Sama Kata Beda Dunia

2009 Maret 20

Oleh Sainul Hermawan

Deborah Tannen pernah berteori bahwa perempuan dan laki-laki memiliki persepsi yang berbeda terhadap dunia yang dihadapinya karena mereka punya kata yang berbeda. Lelaki lebih akrab dengan bahasa yang singkat, langsung, dan bahkan kasar, sementara perempuan sebaliknya. Banyak pemikir bahasa yang kemudian menggenalisir pendapatnya bahwa sampai pada gagasan bahwa beda kata beda budaya dan begitu pula sebaliknya.

Teori Tannen tentu tak sejalan dengan kenyataan yang dihadapi orang Banjar di Banjarmasin dan sekitarnya. Sebagian kosa kata dalam bahasa mereka yang sama persis dengan bahasa Indonesia mengantarkan pikiran orang Banjar (baca: orang yang rutin berbahasa Banjar dan masih awam berbahasa Indonesia) dan orang Indonesia (baca: orang Banjar ataupun orang pendatang di Banjar yang awam bahasa Banjar dan lebih nyaman berbahasa Indonesia) pada angan-angan makna yang berbeda.

Kalau orang Indonesia mustahil membayangkan turun ke atas, di Banjar itu bisa terjadi karena turun dalam bahasa Banjar berarti berangkat. Orang Banjar bisa turun ke atas bukit tetapi orang Indonesia harus turun dari bukit. Kedua kata itu sama rupa, sama bunyi, tetapi beda arti.

Orang Banjar biasanya turun ke tempat ke kerja mereka dengan berkendaraan roda doa atau dengan motor beroda empat atau dengan taksi berkapasitas lebih dari lima penumpang yang tak ada moncongnya dan jalannya lambat karena memuat penumpang dengan tujuan yang beragam. Mereka yang menginginkan sarana transportasi cepat dan lebih memiliki nilai privasi bisa naik kendaraan ojek atau motor taksi argo. Taksi berkapasitas lebih dari lima penumpang lazim juga disebut Taksi Kuning yang dilambungnya ada tulisan Angkutan Kota.

Kenapa turun berarti berangkat? Karena rumah-rumah orang Banjar dahulu, yang sekarang banyak diminiaturkan dalam souvenir, pada umumnya rumah bubungan tinggi atau gajah menyusu berfondasi tiang nan jangkung dan bertangga. Jika mereka harus berangkat kerja atau pergi ke suatu tujuan, mereka harus menuruni tangga rumah. Namun beberapa kata lain tak bisa dijelaskan sebagaimana sifat mana suka bahasa pada umumnya.

Orang Banjar memaknai makanan bukan sebagai kata benda tetapi kalimat ajakan, ”Mari kita makan.” Mereka pun agak canggung menerima kata butuh karena kata ini sangat memungkinkan mereka membayangkan ”burung” para lelaki. Pun jangan keburu menghakimi orang Banjar sangat mencintai Barat daripada Timur jika mereka melafalkan peribahasa agak keseleo seperti ini: Barat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Sebab, barat di Banjar itu berat.

Kalau Anda baru menginjakkan kaki di Banjarmasin, atau di tanah Banjar yang lain, di Kalimantan Selatan, Anda harus banyak memeriksa equivalensi makna kosa kata bahasa Indonesia Anda sehingga Anda punya pegangan bahwa memang mereka telah memahami bahasa Indonesia Anda sesuai apa yang Anda maksudkan. Kalau mitra Anda yang masih awam bahasa Indonesia meminta jawaban melalui pesan pendek, ”Kamu menginap di mana di Banjarmasin?” Anda harus konfirmasi ulang jika jawaban Anda begini, ”Semalam di hotel SB, dan semalam di HBI.”

Konfirmasi penting dilakukan untuk memastikan bahwa mitra Anda memaknai semalam sebagai satu malam dalam pengertian perencanaan menginap, bukan kemarin dalam pengertian telah terlampaui. Dengan kata lain agar Anda dibayangkan bahwa dalam dua malam Anda menginap di hotel yang berbeda, bukan satu malam yang lalu Anda telah menginap di dua hotel yang berbeda. Semalam di Banjar bukan cuma berarti kemarin, tetapi juga kemarin lusa, bahkan jauh sebelum kemarin lusa.

Jangan terlalu kaget kalau orang Banjar suka mengusiri orang tuanya bukan dalam arti mengusir atau menjadi kusir bagi orang tuanya, tetapi mengunjungi (sowan, Jawa) kepada orang tuanya. Usir dalam bahasa Banjar bukan menyuruh pergi, tetapi menyuruh datang.

Kalau kita baru ketemu dengan orang Banjar yang baru belajar bahasa Indonesia, dan bertanya kepada mereka tentang benda apa yang larut di air. Jangan heran kalau Anda dijawab sandal. Sebab larut dalam behasa Banjar berarti hanyut. Pun kalau Anda pendatang baru di Banjar, jangan terburu-buru senang jika Anda disanjung dengan kata pintar sebab di Banjar pintar juga bisa berarti bodoh. Misalnya, kalau orang Banjar bilang, “Jangan mamintari orang lain lah,” maksudnya, “janganlah membodohi orang lain.”

Kalau sama saja sudah berbeda, kenapa yang berbeda hendak dipaksa agar sama? Bukankah dalam bahasa bersemayam rasa dan dunia yang tak bisa disamakan dengan senjata? Kerjasama dan saling pengertianlah yang membuat angan kita, tentang dunia yang tercipta dari kosa kata, cerah dan bahagia, membuka jalan damai bagi sesama manusia.

Kedekatan jarak bahasa Banjar dan bahasa Indonesia menjadi masalah tersendiri saat digunakan di sekolah dalam rangka transfer ilmu pengetahuan. Partisipan komunikasi perlu memastikan bahwa pemahaman mereka menuju makna yang sama.***

Pedoman pengutipan tulisan:

Hermawan, Sainul. 2009. “Sama Kata Beda Dunia”. Sanggar Belajar. http://blogsainulh.wordpress.com/2009/03/20/sama-kata-beda-duniasama-kata-beda-dunia/

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS