Anak-anak Televisi

2009 Maret 25
by blogsainulh

Oleh Sainul Hermawan

Kalau kita mau menyadari bahwa TV dapat memberi banyak dampak bagi anak kita, orangtua sebaiknya memperhatikan beberapa hal.

Televisi (TV) kini telah menjadi keniscayaan dalam masyarakat. Kehadirannya juga membawa dampak positif dan negatif. Di satu sisi, masyarakat dipuaskan oleh tayangan hiburan ataupun informasi. Tetapi di sisi lain, TV dikecam karena tayangan yang kurang bisa diterima masyarakat atau individu tertentu.

Jahja dan Irvan, dalam bukunya ‘Menilai Tanggung Jawab Sosial Televisi’ (2006) mengutip Mulyana dan George Gerbner yang menyatakan, keniscayaan TV dalam sebuah keluarga dewasa ini seakan telah menjadi ‘agama’ baru dan menggeser agama tradisional yang ada sebelumnya.

‘Kotbah’ TV didengar dan disaksikan penuh keharuan, hikmat dan khusyuk oleh jamaah yang lebih besar dari jamaah agama tradisional apa pun. Kotak ajaib ini mampu menembus batas yang sulit ditembus media massa lain, mampu menjangkau daerah yang jauh secara geografis dan hadir di ruang publik hingga ruang yang sangat pribadi. Bahkan ia bisa membius penghuni gubuk reyot masyarakat dunia ketiga.

Tulisan ini ingin merefleksikan posisi TV terhadap mentalitas anak dan bagaimana seharusnya keluarga menyajikan TV bagi mata anak-anak mereka.
Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, Deborah Line Barger, dosen komunikasi di Universitas Pennsylvania, dalam penelitiannya menyatakan, menonton acara TV pendidikan yang bermutu dapat membantu anak belajar. Baginya, TV bukan media yang secara inheren buruk. Sebagai media, ia netral saja. Buruk atau baik hanya tergantung bagaimana TV dijadikan alat. Bukan sebaliknya manusia diperalat TV, hidupnya terasa kosong tanpa TV.

Banyak kajian yang menunjukkan, TV membantu meningkatkan pemerolehan kosa kata anak. TV terbukti memberikan kesempatan bagi anak untuk mempelajari segala macam hal: musik, budaya, geografi, tari, cerita, ceramah, dan sebagainya. TV juga menjadi media yang tersangkil dan termangkus untuk menyadarkan orang terhadap masalah kemanusiaan yang sangat luas, mulai dari polusi, korupsi, aborsi, kolusi, sampai pornoaksi.

Namun, apakah alasan ini yang mendasari orangtua dalam keluarga Indonesia membiarkan anak mereka ‘menyantap’ siaran TV, kadang tanpa kendali?

Kompas dalam www.hawmline.edu, pada 1997 melakukan survai untuk mengetahui alasan orangtua di Indonesia membiarkan anak mereka menonton TV. 40 persen responden membiarkan anak mereka nonton TV dengan alasan untuk menghibur anak, 29 persen beralasan supaya anak betah di rumah, 18 persen percaya bahwa penyelenggara TV tahu acara apa yang baik dan bertanggung jawab. Survai ini juga menemukan, umumnya orangtua memberlakukan pembatasan menonton pada waktu menonton. Bukan pada apa yang ditonton.

Beda dengan Alicia Wittmeyer yang punya temuan lain. Ia menulis di LA Time (5/07/2005), TV dapat menjadi salah satu faktor yang harus disalahkan kalau nilai ujian anak kita jelek, jika mereka memang senang menjadikan TV sebagai menu sehari-hari. Pernyataannya itu didasarkan pada tiga kajian yang dilakukan tiga universitas di Amerika, dan satu hasil penelitian di Selandia Baru.

Penelitian yang dilakukan Universitas Stanford dan Universitas John Hopkins menemukan, anak yang menonton TV di kamar tidurnya nilai ujiannya lebih rendah daripada anak yang menonton TV dengan frekuensi sama tetapi tidak di kamar tidurnya. Kajian ini juga mengungkapkan, anak yang terbiasa menggunakan komputer di rumah bukan untuk sekadar main PC, mendapat nilai yang lebih tinggi.

Penelitian lain pernah dilakukan Universitas Washington menemukan, membiasakan anak menonton TV sebelum berusia tiga tahun dapat merusak keterampilan baca mereka dan bentuk perkembangan kognitif lainnya ketika mereka akan mencapai usia enam tahun. Penelitian ini agak mirip dengan temuan penelitian Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) yang meneliti pengaruh TV terhadap perilaku keseharian anak.

Penelitian YKAI ini menemukan, ketika anak menonton TV cenderung melakukan kegiatan lain yaitu makan (35%), tidur-tiduran (28%) dan belajar (13%). Dalam keterkaitan antara TV dan belajar, penelitian ini menemukan anak yang tak tahan godaan TV mengaku malas belajar (80%) dan tidak suka membaca buku (66%) (Jahja dan Irvan, 2006: 5).

Kajian lain di Selandia Baru yang memelajari perilaku seribu anak selama hampir 30 tahun menemukan, mereka yang sering menonton TV antara usia lima sampai 15 tahun berpeluang besar lulus dari SMA pada usia 26 tahun. Penelitian ini menunjukkan tanda, mengonsumsi acara TV secara eksesif atau berlebihan selama masa kanak-kanak dapat berdampak panjang. Tetapi kajian ini dikritik, karena tidak mengkaji variabel lain seperti bimbingan orangtua, intelegensia anak, tingkat ekonomi keluarga dan isi acara TV yang ditonton anak.

Kalau kita mau menyadari bahwa TV dapat memberi banyak dampak bagi anak kita, orangtua sebaiknya memperhatikan beberapa hal. Seperti: Orangtua harus mencermati informasi dan pengetahuan yang ditawarkan TV kepada anak; Berapa jam anak kita sebaiknya menonton TV dalam seminggu; Pengaruh apa yang dapat ditimbulkan oleh tayangan kekerasan, seks, dan iklan.

Orangtua pun perlu memahami secara menyeluruh posisi TV dalam keluarga. Apakah TV menjadi furnitur sentral di rumah kita? Apakah TV hanya dihidupkan sesaat, sewaktu rumah sepi, untuk menyaksikan acara tertentu saja. Atau TV dinyalakan sepanjang hari? Apakah kita sebagai orangtua menyontohkan kepada anak bagaimana sebaiknya TV ditonton secara selektif?

Dampak negatif TV tak hanya mempengaruhi anak-anak. Polling yang pernah dilakukan kepolisian Singapura kepada 50 pemuda pelaku tindak kekerasan mengungkapkan, kebanyakan dari mereka suka menikmati film kekerasan di TV. Mulai saat ini kita bisa mengamati perilaku agresif anak di sekitar kita: darimana mereka belajar pola kekerasan seperti menendang, memukul, mengumpat dengan kata kasar dan sebagainya?

Meskipun polling semacam itu belum dapat dijadikan bukti yang meyakinkan tentang dampak TV sebagai faktor penting yang mempengaruhi anak untuk melakukan tindak kekerasan, banyak ahli yang sepakat bahwa membiarkan anak intim dengan kekerasan yang disajikan TV sampai berjam-jam dalam sehari, dari hari ke hari, minggu ke minggu, sangat berisiko.

Riset membuktikan, keintiman semacam itu sedikitnya akan memberikan tiga efek. Anak yang terbiasa menyaksikan kekerasan di TV bisa kurang peka terhadap penderitaan atau rasa sakit orang lain, lebih takut pada dunia di sekitar mereka, berperilaku agresif terhadap orang lain.

Untuk mendapatkan manfaat yang besar dari TV dan terhindar dari bahaya yang bisa ditimbulkannya, keluarga Indonesia perlu mengontrol anaknya. Dengan cara antara lain: Pertama, membangun komitmen bersama untuk menentukan jam atau hari bebas TV dalam keluarga sehingga anak menghargai makna waktu dalam keluarga: waktu sholat, belajar, makan, bercengkerama tanpa intervensi TV. TV tak menghantui aktivitas penting dalam keluarga. Tanamkan kedisiplinan untuk menyikapi TV seperti menyikapi kegiatan hidup lain yang selalu punya awal dan akhir.

Kontrol terhadap TV dapat disiasati dengan menempatkannya tidak di tempat sentral. Tapi di sudut atau pojok rumah yang bisa mengurangi selera untuk menyalakannya. Ketiga, acara yang menambah wawasan ilmu pengetahuan, agama, politik, dan budaya perlu menjadi agenda bersama dalam keluarga. Terakhir, sepakati acara TV apa saja yang perlu dijadikan musuh bersama. Jadi, jangan posisikan keluarga kita sebagai tempat sampah bagi acara TV yang dibuat tanpa pertimbangan estetika, etika dan logika. Jangan biarkan rohani anak kita lelah dibiusnya.***

————

Pernah muncul di Banjarmasin Post, Kamis, 03 Agustus 2006

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS