Sastra Kalsel dalam Kritik
Pada awalnya buku ini hendak diberi judul Kritik Sastra Kalimantan Selatan 2005-2007. Dengan demikian judul buku ini dapat dibaca pada dua tataran sekaligus. Pertama, pada tataran informatif, ia berarti sekadar menginformasikan bahwa buku ini berisi esai kritik sastra terhadap beberapa karya sastra para sastrawan di Kalimantan Selatan (Kalsel) tahun 2005-2007. Kritik di sini tidak perlu dipandang sebagai tindakan hebat yang secara asimetris dan tidak langsung meletakkan sang kritikus pada posisi yang lebih tinggi.
Kritik dalam ilmu sastra dipandang sebagai tanggungjawab keilmuan untuk memberikan apresiasi kritis terhadap karya sastra yang dikritiknya. Ia suatu yang biasa saja, bisa dilakukan siapapun jika mau. Segala kritik dalam buku ini, baik yang kasar maupun yang lembut, adalah sebentuk apresiasi yang memerlukan kesungguhan dan ketekunan. Dengan demikian, kritik itu adalah cara menghargai karya sastra. Bukan sebaliknya: pelecehan ataupun penyepelean.
Dengan demikian, kritik dalam buku ini telah mengambil perannya yang tepat sepanjang tahun itu saat kritik jarang dilakukan. Sepanjang tahun itu pula memang karya sastra di Kalsel ramai dibaca melalui festival, lomba, siaran radio, dan tadarus puisi. Tetapi, membaca kritis dengan menggunakan bingkai teori sastra tertentu jarang dilakukan (kalau tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali, sampai saya mencoba menerapkan hal ini dalam rangka membimbing mahasiswa di perkuliahan kritik sastra).
Dengan demikian, tujuan penerbitan buku ini jelas untuk memberikan contoh-contoh penerapan teori kritik sastra kepada mahasiswa. Dengan harapan, setelah mereka memahami cara kerja kritik sastra yang ada dalam buku ini, mereka dapat mengembangkan sendiri cara kritik yang berbeda dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip kritik sastra yang semestinya.
Kedua, pada tataran emotif, rencana judul semula buku ini dapat dibaca sebagai ajakan penuh semangat kepada siapapun untuk ikut membaca karya sastra para sastrawan Kalsel sebagai bagian dari gerakan pembudayaan kegiatan berpikir dengan menuliskan gagasan mereka dalam bahasa yang estetik: puisi dan cerita pendek. Dengan membacanya, kita dapat berbagi gagasan, perasaan, dan pengalaman, dari waktu ke waktu. Dengan membacanya terus-menerus kita bisa melihat sampai di mana pencapaian estetika sastrawan yang kita cermati. Pencapaian semacam ini kadang tidak mampu dipahami dengan baik oleh sastrawan itu sendiri sebagaimana mereka tidak mampu melihat punggung lehernya sendiri. Mereka hanya merabanya. Karena itu mereka memerlukan orang lain untuk membantu melihatnya. Kritikus sastra adalah mitra yang dapat membantu mereka melihat apa yang tidak bisa mereka lihat. Harapan terakhirnya tentu adalah kualitas sastra yang semakin baik dan persemaian budaya membaca kritis. Karena itu, jika ada kritikus pemula yang kritiknya agak kasar, maka berilah mereka kesempatan belajar untuk menyampaikan gagasan dengan sopan.
Demikian pula dengan beberapa kritik dalam buku ini, ada yang sopan dan terkesan menyanjung terlalu berlebihan. Namun, ada pula yang sangat kasar dan terkesan menjatuhkan sastawan yang dikritik. Itulah keragaman wajah sebuah kritik, sebagaimana keragaman watak manusia. Keduanya sama-sama berusaha untuk bersikap adil: memaparkan kebaikan dan kekurangan karya sastra secara imbang. Namun keterbatasan ruang, waktu, dan tenaga saat kritik itu ditulis (untuk koran sebagian besar) membuat kritik dalam buku ini seperti masih belum selesai: mengambang, terapung, atau menggantung. Dengan demikian, saya berharap ada kritik lain yang melanjutkan, meluruskan, atau membelokkannya. Tetapi, harapan itu sampai saat ini belum bersemi. Karenanya, apapun warna dari kritik yang ada di sini sebaiknya dibaca dalam bingkai kemultitafsiran karya sastra sehingga dengan demikian penafsiran atas karya sastrawan Kalsel dalam buku ini bukanlah penafsiran yang absolut, mati, dan pasti. Penafsiran kritis terhadap karya para sastrawan Kalsel dalam buku ini hanyalah salah satu kemungkinan tafsir yang bersifat terbuka.
