Bahasa Wartawan Banjarmasin Post

2009 Maret 26

Oleh Sainul Hermawan

journalistMau belajar berbahasa dengan baik dan benar? Belajarlah pada cara berbahasa yang salah. Bukan untuk meneladani, meniru, atau melanjutkan kesalahan, tapi untuk menghindari hal serupa. Kali ini saya mau menyampaikan hasil temuan saya tentang kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh wartawan koran terbesar di Kalimantan Selatan, Banjarmasin Post (sering disingkat BPost).

Pada 25 Maret 2009, di halaman 19, kolom 1-3, BPost memuat berita berjudul “Tanggulangi Hama dengan Sekolah Lapang”, yang  ditulis oleh wartawan berkode iid. Kesalahan pertama dapat kita lihat dari kekurangefektifan penggunaan kata-kata. Padahal, salah satu kaidah bahasa jurnalistik harus ringkas, hemat, jelas, tanpa mengorbankan logika bahasa.

Mari kita baca paragraf pertamanya:

Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalsel melakukan langkah antisipasi terhadap serangan organisme pengganggu … dan seterusnya.

Kata-kata yang digarisbawahi di atas sebenarnya dapat diringkas hanya dengan menggunakan satu kata: mengantisipasi. Pemborosan kata ini pun memicu pemborosan pada paragraf berikutnya. Misalnya, pada paragraf ke-4 ada tulisan begini:

Dengan difasilitasinya trichoderma diharapkan OPT tular tanah dapat ditekan,… dan seterusnya.

Kalimat ini boros, dan rancu atau ambigu karena pada paragraf sebelumnya, yaitu pada paragraf ke-2, telah disebutkan bahwa trichoderma merupakan salah satu fasilitas penting dalam SLPHT. Jadi, kata yang digarisbawahi di atas sebenarnya tidak diperlukan, dan jika kata itu dibuang, kerancuan kalimat tersebut jadi berkurang bahkan bisa hilang. Kehadiran kata difasilitasinya bisa membuat orang bertanya, “Difasilitasi apa? Imbuhan -nya mengarah ke mana?” Pun terkesan  trichoderma diharapkan oleh OPT tular tanah untuk ditekan, padahal kalimat itu bermaksud menyatakan OPT tular tanah yang ditekan.

Pada paragraf yang sama tulisan tersebut, pemborosan kata disebabkan oleh kencenderungan wartawan menggunakan kalimat pasif. Mari kita bandingkan dua kalimat berikut. Yang pertama dari tulisan iid, dan yang kedua adalah koreksi dari saya:

Selain itu Mettarhizium dan SL-NVP juga diberikan kepada petani, agar petani dapat mengurangi penggunaan pestisida yang biaya kadang tidak terjangkau.

Tawaran saya:

Selain itu petani menerima Mettarhizium dan SL-NVP untuk mengurangi penggunaan pestisida yang kadang mahal.

Dua kalimat di atas maksudnya sama, cuma nada dan efektivitas dan efisiensi penggunaan bahasanya berbeda. Yang pertama menonjolkan pemberi, tapi yang kedua menonjolkan penerima. Tetapi kesalahan semacam ini bisa kita maklumi karena wartawan bekerja mengejar aktualitas, dia harus menuliskan berita secepat mungkin tanpa terlalu perlu lama-lama berpikir panjang soal-soal rumit kebahasaan semacam ini. Itulah fungsi editor di redaksi. Editor seharusnya bukan sekadar pemotong berita, melainkan menatakan bahasa wartawan sebaik dan sebenar mungkin. Jika telah terlatih, menatakan kalimat wartawan agar efektif tentu mudah. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Tetapi wartawan yang berhati-hati dalam soal ini, dia akan semakin terlatih, akan membuat pembaca tidak kelelahan membaca tulisannya. Sebab, tulisan wartawan yang boros, selain tidak enak dibaca, juga melelahkan pembaca.

Para mahasiswaku mau mengadakan penelitian tentang analisis kebahasaan terhadap bahasa wartawan surat kabar di Kalsel? Datanya sangat berlimpah. Paparan singkat ini hanya untuk mendorong Anda menjelajahi  masalah kesalahan berbahasa lebih jauh. Hal ini penting dilakukan karena peran penting edukatif pers terhadap pemerolehan bahasa pembacanya. Namun, Anda, para mahasiswa dan calon peneliti, harus memiliki penguasaan yang baik terlebih dahulu mengenai filsafat bahasa, tata bahasa struktural, dan kaidah bahasa jurnalistik. ***

4 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Maret 27

    Wah! Pak Sainul ini sangat kreatif dalam menulis. Tulisannya bagus.

    Karena saya pun membayangkan para pembaca kreatif seperti pian. Terima kasih atas respons pian.

  2. 2009 Maret 28

    …hmm, tampaknya mesti hati-hati bila menulis, nih..

  3. 2009 April 5

    nah inisial iid tuh ulun tahu orangnya…kaina disampaikan ralatnya…

  4. 2009 April 14
    asramabanjar permalink

    Membaca kreatif, kritis dan cerdas. Kata kuncinya harus banyak membaca. Kata dosen kami, dengan membaca buku paling kurang empat jam/hari, Anda akan selalu tampil PD (percaya diri). Kayanya gitu ya, Pak?

    Salam kenal

    asramabanjar.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS