterapkan pada pembelajaran menulis, membuat siswa merasa terbantu dalam proses belajarnya untuk dapat menghasilkan karangan yang lebih baik dibandingkan dengan pola belajar secara individu. Implementasi pada kegiatan menulis dapat diwujudkan dalam kegiatan menentukan topik karangan, dan menyusun kerangka karangan.

    e. Pemodelan

    Implementasi terhadap pembelajaran menulis pada elemen pemodelan
    adalah dengan memberi model atau contoh karangan yang baik dan benar.
    Pemberian model dalam pembelajaran menulis dapat mengefektifkan proses
    pembelajaran. Dengan memberikan contoh pola karangan kepada siswa, mereka merasa lebih mudah dalam mengerjakan tugas dari gurunya melalui pola yang telah dicontohkan.

    f. Penilaian Autentik

    Elemen penilaian autentik dalam pembelajaran menulis dilakukan dengan
    memberi latihan kepada para siswa untuk menilai karangan teman dan karangan
    sendiri secara objektif. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka melatih siswa
    memiliki sifat kejujuran dalam bekerja.

    g. Refleksi

    Dalam kegiatan menulis (mengarang), refleksi sangat dibutuhkan untuk
    dapat mengembangkan ide atau gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan
    atau karangan. Kegiatan refleksi dilakukan pada setiap proses pembuatan karangan mulai dari tahap penentuan topik karangan sampai kegiatan merevisi atau memperbaiki karangan. Dari uraian diatas, penerapan tujuh elemen pendekatan CTL pada pembelajaran menulis merupakan upaya untuk meningkatkan produktivitas pembelajaran menulis, sehingga proses belajar diharapkan akan lebih bermakna karena pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan kepentingan dan kemampuan siswa.
    Dengan adanya pendekatan kontekstual (CTL), kemampuan siswa untuk
    menyusun sebuah karya pikir dalam bentuk bahasa tulis dapat ditingkatkan. Melalui karya tulis, seseorang akan dapat mengungkapkan kreativitas dan daya pikir kritisnya.

    2. Penilaian Pembelajaran Menulis

    Untuk mengukur keberhasilan pembelajaran menulis, dilakukan dengan dua cara penilaian yaitu: penilaian proses pembelajaran dan penilaian hasil belajar
    .
    1. Penilaian Proses Pembelajaran.

    Penilaian proses pembelajaran dilakukan saat pembelajaran berlangsung.
    Guru mengukur sampai berapa jauh tingkat keberhasilan pembelajaran melalui
    pengamatan terhadap minat dan perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran,
    maupun respon yang diberikan dalam menanggapi konsep menulis fungsional
    yang diberikan. Penilaian dilakukan dengan menggunakan ceklist pada lembar
    pengamatan. Pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila anak memiliki minat
    dan perhatian yang cukup tinggi dalam melakukan kegiatan menulis.

    2. Penilaian Hasil Belajar

    Penilaian hasil belajar dilaksanakan apabila pembelajaran telah selesai.
    Penilaian ini dilakukan melalui tes tertulis. Keberhasilan pembelajaran dapat
    ditunjukkan dengan meningkatkan partisipasi siswa pada kurun waktu tertentu
    yang ditunjukkan pada nilai ulangan harian atau nilai tes hasil belajar. Apabila
    nilai anak meningkat, maka hal tersebut merupakan indikasi bahwa pembelajaran telah berhasil. Sebaliknya apabila nilai anak tidak meningkat,
    bahkan menurun, hal ini merupakan indikasi bahwa pembelajaran tidak berhasil
    (Aqib, 2004;90)

    3. Pemberian Skala Skor

    Pemberian nilai pada hasil tulisan siswa dilakukan dengan menggunakan
    pedoman penilaian karangan yang meliputi beberapa aspek. Seperti:
    1) aspek bahasa yang terdiri dari
    a). Kalimat,
    b) diksi, dan
    c) ejaan.

    Aspek bahasa ini diberi bobot 50% dengan rincian: 20 untuk kalimat, 10 untuk diksi dan 20 untuk ejaan.

    2) isi karangan, yang terdiri dari dari:
    a) struktur karangan,
    b) kedalaman isi karangan, dan
    c). Kesesuaian isi dengan judul.

    Pada aspek yang kedua ini diberi pula bobot 50% dengan rincian untuk struktur 10, untuk isi 30, dan untuk kesesuaian isi dengan judul 10. Sedangkan rentangan nilai yang digunakan adalah 10 sampai 100.

    DAFTAR PUSTAKA

    -Arifin,E.Zainal, 1991, Penulisan Karangan Ilmiah dengan Bahasa
    Indonesia Yang Baik dan Benar,PT.Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
    -Harahap, Nasrun dkk,1982. Teknik Penelitian Hasil Belajar Seri A.Jakarta
    -Arikunto,Suharsimi,1987, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Bina Aksara, Jakarta.

  43. M.Farid Wahyudi
    14/07/2010 pukul 12:51 pm

    NAMA: M.Farid Wahyudi
    NPM: 306.07.11.381

    A. JUDUL
    Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Dengan Menggunkan Alat Peraga Siswa Kelas V SDN JARO I
    B. LATAR BELAKANG MASALAH
    Sebagai pengajar, guru berusaha melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, tetapi hanya sebagian siswa yang aktif dan sebagian besar siswa hanya diam memperhatikan , tetapi tidak memahami materi pelajaran yang diajarkan. Dalam hal membuat puisi, para siswa kelas VI SDN 1 Baru ini masih tergolong rendah kemampuannya. Kebiasaan menulis puisi dengan imajinasi semata ternyata lebih sulit dibandingkan dengan menggunkan alat peraga.
    Dalam pengamatan telihat bahwa, kebiasaan guru yang hanya bisa menyuruh kepada siswanya dengan tidak disertai dengan penjelasan yang lebih jelas serta penggunaan metode pembelajaran yang tidak bervariasi membuaat anak tidak sepenuhnya dapat menyerap apa yang telah ia dengarkan.
    Potensi siswa akan tergali dengan pembelajaran yang variatif, asik dan menyenangkan.
    C. RUMUSAN MASALAH
    Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah :
    1. Bagaimana cara menggunakan alat peraga dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi ?
    D. TUJUAN PENELITIAN
    Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
    1. Mendeskripsikan penggunaan alat peraga dalam peningkatan kemampuan siswa dalam menulis puisi.
    E. MANFAAT PENELITIAN
    Dengan penelitian ini diharapkan dapt memberikan penetahuan atau pengalam bagi kita semua. Adapun manfaat lain diataranya :
    a. Bagi Guru
    Menumbuhkan kreatifitas guru dalam usaha memperbaiki proses dan hasil pengajaran, sehingga dapat meminimalkan permasalahan pengajaran dan meningkatkan kualitas pengajaran menuju kearah perbaikan secara profesional.
    b. Bagi Sekolah
    Sebagi alternatif untuk kebijakkan sekolah agar hasil belajar siswa meningkat. Keberhasilan proses pengajaran dalam memperbaiki mutu kenaikan kelas dan lulusan sehingga meningkat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
    c. Bagi Siswa
    Membantu meningkatkan hasil belajar siswa dan membentu siswa yang bermasalah dalam mengaktualisasikan potensi yang ada , terutama dalam berinteraksi dengan teman atau guru dalam proses pembelajaran.

    F. KAJIAN PUSTAKA
    Puisi merupakan salah satu karya sastra dalam bentuk tulisan.
    Menulis puisi terdiri dari dua kata, yaitu menulis dan puisi. Untuk lebih jelas tentang apa hakikat dari menulis puisi itu kita akan jelaskan satu persatu dari kata tersebut.
    Menurut S. Takdir Alisyahbana (1996:2)mengartikan menulis adalah melahirkan atau mengungkapkan pikiran atau perasaan melalui suatu lambang (tulisan). Sedangkan puisi adalah suatu gubahan dalam bahasa , yang memiliki bentuk, bunyi, irama, dan makna khusus dengan tujuan dapat mempertajam kesadaran atas orang yang membacanya (Andangdjaya, Hartoyo, 1973:3).
    Dari kedua pengetian diatas dapat disimpulkan bahwa menulis puisi adalah mengungkapkan pikiran atau perasaan dalam bentuk puisi dengan tujuan agar dapat mempertajam kesadaran atas orang yang membacanya.
    Dalkam menulis sebuah pusi, banyak metode atau cara yang digunakan, salah satu diantaranya adalah menulis puisi dengan alat peraga. Menulis puisi dengan alat peraga merupakan teknik penulisan puisi dengan adanya model sebagai acuan pembuatan puisi, jadi dalam pembuatan puisi tersebut terfokos pada benda tersebut.
    Dalam pembelajaran menulis puisi di SD, metode ini sangat tepat, sesuai dengan tingkat perkembangan atau kemampuan siswa, karena siswa SD masih rendah tingkat pemahamannya disamping pengalamannya.
    G. METODE PENELTIAN
    Metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan observasi secara langsung. Metode ini dipilih karena dalam metode deskriptif kualitatif, dengan mudah kita memperoleh data dan informasi secara langsung dengan wawancara atau tanya jawab.
    H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
    Rencana Penelitian
    1. Subjek penelitian
    Subyek dalam peniltian ini adalah siswa SDN JARO I kelas V jumlah 17 siswa
    Tempat Penelitian
    Dalam penilitian ini penulis mengambil lokasi di SDN JARO I, Desa Jaro, penulis mengambil lokasi atau tempat ini dengan pertimbangan bekerja pada sekolah tersebut, sehingga memudahkan dalam mencari data, peluang waktu yang luas dan subyek penlitian yang sangat sesuai dengan profesi penulis.
    3. Waktu Penelitian
    Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan menggunakan waktu penelitian selama 3 bulan Januari s.d Maret. Waktu dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian tersebut pada semester Genap Tahun pelajaran 2009/2010. Lama Tidakan. Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan Januari, mulai dari siklus I, Siklus II dan Siklus III.

    I. DAFTAR PUSTAKA
    Alisyahbana, S. Takdir. (1996). Puisi lama. Jakarta: Dian Rakyat.

    Andangdjaya, Hartoyo. (1973). Buku Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya.
    Soejarwo. (1993). Bunga-bunga Puisi dan Taman Sastra Kita. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

  44. 15/07/2010 pukul 3:20 am

    Nama : Ernawati
    BAB I
    PENDAHULUAN

    1. 1 Latar Belakang Masalah
    Salah satu hasil karya sastra Melayu pada masa dahulu yang masih dipelihara dan dikembangkan pada masa kini adalah pantun. Pada masa dahulu, pantun digunakan secara luas dan diciptakan untuk bermacam-macam kepentingan. Misalnya untuk menyampaikan nasehat atau petuah, menyatakan perasaan kasih sayang, acara pernikahan, mengenalkan dan menanamkan budi pekerti, mengembangkan pranata sosial dan juga untuk menciftakan homur. Pada masa kini, penggunaan pantun lebih terbatas, misalnya untuk mengisi acara televisi untuk edisi siaran khusus pada bulan Ramadhan, acara gembira saat perkemahan, atau upaya kreatif seorang pembawa acara untuk menciptakan suasana tertentu.
    Karya sastra membuat pantun memiliki peminat yang masih cukup minim jika dibandingkan dengan karya sastra lainnya seperti drama cerpen dan puisi, dengan alasan bahwa pantun adalah sastra lama sehingga peminatnya pun menjadi sedikit. Sedangkan puisi dan drama adalah sastra modern yang selalu ditampilkan di televisi.
    Faktor yang melatar belakangi adalah barangkali ada anggapan yang salah terhadap pantun itu sendiri, sebab kebanyakan siswa SMP beranggapan bahwa pengajaran membuat pantun tidak terlalu penting dan tidak termuat dalam Ujian Nasional sehingga pengajaran pantun disepelekan.
    Apapun keadaanya yang diperlukan sekarang adalah meningkatkan keterampilan menulis pantun. Meskipun pantun adalah karya sastra lama, ia harus dilestarikan agar jangan sampai punah seiring dengan kemajuan zaman, sebab berpantun merupakan tradisi bagi sebagian masyarakat Indonesia dalam acara tertentu.
    Latar belakang semua inilah yang mendorong peneliti untuk memilih tema penelitian ini.
    1
    1. 2. Rumusan Masalah
    Untuk dapat membuat pantun sebanyak mungkin, seseorang harus mengetahui terlebih dahulu rumus pantun. Demikian pula agar pantun memiliki makna yang sangat menarik dan bermanfaat bagi pembaca dia harus menjadi pengarang yang terampil dalam menyusun kata-kata. Tetapi kebanyakan orang kurang memperhatikan, malahan tidak mengetahui tentang cara membuat pantun tersebut.
    Oleh sebab itu masalah yang harus dipecahkan peneliti adalah :
    Bagaimana meningkatkan keterampilan dalam membuat pantun pada siswa kelas VII SMPN 1 Tanjung.
    Betapa penting dan perlunya masalah ini dipecahkan dengan tuntas, karena keterampilan dalam membuat pantun sangat dibutuhkan agar sastra lama ini tetap lestari dan seiring kemajuan zaman sastra lama ini diharapkan jangan sampai hilang. Keterampilan dalam membuat pantun dapat dilakukan melalui latihan. Oleh sebab itu permasalahan ini dapat dipecahkan melalui penelitian tindakan kelas (PTK).
    1. 3. Tujuan Penelitian
    Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian tindakan ini adalah sebagai berikut :
    a. Meningkatkan keterampilan membuat pantun pada siswa kelas VII SMPN 1 Tanjung dalam mengikuti proses pembelajaran Sastra Indonesia yang disajikan dalam bentuk pelatihan.
    b. Meningkatkan hasil belajar siswa tersebut, khususnya dalam mata pelajaran Sastra Indonesia.
    1. 4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi berbagai pihak terkait, terutama bagi murid, guru dan sekolah yang bertanggung jawab dalam bidang 2
    pendidikan, antara lain adalah :
    a. Penelitian tindakan kelas ini berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan keterampilan dalam membuat pantun. Siswa kelas VII yang dulunya cukup banyak yang mengalami kesulitan membuat pantun, dengan pelaksanaan penelitian ini diharapkan siswa yang demikian kasusnya akan dapat teratasi.
    b. Dengan pengalaman turut aktif menjadi praktisi penelitian ini, guru kelas VII akan menjadi terlatih dan memiliki keterampilan yang memadai untuk meningkatkan kemampuan membuat pantun.
    c. Sekolah tempat penelitian ini merasa dapat kehormatan, gembira dan bangga karena sekolah lain tidak melaksanakan. Oleh sebab itu sekolah lainnya pun akan ikut melaksanakannya, terutama setelah melihat bukti bila keberhasilan kegiatan penelitian dapat dibuktikan.

    3
    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA

    Menurut Aminudin Ed, yang dikutip oleh Nurhadi (2007 : 38), “puisi lama atau pantun banyak menggunakan kata-kata yang khas. Kekhasan bahasa puisi lama ditandai penggunaan kata-kata lama, ungkapan khas pengarang tertentu, dan kemerduan bunyi. Kemerduan bunyi puisi lama disebabkan oleh pilihan bunyi akhir yang teratur. Sebuah pantun terdiri atas dua bagian, yakni bagian pengantar disebut sampiran dan bagian isi pantun. Umumnya pantun bersajak silang, misalnya, pantun empat baris bersajak a/b/a/b. Setiap baris pantun terdiri atas empat kata. Apabila diakhir kata sama (ng) dua konsonan maka diambil kata sebelumnya yaitu hurup vokal.
    Keberhasilan siswa dalam membuat pantun sangat tergantung dengan faktor internal berupa IQ, minat, sikap, bakat, motivasi dan tujuan. Terlepas dari faktor internal faktor juga mendorong seseorang untuk bisa berhasil dalam membuat pantun, misalnya buku, lingkungan dan budaya. Minat menunjukkan adanya korelasi yang tinggi untuk mencapai suatu tujuan dalam membuat sebuah pantun.
    Latar belakang faktor kemampuan internal dan eksternal seseorang menyebabkan adanya seseorang berbeda dengan orang lainnya. Proses membuat pantun sesungguhnya tidak sederhana, namun disarankan pula kemampuan menulis pantun dapat ditingkatkan melalui penelitian tindakan kelas ini.
    Hipotesis Tindakan
    Bertolak dari kerangka teoritik di atas, maka hipotesis penelitian tindakan kelas ini dapat dikemukakan seperti berikut : “Apabila dilakukan pelatihan sistematis dalam menulis pantun, maka diharapkan keterampilan menulis pantun meningkat, dan pada akhirnya dapat pula meningkatkan prestasi belajar dalam menulis pantun.
    4
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    3. 1. Setting Penelitian
    Penelitian ini dilaksanakan pada SMPN 1 Tanjung. Kota Tanjung, pada siswa kelas VII yang berjumlah sebanyak 30 orang.
    3. 2. Jenis Rancangan Penelitian
    Penelitian ini dirancang sesuai dengan pola penelitian tindakan kelas (PTK), atau yang disebut Classroom Action Research. “Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru untuk memecahkan masalah dengan menerapkan langsung ke dunia kerja” (Dirjen. Dikti, 1993/1994 : 24).
    Model penelitian ini disebut sebagai “model proses”, semua kegiatan dilaksanakan untuk memperbaiki keadaan atau perubahan yang diinginkan. (Soedarsono, 1996/1997 : 13).
    Model rancangan ini distrukturkan ke dalam tiga siklus. Siklus 1 merupakan prerekuiset dari siklus berikutnya, demikian selanjutnya sampai selesai.
    Setiap siklus terdiri dari empat tahapan :
    1). Perencanaan bersama, 2).Implementasi tindakan, 3). Observasi, 4). Refleksi hasil observasi. (Soedarsono, 1996/1997 : 16).
    3. 3. Skenario Tindakan
    Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam 3 siklus dan setiap siklus ada empat langkah, pada setiap langkah ada tahapan tindakan.
    Setelah dilaksanakan pertemuan awal (pada tahapan 1) maka dilakukan tahapan tindakan, sesuai perencanaan bersama :
    5
    a. Siklus I
    1. Merancang bersama tindakan yang sesuai dengan kesepakatan untuk melakukan pelatihan siswa secara sistematis tentang membuat pantun, berdasarkan pokok bahasan sesuai dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) – Kurikulum SMP Standar Isi 2006 Bahasa Indonesia.
    2. Tindakan (action) dimulai dengan pelajaran Sastra Indonesia :
    Menulis pantun :
    a. Pendahuluan; guru menjelaskan rumus pantun dan memberikan contohnya.
    b. Kegiatan inti; siswa kedepan kelas melengkapi sampiran dengan isi.
    c. Penutup; semua siswa mendapat tugas melengkapi sampiran dengan isi dan pada waktunya dikumpulkan untuk dinilai.
    3. Observasi : Oleh peneliti dinilai kemampuan membuat isi pantun dari sampiran yang telah disediakan. Penilaian dilakukan dengan melihat ketepatan / kesesuaian dalam menulis isi pantun.
    4. Refleksi terhadap hasil observasi bersama guru kelas, bagaimana kesan guru, dan hasil penilaian peneliti. Kemudian ditarik kesimpulan hasil dari ketepatan siswa dalam membuat isi. Boleh jadi masih perlu diperlukan tindakan dalam siklus II.
    b. Siklus II
    1. Pada siklus II ini dilakukan pula tahap perencanaan bersama : guru kelas VII Bahasa Indonesia.
    2. Tindakan dilaksanakan seperti pada tahapan siklus I, dimulai :
    a. Pendahuluan : memotivasi siswa
    b. Inti : guru memberi contoh membuat pantun dengan melengkapi isi dengan sampiran.
    c. Penutup : Siswa mengerjakan tugas melengkapi isi dengan sampiran.
    3. Observasi : Peneliti menilai kemampuan siswa dalam melengkapi isi dengan sampiran. Penilaian dilakukan dengan melihat ketepatan siswa dalam menulis sampiran. 6
    4. Refleksi : Secara bersama kembali bertemu untuk membahas hasil observasi dan kegiatan siklus II secara keseluruhan. Akhirnya disimpulkan untuk melanjutkan ke siklus III untuk menyempurnakan hasil tindakan.
    c. Siklus III
    1. Tahapan perencanaan bersama pada siklus terakhir, mendapat kesepakatan untuk memaksimalkan tindakan perencanaan ini. Tindakan dilaksanakan seperti pada tahapan siklus II.
    2. Sesuai perencanaan bersama tindakan yang dilaksanakan hanya satu topik yakni membuat pantun. Seperti pada siklus terdahulu praktik tindakan terdiri dari tiga langkah. Pertama pendahuluan, kedua inti dan ketiga penutup.
    Pada langkah inti kegiatan :
    a. Pemberian contoh menulis pantun.
    b. Siswa secara bergiliran menulis satu pantun di depan kelas, sehingga dapat dilihat berapa siswa yang masih kurang mengerti mengenai tata cara menulis pantun.
    Pada penutup : dilaksanakan acara berbalas pantun yang akan dinilai oleh peneliti.
    3. Observasi, menilai keterampilan membuat pantun dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam berbalas pantun. Dengan berbalas pantun sangat terlihat dengan jelas bahwa siswa itu sudah terampil dalam mengolah kata untuk menjadi sebuah pantun atau pemahamannya masih kurang.
    4. Refleksi, setelah dipertimbangkan secara keseluruhan hasil tindakan, dan ternyata banyak masukan, maka akhirnya dapat ditarik kesimpulan umum. Perlu ditekankan dalam evaluasi akhir ini, apakah mereka sudah mencapai target yang diinginkan atau belum.

    7
    3. 4. Data, Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
    Penelitian tindakan berbeda dengan penelitian biasa, karena penelitian tindakan semacam ini lebih bersifat praktis dan langsung diterapkan ke dunia kerja.
    Data bersumber dari populasi siswa sebanyak 30 orang, terdiri atas laki-laki 12 orang dan perempuan 18 orang, dengan latar belakang yang kurang lebih sama. Sampel ditentukan dengan teknik sampel total ditetapkan sebanyak 30 orang siswa.
    Data dikumpulkan dengan teknik observasi, dan dilengkapi dengan teknik wawancara sebagai pelengkap. Terutama untuk memastikan keterampilan membuat pantun siswa, yang dipraktikkan dalam pelatihan selama 12 (dua belas) tahapan, dalam waktu 12 (dua belas) kali pertemuan, atau selama 3 (tiga).
    3. 5. Indikator Kinerja
    Indikator keberhasilan penelitian ini adalah apabila angka rata-rata yang dicapai peserta pelatihan ini sekitar 50% – 64% adalah rendah, 65% – 79% cukup tinggi, dan 80% ke atas adalah sangat tinggi. Target dalam pelatihan keterampilan membuat pantun adalah angka rata-ratanya berkisar 80% ke atas.
    Target ini dicapai setelah menjalani latihan sampai pada siklus ketiga, sebagai siklus puncak. Refleksi terakhir dipandang memadai untuk pelatihan yang sistematis dan terarah selama 3 (tiga) bulan, setiap bulan 4 (empat) kali pertemuan, sesuai jadual pelajaran Bahasa Indonesia.
    3. 6. Pengolahan dan Analisis Data
    Angka-angka disusun ke dalam suatu bentuk table-tabel, setelah diperhitungkan dan diklasifikasikan, maka diinterpretasikan menurut kecenderungan persentase mengelompok.

    8
    DAFTAR RUJUKAN

    Nurhadi, Dawud, Pratiwi, 2007, Bahasa Indonesia, Malang : Erlangga.
    Dirjen, Dikti, 1993/1994, Metodologi Penelitian, Jakarta : Akta Mengajar V.
    Soedarsono, 1996/1997, Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta : UKMP.

  45. AKHMAD BUDI MULYANI
    16/07/2010 pukul 3:10 am

    PENERAPAN TEKNIK PERMAINAN BAHASA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DI KELAS II
    SLTP NEGERI I KECAMATAN MUARA UYA
    KABUPATEN TABALONG
    PROPOSAL SKRIPSI

    Oleh:
    AKMAD BUDI MULIANI

    PROPOSAL SKRIPSI
    Judul penelitian
    PENERAPAN TEKNIK PERMAINAN BAHASA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI KELAS II SLTP NEGERI I MUARA UYA KABUPATEN TABALONG
    Pendahuluan
    Pengajaran Bahasa Indonesia mempunyai ruang lingkup dan tujuan yang menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Pada hakekatnya pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk mempertajam kepekaan perasaan siswa. Guru dituntut mampu memotivasi siswa agar mereka dapat meningkatkan minat baca terhadap karya sastra, karena dengan mempelajari sastra siswa diharapkan dapat menarik berbagai manfaat dari kehidupannya. Maka dari itu seorang guru harus dapat mengarahkan siswa memiliki karya sastra yang sesuai dengan minat dan kematangan jiwa mereka. Berbagai upaya dapat dilakukan salah satunya dengan memberikan tugas untuk membuat karya sastra yaitu menulis puisi.
    Keterampilan menulis puisi perlu ditanamkan kepada siswa sekolah tingkat menengah, sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk mengapresiasikan puisi dengan baik. Mengapresiasikan sebuah puisi bukan hanya ditujukan untuk penghayatan dan pemahaman puisi, melainkan berpengaruh mempertajam terhadap kepekaan perasaan, penalaran, serta kepekaan anak terhadap masalah kemanusiaan. Kemampuan tersebut ditentukan oleh beberapa faktor penting dalam proses pembelajaran menulis puisi. Selain penerapan model, metode dan strategi yang tepat, juga yang sangat menentukan adalah peranan guru dalam proses pembelajaran terhadap siswa. Dalam pembelajaran menulis puisi di Sekolah Dasar masih ditemukan berbagai kendala dan hambatan, hal ini yang berkaitan dengan ketepatan penggunaan model atau teknik dalam pembelajaran sastra dalam hal menulis puisi. Demikian pula dengan permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran menulis puisi di kelas II sekolah tinkat menengah negeri 1 muara uya, selama ini kurang menggembirakan. Penulis menemukan beberapa permasalahan yang timbul dari guru maupun murid. Hal ini diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan dan wawancara dengan guru kelas II dan siswa kelas II SLTP pada hari Jum’at tanggal 30 Januari 2009 dalam pembelajaran menulis puisi. Dalam pembelajaran menulis puisi ini guru hanya membacakan salah satu puisi dalam buku paket dan menyuruh siswa untuk menuliskan puisi tersebut lalu guru menyuruhnya untuk membacakannya di depan kelas. Sedangkan siswa tidak diberi kesempatan untuk menulis puisi dengan bahasa atau kata-katanya sendiri dan kemampuannya sendiri. Pastinya pembelajaran tersebut sangat kurang tepat, di sini terkesan tidak adanya aktivitas dan kreatifitas siswa dalam menulis puisi. Ketika penulis memberikan tugas pada siswa untuk menulis puisi dengan kata-kata atau bahasanya sendiri, siswa terlihat kesulitan dalam menyusun kata-kata dengan bahasanya sendiri, hal itu disebabkan karena selama pembelajaran Bahasa Indonesia dengan guru kelas II mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk menuliskan puisi dengan kata-kata atau bahasanya sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut Wellek dan Waren menyatakan: Dalam menulis puisi, siswa harus diperhatikan bahasa yang sesuai dengan unsur-unsur yang ada dalam puisi: (2004: 13-15).
    Melihat dari kondisi tersebut, akhirnya penulis mempunyai ide untuk memperbaiki pembelajaran tersebut dengan menerapkan teknik Permainan Bahasa dalam pembelajaran menulis puisi di kelas II, karena bernain bagi siswa-siswa tak ubahnya seperti beerja bagi orang dewasa. Bermain merupakan kegiatan 3 yang menimbulkan kenikmatan yang akan menjadi rangsang bagi perilaku lainnya. Waktu untuk siswa-siswa, bermain tidak jauh berbeda dengan waktu untuk bekerjanya orang dewasa. Usia siswa SLTP merupakan usia yang paling kreatif dalam hidup manusia. Siswa-siswa merupakan makhluk yang unik sehingga dalam pembelajaran mereka tidak harus merasa terpenjara. Bermain merupakan pemicu kreativitas. Siswa yang banyak bermain akan meningkat kreativitasnya (Charlotte Buhler, dalam Sugianto, 1997), bermain merupakan sarana untuk mengubah potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Maka dari itu penulis mengambil Teknik Permainan Bahasa dalam pembelajaran menulis puisi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas II.
    Rumusan Masalah

    Rumusan Masalah
    Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan pada tanggal 30 Januari 2009, penulis menemukan beberapa permasalahan mendasar yang menyebabkan rendahnya tingkat kemampuan menulis puisi di kelas II SLTP Negeri 1 Muara Uya. Permasalahan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. Permasalahan ynag pertama adalah hampir sebagian besar siswa kelas II SLTP Negeri 1 Muara Uya kesulitan untuk menulis puisi dengan bahasanya sendiri, kata-katanya sendiri atau pun gagasannya sendiri, karena guru langsung memberikan contoh puisi dan menyuruh siswa untuk menuliskan contoh puisi tersebut tanpa memberikan kesempatan pada siswa untuk menulis puisi dengan kemampuannya sendiri atau dengan kata-katanya sendiri, bahasanya sendiri, atau pun dengan gagasannya sendiri. Padahal puisi akan lebih indah apabila ditulis dengan kata-kata sendiri, kemampuannya sendiri, atau pun dengan gagasannya sendiri. Permasalahan yang kedua, siswa kesulitan menentukan tema sebuah puisi. Permasalahan yang ketiga adalah siswa kelas II SLTP Negeri 1 Muara Uya mendapat kesulitan menggunakan kata-kata (kosakata) untuk dituangkan ke dalam sebuah puisi yang ingin mereka tulis. Masalah umum penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
    1. Bagaimana meningkatkan desain pembelajaran menulis puisi dengan teknik Permainan Bahasa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II SLTP Negeri 1 Murara Uya?

    2. Apakah pelaksanaan pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan teknik Permainan Bahasa dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa kelas II SLTP Negeri 1 Muara Uya?
    E. Tujuan Penelitian
    Sesuai dengan permasalahan yang telah dipaparkan di atas, maka penulis tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
    1. Untuk mengetahui desain pembelajaran puisi dengan menggunakan teknik permainan bahasa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SLTP Negeri 1 Muara Uya.
    2. Untuk mengetahui meningkatnya kemampuan menulis puisi dengan menerapkan Teknik Permainan Bahasa di Kelas II SLTP Negeri 1 Muara Uya kabupaten Tabalong .
    F. Manfaat Hasil Penelitian
    Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian adalah:
    1. Bagi Peneliti
    Menambah wawasan dalam menerapkan teknik Bermain Kata atau Bahasa daam kegiatan pembelajaran menulis puisi serta dapat mengatahui tingkat keberhasilan penerapan teknik ini.
    2. Bagi Guru
    Dapat membantu dalam meningkatkan pembelajaran menulis puisi pada siswa di masa yang akan datang, dapat membantu guru untuk menentukan suatu teknik yang kreatif yang dapat menunjang keberhasilan pembelajara, mampu menarik perhatian dan minat bakat siswa.
    3. Bagi Siswa
    Dari hasil penelitian ini siswa diharpkan memiliki kemampuan menulis puisi dengan baik dan terampil dalam menciptakan karya sastra khususya puisi.

    H. Kajian Pustaka
    1. Pengajaran Bahasa dan Sastra
    a. Pengajaran Puisi
    b. Tujuan Pembelajaran Puisi
    c. Ruang Lingkup Pengajaran Apresiasi Puisi
    d. Teknik-teknik Mengajarkan Puisi
    e. Memilih dan Menyusun Bahan Pengajaran Puisi
    f. Urutan Kegiatan Mengajarkan Puisi
    g. Evaluasi Pembelajaran Puisi
    2. Hakikat Menulis di SD
    a. Pengertian Menulis
    b. Tujuan Menulis
    c. Manfaat Menulis
    d. Macam-macam Menulis
    e. Proses Menulis
    3. Sastra
    a. Pengertian sastra
    b. Jenis jenis sastra
    c. Teknik pembelajaran sastra
    4. Puisi
    a. Pengertian Puisi
    b. Hakekat Puisi
    c. Metode Puisi
    d. Ragam Puisi
    e. Unsur-unsur Puisi
    5. Puisi
    a. Pengertian Puisi
    b. Jenis-jenis Puisi
    6. Bermain Kata
    a. Hakikat Permainan Bahasa
    b. Tujuan Permainan Bahasa
    c. Kekurangan dan Kelebihan Teknik Permainan Bahasa
    d. Cara-cara teknik Permainan Bahasa
    I. Rencana dan Prosedur Penelitian
    1. Rencana Penelitian
    a. Lokasi Penelitian
    Lokasi penelitian dilakukan di SLTP Negeri 1 Muara Uya kecamatan Muara Uya Kabupaten Tabalong.
    b. Subjek Penelitian
    Subjek penelitian adalah siswa kelas II SLTP 1 Negeri Muara Uya yang berjumlah 26 siswa, yang terdiri dari 14 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki.
    c. Lamanya Penelitian
    Lamanya penelitian diperkirakan selama kurang lebih 4 Bulan.
    2. Desain dan Metode Penelitian
    a. Desain Penelitian Sebagai upaya mencari pembuktian dan solusi dari masalah yang diangkat dalam penelitian ini, peneliti telah menentukan dan merancang desain penelitian dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Ebbut dalam Wiriatmadja mengatakan: Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah sajian sistimatika dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut (2005: 12). Beberapa alasan pemilihan metode penelitian dengan menggunakan PTK adalah hal pertama dikernakan TPK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Kedua, PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi professional dalam kegiatan proses KBM. Ketiga, dengan melaksanakan tahap-tahap dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Keempat, pelaksanaan PTK tidak mengganggu tugas pokok seorang pengajar (guru), karena tidak perlu meninggalkan kelas pada saat KBM berlangsung. Kelima, dengan melaksanakan PTK pengajar menjadi lebih kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan taknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipahaminya. Rancangan penelitian yang akan digunakan mengacu pada model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart, yaitu model Spiral.
    Alur Penelitian Tindakan Kelas:
    Refleksi Perencanaan
    Observasi
    Tindakan
    Refleksi Perencanaan Observasi
    Tindakan
    b. Metode Penelitian Metode merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa Metode adalah cara yang teratur dan terarah baik-baik untuk mencapai tujuan. Metode merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk mnciptakan situasi pembelajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran Proses Belajar Mengajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan. Selanjutnya Surakhmad mengatakan, “Metode adalah suatu cara utama yang digunakan untuk mencapai tujuan” (1985: 31). Oleh karena itu, metode ang relevan dengan suatu kegiatan akan menunjang keberhasilan suatu penelitian. Metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mencari data secara merata dari peserta didik secara komprehensif tentang pembelajaran menulis puisi.
    3. Prosedur Penelitian
    a. Perencanaan tindakan Guru dan peneliti secara kolaboratif merencanakan tindakan, langkah-langkah perencanaan tindakan meliputi kegiatan sebagai berikut:
    1) Permohonan ijin kepada Kepala Sekolah dan guru kelas V, serta guru-guru kelas lainnya sebagai mitra peneliti.
    2) Mengadakan penelitian awal untuk memperoleh data.
    3) Memperkenalkan model pembelajaran yang dianggap lebih efektif untuk pencapaian indicator.
    4) Menyusun rencana pembelajaran dengan model Bermain Kata atau Bahasa.
    5) Menyiapkan instrumen pengumpul data untuk digunakan dalam pelaksanaan tindakan.
    b. Pelaksanaan Tindakan
    Pada tahap pelaksanaan dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan guru kelas V SDN Jatisura I. Guru kelas V bersama peneliti melaksanakan pembelajaran menulis puisi dengan menerapkan teknik bermain kata. Apabila tujuan pembelajaran belum tercapai pada tahap atau siklus pertama maka dilanjutkan pada tahap atau siklus berikutnya. c. Analisis dan Refleksi Dalam tahap ini penulis akan menganalisa dan menginterpretasikan data dari hasil observasi, apakah tindakan yang dilakukan telah mencapai target yang telah ditentukan atau belum, sehingga dapat ditentukan rencana pembelajaran berikutnya. d. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

    1) Observasi
    Observasi merupakan suatu pengamatan yang dilakukan dengan teliti san sistematis untuk tujuan tertentu.
    2) Wawancara
    Wawancara marupakan teknik pengeumpulan informasi melalui komunikasi secara langsung dengan responden. Teknik wawancara dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh data tentang pendapat siswa mengenai proses belajar yang dialami oleh mereka.
    3) Tes
    Tes adalah sebuah alat atau prosedur sistematik bagi pengukuran sebuah contoh perilaku.
    4) Catatan Lapangan
    Catatan Lapangan digunakan sebagai pengumpul data dalam penilaian kualitatif untuk mencatat kejadian-kejadian selama proses berlangsung.
    4. Teknik Pengolahan dan Anlisis Data
    a. Teknik Pengolahan
    Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, tes dan catatan lapangan. Data yang diperoleh dengan teknik-teknik tersebut dikumpulkan secara bertahap pada setiap pelaksanaan pembelajaran.
    b. Analisis Data

    Penulis menggunakan beberapa teknik pengumpul data untuk memperoleh data yang sama. Data yang diperoleh dengan teknik wawancara dicek keabsahannya dengan teknik observasi dan begitu pula sebaliknya atau dengan pengecekkan silang dengan teman sejawat. 5. Validasi Data Untuk menguji kebenaran penelitian PTK, maka setiap data yang diperoleh keabsahannya. Pengecekkan keabsahan data pada penelitian ini adalah dengan cara Triangulasi, Member Cek, Pemeriksaan Sejawat Melalui Diskusi dan Audit Trial. J. Jadwal

  46. FAHRI
    16/07/2010 pukul 3:54 am

    A. JUDUL
    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PANTUN SISWA KELAS I SMP NEGERI RANDU KECAMATAN MUARA UYA
    B. LATAR BELAKANG
    Sehubungan dengan fungsi dan tujuan pendidikan , maka peran seorang guru tidaklah ringan, karena dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran guru bukan sebagai penyampai konsep-konsep pengetahuan yang ada dalam buku saja, tetapi juga dituntut untuk dapat memberikan bekal ketermpilan sesuai dengan bahan ajar yang dimaksud, serta pesan-pesan moral yang dapat dipengaruhi watak dan kepribadian pesrta didik, sehingga seorang guru diharapkan dapat ikut berperan dalam ikut mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya.
    Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di sekolah dasar terbagi dalam beberapa aspek yaitu Mendengarkan, Membaca, Menulis dan Berbicara. Aspek-aspek yang ada dalam Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam penyampaiannya memerlukan suatu pola dan strategi tertentu sesuai dengan bahan ajar masing-masing yang dapat membantu guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sehingga siswa dapat lebih mudah untuk memahami suatu bahan ajar, diantaranya adalah dengan cara pemberian pengalaman secara langsung (lunds on actiaty) melalui pengamatan. Aspek menulis dan berbicara merupakan aspek yang sangat penting diantara aspek yang lain dalam pembelajaran bahasa dan satra di sekolah, Berdasarkan pengamatan dan pengalaman peneliti mengajar di SDN Mahela Kecamatan Batang Alai Selatan, dalam pembelajaran Bahasa dan sastra Indonesia terutama pantun, guru cenderung menerapkan pembelajaran lewat metode ceramah, diajarkan hanya dengan menyampaikan isi yang ada di dalam buku kepada siswa, sehingga menjadi kurang minat dan motivasi dalam belajar, akibatnya pemahaman siswa pada konsep ini menjadi rendah dan hasil belajar akhirnya rendah juga.
    Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka peneliti mengupayakan pemecahannya dengan PTK, dengan menerapkan metode deskriftif pada pembelajaran pantun dalam pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia di kelas IV SDN Mahela Kecamatan Barabai, dengan menerapkan proses pembelajaran dapat berlangsung aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) sehingga memperoleh hasil belajar yang optimal.
    C. RUMUSAN MASALAH
    a. Bagaimana hasil belajar siswa kelas I SMP RANDU KECAMATAN MUARA UYA pada kemampuan menulis pantun dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan menggunakan metode deskriftif ?
    b. Bagaimana aktivitas siswa kelas I SMP RANDU KECAMATAN MUARA UYA pada kemampuan menulis pantun dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan menggunakan metode deskriftif ?
    c. Bagaimana aktivitas guru kelas I SMP RANDU KECAMATAN MUARA UYA pada kemampuan menulis pantun dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan menggunakan metode deskriftif ?
    d. Bagaimana respon siswa kelas I SMP RANDU KECAMATAN MUARA UYA pada kemampuan menulis pantun dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan menggunakan metode deskriftif ?
    D. TUJUAN PENELITIAN
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
    1. Hasil belajar siswa kelas I SMP RANDU KECAMATAN MUARA UYA pada kemampuan menulis pantun dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan menggunakan metode deskriftif.
    2. Aktivitas siswa kelas I SMP RANDU KECAMATAN MUARA UYA pada kemampuan menulis pantun dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan menggunakan metode deskriftif.
    3. Aktivitas guru pada saat Kegiatan Belajar Mengajar dengan menggunakan metode deskriftif.
    4. Respon siswa kelas I SMP RANDU KECAMATAN MUARA UYA pada kemampuan menulis pantun dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan menggunakan metode deskriftif.
    E. MANFAAT PENELITIAN
    Manfaat dari penelitian ini adalah :
    1. Bagi siswa, bermanfaat untuk mengatasi masalah kesulitan belajar menulis pantun dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dan beraktivitas dalam pengajaran.
    2. Bagi guru, menjadi bahan masukan tentang upaya meningkatkan pemahaman siswa dalam menulis pantun dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
    3. Bagi Kepala Sekolah, memberikan solusi dalam rangka perbaikan pengajaran di sekolah
    F. KAJIAN PUSTAKA
    1. Teori Belajar Mengajar
    Menurut Usman dan Setiawati, (2001 : 15) belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu, dan individu dengan lingkungan. Dalam pengertian tersebut terdapat kata “change” atau perubahan yang berarti bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar mengajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik dalam aspek pengetahuannya, keterampilannya,maupun dalam sikapnya. Peubahan tingkah laku dalam aspek pengetahuan ialah, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari bodoh menjadi pintar; dalam aspek keterampilan ialah dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak terampil menjadi terampil; dalam aspek sikap ialah, dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan, dari kurang ajar menjadi terpelajar.
    H.C. Witherington dalam Usman dan Setiawati (2001 : 5) “Belajar adalah satu perubahan dalam kepribadian dan menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian”. Sedangkan menurut Ernest R Hilgard “Belajar adalah proses dimana ditimbulkan atau diubahnya suatu kegiatan karena mereaksi suatu keadaan. Perubahan itu tidak disebabkan oleh proses pertumbuhan (kematangan) atau keadaan organisme yang sementara (seperti kelelahan atau karena pengaruh obat-obatan)”.
    Jerome S. Burner dalam Usman dan Setiawati (2001 : 5) “Mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh setiap siswa”. Teknik untuk menyederhanakan bahan yang disajikan tersebut menurut Burner adalah dengan cara enactive, iconic, dan symbolic. Penyajian enactive adalah penyajian suatu bahan pelajaran dalam bentuk gerak atau dalam bentuk psikomotor. Penyajian iconic melibatkan penggunaan grafik dalam penyajian suatu ide, objek atau prinsip. Cara penyajian ini lebih abstrak di banding cara penyajian enactive. Sedangkan penyajian symbolic adalah dengan menggunakan bahasa dan penyajiannya hendaknya mengikuti perkembangan anak. Jadi mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau suatu usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik (siswa) dan bahan pengajaran sehingga menimbulkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat W.H. Burton bahwa “Mengajar adalah suatu proses membimbing terhadap aktivitas belajar siswa”.
    2. Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
    Dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang menggunakan Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA, mutlak menggunakan penilaian dengan menekankan pada empat aspek yaitu Mendengarkan, Menulis, Membaca dan Berbicara.
    3. Tinjauan Penelitian
    Penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah. Tujuan dari semua usaha ilmiah adalah untuk menjelaskan, memprediksikan, dan/atau mengontrol fenomena. Tujuan ini didasarkan pada asumsi bahwa semua perilaku dan kejadian adalah beraturan dan bahwa semua akibat mempunyai penyebab yang dapat diketahui (Emzi, 2007 : 5).
    Penelitian menggunakan metode ilmiah, penyelidikan pengetahuan melalui metode pengumpulan, analisis dan interpretasi data. Dikaitkan dengan metode ilmiah,suatu proses penelitian sekurang-kurangnya berisi suatu rangkaian urutan langkah-langkah. Lima langkah yang sesuai dengan metode ilmiah dan melengkapi elemen-elemen umum pendekatan sistematik pada penelitian adalah (1) Identifikasi masalah (2) Review informasi (3) Pengumpulan data (4) Analisis data (5) Penarikan kesimpulan (Emzir, 2007 : 7-8).
    4. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
    Metode demonstrasi dan eksperimen adalah suatu cara penyajian pelajaran dengan penjelasan lisan disertai perbuatan atau memperlihatkan suatu proses tertentu yang kemudian diikuti atau dicoba oleh siswa untuk melakukannya. Dalam demonstrasi, guru atau siswa melakukan suatu proses, yang disertai penjelasan lisan setelah guru atau siswa memperagakan suatu demonstrasi tersebut, selanjutnya dieksperimenkan oleh siswa yang lainnya. Dengan demikian, suatu demonstrasi selalu diikuti dengan eksperimen (Usman dan Setiawati, 2001 : 129)
    Tujuan dan manfaat demonstrasi dan eksperimen menurut Usman dan Setiawati (2001 : 129) adalah :
    1. Demonstrasi eksperimen memberikan gambaran dan pengertian yang lebih jelas daripada hanya penjelasan lisan
    2. Demonstrasi eksperimen memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan secara cermat
    3. Menghindari adanya verbalisme karena dalam metode ini setelah anak melihat peragaan, kemudian siswa sendiri melakukannya
    4. Dalam metode ini kadar CBSA-nya cukup tinggi karena setiap siswa dapat terlibat langsung
    Langkah-langkah persiapan demonstrasi dan eksperimen menurut Usman dan setiawati (2001: 129) adalah :
    1. Mempersiapkan langkah-langkah yang akan didemonstrasikan sehingga dapat dikuasai sepenuhnya
    2. Lakukan sendiri langkah tersebut sebelum didemonstrasikan di muka kelas
    3. catatlah kerangka garis besar yang akan didemonstrasikan sehingga siswa lebih mudah mengikuti jalannya peragaan
    5. Latar Belakang Teoritik
    Teori belajar yang paling banyak memberikan sumbangannya pada model pengajaran langsung adalah teori belajar sosial Bandura. Menurut Bandura, sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan selektif, kemudian mengingat dan meniru tingkah laku orang lain. Artinya manusia dapat belajar dari modelling, yaitu dari contoh atau model. Tingkah laku manusia dapat dipelajari melalui pengamatan suatu model. Dari pengamatan terhadap perilaku model tersebut, seseorang dapat membentuk pengertian bagaimana melakukan tingkah laku baru itu (Corebima, dkk 2002 : 8).
    Pemodelan (modeling) merupakan konsep dasar dari teori belajar sosial yang dikembangkan oleh Robert Bandura. Teori belajar sosial yang dikembangkan Robert Bandura ini merupakan perluasan dari teori belajar tradisional. Bandura memperhatikan bahwa penganut-penganut skinner (teori belajar perilaku) hanya memberi penekanan pada efek-efek konsekuensi pada perilaku, dan tidak mengindahkan fenomena pemodelan, yaitu meniru perilaku orang lain dan pengalaman vicarious, yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain. Bandura merasa bahwa sebagian besar belajar yang dialami manusia tidak dibentuk dari konsekuensi-konsekuensi, melainkan manusia itu belajar melalui pengamatan secara efektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Bandura (Arend, 1997 : 69 dalam Sudibyo, 2003 : 3) menulis “Belajar akan sangat menghabiskan waktu dan tenaga bahkan berbahaya, jika manusia harus menggantungkan diri sepenuhnya pada hasil-hasil kegiatannya sendiri. Untungnya sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari secara observasi melalui pemodelan dari observasi terhadap perilaku orang lain. Seseorang membentuk pengertian bagaimana melakukan tingkah laku baru, dan pada kesempatan berikutnya informasi yang telah dikodekan tersebut berfungsi sebagai pemandu untuk tindakan. Karena manusia dapat belajar dari contoh (model), setidaknya dalam bentuk mendekati, sebelum melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu”
    Menurut Bandura dalam Sudibyo (2003 : 3-8) ada empat (4) fase belajar dari model, yaitu fase perhatian (attentional phase), fase retensi (retention phase), fase reproduksi (reproduction phase), dan fase motivasi (motivation phase). Pada pengembangan model pengajaran, teori pemodelan tingkah laku ini paling banyak memberikan sumbangan terhadap pengembangan model pengajaran langsung (direct instruction/DI). Dengan demikian aplikasi teori ini tercermin pada aplikasi model langsung.
    1. Fase Perhatian (attentional phase). Fase pertama dalam belajar observasional (pemodelan) adalah memberikan perhatian pada suatu model. Pada umumnya, seseorang bisa memberikan perhatian pada model-model yang menarik, popular atau dikagumi. Inilah sebabnya mengapa banyak individu meniru pakaian, tata rambut atau sikap dari orang yang dikagumi, misalnya bintang film. Dalam pembelajaran, guru yang bertindak sebagai model bagi siswanya harus dapat menjamin agar siswa memberikan perhatian kepada bagian-bagian penting dari pelajaran. Cara ini dapat dilakukan dengan menyajikan materi pelajaran secara jelas dan menarik, memberikan penekanan pada bagian-bagian penting, atau dengan mendemonstrasikan suatu kegiatan.
    2. Fase Retensi. Fase ini bertanggung jawab atas pengkodean tingkah laku model dan menyimpan kode-kode itu dalam ingatan (memori jangka panjang). Pengkodean (enconding) adalah proses pengubahan pengalaman yang diamati menjadi kode memori.
    3. Fase Reproduksi. Di dalam fase ini, bayangan atau kode-kode dalam memori membimbing penampilan yang sebenarnya dari tingkah laku yang baru di amati (diperoleh). Fase reproduksi mengijinkan model untuk melihat apakah komponen-komponen suatu urutan tingkah laku telah dikuasai oleh pengamat. Adakalanya hanya sebagian dari suatu urutan tingkah laku yang diberi kode benar dan dimiliki. Kekurangan penampilan hanya dapat diketahui apabila si pengamat (yang belajar) diminta untuk menampilkannya. Dalam fase reproduksi ini si model hendaknya memberikan umpan balik pada aspek-aspek yang masih salah dalam penampilannya.
    4. Fase Motivasi. Fase terakhir dari proses belajar observasional adalah fase motivasi. Si pengamat akan meniru suatu model apabila mereka merasa bahwa dengan berbuat seperti model, mereka akan memperoleh peguatan.
    G. METODE PENELITIAN
    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dekriftif, menurut Margono (2003 : penelitian deskripsi berusaha memberikan dengan sistematis dan cermat fakta-fakta aktual dan sifat populasi tertentu. Misalnya : Penelitian yang dilakukan mahasiswa untuk menyusun tesis memperoleh gelar sarjana pendidikan di IKIP, biasanya adalah penelitian deskriftif, seperti penelitian mengenai kemunduran prestasi belajar siswa, kemunduran rasa tanggung jawab, dll.
    H. DAFTAR PUSTAKA
    Depdiknas. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Tatap Muka, Penugasan Terstruktur dan Tugas Mandiri Tidak Terstruktur. Jakarta : Dirjen Manajemen Dikdasmen.
    Emzir. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.
    Imam Taufik, dkk. 2007. Cinta Bahasa Kita Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Ganeca Exact
    Kosasih, E. 2004. Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusastraan Cermat Bahasa Indonesia. Bandung: Yrama Widya.
    Lestari, Endang Dwi. 2005. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Klaten: Intan Pariwara.
    Musaba, Zulkifli. 1994. Terampil Menulis Dalam Bahasa Indonesia Yang Benar. Banjarmasin: Sarjana Indonesia
    Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
    Nursisto. 2000. Ikhtisar Kesusasteraan Indonesia. Yogyakarta: Adi Citra Karya Nusa.
    Rahimsyah. MB. AT. 2010. Kumpulan Peribahasa Pantun dan Puisi. Surabaya: Mulia jaya
    Semi, Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
    Sudjiman, Panuti. 1991. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
    Suryabrata, Sumadi. 2003. Metode Penelitian. Jakarta : PT. Grafindo Persada.
    Tim Instruktur. 2009. Modul Model Pembelajaran. Banjarmasin : Depdiknas LPTK Rayon-17 Unlam Banjarmasin.
    Tim Instruktur. 2009. Modul Penelitian Tindakan Kelas. Banjarmasin : Depdiknas. LPTK Rayon-17 Unlam Banjarmasin.
    Usman dan Setiawati. 2001. Upaya Optimalisasi Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rusdakarya.
    Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
    Zaidan, Abdul Razak. 2000. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.

  47. SAMSUL WAHYUDI
    16/07/2010 pukul 3:58 am

    ”MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENULIS KARANGAN DI KELAS I SMP 2 TANJUNG”
    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang
    Keterampilan menulis sebagai salah satu cara dari empat keterampilan berbahasa, mempunyai peranan yang penting didalam kehidupan manusia. Dengan menulis seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuannya. Seperti yang dikatakan oleh H.G. Tarigan (dalam Suriamiharja dkk. 1983) bahwa menulis ialah :
    “menurunkan atau melukiskan lambing grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang – lambang grafik tersebut kalau mereka memehami bahasa dan gambar grafik tersebut”.
    Mengarang pada perinsipnya adalah bercerita tentang sesuatu yang ada pada angan – angan penceritaan itu dapat dituangkan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Setiap manusia semuanya diciptakan sebagai pengarang.
    Namun, menuangkan buah pikiran secara teratur dan terorganisasi kedalam tulisan tidak muda. Banyak orang yang pandai berbicara atau berpidato , tetapi mereka masih kurang mampu menuangkan gagasanya kedalam bentuk bahasa tulisan. Maka untuk bisa mengarang dengan baik, seseorang harus mempunyai kemampuan untuk menulis. Kemampuan menulis dapan dicapai melalui proses belajar dan berlatih.
    1.2. Rumusan Masalah
    Berdasarkan pada latar belakang dan data awal yang diperoleh dari hasil observasi awal yang dilakukan peneliti dan untuk membatasi permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka penulis merumuskan permasalahan diatas, maka penulis merumuskan dalam bentuk pertanyaan, adalah sebagai berikut :
    1. Bagaimana pelaksanaan penerapan media cerita gambar dalam pembelajaran menulis karangan di kelas I SMP 2 TANJUNG ?
    2. Apakah dengan menggunakan media cerita gambar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam penulisan karangan ?
    3. Masalah atau kendala yang dihadapi di lapangan ketika memberikan pembelajaran menulis kerangan di kelas I SMP 2 TANJUNG ?
    1.3. Tujuan Penelitian
    Dengan dilaksanakannya penelitian ini, bertujuan untuk :
    1. Untuk mengetahui penerapan pembelajaran menulis karangan dengan media gambar di kelas I SMP 2 TANJUNG .
    2. Untuk mengetahui keefektifan siswa dalam pengajaran penggunaan media Gambar dalam pembelajaran menulis karangan di kelas I SMP 2 TANJUNG.
    3. Untuk Mengtahui pelaksanaan pembelajaran keterampilan menulis karangan dengan menggunakan media gamabar dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa tentang bagai mana cara mengarang dengan menggunakan media gamabar di kelas I SMP 2 TANJUNG .
    1.4. Manfaat Hasil Penelitian
    Guru dapat memehami hal – hal yang perlu dilakukan untuk menyampaikan pembelajaran secara aktif dan dan menarik siswa dalam menyamapaikan materi sehingga siswanya mampu menyimak pelajaran yang sedang diajarkan dan apa yang diharapakan oleh guru dapat tercapai. Dalam penelitian ini dapat diambil manfaat bagi guru termasuk diantaranya guru dapat memperkaya teknik pembelajaran dan guru dapat mengetahui teknik pembelajaran dan guru dapat mengetahui teknik – teknik pembelajaran dan guru dapat mengetahui permasalahan – permasalahan siswa dengan cara – cara mengatasinya. Sehingga dapat mempermudah guru untuk mengatasi masalah – masalah apa yang timbul dlam pembelajaran.Guru menjadi aktif dan kereatif dalam mempelajarkan siswa dengan menggunakan media pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru mengetahui penggunaan alat evaluasi yang sesuai untuk mengukur keterampilan menulis karangan dengan baik.
    Siswa dapat lebih mudah dan semangat dalam memahami materi pelajaran. Dengan cara pembelajaran yang menarik, dan tidak akan membosankan siswa dalam menyimak pelajaran sehingga siswa akan menyimak pelajaran dengan baik. siswa akan lebih akatif belajara dan mereka bisa lebih mudah dalam memahami pelajaran,

    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA

    Tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia adalah meningkatkan keterampilan siswa dalam Bahasa Indonesia, pengetahuan bahasa diajarkan untuk menunjukan siswa terampil berbahasa yakni terampil menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan berbahasa hanya bisa dikuasai dengan latihan yang terus menerus dan sistematis yakni harus sering berlatih menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa.
    2.1. Pengertian Menulis
    Menulis adalah menyampaikan ide atau gagasan dan pesan dengan menggunakan lambang grafik (tulisan). Tulisan adalah suatu system komunikasi manusia yang menggunakan tanda-tanda yang dapat dibaca atau dilihat dengan nyata. Tarigan (dalam Agus Suriamiaharja, 1996 : 1), mengembangkan bahwa :
    “Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang – lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipakai oleh seseorang, sehinga orang lain dapat membaca lambang – lambanga grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut “. Sedangkan Robert Lodo (dalam Suriamiaharja, 1996 : 1), mengatakan bahwa :
    “Menulis adalah menempatkan simbol – simbol grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut beserta simbol – simbol grafiknya”.
    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang – lambang grafik untuk menyampaikan ide atau gagasan yang dapat dimengerti oleh orang lain .
    2.2. Pengertian Mengarang
    Apabila seseorang menggunakan buah pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman atau lainya kedalam bahasa tulis, kegiatan tersebut adalah kegiatan mengarang. Untuk dapat menyampaikan suatu pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman atau lainya, seseorang perlu memiliki pembendaharaan kata yang memadai, terampil menyusun kata – kata menjadi kalimat yang jelas, dan mahir memakai bahasa secara efektif. Sebagai mana dikemukakan oleh The Liang Gie ( 1992 : 18 ), bahwa :
    “Untuk dapat menyampaikan gagasan dan fakta secara lincah dan kuat, seseorang perlu memiliki pembendaharaan kata yang memadai, terampil menyusun kata – kata menjadai beraneka kalimat yang jelas, dan mahir memakai bahasa secara efektif”. Menurut pengertianya, “mengarang adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengumpulkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami”. ( The Liang Gie, 1992 : 17 ).
    Dalam proses karang – mengarang setiap ide perlu dilibatkan pada suatu kata, kata – kata dirangkai menjadi sebuah kalimat membentuk paragraf, dan paragraf – paragraf akhirnya mewujudkan sebuah karanga. Sedangkan karangan merupakan hasil dari kegiatan mengarang, yaitu perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain. Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa mengarang adalah kegiatan menulis yang tersusun dengan teratur dari kata, kalimat, sampai paragraf yang saling berhubungan dan merupakan kesatuan yang utuh, dengan maksud menceritakan kejadiaan atau peristiwa, mempercakapkan sesuatu, dan tujuan lainya.
    2.3. Unsur Karang Mengarang
    Berbicara mengenai karangan baik yang berupa karangan pendek maupun panjang, maka kita harus berbicara mengenai beberapa hal atau masalah disekitar karangan. The Liang Gie (1992 : 17) mengemukakan ada 4 (empat) unsur dalam mengarang yaitu sebagai berikut :
    1. Gagasan ( Idea ). Yaitu, topik berikut tema yang diungkapkan secara tertulis.
    2 Tuturan ( Discourse ). Yaitu, bentuk pengungkapan gagasan sehingga dapat dipahami pembaca. Ada 4 ( empat ) bentuk mengarang :
    a. Pencarian (Narration )
    Bentuk pengungkapan yang menyampaikan sesuatu peristiwa / pengalaman .
    b. Pelukisan ( Description )
    Bentuk pengungkapan yang menggambarkan pengindraan, perasaan mengarang tentang mecam – macam hal yang berada dalam susunan ruang ( misalnya : pemandangan indah, lagu merdu, dll )
    c. Pemaparan ( Exposition )
    Bentuk pengungkapan yang meyajikan secara fakta – fakta yang bermaksud memeberi penjelasan kepada pembaca mengenai suatu ide, persoalan, proses atau peralatan.
    d. Perbincangan ( Argumentation )
    Bentuk pengungkapan dengan maksud menyalin pembaca agar mengubah pikiran, pendapat, atau sikapnya sesuai dengan yang dihadapi pengrang.
    3. Tatanan ( Organization ). Yaitu, tertib pengaturan dan peyusunan gagasan mengindahkan berbagai asas, aturan, dan teknik sampai merencanakan rangka dan langkah .
    4. Wahana (Meduim ). Ialah sarana penghantar gagasan berupa bahasa tulis yang terutama menyangkut kosa kata, gramatika ( tata bahasa ), dan terotika ( seni memekai bahasa secara efektif )
    2.4. Tujuan Pengajaran Mengarang
    Menurut Ngalim Purwanto, dan Djeniah Alim (1997 : 58) mengemukakan bahwa tujuan pengajaran mengarang sama dengan tujuan pengajaran bercakap – cakap hanya berbeda dengan bentuk tulisan, yaitu :
    1. Memperkaya pembendaharaan bahasa positif dan aktif
    2. Melatih melahirkan pikiran dan perasaan dengan tepat
    3. Latihan memaparkan pengalaman – pengalaman dengan tepat.
    4. Latihan – latihan penggunaan ejaan yang tepat (ingin menguasai bentuk bahasa).

    BAB III
    METODELOGI PENELITIAN

    3.1. Jenis penelitian
    Dalam penelitian ini, model yang digunakan adalah model Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif, dimana peneliti melakukan observasi dalam kegiatan pembelajaran guru dan siswa di kelas. Menurut Kasihani Kasbolah (1998:13), penelitian tindakan kelas merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan yang langsung berhubungan dengan tugas guru di lapangan. Artinya, penelitian tindakan kelas merupakan penelitian praktis yang dilakukan di kelas dan bertujuan untuk memperbaiki praktik pembelajaran yang ada.
    Menurut Suharsimi Arikunto, dkk, (2007:3), bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama-sama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.
    Berdasarkan beberapa definisi oleh para pakar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian tindakan kelas adalah segala daya upaya yang dilakukan oleh guru berupa kegiatan penelitian tindakan atau arahan dengan tujuan dapat memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas pembelajaran.
    3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
    Penelitian ini dilaksanakan di SMP NEGERI 2 TANJUNG selama 3 bulan lamanya.

    3.3. Sumber Data
    Sumber data utama dalam penelitian adalah siswa yang menjadi objek peneliti, karena ketika menerapkan media Gambar segala tindakan dan kata – kata guru dalam penerapan media direkam diamati, diwawancara. Adapun siswa dijadikan peneliti ketika siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran .
    3.4. Teknik Pengumpulan data
    Penulis menggunakan dua alat pengumpulan data, yaitu wawancara dan observasi yang digunakan selama penelitian.
    1. Wawancara
    Wawancara yaitu suatu teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendapat informasi yang berkenaan dengan pendapat, aspirasi, apersepsi, dan keyakinan dari individu atau responden. Wawancara ini dilakukan dengan cara mengadakan Tanya jawab secara langsung dengan sumber data.
    2. Observasi
    Observasi merupakan salah satu teknik evaluasi non tes yang biasa dilakukan kapan saja. “Obsevasi adalah teknik atau cara untuk mengamati suatu keadaan atau suatu kagiatan (tingkah laku)”. (dalam Kartadinata, 1998 : 34). Penulis menggunakan teknik observasi ini untuk mengamati keadaan siswa sebelum, sedang, dan sesudah model pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan media gambar seri.
    Kegiatan observasi dilaksanakan pada waktu penelitian atau pada waktu pelaksanaan tindakan, penerapan media Gambar akan dilaksanakan oleh guru Praktikan, peneliti sebagai observer yang akan mengobservasi tentang kinerja guru praktikan selama penerapan media gambar dan mengobservasi aktivitas siswa dalam pembelajaran berlangsung. Dalam mengobservasi harus mendapatkan data yang sesungguhnya yang yata yang terdapat dilapangan, pada saat belajar dilapangan harus mencatat catatan catatan hasil dilapangan, pada tahapan ini diharapkan dapat dikenali sedini mungkin apakah tindakan akan mengarah terhadap terjadinya perubahjan positif dalam proses belajar sesuai dengan yang diharafkan. Dan untuk menilai apakah pelaksanaan pembelajaran telah sesuai dengan yang sudah direncanakan.
    3.5. Analisis Data
    Data yang telah dikumpulkan lalu dianalisis, dengan cara mengatur urutan data, memilih – milih data yang diperlukan dan data yang tidak diperlukan. Atau memakai data tersebut yang telah ditapsirkan atau data yang telah diperoleh. Data yang telah tersusun dikaitkan dengan teori yang relavan sesuai dengan data yang muncul. Untuk menetapkan keakuratan data diperoleh pada saat penerapan media gamabar diperlukan teknik pemeriksaan, ada empat karekteristik yang digunakan untuk mendapatkan keabsahan data, yaitu derajat kepercayaan, Peralihan, ketergantungan, dan kepastian.

    DAFTAR PUSTAKA
    Suriamiharja Agus, M.Pd, dkk (1996 / 1997). Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta : Depdikbud,
    Sabarti Akhadiah, Dr. Prof (1996 / 1997). Menulis. Jakarta : Depdikbud
    The Liang Gie (1992). Pengantar Dunia Karang Mengarang. Yogyakarta : Liberty
    Tarigan, Djago, Drs (1996). Membina Keterampilan Menulis Paragraf dan
    Pengembangannya. Bandung : Angkasa

  48. syahbani
    17/07/2010 pukul 5:11 am

    PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
    ( CLASSROOM ACTION RESEARCH )

    MENINGKATKAN KREATIF MENULIS NASKAH DRAMA
    BAGI SISWA SMP 1 UPAU KELAS VIII DENGAN METODE EKSPERIMEN

    DISUSUN OLEH
    SYAHBANI
    306.07.11.386

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
    SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
    PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
    BANJARMASIN
    2010

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur atas kehadirtat Allah SWT yang telah memberikan hidayah, rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik dan lancar.
    Shalawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga, sahabat dan orang yang istiqomah didalam Islam.
    Penelitian ini memakai metode eksperimen sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII SMPN 1 UPAU dalam menulis yang disajikan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui uaraian konsep ini, diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan pendekatan konstektual dalam upaya meningkatkan kreativitas didunia pendidikan.
    Dalam kesempatan ini tak lupa penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada teman teman yang telah membantu, mendorong dan menyumbangkan buah pikiran serta tenaga secara langsung maupun tak langsung untuk itu secara khusus penulis haturkan terima kasih kepada :
    Kepala SMPN 1 Upau yang telah memberikan masukan dan semangat serta masukan masukan hingga penelitian ini selesai.
    Rekan rekan guru yang telah memberikan masukan pada pelaksanaan penelitian
    Siswa siswi kelas VIII SMPN 1 Upau yang rela dengan tekun dan mendukung jalannya penelitian.
    Penulis menyadari penelitian ini masih banyak kekurangan, namun besar harapan penulis semoga penelitian ini bermanfaat bagi kemajuan pendidikan khususnya di SMPN 1 Upau

    Banjarmasin, Juni 2010

    Penulis

    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR
    DAFTAR ISI
    BAB I PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang
    1.2 Rumusan Masalah
    1.3 Tujuan Penelitian
    1.4 Manfaat Penelitian
    1.5 Hipotesis Penelitian
    BAB II KAJIAN PUSTAKA
    2.1 Keterampilan Menulis Drama
    2.2 Metode Eksperimen
    BAB III METODOLOGI PENELITIAN
    1.1 Pendekatan Penelitian
    1.2 Tempat Dan Waktu Penelitian
    1.2.1 Tempat Penelitian
    1.2.2 Waktu Penelitian
    1.3 Sumber Data
    1.4 Tekhnik Pengumpulan Data
    1.5 Analisis Data
    BAB IV DAFTAR PUSTAKA

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Keterampilan dalam berbahasa ada empat aspek yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Seperti telah diketahui fungsi utama bahasa adalah sarana komunikasi. Bahasa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi, antar penutur untuk berbagai keperluan dan situasi pemakai. Untuk itu, orang akan berpikir bagaimana menggunakan bahasa secara tepat, sesuai dengan konteks dan situasi.
    Dengan menguasai keterampilan peserta didiki akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat ia sedang menulis. Keterampilan menulis juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga melahirkan generasi kritis dan berbudaya karena terbiasa dan terlatih.
    Namun harus diakui secara jujur, keterampilan membaca dikalangan siswa SMPN 1 Upau, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak terlepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia disekolah yang dinilai belum berhasil dalam membantu siswa terampil berpikir dan sekaligus berbahasa. Keterampilan menulis SMP berada pada tingkatan yang paling rendah. Demikian juga masalah yang dikeluhkan oleh guru SMPN 1 Upau sisw kelas VIII belum terampilan membaca dalam situasi formal didepan kelas. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam membaca diantaranya kelancaran membaca, ketepatan pengucapannya dan gerak mata.
    Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif efektif ialah melalui metode eksperimen dalam pembelajaran keterampilan menulis diharapkan mampu membawa siswa kedalam situasi dan konteks berbahasa yang sesungguhnya sehingga keterampilan menulis mampu melekat pada diri siswa sebagai suatu yang rasional, kognitif dan efektif.

    1.2 Rumusan Masalah
    Dari belakang diatas maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
    Apa pengertian drama ?
    Apa saja yang harus dipahami dalam struktur penulisan naskah drama ?
    Kenapa harus diajarkan kepada siswa tentan menulis naskah drama ?
    Bagaimana mengajarkan menulis kepada siswa SMP dengan menggunakan metode eksperimen ?
    Bagaimana melatih keberanian siswa dalam menulis ketika disuruh ?

    1.3 Tujuan Penelitian
    Merujuk pada rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
    Untuk mengidentifikasikan langkah langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan melalui metode eksperimen dalam pembelajaran keterampilan menulis bagi siswa SMPN 1 Upau.
    Untuk memaparkan hasil keterampilan menulis drama siswa SMP setela melalui pendekatan metode eksperimen yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sastra seni Indonesia

    1.4 Manfaat Penelitian
    Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian yang dikemukakan diatas hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut :
    Para guru bahasa Indonesia dapat mengetahui langkah langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan metode eksperimen dalam pembelajaran keterampilan menulis bagi siswa SMP
    Keterampilan membaca siswa SMPN 1 Upau yang menjadi subjek penelitian ini mengalami peningkatan yang signifikan

    1.5 Hipotesis Penelitian
    Secara umum hipotesis dari penelitian ini adalah dengan menggunakan metode eksperimen dalam pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan menulis drama siswa kelas VIII SMP. Secara khusus hipotesis dari penelitian ini adalah :
    Dengan penerapan metode eksperimen kemampuan pemahaman mengenai drama, memahami peran peran dll.
    Dengan menggunakan pendekatan metode eksperimen ini keberanian siswa dalam memainkan drama meningkat, dan pemahaman pun meningkat.

    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA

    2.1 Keterampilan Menulis
    Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP saat ini arah pembinaan bahasa Indonesia disekolah dituangkan kedala tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang secara ekspilisit dinyatakan dalam kurikulum. Secara garis besar, tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia adalah agar siswa mampu berbahasa dengan baik dan lancar. Itu berarti agar siswa mampu menyimak, berbicara, membaca dan menulis dengan baik, menggunakan media bahasa Indonesia ( Samsuri, 1987 dan Sadono, 1988 ).
    Dalam menulis sebaiknya harus menguasai tekhnik tekhnik penulisan berupa tata bahasa, tanda baca, dari bahasa yang diinginkan agar sesuai dengan ejaan yang disempurnakan ( EYD ). Adapun pengertian menulis ialah kreasi, pengakuan dari, ungkapan hati dan ungkapan pemikiran. Klasifikasi menulis dapat dilakukan berdasarkan tujuan dan situasi
    Berdasarkan tujuannya
    Adalah untuk menyampaikan pesan informasi, dan tujuan dari penulis itu sendiri.
    Berdasarkan situasi
    a. Menulis secara formal
    Adalah menulis yang harus secara resmi seperti surat murid kepada guru, surat dinas dan lain lain
    b. Non formal
    Yang bisa dilakukan dilingkungan keluarga, teman, tetangga dan berguna untuk meningkatkan keterampilan menulis.

    2.2 METODE EKSPERIMEN
    Metode eksperimen adalah metode yangdimaksudkan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang akibat dari adanya suatu treatment atau perlakuan. Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetes suatu hipotesis yang diandasi dengan asumsi yang kuat akan adanya hubungan sebab akibat antara dua variabel. Setelah diketahui misalnya model pembelajaran mana yang lebih baik memberikan hasil, peneliti diharapkan mempunyai niat untuk melanjutkan hasil tersebut dengan penelitian yang lebih intensif dalam bentuk penelitian tindakan.
    Dalam keterampilan menulis diperlukan upaya serius mengenai penggunaan, pendekatan yang inovatif dan kreatif agar pembelajaran bahasa Indonesia di SMP bisa berlangsung dengan suasana yang kondusif, interaktif, dinami, terbuka, menarik dan menyenangkan. Melalui proses pembelajaran semacam itu, siswa diharapkan dapat menumbuhkembangkan kemampuan intelektual, sosial, emosionan sehingga mampu menulis secara baik dan benar sesuai konteks dan situasinya. Salah satu pendekatan pembelajaran mampu menciptakan suasana menyenangkan adalah pendekatan melalui metode eksperimen.
    Dari berbagai penelitian tentang pengajaran bahasa disampaikan bahwa keterampilan berbahasa anak khususnya keterampilan menulis, dikembangkan melalui beberapa tahapan yaitu :
    Siswa harus mengetahui atau memahami apa itu drama hal ini bertujuan agar siswa bisa mengasah potensi didalam diri dan menambah pengetahuan.
    Siswa harus mengetahui apa saja struktur penulisan naskah drama. Agar memudahkan siswa dalam menulis naskah drama.
    Setelah itu dilakukan barulah siswa diajarkan siswa diajarkan apa itu menulis darama, struktur dan bagaimana mengajarkan serta mengapa harus diajarkan.

    Pengertian Drama
    Drama berasal dari bahasa Yunani, yaitu dram yang berarti “ gerak “. Dalam Bahasa Inggris disebut dengan Action atau Life presended and action yang berarti “ Kehdupan yang diekpresikan dengan gerak “
    Langkah langkah menulis drama :
    Menyusun naskah drama dengan cara melihat gambar atau peristiwa yang menyentuh perasaan atau menggali sesuatu dalam diri yang menyentuh perasaan dan lingkungan sekitar
    Membayangkan peristiwa yang dapat terjadi melalui gambar itu
    Membuat rangkaian cerita
    Memilih peristiwa yang akan digambarkan dalam naskah
    Menulis dialog yang mempunyai rangkaian cerita
    Menulis dialog yang membentuk naskah drama
    Memberi nama tokoh / pelaku dalam setiap dialog
    Menambahkan narasi berupa latar suasana dan alkuan tokoh

    Struktur penulisan naskah drama
    Berikut beberapa penjelasan mengenai struktur penulisan naskah drama :
    Naskah drama terdiri atas babak dan adegan
    1. Babak terdiri atas beberapa adegan
    2. Adegan baru ditandai dengan pergantian tokoh dan tempat
    Dalam naskah drama dituliskan nama nama tokoh / pelaku didepan kalimat dialog
    Dalam naskah drama terdapat narasi, berisi keterangan lakuan tokoh, tekhnik, pemanggungan dan latar suasana yang diletakkan didalam ruang

    BAB III
    METODOLOGI PENELITIAN

    3.1 Pendekatan Penelitian
    Ada dua macam pendekatan dalam penelitian yaitu pendekatan kuantitatiof, dimana peneliti akan bekerja dengan angka angka sebagai perwujudan gejala yang diamati dan pendekatan kualitatif dimana peneliti akan bekerja dengan informasi informasi dan data didalam menganalisanya tidak menggunakan data statistika.
    Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif action research. Penelti objek penelitian lakukan melakukan survey di SMPN 1 Upau yang menjadi objek penelitian lalu melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa yang diakibatkan oleh proses pembelajaran.
    3.2 Tempat dan waktu penelitian
    3.2.1 Tempat Penelitian
    Lokasi penelitian ini adalah di SMPN 1 Upau, Desa Masingai II Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong
    3.2.2 Waktu penelitian
    Waktu penelitian akan dilaksanakan apada hari sabtu 2 Oktober 2010 mulai pukul 08.00 – 11.00 peneltian dilaksanakan selama 3 bulan dari bulan Oktober sampai Desember 2010
    3.3 Sumber data
    Sumber data untuk memperoleh data penelitian tersebut adalah siswa kelas VIII SMPN 1 Upau yang berjumlah 18 orang siswa terdiri atas 10 siswa perempuan dan 8 siswa laki laki.
    3.4 Tekhnik Pengumpulan Data
    Dalam kaitannya dengan penelitian ini, tekhnik pengumpulan data adalah tes subjektif. Dan data yang dikumpulkan berupa hasil tes kemampuan memahami drama dan memainkan peran peran yang dimainkan dengan kemampuan terarah, pengucapan intonasi yang tepat dan efektif

    3.5 Analisis Data
    Tekhnik analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, paparan dan penampilan. Dari peneltian data tersebut, kemudian dipaparkan lebih sederhana menjad paparan yang berurutan berupa paparan data dan akhirnya ditarik kesimpulan dalam bentuk pernyataan yang singkat. Dan pada penelitian ini data hasil tes kemampuan menulis drama. Data tersebut kemudian diolah melalui tahap seleksi data, pengoreksian data dan penyimpulan data.

    BAB IV
    DAFTAR PUSTAKA

    Nurhadi, Dawud, Yuni Pratiwi. 2007. Bahasa Indonesia Untuk SMP Kelas VIII. Jakarta ; Erlangga

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: