Tionghoa dalam Bias Cerita Pribumi

2009 Maret 25

tionghoaOrang-orang Tionghoa sendiri hampir tidak pernah bercerita mengenai diri mereka sendiri, informasi yang lebih mendalam mengenai mereka terpaksa tetap hanya dapat diperoleh dari penuturan orang lain.

Tragedi kemanusiaan 13-14 Mei 1998 mendorong banyak kalangan untuk melakukan refleksi mengenai hubungan antraetnis, terutama antara orang non-Tionghoa yang mengklaim dirinya sebagai pribumi dan orang Tionghoa yang diklaim oleh kalangan pribumi itu sebagai non-pribumi.

Salah satu bentuk refleksi mengenai hubungan antaretnis tersebut tertuang dalam Cabaukan (Cbk), novel karya Remy Sylado (1999). Novel tersebut terbit seiring dengan munculnya gairah untuk merayakan pluralisme yang selama Orba ditekan, dibungkam.

Novel ini berkisah mengenai interaksi berbagai etnis di Batavia pada masa kolonial Belanda. Akan tetapi kisahnya difokuskan pada cerita tentang interaksi antara orang-orang sesama Tionghoa dan antara orang Tionghoa dan orang non-Tionghoa. Terbitnya novel Cbk, dan karya sastra setema yang menarasikan problematika Tionghoa dalam masyarakat Indonesia, seperti kumpulan cerita pendek Panggil Aku Pheng Hwa (2002), karya veven Sp. Wardhana, dan Siau Ling (2001), buku naskah drama musik karya Sylado, setidaknya menjawab pernyataan Ariel Heryanto yang menyatakan bahwa ada permasalahan “tak bersuara” atau “bungkam” dalam wacana kesusastraan Indonesia mengenai kasus orang Tionghoa di Indonesia.

Menurut Heryanto keadaan bungkam itu tampak kontras jika dibandingkan dengan menonjolnya percakapan sehari-hari mengenai topik Tionghoa, baik dalam kebijakan nasional maupun dalam berbagai tulisan. Kondisi seperti itu menyiratkan seolah persoalan Tionghoa di Indonesia yang penuh masalah dapat diterima sebagai suatu kepastian yang tidak perlu dipertanyakan, bahkan diabaikan. Cbk adalah sastra Melayu Tionghoa karya pengarang bukan keturunan Tionghoa. Dari sinilah penulis buku ini berangkat untuk menggagas hubungan pelik penulis, kepenulisan, identitas, dan wacana dengan cara menganalisis novel tersebut.

Buku ini berasumsi bahwa faktor kepengarangan novel Cbk dapat memunculkan persoalan ketika dia mengkonstruksi identitas kebudayaan lain yang bukan kebudayaan dirinya. Teori yang dipilih sebagai alat konseptual dalam menganalisis novel Cbk oleh buku ini adalah teori wacana yang dikemukakan oleh Michel Foucault. Langkah yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi eksklusi dan inklusi atau sirkulasi yang ada di dalam Cbk. Adanya inklusi dan eksklusi tekstual dalam novel tersebut, menurut kerangka analisis ini, dapat digunakan untuk melihat adanya koneksi kekuasaan/pengetahuan di dalam wacana.

Analisis sastra yang dilakukan buku ini jarang dilakukan oleh peneliti sastra Indonesia. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengajaran sastra yang masih berkutat pada teori-teori yang telah usang. Karena itu, buku ini layak disambut oleh siapa pun yang belajar sastra dan ingin melihat sebuah model kajian tentang ras dan etnisitas dalam konteks pembacaan sastra.

Novel Remy Silado sendiri yang dibahas di dalam buku ini menjadi karya yang amat berharga karena mampu menunjukkan posisi hubungan antara Pribumi dan Tionghoa yang terus mengambang, tanpa bentuk, dalam tarik-menarik di atas itulah yang pada gilirannya membuat pengetahuan masyarakat Indonesia pada umumnya mengenai seluk-beluk kehidupan orang-orang Tionghoa menjadi sangat minim kalau tidak dapat dikatakan nihil.

Kelompok-kelompok masyarakat yang lain hanya mengenali mereka secara streotipikal, serangkaian streotipe yang terbentuk hanya dari interaksi dan pengamatan mereka di wilayah publik, terutama “pasar”. Karena, untuk resistensi ke dalam, sebagaimana yang sudah dikemukakan, orang-orang Tionghoa sendiri hampir tidak pernah bercerita mengenai diri mereka sendiri, informasi yang lebih mendalam mengenai mereka terpaksa tetap hanya dapat diperoleh dari penuturan orang lain.

Dengan karya Remy itu kelompok-kelompok masyarakat lain akan dapat mengenal kelompok etnis Tionghoa dari jarak yang lebih dekat. Namun, karena penuturnya bukanlah orang Tionghoa sendiri, tidak tertutup kemungkinan terjadinya bias stereotipikal dalam penuturan novel tersebut. Itulah sebabnya, penuturan Remy itu pun perlu dibaca dengan kritis. Dan pembacaan kritis itulah yang dilakukan oleh buku ini.

Dengan kata lain, buku ini menunjukkan bahwa bias ras dan etnisitas seorang penulis ketika menulis ras dan etnisitas orang lain tampak sulit terelakkan dan bias semacam itu perlu dibaca dalam rangka penumbuhan kesadaran dan kepekaan akan perbedaan dan memahami proses konstruksi “kebenaran.”

Hal penting lain yang dapat di baca melalui buku ini adalah bahwa segala macam aktivitas bercerita adalah sebuah tindakan politik yang mendasar. Dalam bercerita seseorang akan memilih dan memilah unsur-unsur yang akan diceritakan untuk memenuhi kepentingan si pencerita, penceritaan, pembaca atau pendengar cerita, dan situasi zaman penceritaan. Kebenaran cerita selalu berada dalam proses. Bahkan cerita yang telah berakhir sebetulnya belum benar-benar berakhir.

Demikian pula cerita yang oleh penceritanya disebut-sebut sebagai cerita nyata, asli, baru, klasik, dan sebagainya. Cerita, menurut buku ini, sesungguhnya tak bisa benar-benar mampu demikian karena cerita adalah bagian kecil dari wacana yang melingkupinya.

Buku ini secara intens pula memperkenalkan pengertian wacana menurut Foucault. Wacana menurutnya mungkin tak sama dengan pengertian wacana yang digunakan banyak orang. Wacana bukan sekedar teks atau berita, tetapi teks atau berita yang mengandung otoritas mengarahkan, membelokkan, membangun, bahkan menghancurkan. Meskipun demikian, sebagai salah satu aktivitas wacana buku ini pun memiliki peluang untuk dikritisi.***

————————————-

Data Buku

Judul Buku : Tionghoa dalam Sastra Indonesia
Penulis : Sainul Hermawan
Penerbit : Ircisod Jogjakarta
Pengantar : Dr. Faruk
Tahun : Cetakan I, September 2005
Tebal : 180 halaman

————————————–

Pernah hadir di Banjarmasin Post, Sabtu, 08 Oktober 2005

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS